≈Of Course I Love U-Chapter Four≈

Sungmin berjalan kaki sepulang sekolah seperti biasa—melewati JL Te Amo. Dia menatap bosan ke sekeliling, rutinitas yang terlalu biasa untuknya.

Namun Sungmin tersenyum sendiri mengingat kejadian kemarin, “Eunhyuk yang polos” gumamnya pelan

Kangin sedang memasang papan pengumuman di depan kedai ketika Sungmin lewat dan membaca tulisan di situ

DI CARI
Pekerja Paruh waktu, gaji 300 won per jam
Wawancara langsung dengan pemilik Kedai
-Thanks-

“Hmm, mungkin aku bisa mencobanya” Sungmin menimbang nimbang sejenak—dia mengerutkan kening kemudian akhirnya memutuskan untuk mencoba kesempatan itu. Sungmin membuka pintu kedai

KLINGG

“Selamat datang” sapa Kangin ramah

“Selamat siang, Adjushi saya datang karena pengumuman di depan” jelas Sungmin

“Oh” Kangin menghampiri Sungmin, menyuruhnya duduk di salah satu bangku—tampaknya kedai memang sedang sepi. Hanya ada satu orang yang duduk di dekat jendela, menghadap toko bunga—seperti biasa

“Baiklah, aku akan mewawancarai mu dulu” Kangin mengambil salah satu kertas dan menyuruh Sungmin untuk mengisi biodata diri di sana

Kangin hanya menanyakan beberapa pertanyaan standar. Mengenai alamat rumah, kesibukan Sungmin dan alasan utama dia ingin menjadi pegawai di sini

“Aku hanya penasaran” jawab Sungmin jujur

“Penasaran?” Kangin terlihat bingung

“Iya, saya penasaran dengan semua orang” Sungmin menoleh lalu menatap Hangeng dengan seksama, “ada sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan, sesuatu yang menarik dan terselubung” Sungmin kembali menatap Kangin sambil tersenyum kecil

Sebenarnya Kangin masih belum mengerti arah maksud pembicaraan Sungmin, tetapi dia memenuhi semua persyarat yang di ajukan, “baiklah…Sungmin, saya menerimamu” kata Kangin mengambil keputusan

Senyum Sungmin makin lebar, “terima kasih Adjushi” ia menunduk penuh hormat

“Aish jangan panggil Adjushi, biar begini umurku baru 23, panggil Kangin saja” elaknya, maklum tidak mau di sangka tua

“Oke, Kangin” Sungmin terkekeh, padahal maksud Sungmin memanggilnya begitu untuk rasa segan, tapi karena orangnya sendiri sudah menolak, apa boleh buat

“Baik mulai besok kamu bo—

KLINGGG

“Selamat datang” sapa Kangin secara spontan

Sosok namja tinggi—berpakaian seragam masuk. Dia melepas kedua earphone yang bertengger di telinga, menghampiri Kangin sambil bertanya, “Ng….benarkan ada lowongan untuk pekerja paruh waktu di sini?”

“Oh benar, aku baru saja menerima salah satunya” Kangin menunjuk ke arah Sungmin yang masih duduk

Namja itu salah tingkah, “berarti aku terlambat?”

“Ah tidak, aku masih menerima satu lagi” Kangin memberi isyarat agar pria itu mendekat, “duduklah di samping gadis ini, aku akan langsung mewawancaraimu” jelas Kangin

“Baiklah”

“Oh—kau belum menyebut namamu?” Kangin menyerahkan beberapa formulir untuk di isi, Sungmin melirik lelaki di sebelahnya tanpa minat—padahal mereka satu sekolah

“namaku Kyuhyun” Dia mencoret coret lembaran itu, setelah selesai di kembalikan pada Kangin lalu mulai wawancara sama seperti Sungmin barusan

__

“Ingat begitu pulang sekolah kalian langsung kemari dan membantuku hingga kedai di tutup” Kangin mengingatkan

“Baik Kangin-shi” ucap Sungmin dan Kyuhyun bersamaan

Kangin tersenyum lalu melambaikan tangannya, “hati hati kalian”

Sungmin bergerak maju lebih dahulu, menyusuri jalan dengan cepat—meninggalkan Kyuhyun di belakangnya

“Eh tunggu dulu” Kyuhyun berhasil mengejar langkah Sungmin, “Aku Kyuhyun, dari tadi kita belum berkenalan” Kyuhyun mengulurkan tangan dengan ramah

