≈Of Course I Love U-{Kyumin}≈ Part 2

Ketika kau merasa sendiri, merasa tidak ada seorang pun yang perduli kepadamu. Ingatlah kau masih punya dua orang yang menantimu setiap saat

Dua orang yang menjagamu seumur hidup—mencintaimu layaknya harta paling berharga di dunia ini

Mereka bisa di sebut malaikat karena memiliki kasih yang tiada duanya. Rasa maaf tidak terputus untuk kita walaupun terkadang kita pun tidak pantas menerimanya

Tuhan mengirimnya kepada kita, menaruhnya di sisi kanan kiri kita. Membuat kita tersenyum, menangis dan marah dalam waktu bersamaan

Mereka adalah orangtua kita

Kita di hubungkan bukan hanya karena hubungan darah…..tetapi ikatan sejak lahir di mana membuat kita layak bersyukur memiliki mereka di dunia ini


=Of Course I Love u, Mom and Dad=

This fan fiction for all mom and Dad in the world….please give us your BIG LOVE…..

~0~

 

Rumah Kyuhyun

Seharian penuh Kungwoon menelepon semua nomor yang tertera pada buku siswa milik Kyuhyun sementara Saerim terpaksa mencari tahu ke semua teman teman dekat rumah—mungkin salah satu dari mereka tahu di mana keberadaan Kyuhyun sekarang

Tetapi nihil

Mereka berdua tidak berhasil menemukan di mana Kyuhyun sekarang

“Kyu….” Saerim sudah menangis dari tadi siang. Ia terduduk lemah sambil menundukkan kepala merasa amat khawatir mengingat hari semakin malam sedangkan Kyuhyun masih saja menghilang, “Ya Tuhan….bagaimana kalau dia kenapa kenapa….Kyuhyun…..kamu di mana….” Gumam Saerim berkali kali. Kedua tangannya melipat erat di dada lalu berdoa dalam hati sambil tidak henti hentinya berdiri di depan pintu menunggu kepulangan seseorang meskipun harapannya semakin tipis

Kungwoon ikut menyerah. Ia mendekati Saerim, mendekapnya halus dengan sebelah tangan, “tenang saja, mungkin dia pergi untuk menenangkan diri” hiburnya percuma karena Saerim masih terus menangis—seolah olah tidak mendengarkan Kungwoon di sampingnya dan malah terus melihat ke arah jalan di depan rumah mereka

Saerim merunduk sekali lagi. Ia menangis dan terus merutuki diri karena tanpa ia sadari ternyata selama ini Kyuhyun menderita karena keberadaannya di rumah ini. Mendadak tubuh Saerim menegang. Tanpa basa basi, ia melepaskan tangan suaminya dari bahunya yang kurus agar mereka bisa saling berhadap-hadapan

“Kungwoon…” bisiknya dengan wajah sembab—malah sekarang Saerim masih terus menangis sambil menggigit bibir kuat kuat, “bagaimana kalau kita bercerai saja?” kata Saerim lemah dan rapuh

Jelas saja Kungwoon terperangah lalu mendelik tidak percaya ke arah istrinya itu, “Kau?? Jangan bercanda! Apa ini karena?” kedua matanya membulat ketika melihat Saerim tidak main main dengan keputusannya, “Kyuhyun…..kau? aishh—dia akan pulang, Saerim…tenang saja” bujuk Kungwoon yang tambah pusing karena masa lalunya malah berdampak besar dengan kehidupannya sekarang

“Bukan begitu Kungwoon” elak Saerim terisak pelan, “aku…..aku membuatnya menderita—dia tidak menginginkan aku…aku sudah mencoba segalanya, tapi lihat! Kita menyakitinya, Kungwoon…..”

Kungwoon mengulurkan tangan untuk memeluk Saerim, “tidak, mungkin beberapa tahun lagi Kyuhyun akan—“

“tidak!” kali ini suara Saerim meninggi, “kita tidak boleh egois….mungkin kalau aku pergi Kyuhyun akan pulang dan bisa ceria seperti sedia kala….” Ucapnya pelan sambil berbalik memandang kejauhan, “kau tidak lihat, dia tidak punya teman dekat sama sekali….dia tertutup semenjak aku memberitahunya tentang Hyera, aku—“

“Apa kau tidak memikirkan perasaanku!” Kungwoon kembali meminta perhatian Saerim dengan menyuruhnya mendongak—menatap saling bergantian, “aku mencintaimu Saerim…” bisiknya kecil

Saerim tersenyum lebar namun dengan halus ia melepaskan kedua tangan Kungwoon dari wajahnya, “kau tahu aku juga mencintaimu, tapi aku juga mencintai Kyuhyun—dia anak kita”

“Lalu?” Kungwoon menggeleng bingung

“Ceraikan aku” pinta Saerim dengan hati hancur tetapi ia harus kuat. Ini pilihannya—jika ingin melihat Kyuhyun bisa kembali seperti pulang ke rumah tanpa harus menderita karena melihat Saerim setiap hari

Kungwoon mematung di tempat. Langkah lunglainya mundur beberapa langkah sebelum menggunakan dinding sebagai tempat bersandar, “Kau lebih memilih Kyuhyun? Ketimbang aku?” lirihnya tidak percaya

“Hiks” Saerim menutup mulutnya agar tidak menangis lebih kencang, “dia anakku Kungwoon…semua Ibu akan melakukan hal yang sama jika menyangkut kebahagiaan anaknya”

“Tapi dia tidak benar benar anakmu” sanggah Kungwoon tidak tahan lagi, “selama ini kau memang memperlakukan seperti anak kandungmu, tapi lihat apa yang terjadi? Dia  malah membencimu…”

Dengan dagu terangkat, Saerim menatap tajam Kungwoon—masih terlihat jelas jejak air mata di wajah cantiknya, “aku tidak peduli, dia anakku dan itu tidak pernah berubah… memang bukan aku yang melahirkannya, tapi ketika Hyera menyerahkannya ke tanganku sebelum dia meninggal lalu memintaku agar menganggapnya anakku sendiri mulai itulah dia menjadi anakku” kata Saerim sambil meletakkan tangannya ke dalam dada. Rasa rasanya baru kemarin, ia menimang bayi lelaki Kyuhyun dan mungkin sekarang saatnya Saerim menyerah

Bukan menyerah untuk mencintai Kyuhyun, tetapi menyerah karena ia terlalu mencintai Kyuhyun

Keesokkan harinya

“Pokoknya kita tidak boleh bolos lagi!!” bentak Sungmin pagi pagi sekali. Sebelum pergi mandi, ia membangunkan Kyuhyun sambil melipat selimut untuk di taruh di dalam kamar.

“Ng….ini baru jam—“ Kyuhyun memicingkan mata ke arah jam tangannya, “ya Tuhan, masih jam 6 pagi Sungmin….lagipula sekolah kita kan dekat, hanya beberapa meter dari sini”

“terserah…ini rumahku Cho Kyuhyun, kau harus mengikuti peraturanku kalau begitu” dengus Sungmin ketika pergi ke kamar mandi sedangkan Kyuhyun mendelik tidak peduli lalu melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda

Selang 15 menit Sungmin keluar dari kamar mandi dan bergegas mengganti seragam, Kyuhyun malah masih tertidur nyenyak, “Ya! Kyuhyun!! Bangun!!! Aku tidak mau terlambat kali ini!” teriakan keras dari mulut Sungmin berhasil mengagetkan Kyuhyun. Ia langsung terduduk dari posisinya yang berbaring lalu mengerjapkan mata lebar lebar, “aku mengerti Bu” sindirnya sambil beranjak bangkit dari sofa kemudian menyeret langkahnya ke arah kamar mandi

“Ck…dasar…menyusahkan saja” sambil menggerutu Sungmin berjalan ke dalam dapur untuk membuatkan sarapan bagi mereka berdua. Walaupun suka berkata ketus, tetapi Sungmin tidak tega membiarkan Kyuhyun pergi sekolah dengan keadaan kelaparan—berbeda seperti dirinya di mana sudah terbiasa tidak makan setiap paginya

Sungmin sudah siap dengan dua mangkuk ramen ketika Kyuhyun sudah selesai membersihkan diri meski ia terpaksa memakai baju yang sama selama dua hari berturut turut

“Ramen lagi?” celetuk Kyuhyun agak meremehkan saat menghampiri Sungmin di meja makan

Sungmin membalas tatapan Kyuhyun dengan sengit, “kau jangan banyak bicara, coba saja dulu!” balasnya sambil memberikan sesendok kuah ramen ke arah Kyuhyun di mana Kyuhyun menjulurkan kepala, menarik tangan Sungmin lalu menyuapi sendiri ke mulutnya. Lidah Kyuhyun berdecak sesekali, “enak” katanya tidak percaya

“Pasti enaklah” ucap Sungmin menyeringai lebar, “kan makanan instan, ini untukmu” ia menyerahkan salah satu mangkuk ke arah Kyuhyun sebelum menyantap miliknya sendiri di kursi sebelah.

Lagi lagi mereka dalam diam. Tidak butuh waktu lama. Udara yang semakin dingin membuat Kyuhyun dan Sungmin menandaskan sarapan mereka hanya dalam hitungan menit saja. Malahan Kyuhyun sempat menyesap seluruh kuah sebelum memberikan mangkuk kotornya kepada Sungmin

“Aku mengaku salah” kata Kyuhyun sambil menyeka bibirnya, “ramen-mu memang enak sekali” pujinya jujur

“memang” balas Sungmin setuju, “nah sekarang sebaiknya kau rapikan tasmu di sofa—kita harus pergi sekarang”

“Ok” sementara Sungmin membereskan dapur, Kyuhyun kembali ke ruang tamu membereskan dompet dan telepon genggam yang berserakan di atas meja ke dalam tas kemudian ia menunggu Sungmin di depan pintu rumah

Mereka berdua keluar bersama sama—melangkah ke arah jalan besar yang melewati gedung sekolah mereka

Selama perjalanan, Kyuhyun dan Sungmin hanya bisa membisu. Tidak tahu harus mengatakan apapun. Mereka mendadak canggung dan menjaga jarak jika mengingat kejadian kemarin malam.

