Love u Dad…..

“Ayah?”

“hmm?”

Seorang anak kecil berusia 5 tahun duduk di pangkuan sang Ayah sambil menengadah dengan kedua matanya yang bercahaya, “Nanti kalau aku sudah besar, aku ingin menjadi Dokter!” katanya bersemangat

Sang Ayah tersenyum lembut mendengar cita cita anaknya lalu mengusap halus rambut anak itu, “Bagus!! Ayah dukung cita citamu….Jadilah apapun yang kau mau….Ayah akan ada di belakangmu” janjinya

Sambil berusaha berdiri di atas tumpuan kedua lutut ayahnya, sang anak kembali tersenyum lebar sebelum mengalungkan kedua tangannya di bahu sang ayah, “Aku paling sayang Ayah!!!” teriaknya kencang

“Hahaha….Ayah juga selalu sayang padamu…..” jawab ayahnya dari lubuk hati terdalam

 

*****

 

“Aku tidak mau!! kenapa Ayah selalu memaksa?? Apa Ayah tidak bisa memberikanku kebebasan??” bentak Sang anak ketika beranjak remaja. Wajahnya merah karena marah dan terus beradu pendapat dengan Ayahnya sendiri

“Bukan begitu! Tapi apa pantas kau pulang selarut ini?? berbohong kepada orangtua kalau sedang belajar di rumah teman ternyata malah sedang pacaran? Ha!” balas Ayahnya tidak terima

Sang anak tidak bisa berkelit lagi. Ini pertama kalinya ia berbohong kepada Ayahnya sendiri.

Menyesal? Tentu!

Tapi keegoisan dan rasa kebebasannya yang menyelimuti usia remajanya membuat sang anak menggerutu untuk menyuarakan pendapatnya yang salah

“Argh!! Ayah memang tidak mengerti diriku!!!” erang sang Anak memutuskan kembali ke dalam kamar. Mengurung diri di sana dan menumpahkan rasa kesalnya yang meluap

Sementara sang Ayah?

Dia terduduk, menundukkan kepala.

Hari hari yang ia takutkan akhirnya datang. Tapi sang Ayah ini menggelengkan kepala kuat kuat.

Tidak!! Dia tidak akan menyerah! Dia akan terus membimbing anaknya meski butuh kesabaran eksta menghadapinya sekarang….

Tetapi itu adalah anaknya, kebanggaannya……meski sang ayah tidak sedekat sang Ibu tapi rasa sayangnya begitu besar

Sangat besar sehingga sang Ayah mulai membebaskan sang anak—memberikannya hak yang selama ini ia tunda untuk di berikan

Jam malam….

 

*****

 

“Hahaha~ Iya Bu…aku mencintainya….”

“Tapi kau jangan terbuai sama asmara saja…ingat kuliah kedokteranmu—itu butuh konsentrasi penuh”

“Baik bu!”

Kedua orang tersebut saling bercanda tawa—membagi keceriaan di ruang tamu selagi sang Ayah menatap nanar ke arah anaknya.

Dan ketika Ayahnya sengaja terbatuk untuk menghampiri mereka, wajah sang anak berubah kaku. Ia mendadak berdiri—hendak pergi karena tidak mau berada satu ruangan dengan Ayahnya sendiri

“Mau kemana kamu?” bisikan Ayahnya berhasil menghentikan langkah sang anak

Suasana yang tadinya hangat berubah kaku. Sang Ibu yang masih duduk di sofa, terdiam. Bingung ingin membela siapa. Suaminya atau anaknya?

Sang anak tersenyum sinis, “Mau pergi, aku malas satu ruangan dengan Ayah” katanya terus terang

DEG

Jantung sang Ayah berdetak cepat dan terasa begitu ngilu serta menyakitkan

Sang Ayah berusaha tetap tegar sambil memasang wajah datarnya yang tidak pernah menunjukkan emosi apapun, “Kenapa? Apakah kau—“

“Alah! Seperti aku tidak tahu Ayah saja! Ayah pasti ingin bilang bukan, ‘Jauhi lelaki brengsek itu! Dia bukan orang yang pantas untukmu!’ ya kan? Ayah!” sindir sang anak mulai tersulut emosi

Dada Sang Ayah kembali bergetar….sakit…sakit sekali…

Bibirnya yang kasar terbuka pelan pelan, “Memang” kata sang ayah membenarkan, “Sekali lihat Ayah sudah tahu—dia lelaki brengsek, kau saja yang tidak mau mendengarkan!”