Sungmin melirik wajah Kyuhyun dan tangannya bergantian, “Aku Sungmin” ucapnya terlalu formal tanpa menjabat balik. Setelah itu Sungmin kembali berjalan ke depan

“Kenapa dengan wanita itu??” Kyuhyun menggaruk kepalanya lalu mengangkat bahu—tidak peduli, Kyuhyun memasang earphone kemudian berjalan santai sambil bergumam mengikuti lagu yang di putar di handphonennya

————-~^of Course I Love U^~————-

“Kamu itu!!! Sudah berapa kali Ibu bilang jangan bermain sepak bola pas jam istirahat!!!”

“Tapi Bu anak lain boleh main” protes anak itu

“Karena mereka mainnya ngga sebrutal kamu!!! Sudah dua kali, bola itu mengenai kepala Ibu gara gara tendanganmu!!!” Dada Bu Yankumi naik turun—mengatur emosinya yang menjadi jadi karena Donghae sama sekali tidak memperlihatkan rasa bersalah

Wajah Donghae merengut, menolak tuduhan yang di berikan oleh Bu Yankumi

“Pokoknya mulai sekarang dan sampai kenaikan kelas kamu kena hukuman!!!” Bu Tukinem menatap marah, “pergi ke perpus lalu bantu Eunhyuk di sana!!!!” pekikan dari guru itu membuat Donghae langsung berlari kencang ke arah Perpustakaan

“Hosh hosh untung saja tidak di kejar” Donghae berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam ruangan yang sejuk

Tatapannya mencari sosok yeoja, penjaga perpustakaan, “tuh anak di mana?” keluh Donghae

“Kamu ngapain di sini?” tanya Eunhyuk melihat Donghae bersandar di kursi penjaga, “Aku di hukum lagi—suruh menemanimu menjaga perpus selama satu semester” Donghae melirik sekilas—tempat sepi seperti ini? dan dia harus mendekam lama hanya akibat ketidak beruntungan Bu Yankumi yang muncul saat Donghae bermain sepak bola? Huh sial sekali rasanya, Donghae membatin

“oh kebetulan sekali, ada beberapa buku yang menumpuk untuk di susun kembali di sebelah sana” Eunhyuk menunjuk buku buku tebal yang tidak berharga di mata Donghae dengan sumringah

“Kau tidak membiarkan aku untuk istirahat dulu?” tanya Donghae masih terengah engah

Eunhyuk menatap sosok lelaki di hadapannya secara seksama—keringat mengalir deras, nafas tidak beraturan, hmmm. Eunhyuk menggeleng perlahan

“Kalau kamu tidak mau membantu sekarang juga, aku akan beritahu Bu Yankumi” kata Eunhyuk angkuh—karena memegang kartu As Donghae

Donghae tercengang dengan ucapan Eunhyuk, “sejak kapan kau berani mengancamku?” suara Donghae marah

“Sejak kau menjadi petugas di sini” Eunhyuk tersenyum lalu melangkah memasuki bagian dalam perpustakaan, “ayo” perintahnya

Donghae hanya bisa mendengus sebentar, dia akhirnya pasrah mengikuti langkah Eunhyuk

————-~^of Course I Love U^~————-

“Ini tidak adil!!!!” Kibum mengacak acak rambut pendeknya—menjuntai tidak beraturan di kepalanya. Kibum baru selesai mengetik setengah dari 17 halaman anggaran UKM, padahal jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, “aku mau pulang” rintihnya sendirian di dalam ruangan

Kibum mengambil ponsel di atas meja lalu menghubungi Zhoumi, “Zhou!!!!! Tolong, aku belum boleh pulang kalau belum selesai mengetik…” pekik Kibum pada sahabatnya itu

“Hmm…iya iya..aku ngerti” Kibum tertunduk—mendengarkan ceramah Zhoumi dari seberang, “baik…terima kasih ya” walaupun Zhoumi tidak memanjakan Kibum lagi seperti dulu, namun Zhoumi selalu ada ketika ia berada dalam kesulitan

Setelah selesai berbincang, Kibum mendadak semangat mengerjakan laporan itu—dia menatap layar komputer dengan senyum yang tak henti henti terukir di wajah, “Aku pasti bisa”

Sudah hampir setengah jam penuh Kibum berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya

“Sedikit lagi”

Kibum memasukkan sejumlah angka, hasil perhitungannya lalu mengklik tombol Save di keyboard

“Selesai!!!!”

