≈All My Heart-{Part 2}≈

Please jangan BASHING GW HANYA KARENA GW BAWA BAWA TUHAN DI SINI!!! JUJUR GW MALAH LEBIH BANGGA NULIS TENTANG TUHAN KETIMBANG NC! JADI JANGAN BASHING APAPUN OK!!!! GA SUKA GA USAH BACA!!! GW GA MAKSA!!!!!
“Hei manusia”“Berhenti memanggilku manusia! Aku punya nama!”

Kibum mengedikkan bahu—acuh, “Terserahku mau memanggilmu apa, lagipula bagi malaikat seperti kami, kalian tidak ada bedanya”

Heechul  mendengus kesal mendengar itu, “Aku tahu sekarang kenapa Tuhan menempatkan kau menjadi malaikat pencabut nyawa” sindir Heechul menatap wajah Kibum dari samping. Tampan, amat sangat tampan. Tapi juga mematikan dalam waktu bersamaan

“Kenapa?” tanya Kibum malas malasan. Ia hanya mengulur waktu mengepakkan sayap sampai ke tempat tujuan yang lumayan jauh

Heechul tersenyum separuh mengejek, “Karena kau tidak punya hati! Apakah semua malaikat sama sepertimu? Kalau begitu aku tidak mau menjadi malaikat” selorohnya

Ucapan Heechul jelas membuat ego Kibum terusik. Tapi itu tidak sampai membuat Kibum mau membuang buang waktu untuk memarahi Heechul—toh percuma, manusia tidak akan pernah mengerti

“Kalau aku punya hati—aku tidak akan bisa jadi malaikat….” Jawab Kibum sedikit merenung. Tiba tiba ia mengerling aneh kepada Heechul, “Apa maksud ucapanmu?” tanya Heechul bingung

Sayap kanan Kibum membelok dengan sempurna sebelum mengembang lagi dan mengepak lebih kuat. Tak sengaja tangannya meremas tangan Heechul dalam genggamannya. Kibum tersenyum licik ketika melihat rumah sakit yang di tempati sang jiwa incarannnya

“Aku akan menjelaskannya padamu di dalam” kata Kibum datar

“Apa maksud—huaaaa” Heechul hampir berteriak lebih nyaring sewaktu mereka memasuki bangsal rumah sakit. Heechul takut kepalanya terantuk besi besi di depan pintu masuk, tapi suaranya menghilang begitu menyadari tubuhnya menebus masuk tanpa rasa sakit

“Kau lupa kau bukan lagi manusia?” sekarang gantian Kibum mengejek Heechul yang masih termangu—menatap hampa ke belakang, “Lupa…” jawab Heechul jujur

“Ck, Tidak ada waktu untuk bermuram durja” Kibum menarik kasar tangan Heechul untuk mengembalikan konsentrasinya, “Aku harus segera mengambil nyawa anak itu!”

Kepala Heechul berputar menghadap Kibum. Betapa dinginnya sikap Kibum—seolah olah mengambil nyawa bukanlah perkara besar untuknya.

“Aku—“

“Kita sampai” Kibum langsung melepas tangannya dari Heechul, melipat kedua sayapnya ke belakang kemudian menatap nanar ke arah tempat tidur. Heechul mengikuti arah pandang Kibum

Di sana terbaring tubuh seorang anak laki laki, masih teramat muda dan berwajah pucat. Di sana Dokter, dua orang suster dan selusin keluarganya mengelilingi sang anak.

Tidak ada yang berbicara di antara mereka.

Kedua orangtua sang anak berada di sisi kanan dan kirinya. Sang Ibu menggenggam tangan kiri anaknya sementara Ayahnya hanya menatap lekat lekat wajah sang anak yang tidak berubah—wajahnya tetap pucat dan kaku

Kalau saja tidak ada bunyi helaan nafas pendek pendek dari sang anak, mungkin Heechul mengira anak itu sudah meninggal

“Appa…” bisik sang anak lemah

Sang Ayah merendahkan kepalanya, “Ya?” tanyanya lembut

Sang anak tersenyum lebar—bersemangat. Beda sekali dengan keadaan tubuhnya yang sedang sekarat, “Aku pasti sehat…..” ia menatap satu persatu keluarga atau temannya di depannya saat ini, “benar! Aku pasti sembuh! Jadi kalian jangan memasang wajah bersedih lagi…” pintanya

Ucapan lugas sang anak membuat seluruh keluarganya terharu. Mereka mengangguk bersamaan meski sama sama tidak yakin dengan keadaan sang anak.

Kibum mendengus tidak peduli. Ia melayang semakin dekat sambil menjulurkan sebelah tangan kanannya di depan tubuh sang anak. Dalam sepersekian detik, Heechul baru menyadari kalau Kibum akan melakukan hal yang sama seperti malam dia hendak mengambil nyawa Rye Rim

“TIDAK!!!!” teriak Heechul memberanikan diri melayang di depan tangan Kibum yang terulur, “Masa kau mau begitu saja mengambilnya??? Apa kau tidak memberikan kesempatan beberapa menit untuk keluarganya??” cecar Heechul lemah

Kibum menggeleng kaku. Ia menatap kedua mata bening Heechul—lama, “Sekarang kau tahu bukan kenapa aku tidak memiliki hati?” sambung Kibum bernada dingin, “Karena jika aku memilikinya, aku tidak bisa melakukan pekerjaanku—Aishh sudah sana! Jangan menghalangiku!”

Heechul tetap bergeming. Ia tidak membiarkan Kibum mendekat sama sekali meski Kibum memandangnya dengan murka, “Kau?!” desis Kibum mengerang marah. Wajah tampannya berkedut kedut dan menciptakan topeng kekejaman yang belum pernah ada. Refleks Heechul mundur beberapa langkah saat kepala Kibum merunduk ke arahnya, “Jangan sampai Tuan mengirimmu langsung ke neraka hari ini Kim Heechul!! Jadi berhenti menghalang halangi semua tugasku!!!”

