≈Of Course I Love U-Special Part-{Zhoury}≈


Zhoumi PoV

Jika kau lahir dalam kondisi mengenaskan—dimana tidak seorangpun menginginkanmu, berarti kau bernasib sama sepertiku

Sampah dan nyawa yang tidak seharusnya ada di dunia ini

Bahkan Ibu yang melahirkanmu pun tidak sudi menatap dan merawatmu seorang diri

Dia lebih memilih meninggalkanmu di pelataran pembuangan sampah—berharap ada seseorang baik yang memungutmu

 atau….jika kau beruntung…

Ada seorang wanita— pemilik panti asuhan yang mengangkatmu menjadi anaknya..dan tinggal dalam sebuah rumah nyaman bersama anak anak senasib di sana….

Ya, benar….itulah takdirku…..

 

*****

 

“Tidak!!! Jangan sentuh aku!!!!” teriak salah satu dari dua orang anak perempuan—jauh lebih mudah dariku, yang berteriak ini kalau tidak salah bernama Kim Kibum…yah Kibum..Ibu membawa mereka berdua dari tempat yang berbeda.

“Zhoumi, sini bantu Ibu” panggil Ibu—atau seorang nenek renta yang memungutku dulu semenjak aku baru berusia beberapa hari. Aku menurut sambil berjalan mendekat ke arahnya yang kewalahan menenangkan anak perempuan itu—sementara yang satunya malah tertunduk dalam dunianya sendiri

“Ini Kibum” unjuknya kepada anak perempuan yang tadi memberontak, “dan ini Henry—Henry Lau…” sebutnya merangkul dengan sebelah tangan anak perempuan satunya lagi

Aku mengangguk pelan—berusaha mengerti, “apa yang harus kulakukan Ibu?” tanyaku sopan

“Tolong bantu mereka untuk menyesuaikan di panti ini yah….” Pandangan lembut Ibu menyapu ke arah mereka berdua—anggota keluarga besar kami di sini, “antar Kibum dan Henry ke kamarnya masing masing, nanti kalau sudah selesai—kau balik kemari, ada yang harus kita bicarakan” perintahnya tegas namun tetap bernada halus

Lagi lagi aku mengangguk sebagai jawabannya, “mari ikut aku..”

Namun anak perempuan yang bernama Kim Kibum malah berteriak kencang—meronta ronta dalam genggaman tanganku, “aku tidak mau tinggal di sini!!! Umma pasti akan menjemputku!!! Jangan, aku mau pulang…hiks…” ia mulai menangis. Aku menatapnya kasihan—ini bukan pertama kalinya aku melihat anak baru menderita seperti Kibum. Mungkin dia anak kesekian yang tega di tinggalkan di depan panti sebelum di pungut oleh Ibu tinggal di dalam

Buru buru aku langsung memeluknya erat sambil mengelus kepalanya pelan, “jangan menangis—kami akan menjadi keluarga barumu, tenanglah…”aku terus mengeluarkan perkataan membujuk sehingga Kibum hanya mengangguk pasrah sebelum aku menggendongnya menuju kamar mereka

Sementara Henry….masih terdiam—melamun dalam dunianya sambil mengikutiku dari belakang

Ia tidak menangis….namun juga tidak berbicara sedikitpun….

 

___

 

“Kibum di tinggalkan oleh Ibunya—dia sudah seharian berada di depan gerbang, Ibu menduga dia memang berniat di buang” desah Ibu kepala mengitari kantornya yang kecil. Aku terus mendengarkannya secara seksama, “kalau Henry? Dia kan…..?”

Tatapan Ibu berubah murung. Ia menepuk pundakku selagi duduk di sebelah kursiku, “Ibunya hamil di luar nikah. Bahkan ketika lahir, sang Ibu memberinya nama asal asalan tanpa melihat jenis kelaminnya perempuan. Henry di titipkan dari saudara sepupu hingga pamannya. Tetapi mereka sendiri malu mempunyai keponakan hasil perbuatan haram. Henry sangat tertekan dan pendiam—dia langsung melarikan diri dari rumah saudaranya dan Ibu menemukannya ketika ia sedang mengemis di pinggir jalan”

Penjelasan Ibu membuat hatiku miris. Betapa banyak kisah yang tidak menyenangkan di antara setiap anak yang tinggal di panti asuhan.

Hanya satu hal persamaan di antara kami…

Kehadiran kami di dunia ini sama sama tidak di inginkan…

 

“Jadi..” suaraku masih terdengar tercekat, “Ibu mau aku melakukan apa?”