Kibum melompat bahagia, dia menekan tombol print sambil bersenandung. Jam baru menunjukkan setengah 6 sore—itu artinya Kibum masih bisa jajan sebentar di jalan yang sering ia lewati

“Ini” Kibum menyerahkan kembali laporan anggaran ke ruangan Siwon, masih tersenyum girang—berharap bisa secepatnya pergi dari di sana

“hmm” Siwon membolak balikkan kertas dengan bosan. Hanya sekali lihat, Siwon tahu bahwa laporan itu tepat 100%

Siwon mengambil pulpen lalu membubuhkan tanda tangannya, “Ini—besok kau sudah bisa mengambil dana cairnya” ucap Siwon kaku, sedikit tidak ikhlas karena Kibum berhasil menyelesaikannya secepat ini

“Terima kasih” ucap Kibum tersenyum, dia melihat kertas laporan seakan akan mendapatkan undian besar, akhirnya perjuangan selama seminggu tidak terbuang sia sia

Tanpa menunggu lama Kibum keluar melewati pintu, “Ck, dasar” Siwon merapikan kertas kertas penting, menyusunnya rapi baru setelah itu mengambil tas jinjingnya untuk pulang karena hari sudah sesore ini

___

“coba aja Zhou di sini? Aku pasti tidak makan okonomiyaki sendirian” gumam Kibum pelan. Dia membungkus dua porsi, satu untuknya satu lagi untuk Zhoumi.

Kibum sengaja melambatkan langkahnya, dia paling senang jika melewati jalan ini ketika pulang ataupun berangkat ke kampus. Bagaimana tidak? Nuansa tersendiri amat terasa di jalan ini—magis dan membuatnya nyaman

Kibum tersenyum senang. Kedai kopi di seberang sana makin ramai pengunjung, Kibum melihat lihat ke dalam—sepertinya asyik jika dia jalan sesekali ke sana dengan Zhou, batin Kibum

Kibum masih sibuk dengan pikirannya tanpa tahu jika ada sosok pria melihatnya sejak Kibum keluar dari lingkungan kampus

“Aku sapa atau tidak?” ucap Siwon penuh pertimbangan, dia berjalan agak cepat berbeda dengan langkah Kibum yang santai. Siwon bingung apa dia harus langsung melewati Kibum seolah olah mereka tidak kenal atau malah harus menyapanya?

“Aish, kok jadi ribet?!” Siwon memantapkan hati—dia menunggu hingga Kibum asyik memandangi kedai kopi milik Kangin. Setelah memastikan pandangan Kibum teralih Siwon melangkah cepat melewatinya

Tetapi sayang, Kibum berbalik pada saat yang tepat

BRUKKK

“Aduh!! Hei mas!! Kalo jalan lihat lihat dong” bentak Kibum tanpa sadar kalau di sini dialah yang salah

“Eh, maaf” Siwon berjalan mundur lalu menunduk

“Siwon?”

“Ah” Siwon kembali berdiri tegak dengan enggan, “kau lewat sini juga?” tanya Kibum

“Iya hmm, kau sudah mau pulang?” tanya Siwon berbasa basi

Kibum menggeleng, “belum..aku masih harus membeli bunga untuk Zhou” ia bersingut mendekati toko Heecul

Siwon ingat betul Kibum memilih bunga yang sama persis seperti kemarin—bunga kesukaan Zhoumi, Chrysanthemum, merah

“Tolong bungkuskan” pinta Kibum ketika menyerahkan bunga itu pada Chulie, “memang bunga itu apa bagusnya??” sindir Siwon

Kibum mendongak, sudut sudut mulutnya mengembang, “Bunga itu mewakili setiap pembelinya—contohnya Zhoumi, bunga Chrysanthemum kan memang cocok untuk karaternya sebagai pria romantis” Kibum melempar pandangan menerawang ke langit

Siwon menatap Kibum tajam. Ada perasaan aneh yang membuat Siwon tidak suka cara Kibum memuji Zhoumi

“Kalau aku…” Siwon mencari cari di atas pot pot penuh beraneka macam bunga, “Ini dia..Ini bunga favoritku” Siwon mengambil salah satu bunga cantik mungil berwarna putih pada Kibum