“Sungmin” ucap Kyuhyun ketika tiba di depan gerbang sekolah

“ya?” jawab Sungmin gugup karena beberapa murid lainnya mulai menaruh pandangan ingin tahu ke arahnya dan Kyuhyun—maklum saja, tidak biasanya Sungmin bisa akrab dengan murid lain kecuali Eunhyuk, itupun hanya dalam perpustakaan

Kyuhyun tersenyum kaku, “bagaimanapun aku harus berterimakasih kepadamu tentang kemarin….terima kasih” tuturnya tulus

“Ah…ya” jawab Sungmin lambat lambat

“Bagus….” Kyuhyun memutar kepalanya ke kiri di mana kelasnya berada, “aku masuk ke kelas duluan” katanya sambil menunjuk dengan tangan kiri

Sungmin mengangguk paham, “baiklah, aku juga mau langsung masuk kelas”

Mereka berdua terdiam sejenak, sebelum akhirnya Kyuhyun menghela nafas dan mengangguk sejenak sebelum berbalik memunggungi Sungmin lalu pergi dari sana. Sementara Sungmin merundukkan kepala, mengikuti langkah Kyuhyun walaupun dari arah sebaliknya

Mereka berpisah jalan dan bersikap seolah tidak terjadi apa apa

Sepanjang hari di sekolah Sungmin masih melakukan kegiatannya seperti biasa. Berjalan ke arah perpustakaan setiap jam istirahat tiba. Duduk di pojok kanan dinding perpustakaan yang di lapisi kaca transparan sambil membaca buku kesukaannya. Sementara di sisi lain, Kyuhyun membeli beberapa roti makan siang, membungkusnya bersama dengan sebotol minuman jus lalu berjalan melewati taman belakang tepat di depan perpustakaan

Di sana Sungmin yang sedang membaca buku tanpa sengaja melihat sosok Kyuhyun yang memakan roti bulat bulat dengan mulutnya. Senyum tipis Sungmin terukir lebar, pandangannya teralihkan sekarang. Ia hanya memeluk buku besar itu sambil terus menonton Kyuhyun tanpa di sadari langsung oleh orangnya

Sungmin bahkan terkikik perlahan karena Kyuhyun ternyata tersedak dan buru buru dengan satu tangan membuka botol minumannya. Saat itulah kedua mata Kyuhyun menangkap sosok orang yang menertawainya dari jauh. Ia melebarkan mata dan melayangkan pandangan kesal ke arah Sungmin sementara Sungmin yang agak malu tertangkap basah hanya mengangkat bahu sambil kembali menyeringai lebar ke arah Kyuhyun

‘B O D O H’ eja Sungmin menggunakan mulutnya seraya menunjuk ke arah Kyuhyun

‘A k u?’ unjuk Kyuhyun ketika menyadari apa kata yang baru saja Sungmin ucapkan. Dirinya mendengus kesal, ia melirik ke kanan kiri berusaha memastikan tidak ada orang lain lalu berjalan cepat menuju ke kaca perpustakaan di mana Sungmin sedang duduk di pinggirannya, ‘K a u   s e d a n g   a p a?’ tanya Kyuhyun menggunakan gerakan mulutnya sambil berjongkok—mensejajarkan tubuhnya dengan Sungmin yang berada di dalam perpustakaan

Sungmin tersenyum sekilas ketika mengangkat sebuah buku yang ada dalam dekapannya

Kyuhyun mengangguk angguk mengerti. Tiba tiba ia melirik penuh arti ke arah Sungmin dan berbalik ke arah plastik makanan yang di bawanya dari tadi, ‘K a u  m a u   m a k a n?  a k u  b e l i   r o t I   d i   k a n t i n’ tawar Kyuhyun perlahan masih menggunakan bahasa isyarat

Sungmin terdiam sejenak, tak lama ia kembali tersenyum sambil mengangguk setuju. Melihat itu, Kyuhyun membalas senyum Sungmin sebelum bangkit berdiri. Ia menunjuk ke arah depan lalu ke arah Sungmin secara bersamaan. Kyuhyun bermaksud memberi tahu, jika ia akan menunggu di depan pintu masuk perpustakaan

Lagi lagi Sungmin mengangguk. Ia buru buru menaruh buku kesukaannya ke rak rak di belakang—tempat ia bersandar barusan untuk pergi menemui Kyuhyun. Dengan langkah agak cepat, Sungmin terus melesak melewati beberapa rak buku sebelum berhasil keluar dari tempat itu

“Hai” sapa Kyuhyun sambil memainkan kantong plastik di tangannya, “aku masih punya roti, kau mau satu?” tawarnya saat melempar satu bungkusan dari dalam plastik ke arah Sungmin yang menangkapnya cepat, “terima kasih” jawab Sungmin lebih ramah dari sebelumnya

“sama sama” ujar Kyuhyun ketika mereka berjalan tidak tentu arah dalam koridor sekolah, “kenapa seharian ini kau banyak tersenyum? Aneh” sindir Kyuhyun ikut mengunyah roti bagiannya lagi

“Karena…” Sungmin memotong bagian kecil kecil rotinya sebelum menyuapnya satu persatu, “kau lucu! Mana ada orang memakan satu buah roti bulat bulat ke dalam mulutnya, hahaha—pantas saja kau tersedak”

“ha ha ha lucu sekali Lee Sungmin” kata Kyuhyun menirukan nada suara Sungmin kemarin, ia melayangkan isyarat agar mereka duduk di salah satu bangku taman selagi istirahat. Sungmin mengangguk lalu mengikuti langkah Kyuhyun

“Kau nanti pulang sekolah langsung ke tempat Kangin-shi?” tanya Kyuhyun sambil lalu

“Iya—kita kan selalu begitu, memang kenapa?”

Kyuhyun berhenti mengunyah. Ia meletakkan makan siangnya di atas meja untuk mengambil botol minuman dari dalam plastik, “tidak—aku hanya ingin mengajakmu pergi kesana bareng nanti” katanya lugas

Mendengar itu Sungmin hampir saja tersedak roti sama seperti Kyuhyun barusan. Ada angin apa, seorang Kyuhyun malah mengajaknya pergi bersama sama. Apalagi dia juga membelikan Sungmin makan siang—atau jangan jangan….

“Kau—“

“Aku tidak bermaksud apa apa” tukas Kyuhyun cepat, ia sudah bisa memprediksi reaksi Sungmin yang terlalu berlebihan untuknya, “kau ini! bukannya kita berteman? Memangnya salah aku mengajakmu, lagipula aku risih kalau harus pura pura tidak kenal setiap kita berada di sekolah”

Sungmin mendelik jengkel, “bukannya kau yang pertama kali memalingkan wajah setiap kita bertatapan di koridor sekolah?” sindirnya

“Kan kau duluan yang bilang ‘jangan dekat dekat denganku’ “ kata Kyuhyun memberikan penekanan pada kalimatnya. Ia bahkan sampai memberi isyarat dengan dua tangannya seperti tanda kutip

“Habis aku menyangka kau akan bereaksi aneh kalau tahu aku….” Sungmin terdiam lalu menghabiskan seluruh rotinya, “aku malas jika harus menghadapi sikap orang yang menjauhiku seolah olah aku memiliki penyakit menular. Terkadang orang sepertiku, tidak memiliki tempat dimanapun. Kami akan di jauhi” bisiknya sambil melamun panjang—membayangkan sesuatu yang Kyuhyun tidak tahu itu apa

“tapi aku tidak menjauhimu” balas Kyuhyun pelan

Sungmin mendongak menatap wajah Kyuhyun. Ia tersenyum ragu ragu sambil tertawa canggung, “kau kan aneh” oloknya setengah bercanda

“ha ha ha…terus saja Sungmin. Kita baru berbaikan tapi kau sudah menghinaku seharian ini” Setelah mentandaskan makan siang mereka, Kyuhyun melompat bangkit sambil mengambil sampah sampah itu dari atas meja, “sampai ketemu sepulang sekolah” katanya berlalu meninggalkan Sungmin sendirian dan melangkah masuk ke dalam kelasnya yang berada di pojok ruangan—satu kelas dengan Donghae

Sementara senyum Sungmin masih mengulas manis di bibirnya. Ia menggelengkan kepala—ringan, “Kyuhyun Kyuhyun….” Sungmin pun berdiri dan bergegas masuk sendiri ke kelas karena bel tanda masuk sudah mulai berdentang

___

“Jangan lupa—undangan pengambilan raport untuk orangtua kalian. Ingat itu! Jangan sampai tidak datang” suruh wali kelas yang menahan mereka sebentar pada jam terakhir

“Baik pak” jawab seluruh murid serentak

Kecuali satu orang

“huh…undangan” Sungmin mendengus frustasi sambil membolak balikkan kertas putih di tangannya, “apa Bibi pemilik rumah mau menjadi waliku lagi?”

Masih memikirkan solusi yang tepat tentang masalah pembagian raport, Sungmin terus berjalan lunglai keluar kelas menuju gerbang sekolah

“Sungmin!” kata Kyuhyun berteriak memanggil Sungmin. Ternyata ia sendiri sudah sampai di depan gerbang dan sedang bersandar pada salah satu tembok, “kau kenapa?” tanyanya melihat perubahan wajah Sungmin

“Pembagian raport” jawab Sungmin malas. Mau tidak mau, ia harus berusaha keras membujuk Bibi galak itu untuk acara paling di hindari Sungmin setiap kenaikan kelas

“Oh” Kyuhyun mengangguk mengerti, “sudahlah, nanti juga pasti ada jalan keluarnya”

“Semoga saja” gumam Sungmin datar

Mereka berjalan melewati beberapa jalan kecil untuk sampai ke tempat kerja. Kyuhyun melirik sesekali karena Sungmin masih saja terdiam memikirkan masalah pembagian raport. Dengan helaan nafas terpaksa akhirnya Kyuhyun membuka suaranya, “aku bisa meminta Saerim untuk menjadi walimu nanti, mau tidak?” tawarnya kepada Sungmin

Sontak Sungmin menoleh sambil menyeringitkan dahi—bingung, “bukannya nanti wali kelasku tahu dia Ibumu?”

“tidak” Kyuhyun menggeleng keras, “tidak ada satupun yang tahu dia Ibu tiriku. Aku tidak pernah membiarkannya datang ke sekolah sebagai orangtuaku. Hanya Appa yang terus menerus datang saat ada pertemuan orangtua murid”

“Kyu” bisik Sungmin menghentikan langkahnya, “mau sampai kapan kau bersikap kejam kepadanya?”

Kyuhyun menengok ke belakang di mana Sungmin tertinggal jauh, “aku tidak tahu….mungkin sampai dia meninggalkan aku dan Appa….” Ungkapnya jujur, “aku kan memang membencinya”

“tapi—“

“Sudah sudah! Kenapa sih kau senang sekali membahas tentangnya” akhirnya Kyuhyun berbalik untuk menghampiri Sungmin di belakang, “kita masih harus minta maaf sama Kangin-shi karena bolos dua hari, ayo! Keburu telat!”