“Buat mereka kerasan dan membuka diri di panti ini—mengerti, kau kan anak paling besar di sini. Ibu pasti bisa mengandalkanmu” katanya membuat hatiku berbunga bunga. Segera aku mengangguk tegas lalu menjanjikan satu hal kepada Ibu angkatku ini, “aku akan membantu mereka sekuat tenaga”

“Bagus…Ibu bisa tenang kalau ada kamu Zhoumi” puji Ibu mencium keningku sambil memeluk tubuhku dengan penuh perasaan—layaknya Ibu kandungku sendiri…

 

*****

 

 

Namun ternyata cukup sulit untuk mendekati mereka berdua. Di satu sisi, Kibum begitu ekspresif—dia termasuk anak yang menjaga teritorialnya dan melarang siapapun yang berani mendekatinya. Sedangkan Henry? Aku menyerah! Dia bahkan tidak pernah mengucapkan sepatah katapun kepadaku dan anak anak panti yang lain. Henry hanya mau berbicara dengan Ibu saja. Aishh, bagaimana kalau mereka terus terusan begini! Ibu pasti kecewa padaku…

 

“Iya Pak—tetapi berikan saya keringanan sekali lagi, Bapak tahu kan saya harus mencari donatur, tapi pak—“ Ibu menatap gagang telepon dengan nanar. Ia terduduk di kursi pemilik yayasan sambil mengurut keningnya sendiri. Melihat itu, aku langsung masuk dan tanpa meminta ijin terlebih dahulu lalu memijit pundaknya dengan kuat

“Zhoumi…kau tidak bermain dengan anak yang lain?” tanya Ibu merasa lebih rileks menikmati pijatanku

“tidak Ibu—aku mau membantu saja di sini” elakku halus

Ibu hanya tersenyum lemah. Mata teduhnya menerawang jauh, “Ibu…tidak tahu panti ini akan bertahan berapa lama Zhoumi….keuangan kita semakin memburuk, Ibu takut—“ bisikannya terhenti ketika aku menyadari pundak kecilnya bergetar hebat

Ibu menangis dalam keheningan

“Ibu takut kalau rumah ini di sita oleh Bank dan kalian…..” ia menggelengkan kepala—berusaha menghalau bayangan mengerikan itu

Aku langsung melepaskan kedua tanganku dari balik bahunya sebelum berdiri tepat di depannya, “Tidak Ibu! Tenang saja—aku akan membantumu, aku tidak akan membiarkan panti ini di tutup, aku akan belajar lebih keras lagi dan aku akan…” suaraku menghilang dari balik isak tangisku. Ibu saja terharu mendengar segala janjiku yang masih berumur 14 tahun. Ia mengangguk setuju, “aku tahu—Zhoumi, kau selalu bisa kuandalkan…” bisiknya lembut sambil mencium dahiku

Ibu…lihat saja nanti…aku akan melakukan apa saja untuk mempertahankan panti ini—rumah keluarga besar kita…..

 

*****

 

“Apa yang kau lihat Henry?” pertanyaanku ternyata mengagetkannya. Henry yang tengah menikmati pemandangan langit di taman bermain—di samping rumah, tersentak lalu bergeser dari ayunan. Ia hendak pergi kalau saja aku tidak menahannya, “tidak apa apa, jangan takut, kau mengenalku bukan?” bujukku perlahan

Henry mengangguk ragu ragu

“Nah…duduk saja lagi, aku juga mau menikmati langit pada malam hari. Indah ya?” kataku mengajaknya berbincang. Tetapi sayang, ia hanya tersenyum kecil sambil mengulangi anggukannya. Tidak ada satu suarapun yang aku dengar dari bibirnya

Aku mengangkat bahu tidak perduli lalu menatap langit kembali—tak berapa lama, aku kembali mengeluarkan pendapatku, “aku paling suka melihat bintang….dia indah dan bersinar kuat dengan cahayanya sendiri……istimewa” ucapku tanpa sadar

“Kalau aku suka Luna”

EH?

Alunan suara lembut dan tenang membuyarkan konsentrasiku. Henry berbicara???. Aku mengarahkan pandanganku ke sebelah kemudian betapa terkejutnya mendapati senyum polos itu mengulas wajah Henry

“Ta..tadi kau bilang apa?” ulangku tidak percaya—aku ingin mendengar suara indah miliknya lagi

Senyum Henry masih terpampang jelas di sana, mulutnya membuka pelan sebelum berkata, “aku suka Luna”

“Luna?” tanyaku bodoh—dia punya teman bernama luna? Atau apa? Aishh—kenapa aku malah bingung sendiri

“hehehe, kau lucu Zhoumi” kata kedua yang di keluarkan Henry untukku. Untuk kesekian kalinya aku hanya bisa terperangah sambil menatap wajahnya yang lugu

Kenapa bisa ada orang yang memiliki suara seindah itu?

“Maaf” ucapku malu, “aku tidak tahu siapa itu Luna” aku menggaruk garuk kepalaku yang tidak gatal seraya mencuri pandang ke arahnya

Nampaknya Henry tidak terusik dengan sikapku yang kelewat bodoh. Ia memandangku sekilas sebelum menengadah ke atas—melihat lautan bintang pada malam hari, “Luna artinya Bulan….aku suka bulan…bulan memang tidak mempunyai cahayanya sendiri, tetapi dia memantulkan cahaya untuk bersinar dalam kegelapan, bukankah itu bagus? Dia mengorbankan dirinya sendiri hanya agar supaya aku, kamu, dan orang lain dapat saling melihat” terangnya panjang lebar

Aku saja hanya menganga mendengarnya. Setengah terpesona setengah kagum karena pengetahuan Henry yang luas meski bisa kutangkap ada arti sendiri dalam kalimatnya barusan