“Kau suka Acacia??” Kibum terkejut namun dia menggeleng tidak percaya, “aaaaaa, memangnya kau sedang jatuh cinta dengan siapa??” tanyanya dengan semangat tinggi

“Eh? Jatuh cinta??” Siwon mengerjapkan mata beberapa kali, “siapa yang sedang jatuh cinta??” Siwon makin tidak mengerti dengan sifat Kibum yang suka histeris seperti itu

“Acacia adalah bunga yang melambangkan cinta tersembunyi—cinta rahasia” jelas Chulie selesai membungkus rapi bunga pesanan Kibum

Siwon melongo. Pandangannya berpindah pindah. Ke arah Kibum lalu ke arah bunga yang masih di pegangnya dari tadi

“Aku…..” Siwon makin terkejut, setelah sadar yang terjadi dengannya akhir akhir ini

“Kau berminat membelinya?” tanya Chulie membuyarkan pikiran Siwon yang sedang bingung, “Ah, baiklah—aku beli satu saja” ucapnya terbata bata

“Mau ku bungkus atau—

“tidak, biar kubawa saja” Siwon memberikan sejumlah uang lalu kembali memegang bunga Acacia di tangannya, “Indah sekali bunganya” Kibum menatap bunga itu sambil mendekati Siwon, “Kau mau?” tawar Siwon menjulurkan tangan

“Ah..tidak..kau akan memberikan kepada seseorang kan?” tolak Kibum tidak enak

“Tidak apa apa, ambillah” paksa Siwon, lagipula dia sendiri bingung mau di apakan bunga yang terlanjur di beli

Wajah Kibum memerah seketika, dia meraih bunga dari tangan Siwon, “terima kasih” ucapnya tulus, “baru kali ini aku menerima bunga dari seseorang” jelas Kibum seraya mencium bunga itu—menyerap keharumannya

“Ha? Bukannya Zhoumi sering memberimu bunga?”

“Tidak” jawab Kibum singkat

“Lalu?” Siwon terlihat frustasi

“Lalu apa?”

“Apa kalian berpacaran?” tanya Siwon langsung—berusaha mengusir perasaan yang semakin berkecambuk di dadanya—dia sendiri tidak mengerti itu apa

————-~^of Course I Love U^~————-

Esok Hari

Sungmin dan Kyuhyun datang tepat waktu ke kedai Kangin. Mereka langsung berganti baju dengan seragam pekerja dan membantu membersihkan beberapa piring kotor di dapur.

“Begini cara buatnya, mudahkan?” Kangin juga mengajarkan teknik membuat kopi homemade tanpa merusak racikan khas miliknya—maklum karena inilah kedai Kangin menjadi terkenal

“Bisa” jawab Sungmin dan Kyuhyun bersamaan

“Bagus” Kangin menepis debu yang menempel di celemeknya, “Aku harus pergi mengambil beberapa biji kopi di agen, kalian jaga kedai! Aku tidak akan lama” perintah Kangin

Sungmin dan Kyuhyun mengangguk. Kangin beranjak keluar setelah melepas celemeknya

KLINGG

Tinggal mereka berdua di sana

Kedai kopi benar benar sedang sepi sekarang, Sungmin mengambil inisiatif untuk membersihkan setiap meja sedangkan Kyuhyun mencoba coba ajaran Kangin barusan—meracik kopi

“Sungmin” panggil Kyuhyun bosan

“Ng” gumaman kecil dari Sungmin sebagai jawaban

“Kau bukannya satu sekolah denganku kan? lalu kenapa sikapmu aneh kepadaku dari kemarin?” selidik Kyuhyun

Sungmin meremas lebih kencang kain lap di tangannya, “bukan apa apa, aku hanya terburu buru” ucap Sungmin berbohong

Kyuhyun makin heran melihat sikap apatis Sungmin, “Bagaimana kalau—

“Kau??!! kenapa sih selalu cari masalah denganku!!!” teriakan kencang dari samping kedai menghentikan ucapan Kyuhyun dan kegiatan Sungmin

“Ada apa?” Kyuhyun bergerak maju dan keluar dari kedai kopi

Ia melihat kedua orang pemilik toko yang saling berhadapan sambil menatap garang

————-~^of Course I Love U^~————-

Setengah Jam yang lalu

Ryeowook bersemangat berjualan ramen dari pagi. Semenjak pening di kepalanya hilang mendadak, Ryeowook jadi bisa bekerja dua kali lipat apalagi setiap jam makan siang seperti sekarang

Ryeowook berusaha melayani penjual dengan sebaik mungkin. Dia melakukan semuanya seorang diri

Sedangkan Yesung di seberang jalan sana, juga sama sibuknya dengan Ryeowook. Sebenarnya mereka berdua bisa hidup rukun tanpa ribut jika….