“Oh?” sang anak berani mendekatkan diri—berhadap hadapan dengan Ayahnya, “Kenapa Ayah selalu membenci setiap lelaki yang kubawa kerumah?? Ayah tidak suka aku memiliki pacar??”

Bukan begitu nak…hanya saja….Ayah tahu mereka belum menjadi yang terbaik untukmu….

Ingin sekali sang Ayah mengatakan seperti itu di depan anaknya. Tapi sikap kakunya dan bibirnya yang tidak bisa berkata melembut ketika sedang marah membuat anaknya semakin membencinya….

“Terserah!!” sang Ayah mengibaskan tangan kanannya, “Kalau itu maumu! Silahkan saja!! Ayah tidak akan ikut campur lagi!!”

“Ayah—“ bisik Sang ibu merasa sekarang waktunya menghentikan adu pendapat ini

“Tidak Ibu! Biarkan saja, anakmu ini mau apa!!” tangannya bergetar saat menunjuk wajah anaknya, “Tapi jangan anggap aku Ayahmu lagi!”

Wajah sang anak berubah memucat. Ia tidak tahu harus berkata apa apa lagi.

Dengan sikap canggung sang anak berjalan menjauh dan meninggalkan kedua orangtuanya yang masih mematung di tempat

Keluarga kecil mereka sudah berubah total

 

*****

 

“Ayah sudah berubah!” sang anak terus menulis di diary dari dalam kamar. Sepanjang hari ia tidak melakukan kegiatan apapun, bahkan ia memutuskan bolos kuliah karena perasaannya sedang kacau hari ini

“Kenapa Tuhan….kenapa Ayahku yang pelembut berubah sangar seperti itu…kenapa….padahal aku berusaha mewujudkan cita citanya yang ingin melihatku lulus sebagai dokter. Tapi apa? Kenapa dia malah….” Sang anak menutup mulutnya—menahan isakan tangis yang tidak mau di dengar siapapun.

Satu sisi sang anak merasa ada yang salah dengan sikap sang Ayah

Tapi di sisi lain…

Sang Ayah berlutut di dalam kamarnya. Menengadahkan kepala ke atas langit langit kamar.

“Tuhan….apakah aku sudah gagal menjadi orangtua? Kenapa anakku sendiri begitu keras kepala dan tidak mau mendengarkan ucapanku? Apakah aku terlalu keras padanya?” pertanyaan demi pertanyaan ia utarakan—menumpahkan segalanya dalam keheningan malam.

Kedua mata besarnya itu mulai mengeluarkan air mata yang menggenangi wajah tuanya. Sesaat sang ayah nampak begitu lemah dan tidak berdaya

Dalam keadaan seperti itu. Jantungnya kembali berdetak kencang. Rasa sakitnya menjadi jadi. Sang Ayah akhirnya berhenti berdoa lalu berbaring ke atas kasur dengan satu tangan menggenggam kemejanya.

Sang Ayah merasakan firasat buruk….

“Tidak Tuhan…Ijinkan aku melihat anakku menjadi seorang Dokter sebelum Kau mengambilku…kumohon…hanya itu pintaku….biarkan aku memenuhi janjiku sewaktu ia kecil….janji bahwa aku akan selalu ada di sampingnya hingga ia menggapai cita citanya…kumohon….” Desisnya pelan pelan semakin hilang.

Suaranya memudar di ganti dengan desahan halus yang keluar dari bibirnya. Tubuhnya mulai rileks dan tangannya sudah terlepas mencengkram kemejanya sendiri…

 

*****

 

“Selamat ya!!! Elo akhirnya jadi Dokter juga!!” seru salah satu teman sang anak sambil memeluk tubuhnya erat erat

“Hehehe—makasih” sang anak melepaskan pelukan mereka sambil melirik ke arah sudut ruangan sebuah ball room terkenal—tempat di mana sang anak menjalani wisudanya, “gw mau ketemu orangtua gw dulu”

“Oh—silahkan” sang teman mengerti. Ia melambai sekali lagi sebelum membiarkan keluarga kecil itu berkumpul di sana.