Pandangan mata Henry kembali kosong, “kalau tidak ada Bulan mungkin kita tidak bisa melihat bintang…”

“Kau benar..” gumamku bersingut mendekat ke arahnya—aku tersenyum lega karena ia tidak menolak kehadiranku lagi dan ketika Henry terus saja memandangi ‘lunanya’,  aku malah terus melihatnya—lekat lekat, “suaramu indah” celetukku tanpa sadar

Mendengar itu, Henry terkaget kaget sambil mengalihkan pandangannya dari atas langit. Tatapan kami beradu, ia menggeser duduknya untuk menjaga jarak, “maaf aku tidak bermaksud apa apa” kataku merasa bersalah

Henry menggeleng keras, ia hanya tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah—mungkin karena malu terhadapku, “ah tidak—kau tidak salah, hanya saja aku…” ia terdiam sejenak

“Sungguh, suaramu bagus” pujiku tanpa berlebihan, “apa kau bisa bernyanyi?” tanyaku perlahan

“Aku…” Henry berdiri dari bangku ayunan sebelum berpindah di depanku—masih menundukkan kepalanya. Ia berdeham sebentar lalu membuka mulut mungilnya

Bait demi bait lagu yang tidak aku ketahui judulnya, di nyanyikan oleh Henry…sungguh…aku tidak tahu jika di panti ini, kami memiliki penyanyi berbakat seperti dia…bagaimana bisa?

Tidak sampai lima menit aku hanya bisa menganga dan larut dalam nyanyiannya dan pada saat Henry selesai bernyanyi, tepuk tangan paling keras di sertai dengan kata pujianlah yang bisa kuberikan padanya

“Itu suara terindah yang pernah kudengar” kataku sambil ikut berdiri lalu mendekat ke arahnya

Henry tersipu malu, “terima kasih—kau orang pertama yang memujiku” katanya polos

“sungguh..aku…” lihat bukan? Aku sampai di buat tidak bisa berkata kata lagi. Gadis ini istimewa—dia menyimpan kelebihan yang mungkin tidak di miliki orang lain, “apa judul lagu tadi? Aku belum pernah mendengarnya” tanyaku penasaran

Lagi lagi Henry tertunduk sambil memainkan jari jari mungilnya secara bersamaan, “aku…itu aku juga yang mengarangnya…” cicitnya teramat pelan

Meski begitu aku bisa mendengarnya jelas, apa? Mengarangnya sendiri?, “kau pencipta lagu juga?” tanyaku entah berapa kali aku berhasil di buat terkejut oleh Henry

Anggukan malu malu Henry menjadi jawaban untukku

“Itu….aishh!!!” refleks aku menggenggam kedua tangannya—tidak memperdulikan reaksi takut takut Henry yang belum terbiasa dengan orang lain, “kita harus memberitahu Ibu!!! Kau harus belajar di sekolah musik ternama!! Iya, kau bisa menjadi penyanyi Henry!” kataku bersemangat sambil meremas tangannya dalam genggamanku

Kedua mata Henry melebar mendengar perkataanku. Namun tidak sampai beberapa detik, kedua bahunya terkulai lemas dan wajahnya berubah murung, “sekolah musik itu mahal, aku tidak mau merepotkan Ibu, Zhoumi. Mungkin lebih baik membantumu dan yang lain mengurus rumah ini—rumah kita” ucapnya bernada dewasa

“Tapi—?!”

“Sudahlah—aku sendiri tidak berpikir sejauh itu untuk menjadi penyanyi, aku….” Henry meliriku sesekali saat melihat tangan kami berdua masih saling berpegangan, “ah maaf—“ ucapku langsung melepaskan diri

Henry tersenyum kecil sebelum berbalik menuju pintu depan, “aku duluan Zhoumi, selamat malam” ucapnya membiarkanku sendirian di taman dengan perasaan berkecambuk

“malam” jawabku yang masih berdiri di tempat, “hmm mungkin besok aku harus berbicara dengan Ibu”

 

 

“Tidak!!! Aku tidak mau!!!”

“Henry, ini sudah menjadi keputusanku selaku pengurus panti asuhan ini, jadi kamu jangan membantah” kata Ibu dengan bijaksana dan berwibawa

Henry mengerang kecewa. Ia menatapku penuh amarah, “aku tahu!! Ibu mendengarkan ucapan Zhoumi bukan?? Tidak Ibu!! Aku tidak mau bersekolah dan tidak akan pernah keluar negeri!!! Jadi Ibu jangan memaksaku” tolak Henry sambil menyerahkan booklet pendaftaran ke atas meja Ibu

“Henry…” wajah penuh cinta Ibu berhasil menghentikan langkah Henry yang baru saja mau pergi dari ruangan ini, matanya terlihat sedih, “kau punya bakat—Zhoumi tidak memaksa Ibu sama sekali kok, dia hanya memberitahu betapa berharganya bakatmu—sayang kalau di sia siakan” ucap Ibu lembut sambil mengelus kepala Henry

