≈Of Course I Love U-{Kyumin}≈ Part 1

 

 

Aku mencintaimu dengan caraku sendiri

Dalam segala kerendahan hatiku dan tekad bulatku, berharap jika kau menerima maafku

Begitu banyak kata kata yang ingin ku susun indah untukmu—wahai pembangkit keriangan dalam kesusahanku. Tetapi kini aku datang, mengulas senyum terindah yang di persembahkan untuk orang di depanku

Berdiri terpisah oleh jarak, waktu dan suasana.

Kita jauh—tetapi sama sama terikat  akan sesuatu

Ketahuilah—aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu, mengisi hari harimu dengan duniaku yang aneh. Berharap kau bisa tersenyum di kala sedih, tertawa dalam keterpurukan dan mengingat hal hal indah dalam nuansa teduh

Sekarang ijinkanlah aku mempersembahkan bagian dari diriku untukmu—bagian di mana sudah aku tunda setelah sekian lama….

Hanya untukmu……orang orang yang membalas cintaku dalam bentuk terdalam dari seorang manusia

Inilah kisah itu…

 

≈Of Course I Love U-{Kyumin}≈

 

Cinta itu penuh ketidakterbatasan

Kau bisa membaginya dengan beribu orang tanpa mengurangi porsi seorang kepada yang lain

Cinta itu ajaib

Dia bisa membalikkan keadaan bahkan melebihi khayalan tertinggimu

Cinta itu……iyalah dirimu sendiri

~0~

 

 


“Aku” Kyuhyun memiringkan kepala untuk menggoda Sungmin, “aku jodohmu bukan?” tanyanya restoris

…………….

“Tetap saja” Kyuhyun menatap Sungmin dengan raut wajah yang tidak terbaca, “aku ingin  mendengarnya darimu—sebagian….lagi”

Sungmin menoleh enggan, “nanti, jam pulang” jawabnya singkat

…………………

 


“Sungmin”

“Hmm”

Kyuhyun menengadah dengan jengkel bercampur jengah, “kita akan tutup sebentar lagi, kau tidak ingat Kangin-shi berpesan seperti itu tadi?”

“aku tahu” timpal Sungmin sambil mengangkat satu persatu bangku ke atas meja, “kalau aku tidak tahu buat apa aku melakukan ini” balasnya tajam ke arah Kyuhyun

Memang benar sekarang hari menjelang malam. Ryeowook dan Yesung bahkan sudah menutup kedai mereka lebih awal karena akan pergi berdua ke taman kota.

Hanya toko bunga Heechul yang masih buka karena sedang melayani pelanggan terakhirnya. Kyuhyun sejak setengah jam yang lalu sudah membalikkan papan di depan pintu lalu membantu Sungmin membereskan meja.

“Kau tidak ingat ada hutang apa denganku?” pancing Kyuhyun ketika selesai mengangkat bangku terakhirnya sementara Sungmin melepaskan apron dari tubuhnya

Mendengar itu Sungmin menghela nafas panjang, “apa yang mau kau ketahui?” ia berbalik bertanya sambil mengalihkan perhatiannya menerawang jauh ke depan—di mana Heechul sedang merekomendasikan sejenis bunga kepada sepasang suami istri paruh baya yang menjadi tamunya

Kyuhyun mengangkat bahu—acuh, “hmm, semuanya. Sebenarnya aku sudah bisa menebak, tetapi kau terlalu aneh untuk di jelaskan. Bagaimana bisa kau mengetahui sesuatu….er…seperti….” ia sengaja menggantungkan kalimatnya karena tidak menemukan kata kata yang tepat untuk menggambarkan kelebihan Sungmin yang Kyuhyun ketahui tanpa sengaja

Meneliti sikap Kyuhyun yang tetap santai, Sungmin agak merasa lega. Ia berpikir sejenak sebelum menjelaskan semuanya, “dari kecil—aku lupa kapan tepatnya, aku bisa melihat seseorang yang terikat dengan orang lain jika aku men……”

Kepala Kyuhyun melengok ke samping, “kau kenapa? Sungmin?” tanyanya karena tiba tiba Sungmin berhenti berbicara

Ternyata pandangan Sungmin menembus hingga keluar kaca depan café yang transparan. Suaranya tercekat—kehilangan tenaga dan wajahnya berubah tercengang mendapati siapa sebenarnya tamu Heechul barusan

“Terima kasih, lain kali kembali” ujar ramah Heechul ketika mengantar tamunya keluar dari toko.

Sepasang suami istri itu berbalik menuju jalan besar tanpa menyadari jika Sungmin mengawasi dari dalam.

“Appa…” bisik Sungmin melihat sosok lelaki yang tengah bergandengan mesra dengan seorang wanita.

“Appa?” ulang Kyuhyun bingung, “Eh Sungmin kau mau kemana?” ia mendapati Sungmin segera keluar dari café dengan terburu buru, sedikit berlari agar bisa melihat kedua orang itu lebih jelas.

Wajah Sungmin memucat, bibirnya bergetar hebat, “Appa…” tangannya memegang kemeja bawahnya dengan erat. Pemandangan yang selama ini ia hindari—ternyata kembali menghantui Sungmin

Sosok lelaki yang di sebut Sungmin sebagai Appa itu sesekali tersenyum manis penuh sayang kepada perempuan di sebelahnya yang membalasnya dengan memeluk sebelah lengannya lebih erat

Tidak ada yang bisa di lakukan Sungmin

Dengan susah payah, di seretnya langkah kembali ke café Kangin dalam kebisuan. Ia bahkan mengindahkan panggilan heran dari Kyuhyun

“Maaf—aku mau pulang sekarang juga” elak Sungmin memotong cecaran omongan Kyuhyun

“Tapi—“

“Sudahlah Kyuhyun!” Sungmin yang tadi sudah mau berjalan keluar menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat Kyuhyun, “lagipula apapun tentang diriku tidak akan berpengaruh kepadamu bukan? Kenapa sih kau ingin tahu?” suara Sungmin yang meninggi berhasil membungkam Kyuhyun

Sejenak Kyuhyun menghela nafas, “sepertinya kau memang perlu pulang..kita bisa membicarakan itu lain kali” katanya mengalah

Sungmin menggeleng sedih, “jika aku menjadi kau….aku akan berhenti mencari tahu…..Kyuhyun” selesai mengucapkan itu, Sungmin melanjutkan langkahnya keluar dari café Kangin. Langkahnya lunglai berjalan datar tanpa menyadari betapa semerbak gemerlap jalan pada malam hari. Ia merasa sangat sendirian.

Tatapannya memutar beberapa orang lalu lalang, tertawa riang tanpa beban. Berbeda dengan dirinya yang sudah lupa kapan ia pernah segembira itu. Pikirannya terhubung dalam ingatan kecil, setahun yang lalu…

“Aku tidak terima perceraian ini!”

“Hyera, aku—“

“Kau berani berselingkuh di belakangku!! Dan bermaksud menikahi wanita sialan itu!! Apa kau tidak ingat kau masih punya aku….aku istrimu!!….putri kita….Sungmin…”

Kedua mata Sungmin mulai menghangat. Setetes air mata turun membasahi wajahnya. Ia semakin mempercepat langkahnya agar sampai di sebuah rumah bobrok yang di sewa semenjak waktu itu. Dia membuka pintu secara kasar setelah itu buru buru masuk ke dalam kamar, membungkus dirinya dalam selimut usang lalu berusaha memejamkan mata walaupun Sungmin tidak bisa menghalau potongan ingatan ingatan yang malah terpampang jelas seperti putaran film

“Kita tidak cocok……”

“Jangan pernah menggunakan alasan segampang itu!! Kau memang tidak setia kepadaku!!!”

“Aku tidak!!!! Kau sendiri tahu Hyera!!! Sungmin pernah bilang bukan?? Kalau kita tidak berjodoh! Kau dan aku……”

“Sungmin? Kau percaya dengan ucapan anak 9 tahun? Dia kan hanya—

“Tidak…Hyera…kau tahu….dia benar benar tahu…..”

“TIDAK!!” erang Sungmin bangkit dari tidurnya sambil mencengkram kedua sisi kepalanya dengan tangannya yang masih terkepal. Ia menggelengkan kepala perlahan—berusaha menghalau semuanya dalam satu waktu, walaupun percuma

Ingatan mengerikan itu, akan selalu datang dan menghantui Sungmin

“tidak…..tidak….” Sungmin tertunduk dan menangis. Ia bahkan tidak peduli akan rasa sakit yang berputar berdengung di sekeliling kepalanya, “Tuhan….tidak…..aku tidak mau lagi…..aku tidak mau lagi…..ambil saja….aku tidak mau melihat lagi…” gumam Sungmin entah untuk yang berapa kali.

Kekuatan yang ia punya malah menjadi boomerang bagi kehidupannya sekarang

“Kumohon….aku tidak pernah menginginkannya….hiks…ambil lagi saja….” Sungmin terus menangis dalam kegelapan dan meraung entah kepada siapa. Tetapi pertemuan tidak sengaja tadi telah mengorek kembali sesuatu menyakitkan dalam hatinya. Perlahan, Sungmin merebahkan diri, meringkuk sambil memeluk tubuhnya sendiri lalu mengulang ulang perkataannya yang sama

*****

-Esok hari-

Sungmin benar benar mencoba bangun untuk berangkat sekolah. Ia merapikan seragamnya yang mulai memudar karena keseringan di pakai—belum lagi sepatu satu satu miliknya yang sudah rusak. Ia menghela nafas panjang sebelum pergi keluar dari rumah. Semenjak tinggal seorang diri, Sungmin terbiasa tidak pernah sarapan untuk menghemat uang makan.

Di sekolah pun sama, Sungmin selalu pergi ke perpustakaan setiap kali istirahat. Ia baru akan makan siang—nanti di tempat kerja karena Kangin-shi selalu menyediakan makanan sebelum mereka berdua bekerja seharian

Tetapi istirahat sekarang berbeda. Tiba tiba wali kelasnya memanggil Sungmin ke ruang guru, “Sungmin, sebentar lagi sekolah akan mengadakan pembagian raport, apakah kali ini orangtuamu bisa hadir?” tanyanya lembut

Sungmin menelan ludah dengan susah payah, “maaf Pak sepertinya tidak bisa—Ibu saat itu belum kembali dari luar kota” jawab Sungmin berbohong

“Oh” meski Wali kelasnya tidak begitu percaya, ia lebih baik mengangguk mengerti, “baiklah…..mungkin lain kali, Bapak hanya ingin bertemu dengan orangtuamu—semenjak masuk sekolah, mereka tidak pernah datang ke sekolah” perkataan lugas sang wali kelas berhasil membuat Sungmin merasa bersalah.

“maaf—“

“Sudahlah! Ini bukan kesalahanmu” potong wali kelas tidak enak melihat Sungmin yang menunduk, “sana kembali saja ke kelas” usirnya halus

Sungmin memohon diri lalu menutup pintu ruang guru. Sepanjang koridor pikiran Sungmin berputar keras. Tidak terhitung berapa orang yang ia bohongi, yang Sungmin tahu dirinya hanya mau melarikan diri dari semua masalah ini. Tetapi ketika dia berhasil—lihatlah apa yang malah ia temukan?