Melihat Kyuhyun yang keras kepala membuat Sungmin mengangkat bahu—tidak peduli lalu mengikuti langkah lebar Kyuhyun hingga sampai di depan café tempat mereka bekerja. Sungmin dan Kyuhyun menarik nafas panjang sebelum membuka pintu café—di mana Kangin terlihat sedang asyik berbincang dengan Leeteuk, kekasihnya pada salah satu meja tamu

“Ng….Kangin-shi” panggil Sungmin takut takut dari depan pintu

Kangin dan Leeteuk berhenti berbincang. Mereka menoleh bersamaan. Kangin-shi menarik nafas panjang sambil mengisyaratkan mereka berdua mendekat, “Kalian berdua…” ucapnya bernada kecewa

Mendengar itu, Sungmin semakin merundukkan kepala—merasa bersalah, “soal kemarin saya—“

“Saya yang salah Kangin-shi” potong Kyuhyun yang berada di samping Sungmin, “sayalah yang mengajak Sungmin membolos seharian kemarin, maaf…” katanya menundukkan kepala lebih dalam dari Sungmin di hadapan Kangin

“Aishh—dasar anak muda, kemarin kemarin kalian sering bertengkar—tapi giliran pacaran malah kompak bolos” sindir Kangin di sertai seringai lebar dari Leeteuk

“Kami tidak—“

“Sudahlah! Jangan perdulikan Kangin” sela Leeteuk tiba tiba bangkit dari tempat duduk lalu menghampiri Sungmin lebih dekat, “Sungmin kau sudah tidak apa apa?” tanyanya lembut

Sungmin menatap Leeteuk bingung namun mengingat kejadian kemarin, ia sempat malu karena membuat semua orang menjadi tahu masalahnya. Dengan terbata bata, Sungmin mengangguk kecil, “aku baik baik saja” jawabnya

“Oh bagus kalau begitu, ini—“ Leeteuk mengeluarkan secarik kertas dari balik kantung celananya, “nomor yang di berikan wanita itu—kalau kau…yah….ingin berbicara sesuatu dengannya..” ia memberikan kertas itu pada Sungmin dengan pandangan penuh arti.

Pandangan Sungmin meredup. Ia mengambil kertas itu dengan ragu ragu sebelum menunduk sekali lagi untuk berterima kasih

“Baiklah….lebih baik sekarang kalian siap siap untuk bekerja hari ini” kata Kangin memecahkan suasana hening barusan. Segera, Sungmin dan Kyuhyun menaruh tas mereka ke ruangan belakang, memakai apron lalu mulai membersihkan meja dan gelas gelas sebelum tamu tiba pada jam makan siang

*****

“Fuih capek sekali seharian ini” keluh Kyuhyun sambil memijit tekuk lehernya dengan sebelah tangan

“Itu masih lebih baik ketimbang bayanganku” balas Sungmin memutar kedua bola matanya, “aku kira kita akan di pecat” ia mengimbangi langkah Kyuhyun ketika mereka berdua berjalan bersama sama karena seara

“Kangin-shi tidak setega itu, sudahlah….” Kyuhyun terdiam sejenak—ia melirik ingin tahu setiap kali Sungmin menggenggam kertas kecil yang tadi di berikan Leeteuk, “kau tidak mau menelepon Ibumu?” tanyanya langsung

“Aku….” Sungmin kembali mengatupkan mulutnya rapat rapat, “aku tidak tahu”

Mereka berhenti sejenak. Kyuhyun bahkan memutar sehingga bisa melihat langsung wajah murung Sungmin dari depan, “telepon saja, kau kan merindukannya…” saran Kyuhyun

Sungmin masih diam saja. Ia menatap nanar kertas itu sebelum akhirnya menarik nafas panjang dan memasukkannya kembali ke dalam tas, “mungkin nanti” gumam Sungmin tidak yakin

“Yah, itu terserah padamu”

Mereka berdua melanjutkan perjalanan dalam keheningan malam hingga tak terasa sampai di depan rumah Sungmin yang agak sepi di ujung jalanan besar

“Aku duluan” sapa Sungmin tersenyum tipis, “selamat malam”

“Malam” kata Kyuhyun, “dan terima kasih—untuk kemarin” sambungnya lagi

Sungmin mengangkat bahu, ringan, “tidak apa apa” ia tersenyum kembali sebelum membuka pintu rumah dan masuk ke dalam, sepanjang itu Kyuhyun menatap Sungmin dari jauh. Ketika sudah memastikan Sungmin menghilang dari penglihatannya, Kyuhyun berlalu dari depan rumah Sungmin menuju rumahnya sendiri

Sepanjang jalan Kyuhyun tersenyum sendiri sambil memandang bulan separuh yang terletak di atas langit. Dengan santai, sesekali Kyuhyun menendang batu di depannya. Tidak peduli jika beberapa orang lalu lalang melihatnya jengah seakan akan Kyuhyun tidak begitu waras di mata mereka. Sekarang yang ada di pikiran Kyuhyun hanyalah memori yang terjadi dua hari ini bersama Sungmin. Dan itu menyenangkan bagi Kyuhyun

“Mungkin besok kami bisa berangkat sekolah bersama sama” gumam Kyuhyun ketika membuka pintu pagar. Ia tidak menaruh curiga melihat keadaan rumah yang mendadak sepi. Lampu depan dan ruang tamu mati membuat keadaan agak terlalu gelap untuk Kyuhyun

“Appa?” panggilnya agak curiga—pasti terjadi apa apa di sini. Pikir Kyuhyun

KLIK

Lampu ruang tamu tiba tiba menyala

Kyuhyun terpaksa memicingkan mata untuk melihat siapa yang menghidupkan lampu, “Bibi Yuan?”

Sesosok wanita renta, berbadan agak gemuk tergopoh gopoh menghampiri Kyuhyun lalu ia memeluk majikannya dengan erat, “tuan muda…..hiks…nyonya….” katanya sambil terisak

“Ya ampun, Bi aku tidak bisa bergerak….” Bisik Kyuhyun berusaha melepaskan diri kemudian merubahnya menjadi pelukan hangat kepada pelayan rumahnya yang sudah di anggap Kyuhyun seperti neneknya sendiri, “sekarang ada apa? Kenapa rumah sepi begini? Kemana Appa?” tanyanya bertubi tubi

Bibi Yuan melepaskan tangannya dari tubuh Kyuhyun untuk menyeka kedua matanya, “Tuan masih di kantor—mungkin beliau tidak bermaksud untuk pulang sama sekali….” Dari suara gugup Bibi Yuan saja, Kyuhyun sudah bisa memperkirakan ada yang terjadi di rumah ini

“Ada apa yang terjadi Bi??” desak Kyuhyun penasaran. Ia berdiri mencoba masuk ke dalam rumah. Di situlah, Kyuhyun tersentak. Semua ruangan memang rapi seperti biasa namun ada sesuatu yang hilang dan Kyuhyun tahu itu apa

“Di mana Saerim?” tanya Kyuhyun dari ruang tengah

Bibi Yuan mendesah, ia berdiri—hendak menghampiri Kyuhyun, “Nyonya…Nyonya pergi tuan muda….dia sudah pergi dari tadi pagi”

Sontak, Kyuhyun menoleh ke arah Bibi Yuan, “Apa maksud Bibi dengan ‘pergi’ ?” tanyanya tajam

Wajah Bibi Yuan makin sedih sebelum menepuk pundak Kyuhyun lembut, “Nyonya dan Tuan—akan segera bercerai…”

_____________________________

“ARGHHH!!!” Kyuhyun membanting tasnya ke atas tempat tidur. Ia memegang kepalanya yang tidak pusing lalu mencengkram rambutnya kuat-kuat. Semua perkataan Bibi Yuan barusan kembali mencuat dalam ingatannya

 

“Mereka bertengkar seharian waktu tuan muda pergi dari rumah. Nyonya bersikeras menginginkan perceraian meski Tuan sudah menolaknya.”

 

 “Bagus dia pergi, keinginanku terkabul…” gumam Kyuhyun berjalan tidak tentu arah. Ia membuka jendela kamar lebar lebar—di sana Kyuhyun melamun panjang. Pikirannya benar benar buntu. Entah kenapa pada saat saat seperti ini, dia malah tiba tiba mengingat nama Sungmin. Mungkin Sungmin bisa membantunya, kata Kyuhyun dalam hati

Langsung saja, Kyuhyun pergi tanpa berganti baju ataupun memakai jaket padahal cuaca di luar mulai dingin—sama seperti malam malam kemarin. Yang Kyuhyun inginkan hanyalah secepat mungkin sampai di rumah Sungmin.

Selang sepuluh menit, Kyuhyun tiba di depan rumah Sungmin. Nafasnya agak terengah engah karena berlari sekencang mungkin sementara tangan kanannya mengetuk pintu rumah Sungmin dengan tidak sabar

TOK TOK

“ya sebentar” balas Sungmin pelan dari dalam rumah

KREKKK

“Kyuhyun..” gumam Sungmin sama terkejutnya ketika Kyuhyun datang pertama kali, “Ngapain malam malam kemari? Kau bertengkar lagi?” tebak Sungmin karena melihat wajah pucat Kyuhyun.

Sepasang bibir pucat itu bergetar, “dia pergi Sungmin” katanya pendek

Kening Sungmin berkerut bingung, “siapa?”

“Saerim” desis Kyuhyun hampa, “dia pergi…”

Akhirnya Sungmin paham meski tidak tahu duduk permasalahannya. Dengan satu langkah ke depan, ia mendekati Kyuhyun sementara lelaki di depannya ini malah terus meracau tidak jelas

“Mereka akan bercerai…Sungmin, dan dia sudah pergi, tapi baguslah—itukan memang keinginanku, berarti Tuhan mendengarkan doaku. Saerim sudah sepantasnya—“ Kyuhyun berhenti berbicara ketika Sungmin merengkuh wajahnya dengan kedua tangannya yang hangat, “berhenti berpura pura Kyuhyun, kau kehilangannya bukan?”

“TIDAK!” bantah Kyuhyun dengan suara tinggi, “aku membencinya Sungmin! Sangat membencinya! Aku—“ tenaganya lunglai, mulutnya pun ikut mendadak terbungkam saat Sungmin memeluknya erat, menaruh kepala Kyuhyun di bahu mungil Sungmin yang lebih pendek darinya

“Menangislah….kalau kau mau menangis” bisik Sungmin halus

Wajah Kyuhyun yang berada di balik punggungnya itu tertunduk—bersembunyi di balik bahu, “lelaki tidak akan menangis tahu!” dengus Kyuhyun kesal, “aku tidak mungkin menangisi Saerim!! Dia bukan apa apa!! Dia…..” Kyuhyun kehilangan kata kata. Ia membalas pelukan Sungmin semakin erat sebelum berbisik pelan tepat di telinga Sungmin, “dia akan bercerai dengan Appa….sedangkan aku tahu Appa sangat mencintainya, dan kau tahu apa kata Bibi Yuan? Saerim lebih mementingkan aku di banding pernikahannya dengan Appa” ada sebersit ketakutan yang terlihat jelas dalam suara Kyuhyun ketika membicarakan itu

“Bagaimana bisa dia bahagia sementara anaknya sendiri malah menderita” balas Sungmin dari arah depan

“Tapi aku bukan anaknya!!” sangkal Kyuhyun berkali kali, “dia tidak melahirkan aku!! Dia tidak…..” suara Kyuhyun semakin mengecil serupa bisikan, “dia hanya merawatku dari kecil…dia….” Kyuhyun tidak dapat berbicara lagi. Ia menundukkan kepala lebih dalam dengan bahu yang mulai bergetar naik turun. Kenapa kehadiran Saerim malah sangat terasa ketika sosok itu tidak ada di dekat Kyuhyun…..