“Ryeowook-shi, aku memesan ramen dua bungkus yah” pinta seorang Ibu setengah baya padanya, “Baik Adjumma” Ryeowook mulai memasak ramen, membungkusnya rapat baru menyerahkan pada Adjumma itu, “semuanya 1500 Won” kata Ryeowook ramah—dia sedikit menunduk ketika memberi bungkusan ramen itu

“Er—Ryeowook itu apa?” Adjumma menunjuk pada bekas merah di dekat telinga sekitar leher, “eh?” Ryeowook spontan melihat dari kaca di samping tempat duduk pelanggan. Ryeowook melongo ketika ada bercak merah di lehernya—seperti

“AAAAAAAAA” teriakan Ryeowook yang kencang membuat beberapa orang yang lalu lalang berhenti, Yesung pun menatap Ryeowook aneh

“Darimana ini???aish” Ryeowook panik. Jelas jelas kemarin itu dia tidak sadarkan diri..jangan bilang??

Ryeowook meluncur ke toko Chulie, “Heechul!!!!” teriak Ryeowook

“Ya? Kenapa kau berteriak?? Bertengkar lagi dengan Yesung?” Heechul muncul masih memegangi gunting tumbuhan

Ryeowook menggeleng cepat, “Aku mau tanya sesuatu, kemarin…waktu aku sedang pingsan di toko, apakah kau yang menolongku??” desak Ryeowook

Heechul mengingat ingat kejadian kemarin, “itu pasti bukan aku—kemarin aku sibuk dengan para pelanggan, ah aku tahu itu Yesung, yah memang dia” Heechul yakin sekali, “Yesung yang menggendongmu ke atas ketika pingsan, tapi ada apa ini?” tanya Heechul masih tidak mengerti

Ryewook tercengang. Wajahnya berubah seketika—amarah memuncak, Ryeowook keluar dari toko lalu berjalan menuju toko okonomiyaki milik Yesung

“Ya!! Yesung!!! Apa kau yang menolongku kemarin??” hardik Ryeowook memukul meja di depan, Yesung tersentak. Untung saja pelanggan sedang sepi karena jam makan siang orang kantor telah selesai

“Kau—tidak sopan berbuat begitu di toko orang lain” ucap Yesung dengan nada berbahaya—dia tidak suka jika Ryeowook mulai mengobrak abrik toko miliknya

“Kau-?!! Dasar lelaki kurang ajar!!!!!!” tuduh Ryeowook langsung

“Ha?”

“Lihat ini” Ryeowook menunjuk bagian bercak merah di leher, “aku tahu dari Heechul kalau kau yang menggendongku masuk ke dalam kamar, dan lihat apa yang kutemukan tadi??” ujar Ryeowook kesal bercampur marah

Yesung menatap luka itu dan Ryeowook bergantian, “kita memang bermusuhan, tetapi aku tidak serendah itu!!!!” Balas Yesung berteriak, “aku menolongmu karena memang cuma ada aku di sana!!! Jangan seenaknya menuduh orang”

“Tapi siapa lagi???”

Wajah Yesung berubah dingin, “aku tidak tahu”

Ryeowook menatap Yesung lama, berusaha mencari kebohongan di matanya.

Sial, dia benar lagi, Batin Ryeowook

Tanpa berbicara apa apa, Ryeowook kembali ke kedai. Ia mengambil uang yang masih tergeletak di atas meja lalu masuk ke dalam.

Ryeowook berjongkok di dapur mungil yang menjadi satu dengan toko ramen, Ryeowook menutup mata, dia mengerjap beberapa kali kemudian menangis

Ryeowook tidak bodoh—jelas jelas itu adalah bekas kiss mark, tapi masalahnya siapa dan kapan?? Ryeowook makin memeluk tubuhnya erat, rasa takut mulai menjalar.