Untung saja manusia normal di dalam ruangan ini tidak ada yang bisa mendengar suara setajam silet milik Kibum atau suara memohon milik Heechul. Keluarga anak itu hanya memandang nanar dan sendu ke arah tempat tidur. Tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi. Sang anak sudah melawan kanker ini selama 3 tahun—dia sudah melakukan apa yang ia bisa, dan jika memang takdir mengatakan ia akan pergi, siapakah yang dapat menghalanginya?

“Aku…” sang anak berbicara dengan suara terputus putus, “Aku pasti bisa sembuh Umma!” katanya memalingkan wajah ke samping, “Kalau aku keluar dari rumah sakit, berjanjilah aku boleh sekolah lagi….aku rindu teman temanku….” Katanya memohon

Sang Ibu tidak bisa mengatakan apapun. Airmatanya sudah kering semenjak tadi siang. Ia terpaksa mengangguk sambil mengelus kepala anaknya di atas tempat tidur, “Iya—kau pasti sembuh dan bisa sekolah lagi….jangan khawatir sayang” ucap sang ibu sepenuhnya berbohong

Sang anak mengangguk senang. Kepalanya berputar menghadap pada sang Ayah, “Appa?” panggilnya pelan. Ia tersentak mengetahui Ayahnya sedang menangis dalam diam. Sang anak langsung menjulurkan lengan kurusnya untuk menghapus air mata Ayahnya, “Jangan menangis…..aku akan sembuh…” kata sang anak berusaha menguatkan nada suaranya—nada suara yang penuh pengharapan, “Appa jangan menangis lagi…kan Appa sendiri yang bilang anak lelaki tidak boleh menangis.” Sambung anaknya sambil tersenyum pucat

Sang Ayah tidak kuat lagi. Ia menggeleng keras sebelum berlari keluar ruangan—mungkin ia tidak sanggup lagi kalau harus berpura pura di depan anaknya. Sebagian anggota keluarga masih berdiri kaku, menatap nanar ke arah tempat tidur

BRAKK

Sang Ayah membenturkan tubuhnya di dinding depan kamar. Ia tidak peduli meski kepalanya terantuk keras atau ada rasa nyeri di bagian belakang lehernya.

Tidak…..Sang Ayah tidak merasakan rasa sakit apapun kecuali di dadanya

Di depan kamar anaknya, sang Ayah berlutut tidak berdaya sambil meredam tangis dalam kedua tangannya. Heechul memberanikan diri melayang—menebus tembok rumah sakit untuk melihat keadaannya

“Tuhan….dia masih kecil….jangan ambil dia….” Sang ayah memejamkan mata berkali kali. Air matanya berhasil turun dan membasahi wajah tuanya, “Dia anakku satu satunya….” Pinta sang ayah di sela tangisannya. Tubuh kokohnya itu bergetar hebat dan terasa rapuh dalam waktu bersamaan.

Hanya ada kata kata permohonan dari mulutnya. Ia tidak meminta banyak—hanya nyawa anaknya, tidak lebih

Dalam keheningan rumah sakit, Sang Ayah memejamkan mata dan mulai berdoa meski ia tahu semua ini sudah terlalu terlambat…..

Heechul tidak tahan lagi, ia bergegas kembali ke dalam dan menepis tangan Kibum yang masih saja terulur ke depan saat hendak mengambil jiwa anak kecil itu

Kibum menoleh tajam, “Kenapa kau—“

“Lihat saja!!!” unjuk Heechul kepada seluruh keluarga anak itu termasuk Ibunya, “Apakah ini tidak berarti apa apa buatmu?? Apakah kau tidak bisa memberikan waktu beberapa jam saja?? Dia….” Tubuh Heechul terkulai lemas sementara wajahnya berubah suram seketika, “Dia masih terlalu kecil untuk meninggal….” Bisiknya lemah

Malaikat pencabut nyawa itu bahkan tidak mau membuang buang waktu memalingkan wajahnya—menyapu seisi kamar. Tatapannya hanya tertuju kepada Heechul—orang yang seenaknya saja menghalangi tugas pertamanya dan sekarang mencoba menggagalkan tugas kedua Kibum

Dalam sepersekian detik—tubuh Kibum sudah berada tepat di depan Heechul sambil merundukkan kepala, menatap langsung kedua bola mata Heechul yang besar, “Jangan ikut campur, manusia!” gertak Kibum berbicara di antara sela sela bibirnya, “Sekali saja kau berani menunda pekerjaanku, kau akan tahu akibatnya” ancam Kibum bernada serius

Heechul terlihat muak. Ia menarik lengan kiri Kibum—menahannya di tempat, “Apa yang kau lakukan manusia!!!” bentak Kibum kesal seraya melepaskan tangan Heechul

“Menghalangimu!!” jawab Heechul lugas. Tidak peduli kalau Kibum menatapnya semurka apapun, ia tidak akan mundur. Malaikat angkuh ini harus mendengarkannya untuk sekali ini saja, “Tolong beri waktu mereka waktu sejam saja!! Apa kau tidak lihat bagaimana keadaan Ibunya?? Ayahnya??” nada suara Heechul meninggi, emosinya meluap luap sambil melirik sesekali ke arah keluarga anak itu, “Apa kau tidak punya belas kasihan?? Dia anak mereka satu satunya…..dan kau akan mengambil jiwa anak itu sebentar lagi…” bisik Heechul menatap tidak percaya ke arah Kibum

Apakah mungkin semua malaikat sekejam dan tidak berperikemanusiaan seperti Kibum?

Apakah itu yang di sebut malaikat? Mahluk yang di agung agungkan dan di anggap mulia oleh manusia ternyata tidak lebih dari sebuah mesin penggerak buatan Tuhan?