“Tapi..” bibir Henry bergetar hebat, “sekolah itu mahal….belum lagi biaya hidup aku selama di Perancis nanti, aku tidak bodoh Ibu—kita sedang krisis keuangan bukan? Sudahlah, biarkan aku membantu Ibu dan Zhoumi di sini” jelas Henry tidak bisa menahan tangisnya lagi. Suaranya pecah dalam pelukan Ibu

“Dasar anak bodoh!” hardik Ibu pura pura marah, “itulah gunanya orangtua—Ibu akan berusaha sekuat tenaga Ibu untuk menyekolahkan kalian satu persatu, masalah keuangan—kalau kau benar benar mau membantu Ibu, belajarlah yang giat di sana, ada program beasiswa bagi siswa pandai seperti kamu, jadi..” Ibu semakin mempererat pelukannya, “buatlah Ibu bangga” katanya melepaskan pelukan Henry untuk mencium keningnya, “ibu sayang padamu”

“Aku juga…” Henry kembali memeluk Ibu, mencium pipinya lalu kembali menangis terharu, “aku juga sayang Ibu”

Aku hanya tersenyum bahagia melihat mereka berdua. Siapapun—orang awam yang menangkap pemandangan ini pasti tidak akan menyangka kalau Ibu dan Henry tidak memiliki hubungan darah sama sekali.

Aku juga terkadang bingung—kalau kau tinggal di panti asuhan, kau akan percaya betapa banyak bentuk cinta di dalam sini—bentuk cinta yang langka dan ajaib, yang mungkin akan kau kira mustahil terkecuali kau mengalaminya sendiri….

 

******

 

“Zhoumiiii, di mana mainanku??” Kibum berlari lari mengitariku yang sedang sibuk memasak di dapur. Dengan satu tangan aku mengaduk sayur untuk makan siang selagi menjawab pertanyaannya, “tanya sama Ryohee, dia yang terakhir meminjam bukan? Sudah jangan menggangguku” usirku masih berkonsentrasi memasak

“Ah Zhoumi jahat!! Aku mau mainanku!!” rajuk Kibum sambil menghentakkan kaki ke lantai, ampun deh nih anak—umurnya sama seperti Henry, tetapi tingkah lakunya jauh berbeda

“Bummie, cari saja—aku sedang sibuk” ujarku menahan kekesalan

“Ngga mau” tiba tiba ia menyeringai lebar. Secara cepat, kedua tangan Kibum memeluk pingganku lalu menggelitiku hingga aku tertawa kencang bercampur amarah, “Hahaha….Kibum!! jangan iseng!!” karena tidak tahan lagi, aku melepaskan spatula sebelum mengejar setan kecil itu yang sudah pergi entah kemana.

Akhirnya masakanku terlupakan saat aku menghabiskan waktu untuk membalas dendam kepada Kibum yang bersembunyi di taman belakang

 

Menjelang minggu kepergian Henry ke Perancis—sikapnya berubah drastis. Ia kembali menjaga jarak kalau kami berdua berada pada ruangan yang sama, bahkan aku sempat melihatnya berpura pura tidak mendengarkan ketika aku berseru memanggil namanya

Apa dia masih marah karena akulah yang memberitahu Ibu tentang keinginannya itu?

Entahlah….

 

“Zhoumi kau tidak ikut pergi mengantar Henry ke bandara?” tanya Ibu menyeringit heran sebab aku malah duduk duduk sambil menggendong Taeya, anak balita berumur 2 tahun—dia sudah mau tertidur ketika suara Ibu malah mengganggunya

“Tidak” jawabku mengalihkan pandangan dari tatapan aneh Henry, “kalau Ibu dan Kibum pergi terus aku ikut juga, siapa yang akan menjaga mereka semua?” kataku memberi alasan yang cukup masuk akal—aku kan kakak tertua di panti asuhan

“Ah iya juga, baiklah—jaga rumah, kami akan segera kembali” Ibu memandang Henry—ada senyum menggodanya karena melihat Henry masih menatapku terus menerus. Aishh, ada apa dengannya? Kemarin kemarin dia mengacuhkan aku, tapi sekarang? Seolah olah keabsenanku tidak mengantarnya adalah sebuah kesalahan besar

“Henry ayo” ajak Ibu menggandeng tangannya, Henry mendesah kecil, “baiklah Ibu”

Setelah memeluk satu persatu anak anak (terkecuali aku—Henry hanya menjabat tanganku saja) mereka bertiga langsung naik taksi menuju bandara Seoul. Aku melambai kencang bersama anak anak yang lain—mengantar mereka dari pintu gerbang

Henry pergi dan mungkin itu untuk jangka waktu yang lama…

Aishh, apa ini yang namanya kehilangan? Tetapi kenapa rasanya berbeda ketika aku di tinggalkan wanita yang melahirkanku dulu di tempat sampah?