“kenapa aku harus bertemu dengannya” bisik Sungmin amat pelan. Ia terus berjalan lurus menuju tempat favoritnya—perpustakaan.

____

“Sungmin, wajahmu pucat” komentar Kangin ketika melihat Sungmin sudah sampai lebih dulu sebelum Kyuhyun menyusul dari belakang.

Mendengar itu, Sungmin spontan bercermin di etalase toko. Benar saja, bibirnya kering dan wajahnya sayu karena menangis sampai tertidur, “mungkin saya hanya butuh istirahat sebentar, nanti juga terbiasa” jawabnya mudah namun Kangin menolak keras, ia mendudukkan Sungmin ke dapur lalu mengambil makan siang untuknya, “kau makan saja, biar aku dan Kyuhyun yang beres beres hingga jam makan siang”

Sungmin menengadah hendak mengucapkan terima kasih, “ah ya—aku tahu” elak Kangin bahkan sebelum Sungmin mengatakannya, “habiskan saja makananmu ini” nasihat Kangin kemudian kembali ke depan untuk membantu Kyuhyun

Selama satu setengah jam—saat makan siang orang orang kantor, Sungmin menghabiskan makanan di belakang, minum obat pusing dari kotak P3K lalu melamun—memikirkan segalanya bersamaan

“Hei, kau sudah sehat?” suara Kyuhyun yang datang menghampiri kursi Sungmin berhasil mengagetkannya, “lumayan” jawab Sungmin datar sambil melirik Kyuhyun sesekali

“Kyuhyun?”

“ya?”

Sungmin menggeser tempat duduknya mendekati kursi Kyuhyun, “apa kau pernah berpikir? Satu kali saja……untuk memiliki perasaan khusus kepadaku?”

“apa maksudmu Sungmin?” tanya Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya—tidak mengerti

“Sudah! Jawab saja pertanyaanku” kata Sungmin tidak sabar

Kyuhyun meneliti wajah Sungmin untuk tahu apa arti sebenarnya dari pembicaraan konyol ini, “tidak. Tapi—“

Sungmin tidak menjawab apapun. Ia meletakkan tangan di atas tangan Kyuhyun lalu menutup kedua matanya. Tidak lama kemudian, Sungmin perlahan lahan membuka matanya, “dari dulu aku bisa melihat suatu hubungan satu orang yang terhubung dengan orang lain. Hanya itu! Tidak lebih. Hanya saja dalam jarak tertentu. Dan biasanya perkiraanku selalu tepat” jelas Sungmin lancar tanpa emosi dalam suaranya

Kyuhyun akhirnya tahu, Sungmin tengah berbicara mengenai rahasianya yang selama ini sebagian besar bisa di tebak oleh Kyuhyun

“jadi kau….”

“Aku tahu hubungan masa lalu Ryeowook-shi dengan Yesung-shi karena aku menyentuh Ryeowook-shi waktu mereka bertengkar begitu juga dengan Kibum—tamu kita dan Heechul-shi yang terikat dengan Hangeng-shi” sambung Sungmin sambil melepaskan tangannya dari Kyuhyun

Mendengar pengakuan jujur Sungmin, Kyuhyun sempat terpana lalu mengerjap beberapa kali sebelum berhasil mengumpulkan suaranya untuk berkata, “lalu aku benar? Tentang…..kau….aku?”

Sejenak, Kyuhyun menangkap kepedihan dalam raut wajah Sungmin, “kau benar, namun….aku sudah memikirkan hal ini lama” ia terhenti sejenak seraya menarik nafas panjang, “kita memang…..terikat…” lanjut Sungmin tercekat—keliatan sekali ia berusaha keras tidak menggunakan kata sebaliknya, “tapi…kau tidak menyukaiku dan akupun begitu, jadi anggap saja semua ini hanya bualan semata—anggap saja aku sedang bercanda dan kau tidak pernah mendengar ini dari ucapanku”

Kedua mata Kyuhyun menyipit mengamati wanita di depannya saat ini, “boleh jujur tidak Sungmin? Aku tidak mengerti sebenarnya apa maumu? aku kira awalnya kau tidak menyukai kenyataan kita ini…ya….seperti yang kau bilang” kata Kyuhyun memutar kedua bola matanya—tidak dapat di pungkiri ia pun masih tidak percaya ada kekuataan aneh semacam itu, “tetapi sekarang? Kau bersikap seolah olah entahlah…..” Kyuhyun mengangkat bahu—tidak peduli. Ia bangkit berdiri dari atas kursi, “kau lari dari kenyataan” ungkap Kyuhyun tanpa bermaksud apapun tetapi reaksi Sungmin ternyata di luar dugaan

“Jangan pernah menghakimi orang lain tanpa kau tahu apapun!” geram Sungmin ikut berdiri sambil menatap sengit Kyuhyun, “oh ya? Aku tidak tahu tentangmu itu benar Sungmin, tapi siapa sih yang tahu tentangmu? Tidak ada!” balas Kyuhyun sedikit berteriak, “kau menutup diri! Bahkan Heechul-shi saja hanya tahu sedikit saja denganmu. Tidak ada yang benar benar mengenalmu”

“kau tidak tahu alasanku berbuat begitu!” balas Sungmin menandingi suara tinggi Kyuhyun, “aku—“

“Hei hei! Ada apa ini” karena mendengar suara ribut, Kangin-shi yang berada di luar bergegas masuk kemudian langsung melerai Kyuhyun dan Sungmin yang sedang berdiri sambil bertatapan tajam, “jangan bertengkar di tempat kerja! Kyuhyun kembali ke depan, kamu Sungmin cuci piring kotor yang sudah menumpuk. Ayo ayo—tamu kita menunggu” perintah Kangin membubarkan mereka berdua. Di biarkannya Sungmin mengikuti Kyuhyun dari belakang—berjalan ke balik meja untuk mulai menyiapkan hidangan bagi para tamu

“Aishh….dasar anak muda” gumam Kangin pelan

Semenjak hari itu hubungan Sungmin dan Kyuhyun memburuk. Mereka tidak pernah saling menyapa lagi di tempat kerja. Sampai sampai Kangin sudah menyerah untuk mencari tahu—yang penting Kyuhyun dan Sungmin tetap bersikap profesional, mereka berdua hanya berbicara secukupnya ketika melayani para tamu selebihnya…..mereka kembali pada sikap awal—sama sama mengacuhkan

Sebenarnya itu tidak masalah bagi Sungmin. Dia malah agak lega karena tidak ada lagi penghalang yang menjadi penghambat dalam hidupnya. Sungmin hanya ingin sendirian—selalu sendirian

“Hm, aku sudah pernah makan rasa ini” kata Sungmin sambil memilih antara dua bungkus ramen yang di diskon setengah harga dalam tangannya. Ia masih asyik berkutat dengan ramen ramen tersebut hingga sebuah suara berat menyapanya, “kau ada di di sini” katanya. Sontak Sungmin menoleh ke arah sampingnya—di mana seorang namja berdiri dengan sekantung belanjaan di tangannya. Mata Sungmin melihatnya datar, “ini kan tempat umum, aku berhak berada di sini”

Lelaki itu mendesah kesal, “bisa tidak kau bersikap baik sedikit? Aku kan hanya bertanya”

“Tidak untukmu Kyuhyun” balas Sungmin akhirnya memilih ramen rasa rumput laut dan mengambilnya dua bungkus dari rak lalu berjalan ke dekat kasir sedangkan Kyuhyun mengikuti dari belakang

Mereka sama sama menaruh barang belanjaan ke atas meja

“Eh? Ramen semua?” celetuk Kyuhyun melirik isi barang milik Sungmin

Sungmin menoleh malas, “kenapa? Ada masalah?”

“tidak hanya saja…” ucapan Kyuhyun terputus ketika pegawai kasir selesai memasukkan barang bawaan miliknya. Kyuhyun langsung menyusul Sungmin yang berjalan terlebih dahulu keluar supermarket mini tersebut, “Sungmin tunggu!” teriaknya dari jauh

“Apa?” jawab Sungmin tanpa berhenti sama sekali

Kyuhyun perlu sedikit berlari untuk menghampiri Sungmin. Ia menarik nafas panjang sebentar sebelum mengeluarkan sesuatu dari plastik putih belanjaannya, “ini untukmu saja” kata Kyuhyun menyerahkan sebungkus roti cokelat kepada Sungmin

Sungmin sedikit terkejut namun cepat cepat ia mengubah raut wajahnya, “Ah—tidak usah, aku—

“sudahlah!” dengan cepat Kyuhyun memasukkan roti miliknya ke dalam plastik belanjaan Sungmin, “makan ramen terus tidak baik tahu”

“tapi aku memang suka makan ramen” bela Sungmin walaupun terdengar lemah bagi Kyuhyun. Ia mengatupkan bibirnya dan mengalah—membiarkan Kyuhyun memberinya roti itu, “kalau kau sakit, siapa yang membantuku di café nanti?” kata Kyuhyun memberi alasan, “aku tidak bermaksud apa apa jadi kau bisa tenang” lanjutnya santai

Untuk kali ini, Sungmin terpaksa menerima pemberian Kyuhyun—meski di sertai rasa sungkan, “terima kasih” balasnya formal

“tidak masalah” kata Kyuhyun mengimbangi bahasa yang di gunakan Sungmin. Di persimpangan jalan, Kyuhyun mohon diri untuk berbelok ke arah rumahnya sementara Sungmin terus berjalan melewati beberapa jalan gelap pada malam hari karena tidak ada lampu jalan lalu sampai di sebuah rumah bobrok miliknya

“Fuih” Sungmin mengeluarkan semua belanjaan, bermaksud menyeduh mie ramen—tetapi ia melirik roti cokelat itu. Ia mendesah sekali lagi lalu mengambil roti itu, membuka bungkusnya baru setelah itu memakannya dalam diam.

“aku kenal Kyuhyun..dia anak yang baik, kau tahu itu kan? jadi jangan menjauhinya terus” kata Heechul waktu itu

Sungmin mengacuhkan ingatannnya. Ia cepat cepat membuang bungkus ke dalam tempat sampah lalu bergegas kembali ke kamar untuk tidur

Di sisi lain

Kyuhyun bersiul sesekali sambil menendang kerikil di jalan hingga tidak sadar sudah sampai di depan rumahnya. Ia memencet bel—sampai seseorang pesuruh yang dia kenal membukakan pintu lalu mempersilahkannya masuk dengan hormat

“Dari mana saja kau?” Kyuhyun terkejut di hardik seperti itu. Ia berputar sampai melihat kedua orangtuanya sedang duduk di depan ruang tamu—menunggu dirinya, “Ah Appa, aku dari swalayan membeli makan malam” jawabnya enteng

Kening Ayahnya berkerut kesal, “Ibumu sudah masak—memangnya tidak bisa makan malam di rumah saja?”