Kyuhyun dapat mengingat dengan jelas….

Saat Saerim memeluknya setiap malam

Saat Saerim mendengar ocehan Kyuhyun waktu kecil

Saat saat di mana hanya ada kenangan manis di antara dirinya dan Saerim

Di bahu Sungmin, Kyuhyun menangis tanpa mengeluarkan suara

Kenapa dalam keadaan seperti ini sedikit demi sedikit kejadian masa kecilnya terus terungkit kembali. Saat saat dimana Saerim betul betul menjadi seorang Ibu di mata Kyuhyun

“Kau menyayanginya Kyuhyun” bisik Sungmin lembut

“Aku…tidak tahu” balas Kyuhyun dengan suara parau—masih belum mengangkat wajahnya, “apa yang harus kulakukan, Sungmin?”

“Lakukan apa yang ingin kau lakukan” balas Sungmin mengimbangi suara lemah Kyuhyun, “aku akan mendukungmu”

Dengan agak berat, Kyuhyun mengangkat wajahnya dari bahu Sungmin lalu menatap wajah yeoja itu dari arah depan, “terima kasih” kata Kyuhyun tulus

“sama sama” balas Sungmin sambil melepaskan kedua tangannya dari tubuh Kyuhyun. Sesaat mereka berdua terdiam dalam keadaan canggung—sama seperti saat Sungmin menangis dalam pelukan Kyuhyun

“Kau mau masuk ke dalam?” tawar Sungmin memecahkan keheningan di antara mereka, “atau kau mau balik ke rumah?” tanyanya sekali lagi karena Kyuhyun masih terdiam di tempat—sedang memikirkan sesuatu

“Sungmin?” tiba tiba Kyuhyun memanggil namanya sewaktu Sungmin mau berbalik ke dalam rumahnya

“Hm?”

“kau mau menemaniku?” sekarang Kyuhyun mengulurkan tangan kanannya ke arah Sungmin

“kemana?” tanya Sungmin tidak menanggapi uluran tangan Kyuhyun

Kyuhyun mendengus kesal, “sudah ikut saja” ia menarik tangan Sungmin secara paksa, bahkan sebelum pintu rumah di tutup. Kyuhyun terus saja menyuruh Sungmin mengikuti langkahnya—agak terburu buru menuju jalan besar, tepatnya di sebuah halte bus yang beroperasi 24 jam

“kita mau kemana Kyuhyun?” ujar Sungmin mulai kesal. Sementara Sungmin menarik nafas untuk mengisi oksigen pada tubuhnya, Kyuhyun malah melihat gelisah di depan halte karena jalanan sangat sepi pada malam ini

“Jelas saja Kyuhyun bodoh” jelas Sungmin memilih duduk di halte sambil melirik Kyuhyun yang tidak jelas maunya apa, “walaupun bus ini 24 jam nonstop tapi kan dia tidak datang secepat—“

TIN TIN

“AH itu dia!!” unjuk Kyuhyun bersemangat ke arah sebuah Bus besar berwarna jingga yang berhenti tepat di halte bus sebelum menghampiri Sungmin yang masih duduk agar segera berdiri, “kita akan naik bus ini”

Sungmin sudah pasrah di tarik Kyuhyun masuk ke dalam Bus, duduk di salah satu bangku untuk dua orang setelah itu membayar tiket Bus, “sekarang aku sudah boleh bertanya kita mau kemana Kyuhyun?” tanya Sungmin kesekian kalinya

Pandangan Kyuhyun terus ke depan, dengan sebelah tangannya yang kebas—Kyuhyun menopang dagu sementara kedua matanya terlihat kosong, hampa. Membiarkan Sungmin terus bertanya tanpa memberinya jawaban. Namun sejenak, tubuh kaku Kyuhyun bergerak, ia menatap lekat lekat ke arah Sungmin sebelum berkata, “waktu kecil Saerim pernah bercerita kalau dia senang sekali dengan suasana pedesaan—tempat ia di besarkan. Namun karena Appa bekerja di Seoul dan mereka tidak mungkin menetap di kampungnya, Saerim dengan berat hati meninggalkan rumah orangtuanya untuk ikut bersama Appa” ujar Kyuhyun lancar seolah olah itu baru terjadi kemarin

“Jadi…” kata Sungmin mulai menyimpulkan sesuatu, “kau mengira dia kembali ke desanya?” tebaknya benar karena Kyuhyun langsung mengangguk sependapat

“Dia tidak punya tempat lain….Saerim pasti ke sana” bisik Kyuhyun kembali menikmati pemandangan jalan yang sangat sepi sebab mereka pergi pada saat tengah malam. Sungmin bahkan menggosokkan kedua tangannya dan dari mulutnya keluar buih buih awan tipis akibat cuaca dingin. Melihat itu, Kyuhyun mendengus pelan lalu menarik tangan Sungmin dalam genggamannya, “kenapa kau selalu kedinginan sih” sindir Kyuhyun

“Aku—entahlah” jawab Sungmin sekenanya. Ia memalingkan wajah dari Kyuhyun karena mendadak tubuhnya merasa kehangatan yang menjalar cepat saat tangan mereka berdua saling bertautan. Ada rasa lain yang menyelip dalam hatinya—dan entah kenapa Sungmin merasa rasa itu salah. Tidak seharusnya dia malah semakin dekat dengan Kyuhyun—ini benar benar bertentangan dengan pendirian Sungmin selama ini

Lumayan lama perjalanan mereka sehingga Kyuhyun memaksa Sungmin untuk tidur terlebih dahulu sementara dia sendiri masih terus melamunkan semua secara bersamaan. Hanya suara dengkuran halus dari mulut Sungmin yang menghibur Kyuhyun sepanjang perjalanan, “kenapa aku malah mengajaknya terseret dalam masalahku….” gumam Kyuhyun bingung kepada dirinya sendiri

Stasiun Terakhir

Tulisan di papan depan kondektur bus.

Segera, Kyuhyun menepuk pundak Sungmin pelan untuk membangunkannya, “kita sudah sampai” jelasnya sambil menyuruh Sungmin berdiri dari bangku sebelahnya

Sungmin yang masih sedikit terkantuk hanya mengangguk kecil. Ia mengusap kedua matanya lalu mengikuti langkah Kyuhyun yang menuntunya keluar dari Bus.

Mereka sampai di sebuah halte bus terpencil—dimana masih sangat sepi karena tepat pukul 4 pagi Kyuhyun dan Sungmin tiba di desa itu, “sekarang kau tahu kita mau kemana?” tanya Sungmin

Kepala Kyuhyun berputar meneliti keadaan di sekitarnya—mencoba mereka reka, “Ah—aku ingat! Ke sebelah sini!” ia kembali menarik tangan Sungmin sebelum berjalan ke sebelah kiri. Di sana terbentang rerumputan tinggi tanpa ada rumah penduduk di sekitarnya. Jujur saja, hal itu sempat membuat Sungmin merasa sangsi namun melihat wajah semangat Kyuhyun membuat Sungmin mengangkat bahu lalu membiarkan Kyuhyun membawanya ke tempat yang tidak diketahuinya

Mereka berjalan terus ke depan. Agak berbelok memasuki sebuah bahu jalan. Di sana ada jalan setapak yang tertutupi rumput dan pepohonan rindang. Dan tepat di ujungnya ada sebuah rumah besar—bukan mewah tetapi begitu epik, berdiri tegap di tengah padang rumput dan beberapa macam tanaman peliharaan sendiri.

Kyuhyun tidak perlu menunggu lama untuk menemukan orang yang ia cari. Di antara beberapa tanaman hijau ada sesosok perempuan bertubuh kurus sedang menunduk untuk menyiangi hama. Wajah yang begitu familiar bagi Kyuhyun—wajah Saerim. Ia berjalan mendekat, menghampiri Saerim perlahan.

Keringat deras yang mengucur deras dari wajah Saerim membuatnya kembali berdiri tegak untuk menyeka peluhnya dan saat ia hendak berbalik—kedua matanya melihat sosok lelaki yang mematung di depannya

“Kyu..” bisik Saerim tidak percaya

Kyuhyun berjalan makin dekat—wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, “kenapa kau meminta bercerai dari Appa? Apa karena aku? Agar aku merasa bersalah begitu?” tanyanya beruntun tanpa basa basi

Saerim langsung menggeleng kuat kuat, “tidak Kyuhyun! Hanya saja aku merasa ini yang terbaik” kedua tangannya saling bertautan—gugup sebelum menatap Kyuhyun, “aku tidak akan mengganggumu lagi…tenang saja…”

“Mengganggu?” ulang Kyuhyun dengan nada menusuk, “Kau memang menggangguku!! Selama bertahun tahun kau berpura pura menjadi ibuku! Lalu tiba tiba kau menceritakan semuanya seolah olah dengan mudah aku bisa menerimanya, ingat Saerim aku baru berumur 13 tahun waktu itu!!!” teriak Kyuhyun menumpahkan segalanya di depan Ibu tirinya, “Kau tidak tahu sedalam apa sakit hati yang aku rasakan”

“Aku tahu, aku tahu!” balas Saerim memaksa berbicara di sela sela tangisnya, “tapi aku menganggap kau sudah dewasa untuk tahu semuanya, aku—

“Andai saja kau tidak menceritakannya, mungkin aku tidak membencimu” tukas Kyuhyun datar, “mungkin aku masih menganggapmu Umma sampai sekarang dan mungkin aku tidak akan bertengkar terus dengan Appa karenamu”

Anehnya, Saerim malah tersenyum lemah mendengar perkataan Kyuhyun barusan, “kau berhak tahu Kyuhyun—meski Hyera menitipkanmu padaku, tetapi dia tetap Ibumu…..dan aku tidak menyesal pernah memberitahukanmu tentang masalah itu”

“Menitipkanku?” desis Kyuhyun pelan, “bukankah kau baru menikah dengan Appa ketika Umma meninggal?”