Entahlah, lebih baik aku masuk ke rumah lalu membuatkan cemilan untuk semua adik adikku

“Ayo…kita semua masuk ke dalam…” perintahku masih menggendong taeya sambil menyuruh satu persatu mereka kembali ke rumah

“Da…Hen…ly…” gumam Taeya dengan tangan mungilnya menunjuk ke arah belakang, “ada apa Tae, kenapa kamu tidak tid—

“ZHOUMI!!!” teriakan dari balik punggungku terdengar keras—tidak heran aku berhenti menenangkan Taeya sebelum berpaling ke sumber suara

Henry—dengan nafas terengah engah, berlari kencang, semakin kencang karena melihatku masih menatap tercengang ke arahnya—bingung mau melakukan apa

Ia terhenti di depanku, mengatur deru nafasnya memburu. Aku menyerahkan Taeya ke dalam tangan Ryohee untuk menghampiri Henry, “kau kenapa kembali? Ada yang tertinggal?” tanyaku heran meski tidak dapat di pungkiri—aku pun senang melihat sosoknya masih berada di sini, di hadapanku

“Ada!” jawab Henry tegas, matanya menatap tajam ke arahku, “apa kau benar benar tidak memiliki perasaan apapun dengan Kibum?”

EH?

“Bummie?” ulangku tidak percaya, “dia dongsaengku! Apa sih yang kau bicarakan? Kau aneh sekali Henry! Pertama tama kau menjauhiku selama seminggu ini, aku kira kau masih marah karena pengaduanku kepada Ibu lalu kau mendadak melirikku seolah olah aku akan merasa bersalah jika tidak mengantarmu ke bandara lalu sekarang kau—“

Penjelasanku belum selesai—ah bukan, mungkin tidak akan selesai karena tiba tiba Henry memeluk tubuhku dengan erat

Aku benar benar membeku sekarang

“Aku tidak marah kau mengadu kepada Ibu, tetapi….aku kesal melihat hubunganmu dengan Kibum—kalian terlalu dekat sementara aku baru sekali berbicara denganmu, tetapi setiap kali aku ingin memulainya kau pasti sibuk dengan Bummie….apalagi tadi kau tidak mau mengantarku jadi aku berpikir…” Henry menyembunyikan wajahnya di bahuku. Entah ada kekuatan dari mana sehingga aku malah membalas pelukannya lalu mengelus rambut cokelatnya yang sedikit pirang—secara lembut

“dan waktu di dalam taksi, Kibum baru menceritakan semuanya—ia memprotes karena gara gara aku, kau jadi murung seminggu ini. Bummie memarahiku kau tahu” sambung Henry pelan membuatku geli karena suaranya menyapu kulitku sekaligus senang mendengar penjelasannya yang polos

“Aku tidak punya perasaan apapun dengan Kibum—dia adikku” gumamku menenangkannya, “dan benar…aku memang sedih sewaktu kau mengacuhkanku, aku—“

“Ssst” Henry mengangkat kepalanya untuk menatapku lebih dekat, “waktuku tidak banyak—Ibu dan Kibum sudah menungguku di ujung jalan sana, aku hanya ingin tahu sesuatu….apakah nanti kalau aku kembali….aku—“ wajah Henry nampak ketakutan, ia bahkan tidak sanggung menyelesaikan kalimatnya sendiri

Aku hanya tersenyum sambil melepaskan kedua tangannya dari tubuhku, “aku akan menunggumu di sini—di rumah kita” jawabku tegas

Henry sedikit lega mendengarnya, “janji?” tanyanya mengangkat jari kelingking ke arahku, aku tersenyum kecil sebelum mengaitkan jari kelingkingku sendiri ke tangannya, “aku berjanji”

“Baiklah…” sepertinya Henry juga enggan pergi dari sini. Tetapi ada mimpi yang harus dia kejar—Henry memelukku sekali lagi, melambai penuh semangat ke arah anak anak lainnya sebelum kembali berlari—berlari dalam kecepatan penuh dan tentunya dengan perasaan aneh yang membekas pada diri kami sekarang—apakah mungkin ini yang namanya cinta?

 

 

 

*Now*

 “Lihat Siwon!!! dia saudaraku loh!!!” pekik Kibum menyampirkan majalah musik ke ruang tamu di mana Siwon—kekasihnya sedang bermain dengan anak anak lain. Ia tetap tinggal sampai makan siang nanti

“Wow—aku dan Appa pernah bertemu dengannya waktu kami berlibur ke California loh—dia manis sekali, ah tidak Bummie—aku hanya mengaguminya saja kok” tambah Siwon cepat cepat karena Kibum meliriknya tajam

“Kenapa semua lelaki suka kepadanya? Termasuk salah seorang di sini nih” sindir Kibum yang pastinya di tujukan kepadaku—sementara aku hanya bisa tertawa lebar, “mungkin saja dia sudah memiliki kekasih sekarang Bummie….mana mungkin dia ingat denganku—Henry sudah menjadi bintang besar sekarang” jelasku ikut bergabung di ruang tamu setelah membuatkan teh hangat untuk Siwon

“Ah! Iya! sepertinya dia sudah punya pacar!”