Bibir Kyuhyun mengatup rapat. Tatapannya berubah tajam saat menyapu sosok perempuan paruh baya yang masih cantik duduk di sebelah Ayahnya, “aku kan sudah bilang—tidak akan memakan makanan buatannya, jadi Appa jangan memaksa lagi” sekarang suaranya penuh sindiran kepada wanita itu

“KYUHYUN!!!”

Bentakan ayahnya tidak berarti apapun. Kyuhyun terus berjalan ke dalam walaupun sempat ia memutar kepalanya ke samping, “dan satu lagi—tolong Appa ralat, dia bukan Ibuku…jadi jangan pernah mengatakan hal yang sama”

“Kau?!” suara Ayahnya bergetar menahan amarah. Ia hendak menghentikan langkah Kyuhyun jika saja istrinya tidak menahan lengannya dari tadi, “Sudah, tidak apa apa” bisiknya berusaha menenangkan pertengkaran ini

“tapi dia tidak sopan Saerim!! Ini sudah bertahun tahun! Kenapa dia tetap tidak bisa menerima dirimu” Ayah Kyuhyun mendesis sebelum menghempaskan tubuhnya ke balik sofa lembut. Sejenak di pijit pijit pelipis matanya, “dia selalu keras kepala…tidak berubah…Aishhh”

Sang istri tersenyum lemah sebelum membantu suaminya masuk ke dalam kamar tidur mereka, “kau tidur saja….istirahat—pasti kau lelah seharian di kantor tadi” bujuknya sambil menyelimuti tubuh Ayah Kyuhyun

Pandangan Ayah Kyuhyun berubah tenang dan jauh lebih rileks, “aku tahu…kau ikut saja tidur bersamaku, ini sudah larut malam”

“Aku harus membereskan dapur dulu, kasihan Bibi Yuan sendirian” katanya bangkit berdiri dari sisi tempat tidur lalu beranjak keluar kamar

___

 

“Huh Ibu? Jangan bercanda” gerutu Kyuhyun di atas tempat tidurnya, “dia tidak akan pernah! Menjadi Ibu untukku!” kata Kyuhyun menekan kalimatnya sendiri sambil mengambil sebuah foto tua dari sebelah tempat tidurnya

Foto seorang wanita yang tidak kalah cantiknya dengan Saerim

Foto Ibu Kandung Kyuhyun

“Umma….aku benci dia….aku benci Appa…..” Kyuhyun menatap rindu foto tersebut, “andai kau masih ada….aku pasti—“ mendadak Kyuhyun berhenti berbicara. Ia menajamkan pendengarannya dan benar saja, ada sebuah langkah kaki menuju kamarnya

Dengan cepat, Kyuhyun menaruh foto itu kembali lalu berpura pura tertidur di kasur

CKELK

Sosok kurus itu berhenti tepat di depan pintu, “Kyuhyun?” bisiknya memanggil

Suara dengkuran halus dari bibir Kyuhyun membuatnya sedikit lega. Ia terus masuk ke dalam kemudian berhenti tepat di samping tempat tidur Kyuhyun. Di elus wajah itu pelan, “Heebon….dia benar benar mirip denganmu” gumamnya sambil mengambil foto yang di pegang Kyuhyun tadi, “dia sangat menyayangimu…..sangat…..tahu tidak, dia tumbuh menjadi anak tampan hehehe—jauh lebih tampan dari Kungwoon, ayahnya sendiri” kata Saerim seolah olah mengajak bicara foto itu

Sejenak, Kyuhyun memberanikan diri membuka mata dan betapa terkejutnya ia mendapati Saerim malah terisak kecil, “tetapi aku hadir dan Kyuhyun tidak menyukaiku……hmm, apa yang harus kulakukan….” Waktu berkata itu, Saerim menengok ke arah Kyuhyun yang langsung berpura pura memejamkan mata lagi, walaupun agak ragu ragu, Saerim mengulurkan tangan, menepiskan rambut di dahi Kyuhyun yang berantakan lalu mencium keningnya lembut

“Selamat malam….Kyu…..” Saerim menggigit bibirnya sendiri, “Kyuhyun”

Saerim berdiri kembali, membenarkan letak selimut Kyuhyun sebelum melangkah keluar dari kamar

BLAMM

Pintu tertutup rapat

Malam itu, Kyuhyun perlu usaha ekstra keras untuk dapat tertidur lelap tanpa rasa bersalah menghinggapi dirinya

*****

Café Kangin

“Sebenarnya ada apa dengan pegawaimu hari ini?” tanya Leeteuk yang duduk di depan Kangin seraya mengamati Kyuhyun dan Sungmin dari jauh. Mereka berdua tidak begitu sibuk hari ini sehingga Kangin berpikir untuk menemani Leeteuk saja

“Entahlah” jawab Kangin sejujurnya, “mereka memang tidak akur sejak awal—tetapi dari kemarin mereka sudah aneh begitu, aku tidak mau ikut campur” Pandangan Kangin menyapu kesekeliling, “yang penting mereka tetap profesional, itu sudah cukup bagiku”

“kau ini” dengus Leeteuk, “terlalu acuh, mungkin saja mereka berdua saling—

KLING

Pintu café terbuka, spontan Kyuhyun yang berada paling dekat dengan pintu langsung menyapa dengan ramah, “selamat datang, silahkan duduk Nyonya” sapanya

Wanita itu tersenyum penuh terima kasih—senyum yang mengingatkan Kyuhyun pada seseorang. Tapi entah siapa, “bolehkah saya meminta tempat duduk dekat jendela, di ujung sana?” tunjuknya di sebuah meja untuk dua orang yang sedang kosong

“boleh” jawab Kyuhyun mengindahkan pikiran ngawurnya sebelum mengantarnya menuju tempat duduk.

Leeteuk mengerjap antusias, “pegawaimu benar benar tahu memanjakan tamu” pujinya tanpa di dengar oleh Kyuhyun langsung

Kangin tersenyum puas, “siapa dulu Bossnya, hehehe”

Sementara mereka berdua melanjutkan pembicaraan, Kyuhyun dengan gesit mencatat pesanan tamu itu lalu berjalan ke arah belakang meja kasir

“Rose tea 1 dan dua roti gandum di meja 11” ucap Kyuhyun kepada Sungmin yang sedang lenggang

“baik” jawabnya singkat sambil langsung bekerja membuatkan pesanan tersebut

Kyuhyun duduk dan memperhatikan Sungmin dari belakang, “Sungmin” bisiknya

“hmm?”

“tamu ini…..” Kyuhyun berhenti berbicara—ia menggeleng cepat cepat, “aishh, tidak, aku mungkin hanya salah paham, tapi kenapa wanita itu mengingatkanku kepadam—

“selesai!” Sungmin memotong ucapan Kyuhyun tanpa sengaja, “biar aku antarkan sendiri” ucapnya sambil mengangkat sebuah nampan ke depan—ke meja tamu wanita tersebut

Ia terus melaju, melewati beberapa bangku dengan lihai agar tidak tertabrak hingga ke sebuah meja mungil dekat jendela café, “ini pesanan Anda Nyonya” kata Sungmin ramah sambil berputar ke hadapan Nyonya itu

“terima kas…Sungmin?” bisik sang wanita terkejut

Begitu juga dengan Sungmin

Wajahnya terperangah ketika menatap lebih jelas sosok di depannya sekarang. Tubuh Sungmin seketika melemas, kedua tangannya hilang keseimbangan hingga terdengar bunyi sebuah nampan jatuh di sertai pecahan gelas di atasnya

PRANGG

Beberapa tamu di dalam café termasuk Kangin dan Leeteuk langsung menoleh mendengar bunyi itu. Kyuhyun saja bergegas ke depan untuk melihat semua sumber bunyi benda itu

Nuansa mendadak hening

Wanita itu menutup mulutnya—tidak percaya. Ia berdiri tegap sambil mengulurkan tangannya ke depan, “Sungmin….”

“tidak….tidak…” Sungmin menghindar. Ia terus mundur sampai sampai menabrak beberapa meja.

“Sungmin…Minnie…” pinta wanita itu sedikit memelas

Namun Sungmin tidak menanggapi ucapannya. Tubuhnya langsung bereaksi. Ia mundur selangkah sebelum membuka pintu café lalu berlari kencang tidak tentu arah, yang dia tahu hanyalah keluar dari sana secepat mungkin

Kyuhyunlah yang pertama kali memecahkan suasana mencekam ini, “biar kukejar” bisiknya kemudian mengikuti jejak Sungmin—berlari mengeluarkan seluruh tenaganya agar bisa menyusul Sungmin

“Er….tidak apa apa—ini hanya ada masalah teknis” ujar Kangin memberi pengertian agar seluruh tamu tetap menikmati hidangannya sementara Leeteuk melangkah mendekati wanita itu yang termangu melihat kepergian Sungmin

“Anda tidak apa apa?” tanyanya lembut

“aku…aku…” ia terbata bata sambil terisak kecil, “aku—“

“Sudahlah, anda harus tenang dulu” dengan sigap, Leeteuk memapah wanita itu duduk, memberinya secangkir rose tea yang belum dia minum. Ia menopang dagu—menunggu. Menunggu hingga wanita tersebut bersedia menceritakan yang sebenarnya

____

“SUNGMIN!! TUNGGU!!!” teriak Kyuhyun berhasil memperpendek jarak mereka. Ia berteriak keras memanggil nama Sungmin walaupun orangnya sendiri tetap mengacuhkannya dan masih berlari kencang

“Kubilang…tunggu!” sebelah tangan Kyuhyun berhasil menahan lengan Sungmin agar menghentikan langkahnya, “kau! kenapa malah berlar….kau menangis?” Kyuhyun terkejut melihat wajah sembab Sungmin

Sungmin terdiam. Ia tertunduk di depan Kyuhyun—merundukkan kepala sambil terus menangis, “kenapa dia datang……aku sudah menjauh……hiks….aku….” ia tidak bisa berbicara lagi. Hanya suara tangisan yang di dengar Kyuhyun

Kyuhyun saja iba melihat Sungmin seperti sekarang, “sst—kalau kau tidak mau cerita juga tidak masalah, hei kau tidak apa apa?” tanyanya ketika mensejajarkan tubuhnya dengan Sungmin, “sudah….jangan menangis lagi..” bujuk Kyuhyun selembut mungkin.

“maaf…aku…” Sungmin berusaha keras berbicara di antara suara tangisnya dan mulai menghapus jejak air mata di wajahnya namun percuma. Air mata itu tidak berhenti mengalir….

