≈No Other Like U-Twenty Four-{Truth}≈

Kyuhyun PoV

“Apa???” teriak Minnie histeris

Aku mengangguk. Betapa berubahnya wajah Minnie di hadapanku, ia terlihat malu dan sedikit bingung

“Aish, paling kau tidak mengerti” gumamku pasrah

Sungmin terlalu cepat 12 tahun untuk tahu maksudku sebenarnya

“Ya!! Aku ngerti kok” Minnie bersikeras

“Apa?” tantangku balik

Matanya menghindari tatapanku, “kau mau punya anak bukan?”

“Iya” jawabku ragu ragu, masa dia sudah mengerti…..

“Memangnya kamu mau punya anak berapa? Kalau aku mau punya anak lelaki hehehe” Sungmin melayangkan pandangan ke langit langit kamar—aku bisa membayangkan sosok Minnie menggendong bayi kami

Aku duduk di sebelahnya, “kalau aku sih tidak masalah perempuan atau lelaki, yang pasti dia anak kita” jelasku—bersama Minnie, ikut berimanjinasi

Ya Tuhan, aku benar benar ingin memiliki anak dari dia—istriku

Minnie menoleh, “tapi….” Ia menatapku dengan wajah polosnya, “berarti aku harus hamil dong?”

“Iya Minnie” aku mulai curiga, nih anak bener bener ngerti ngga sih? atau jangan jangan….

“Terus gimana caranya aku hamil?” tanya Sungmin penasaran

GUBRAKKKKKKKKKKKK

Kasur berderik kencang saat aku terjatuh berbaring di atasnya, Kenapa cobaanku seberat ini???

“Ya!! Kyu, kau kenapa?”

Aku menelungkup, mengacuhkan pertanyaan bodoh Minnie. Sudah ku duga—dia memang tidak mengerti, tapi aku tidak menyangka kalau reaksi Minnie begini????

“Tidak apa apa” Aku berbohong, “lebih baik kita tidur”

Sungmin menurut. Dia merebahkan diri di sampingku, segera saja ku tarik tubuhnya mendekat, memeluknya seperti biasa

Aku mengelus kepala Minnie lalu menciumnya lembut. Kenapa yah aku bisa jatuh cinta dengan orang seperti dia? Hmmm, mungkin ini yang di namakan takdir.

“Kyu” suara Minnie pelan dari arah dadaku

“kenapa?”

Kepalanya mendongak, “kamu marah?” Minnie terlihat takut, aku tersenyum kembali, “tidak—untuk apa?”

“Karena aku ngga bisa hamil” jelasnya lagi

Ha???

“Apa maksudmu dengan ga bisa??” selidikku

Wajah Minnie menunduk, “karena ngga tahu caranya?”

Arghhh, kok aku jadi merasa bersalah udah ngeracunin Si Minnie

Aku mendekatkan kembali tubuh kami berdua, senyumku kembali mengembang ketika merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan

“Nanti aku beritahu, sudah tidak usah di pikirkan” seharusnya aku meminta ini pas kami berdua sudah lulus, “kita tidur saja” ajakku

“Tapi kenapa tiba tiba kamu kebelet pengen jadi Ayah?” tanya Minnie penasaran

Aku memutar bola mata ke atas, “hmm sejak kapan ya?”

Sebenarnya aku juga tidak begitu tahu kapan dan kenapa tepatnya aku menginginkan hal mustahil itu

Entah kenapa aku melihat sesuatu yang beda pada Minnie semenjak kami berlibur ke Swiss, yah memang dia tetap polos dan selalu membuatku repot seperti biasa

Hanya…..Minnie lebih dewasa, dia selalu mengerti diriku apa adanya

Apa yang tidak kusukai dan apa yang kuinginkan

Apalagi ketika kemarin aku kecelakaan pas latihan basket. Betapa malunya aku ketika sadar tidak bisa memberi kejutan untuk Minnie dengan menghadiahinya sebuah piala kebanggaanku, malah Minnie yang membuatku terkejut.