Lagi lagi, senyum khas Saerim terkuar dari bibirnya yang tipis. Sejenak, Kyuhyun bisa melihat ada beban yang tidak terlihat dalam diri Saerim, “Hyera—Ibumu adalah sahabatku Kyu…kami sudah bersahabat lama, dan sialnya kami juga mencintai lelaki yang sama—Ayahmu” Saerim berjalan jalan menjauhi Kyuhyun, menatap kejauhan di mana matahari mulai meninggi, “dan setengah ceritanya sudah kau tahu bukan…”

“Yah….” Kyuhyun menggeram marah, “Kau mencuri Appa ketika Umma sudah meninggal!” tuduhnya

“Bukan….” Elak Saerim masih membelakangi Kyuhyun, “akulah wanita pertama yang dilamar oleh Ayahmu namun kutolak dan aku malah menyuruhnya menikahi Hyera—sahabatku sendiri”

Mendengar itu ada segudang pertanyaan yang langsung terbersit dalam pikiran Kyuhyun. Ia terhenyak sejenak sebelum berkata, “Kenapa?” tanya Kyuhyun dengan kepala yang semakin pusing mendengar cerita aneh Saerim

Dalam satu langkah besar, Saerim berpaling—ia mendekati Kyuhyun dengan wajah hampanya. Bertahun tahun dirinya menanggung semuanya. Dan mungkin sekarang saat yang tepat untuk bercerita pada Kyuhyun

“Aku mandul…..” bisik Saerim dengan bibirnya yang gemetar, “aku tidak bisa memberikan keturunan seandainya aku menerima tunangan Ayahmu waktu itu…..iya aku mandul…..”

Ekspresi Kyuhyun berubah. Terkejut, bingung dan kembali datar seperti biasanya

“Aku benar benar tulus merestui mereka berdua Kyuhyun. Tidak sekalipun aku berpikir merebutmu atau Kungwoon dari Hyera. Dan ketika Hyera mengandung anak Kungwoon—aku turut bahagia, kami merencanakan semuanya bersama sama” ujar Saerim mengenang semuanya kembali, “pakaian, tempat tidur, perlengkapan bayi….Hyera begitu menyukai warna biru saat hamil” terkadang Saerim terkekeh lalu terdiam dan bayangan wajahnya berubah gelap mengingat bagaimana sahabatnya—Hyera melahirkan Kyuhyun

“Melahirkanmu ternyata sangat rentan dengan kesehatan Hyera…dokter bahkan sudah menyerah untuk bisa menyelamatkan keduanya. Ia meminta pada Kungwoon untuk memilih salah satu. Itu saat saat paling mengerikan dalam hidupku……Hyera menangis kencang….Ia menginginkanmu Kyu…kau anaknya…..aku masih ingat bagaimana Hyera memaksa Dokter untuk menyelamatkan anaknya di bandingkan memikiran dirinya sendiri.”

Saerim mendongak, tangisnya semakin turun saat melihat Kyuhyun berdiri tegap mematung di depannya, “Hyera sempat memanggilku beberapa menit setelah melahirkanmu—memelukmu erat sebelum menyerahkanmu ke dalam pelukanku…aku—“ dia tidak kuat berkata kata lagi. Saerim merasakan luka yang sama seolah olah kejadian itu baru saja terjadi kemarin

Tess

Air mata Kyuhyun turun sendirinya meski dalam keadaan membisu. Ia menatap nanar pundak kurus Saerim—entah kenapa Kyuhyun merasa tidak ada kebohongan dalam perkataannya

“Sebagai wanita yang tidak mungkin bisa mengandung dan melahirkan anak…aku betul betul bisa merasakan perjuangan Hyera. Tubuhmu mungil sekali waktu kupeluk, kau masih sering menangis saat berumur seminggu—mungkin tanpa sadar kau pun tahu kalau aku bukan Ibumu yang sebenarnya. Tetapi aku tidak menyerah….aku belajar menjadi Ibu yang baik, memberanikan diri mengganti popokmu untuk pertama kali, mengajarimu ke kamar mandi, semuanya aku lakukan…..” tangis Saerim sekarang malah berubah ceria, ia membentangkan tangan sambil memandang kagum ke arah Kyuhyun, “dan lihat sekarang—kau tumbuh menjadi lelaki yang tampan…sama seperti Ayahmu, sementara senyummu mirip sekali dengan Hyera….” Kedua tangan Saerim terulur ke depan—hendak menyentuh wajah Kyuhyun namun sejenak ia menyadari tindakannya lalu menariknya lagi. Dengan canggung, Saerim berbalik, mengusap jejak air matanya sambil pura pura sibuk membenahi alat bercocok tanamnya yang tergeletak di tanah

Dan dalam waktu bersamaan—entah kenapa Kyuhyun ingin meraih tubuh Saerim—memeluknya erat hanya untuk berhenti membuatnya menangis.

Sampai suara jernih Kyuhyun memecahkan keheningan di antara mereka, “jadi….kau sengaja bercerai dengan Appa karena merasa tugasmu menjagaku dan membesarku sudah selesai? Sehingga kau tidak punya hubungan lagi denganku?”

Sontak Saerim berbalik dan segera melepaskan tangannya yang belepotan lumpur dari alat penyiram rumput, “Tidak Kyu! Bagaimana kau bisa berpikir begitu! Aku hanya memikirkanmu! Asal kau bahagia, aku rela pergi! Jadi jangan berbicara seperti itu lagi” sanggah Saerim dengan suara keras, “Kau tetap anakku….” Sambungnya lirih

“Kalau begitu…” suara Kyuhyun berubah—ada sekelebat rasa bersalah bercampur sedih di sana, “kembalilah….” Wajahnya berubah keras, “kembalilah pulang”

“Kyu…kau…”

“Kumohon….” Sikap acuh Kyuhyun runtuh, ia mendekati Saerim, memandangnya lekat lekat sebelum menundukkan diri dalam dalam, “kembalilah…..kembalilah Umma…”

“Apa kau bilang?” Sontak Saerim menarik wajah Kyuhyun yang menunduk, memegangnya erat erat untuk memastikan perkataan Kyuhyun barusan, “kau memanggilku apa??” ulangnya terperangah

“Umma….maafkan aku….Umma….” Kyuhyun menangis lalu merengkuh tubuh Saerim dalam pelukannya, “maaf…..” bisiknya berulang kali

Saerim masih nampak tidak percaya. Kyuhyun…..setelah bertahun tahun,……Perlahan lahan air mata kembali membanjiri wajah Saerim. Ia membalas pelukan Kyuhyun—jauh lebih erat. Tidak ada kata kata yang terucap. Anaknya telah kembali. Itu sudah cukup baginya

“Ya Tuhan…” Saerim terus memeluk tubuh rapuh Kyuhyun—sambil sesekali mengusap wajah anaknya yang ikut menangis bersamanya, “Kyu….” Bisiknya pelan, berusaha meyakinan hatinya sendiri kalau ini bukan mimpi

“Maaf…..aku—“ Kyuhyun menggigit bibir bawahnya ketika mengingat betapa banyak hal yang sudah ia lakukan sekuat tenaga untuk membenci Saerim meskipun percuma. Dalam kebenciannya sekalipun—Kyuhyun bisa merasakan Saerim seperti ibunya sendiri

“Ssstt….” Potong Saerim ringan, “tidak ada yang perlu di maafkan….Umma…” Saerim mengucapkannya dengan rasa bahagia yang begitu besar, “Umma tidak marah terhadapmu kok” di belainya wajah Kyuhyun sekali lagi, menghapus jejak air mata di sana sebelum mencium kening Kyuhyun lembut, “sebaiknya kamu masuk—pasti kau lapar, belum makan bukan?” tanyanya khawatir

Kyuhyun mengangguk menurut. Di biarkan Saerim menarik tangannya ke dalam namun sejenak Kyuhyun teringat akan sesuatu sehingga menahan tangan Ummanya lalu menghadap ke belakang, menghampiri Sungmin yang sengaja mengitari taman kecil di belakang kebun karena ingin memberi waktu untuk Kyuhyun berdua saja dengan Ibunya

“Umma….Ini Sungmin…” Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin, membawa sekaligus memperkenalkannya kepada Saerim. Sungmin tertunduk formal—agak sedikit canggung saat memberi salam

Saerim tersenyum manis. Tatapannya penuh makna memandang kedua tangan Kyuhyun dan Sungmin yang saling bertautan. Sekali lihat saja, Saerim bisa menduga ada hubungan kuat di antara keduanya. Namun ia menepis pikiran anehnya sebelum mengajak mereka berdua masuk ke dalam rumah, “Pasti Sungmin juga kedinginan pergi sepagi ini? Umma masakkan kalian Soup ya? Untuk menghangatkan badan” katanya dengan wajah berseri seri

Sungmin setuju saja sementara Kyuhyun terus berbicara bersemangat dengan Ummanya. Seharian itu, Sungmin menghabiskan waktu menyaksikan sesuatu yang berharga untuk di lewatkan

Ia menyaksikan cinta dalam bentuk berbeda.

Cinta seorang Ibu kepada anaknya.

Dan itu terbentuk bukan karena hubungan darah

Namun terjadi karena kasih sayang yang terjadi di antara mereka…

*****

“Hmm”

Sepanjang hari, seorang lelaki menghabiskan waktunya di dalam ruang kerja yang terdapat di sayap kanan bagian rumahnya. Tubuhnya melemas karena rasa lapar, akan tetapi lelaki itu malah menggeleng tidak peduli dan melanjutkan ketukan jarinya yang sedang menatap datar pada layar komputer.

Pikirannya menjelajah luas—meninggalkan tubuhnya dalam ruangan yang terus bekerja tanpa henti sementara hatinya memikirkan orang lain—orang yang sudah meninggalkannya

“Aishhh!!” ia membanting file ke sembarang tempat dan mulai mengacak acak rambut pendeknya. Dengan satu hentakan, tangannya yang besar menarik laci meja kerja, mengambil satu foto di mana di dalamnya ada dua wanita yang saling berangkulan sambil tersenyum mani

Dua wanita yang mengisi hidupnya sekaligus ia cintai sepenuh hati

“Hyera……” bisiknya lemah, “Kyuhyun…dia….” Lelaki itu menutup mata—menghalau air mata hangat yang mulai turun, “kenapa aku harus terus menyakiti orang lain?? Pertama aku menyakitimu, lalu Kyuhyun, Saerim?? Ini semua salahku!! Aku egois!!! Aku…..tidak punya siapa siapa lagi….” cecarnya terus menyalahkan diri sendiri. Tubuhnya lunglai tidak berdaya dari atas kursi—terduduk di lantai sambil memeluk erat foto itu.

Sampai ia mendengar bunyi suara pintu di ketuk dari luar

TOK TOK

Segera, Lelaki itu menghapus air matanya dan berusaha berbicara dengan suara normal, “ada apa Bibi Yuan?” tanyanya merasa enggan beranjak bangun untuk membuka pintu

Ada jeda agak lama dari luar, membuat Lelaki itu mengurutkan dahi lalu mengulangi perkataannya, “Bibi Yuan?”