Dengan ragu ragu, Kyuhyun mengangkat tangannya—menyentuhnya pelan pelan untuk membantu Sungmin mengelap wajahnya, “aku pasti terlihat bodoh di mataku bukan?” canda Sungmin berusaha bersikap seperti biasa di depan Kyuhyun

“tidak juga…” gumam Kyuhyun mengamati Sungmin secara seksama. Tiba tiba Kyuhyun memindahkan kedua tangannya dari wajah Sungmin ke belakang tubuh Sungmin. Ia memeluknya canggung. Tidak di lihatnya raut muka Sungmin yang berubah terkejut, “sekarang….” Bisik Kyuhyun begitu dekat, “kau boleh menangis lagi—menangislah sepuasmu”

Sungmin menutup mulutnya, terisak pelan sebelum membenamkan seluruh wajahnya ke dalam pelukan Kyuhyun. Menumpahkan tangis dan segala perasaannya. Ia merasa semua kejadian berputar menjadi satu—dan berturut turut menghantam dirinya hari ini

Kyuhyun tidak mengatakan apapun. Ia benar benar membiarkan Sungmin terus menangis tanpa bertanya tentang kejadian tadi. Hanya saja, Kyuhyun tahu—Sungmin pun memiliki rahasia….rahasia yang tidak mungkin di bagikan kepada orang lain

Sama seperti dirinya sendiri….

Tidak peduli betapa mereka tersiksa di dalam kurungan rahasia tersebut

Hampir beberapa jam mereka masih dalam posisi seperti itu. Tidak peduli jika mereka berada di samping jalanan besar, tidak peduli orang lalu lalang melihat mereka dengan tatapan mencemooh seolah olah berkata agar mencari tempat khusus untuk berpacaran.

Tidak, Kyuhyun membiarkan itu semua. Sampai Sungmin lelah menangis lalu mengangkat wajahnya. Sejenak logika Sungmin berjalan—ia mendadak merasa malu karena tanpa sadar memeluk tubuh Kyuhyun dari tadi

“Aku—“

“Aku akan mengantarmu pulang” tukas Kyuhyun cepat. Ia tidak membiarkan Sungmin berkata sedikitpun, dengan sebelah tangannya di tuntun Sungmin menyebrang agar sampai di dekat jalan Te Amo

Sesampainya di sana, Kyuhyun terhenti tepat di depan café Kangin yang sudah di tutup. Ada sekelebat rasa bersalah dalam hatinya—begitupun dengan Sungmin

“Sudahlah, besok kita bisa meminta maaf kepadanya” ujar Kyuhyun bernada ringan.

“iya” jawab Sungmin lemah

Kyuhyun terus berjalan di sebelah Sungmin sampai di suatu rumah tua kecil yang berada di sebuah gang kecil, “ini rumahku” kata Sungmin sambil melepaskan tangannya dari genggaman Kyuhyun lalu berbalik masuk ke balik pagar yang sudah berkarat, “aku…tadi itu…”

“tenang Sungmin” potong Kyuhyun seraya tersenyum kecil, “kau akan melakukan sama jika menjadi aku….jadi tenang saja. Aku juga harus pulang—ini sudah malam” Kyuhyun mengangguk sejenak kemudian menghilang berbalik keluar dari gang.

Sungmin menarik nafas panjang sambil melirik sosok tubuh Kyuhyun kejauhan, “terima kasih….” Bisiknya dengan suara kecil

*****

Dalam perjalanan pulang, pikiran Kyuhyun penuh dengan Sungmin. Ia berdecak sesekali jika mengingat kondisi Sungmin yang rapuh—hal apa yang bisa membuatnya tersiksa seperti itu, siapakah wanita tadi siang?

Tetapi menilik sikap diam Sungmin, Kyuhyun tahu ada beberapa masalah yang tidak mungkin kau ceritakan bahkan kepada teman terbaikmu sekalipun. Bukankah Kyuhyun juga melakukan hal itu.

Ia membuka pintu rumah dengan perasaan campur aduk—di lihatnya seorang wanita, mengusap peluh di wajahnya sambil berbalik ke arah Kyuhyun lalu tersenyum menyadari anaknya sudah kembali ke rumah, “Kau pulang” katanya ceria, “mau makan apa? Biar aku buatkan” tawarnya tak bosan bosan walaupun Kyuhyun selalu menolaknya dengan ketus, “aku sudah ratusan kali bilang—aku tidak mau makan masakanmu, biar bibi saja yang membuatkan makanan untukku” kata Kyuhyun mengedarkan pandangan ke sekeliling

Anehnya wajah Saerim tidak menampakkan kesedihan yang berarti menanggapi ucapan Kyuhyun, “Bibi Yuan dari kemarin kakinya sakit—jadi aku menggantikannya membereskan seluruh isi rumah” jelasnya

Kyuhyun mengamati Saerim lebih teliti. Benar saja, Ibu tirinya berpenampilan kusut—rambutnya yang biasa tersanggul rapi mencuat tidak beraturan dan bajunya yang bagus terkena noda masakan di mana mana. Sejenak Kyuhyun merasa tidak enak sudah bersikap kasar—namun cepat cepat ia mengenyahkan perasaan itu lalu bertanya sekali lagi, “Appa di mana?”

“Appamu pulang telat” Saerim tersenyum lembut sambil memindahkan makanan yang sudah jadi ke atas meja makan. Ia mengatur secara rapi sementara Kyuhyun masih mematung berdiri di tempat—bergelut dengan pikirannya sendiri.

“Boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Kyuhyun datar. Saerim yang sedang memegang piring besar menoleh ke arahnya, “boleh saja, memangnya ada apa?” kata Saerim balas bertanya—heran, belum pernah Kyuhyun mau berada dalam satu ruangan dengannya selama ini. Biasanya Kyuhyun langsung naik ke atas lalu mengurung diri hingga menjelang pagi

Kyuhyun memainkan sendok di atas meja sebelum berkata, “aku membencimu, kau tahu itu kan? jadi jangan pernah berbuat baik di depanku” kecam Kyuhyun tajam.

Sejenak, Saerim mati matian menahan rasa sedihnya dan berusaha mengulas senyum tipis di wajahnya, “aku sudah tahu itu Kyuhyun, aku tahu” jawabnya pelan

“Tidak tidak” elak Kyuhyun menggeleng kuat, “kau tidak tahu maksudku—jangan pernah datang lagi malam malam ke kamarku, merapikan selimutku atau menciumku seolah olah aku anakmu, kau tahu?” Kyuhyun mengangkat alisnya, berjalan lebih dekat sambil menatap Ibu tirinya dengan jengah, “aku tidak suka itu semua jadi—“

CKELK

Bunyi pintu depan terbuka lebar. Kyuhyun segera menarik dirinya namun tidak henti bertatapan sinis kepada Ibu tirinya meski Saerim sendiri hanya membalasnya dengan anggukan kecil

“Aku pulang!” ujar Ayah Kyuhyun masuk ke dalam rumah, “Hei? Kalian sedang ap..” suara riangnya berubah kalut dalam sekejap melihat bahasa tubuh Kyuhyun dan Saerim yang sama sama kaku. Tidak butuh waktu lama, Ayah Kyuhyun bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi, “Kyu!! Apa kau bertengkar lagi dengan Ibumu!!’ bentaknya cepat cepat bersikap defensif di depan Saerim—berdiri di antara Kyuhyun dan istrinya

Kyuhyun memutar kepalanya malas, “sudah kubilang dia bukan Ibuku dan ya, aku bertengkar” jawabnya enteng sambil mengambil tasnya kembali lalu berjalan ke anak tangga jika saja teriakan keras Ayahnya tidak menahan langkah Kyuhyun, “Kenapa kau tidak bisa menerima Saerim?! Apakah dia pernah berbuat jahat kepadamu???!! Ingat Kyuhyun—dia merawatmu sedari kecil!! Jadi jangan bersikap kurang ajar terhadapnya!”

“Sudah…jangan bertengkar…aku tidak apa apa” bisik Saerim mengalah, sekarang ia malah berusaha melerai kedua anak dan Ayah itu

Tubuh Kyuhyun menegang, ia berbalik menghadap Ayahnya, “meski dia berbuat sebaik apapun, dia tidak akan pernah menjadi Ibuku, Appa” kedua mata Kyuhyun terlihat emosi, “dan bilang kepadanya untuk berhenti berharap—jangan pernah mengira aku akan memanggilnya Umma”

“KAU!” tangan kanan Ayahnya hampir melayang jika tidak segera di tangkap oleh Saerim, “Kungwoon….kumohon jangan…dia anakmu….” Bujuknya setengah menangis

Kyuhyun tetap bergeming, “Appa ingin menamparku? Appa ingin memukulku demi wanita ini? aku?” sejenak wajah rapuh Kyuhyun terpancar jelas, ia memicingkan mata—berusaha menahan semuanya sekaligus—rasa pedihnya bertahun tahun, “Appa memang tidak mencintaiku! Appa hanya mencintai wanita ini!!” teriaknya dengan suara keras, “jangan di kira aku tidak tahu! cerita cinta abadi kalian…..” Kyuhyun membicarakannya sambil berputar berlagak dramatis

Spontan Kungwoon dan Saerim bertukar pandangan heran dan sedikit bingung, “apa maksudmu Kyuhyun! Jangan berbicara seperti tidak aturan begitu!”

“Aku tidak tahu aturan?” tanya Kyuhyun penuh emosi, ia langsung berpaling ke arah Saerim, “dia yang tidak aturan! Tidak tidak, Appa juga sama saja! Kalian benar benar pandai menyembunyikan semuanya lalu mengira aku tidak tahu begitu??” sejenak Kyuhyun menarik nafas panjang—entah kenapa dia bisa terbawa emosi seperti ini. Hatinya miris jika harus mengingat semua ingatan yang terus menghantuinya hingga sekarang, “Ya….aku tahu semuanya Appa….aku tahu dari dulu” gumam Kyuhyun berulang ulang. Rasa rasanya Kyuhyun berubah kembali menjadi anak umur 13 tahun yang rapuh.