Aku yang tadinya hanya bercanda, sontak menatap Siwon terkejut, “Henry….sudah punya…?” suaraku menghilang dan ada sebuah ruang hampa yang tertusuk di dalam tubuhku

Siwon yang tidak mengindahkan tatapan mengerikan dari Kibum—terus melanjutkan ceritanya, “kau tahu Henry sering sekali di dekati oleh macam macam pria, dia kan penyanyi terkenal, hehehe—dan setiap kali, di tanya, dia pasti menjawab, ‘maaf aku sudah punya Luna..’ begitu—makanya aku jadi bingung, apa dia penyuka sesama jenis?” kata Siwon balik bertanya

“HA??” suaraku dan Kibum saling tumpang tindih. Kami melirik satu sama lain sebelum akhirnya tertawa kencang, “hahaha dasar mochi!!! Hahahaha” kelakar Kibum masih terus tertawa sedangkan aku mengelus dada—penuh rasa bersyukur karena tadinya aku mengira akan mendengar sebuah nama pria mana yang berhasil merebut hati Henry

“memangnya kenapa?” desak Siwon masih tidak mengerti

Aku mengulum senyum simpul, “tidak—Henry berkata begitu karena dia sangat menyukai bulan—Luna kan juga berarti bulan”

“Oh—“ Siwon manggut manggut, “tapi kenapa dia malah menyebutkan bulan? Aku heran, kau tahu kan sewaktu Henry mengeluarkan album pertamanya—dia juga menamainya My Luna—aish, pantas saja publik suka salah paham”

“tidak mungkin Siwon” ucap Kibum akhirnya bisa berhenti tertawa juga, “Henry hanya mencintai Zhoumi…bukan lelaki lain, yah paling dia hanya maniak bulan saja”

Mencintai? Setelah sekian lama?

“Aku tidak yakin” elakku hendak menghindari topik terlarang ini, “itu 7 tahun yang lalu Bummie, kalian baru berumur 14 tahun—mungkin saja aku hanya cinta monyetnya Henry saja” jelasku sambil pura pura sibuk lalu bangkit berdiri untuk pergi ke dapur

Memang selama ini, setiap ada kesempatan Henry pasti menulis surat kepadaku, menelepon jika tidak ada jadwal padatnya dan dia bahkan datang ketika pemakaman Ibu 3 tahun yang lalu. Yah….tetapi…aku masih ragu….apa benar rasa itu masih ada….7 tahun bukan waktu yang sebentar…

Henry pasti sudah melihat dunia—banyak pria tampan di luar sana yang berlomba untuk mendapatkannya dan itu pastinya bukan aku—lelaki yang sehari hari sibuk memasak, mengganti popok, mengantar sekolah adik adik asuh kami satu persatu lalu mengelola panti asuhan yang di wariskan kepadaku

Tidak…itu bukan aku….

“aishh—memikirkannya saja sudah sedih, hmm lebih baik aku sekarang membuang sampah” kuangkat dua bungkus plastik besar dari samping pintu dapur kemudian membawanya dengan tergopoh gopoh ke tempat sampah di luar gerbang panti.

Aku sedang sibuk memindahkan satu plastik ke tempat lain ketika sebuah suara halus yang ku kenal baik menyapaku begitu dekat..

“Zhoumi….”

Spontan aku melepaskan tanganku dari tong sampah, membalikkan tubuh dengan segera dan di situlah dia berdiri…rambut pendeknya berubah pirang dan tubuhnya sedikit meninggi meskipun tidak setinggi diriku atau Kibum. Nampak wajah polosnya yang kukenal baik—aku bersyukur ada sebagian dari dirinya yang tidak hilang hingga sekarang

“Henry….” Bisikku terperangah. Seolah olah, waktu tidak pernah berlalu—aku pun masih bertindak bodoh di depannya. Ku usap kedua tanganku yang kotor ke belakang celana agar bisa bersalaman dengan Henry, “maaf tanganku bau sampah” ucapku salah tingkah

“hehehee—kau tidak berubah” kata Henry mendekatkan langkahnya ke arahku, “boleh aku memelukmu?” tanyanya berterus terang

Jelas saja aku semakin gugup—ya Tuhan, aku sudah berumur 24 tahun tetapi kenapa masih bersikap setolol ini! Dia kan hanya meminta memelukmu—Henry juga dongsaengmu, Zhoumi jadi jangan besar kepala dulu!

“boleh” ujarku sedikit kaku namun Henry mengacuhkannya—ia memelukku lama, erat dan hangat. Andai aku bisa membalas pelukannya juga…

“Zhoumi kau tidak ingin memelukku” kata Henry seolah olah bisa membaca pikiranku, “ah—tanganku kotor dan bau, bisa bisa bajumu terkena virus lagi” candaku berusaha membuat segalanya menjadi mudah

“tidak apa apa—aku tidak peduli” Henry akhirnya melepaskan tangannya—membuatku lega sejenak sebelum meraih kedua tanganku dalam genggamannya, Hei! Dia tidak dengar perkataanku barusan?

“tanganku kotor—kau kan artis jadi—“ Ucapanku terhenti ketika mendapati lirikan menusuk dari kedua mata Henry—aneh, dia nampak terluka mendengar itu

“Kau kenapa Zhoumi, sepertinya tidak senang dengan kedatanganku! Aku sudah kabur dari Perancis hanya untuk datang ke sini, tetapi kau malah bersikap gugup lalu memperlakukan aku seperti orang lain!!” tuntut Henry menggeram marah

Aku tersentak sejenak, Henry kabur?