Apakah ada orang lain selain Yesung yang berada di kamar Ryeowook ketika ia tidak sadarkan diri dan melakukan sesuatu—sesuatu yang amat di takutkan oleh setiap perempuan

___

“Permisi” suara dari luar membangunkan Ryeowook dari lamunan, “Ya?” Ryeowook menyeka muka nya sehabis menangis, ia bangkit berdiri setelah menghela nafas berkali kali—berusaha menguatkan dirinya, “anda pesan apa?” tanya Ryeowook ramah

Ryeowook kembali sibuk berjualan, dia memasang wajah seperti biasa ketika melayani para pelanggan. Ryeowook memang bukan tipe orang yang akan menceritakan masalahnya dengan yang lain, dia saja tidak begitu dekat dengan Heechul. Ryeowook biasa menutup diri, berkomunikasi seperlunya pada penghuni ruko lainnya—kecuali pada Yesung

“Kamshamida” Ryeowook menunduk sambil mengantar Ibu Ibu itu keluar toko. Dia menatap nanar—wajah lelahnya tergambar dengan jelas. Ryeowook masih memikirkan masalah tadi, mungkin kali ini dirinya harus lebih berhati hati lagi

BYURRRRR

Yesung membuang air kotor bekas mencuci piring di depan jalan—dan guyurannya itu mengenai pinggir rok panjang Ryeowook

Ryeowook yang sudah berbalik kembali menghadap Yesung, “Kau??!! kenapa sih selalu cari masalah denganku!!!”

————-~^of Course I Love U^~————-

“Yah mereka bertengkar lagi” Kyuhyun mengeluh—sebelum dia bekerja di tempat Kangin, Kyuhyun sudah biasa mendengar Yesung dan Ryeowook saling adu mulut. Tapi untuk yang satu ini sudah mengganggu ketentraman umum

“Sebaiknya kita pisahkan sebelum kedua orang itu semakin menjadi jadi” saran Sungmin ikut keluar dari kedai

“Ok”

“Aku kan tidak sengaja” Yesung hanya mengangkat bahu lalu berlalu seakan akan tidak terjadi apa apa, “Ya!!! Bajuku jadi kotor begini??!! Kau!!” Ryeowook menunjuk wajah Yesung dengan kasar

“Sudah cukup” Sungmin memotong pertengkaran mereka, “lebih baik Ryeowook-shi berganti baju dan Yesung-shi, lain kali hati hati jika menyiram di jalan” Sungmin dengan tenang memisahkan mereka.

Melihat tidak ada yang bergeser dari depan jalan, Sungmin menghela nafas—dia menarik Ryeowook agar kembali ke tokonya lalu memberi isyarat pada Kyuhyun agar mengurus Yesung

“Ayo Ryeowook-shi tidak baik bertengk—“ ucapan Sungmin berhenti. Matanya terbelalak lebar. “Kau kenapa?” sekarang giliran Ryeowook yang heran melihat Sungmin yang diam seperti baru melihat hantu, “tidak—tidak ada apa apa” Sungmin kembali bisa menguasai diri

Setelah memastikan mereka berdua masuk ke dalam toko masuk masing masing, Sungmin dan Kyuhyun kembali ke dalam kedai Kangin.

“Kau kenapa tadi? Aneh sekali, sakit?” Kyuhyun duduk di pinggir dapur, “tidak” Sungmin sepertinya baru setengah sadar, wajahnya memancarkan rasa letih yang luar biasa. Kyuhyun saja heran menatap rekan kerjanya ini—padahal hanya memisahkan orang bertengkar namun keadaan Sungmin seperti habis di paksa kerja rodi dua hari penuh

“Sini biar ku periksa” Kyuhyun menaruh telapak tangannya di dahi Sungmin—untuk lebih meyakinkan.

“Tidak usah—aku sudah bilang tidak apa apa” Sungmin memegang tangan Kyuhyun—menepisnya

Namun lagi lagi. Sungmin terdiam. Kini gambaran wajahnya lebih terlihat ketakutan di banding yang tadi. Sungmin menatap Kyuhyun tidak percaya

“Kau kenapa lagi?” kali ini Kyuhyun benar benar khawatir, dia memindahkan tangannya di pundak Sungmin, “Sungmin..” bisiknya

Sungmin melepaskan pegangan Kyuhyun, “Kau?! Jangan berani menyentuhku..”