Sang anak berlari mendekati Ibunya terlebih dahulu, memeluknya erat sambil menahan haru, “Ibu aku lulus! Aku sekarang menjadi Dokter…” bisiknya penuh rasa bahagia

Sang Ibu yang memang gampang tersentuh, mengelus rambut anaknya yang tertutup toga wisudanya, “Ibu bangga padamu” ucapnya dengan suara parau

Tidak lama, mereka melepaskan pelukannya, saling membagi tatapan sendu sebelum sang anak akhirnya menarik nafas saat berjalan menghampiri Ayahnya

Ayahnya menyambut sang anak dengan rasa canggung. Walau ada rasa sakit luar biasa di dadanya, tapi ia tetap menahannya—menahannya selama mungkin agar tidak membuat hari bahagia sang anak berubah kelam

“Ayah—“

Sang anak tiba tiba memeluk tubuh Ayahnya erat—terlalu erat sehingga sang ayah perlu menarik tubuh anaknya agar tidak terlalu menghimpit dadanya yang semakin terasa nyeri

“Maaf Ayah sedang tidak enak badan” katanya memberi alasan—takut sang anak takut dengan penolakannya

Tapi sang anak tidak mendengar itu. Senyumnya semakin melebar sambil memegang kedua tangan Ayahnya yang dulu sering menggendongnya ketika ia kecil, “Aku yang seharusnya minta maaf Ayah…maaf…Maafkan aku…” pintanya pelan

Ayah memandang wajah anaknya dengan perasaan bingung, “Kamu kenapa mendadak—“

“Ayah benar! Lelaki itu brengsek!” potong sang anak menceritakan semuanya, “Dia hanya memanfaatkanku…..aku—“ sang anak menggeleng lemah, “tidak seharusnya aku melawan Ayah…..aku bahkan harus bertengkar dengan Ayah hanya demi membela dia! Tidak! Kali ini aku berjanji Ayah, aku akan menuruti semua nasihat Ayah tanpa membantahnya terus menerus..” di remasnya kedua tangan mereka yang saling bertautan sementara kepala sang anak tertunduk dalam dalam sebagai bentuk permohonan maafnya

DEG

Dari dalam tubuh sang Ayah ada bunyi gemuruh yang menghentak semakin kencang. Sang ayah tahu, umurnya tidak akan lama lagi. Cepat cepat ia memeluk anaknya, tidak memperdulikan rasa sakit yang semakin membuat tubuhnya lemah.

Tidak! Dia berusaha menahan itu—menahan ajalnya yang sebentar lagi tiba….

“Ayah….” Tanpa merasa malu, sang ayah mulai terisak kecil dalam pelukan anaknya, “Ayah juga minta maaf—karena lebih sering mengedepankan keegoisan orangtua ketimbang membimbingmu selama ini, maaf”

Tadinya sang anak agak terperangah melihat sikap ayahnya yang tidak biasa. Namun akhirnya ia membalas pelukan hangat sang ayah, “Ayah tidak salah…..aku yang salah…..” kedua tangannya yang mungil memegang kedua sisi wajah sang ayah supaya bisa menatapnya dari dekat sebelum berbisik pelan, “Aku sayang padamu Ayah…”

 

DEG DEG DEG

Jantung Ayah kembali bertalu talu seakan akan menandakan takdirnya yang sebentar lagi akan berakhir…

“Ayah juga….” Sang Ayah menahan nafas. Kembali, ia memegang dadanya dengan sebelah tangan kemudian terjatuh pingsan dalam pelukan anaknya

“Ayah…” Sang anak berusaha membantu sang ayah berdiri, tapi sayang tubuh tegap Ayahnya tidak bergerak lagi

“Ayah…Ibu!!!” teriaknya kencang bercampur rasa panik. Mendadak rasa takut itu tiba. Lagi lagi ia memapah tubuh Ayahnya di bantu dengan beberapa siswa lain yang melihat peristiwa itu ke salah satu bangku panjang di depan pintu keluar