“Buat apa kau kabur?” tanyaku menyimpang dari pembicaraan kami

“Karena…” Henry tertunduk malu sambil memasang wajah cemberut, “Kibum bilang kau sedang dekat dengan seorang gadis—dan kau berniat menikah dalam waktu dekat—aku kalut, makanya aku langsung terbang ke sini!!”

 Belum selesai aku mencerna semua perkataannya, Henry berbalik kembali menatapku kesal, “kau kan sudah berjanji padaku akan menungguku di sini!! Kenapa tidak sabaran sekali sih!! tunggu 2 tahun lagi, aku pasti akan menetap di panti asuhan setelah kontrakku berakhir, ya?” pintanya memelas masih menggenggam kedua tanganku yang kotor dan bau sampah, “setelah itu, kau bisa menikahiku! Ayolah Zhoumi—kapan lagi kau bisa punya calon istri artis…ya ya?”

Aku tidak tahan lagi. Tawaku kembali pecah sama seperti kejadian Siwon beberapa menit yang lalu meski karena alasan yang berbeda

“Hahahahahha, kau lucu Henry ahahhhahahhahaa”

Ternyata tawaku malah membuat sikap Henry semakin marah. Ia menepis kedua tanganku lalu berjalan menjauh, “memangnya apa yang lucu Zhoumi? Sudah ratusan kali aku menolak lelaki lain karena mengingatmu menungguku di Korea, eh sekarang kau malah menertawaiku dan memilih gadis lain untuk menjadi istrimu, ya sudah silahkan saja tuan Lee” ejeknya pelan—aku menangkap ada sekelebat rasa cemburu dalam suara indah Henry, dia bisa cemburu? Terhadapku?

Ah…kenapa aku bisa begitu bodoh!

Dengan mudah, aku menangkap tubuh Henry yang segera pergi menjauh—tidak, untuk kali ini aku tidak akan membiarkannya pergi lagi, “maaf…tetapi aku rasa Kibum hanya mengerjaimu saja, aku tidak dekat dengan gadis lain” kataku sambil membalikkan tubuh mungilnya agar menatapku langsung

Aku tersentak melihat wajah polosnya bersemu merah, “benar? Kau tidak bohong?” ulangnya masih merajuk

“tentu saja tidak” candaku ringan, “mana ada gadis yang mau dengan lelaki sepertiku, sibuk mengurusi panti asuhan, hahaha—aku malah menduga kau sudah lupa dengan janji waktu itu” kenapa sekarang aku malah tertunduk malu seolah olah aku masih remaja saja, pasti Henry menganggapku aneh

 

Henry memiringkan wajahnya—ia tersenyum, senyuman yang masih berdampak kuat terhadapku hingga sekarang, “kata siapa? aku tidak akan melepasmu Zhoumi! Susah mencari calon suami yang mengerti anak anak dan lihai mengelola keuangan” katanya mengodaku

“Hahaha….iya…tapi…” aku memainkan kedua jemari jemariku yang kasar, “hidupku sederhana, Henry—tidak sebagus hidupmu….apa kau yakin mau melepaskan semuanya dan kembali padaku di sini? Di panti asuhan?” tanyaku langsung ke pokok permasalahan—aku tidak mau ia menyesal belakangan karena terpaksa menepati janji kuno kami dulu

Sempat aku melihat ada rasa marah yang terkuar jelas dari raut muka Henry namun ia hanya menggeleng sejenak sebelum kembali mendekatiku, “kau sendiri melepaskan semuanya bukan? Kau rela bekerja keras agar panti tetap di buka padahal kau masih kuliah semester terakhir? Kau menghabiskan waktu mengurus anak anak yatim piatu sama seperti kau mengurusku dan Kibum dulu?” pertanyaan yang restoris membuatku tidak bisa berkata kata lagi

“Henry ini keluargaku….aku melakukan ini untuk membalas budi Ibu yang pernah memungutku….”

“aku tahu…” tatapan Henry melembut, “kau mengobarkan kebahagiaanmu demi orang lain—kau sama seperti bulan….kau adalah Luna-ku….” Kedua tangan mungilnya menyentuh wajahku, aku terdiam—hanya bisa diam sambil membiarkannya terus menelusuri pipiku yang mulai menghangat

Dan kali ini aku tidak menahan diri, ku rengkuh tubuh Henry, memeluknya erat erat, mencoba memasukkan perasaanku selama 7 tahun ini

Perasaan bahwa kau mencintainya, hanya mencintainya

“Kau sangat suka Luna ya?” bisikku di dekat telinganya, Henry hanya mengangguk samar dari balik leherku, “suka—tidak…aku mencintainya….dan sekarang aku memilikinya juga” ujarnya penuh arti

Mendengar itu aku mempererat pelukanku, tidak peduli sekalipun Henry merasa sesak nafas, “aku juga….aku juga mencintaimu….”