Wajah Ayahnya nampak tercengang—ia akhirnya menyadari maksud di balik perkataan Kyuhyun, “apapun yang pernah kau dengar….pasti kau salah paham—ini tidak seperti bayanganmu”

“Apanya yang tidak sama!! Nenek telah menceritakan semuanya!!!” kata Kyuhyun dengan nafas terengah engah, “Appa terpaksa menikahi Umma karena perjodohan kan??? padahal Appa lebih mencintai wanita ini!!! dia!!! Bukan Umma!!!” tunjukknya ke arah Saerim yang termangu—hampa di sebelah Ayah kyuhyun, “Dan ketika Appa ingin menceraikan Umma, ternyata Umma sedang mengandung aku!!! Ya aku!!! Tetapi apa yang kudengar??? Appa tetap bersikeras menceraikan Umma…..” Kyuhyun tidak kuat berucap apapun lagi. Ia membuang muka dari mereka berdua untuk menyembunyikan rasa sakitnya bertahun tahun, “jadi aku adalah anak yang tidak di inginkan bukan? Lalu ternyata doa Appa terkabul….Umma meninggal ketika melahirkan aku dan bisa menikahi dia!!!…..cerita yang sangat indah serta romantis…” ia mendelik gemetar menahan kesedihan bercampur amarah, “tetapi tidak untukku…” ejek Kyuhyun berhasil memasang topeng acuhnya sekali lagi.

 ia berlalu naik ke atas—membiarkan kedua orang itu terdiam seribu bahasa, tidak berdaya dalam masa lalu mereka yang terungkit kembali

“Kungwoon….dia….” tubuh Saerim terperosok—duduk di anak tangga sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, “kita menyakitinya……”

Kungwoon membeku. Tangannya terkepal hendak menahan Kyuhyun naik ke kamarnya namun di satu sisi ia ingin merengkuh Saerim yang kembali menangis kencang

Kyuhyun telah membuka masalah yang sudah lama mereka hindari…

Di luar—pada malam hari. Hujan berhasil menggenangi sekitar kota Seoul. Di dua tempat berbeda namun saling berhubungan. Kyuhyun dan Sungmin berada dalam kamar masing masing—melihat keluar jendela tanpa memfokuskan pandangannya. Mereka hanya melamunkan semua secara bersamaan

Kehidupan, cinta dan kesedihan yang datang sekaligus

Sungmin naik ke atas tempat tidur, memeluk dirinya seperti biasa lalu mencoba memejamkan mata agar bisa tertidur dan melupakan kejadian tadi siang, sementara Kyuhyun masih terduduk memandangi langit gelap dan membiarkan jejak air mata menggenangi wajahnya. Tidak dapat di pungkiri ia juga tersiksa mengatakan itu kepada Ayahnya sendiri—sebenarnya selama ini Kyuhyun sebisa mungkin menahan diri agar tidak bercerita sama sekali hanya agar Ayahnya bahagia, walaupun harus hidup dengan wanita itu. Yah….tetapi hari ini berbeda….semua perasaannya memuncak bak bola salju—berkumpul menjadi besar dan malah menyerang satu satunya orang tua yang masih ia miliki

“Umma….apa aku terlalu bersalah?” ucap Kyuhyun dalam kesendirian

*****

Keesokan Hari

Hari ini sama seperti kemarin kemarin bagi Sungmin. Ia bangun dari tempat tidur, mandi, berganti seragam lalu keluar dari kamar setelah mengambil tas sekolahnya. Pandangannya menyapu cermin yang berada di sela sela dapur—wajah mengenaskan selalu menghiasi dirinya. Mau tidak mau, Sungmin mengasihani diri sendiri tetapi ia hanya mengangkat bahu, penderitaan sudah terlalu biasa untuk menjadi makanan sehari harinya

TOK TOK

Seketika Sungmin menoleh cepat, “sebentar” katanya masih berada di dapur. Ia dengan segera bergegas ke pintu depan—takut takut jika yang datang adalah pemilik rumah ini. Terang saja, sekarang sudah tenggang waktu pembayaran sewa rumah padahal Sungmin belum menerima uang gaji bekerja dari café Kangin

TOK TOK TOK

“Iya!!” teriak Sungmin berhasil menggapai daun pintu lalu membukanya lebar lebar

CKELK

“Maaf Bu saya—“kata Sungmin mengira yang datang adalah sang pemilik rumah namun ternyata wajahnya berubah terkejut mendapati siapa yang sebenarnya mengetuk-ngetuk pintu rumahnya, “Kyuhyun? Kau ngapain kemari?” tanyanya heran

Kyuhyun berdiri tegap di depan Sungmin sambil tersenyum tipis, “mampir, tidak boleh?” ia mencoba menjulurkan kepalanya lebih dalam, “ini rumahmu? Kok seperti rumah hantu di pasar festival kota kemarin” candanya tidak memperdulikan sikap kaku Sungmin yang tidak terima dengan kedatangan Kyuhyun

“Mampirnya kenapa sekarang? Kita kan harus sekolah Kyuhyun” sindir Sungmin melirik baju seragam mereka berdua. Memang selama ini Sungmin dan Kyuhyun sama sama tahu kalau mereka satu sekolahan namun jika di sana, mereka berdua seolah olah tidak mengenal satu sama lain.

Kyuhyun diam saja. Dia malah bersiul pelan sambil menepis tangan Sungmin yang masih memegangi pintu lalu menerobos masuk ke dalam rumah, “kau saja pergi ke sekolah—aku mau bolos….ah bagaimana kalau aku menjaga rumahmu saja, toh lumayan juga untuk tempat uji nyali” kelakarnya terus menerus. Untuk sejenak Sungmin memicingkan mata—curiga. Kyuhyun yang ia kenal tidak pernah bersikap kekanak-kanakan begini sebelumnya

“Ada apa denganmu?” selidik Sungmin membiarkan Kyuhyun terus masuk masih berlagak mengamati rumah sewaan Sungmin

Kyuhyun bukannya menjawab malah memberikan komentar kepada Sungmin, “ini benar benar rumah berhantu, apa kau yakin Sungmin tidak pernah melihat penampakan di sini? Aishhh—lagipula kenapa bisa orangtuamu mengijinkan anaknya tinggal di tempat mengerikan seperti ini” kata Kyuhyun dengan tangan menyapu pinggiran meja dapur yang berdebu. Ia meringis sejenak sambil melihat isi meja makan Sungmin—kosong. Tiba tiba saja, Kyuhyun berpaling ke belakang dan menatap meja lalu Sungmin dengan cepat, “kau belum sarapan?”

Sungmin menggeleng, “aku memang tidak pernah sarapan, sudah ayo!! Ngapain kau di rumahku! Kita harus berangkat sekolah!!” ajak Sungmin menarik lengan Kyuhyun walaupun percuma, Kyuhyun tetap berdiri di tempat tanpa bergerak sedikitpun. Tenaga Sungmin memang kalah jika di bandingkan Kyuhyun, “aku tidak mau….kemana mana lagi” ujar Kyuhyun lambat lambat. Suaranya yang serius berhasil membuat Sungmin menengadah melihat perubahan wajah Kyuhyun yang memucat

“kau kenapa?” tanya Sungmin ingin tahu

 Kedua mata Kyuhyun mengerjap sekali—terpendam dalam dalam dan berusaha menghalau perasaan berkecambuk pada dirinya saat ini, “kita bolos saja…..” pintanya sedikit memaksa

Entah karena merasa kasihan atau karena peristiwa kemarin Kyuhyun juga telah menolongnya—Sungmin akhirnya mengangguk kecil.

 Ia membiarkan Kyuhyun menarik tangannya kembali ke rumah, duduk di sofa sofa bobrok—berbau nyengat. Mereka bersebelahan satu sama lain tanpa mengeluarkan suara

Tidak ada yang memulai pembicaraan. Kyuhyun hanya terus mematung, memandang jauh ke depan tanpa menyadari jika Sungmin menunggu ia mengatakan sesuatu

“ada apa?” ulang Sungmin pelan sambil menoleh ke samping, “kau sedang ada masalah?”

Kyuhyun membalas tatapan bingung Sungmin, ia tersenyum lemah sambil berkata, “Sungmin aku boleh bertanya satu hal kepadamu? Meski ini mengenai yah….” Kyuhyun menggantungkan kalimatnya karena merasa tidak enak menyinggung perasaan Sungmin, “kau tahulah”

Sungmin menghela nafas panjang—cepat atau lambat, Kyuhyun pasti bertanya tentang kelebihannya itu, “boleh….tanya saja”

“Apakah….kau pernah….” Kyuhyun berusaha mengucapkannya dengan kalimat yang pas, “pernah ‘melihat’ jika ada satu—misalnya saja, ada satu pernikahan dimana sang wanita dan pria tersebut ternyata bukan jodoh untuk mereka masing masing. Bisa di bilang bahasa kasarnya—“

“Mereka nantinya akan berpisah dan menemukan pasangan mereka sesungguhnya. Pernikahan yang sia sia….” sambung Sungmin lancar tanpa jeda

Kyuhyun mengangguk setuju, “yang berarti mereka pasti akan bercerai atau kalau beruntung salah satu dari pasangan mereka meninggal dunia sehingga mereka bisa menemukan orang yang tepat—yang memang menjadi jodoh mereka…” gumamnya sambil kembali mematung

Pandangan Sungmin meredup, di mainkan kedua jari jari tangannya dengan gugup, “aku pernah melihatnya, sekali” ungkapnya jujur

“apa kau tidak melakukan sesuatu? Memisahkan mereka sebelum terlambat misalnya….” Kyuhyun menopangkan dagu dan tetap berbicara lurus ke depan seolah olah Sungmin berhadapan dengannya bukan berada di sampingnya sekarang, “kasihan kan mereka jika terlanjur mengikat janji di depan Pastur, tidak bahagia dalam pernikahannya dan yang lebih buruk lagi jika lahir anak di antara mereka” tutur Kyuhyun tanpa emosi, “miris bukan….ada anak yang tidak di inginkan padahal itu bukan salahnya…”

Mendengar itu semua, spontan Sungmin menoleh—ia merasa Kyuhyun tengah membicarakan dirinya sendiri, “Kau…..”

Kyuhyun tidak bereaksi apa apa, ia meneruskan ceritanya, “Ayahku mencintai seorang wanita….wanita yang sangat cantik, tapi sayang…..kedua orangtua Ayah tidak menyetujui hubungan mereka—seperti drama saja….lalu Ayah di jodohkan dengan wanita yaitu Ibuku…dia…” Kyuhyun terdiam sarat emosi. Bibirnya terkatup rapat dan mengejang—berusaha keras tidak mengeluarkan emosi berlebih di depan Sungmin, “dia bersedia menikah dengan Appa karena sudah lama Ibuku mencintainya diam diam…..namun pada satu waktu Appa tidak tahan lagi dengan pernikahannya yang tidak bahagia dan memutuskan untuk bercerai…..Ibuku datang, memohon sambil berlutut di depan Appa…..ia meminta agar jangan menceraikannya karena dia sedang mengandung….” Kyuhyun tidak kuat lagi—butiran butiran hangat mengalir lembut membasahi wajahnya yang pucat, dengan perasaan berat Kyuhyun terus saja bercerita menumpahkan segalanya kepada Sungmin yang memandangnya penuh arti, “dia mengandungku…..aku…..” ia berhenti sejenak, mengeluar masukkan nafas ke dalam paru paru—agar berbicara lebih lancar, “Ibuku meninggal karena melahirkan aku sedangkan Saerim—dia Ibu tiri sekaligus wanita yang sebenarnya di cintai Ayahku mengasuhku setelah melangsungkan pernikahan sederhana—padahal waktu itu pemakaman Umma belum hampir seminggu tetapi Ayah tega menikah lagi” geram Kyuhyun sambil meremas kedua tangannya sendiri

“Lalu darimana kau tahu kalau dia Ibu tirimu? Katamu tadi dia mengasuhmu dari kecil? Itu berarti….”

“Bodohnya Saerim yang mengatakan sendiri—dia mengatakan itu waktu umurku masih 13 tahun, hahaha..aneh bukan?” kata Kyuhyun akhirnya menoleh ke samping untuk melihat tanggapan Sungmin, “mulai saat itulah aku membencinya……dan membenci semuanya sekaligus….” Ia memainkan kedua tangannya—saling mengaitkan satu sama lain.