Di sana, sang anak yang bertitle dokter langsung membuka kemeja ayahnya, memeriksa detak jantung, nadi dan jaringan syaraf di leher sang ayah

Ia tertegun diam seribu bahasa

“bagaimana?? Apa yang terjadi??” desak sang Ibu

“Hiks…” Sang anak menundukkan kepala, meremas kemeja putih sang ayah tanpa bisa berbuat apa apa lagi, “TIDAK!!! KUMOHON BANGUN!! BANGUN…..BANGUN!! AYAH….kumohon….” jeritan sang anak terdengar begitu pilu—membahana ke seluruh sudut hall mewah tersebut

Semua orang diam. Ikut merasakan suasana duka dari keluarga kecil itu.

Sang Ibu terduduk di samping anaknya, berusaha menenangkan sang anak tapi di satu sisi rasa sedihnya mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Dengan satu tangan yang bebas, sang Ibu mengelus wajah suaminya untuk terakhir kali sebelum mencium pipinya, “aku merelakanmu…” bisiknya berusaha lebih tegar.

 

Entah berapa lama tangis anaknya baru berhenti. Yang ia tahu, tubuhnya berakhir di rumah sakit. Kata Dokter senior sang anak mengalami tingkat depresi berat

Butuh berminggu minggu hingga sang Ibu berhasil menyembuhkan rasa kehilangan sang anak agar dia mau pulang kembali ke rumah mereka

Rumah mereka yang sepi tanpa sang ayah.

Dan saat itulah sang anak baru menyadari betapa berharganya keberadaan sang ayah yang ia nilai selama ini tidak penting

Sikap kerasnya, suara membentaknya dan wajah teduh itu….

Lagi lagi sang anak menangis. Ia menangis dan terus menangis. Seluruh kenangan Ayahnya terus berputar dalam benaknya. Tatapan sembabnya teralih ke sebuah ayunan mungil di belakang rumah

Ayunan yang sering menjadi tempat main sang anak dan sang ayah sewaktu sang anak baru berumur 5 tahun

Waktu di mana sang anak mengutarakan keinginannya menjadi seorang dokter dan saat itulah sang ayah tersenyum mendengar ucapannya, mendukungnya seratus persen hingga kemarin ia di wisuda.

Ayahnya telah memenuhi janjinya

“Tapi Ayah sekarang pergi…” bisik sang anak seorang diri, “kenapa harus sekarang Ayah?….aku belum memenuhi satu janjiku lagi padamu..” ia menyeret tubuhnya naik ke atas ayunan, bersandar pada salah satu tiang—masih berwajah sembab sehabis menangis

Sang anak mengelus permukaan ayunan yang sudah di makan usia tersebut. Ia tersenyum setiap kali mengingat Ayahnya tidak pernah membuang ayunan kesayangannya ini.

Banyak kenangan yang terjadi di sini. Kenangan khusus mereka berdua….

“Ayah…” katanya berbicara pada suara angin di siang hari, “Aku belum membahagiakanmu…aku hanya ingin membahagiakanmu…..ingin melihatmu tersenyum bangga padaku dan mengelus kepalaku seperti waktu kecil….tapi sekarang…”

 

BRAKKKKKKK

Sebuah foto berbingkai tiba tiba jatuh dari atas rak guci di dalam rumah—tidak jauh dari pintu belakang.

Sang anak berhenti menangis. Ia memandangi rumah yang dalam keadaan kosong karena Ibunya sedang pergi keluar, “Siapa itu!!” ucapnya agak ketakutan.

Tidak ada jawaban

Mungkin angin. Pikir sang anak lalu memberanikan diri masuk ke rumah, memunguti benda jatuh itu.

“Ini kan??” Kedua bola mata sang anak melebar. Di tangannya sekarang adalah sebuah foto lama di mana Ayahnya dan dia di foto oleh Ibunya saat berada di ayunan belakang rumah.