TOK TOK

“Ck” akhirnya lelaki itu terpaksa bangun, berusaha mengatur mimik mukanya seperti biasa setelah itu memutar kenop pintu perlahan, “kenapa Bibi tidak menjaw….ab…” suaranya hilang. Pandangannya berubah terkejut mendapati ada dua orang yang begitu ia rindukan berdiri berhadapan di depan wajahnya dengan berpelukan satu sama lain

“Kyu….Saerim….” bisiknya tercengang

“Kenapa lama sekali membuka pintu Appa?” tanya Kyuhyun santai, “Bibi Yuan sedang menelepon untuk memesankan kita makanan special untuk menyambut kepulangan Umma kembali” ia menatap sayang Saerim dengan senyum tulus tanpa melihat reaksi terkejut dari Appanya

“Kalian..” tunjuk Kungwoon bergantian

Kyuhyun melepaskan sebelah tangannya yang merangkul pundak Saerim lalu mendorong tubuh Ibunya ke depan—mendekati Kungwoon, “Aku membawa Umma……aku membawanya kembali Appa….maafkan aku sudah membuat kalian khawatir karena masalah kemarin” kali ini suara Kyuhyun berubah serius

“Kyuhyun…” Kungwoon langsung memeluk Kyuhyun erat erat sementara salah satu tangannya menggenggam tangan Saerim, “Appa yang seharusnya minta maaf, tidak pernah menceritakan masalah kami kepadamu….maaf…membuatmu berpikiran salah, Appa—“ ia tidak bisa menahan air matanya kali ini. Tubuh besar pria itu terlihat jauh lebih rapuh dalam dekapan Kyuhyun

“tidak apa apa….” Bisik Kyuhyun berbesar hati untuk menenangkan Ayahnya.

Sekarang keluarga kecil mereka—kembali utuh sama seperti sedia kala

Sementara itu

Sungmin yang ikut pulang bersama Kyuhyun dan Saerim langsung mundur melihat mereka bertiga berpelukan bahagia. Entah kenapa, ia merasa sangat asing berada di sana.

Dengan langkah perlahan lahan agar tidak menimbulkan suara, Sungmin berjalan keluar rumah, menarik nafas panjang sebelum benar benar membuka pagar mewah itu dan menyusuri jalan di perumahan Kyuhyun. Tatapan matanya hampa. Ia mengikuti arah jalan lalu hendak membelok ketika sebuah suara terdengar berteriak di belakangnya

“TUNGGU!!!” seorang namja berlari kencang ketika Sungmin menoleh ke arah sumber suara. Sungmin langsung tersentak karena melihat Kyuhyun sedang berusaha menyusul langkahnya

“kenapa kau malah mengejarku?” tanyanya tidak mengerti

“Aku….hosh….” Kyuhyun menarik udara banyak banyak sebelum dapat berbicara, “kau yang kenapa malah langsung pergi? Aku kan baru mau mengajakmu untuk makan bersama ketika baru menyadari kau sudah tidak berada di dalam rumah”

Sungmin menyunggingkan senyum lemah, “aku tidak mau mengganggu acara keluarga kalian” jelasnya singkat

“tidak akan apa apa—Umma senang sekali melihatmu bersamaku, ayo mereka sudah menunggu kita” tarik Kyuhyun kembali hendak meraih tangan Sungmin namun dengan halus, Sungmin menepisnya, membuat Kyuhyun tersentak lalu melirik agak tajam ke arah Sungmin namun lirikan matanya berubah melihat wajah murung Sungmin, “kau kenapa?” tanyanya berbalik cemas

“melihatmu dan Adjumma tadi….aku…” Sungmin membuang muka ke samping sambil memainkan kedua tangannya, “mengingatkanku pada Umma” tuturnya gugu

Kyuhyun terdiam sejenak, “kau punya nomornya bukan? Telepon saja dia” katanya memberi solusi

“Tapi aku takut! Aku takut Kyuhyun, aku takut di tolak lagi—aku takut harus melihatnya lagi. Aku takut kalau dirinya menjauh dariku….aku…..” Kepala Sungmin bergerak gelisah, “aku benar benar takut” bisiknya lemah

“Jangan takut….” Gumam Kyuhyun perlahan sambil memegang kedua pundak Sungmin lembut, “kau punya aku, ingat? Tenang saja. Jika dia menolakmu lagi, kau masih bisa tinggal di rumah bobrok itu, aku akan sering menengokmu lalu kita bisa makan ramen berdua….jadi tenang saja”

“Hahaha” Sungmin sedikit terhibur dengan celotehan lucu Kyuhyun. Ia menarik nafas panjang sebelum melepaskan tangan Kyuhyun dari tubuhnya, “sudahlah—sana kau balik ke rumah, kasian Adjumma dan Adjusshi sudah menunggumu” usirnya halus

Namun Kyuhyun masih tidak bergerak. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah ponsel mungil miliknya lalu di berikannya kepada Sungmin, “untukmu—teleponlah Ibumu menggunakan ini”

“Tapi—“

“Sudahlah!” Kyuhyun menaruh dengan tegas handphone itu ke dalam tangan Sungmin, “kalau kau tidak mau—kau bisa mengembalikannya setelah menelepon Ibumu. Hanya satu pesanku” telunjuk kanan Kyuhyun bergerak lembut di wajah Sungmin, “cobalah berbicara dengannya…..kau akan menemukan jawabanmu sendiri”

Satu anggukan pasti dari Sungmin membuat Kyuhyun puas. Ia melambaikan tangan menjauh ketika memutuskan kembali ke rumahnya

Dalam kegelapan jalan, Sungmin bersandar lelah pada salah satu dinding. Memikirkan semua secara bersamaan. Tidak dapat terelakkan kebenaran perkataan Kyuhyun—Sungmin harus mencobanya….sama seperti Kyuhyun meski….yah….belum tentu kisahnya akan berakhir bahagia layaknya yang terjadi dengan Kyuhyun…

Tetapi….siapa yang dapat mengetahuinya?

Sungmin menarik nafas panjang, mengambil kertas lusuh pemberian Kangin lalu menekan semua nomor dengan cepat dalam telepon genggam Kyuhyun

Tuut…..Tutt….

 

KLIK

 

“Halo?”


Sungmin tertegun. Suara sesosok perempuan yang begitu ia rindukan terdengar begitu nyata. Tangan kanan Sungmin semakin meremas telepon Kyuhyun lebih kuat. Dengan susah payah, ia akhirnya berhasil membuka suara, “Umma?” bisiknya pelan

“……”

 

Karena tidak ada jawaban dari seberang sana, Sungmin mengulangi perkataannya, “Umma?” katanya mulai takut jika ia salah sambung

“Sungmin? Itukah kau?” suara dari sana terdengar bergetar—tidak percaya

                                                                                                                                   

“Umma…” Sungmin mulai menangis lagi. Setiap isak tangisnya terdengar jelas pada sambungan telepon mereka membuat sosok Ibunya berbicara dalam tempo cepat

“Sungmin! Kau di mana? Kenapa kau malah meninggalkan Umma? Apakah kau juga membenci Umma karena perceraian itu? Maafkan Umma..” sepertinya keadaan Ibu Sungmin sama seperti anaknya saat ini. Suara tangis mereka saling bercampur menjadi satu dalam setiap pembicaraan

Sungmin menggeleng perlahan meski Ummanya tidak mungkin dapat melihat, “Aku yang seharusnya bertanya? Umma berubah semenjak perceraian itu—Umma membenciku bukan? Aku mendengarnya Umma!” Sungmin terus berbicara penuh emosi yang berkecambuk dalam dirinya, “Umma takut dengan kemampuanku—Umma….hiks……jadi aku berpikir lebih baik aku pergi dari rumah agar tidak membebani Umma lagi karena mengingat perceraian setiap melihatku….”

“Ya Tuhan….Sungmin…..perceraian adalah saat saat terberat dalam hidup Umma. Waktu itu, Umma mencari kesalahan sekecil apapun sehingga Appamu memilih jalan cerai….memang Umma ikut menyalahkan kemampuanmu—tapi itu hanya untuk sementara! Bukan berarti, kau harus kabur dan menghilang selama hampir setahun! !” terdengar desahan panjang dari seberang sana sebelum mulai berbicara lagi, “Akhirnya Umma mengerti—mungkin ini adalah takdir Umma….tetapi Umma benar benar tidak menyesal memilikimu Sungmin. Hanya kau harta Umma sekarang, tidak ada lagi. Dan ketika kau pergi…….”


“Umma…”

 

Kembalilah….Umma….” suara Ibu Sungmin kembali menangis kencang, membuat air mata Sungmin turun sendirinya, “Umma merindukanmu….”

 

Sungmin menggigit bibirnya seraya mengangguk dalam dalam, “aku juga merindukanmu, Umma…” Sesekali, ia tertawa di sela sela tangisnya—namun ini berbeda. Sungmin benar benar tertawa bahagia, mensyukuri semuanya dalam kebisuan malam

Dan sekali lagi keajaiban itu muncul.

Sungmin akhirnya tahu maksud dari perkataan Kyuhyun barusan sebelum meninggalkannya sendirian,

“cobalah berbicara dengannya….dan kau akan menemukan jawabanmu sendiri”


*****

 “Sungmin kemana sih! udah ngga masuk sekolah, dia juga ngga bisa di hubungin!” Kyuhyun mondar mandir di tempat kerja sementara Kangin menatapnya—mencoba sabar karena dari tadi Kyuhyun mengulangi perkataannya setiap 15 menit sekali sambil menunggu sosok Sungmin di depan pintu

“kenapa kau begitu khawatir?” pancing Kangin menggoda Kyuhyun yang terus terlihat cemas, “urusan Sungmin kalau dia juga tidak masuk kerja kan?”

Sejenak, Kyuhyun berhenti melangkah lalu berpaling menghampiri Kangin di meja dekat pintu masuk, “tetapi seharusnya dia memberitahuku! Kami kan sudah berteman” jelasnya ringan namun tetap memalingkan muka melihat seringaian lebar dari wajah Kangin

“teman? Apa tidak lebih?” goda Kangin lebih jauh

Kyuhyun membalas Kangin dengan senyum acuh, “tidak—aishh, jangan bersikap seperti itu Kangin-shi, aku tidak mungkin mencintainya” jelas Kyuhyun masih mencuri pandang ke arah pintu kedai, berharap ada sosok Sungmin yang tiba tiba muncul dari sana

“Kau mengelak” ucap Kangin pendek

“Apa?!” Kyuhyun terpancing emosi sambil mendelik tidak setuju, “hubungan kami tidak sama dengan bayanganmu dan Leeteuk-shi. Kami hanya….” Kali ini Kyuhyun berusaha menggunakan kalimat yang tepat agar Bossnya itu bisa mengerti, “hmm….membutuhkan, mungkin”

Kangin menarik nafas panjang sebelum menegakkan diri dan menatap lurus ke arah Kyuhyun, “kau tidak mencintainya tetapi hanya membutuhkannya begitu?” ulang Kangin perlahan. Kyuhyun mengangguk tegas mendengar ucapan Kangin, “betul—aku tidak—“

Kangin mengangkat tangan—meminta interupsi, “apakah kau juga merasa kasihan, bersimpati dan sebagainya? Merasakan semua itu bersamaan kepada Sungmin?”