 “entah kenapa aku bisa berbicara begini kepadamu….tidak tahu….” Bola bola mata Kyuhyun terlihat tidak fokus dan kembali melamun, “entahlah…..aku….hahahaha, apakah kau pernah melihat lelaki cengeng seperti diriku ini?” lanjutnya mencoba mencairkan suasana yang berubah menjadi terlalu serius

“pernah” jawaban Sungmin sungguh tidak terduga—Kyuhyun saja sampai terperangah tidak percaya, “siapa? Apa dia kekasihmu?” desak Kyuhyun—ada nada khawatir dalam suaranya

Bibir tipis Sungmin terbuka dengan sedikit bergetar—menyebutkan nama yang sudah lama ia lupakan, “Appaku…..dia…juga menangis ketika memohon, berlutut di depan Ummaku untuk meminta ijin”

“ijin?” tanya Kyuhyun perlahan

“ijin bercerai….mereka sudah bercerai ketika aku mau lulus dari SMP” kata kata datar Sungmin seketika membuat Kyuhyun benar benar memiringkan tubuhnya ke samping dan mengamati perubahan wajah Sungmin. Ia memberanikan diri merengkuh tangan Sungmin dan meremasnya lembut, “apakah ini yang menyebabkanmu akhir akhir ini murung?”

Sungmin tertawa sedih, ia menggeleng ringan lalu merunduk dan ketika Sungmin mengangkat wajahnya, ada penderitaan di dalam sana yang tidak terkatakan, untuk sejenak Kyuhyun hampir memindahkan tangannya ke balik punggung Sungmin agar bisa memeluknya kembali

 “lebih dari itu….perceraian memang mimpi buruk bagi setiap anak, tapi….aku berbeda Kyuhyun……akulah yang menyebabkan mereka bercerai…” kata Sungmin sambil menunjuk dirinya dengan sebelah tangannya yang bebas—menyalahkan diri sendiri, “ini semua gara gara aku…” kedua mata Sungmin tergenang air mata yang segera tumpah dan mengalir lembut di wajahnya—ia akan menangis kalau mengingat malam mengerikan pada waktu itu—malam di mana orangtuanya bertengkar karena perceraian

Selama 1 tahun terakhir, baru kali inilah Sungmin menceritakan yang sebenarnya kepada orang lain selain Heechul…..

Melihat keadaan Sungmin, Kyuhyun spontan mengikuti nalurinya—ia langsung merengkuh tubuh Sungmin lebih nyaman dalam pelukannya. Menyandarkan kepala Sungmin di bahunya sambil menarik nafas panjang, “kenapa kau berkata begitu? Memangnya apa yang terjadi?” bisik Kyuhyun halus

“Aku….” Sungmin diam saja sambil mengingat kejadian menyedihkan dan setiap petikan ucapan kedua orangtuanya yang di ingat dengan jelas

“Demi Tuhan!! Itu hanya celetukan anak kecil, Jung!!! Bukan berarti kau percaya—“

“Celetukan atau bukan, itu tidak bisa mengubah keputusanku…maaf……aku benar benar mencintainya Hyera….”

“tapi….ta…pi…aku juga masih mencintaimu…”

Hyera tertunduk—kembali menangis kencang. Suaminya yang melihat itu, merasa iba. Tangannya sudah terulur untuk memeluk istrinya namun sejenak ia menariknya lagi—tidak mau menyakitinya lebih dalam. Jung hanya merenung sambil memejamkan mata rapat rapat, menarik nafas panjang lalu keluar dari situ tanpa mengatakan apapun kepada Hyera

Di dalam kamar, Sungmin memberanikan diri keluar ketika mendengar mereka sudah berhenti berteriak satu sama lain. Hati Sungmin terasa miris melihat keadaan Ibunya di ruang tengah. Ia menghampiri Ibunya, hendak mengelus punggungnya—menenangkannya namun dengan cepat Hyera menepis tangan Sungmin

“Tolong….tinggalkan Umma sendiri…” pintanya di sela isak tangis

“tapi—“

“tolong….” Ulang Hyera sambil menekan kepalanya lebih dalam—tertunduk di antara tubuhnya sendiri

Sungmin menurut. Ia mengangguk sekilas sebelum pergi dari sana—pergi selamanya

 


“Jadi ini sebabnya kau memilih tinggal sendirian di sini?” kata Kyuhyun memotong ucapan Sungmin, “karena merasa ini semua terjadi karenamu?

 Sungmin mengendurkan pelukan Kyuhyun lalu mengangkat wajah sembabnya. Ia menatap lelaki di hadapannya dengan pandangan hampa, “aku tidak memilih…aku melarikan diri dari rumah Kyu, tidak ada yang tahu aku tinggal di sini”

“Jadi??” terang saja, Kyuhyun terkejut mendengar pengakuan Sungmin, “kau apa tidak cemas dengan keadaan Ibumu? Atau Ayahmu? mereka pasti sedang mencarimu saat ini!” cecarnya tajam

Sungmin terdiam sambil menatap kedua mata Kyuhyun dalam dalam, “mereka tidak menginginkanku Kyu….tidak satupun yang menginginkanku…” bisiknya, “aku memang di bawah tanggung jawab Umma, tapi sikapnya kepadaku berubah semenjak perceraian itu. Ia seperti menjaga jarak denganku hingga suatu malam aku mendengar pembicaraan Umma dengan sahabat karibnya—Bibi Kim, Umma bilang….dia takut denganku….dia trauma melihat kemampuanku ini….ia menangis Kyu, Umma menangis karenaku….aku yang membuatnya seperti itu, jadi aku berpikir untuk menghilang selamanya agar tidak menganggunya lagi” kata Sungmin yang tertunduk menghindari tatapan tajam Kyuhyun sambil memainkan seragam lusuh miliknya, “kau benar Kyu—aku kabur, melarikan diri dari kenyataan…tetapi bukankah lebih baik begini di banding menyusahkan orang lain?”

“Kau merasa menyusahkan orang lain?” tanya Kyuhyun restoris, “bagaimana denganku? Apa bedanya….aku suka merasa berpikir..andai aku tidak pernah ada, pasti Umma tidak akan meninggal, Appa bisa menikahi wanita yang ia cintai tanpa menyakiti siapapun…..aishhh” Kyuhyun mengerang keras, “kenapa sih harus ada perasaan jatuh cinta? Menyusahkan saja, cinta ada hanya untuk saling menyakiti”

Mendengar itu Sungmin menghela nafas sambil tersenyum samar, “itu salah satu alasan kenapa aku menjauhimu Kyu, sewaktu melihat dirimu dalam bayanganku” jelasnya berpaling ke arah Kyuhyun yang berbalik memandangnya bingung, “maksudmu apa?”

“mungkin ini akan terdengar konyol, tapi…” tatapan Sungmin berubah murung, ia melepaskan tangannya yang masih di genggam Kyuhyun dari tadi, “aku  ‘melihatmu’ menyakitiku jika kita terlalu dekat” katanya mencoba jujur kepada Kyuhyun lalu merubah posisi duduk—menjaga jarak dengan lelaki di hadapannya sekarang, “kau tidak percaya cinta kan?” kata Sungmin suram

“memang tidak” aku Kyuhyun jujur, “lalu kenapa itu bisa menyakitimu? Kan kita tidak ada hubungan apa apa” Kyuhyun mengangkat bahu—bersikap acuh meski ia bisa melihat perubahan wajah Sungmin yang drastis, “lagipula aku tanya padamu, apa itu cinta? Kenapa kau bisa mengaku cinta kepada seseorang, menjadi kekasih lalu putus dan mencari pasangan yang baru, terus berlanjut seperti itu, apakah itu yang namanya jatuh cinta?” ejek Kyuhyun sambil menyeringai lebar, “rendahan sekali”

“aku juga tidak tahu” balas Sungmin pelan, dengan enggan ia mengakui kebenaran perkataan Kyuhyun dalam hati, “aku pun tidak pernah mengalaminya, seumur hidup aku hanya bisa ‘melihat’ tanpa tahu betul bagaimana cinta itu”

“sudahlah tidak usah di bahas lagi….hmm, mumpung aku sudah mengajakmu untuk bolos bagaimana kalau aku mentraktirmu makan, mau?” Kyuhyun beranjak bangun—mengambil handphone di belakang saku celana sekolahnya lalu memencet beberapa nomor tanpa menunggu jawaban dari Sungmin. Ia tahu jika Sungmin sama laparnya dengan dirinya saat ini

“kenapa harus pesan? Di lemariku masih ada beberapa ramen—“

“tidak! Kau terlalu banyak memakan makanan tidak sehat itu!” tolak Kyuhyun mentah mentah, “masih untung kau tidak di bawa ke rumah sakit..” Kyuhyun meneliti keadaan Sungmin secara seksama—selama beberapa bulan terakhir baru kali ini dia bisa melihat Sungmin sedekat sekarang. Tubuh Sungmin yang kurus, wajahnya yang letih dan sepasang seragam lusuh membuat Kyuhyun merasa iba, tanpa sadar tangannya bergerak ke arah Sungmin—hendak menyentuhnya, “kau mau apa?” suara pelan Sungmin berhasil menyadarkan Kyuhyun. Ia tersentak kaget lalu segera menarik tangannya kembali, “tidak…aku—

TING TONG

“Ah pesanan makanan kita sudah datang” gumam Kyuhyun cepat cepat berdiri, mengambil dua bungkus makanan dari tangan pengirim kemudian berbalik menuju sofa. Di dalam, Sungmin mengambil dua gelas air dan sumpit. Mereka makan dalam diam—entah terlalu lapar atau masih merasa canggung dengan kejadian barusan.

Tidak sampai 20 menit, Sungmin dan Kyuhyun menghabiskan bersih seluruh makanan. Sekarang Kyuhyun bersandar nyaman ke badan sofa, ia membiarkan Sungmin sendirian membereskan semua bungkusan sampah dari atas meja

“tidak ada acara yang seru” keluh Kyuhyun memainkan remote TV usang di tangannya, “ngomong ngomong Sungmin, Tvmu antik sekali—kira kira kalau aku bawa ke museum pasti bernilai tinggi nih” goda Kyuhyun melihat keadaan TV Sungmin yang masih berwarna hitam putih

“ha ha ha, lucu Cho Kyuhyun” balas Sungmin tajam, “itu bukan punyaku—punya pemilik rumah” ia mencuci tangannya sehabis membereskan piring lalu berjalan kembali ke sofa, “kau tahu? Tidak ada seorangpun yang berani menyewa rumah ini kecuali aku” unjuk Sungmin bangga kepada dirinya sendiri

“yah tentu saja” Kyuhyun memutar kedua bola matanya, “sekali lihat saja, aku tahu rumah ini berhantu, apakah kau tidak takut?”