Foto di mana sang ayah merangkulnya hangat sambil memangku sang anak dari belakang

Senyum langka sang anak mulai mengembang di bibirnya. Tanpa sadar kepalanya menggeleng ke kanan kiri—mencari sesosok yang sudah meninggalkannya, “Ayah…” bisiknya yakin

Di ambil foto itu lalu di bawa kembali ke ayunan kemudian melihatnya tanpa rasa bosan

“Aduh, bingkainya rusak lagi..” sang anak melirik ke salah satu penutup kayu hitam yang mulai terlepas, “berarti aku harus beli yang baru” ucapnya lagi sambil sibuk melepaskan semua bagian bingkai dan mengeluarkan foto itu

Ia meraba hati hati—menangkap kenangan yang tertangkap di sana. Tanpa sengaja sang anak membalikkan foto bagian belakangnya….

“Ini…” bisiknya tidak percaya

Ia mengelus tulisan sederhana di sana—sebuah tulisan ayahnya yang ia kenal baik. Tulisan yang sudah usang di makan waktu tapi tetap memberikan suatu kekuatan bagi anaknya sampai hari ini…

 

‘Ayah selalu bangga padamu’

“Ayah….” Sang anak kembali menangis. Di peluknya foto itu secara hati hati dalam dadanya. Perlahan lahan, wajah sang anak menengadah ke langit biru. Ia tersenyum tipis memandang seseorang yang mungkin sedang melihatnya dari balik awan awan itu

Dengan lantang ia berkata, “AYAH!!! AKU JUGA!! AKU BANGGA KAU ADALAH AYAHKU!!!” suaranya yang serak membuat sang anak akhirnya kembali mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, “Aku akan selalu bangga Ayah……karena aku tahu kau mencintaiku…”

Kali ini sang anak tersenyum. Bukan senyum penuh keterpaksaan atau senyum sedih seperti yang tadi ia tunjukkan

Tetapi senyum keikhlasan tentang kepergian Ayahnya, “Rest in peace Daddy…”

 

THE END

 

Cerita pendek ini khusus gw persembahkan untuk seorang teman di facebook. Teman yang menulis di statusnya ‘Today is my father’s birthday but now he is in heaven. Rest in peace Daddy’

Maaf kalau gw udah lancang buat cerita ini walaupun ga sesuai dengan kenyataan atau kejadian yang telah dia alami….please maafkan gw…

65 responses to “Love u Dad…..

  1. eonnii, sedih😥
    huaaa aku keinget ayahku, pgn meluk dia😥
    buat yang disebut di atas, moga ayahnya baik2 di surga🙂

  2. sdih bgt crita’a…
    gomawo thor crita’a sukses buat q sdar…
    hah q nangis nih bca’a…
    q tkut bgt khilangan org yg d syangi…
    stiap crita yg brhbungan dgn ortu pst q slalu nangis bca’a…….

  3. onnie…
    g tau mau blg ap lgi..
    aku jd ingat appaku..
    aku blom bhgiain dy #nmpg crht😉

    aku ttip slam bwt tmn onnie it y^^

  4. Sedih banget deh ceritanya.. Jadi pengen meluk ayah saat ini juga.. T____T maaf onnie aku ga bs coment apa2.. Ini beneran sedih banget.. Sukses buat aku nangis..

  5. haaaaa…
    aku baca ini disamping ayahku sendiri onnie..
    pengen nangis rasanya gengsi banget dsamping ayahku gitulho~
    ini bener2 buat aku mau nangis beneran didepan ayahkusendiri..
    good jooob!!
    aku emang sering ngebantah apa kata ayah, lebih suka ke ibu kalo apapun..
    tapi, aku takut ini menjadi kenyataan..
    ff ini udah buat aku sadar onn..
    thanks banget~
    good job banget~ *dari pada galau mending baca nolu aja deh* *kagak nyambung*
    Love you dad…

  6. Onnie, ngebaca cerita mu yg ini jujur aku rada sadar.. hubungan q ma my appa rada2 jauh..tpi onnie, sosok ayah yang onnie ceritakan disini adalah sosok ayah impian q..daebak onn *senyum bareng kibum oppa* hehehe ^_<..