Kibum menarik napasnya sebelum berdiri tegak dan menyapu pandangan ke sekeliling. Ia tersenyum tipis tapi penuh ejekan ketika melihat seluruh keluarga sedang berdoa bersama sama di depan sang anak. Bahkan sang Ibu memeluk kepala sang anak sambil berbisik mengucapkan rentetan doa dari bibirnya yang kering

“Jangan meremehkan kekuatan Doa” ucap Heechul menangkap sikap melecehkan Kibum

“Aku tidak meremehkannya” Kibum masih saja tampak seperti orang tidak punya hati, “Aku hanya merasa apa yang mereka lakukan itu percuma….jiwa anak itu tetap akan kuambil saat ini juga. Dan tanpa protes darimu!!!” tukas Kibum menahan tangan Heechul yang lagi lagi berusaha mencegahnya

“Tapi aku berhak!!” sela Heechul melotot ke arah Kibum

“Ya! Kau berhak ikut campur! Tapi bukan menghalangiku, manusia!!” balas Kibum terpancing emosi. Sayap sayapnya mengepak—keluar dari balik punggungnya dan memicing tajam di sebelah kanan kiri Kibum sedangkan wajah sang malaikat yang biasanya tampan kini berkedut tajam dengan bola bola mata kelam—hitam pekat yang belum pernah di lihat oleh Heechul

Kedua mata itu menunjukkan siapa Kibum sebenarnya. Bagi Heechul sekarang Kibum tidak lebih seperti Iblis yang menyamar menjadi malaikat

“A…aku…aku tidak menghalangi!” balas Heechul dengan susah payah. Jujur saja, ia takut sekali dengan rupa Kibum jika sedang marah. Heechul terpaksa memantapkan hatinya walaupun tahu Kibum bisa membinasakannya saat itu juga, “Tapi kumohon Kib—“

“Aku tidak akan mendengarkanmu!!!” hardik Kibum memajukan wajahnya yang murka, “Dengar, aku akan mengambil jiwa itu dan kau hanya berdiri di sini sampai aku membawamu kembali ke at….” Suara Kibum hilang begitu saja. Ia malah menengadahkan kepala ke atas ketika ada seberkas cahaya yang menembus atap rumah sakit. Cahaya yang berputar di atas mereka berdua

“Ah….Aku terlambat lagi..” Dalam sekejap wajah amarah Kibum berubah kalut. Sayapnya terkembang ke atas, mengepak perlahan lahan sebelum menambah kecepatannya

Heechul memandangnya ingin tahu, “Apa yang terjadi?”

Kibum membalas tatapan Heechul dengan dingin, tangannya terulur kasar ke arah Heechul, “Tuan memanggil kita ke atas…Ia pasti marah karena aku gagal lagi….” gumam Kibum begitu cepat sehingga Heechul hanya bisa menangkap kata kata terakhirnya

“Gagal?”

Cahaya itu kembali menyinari mereka terlalu terang, tandai itu membuat Kibum tahu Tuhan sudah tidak sabar memanggil mereka ke atas.

Tanpa beradu pendapat lagi, Kibum menarik tangan Heechul, memutar sayapnya lebih kuat dan mencondongkan tubuh ke depan agar bisa sampai lebih cepat

Setelah menembus beberapa lapisan langit, Kibum dan Heechul akhirnya kembali ke satu ruangan besar—tempat di mana Tuhan berada

Kibum melepaskan tangan Heechul dan langsung berlutut mendekat. Seperti biasa, sebelah tangannya menyilang di bagian dada, “Tuan memanggilku?” tanyanya sopan sambil menundukkan kepala

“Kibum…..” panggil Tuhan lembut, “Apakah kau terlanjur membawa ‘jiwa’ anak itu?”

Terdengar helaan napas berat dari tubuh Kibum—ia merundukkan kepala lebih dalam, “Maaf Tuan, saya tidak berhasil” ucapnya sangat menyesal

“Hmm…” Tuhan berdeham sejenak, “Dan kalau boleh Aku tahu kenapa itu bisa terjadi?” suaranya mengalun begitu indah bak suara sungai jernih yang mengalir tenang di dalam pegunungan. Heechul saja sampai terbuai kalau saja ucapan Kibum tidak menyentakkan lamunannya, “Ini karena saya Tuan—saya gagal menjalankan tugas” jawab Kibum datar

Heechul terperangah. Buru buru ia maju ke depan setelah menunduk hormat kepada Tuhan, “Tidak Tuhan!! Ini gara garaku! Kami sempat berbeda pendapat tadi, jadi jangan salahkan Kibum saja” kata Heechul memberi penjelasan

Kibum memandang Heechul lama—penuh selidik meskipun tidak lama ia kembali berpaling menghadap Tuhan. Tidak ada bedanya jika Heechul mengaku atau tidak. Kibum tetaplah bersalah

“Tenang saja” Tuhan menurunkan kedua tangannya dari singgasana, “Aku tidak marah akan hal itu—Aku justru harus berterima kasih pada kalian…”

Sontak Kibum yang tertunduk mengangkat kepalanya ke atas—merasa ganjil sedangkan Heechul yang masih berdiri memandang bingung ke arah Tuhan dan Kibum secara bergantian

Mereka berdua sama sama tidak mengerti apa maksud perkataan Tuhan

“Aku…” Tuhan menunjuk dirinya sendiri, “Meralat perintah-Ku barusan Kibum, Aku tidak jadi mengambil jiwa anak itu sekarang!” kata Tuhan final—agak berpuas diri melihat keterkejutan menghiasi wajah Kibum dan Heechul, “Akhirnya kau punya ekspresi juga Kim Kibum” celetuk Tuhan terkekeh kecil

Kibum mengacuhkan perkataan terakhir Tuhan. Ia langsung berdiri tegak, “Tapi kenapa?? Apakah terjadi sesuatu?” tanyanya meminta penjelasan