BRUKK

Tubuh Sungmin lunglai dan hampir terjatuh ke lantai jika Kyuhyun tidak menangkapnya, dia tidak sadarkan diri

————-~^of Course I Love U^~————-

“Masih banyak?” tanya Donghae lelah

“Pastinya” Eunhyuk menggeser tangga perpustakaan untuk mengambil buku buku di tempat paling tinggi lalu menyerahkan pada Donghae

“Apa sih bagusnya buku buku tua ini?” Donghae menatap malas sambil membolakbalikan buku di tangannya

“Banyak hal yang lebih menarik di perpustakaan ketimbang permainan bolamu itu” balas Eunhyuk tidak terima—tempat favoritnya di hina oleh Donghae

“Jangan bercanda” Donghae mendengus. Dia mengambil salah satu buku yang di turunkan. Buku dengan sampul tebal dan agak berdebu.

“Kahlil Gibran” Donghae membaca nama pengarang buku itu. “Buku yang berisi tentang puisi sampah untuk menipu diri sendiri tentang cinta” ucap Donghae sakratis

“Ya!” Kali ini emosi Eunhyuk sudah memuncak, “Kau jangan menghinanya jika tidak tahu apa apa tentang dia!! Aku yakin kamu bahkan tidak pernah membaca bukunya kan” Eunhyuk mencecar Donghae tajam

Dongha menoleh, tangannya menimbang nimbang buku itu, dia melirik Eunhyuk dengan pandangan meremehkan, “ ‘Jika kau mencintai seseorang, ikutilah dia, meski jalannya terjal dan menerpa…’ “ Donghae mengutip dengan sempurna salah satu ucapan terkenal Kahlil Gibran

Eunhyuk jelas terkejut, “kau…”

Donghae mengembalikan buku itu pada tempatnya. Dia masih tersenyum sinis menatap Eunhyuk, “Aku anak sepak bola yang tidak tahu apa apa tentang puisi, begitu kan menurutmu” katanya sambil melangkah keluar dari perpustakaan, Donghae melambaikan tangannya dari jauh ketika mengambil tas dari balik meja petugas.

Dia meninggalkan Eunhyuk yang masih terdiam seribu bahasa

“Dasar cewek kutu buku, seenaknya saja menilai orang sekali lihat” gumam Donghae, dia mengintip sekilas dari lapangan ke dalam perpus. Eunhyuk masih kesulitan menyusun buku dari tempat setinggi itu. Tetapi karena Donghae terlanjur kesal maka lebih baik dia pulang ke rumah, toh bukan urusannya jika Eunhyuk kecapekan seorang diri

————-~^of Course I Love U^~————-

KLINGGG

“Selamat datang” sapa Heechul pada sepasang sejoli yang masuk ke dalam toko, “Ah, Hangeng-shi” sapanya mengenal sosok namja itu

“Sayang, kenalkan ini Heechul—pemilik toko bunga yang sering kuceritakan”

“Ah Ra, namaku Park Ah Ra” yeoja di sampingnya mengulurkan tangan dengan ramah

“Anda ingin bunga yang mana Hangeng-shi? Bunga Mistletoe seperti kemarin?” tawar Heechul

Ah Ra menatap Hangeng heran, “Mistletoe? Kemarin?” ulangnya kata per kata

“Itu sayang, kemarin aku—“

“Aku bertanya pada Heechul-shi” potong Ah Ra tajam, ia mengalihkan pandangannya kembali, “apa maksudnya itu?”

Heechul melirik Hangeng sekilas—dia baru mengerti. Bunga yang kemarin di beli Hangeng bukan untuk perempuan ini, “Tidak kemarin itu—“ Heechul berada di posisi terjepit

“Kemarin Hangeng-shi memesan seikat bunga Mistletoe, mungkin untuk Ibunya” bela Heechul—berusaha menyelamatkan situasi

“Ibu Hangeng sudah lama meninggal” ucap Ah Ra dingin, dia menatap Hangeng marah

PLAKKKKKK

Tamparan keras mengenai wajah Hangeng

“Kita putus”

Ah Ra bergegas keluar, tak berapa lama Hangeng mengejar dari belakang. Heechul hanya bisa menyaksikan kejadian itu ngeri, baru kali ini dia membuat suatu hubungan retak di tengah jalan

Heechul miris melihatnya. Ia masih berdiri di tempat ketika Hangeng kembali dengan wajah penuh amarah

“Ini semua gara garamu!!!” hardiknya kencang

“Ha? Maaf anda bilang apa tadi?” Heechul menaikkan alis

“Ini semua gara garamu!!!” Hangeng menunjuk nunjuk tepat di wajah Heechul, “Maaf, mungkin perkataan saya tidak tepat tetapi bukan salah saya kalau anda menduakan kekasih anda sendiri”

“Kau?!” Hangeng menahan nafas—berusaha mengendalikan amarahnya, “Ku beritahu bunga kemarin memang bukan untuk Ah Ra, tetapi untuk wanita lain—Ah Ra dan aku baru jadian tadi pagi..seharusnya kau tidak usah mengungkit hal tidak penting seperti tadi” jelas Hangeng

Heechul masih bingung, “Kalau begitu bunga bunga yang kemarin dulu..”