  7. Eonnie, saeng baca ini ff langsung mao nangis. Air mata udah di ujung mata.
    T.T
    langsung inget ama appa.. Ternyata udah byak bget kesalahan ama appa.
    Mianhae appa.
    Saranghae..
    Mian eon jadi curcol disini. Hikss T.T

  8. eonnieee…. *hug unn erat”*
    hueeee,,, mta q kyk ud kna bnjir ddakan aja nie,,,
    bner nie,, ampe mrinding bca’a unn,,
    sediihhhh bgettt,,, T,T
    trharu sya,,, bsar’a cinta emang gga bza d ukur yaa unn,,
    i❤ U dad,,
    saranghae,,,, :*
    love U jga buat unnie yg udah buat crita yg sukses bkin aq bgadang ampe jm sgni,,, hehehe…^^
    *kiss unn* :*

  9. eonni, ceritanya bgus bgt,keren! ayah impian semua anak slalu membimbing dan tak pernah berusaha menyakiti perasaan anaknya.. love this so

  10. unnie..
    kau sukses buat aku nagis tersedu seduh unnie.. hebat bikin aku sadar!! kalau sosok ayah adalah benteng perlindungan dari dunia luar.. thanks unnie..
    mau lanjut ah nagis’a

  11. onnie..
    ceritanya mengharukan bgt,sukses ni bkin q nangis
    tabah y bwt yg mengalami

  12. onnie ceritanya keren bangeeettt !! bener2 nyentuh hati banget dan berhasil buat aku nangis tersedu2 huhu .. sosok ayah nya mirip sm sosok ayah ku , jd pas baca ff ini aku kaya membayangkan ayah ku sendiri hehe ..

  13. Eonni! Ama nangis banget baca ini😥
    Ayah Ama ultah tgl 8 , meninggal tgl 9 agustus .
    Menyentuh bgt sumpah eon , jadi inget ayah Ama .

  14. huwaaa q terharuu!!!! cckckckkk Eonn puxa tisu???
    tmben nih ank bs nangis.,

    next story EEoonn q tggu!! *lnjutin nangis*

  15. hiks.. T.T
    ga tau mw ngmg apa.. Aq trsentuh bgt sm critanya.. Daebak onn.. Buat yg ngalamin, appa qmu pzti bangga sm qmu chingu..
    Aq turut sdh.. Ini ngebuka mata aq..

  16. Annyeong kak sebas.. mianhae aku baru komen..
    oh god harusnya cerita kakak di jadiin pelajaran berharga kak.. aku sampe nangis bacanya. jadi kangen papa yg di medan deh #dd its perfect kak!!

    Gomawo kak buat semua ff yg udah kakak tulis. dari dulu masih di grup fb sampe sekarang aku suka banget sama semua tulisan kakak..

  17. eonni :((
    aku nangis sekarang :((
    aku jadi kangen papaku yang dijakarta
    jujur aku pernah berantem sm papaku😦
    dan baca ini bener2 bikin aku nangis TT_TT
    ini pelajaran buat semua anak di dunia😦
    good ff eonni ^^

  18. huaaaa TT
    aku pingin nangis sekarang TT
    hwaaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~ TT
    sedih banget ceritanya eonni😦

    buat yang ngalamin tabah ya ,

  19. dad gw jarang banget ngmong ma gw..
    adanya ngomong sama adek doang ^^;

    buat yang ngelemin tabah ya~

    semoga dddy panjang umur.. hyahahahaha..

    eh Sebas, NOLU nya dibuka doong#duaaaarr
    ga sabar baca niihh..>.<# jedAAAArrr

  20. eonni >< T.T
    ahh jadi inget ayah ni :((((
    beberapa minggu yg lalu sempet diem diem an sama ayah , tapi sekarang sih udah ga ^^
    hihihihi, aku suka deh ..ahh ini angst (?) banget
    kkkk ~~ ayooo itu NOLU 50 jangan diprotek dong😀

  21. sumpah nangis baca cerita ini. ke inget papi😥 aku selalu mikir papi yg egois, pdhl aku yg egois. mianhae paps :’) pengen bgt jd tokoh “aku” bisa ngungkapin dan berani nangis di dpn ayahnya. bagus bgt cerita ini onn, bisa buat renungan🙂

  22. omaigatttttt *buruburu lari ke appa* unnie ffmu keren , sumpah aku nangis bacanya inget papa yang barusan aja ribut sama aku ,, ceritamu keren unniee ,,,😥 hiks ,

  23. T T
    Mewek sdh trharu
    Dr crta ni.saya trsadar,bahwa sampai dtk ni saya blum bsa mmbhgiakn ayah..saya hnya bs menuntut dan menuntut..loh2 mlh curhat.hehe..
    Pkokny mkc byk.chingu ats crt ini.sungguh amat sgt menynth ht..dan mlaì dr skrg.sya akn brusha membhgiakn ayah.^^
    Ayah saranghae..