Sekali lagi Tuhan mengangkat kedua tangannya. Matanya terpejam seperti memusatkan pada sesuatu

Tiba tiba langit di atas ruangan tidak beratap tersebut terbelah dua. Heechul yang mendengar bunyi dentuman keras langsung mundur ke belakang kemudian mendongak ke atas

Betapa terkejutnya ia melihat lautan gumaman orang meluncur dari sana—memadati ruangan tersebut sebelum akhirnya mengelilingi tubuh Tuhan yang berada di dalam cahaya terang—cahaya yang tidak bisa di lihat jelas oleh mahluk lain, termasuk Kibum

“Ini..” bisik Heechul merasa takjub dan takut dalam waktu bersamaan

“Ya” Tuhan mengangguk senang, “Ini adalah bunyi Doa dari setiap orang…..dan kau tahu ada hampir 200 orang meminta Ku untuk menyembuhkan penyakit anak itu….” Telapak tangan Tuhan mengambil beberapa gemersik udara yang berisi ucapan setiap orang lalu mendekatkan ke telinga Nya sendiri, “Banyak sekali yang mencintai anak itu…..satu sekolahnya—bahkan penjaga sekolah sekalipun, seluruh tetangganya, guru gurunya….teman sebayanya….keluarganya….dan terutama..” Tuhan memejamkan mata dan mempertajam telinganya ketika mendengar suara berat bercampur suara lembut yang bernada lebih keras ketimbang yang lain, “Kedua orangtua anak itu…..Doa dan cinta merekalah yang menyelamatkan nyawa anak itu….”

Perlahan Tuhan kembali membuka kedua matanya—mata yang lebih teduh dari apapun, tapi yang di lihat oleh Heechul hanyalah kumpulan cahaya terang benderang di sana, “Jadi Aku memutuskan untuk memberi kesempatan kedua baginya……bukankah itu bagus?” sedetik kemudian suara Tuhan kembali terdengar ringan sambil menepuk lututnya pelan, “Sudahlah Kibum—sampai kapan kau mau merasa bersalah dan menyalahkan Heechul dalam hatimu, ingat? Aku ini Maha Tahu Kibum”

Kibum mendesah pelan. Ia memang tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dari ‘Tuan’ Nya, “Maaf…..aku…” Kibum tidak jadi berkata lebih lanjut. Pikirannya saat ini bercampur aduk. Antara lega, kesal, sedih dan marah.

Dan semua itu bersumber dari pertemuannya dengan manusia bernama Heechul!

“Sudah sudah” Tuhan melambaikan tangan ke arah mereka berdua, “Kalian berdua istirahat saja dulu sampai Aku menyuruh kalian kembali, kau Heechul—kau boleh pergi kemanapun asal tidak keluar dari sini dan tidak pergi ke Bumi, mengerti?”

“Aku mengerti” Heechul tidak mau membantah lagi. Ia terlampau senang ketika tahu Tuhan memberikan kesempatan kedua pada anak kecil itu. Bisa Heechul bayangkan betapa bahagia kedua orangtuanya melihat anaknya berangsur angsur membaik., penyakitnya sembuh seketika

Dan itu berkat mereka sendiri

Baru kali ini Heechul tahu sekuat apa kekuatan sebuah Doa

“Doa lebih kuat dari apapun” bisik Tuhan dapat membaca pikiran Heechul, “Dari Doa lah Aku bisa mendengar permintaanmu dan keinginanmu, Doamulah yang menjadi pertimbanganKu untuk membimbingmu…..Doa…sangat berguna Heechul” jelas Tuhan penuh rasa sayang

“Aku tahu….” Heechul tersenyum lambat lambat, “Tapi aku baru menyadarinya sekarang….” Tambahnya semakin menaruh hormat pada kebesaran Tuhan

“Bagus” Cahaya terang itu agak terangkat yang berarti Tuhan sedang melihat ke atas langit langit, “Kibum—bawa Heechul keluar dari sini, beberapa waktu ke depan Aku akan menugaskan kalian berdua lagi” usir Nya halus

Tanpa pertanyaan, tanpa berkomentar, Kibum menuruti semua keinginan Tuhan, “Baik Tuan” jawabnya sambil berdiri tegak dengan kepala setengah tertunduk lalu menarik kasar tangan Heechul keluar dari ruangan tersebut

_______

“Jangan menarikku kencang kencang!!!” erang Heechul berusaha melepaskan cengkraman tangan Kibum meski malaikat itu acuh saja menariknya menjauhi ruangan Tuhan

Setelah beberapa meter berada melayang di atas tumpukan awan empuk, Kibum melepaskan tangannya. Raut wajahnya berubah marah tapi tetap terkendali, tidak meledak ledak seperti di rumah sakit, “Kau!!” Kibum mendesis di dekat wajah Heechul, “Apakah kau bermaksud menyelamatkan semua manusia yang seharusnya sudah mati?! Ha! Itu sudah takdir mereka!! Ingat kau bukan Tuhan!!” kata Kibum memberi peringatan

Heechul mendorong tubuh Kibum mejauh, “Aku tahu aku bukan Tuhan! Tapi paling tidak aku punya hati tidak sepertimu!!!” telunjuknya menusuk jaket tebal Kibum di bagian dada, “Apa kau tidak bersimpati melihat reaksi mereka yang di tinggalkan? Atau paling tidak membiarkan mereka mendapat tambahan beberapa jam untuk—“

“TIDAK!!!” Bentak Kibum benar benar marah. Kakinya menjejak di atas awan sebelum benar benar terbang dengan sayap lebarnya yang berwarna hitam. Tubuhnya merunduk tepat di depan Heechul, “Aku bukan sepertimu, manusia!!! Dan inilah tugasku!!” tegas Kibum mendelik angkuh ke arah Heechul, “Untuk itulah aku di ciptakan….jadi jangan pernah menghalangiku sekali lagi!! Ingat itu!!”