 

Kami terus berpelukan sampai aku merasa lelah merunduk sehingga aku mengangkat tubuh mungilnya, membiarkan Henry menahan berat dengan memeluk erat leherku. Aku hendak menggendongnya masuk ke dalam rumah ketika sebuah suara mengganggu momen kami

“Ehem! Kapan nih nikahnya?” celetuk Kibum sok polos—tidak merasa berdosa sudah mengerjai Henry, sementara Siwon menggeleng kecil, “ternyata selama ini aku satu kampus dengan calon suami penyanyi terkenal, ck ck—harus minta tanda tangan Zhoumi juga nih” Aissh, kenapa sekarang mereka berdua jadi duo jail begini?

“Bummie—sana bawa anak anak masuk ke dalam” balasku belum melepaskan Henry dalam pelukanku, “aku bahkan belum sempat mencium calon mempelaiku”

“Eh?” Henry melepaskan tangannya dari leherku sebelum meronta meminta turun, “tidak tidak! Besok aku ada acara manggung!! Pokoknya kau tidak boleh menciumku sekarang Zhoumi” tolak Henry seolah olah aku hendak memperkosanya—apa aku salah lagi? bukankah Kibum dan Siwon juga pernah berciuman?

“kenapa tidak boleh?” tanyaku cemberut—tidak menghiraukan gelak tawa dari pasangan Sibum di depan teras rumah

“Karena…” kedua mata Henry bergerak gelisah. Belum satu katapun ia jelaskan saat Kibum berteriak sekencang kencang ke arah kami berdua, “Aku tahu Zhoumi!! Henry pasti bisa tidak tidur dua malam kalau kau menciumnya hari ini!!! haahahaha!! Dia kan belum pernah berciuman sama sekali”

Penjelasan Kibum sepertinya tepat, karena wajah Henry mendadak merah merona hingga ke leher sebelum akhirnya ia jelas jelas tidak membalas tatapanku dan malah menghampiri Kibum di dalam rumah, “Awas kau Bummie!!! Cukup saja kau mengerjaiku terus!!!”

Sama seperti 7 tahun yang lalu. Kibum berlari kencang menghindari Henry yang terus memburunya kesal seraya di temani dengan suara menyemangati dari Siwon dan anak anak yang lain

Sementara aku hanya menggeleng lemah kemudian memutuskan untuk menghentikan pertengkaran mereka sebelum malam tiba

 

Inilah kisahku—kisah sedih yang berujung manis

Bagaimana dengan kisahmu?

 

THE END

21 responses to “≈Of Course I Love U-Special Part-{Zhoury}≈

  1. kkkkyyyyaaaa
    aku ska zhoury couple!!!
    ckckckck
    gx nyangka ternyata kibum yang dingin bgt bisa sjahil itu!
    sumpah jalan crita zhoury couple paling romantis d banding couple yg lain!

  2. Daebak…onn, mimi ama mochi setia bgt..cinta sejati,my luna ternyata mimi toh..uwah mochi romantis bgt..rela melepaskan dunia artis nya demi sama2 ama mimi..daebak2..

  3. oh, ternyata Luna tu artinya bulan ya?

    paragraf prolog nya menyayat hati.. ;-(

    keren eonni….

    keep writting😉

  4. wuaaahhhhhhh Eonnie , neomu neomu Gamsahamnida OCILU ZhouRy di adain ,
    qu Seneng Banget😀

    tuh kan terbukti, eonnie mang author berbakat , waktu pas minta ZhouRy dulu eonnie bilang berat , tapi Lihat ! tetep aja FF eonnie Is The Best ,
    Ceritanya Romantis & Bagus bngt eonn ..

    ohh aku baru tau Luna itu artinya bulan .. hhe

  5. Waaaaw co cweet >///<
    *pukul2 mesra mimi+mochi(?)*
    jd luna ntu artinya bulan toh #brutau -__-
    sibum eksis ye,tp q suka :3
    uda ntu aja comment q..Mau lanjut comment ff yg lain dulu ._.v

  6. Ini benar2 kisah manisss!! ZhuoRy!! YEY!! No Other like you kak sebas ^^
    like it very much =D
    Yeyeyyyy Ini bener2 kerennn!!

  7. AAAAAAHHHHHHHHHH ZHOURYYYYY ~
    yaampun kak ini gua udah baca dari zaman kapan baru sempet komen , maap bangeetttt *sujud*

    SETDAH KEREN GILAAAA , yaampun..
    favorit gua dah pokoknya yg sibum ama zhoury .

    makasih banyak banyak banyak lo udh bersedia mengabulkan request reader gatau diri macem gua ,
    *nangis haru*

    fighting ye kak . all the best for youu *hug and kisses*

  8. annyeong q reader baru… ^^

    “Luna artinya Bulan….aku suka bulan…bulan memang tidak mempunyai cahayanya sendiri, tetapi dia memantulkan cahaya untuk bersinar dalam kegelapan, bukankah itu bagus? Dia mengorbankan dirinya sendiri hanya agar supaya aku, kamu, dan orang lain dapat saling melihat”

    knp q rasa.a Bulan itu spt SuJu y??
    mrk rela bekerja keras untuk ELF

    ff.a keren….🙂

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s