  24. Aku nangis kalo baca ff ini. Aku nyadar kalo suatu hari aku akan kehilangan orang tua..
    .Orang tua itu berarti banget yah.. Appa neomu saranghae.. Jeongmal saranghae..SARANGHAEYO APPA..

  25. gomawo eonn ff ny bikin ak sadar… selama ini ak sllu ngangep ayah gk penting karna suka marah” padahal itu bwt kebaikan ku..
    gomawo…

  26. T.T eonni saya nangis loh
    masalahnya saya kurang deket ama appa jadi feel nya kerasa banget
    saya nangis berat loh eonn :’)

  27. aku gak berhenti nangis setelah baca ini,, aku langsung ingat kesalahan q sama appaq,,,
    appa jongmal sarangheyo,,,
    maafkan kesalahan anakamu ini
    maaf kan anaka

  28. Ya allah,, aku nangis baca ini..
    Karena waktu aku baca ini, aku lg kesal dgn ayahku..
    Tp sekarang aku ingin terus berada di sampingnya..
    Sampai kapan pun..

  29. hikz.. hikz.. Sedih banget baca ni ff ,, apa karna Q juga pengen ngerasain kasih sayang dari ayah kali ea..( jjiaah, ikutan curcol.. >,< ) !! Jadi terharu banget.. Daebaaak…

  30. Brkepul2 doa akan ku krim pdamu,.
    Ssungguh’y,aku sngatlah brsedih ketika tak prnah ada prckapan d antara kita,.
    Hnya kerut kriput wjahmu yg trbyang d pkiranku,.
    Tapi,aku sngatlah bangga mnjdi anakmu,.
    Kw telah wariskan aku petuah sderhana,yg aku catat dlm jiwaku dn coba mnjalani’y,.
    Dan ssungguh’y Lah aku msih blm bisa mmbanggakanmu,.
    Tpi ttap sja kw trsnyum saat aku trtdur,aku tau itu,.

  31. aku jadi inget kesalahan ku sama appa, kemarin aku BADMOOD sama appa jadi ngambek deh! aku marah marah ngak jelas!!!! aku mau minta maaf tapi gengsi!!! TT^TT

    aku bener bener menyesal!!!!😦

  32. Baca ff nie g tw udh yg kbrapa kli ttp za netesin air mata.,
    Ngerasa low slma nie blm buat ayah bangga.,
    Wah eonnie daebak………………

  33. Ya ampun aku sendiri jd inget aku jg sering pulang malem habis pulang latihan di studio. aku jarang di rumah setiap hari. apa mungkin kedua orang tua aku jg berpikir begitu pd ku?. ya ampun ayah ibu percayalah padaku. aku tak mungkin melakukan hal yg membuat kecewa, hueeee aku nangis loh tadi.

  34. Hueee… sedih banget eon! Aku ampe nagis- nagisan bacanya *lebay* hehehehe… tapi sumpah ini sedih banget…😦 kasian ayahnya salah dimengerti oleh anaknya! T___T
    Pokoknya ini ff bagus bner………
    Nice ff ^^

  35. gw inget papa gw kak.. gw sampe nangis,ngerasa semakin bnyak tumpukan dosa gw kepada papa gw.. gw sampe nangis,ngerasa,org tua adalah segalanya,marah dan protektifnya orang tua adalah bukti cinta kasih mereka.. gw udah pernah baca d fb si.. tapi…. pas gw bca lg d blog lu,gue baru ngerasa,gw baru sadar,sampai di ujung usianya pun org tua tetep sayang dan akan slalu pgn anaknya itu bahagia…

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s