Selesai mengatakannya Kibum melayang ke atas, berputar putar kencang membentuk kilatan tajam—nampak seperti petir kemudian menghilang begitu saja, meninggalkan Heechul di hamparan awan awan lembut di atas langit

“Huh—dasar malaikat jahat!!” dengusnya

“Aku dengar itu” balas suara Kibum entah dari mana tapi yang pasti Heechul tidak melihat siapapun di atasnya. Heechul hanya bisa mendesah panjang lalu memutuskan duduk di salah satu awan tebal di bawah kakinya

Karena sudah berbentuk jiwa, Heechul sama sekali tidak membutuhkan makanan, tidur ataupun bernapas. Ia menghela napas sekedar untuk melakukan sesuatu daripada sendirian berdiam diri.

“Bagaimana kabar Rye Rim ya…” gumam Heechul memainkan kedua kakinya menepuk awan awan empuk, “Nenek juga….apa dia sudah meminum obatnya….dia kan pelupa” sambungnya agak sedih. Heechul tahu dia sudah siap, tapi apakah dia merelakan apa yang ada di bumi. Entahlah…

Tidak ada penanda waktu di tempat ini. Heechul saja tidak tahu apakah ini sudah malam, atau masih siang. Apakah waktu berjalan semestinya atau tidak…

Tidak ada yang ia ketahui sama sekali

Kibum yang melirik Heechul yang menunduk bersedih di bawah lapisan awannya, mengangkat bahu—tidak peduli, lebih baik ia beristirahat sebentar sebelum melanjutkan tugas ketiganya nanti. Lagipula gara gara Heechul, Kibum belum berhasil menjalankan tugasnya. Jadi biarkan saja manusia satu itu larut dalam kesendiriannya—kesepian

“Nenek….Aishh nenekku pasti belum makan—siapa yang akan memasak untuknya, siapa tahu Rye Rim belum keluar dari rumah sakit. Aduh, bagaimana ini” Heechul bergerak gelisah, tangannya terkepal dan bibirnya terkatup rapat. Andai tidak mengingat janjinya kepada Tuhan, Heechul pasti sudah melayang ke Bumi guna melihat keadaan neneknya

“Ck berisik sekali” gerutu Kibum menutup wajahnya dengan sepasang sayap ketika ia sedang berbaring di sebuah awan tebal, tepat di atas Heechul.

Tapi Heechul tidak berhenti mengoceh, “Nanti Nenek masuk rumah sakit dan penyakitnya kambuh lagi, lalu tidak ada yang merawat dia sama sekali…..nenek juga tidak tahu di mana aku menyimpan uang pensiunnya”

“Arghh!!” Kibum melesak keluar dari kukungan sayapnya, menjulurkan kepalanya ke bawah. Untung saja Heechul tidak tahu kalau Kibum masih berada di dekatnya sambil mengawasi manusia satu ini, “Apa semua manusia suka memakai mulutnya lebih dari seharusnya ya” sindir Kibum tidak tahan lagi

Ia mengurut dahinya sebentar sebelum mengulurkan tangannya keluar dari awan dan menjentikkan jari tepat di depan Heechul

TINGG

Sebuah awan—awan kecil melayang di atas pangkuan Heechul yang sedang duduk. Awan tipis itu mendadak berputar kencang bak air di tengah ombak kencang. Heechul memandanginya takut takut. Tapi rasa takutnya tidak berlangsung lama ketika melihat genangan air dalam awan itu menunjukkan keadaan neneknya yang sehat sehat saja

“Nenek!!!” pekik Heechul menaruh awan kecil itu lebih dekat sambil tersenyum penuh haru.

Neneknya sedang berada di rumah mungil milik orangtua Heechul sebelum meninggal dunia. Di sanalah sebuah tangan halus menuntun lengan sang nenek supaya keluar rumah

“Rye Rim!!!” teriak Heechul kedua kalinya

Tebakan Heechul benar, Rye Rim menarik neneknya keluar di mana kedua orangtua Rye Rim sudah menyambut nenek Heechul di depan mobil keluarga mereka

Terdengar suara akrab Rye Rim berbicara, “Nenek….mulai sekarang nenek tinggal bersama kami ya, kami akan merawatmu sebisa mungkin” bujuknya memapah sang nenek ketika Ayah Rye Rim membuka pintu mobil

Nenek Heechul mengamati Rye Rim dengan hangat, “Ah—kau memang cucu yang baik, akan kemana kita sekarang? Jalan jalan kah? Seperti yang biasa kau lakukan?” tanyanya tidak sadar

Heechul yang melihat itu dari balik awan, langsung menutup mulutnya agar tidak terisak. Neneknya masih hapal betul kebiasaan Heechul meski dia tidak tahu kalau Rye Rim bukanlah cucunya

Rye Rim pun merasakan hal yang sama. Ia menatap lekat lekat ke arah Nenek Heechul. Hatinya sudah berpegang teguh. Mulai sekarang ini adalah neneknya juga! Rye Rim akan melanjutkan tugas Heechul untuk merawatnya sama seperti Heechul sudah merawat Rye Rim hampir beberapa tahun di rumah sakit

“Iya..” jawab Rye Rim dengan suara gemetar menahan tangis, “Aku akan mengajak nenek jalan jalan, membuatkan nenek sup ikan dan menemani nenek menjahit sarung tangan….itu kan yang nenek sering lakukan”

Di sela tangisannya dalam diam, Heechul masih bisa tersenyum karena ternyata Rye Rim juga tidak lupa kebiasaan Heechul setiap kali merawat neneknya. Ia benar benar beruntung memiliki sahabat seperti Rye Rim.

Benar benar beruntung…..