“Iya” jawab Kyuhyun jujur, “apa maksud pertanyaanmu Kangin-shi?”

Kangin terdiam sejenak—sepintas Kyuhyun bisa menangkap tatapan aneh dari kedua mata Kangin ketika pandangan mereka bertemu, “berarti aku benar—kau memang mencintainya. Aisssh—susah sekali sih kau mengakuinya saja kepadaku” Ia berdiri tegak, merenggangkan diri sebelum mengambil jaket dari gantungan di depan pintu masuk tanpa menyadari kalau Kyuhyun terkejut dengan ucapannya barusan, “Sudah kubilang aku dan Sungmin tidak—“

“tidak apa? Tidak saling menyukai? Kalian saling membutuhkan Kyu. Kau mengasihinya dengan caramu sendiri dan Sungmin membalasnya. Apa itu yang bukan namanya jatuh cinta?” tutur Kangin lugas

Kening Kyuhyun berkerut bingung, “bukankah jatuh cinta itu seperti saling malu malu, mendekati satu sama lain lalu berpacaran dan….” Ia mengangkat bahu, “sementara aku dan Sungmin tidak bersikap aneh sama seperti orang orang lain!” elaknya berulang kali

“Karena….” Kangin menepuk pundak Kyuhyun pelan sebelum beranjak pergi dari kedainya sendiri untuk menemui Leeteuk, “hubungan kalian berdua lebih kuat dari itu. Siapapun bisa melihatnya Kyu, sudah aku mau pergi dulu—kalau Sungmin belum datang juga, kau harus bisa menangani semuanya sendiri, bye” ucap Kangin menghilang dari balik pintu, meninggalkan Kyuhyun yang semakin bingung dengan pikirannya sendiri

“Aku dan Sungmin? Aishh—tidak mungkin, sebaiknya aku membereskan gelas gelas di belakang” gumam Kyuhyun berusaha mengalihkan pikirannya dan bergegas pergi ke dapur kalau saja tidak mendengar pintu depan terbuka keras

KLINGG

“Sungmin?” Kyuhyun segera berbalik karena mengira Sungmin telah datang. Tetapi sayang, wajahnya berubah kecewa melihat sesosok wanita ramah masuk ke dalam café Kangin, “maaf Nyonya, tetapi kedai kami belum buka jadi—“

“Kamu Kyuhyun kan?” balasnya tidak menghiraukan ucapan Kyuhyun, “kau tidak mengingatku?”

Kyuhyun mengamati secara seksama wanita di depan ini. Dan ketika ia tersenyum, Kyuhyun menahan nafas melihat kemiripan yang jelas antara wanita ini dengan…..,”Anda Ibu Sungmin?” tanyanya kaget

“Betul. Aku kemari ingin berbicara dengan Boss kalian namun..” pandangan Adjumma itu menyapu ke sekeliling ruangan, “nampaknya dia sedang tidak ada. Boleh aku menitipkan pesan kepadanya?”

Kyuhyun yang masih tercengang langsung merubah raut wajahnya sambil mencoba berbicara dengan lancar, “Anda sudah bertemu dengan Sungmin?” tanyanya sopan bercampur rasa penasaran

“Sudah” jawabannya itu membuat Kyuhyun tersenyum lebar meski reaksi Ibu Sungmin malah terlihat sebaliknya, “dan maka dari itu, aku mau meminta ijin kepada Kangin-shi untuk memberhentikan Sungmin dari café ini. Dia akan kubawa ikut serta pergi keluar negeri”

Senyum Kyuhyun menghilang seketika

“Pergi? Sungmin?” bisiknya datar

Ibu Sungmin mengangguk pelan, “kemarin ia meneleponku. Kami membicarakan banyak hal…” kebiasaan Sungmin yang selalu meremas kedua tangannya ketika berbicara hal serius ternyata menurun dari Ibunya. Dia pun berbuat hal yang sama ketika berkata demikian dengan Kyuhyun, “Kami sudah lama berpisah Kyuhyun……aku tidak mungkin membiarkan Sungmin seorang diri lagi di Korea ketika aku akan pergi dinas keluar negeri” jelasnya

“Tapi—“ Kyuhyun menganga tidak percaya, sejenak langkahnya mundur mengenai ujung meja—melukai tulang belakangnya. Tetapi bukan rasa sakit yang di hiraukan Kyuhyun—ia hanya menangkap satu hal dari percakapan mereka.

Sungmin akan pergi meninggalkannya

“Dimana dia?” hanya itu hanya sanggup di ucapkan Kyuhyun sekarang

Ibu Sungmin meremas tangannya sekali lagi, “Sungmin di rumah—sedang bersiap siap” matanya bergerak gelisah, “aku kesini karena Sungmin merasa tidak enak jika pergi begitu saja tanpa meminta ijin dari Kangin-shi”

“Apa dia tidak—“ suara Kyuhyun tercekat seketika, “tidak punya pesan apapun untukku?” lanjutnya berusaha bersikap sedatar mungkin walaupun ada perubahan besar dari mimik muka Kyuhyun—ia terlihat terluka

Tatapan sendu Ibu Sungmin sudah menjadi jawaban bagi Kyuhyun, meskipun begitu—ia tetap mengatakannya di depan lelaki itu, “Tidak. Sungmin tidak mengatakan apapun tentangmu”

“Oh” Kyuhyun bergerak gugup—serba salah. Tidak tahu mau melakukan apa

“Ah—sudah waktunya” ucap Ibu Sungmin melirik jam tangannya, “aku harus pergi, sampaikan salamku kepada Kangin-shi”

“Baik” balas Kyuhyun hampa. Ia hanya mematung di tempat sampai menyadari bunyi sepatu hendak membuka pintu kedai. Seketika itu juga, tubuh Kyuhyun refleks bergerak, dengan satu tangannya yang bebas ia menghentikan langkah Ibu Sungmin, menatapnya penuh harap sebelum membisikkan sesuatu di telinga wanita paruh baya itu sampai sampai kedua mata Ibu Sungmin membulat penuh mendengarkan setiap kata yang di ucapkan Kyuhyun

“Tolong sampaikan pesanku kepada Sungmin” Kyuhyun menarik dirinya setelah selesai berbicara. Untuk kali ini, ia tidak akan menahan kepergian Ibu Sungmin lagi

Ibu Sungmin tersenyum lembut. Di tepuk pipi sebelah kanan Kyuhyun sebelum menggenggam tangannya sendiri, “pasti….baiklah—aku pergi dulu, Kyuhyun” dan sekarang Ia benar benar pergi. Meninggalkan sesosok namja sendirian di dalam café dengan perasaan berkecambuk

Sesekali Kyuhyun menarik nafas sambil beranjak dari situ untuk meneruskan pekerjaannya. Tetapi ketika tatapannya melihat satu ruangan besar yang menjadi tempat kerjanya selama ini—terasa sangat sepi.

“Hmm, mungkin sebaiknya aku kerja lagi” kata Kyuhyun berusaha menyemangati dirinya sendiri sambil melangkah kembali ke belakang meja untuk menyusun gelas gelas seperti biasa. Kedua tangannya bergerak cekatan, meski pikiran Kyuhyun melayang entah kemana. Ia sama persis seperti Ayahnya ketika sedang ada masalah—lebih memilih kesibukan daripada memikirkan masalah itu berlarut larut

“Sungmin…” gumam Kyuhyun tanpa sadar sambil mengelap gelas yang sama hingga berulang kali. Kenapa dalam keadaan seperti ini, kehadiran Sungmin sangat terasa bagi Kyuhyun.

Ia benar benar kehilangan…

KLINGG

Seorang yeoja masuk ke dalam tanpa mengucapkan salam sebelumnya. Bibirnya mendesah lega melihat Kyuhyun sedang melamun sambil mengerjakan bagiannya di depan meja. Tubuh yeoja itu berjinjit—tidak menimbulkan suara sebelum tiba tepat di samping kiri Kyuhyun lalu menepuk bahunya pelan, “KYUHYUN!” Teriaknya bermaksud mengagetkan lelaki tersebut

Anehnya Kyuhyun tidak terkejut. Kepalanya hanya tergerak sedikit seraya berpaling menghadap ke sumber suara. Matanya melebar heran, ia meneliti orang di depannya dengan raut wajah sulit terbaca, “Kau? kau Sungmin?” sekarang Kyuhyun benar benar terkejut

“Iya” jawab Sungmin mendengus kesal karena risih melihat tatapan aneh Kyuhyun, “maaf aku tadi tidak mengangkat teleponmu—habis Umma menyuruhku ini itu, lihat saja—aku baru bisa sampai jam segini tiba membantumu…” Sungmin terus menjelaskan panjang lebar tanpa menyadari Kyuhyun tetap melihatnya tidak percaya, “Stop! Tetapi Ibumu tadi datang! Dan bilang kalau kau akan pergi ke Luar Negeri bersamanya—pergi dari Seoul, jadi….”

“Oh itu” sekarang giliran Sungmin yang bersikap aneh. Ia merundukkan kepala menghindari tatapan Kyuhyun yang terus menuntut penjelasan, “aku sudah menolak, bukan karena aku tidak menyayanginya…tapi aku kan masih harus sekolah. Akhirnya Umma mengalah—ia membiarkanku tinggal di rumah seorang diri sementara Umma berjanji akan sering sering pulang untuk menjengukku”

Beban pikiran yang dari tadi terus menghantui Kyuhyun akhirnya terangkat bebas. Ia tersenyum simpul sambil terus melirik Sungmin di sampingnya, “tenang saja—kan ada aku, nanti aku akan sering sering mampir ke rumahmu” janji Kyuhyun kembali bersemangat mengelap gelas hingga bersih mengkilap sementara Sungmin mengangguk setuju sambil memakai apronnya, “aku tahu—makanya kemarin malam ketika Umma datang menjemputku, aku bilang agar dia tidak khawatir meninggalkanku di Seoul karena kau akan menemaniku” kata Sungmin ikut membantu Kyuhyun membereskan meja

“Tapi” Kyuhyun meninggalkan pekerjaan, “kalau begitu kenapa Ibumu tadi datang kemari lalu meminta ijin untuk menyampaikan pesan kepada Kangin-shi karena kau akan berhenti?!”