“tidak” jawab Sungmin menggeleng ringan, “hanya rumah ini yang sanggup aku sewa—tempat lainnya terlalu mahal untuk anak sekolahan sepertiku”

Lagi lagi ucapan Sungmin berhasil membuat Kyuhyun terdiam. Sudah berapa kali jika melihat Sungmin, Kyuhyun mesti bersyukur karena bisa hidup serba nyaman di rumahnya sekarang. Tidak harus bersusah payah hidup hanya dengan makanan instan, tinggal di tempat kumuh dan segala keterbatasan yang ada. Ya, keadaan Kyuhyun masih jauh lebih baik di bandingkan Sungmin

Di luar rumah, langit menampakkan bulatan bulatan awan hitam—membayangi daerah sekitar Seoul. Awan awan itu mengeluarkan bunyi kilatan tajam sebelum menyirami kota dengan air yang menyembur kuat dan deras. Meninggalkan jejak jejak halus di kaca jendela Sungmin

“Hujan” gumamnya segera melesat ke dalam kamar tidur untuk mengambilkan selimut yang tak kalah lusuhnya dari kamar lalu di bawa ke ruang tamu. Kyuhyun saja masih bingung melihat sikap Sungmin, “itu untuk apa?” tanyanya heran

“rumah ini akan terasa sangat dingin kalau hujan tiba—karena tembok temboknya yang mulai menipis” kata Sungmin asal. Ia membentangkan selimut ke arah tubuh Kyuhyun—menyelimutinya di atas sofa, “kau biasa seperti ini? setiap kali hujan?” ujar Kyuhyun tidak percaya

“Iya…aku sudah biasa Kyuhyun” Sungmin memberi penekanan karena merasa kesal dengan pandangan kasihan dari mata Kyuhyun, “sudahlah! Pakai saja selimut itu!”

Kyuhyun melirik selimut di tubuhnya dan Sungmin secara bergantian, “lalu kau bagaimana? Ck, kau pasti kedinginan juga, sini” di tariknya Sungmin—meletakkan kakinya ke atas sofa sambil membentangkan selimut supaya bisa melindungi mereka berdua, “nah ini baru adil” desah Kyuhyun puas

Sungmin diam saja. Ia menekuk lututnya sebelum memeluk tubuhnya sendiri. Sesekali Sungmin melihat Kyuhyun yang hanya melamun sambil memandang hujan yang turun deras

Tidak ada percakapan lagi

Karena cuaca yang mendukung, di sertai suasana nyaman membuat rasa kantuk Sungmin menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menguap lebar berulang kali kemudian menyandarkan kepala ke samping tanpa menyadari jika ia bersandar ke bahu Kyuhyun—bukan badan sofa. Sungmin tersenyum lega lalu refleks memejamkan matanya perlahan

Kyuhyun yang terkejut mendapati Sungmin telah tertidur pulas di bahunya hanya bisa mengerang kesal, “aishhh—aku jadi tidak bisa bergerak” keluhnya

“Dingin…” igau Sungmin sambil memeluk tubuhnya lebih erat dalam posisi masih tertidur. Spontan Kyuhyun menoleh cepat, “kenapa sih Sungmin?”

Seolah olah menjawab pertanyaan Kyuhyun, Sungmin kembali mengigau, “dingin”

“Oh” mulut Kyuhyun membulat. Ia hendak menyelimuti tubuh Sungmin seluruhnya—namun tidak jadi ketika dirinya sendiri malah menggigil kedinginan ketika melepaskan selimut lusuh itu dari tubuhnya.

Kyuhyun berpikir keras—ia menghela nafas berat. Lalu dengan terpaksa, Kyuhyun merentangkan tangan kanannya melingkar ke bahu Sungmin sebelum memeluknya erat, “sudah ngga dingin kan?” sindir Kyuhyun masih merasa kesal

“Hmm” Sungmin tersenyum tipis seakan akan membalas perkataan Kyuhyun sebelum melenguh terlelap lebih pulas

*****

Hujan yang tadinya deras selama berjam jam, mulai reda. Hanya meninggalkan beberapa tetesan lembut ke atas tanah tanpa sepenuhnya membasahi seluruh tempat.

Di dalam rumah Sungmin—tepatnya di ruang tamu. Kyuhyun dan Sungmin bergelung dalam satu selimut sambil tertidur pulas. Mereka tertidur dalam posisi duduk di atas sofa. Sebelah tangan Kyuhyun yang melingkari pundak Sungmin tanpa sadar turun ke pinggangnya sementara kepala Kyuhyun sendiri terkulai lemas menindih kepala Sungmin yang sudah bersandar nyaman di bahunya sedari tadi.

“ng” Sungmin menggeliat pelan sambil membuka kedua matanya lebar lebar. Hal pertama yang di tangkap oleh pandangan Sungmin adalah jam yang tertera di dinding rumahnya. Spontan Sungmin menegakkan tubuhnya—berdiri tegap hingga membuat Kyuhyun kehilangan sandaran dan sontak terbangun dari tidurnya

“ada apa Sungmin” gerutu Kyuhyun sambil mengusap kedua matanya

“Ini udah malam Kyuhyun!!!” kata Sungmin setengah berteriak—ada kekesalan yang nyata dalam suaranya, “Aduh!! Kamu ngga inget kita kan harusnya tadi kerja di café!!!” ia beralih melihat Kyuhyun yang masih terduduk santai di sofa—tidak bereaksi apapun, “kau tidak takut di pecat apa?”

“ha?” balas Kyuhyun masih setengah terbangun, “aishh—besok kita tinggal minta maaf saja kepada Kangin-shi,  jujur Sungmin…..” Kyuhyun menguap lebar lebar, “aku kurang tidur….jadi—“ ia membiarkan tubuhnya terhempas lembut—terlentang bebas, menguasai sofa sendirian karena Sungmin sudah berdiri dari tadi

“Kok malah balik tidur!! Hei, Kyuhyun!!! Kau tidak mau pulang—ini kan sudah malam!!” ujar Sungmin sambil mengguncang-guncangkan tubuh Kyuhyun dari samping

“Ngga!” jawab Kyuhyun berusaha menjauh dari kedua tangan Sungmin yang menganggu tidurnya, “aku mau di sini aja, lagian—aku malas pulang, paling ujung ujungnya aku harus bertengkar lagi dengan mereka” ucap Kyuhyun sambil membelakangi Sungmin

Sungmin langsung terdiam mendengar perkataan lugas Kyuhyun. Memang benar, Kyuhyun selalu berkata acuh—seolah olah tidak peduli apapun namun entah kenapa Sungmin yakin, Kyuhyun juga terluka dengan pertengkaran kedua orangtuanya

“tapi apa kau tidak sadar bermalam berdua saja denganku?” pancing Sungmin merasa kesal karena Kyuhyun telah menyusahkannya seharian ini

Kyuhyun memalingkan wajahnya—cuek, “lalu? Kau kan tidur di kamar sedangkan aku di sofa, berarti tidak ada masalah kan?”

“tapi—“

“Aku belum berani pulang Sungmin” potong Kyuhyun kembali membalikkan tubuhnya—bertolak belakang dengan Sungmin, “mungkin besok….aku baru bisa meminta maaf kepada Appa karena perkataanku kemarin”

“Bagaimana dengan Ibu tirimu?” tanya Sungmin ingin tahu

Kyuhyun mendesah pelan, “aku mungkin akan tetap membencinya”

“tetapi dia kan tidak jahat” kata Sungmin memberikan pendapat, “dia menyayangimu seperti anaknya sendiri” bisiknya lagi

“kau tidak mengenalnya” kata Kyuhyun pendek

“tapi aku bisa merasakannya dari perkataanmu barusan”

Rasa kantuk Kyuhyun berganti rasa kesal karena perkataan Sungmin yang terus membela Saerim—Ibu tirinya, “kau tahu? Akupun berpendapat sama” ucap Kyuhyun kembali menghadap ke arah Sungmin—menatapnya dekat, “bagaimana kalau ternyata Ibumu tidak membencimu seperti yang kau kira dan kalau tindakanmu lari dari rumah hanya membuatnya khawatir setengah mati?” tantang Kyuhyun membalikkan omongan Sungmin, “bagaimanapun dia kan Ibu kandungmu”

“Kau tidak tahu apa apa! Ini berbeda Kyuhyun!” sanggah Sungmin dengan suara meninggi, “dia membenciku!!”

“kau tahu darimana?”

“Semenjak perceraian Umma tidak pernah memandang langsung ke mataku!! Dia pun sengaja pulang larut malam hanya untuk menghindariku!! Dia takut kepadaku Kyuhyun!!! Kau tahu? Dia mengambil kerja lembur di luar negeri tanpa memberiku kabar selama berbulan bulan!” kedua sisi bahu Sungmin naik turun—semua perkataan Kyuhyun barusan berhasil memancing rahasia terdalam dirinya. Sungmin lalu menatap nanar ke arah Kyuhyun, “kau tahu aku bahkan bisa merasakan bagaimana rasanya tidak punya Ibu….Ibu yang ku kenal sudah hilang dan ia berganti menjadi orang lain—orang yang takut dengan kelebihanku” tak anyal Sungmin kembali menangis sambil merutuki diri sendiri karena terus menerus terlihat lemah di depan Kyuhyun.

“Maaf” ucap Kyuhyun benar benar merasa bersalah. Ia memapah tubuh Sungmin agar naik ke atas sofa dan duduk di sebelahnya, “kata kataku menyakitkanmu ya?”

Sungmin mengangguk perlahan sementara kedua tangannya sibuk mengusap air mata di wajahnya, “huh aku benar bukan, kalau kita berdua dekat—kau akan menyakitiku. Seharusnya sejak siang tadi aku sudah mengusirmu dari sini” sindir Sungmin keras

“iya iya aku minta maaf” kata Kyuhyun enteng. Ia kembali berbaring santai sambil bergeser lebih ke pinggir—memberi ruang kepada Sungmin

“huh” dengus Sungmin masih merasa kesal, “sebaiknya aku tidur di kamar saja, malas berdebat denganmu” katanya sambil bangkit dari sofa di sebelah Kyuhyun—hendak berjalan ke kamarnya ketika Sungmin teringat sesuatu dan berbalik kembali. Dengan kasar, ia merampas  selimut satu satunya yang di miliki di rumah ini dari tubuh Kyuhyun

GRABBB

“ini milikku” kata Sungmin dingin, “nah sekarang kau bisa tidur tuan Cho” ia berjalan santai ke pintu kecil tanpa melihat perubahan wajah Kyuhyun yang geram dengan sikapnya barusan

“tega banget!! Aishhh” Kyuhyun bergelut gelisah dalam sofa yang cukup lebar sambil berusaha menghalau rasa dingin yang pelan pelan menjalar ke seluruh tubuhnya

Sungmin benar. Dingin sekali di sini dengan atau tanpa hujan

“Kalau di rumah, aku pasti tidak sengsara begini” keluh Kyuhyun menggosok-gosokkan telapak tangannya ke wajah—membagi hangat tubuhnya sendiri, “kan Saerim selalu…..” ia tertegun sejenak. Membayangkan sesosok wanita yang tidak pernah lupa memberinya selimut setiap malam meski berkali kali pula Kyuhyun menolaknya kasar

“aku tidak butuh!” tolak Kyuhyun waktu itu sambil membuang selimut  ke lantai di depan Ibu tirinya sendiri sementara Saerim hanya tersenyum kecil sebelum ia memungut kembali selimut dan menaruhnya di atas kasur Kyuhyun, “selamat malam” ucapnya lembut ketika menutup pintu kamar untuk keluar

 

“Aishh, kenapa aku malah mengingatnya lagi!!!” Kyuhyun memejamkan mata erat erat, berusaha membayangkan hal lain dalam kepalanya namun tetap saja. Sosok Saerim terus bercokol mengelilingi malam dingin Kyuhyun hari ini—bernaung pada pikirannya

Selama beberapa menit, Kyuhyun terus bergerak kedinginan sampai akhirnya terpaksa memeluk tubuhnya sendiri. Ia berharap rasa kantuk bisa mengalihkan perhatiannya dari terpaan dinginnya rumah Sungmin

“Kyuhyun…..”