“Ah—kau menangis lagi” cibir Kibum tanpa menampakkan dirinya

Heechul bergegas menghapus air matanya lalu berbicara gugup, “Aku tidak menangis….aku hanya…” tangan Heechul berhenti sesaat, “Hei? Kau masih berada di sini?!!” suara Heechul berubah marah, “Bisa tidak jangan mengusik privasi orang lain, Tuan malaikat??!” sindirnya

Kibum memindahkan kedua tangannya di atas kepala—masih dalam keadaan terbaring di atas awan, “Kau kira kenapa kau bisa melihat keadaan nenekmu dari awan kecil itu! Itu berkat sihir malaikatku, manusia!” balas Kibum tidak kalah sinisnya

“Sihir?” ulang Heechul tidak mempercayai telinganya. Kepalanya sibuk berkeliling ke seluruh penjuru langit untuk mencari keberadaan Kibum—jika memang benar dia yang melakukan sihir, malaikat itu pasti berada di dekat sini….

Nihil. Tidak ada siapapun

“Kau di mana??” tanya Heechul masih terus mencari sosok Kibum yang serba hitam

“Tidak perlu kau tahu aku di mana, mau bicara apa—bicara saja” balas Kibum mulai malas berdebat. Lagipula berhadapan dengan Heechul hanya membuatnya ingin adu mulut saja

Suara Kibum yang samar samar membuat Heechul semakin susah menebak keberadaannya. Tapi walaupun begitu….

Heechul merunduk—menatap ke dalam awan kecil di mana Rye Rim, Nenek beserta kedua orangtuanya sudah pergi dari rumah kecil Heechul. Mulai sekarang mereka akan hidup seperti satu keluarga. Tidak ada lagi yang perlu Heechul khawatirkan.

Tugasnya sudah selesai di dunia

“Terima kasih” ucap Heechul melihat awan itu pergi dari tangannya sebelum berputar menghilang begitu saja, “Terima kasih Malaikat” ulang Heechul sekali lagi

“Terima kasih?” Awan yang berada di atas Heechul bergerak cepat. Kibum menjulurkan kepalanya menghadap ke bawah sambil menaikkan sebelah alisnya, “Manusia bisa tulus juga ternyata” kata Kibum terus menyindir Heechul

“Ya!! Aku tulus tahu!!” Heechul berdiri tegak—agak kesal karena sikap kaku Kibum benar benar tidak bisa di tembus oleh apapun. Ia mulai yakin kalau Kibum memang tidak punya hati

Tanpa di minta, bibir Kibum berkedut membentuk sebuah senyuman. Senyuman pertamanya semenjak ia di ciptakan menjadi seorang malaikat.

Pandangannya tidak lepas melirik Heechul yang terus saja berjalan ke sana kemari—menebak di mana Kibum berada, “Manusia kan munafik—mereka jarang berkata tulus” celetuk Kibum memancing amarah Heechul semakin memuncak

“Keluar kau malaikat bodoh! dasar angkuh dan tidak berperasaan!!” teriak Heechul menendang beberapa awan yang bertumpuk jadi satu—Heechul mengira kalau Kibum bersembunyi di sana.

Tapi dia salah besar

Kibum bisa turun dari awan di atas tanpa mengeluarkan suara sama sekali lalu perlahan lahan berjalan mendekati Heechul dari arah belakang. Ia bermaksud mengagetkan Heechul kalau saja manusia itu tidak tiba tiba membalikkan tubuh

DUAKK

“Aw!!” Heechul memegang dahinya sementara Kibum berdiri tegap—tidak merasakan apapun, “Kau kenapa?” tanya Kibum sok khawatir tapi bernada mengejek, “Sakit? Makanya jangan berani melawanku manusia” Kibum menjulurkan sebagian lidahnya di depan Heechul. Sebagian dari dirinya sangat menikmati jika sifat meledak ledak Heechul terus terlihat dan mengajaknya beradu mulut

Begitu emosional—sesuatu yang tidak pernah di alami oleh Kibum selama ini

Heechul menghentakkan kakinya—kesal, “Aku punya nama! Malaikat hitam!!!” katanya hendak menarik jaket tebal Kibum di bagian leher tapi sayang Kibum dengan mudah menghilang—pergi dengan kecepatan tinggi sebelum muncul lagi di belakang Heechul, berbisik tepat di telinganya, “Kau manusia, manusia, manusia, manusia yang menyusahkan” sindir Kibum tajam

“Kau??!!!” Heechul berbalik lagi. Namun percuma saja. Kibum malaikat sementara dia hanya jiwa yang tidak jelas bagaimana nasibnya. Bagaimana mungkin Heechul bisa melawan Kibum

Sekarang Kibum dan Heechul saling berkejar kejaran meskipun berbeda kekuatan. Kibum hampir saja mengembangkan sayapnya meninggi ketika suara protes Heechul terdengar, “Curang! Kau mau melarikan diri menggunakan sayap!” Heechul berhenti mengejar langkah Kibum, “Itu tidak adil!!”

“Biar saja” Kibum tetap melebarkan kedua sayap hitamnya, “Baru tahu jika hidup itu tidak adil?” kata Kibum ketus dengan segelintir nada jahil dalam suara Kibum

“Ya! Kau!!” Baru saja Heechul mau beradu mulut lagi, tiba tiba sebuah cahaya terang melesat cepat kemudian berhenti tepat menyinari Kibum dan Heechul secara bersamaan

Mereka saling berpandangan pandangan mengerti, “Tuhan” ucap Kibum dan Heechul sependapat

“Aku tidak menyangka kalau tugas berikutnya terasa lebih cepat” komentar Heechul sambil membereskan rambutnya yang agak berantakan.

“Tidak tahu aku tidak pernah menanyakannya, itu tergantung keinginan Tuanku” balas Kibum mengulurkan sebelah tangannya, “Cepat, aku tidak mau kita terlambat”

Belum sempat bibir Heechul membalas ucapan Kibum, sang malaikat keburu menarik lagi tangannya saat kepakan sayapnya semakin melebar.