“Itu untuk wanita yang berbeda pula” terang Hangeng tidak sabar

Heechul mendengus—akhirnya ia mengerti, “sudah berapa kali kau jadian dalam minggu ini?” sindirnya

Wajah Hangeng makin marah, “itu bukan urusanmu tukang bunga!! Aku bisa membeli bunga untuk siapapun, sebanyak apapun”

“Iya, anda benar tapi bukan di toko ku” Heechul menatap Hangeng sinis, “saya menjual bunga dengan perasaan—bukan hanya menjadi ajang untuk menarik banyak wanita untuk di jadikan mainan”

“Ck..ck…ck…mereka yang mendekatiku” Hangeng mengulum separuh senyumnya, “buat apa juga harus serius?” Hangeng mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Heechul, “Itulah hidup, harus di nikmati selagi bisa” ujar Hangeng dingin

Heechul menahan amarahnya, di tarik nafas perlahan, ia maju lalu membukakan pintu keluar untuk Hangeng, “bisa anda tolong keluar?” pinta Heechul

“dengan senang hati” Hangeng melangkah menuju pintu kemudian Heechul membantingnya kencang, “lelaki sakit!! Dasar gila!!” Heechul mengelus dada menyaksikan Hangeng malah menyeringai dari luar toko menuju kedai kopi Kangin

————-~^of Course I Love U^~————-

“Akhirnya selesai juga” Kangin menenteng beberapa belanjaan dari pasar. Dia sengaja berjalan kaki karena jaraknya yang dekat antara pasar dengan kedai kopinya yang terletak di Jln Te Amo

Ia bersiul pelan menikmati indahnya padang rumput di sebelah kiri kanannya. Daerah ini hanya penuh dengan ilalang tinggi dan beberapa taman tidak terurus.

Pandangan Kangin terarah lurus ke depan, tiba tiba ia menangkap sosok wanita yang tidak asing sedang duduk di hamparan rumput dekat pepohonan

“Bukankah itu Teuki? Pelanggan Heechul?” Kangin yang penasaran mendekat dari arah belakang—Teuki tidak sadar jika ada orang lain selain dirinya di sana

“Aku datang” bisik Teuki pelan

“Lihat aku bawa bunga tulip untukmu” Teuki merebahkan bunga tulip di rumput. Kangin semakin bingung, dengan siapa Teuki berbicara? Tidak ada orang lain selain dia di sini

“Apa kau mendengarku” suara Teuki lemah, dia memandang di depan—hampa

Teuki menatap bunga tulip itu seraya memainkan ujung tangkainya, “Aku selalu menunggumu, akan selalu menunggumu”

Kangin mengerutkan dahi, “ada apa ini sebenarnya” gumaman pelan Kangin ternyata masih bisa di dengar Teuki—spontan ia kaget lalu bangkit berdiri, “mau apa kamu disini?”

TBC

9 responses to “≈Of Course I Love U-Chapter Four≈

  1. Hadoh masih banyak tanda tanya di otak gw ..
    Penasaran bnget sama nih cerita..
    Ke next part aja deh ..

  2. dari part awal itu… aku selalu mau nyampein ini. tpi krna ceritanya seru.. jadi kelupaan terus..
    mmm… itu apa nama jl yg te amo itu. author ambil dri lagu yo te amo?? *buagh.
    bukan apa sih.. sapa tau kita sama. aku soalnya suka lagunya meski gak ngerti artinya
    #author : lo aja kalli gue enggak
    itu.. yg di temuin eeteuk siapa?? hanggeng beneran playboy??

  3. mistery cinta…haha apa misteri hidup..??? hehe :p
    tiap chapter.x ujung.x jd bikin makin penasaran…
    dan kadang apa yg kita pikirkan tak seperti apa yg terjadi….hmm

    oh sungmin kenapa td itu???
    apa dia punya sixsense??? hmmm

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s