Sebuah suara berhasil membuat Kyuhyun membuka matanya perlahan dan segera membalikkan tubuhnya ke belakang, “Umma?” bisiknya tanpa sadar

“eh? Umma?” celetukan khas Sungmin membuyarkan bayangan Kyuhyun

“Ng—bukan apa apa” Kyuhyun menaikkan alisnya sebelah melihat Sungmin yang sudah berganti baju sedang menenteng selimut lusuh itu, “mau ngapain kemari?” tanyanya heran

“Aku…” Sungmin tertunduk salah tingkah—merasa malu, “maaf aku membiarkanmu kedinginan  disini…” ia mengulurkan tangan kanannya yang memegang selimut kepada Kyuhyun, “ini untukmu saja”

“lalu kau sendiri?” tanya Kyuhyun sangsi

Sungmin mengangkat bahunya pelan, “aku kan sudah terbiasa sementara kau tidak, aku masih bisa tidur tanpa selimut…jadi kau bisa memakainya”

“Eh?” Kyuhyun terkejut, “tidak tidak!!! Kau saja yang pakai!! Aku tidak mau kalau itu malah membuatmu kedinginan” elaknya keras kepala

“Ck, aku sudah bilang tidak apa apa!” balas Sungmin tidak mau kalah, “dari tadi saja kau menggigil kedinginan hingga terdengar ke dalam kamar, sudah pakai saja Kyuhyun!” lanjutnya menghempaskan selimut ke tangan Kyuhyun

Akhirnya Kyuhyun mengalah. Ia mengangguk kecil sambil membaringkan tubuh kembali menggunakan selimut yang diberikan Sungmin

“Baiklah, selamat malam” ucap Sungmin puas melirik Kyuhyun yang mau di paksa memakai selimut selagi ia berbalik menuju kamarnya sendiri—mungkin masih ada beberapa pakaian tebalnya yang bisa di jadikan selimut untuknya sendiri. Pikir Sungmin hendak pergi dari situ. Namun belum sempat melangkahkan kaki, mendadak Kyuhyun kembali memanggilnya, “Sungmin”

“Ya?” jawab Sungmin berhenti sejenak sambil menengok ke belakang

Kedua mata Kyuhyun sulit terbaca—ia hanya melirik gelisah ke kanan kiri sebelum beralih memandang Sungmin, “kita bisa membagi selimut lagi kalau kau mau” tawarnya kaku

Wajah Sungmin berubah ngeri mendengar ucapan Kyuhyun, “maksudmu apa?” tanyanya bernada parau, “jangan katakan kau mau—“

“Yah…” Kyuhyun makin merasa risih mendapatkan tatapan sinis dari Sungmin, “kau tidur di sini bersamaku atau aku bisa tidur di kamarmu saj—“ belum selesai Kyuhyun berbicara, Sungmin sudah menolaknya keras, “tidak! Kau gila! Tidak mungkin kita tidur berdua!” hardiknya tidak setuju

“kenapa? Ada yang salah dengan itu?” balas Kyuhyun ringan—seolah olah itu bukan perkara besar untuknya, “kau takut? Aishh—tenang saja Sungmin, tidak akan terjadi apa apa dengan kita. Bukankah aku dan kau tidak punya perasaan apapun, kenapa malah merasa risau? Atau jangan jangan” mata Kyuhyun mendelik pura pura curiga, “kau mulai menyukaiku ya?” goda Kyuhyun malah membuat amarah Sungmin makin memuncak

“kata siapa” Sungmin memantapkan langkahnya—berjalan menuju sofa lalu tanpa basa basi menyibakkan sisa selimut kemudian berbaring tepat di samping Kyuhyun. Mereka berhimpitan dalam satu sofa besar, dimana Sungmin berusaha keras menjaga tubuhnya agar tidak terjatuh karena dia tidak ingin terlalu dekat dengan Kyuhyun

“Kau?” Jujur Kyuhyun benar benar tidak menyangka tindakan ekstrim Sungmin namun ia mengangkat bahu tidak peduli sebelum ikut membaringkan kepalanya berhadap hadapan dengan Sungmin

Dan tatapan mereka bertemu—dalam jarak yang begitu dekat

“jangan melihatku terus” kata Sungmin ketus

“kau kan di depanku—hal wajar kalau aku melihatmu” bisik Kyuhyun memelankan suaranya

Mereka kembali terdiam

Sungmin merunduk untuk menghindari tatapan Kyuhyun sementara Kyuhyun malah melamun seorang diri sambil membenarkan letak selimut di antara kedua pasang kaki mereka

“Sungmin”

“Hmm” kata Sungmin terpaksa menengadah menatap lawan bicaranya

Kyuhyun mengangkat sedikit kepalanya lalu menopang menggunakan sebelah tangan, “bagaimana sosok Umma-mu? Apakah dia Ibu yang lembut, atau tipe Ibu tegas atau apalah?” kata Kyuhyun sambil mengibaskan tangannya—menyapu udara kosong di sekeliling mereka, “aku ingin tahu”

“kenapa kau tiba tiba bertanya begitu” ujar Sungmin bingung

“soalnya tadi sebelum kau datang—aku mendadak merindukan Umma..” ucap Kyuhyun sambil memalingkan muka dari Sungmin, “tapi aku tidak mengingatnya sama sekali…aku malah membayangkan Saerim dalam ingatanku” Kyuhyun mengucapkan nama Saerim dengan nada benci yang teramat jelas di telinga Sungmin

“Itu kan tidak salah..” Sungmin merenung sejenak, “dia memang menjadi sosok Umma bagimu selama ini”

Kyuhyun menggeram halus dari balik mulutnya, “sudah jangan bicarakan dia! Kita bicarakan  saja Umma-mu, dia wanita yang bagaimana?” kata Kyuhyun berusaha membalikkan pembicaraan

Sungmin tersenyum lembut—senyum yang belum pernah di lihat Kyuhyun sebelumnya, “Umma….itu…dia wanita terkuat yang pernah ada, sedari kecil—ketika dia dan Appa akhirnya tahu tentang kelebihanku. Umma hanya tertawa ringan sambil mengelus rambutku. Ia bilang, betapa beruntungnya memiliki seorang anak perempuan yang mendapatkan hadiah dari Tuhan, sebaik diriku. Dan juga sewaktu Appa bersikeras untuk bercerai, Umma hanya menangis semalaman lalu kembali beraktivitas esok paginya” mata Sungmin memang menatap Kyuhyun namun fokusnya menembus dan menerawang kekejauhan

“Aku mencintainya Kyu….aku benar benar menyayanginya…” lanjut Sungmin tanpa sadar meremas kemeja seragam Kyuhyun di kedua tangannya, “dan ketika orang yang kau sayangi malah menderita karena keberadaanmu, aku memutuskan pergi—ku tulis surat di atas meja makan, mengambil barang secukupnya lalu pergi dari rumah…”

Kyuhyun terdiam sebentar sebelum memberi tanggapan kepada Sungmin, “apakah kau tidak merindukannya Sungmin?”

“Aku selalu merindukannya….sangat…setiap malam, setiap hari….berharap ketika aku bangun…ada suara teriakannya yang khas….aku….”  dengan segera, Sungmin menarik nafas panjang dalam diam agar air matanya tidak tumpah lagi. Ia sudah banyak menangis seharian ini

“Aku juga” ucap Kyuhyun pelan, “aku malah tidak bisa mengingat sosoknya…dia terlanjur meninggal karena lebih memilih melahirkan aku ketimbang nyawanya sendiri” katanya pedih, “dan sekarang….keberadaanku malah menyusahkan semua orang”

“tidak begitu Kyu” sanggah Sungmin bersimpati. Ia refleks memegang kedua sisi wajah Kyuhyun—mengelusnya pelan, “kau tidak seburuk itu” hiburnya

Kyuhyun hanya diam saja. Ia menatap ke dalam mata Sungmin lambat lambat dan Kyuhyun harus mengakui dirinya terhanyut pada sosok di hadapannya sekarang. Segera saja, Kyuhyun melepaskan kedua tangan Sungmin yang berada di wajahnya—mengubah posisi tangan mereka hingga tergenggam erat satu sama lain meski Sungmin sempat meliriknya protes

“Ini caranya agar kau tidak jatuh saat tertidur Sungmin” kata Kyuhyun memberi alasan. Ia memejamkan matanya kembali, “kita sebaiknya tidur…sudah larut malam”

“Baiklah” Sungmin memilih untuk mengalah. Ia bersingut mendekat—membuat jarak mereka berdua semakin tipis sambil ikut memejamkan mata seperti Kyuhyun, “Malam Kyu”

“Malam Sungmin” kata Kyuhyun bersuara lemah karena rasa kantuk yang mulai menguasai dirinya dan juga Sungmin

Mereka tertidur lelap—merasa jauh lebih lega dari yang pernah mereka rasakan sebelumnya

*****

19 responses to “≈Of Course I Love U-{Kyumin}≈ Part 1

  1. gomawo eonni, akhirnya dibuka juga protectnya..

    hiks~ sedih banget sih latar belakang hidup KyuMin..

  2. akhirnya setelah sekian lama menunggu
    ff ni nongol juga..
    ciri khas kak sebas nihhh kata-katanya bagus dan melow..hehehe

  3. hiks…
    Critanya sungguh mengharuhkan. Ditinggal seorang ibu kandung yang sangat kita sayang/kita butuhkan

  4. keren bgt tau oennn.. daebakkk deh pokoknya buat semua karya oenni b^_^d
    *sorry baru koment sekarang

  5. kasian kyumin yang sedih bahkan nangis kaya gitu
    kehidupan keluarganya hampir sama.. tapi mungkin orang tua mereka berpisah bukan gara gara kyumin tapi karna takdir.

  6. Ya ampun..masalahnya pelik bgt..kasian itu kyumin udah mengalami hal berat kyk gitu pas SMA..

    Kyaa..berbagi selimut..so sweet bgt xD

  7. oh… jdi gtu… orang tua mereka hampir sma.. sama2 sedih cerita cintanya
    jadi min sma kyu bener2 gak punya perasaan?? yah

  8. masalah keluarga membuat mereka jauh lebih dekat….
    tp kya.x terlalu dekat ampe tidur aja deketan gitu…haha😀
    ga apa2lah kan jodoh… :p

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s