Mereka terbang tinggi menuju sebuah pintu emas lalu membukanya pelan pelan

Kali ini Heechul mengikuti ritual Kibum yaitu berlutut dan merundukkan kepala saat bertemu menghadap Tuhan

“Kibum, Heechul” panggil Tuhan bersuara penuh wibawa

“Ya Tuan” , “Ya Tuhan” jawab kedua mahluk berbeda itu bersamaan

Diam diam Tuhan tersenyum lebar—ternyata sebagian rencananya telah berjalan dengan lancar, “Ehem…..Kalian berdua punya tugas baru—kalian akan pergi ke rumah di sebelah selatan, kau tahu betul tempatnya Kibum. Di sana kalian akan mengambil jiwa seorang pria berumur 76 tahun yang akan segera meninggal karena penyakit jantungnya, bagaimana?” Tuhan mendelik ke arah Heechul dan Kibum, “Apa kalian bersedia menjalankannya?”

Kibum mengangguk patuh, “Baik Tuan, kami akan kembali sebelum tengah malam”

“Bagus..sekarang pergilah” Tuhan mempersilahkan mereka berdua keluar

Heechul menatap bingung ke arah Kibum—ia sendiri masih takut harus berhadapan lagi dengan maut.

“Kau kenapa?” tanya Kibum mendekati Heechul, “Ayolah kita harus berangkat” sambung Kibum yang sudah dari tadi menawarkan tangannya kepada Heechul, tapi manusia ini malah berdiam diri sambil melamun panjang

Heechul menatap Kibum—merasa tidak yakin

“Bagaimana kalau aku menggagalkanmu lagi?” suara Heechul berubah parau, “Aku kan sangat emosional?! Bisa bisa aku hanya mengacau saja di sana” katanya jujur. Beberapa menit menyaksikan keadaan neneknya baik baik saja dan semua itu berkat Kibum membuat Heechul mengubah pandangannya. Sedingin apapun sikap yang di tunjukkan Kibum, Heechul tahu kalau bukan itu kemauannya. Paling tidak malaikat ini telah menolongnya sekali.

Mendengar itu, Kibum tersenyum—tersenyum menenangkan ketika menggapai tangan Heechul ke dalam genggamannya, “Dasar manusia! Belum apa apa sudah skeptis!” kata Kibum sambil mengeratkan pegangan tangannya, “Tenang saja, mulai sekarang aku akan menunjukkanmu pekerjaanku sesungguhnya, kau akan terkejut”

Kibum tidak memberi kesempatan Heechul untuk berbicara. Mereka melayang bebas—menebus langit luas yang sudah di penuhi bintang, hingga menukik tajam menuju sebelah selatan yang di tunjuk oleh Tuhan

Sebuah rumah sederhana di ujung ganglah tempat ‘jiwa’ itu berada. Di sana sayap Kibum memelankan lajunya sebelum berhenti tepat di depan pintu rumah

“Kita sampai!” Kibum melepaskan tangannya lalu melesat masuk mendahului Heechul sementara Heechul mengikuti langkah Kibum dengan terus menebus dinding dinding rumah

Pada kamar sebelah kiri, seluruh anggota keluarga telah berkumpul. Beberapa orang anak, menantu, cucu sudah berdiri berjejer di depan tempat tidur besar dimana seorang pria tua terlentang di sana dengan nafas lemahnya.

“Dia adalah targetku” kata Kibum sambil menjulurkan tangan.

Kali ini Heechul tidak menghalangi atau berteriak protes lagi kepada Kibum. Sekali lihat saja, Heechul bisa tahu kalau keluarganya sudah merelakan kepergian lelaki itu.

Bahkan salah satu anaknya mengelus wajah tenang Ayahnya dan mencium keningnya—hangat, “Kami merelakanmu pergi Ayah…” katanya lembut

Tidak ada tangisan kesedihan. Hanya ada tangisan pelepasan tanpa rasa takut berlebihan

Sang Ayah bahkan sempat tersenyum lebar sambil memberikan kata kata terakhirnya, “Jaga keluarga ini—gantikan Ayah melindungi mereka…..Ayah….” Dia terdiam, menatap nanar ke arah anaknya.

Agak lama mereka berdua saling bertatapan sampai akhirnya sang anak mengangguk mengerti dan menaruh kedua tangan Ayahnya di dada, “Tidurlah dengan tenang” lirih anaknya tetap berada tepat di samping Ayahnya

“Hmm” Kibum mengambil posisi, “Sudah waktunya” ia mengulurkan tangan ke depan, berkonsentrasi penuh mengumpulkan tenaganya untuk menarik jiwa lelaki tersebut keluar dari tubuh ‘dunianya’

Spontan Heechul mundur beberapa langkah seraya memandang takjub bercampur ngeri ketika Kibum menampung tetesan cahaya kecil dan menghisapnya seperti magnet. Lingkaran cahaya itu bergerumul—memadati satu sama lain hanya dalam beberapa menit setelah Kibum menariknya keluar

“Apakah dia tidak kesakitan?” tanya Heechul masih menjaga jarak dengan Kibum meski kedua matanya tidak henti henti melihat sebuah lingkaran cahaya di tangan Kibum

“Tidak” Kibum menyimpan ‘jiwa’ tersebut menghilang dari balik jaket hitamnya, “Aku melakukannya cepat dan praktis, dia tidak akan kesakitan” sambung Kibum mendongakkan kepalanya ke arah Heechul, “Tidak terlalu burukan pekerjaanku jika kau tidak menganggu?”