“Tidak” Sungmin menggeleng bingung, “aku tidak pernah berkata begitu, aku hanya bilang pada Umma….” Pandangan Sungmin berubah kosong mengingat pembicaraan ia dan Ibunya semalam ketika mereka sudah bersama sama lagi berada di rumah lamanya, “apakah dia mengatakan sesuatu kepadamu?” mendadak sikap santai Sungmin hilang, “apa tepatnya yang Ibuku katakan?” desaknya sambil menepuk lengan Kyuhyun pelan

“Ia mengatakan kalau kau akan di bawa pergi bersamanya keluar negeri” kata Kyuhyun sejujur jujurnya

“lalu? Apalagi?” tanya Sungmin tidak percaya kalau Ibunya hanya mengatakan itu. Sungmin takut sekali kalau Ibunya berbicara tentang obrolan mereka tadi malam

“Aku bertanya, ‘apakah Sungmin mengirimkan pesan untukku’ dan jawaban Ibumu, ‘tidak’ “ ucap Kyuhyun sambil termenung tidak memandang Sungmin, tiba tiba Kyuhyun merubah posisi berdirinya sehingga mereka saling bertatapan, “apakah kau akan benar benar pergi tanpa berpamitan kepadaku Sungmin?”

“Tidak! Kyuhyun” sanggah Sungmin menggeleng kuat, “aku bahkan memilih tetap tinggal di Seoul karena ada ka..” Sungmin menganga lebar dan merutuki kebodohannya sendiri karena sekarang Kyuhyun semakin penasaran dengan perkataan Sungmin

“karena ada apa?” tuntut Kyuhyun tidak sabar

“Aishh—sudahlah, itu tidak penting” kata Sungmin menggampangkan, “yang penting aku tidak jadi pergi bukan?”

“Ya….” Kyuhyun kembali memandang lurus ke depan, “untung saja….kau tahu, ketika mendengar Ibumu sendiri datang tanpa kau lalu mengatakan itu semua…..aku sangat terkejut”

“Aku tahu—“

“Tidak kau tidak tahu rasanya” suara Kyuhyun berubah tajam sambil berpaling menatap ke dalam kedua mata Sungmin yang berwarna cokelat, “aku akan kehilanganmu” bisiknya lembut, “aku membutuhkanmu Sungmin” sambung Kyuhyun tanpa melepaskan pandangannya

Sesaat Sungmin lupa caranya bernafas. Ia harus menarik nafas dalam dalam agar dapat berbicara, “aku juga…” Sungmin meremas kedua tangannya pelan, “kau kira kenapa aku meminta Umma agar mempercayaiku tinggal seorang diri di Korea….karena ada kau….aku punya seseorang untuk di andalkan”

Kyuhyun tersenyum manis mendengar itu. Ia terus mendekat ke arah Sungmin, “waktu Ibumu ingin pulang, pikiranku langsung kacau—mungkin aku tidak bisa menemui lagi sebelum berangkat, jadi aku memutuskan untuk membisikkan sebuah pesan kepada Ibumu….apa kau ingin tahu isi pesan itu?” katanya lambat lambat sambil menyentuh rambut di pinggiran Sungmin yang menutupi telinganya

“Apa?” tanya Sungmin agak gugup

Di biarkannya Kyuhyun merunduk sejajar dengan kepalanya lalu berbisik pelan tepat di telinga Sungmin. Suara berat Kyuhyun terdengar jernih dari sana, “aku bilang…..aku membutuhkan Sungmin, aku mengasihaninya, aku simpati kepadanya dan aku baru sadar aku bersikap begitu karena…aku mencintainya….aku mencintai anakmu” satu tarikan nafas menyapu tekuk Sungmin sebelum Kyuhyun kembali menegaskan ucapannya, “aku mencintaimu Sungmin”

Dan ketika Kyuhyun menarik wajahnya, ia mendapati bulir bulir air lembut mengalir dari kedua mata Sungmin. Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk menghapus jejak jejak air mata itu, “tadi malam…aku memohon pada Umma agar membiarkanku tetap tinggal di Seoul….” Sungmin terus menangis pelan, “karena aku memikirkanmu Kyu….aku akan sangat menyesal kalau pergi dalam keadaan seperti ini..”

“Berarti tidak ada yang perlu di khawatirkan, kau tidak akan meninggalkanku” ujar Kyuhyun menarik tubuh mungil Sungmin ke dalam pelukan—lebih erat dari sebelum sebelumnya. Ia bahkan mengangkat Sungmin dari lantai dan mengambil alih seluruh berat tubuh Sungmin, “I Love u…” bisik Kyuhyun sambil mencium bahu Sungmin

Sungmin mengangguk dalam pelukan Kyuhyun. Ia menarik sedikit kepalanya untuk memberi jarak agar bisa berbisik ke telinga Kyuhyun, “Of Course I Love U….” balas Sungmin sepenuh hati sebelum kembali membenamkan diri dalam tubuh Kyuhyun—menikmati saat saat dengan Kyuhyun lebih lama

 THE END

28 responses to “≈Of Course I Love U-{Kyumin}≈ Part 2

  1. Kyumin happy ending*horee*onn bgs bgt dech..^^ ternyata itu kerjaanya kangteukhancul ,ama mamnya sungmin toh*shock*q pikir sungmin benaran pergi..*syukur2*onn saranghae hug kiss..bgs bgt onn ff nya..always HWAITING y onn..:D ^^

  2. di awal airmata ngalir tak terduga, eh giliran di akhir malah ketawa gara2 tingkahnya KyuMin..
    ckckck~

    jadi pengen ketemu Sungmin yang ada di karakter ff ini, pengen minta diliat jodoh Vio nti siapa wkwkwkwk~

    eonni udah minta liatin jodohnya sama Sungmin belum, siapa tau jodong ama SeungHwan? #amin…
    🙂

  3. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.. Saya gilaaaa!!! Huuuaaaa sebas onn :’) gak tau mau ngomong apalagi.. Gw gila bacanya!!! Daebak bgt onn!! Emang setiap ff yg lo buat pasti memiliki makna & nasehat2 yg amat sangat berguna bagi readers.. Itulah salah satu kelebihan lo onn.. Lo bikin ffnya penuh penghayatan&cinta,sehingga gw bisa ngerasain & larut dalam ceritanya.. Apa yg dialami ama castnya juga gw rasain.. Mereka sedih,gw juga ikut sedih,mereka bahagia,gw juga ikut bahagia.. Gw bener2 udah larut dalam ceritanya onn.. Thanks banget buat lo onn.. Kerja keras lo membuahkan hasil.. Semua ff2 lo bisa diterima dengan amat sangat baik.. Pesan gw cuma satu.. Tetaplah terus berkarya,tapi jangan terlalu memaksakan diri juga.. Semangat! Itu lah yg sangat dibutuhkan,gw slalu mendukung lo onn🙂 thanKYU my lovely author🙂 HWAITING!!!! ^O^/

  4. kyaaaaaa eonnie … menangis dalam kegembiraan …
    the greatest story .. saranghae eonn ^^

    akhirnya mereka menyadarinya juga .. aku suka banget kata kata eonn yang untuk orangtua ..

    dari setiap kata2 eonn yang mengandung arti mempengaruhi qu eonn dapet banget hal hal positif setiap baca ff eonn ..
    gamsahamnida nae author nae eonnie❤

  5. eumm…
    Bagus banget deh critanya. aku menghayati banget dech ma critanya.

    Good job… I like it

  6. karna aku nggak bisa komentar apa apa..
    Aku hanya tinggalkan jejak aku disini.
    Bahwa aku udah baca ff onnie..

    Di lanjut terus yah onn…
    Aku menanti ff yang lain lain..

  7. hwaaaaa!!! keren onn, keren bnget
    biz ngerjain tugas, lngsung baca fic onni
    keren, keren, keren,..
    sbenerny q dah tau lumayan lama sih
    cuma, akhirny, finally kebaca juga..
    ❤ OfCourseILoveYouSebastianMamoru❤

  8. nangiiisss.. nangiisss bacanya pas yg baikan sm umma kyumin.. T______T

    tp happy ending!! ciyeee kyu cinta umin~~ kikiwww~~~ so sweeeeeetttt >o<

  9. yay.. love kyumin !!
    eonni sebas daebak !!
    eonni bkin ff kyumin lg ya !! hehe
    go~ma~wo~..

  10. astaga..! bodohnya gw… >..<

    akhirnya happy ending.. ^^

    sebas… gw terharu sama ceritanya ^^

  11. huaaaaaaaaaa~ romantisnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….

    aku suka banget mslh yg di bangun di FF ini, sumpah….

    paling gak semua orang punya semanagt untuk hidup, gk ada alsan untuk ngeluh kan?!

  12. ka sebas harus tanggung jawab!
    Gara gara ff ini aku dikira orang gila sama ade aku! Nanti ketawa nanti nangis! Tanggung jawab atau seunghwan oppa aku ambil #plak*dipukul ka sebas pake ff (?)*

  13. Yey HAPPY ENDING
    sangat manis….

    ma’af Oenn klo comment’nya ancur..
    cz spt yg aq blag d comment sblumnya klo aq bcanya kmaren,,
    hhe
    aq cma ingin ninggalin jejak sbgai slah satu reader setia Oenn,, ^^
    Of Course I Love U Onnie~

  14. Suka! Suka bgt!
    Otak dan hati lu terbuat dari apa sih kak Mit? Kok buat FF, hasilnya bagus bagus semua. Sumpah, FF lu selalu ngehibur gw.
    Makasih, meski FF ini bukan buat gw, tetep aja gw pengen berterimakasih. Karena karya lu, berhasil narik gw. Makasih ^^

  15. hahh akhirnya kyumin bahagia..
    kyu yang ga salah paham sama orangtuanya.
    min yang ga salah paham juga sama ibunya.
    akhirnya keluarga mereka dan kyumin bahagia.
    ya ampuunn min pasti mukanya merah tuh di bisikin kyu yg nyatain perasaannya ^^
    senangnyaaa~

  16. aaaaaa!!! yang waktu moment kyu sama emaknya sedih bgt~~ T.T
    akhirnya!!! jodoh itu.. gak kemana! *tosbareng kyu…
    lega bgt perasaan yg kyk gini. kkkk aku udah tamatin satu..

  17. AAAAAAAA……KYUMIN……
    meskipun kisah cintanya tidak se-lama yewook, tidak seromantis kangteuk….tidak mulus sibum…..dan tidak seperti eunhae & hanchul yg diawali dengan sebuah ketertarikan yg jelas…
    tapi kisah Kyumin lebih Daebak….
    mereka bahkan ikut andil disetia kisah cinta hanchul, kangteuk, yewook, sibum & eunhae,,,
    bahkan diantara kisah cinta orang tua mereka…
    tp justru itu yg membuat mereka jd saling terkait satu sama lain…dan jd saling membutuhkan satu sama lain… ^_^
    Kyumin love Story is the best,,,😀

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s