Suara Kibum yang renyah dan lebih bersahabat dari sebelum sebelumnya membuat Heechul sedikit terkejut. Tapi ia tetap tersenyum tipis sambil mengedarkan pandangan melihat seluruh keluarga besar lelaki itu, “Mereka tegar ya” ucap Heechul tidak mendengar isak tangis yang terlampau besar, mereka memang menangis. Itu saja. Tapi kelihatan sekali mereka merelakan lelaki tegap yang menjadi tiang keluarganya pergi dengan tenang

“Manusia” celetuk Kibum mengikuti arah pandang Heechul, “Kematian adalah proses kehidupan tapi bukan akhir dari segalanya….makanya kau tidak semestinya terlalu bersedih” nasihat Kibum yang di luar dugaan membuat Heechul langsung memutar kepalanya, “Ternyata kau bisa berkata bagus juga~” ucap Heechul agak tajam

Kibum mendengus tertahan, “Aku mendengarnya dari Tuan” jawabnya jujur

Heechul terkekeh kecil, “Sudah kuduga…..dari Tuhan toh…..”

“Aishh—jangan mengajakku bertengkar di sini manusia!!” Kibum sedikit menghentakkan kakinya dan menegakkan dadanya sehingga mengeluarkan sepasang sayap yang siap terkembang luas. Ia tertunduk sebentar, mengulurkan tangannya ke depan Heechul, “Kita harus cepat kembali—Tuan sudah menunggu kita” kata Kibum

“Ayo” Tanpa menunggu lama Heechul meraih tangan Kibum dan meremasnya pelan. Malaikat itu agak terkejut mendapati kehangatan yang tidak pernah ia rasakan. Kibum menggeleng bingung, bukankah dia sudah sering menggenggam tangan Heechul tapi kenapa rasa hangat ini baru sekarang Kibum rasakan

“Apa ‘jiwa’ bisa sakit demam?” gumam Kibum sambil melirik ganjil Heechul

“Apa kau bilang?” balas Heechul mendekati wajah Kibum

DEG

Kali ini Kibum benar benar terkejut. Sontak ia melepaskan tangan Heechul dan bergerak menjauh. Wajahnya berubah ketakutan ketika mendengar suara tidak beres dari dalam tubuhnya. Apa lagi ini?!! tadi tangannya sekarang malah seluruh tubuhnya terasa menghangat!!

“Hei?” Heechul melambaikan tangannya di depan muka Kibum, “Kau tidak apa apa malaikat? Kenapa sayapnya mendadak hilang seperti itu?” Sejenak kesadaran Kibum muncul kembali, kedua tanganya meraba raba ke belakang. Aishh!! Sayapnya sudah melipat lagi!!

“Tidak apa apa” Kibum menggelengkan kepala—merasa agak pusing, “Mungkin karena jiwa hangatmu, aku jadi tidak terbiasa”

“Eh? Jiwa hangatku??”

Sebelum Heechul menanyakan lebih lanjut, Kibum buru buru meraih sebelah tangan Heechul untuk membawanya terbang

Dan ketika tangan mereka bersentuhan, rasa itu muncul lagi. Hangat—amat sangat hangat

“Kenapa melihatku terus?” Heechul membalas tatapan Kibum yang terpaku di depannya, “Ada yang salah?”

Kibum tidak memalingkan wajahnya sama sekali, “Tidak—tidak ada apapun…ayolah lebih baik kita cepat pergi”

Dengan perasaan teramat aneh, Kibum memaksakan diri untuk terbang dalam kecepatan di atas rata rata sambil berusaha tidak melihat ke arah Heechul dulu. Ia takut kalau sayapnya spontan menyusut lagi ke balik punggung

Ini benar benar tidak biasa. Pikir Kibum kalut. Ia harus menanyakan langsung kepada ‘Tuannya’. Siapa tahu malaikat juga bisa punya penyakit mematikan kalau terlalu lama dekat dengan manusia

 TBC

17 responses to “≈All My Heart-{Part 2}≈

  1. Jd penasaran apa semua malaikat sedingin tokoh Kibum disini. Dan Tuhan amat sangat baik (з´⌣`ε)

  2. Sukaaaaa – cie’elah si kibum . Menghangat ni ye xD – di tunggu nyak .lol

  3. HYAAAAAAAAAAAAAAAAAA Kibum jatuh cinta sama Heechul~~~ Kibum jatuh cinta sama Heechul~~~ *nada ngejek*

    Eonni………daebaak. Aku baru pertama kali baca ff tntng Tuhan-Malaikat-Manusia gini. Tapi bagus xD

  4. kyaaa… unn nieh..
    gmna sie blajar bwt kta” bgus tuch..
    biasa’a klo bca ff yg pnjang” ska mles..
    tpi yg ini bda bgt.. ktagihan bca’a.. ^^

    aq jga bru tau klo kkuatan doa tu emang hbat bgt..
    apalagi klo d ucapin’a dg tuluss.. ^^
    unn…. keyennnnn… >,<
    hahaha.. kibum lucu..
    msa ada skit mmatikan buat malaikat..
    itu yg nma'a cinta bkan unn.. hehe
    ^^
    *hugg unn lgi* ^^

  5. ad sedikit tetesan air mata keluar
    ad sedikit senyuman terulas
    ad sedikit tawa tergambarkan

    dan ad kehebatan yang terkandung di dalamnya ><

    love jung miCHAN ^^/

  6. Nahhh… aku lebih suka part ini . haha..
    ini baru lebih jelas fokus ke init cerita dan sisi religiusnya.
    Cuma mungkin aku jadi agak kurang suka sisi KiBum yang berubah emosional sih. Hoho..
    ga tau kenapa, kalo dia diceritakan jaid malaikat, berarti dia tetep harus jadi malaikat, yang punya tugas, dan ga ada waktu buat emosi.
    tapi lanjutlah…..

  7. Kibum buat deg deg an😄 malaikat kaya kibum pasti ga ada yang nolah. Termasuk saiya

  8. kakak! ffmu keren. apakah malaikat dan manusia akan bersatu.. kematian adalah proses, bukan akhir. keren bgt kata2 yg itu kak.

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s