Dia merawatku dengan sepenuh hati—belum lagi menyemangatiku ketika aku benar benar terpuruk, lihat? Minnie begitu berubah

Sisi keibuannya muncul ke permukaan

Sekarang aku selalu membayangkan perutnya membesar dan melahirkan anak untukku, anak kami

Aku menghela nafas perlahan, “belum saatnya Kyuhyun” gumamku sendirian. Minnie sudah tertidur lelap dalam pelukanku. Aku memandangi wajahnya yang polos, “aku akan bersabar untukmu” bisikku yang tidak mungkin di dengar Minnie

“Ya, aku bisa bersabar” Aku mengucapkan kata itu sekali lagi sebelum memejamkan mata lalu mulai tertidur

***

“Hya, kok udah UTS aja!!!”

“gimana donggg??”

Seisi kelas XI-3 berteriak frustasi. Mungkin tidak akan seheboh ini kalau bukan karena kami habis berlibur ke Swiss, murid murid kelas lain sudah mempersiapkan diri sebelumnya.

“Wookie denger deh, masa katanya tadi malam ada penampakan UFO di Indonesia” suara antusias Hangeng bergema keras—terlalu keras untuk orang di sebelahnya—Wookie

“Udah tahu, berita basi” kata Wookie, singkat padat dan jelas

“Tapi yang ini beda, katanya beneran ada Alien yang datangg” Hangeng masih saja ngotot, dia tidak melihat Wookie sedang sibuk baca buku

“Mereka berdua ngga berubah” gumamku tanpa sadar

“siapa?” tanya Minnie yang duduk di sebelahku

“Itu, Wookie sama Hangeng”

Aku heran karena senyum Minnie yang terulas di bibirnya, “kamu lihat deh, buku yang di baca sama Wookie” unjuk Minnie

“1001 fakta tentang UFO” aku mengeja judul buku itu, “Ha??? Sejak kapan Wookie di cuci otak sama Hangeng??” dulu aku mengenal Wookie sebagai orang yang amat realistis—terlalu malah

“Cinta kan memang mengubah seseorang” ucap Minnie spontan, “kenapa?” dia heran melihatku terkejut “ngga” elakku

Kenapa Minnie bisa menjadi anak kecil sekaligus orang dewasa pada waktu yang sama? Apa memang ini sifatnya? Aku bertanya tanya dalam hati

“Oh ya, Minnie nanti malam kita belajar yuk—ujiannya seminggu lagi loh” aku mengingatkannya

Wajah Minnie tampak protes, “ngga bisa lusa?”

“Kenapa pake di tunda?” tanyaku balik, apa bedanya nanti malam sama lusa?

“Aku ada urusan nanti” mata Minnie berputar ke kiri dan tidak menatapku, dia berbohong

“mau kemana?” suaraku meninggi, berani sekali Minnie menyembunyikan sesuatu dariku

“Ngga kemana mana” masih tidak menatapku

“Minnie, kamu ingatkan lusa itu kita mau makan makan sama anak basket” Aku menatap tajam. Karena dia tetap menghindar, aku mengangkat kedua tangan lalu menahan wajahnya, “kamu mau kemana?” kali ini aku benar benar marah

Mau tidak mau Minnie menatap mataku—sepasang mata hitam yang ketakutan

“Minnie?” nada suaraku terdengar berbahaya

Minnie memelas melihatku namun tetap tidak menjawab sama sekali

TING TONG

Bel masuk berbunyi, aku mendesah—melepaskan tanganku, “istirahat kita harus bicara” ancamku

Minnie hanya menunduk lalu mengangguk pelan

____

“Sekarang jelasin soal yang tadi!!” Aku melarangnya untuk pergi ke kantin dan tetap berada di kelas denganku, “tapi Kyu, aku laperr” Minnie berontak dalam genggamanku

“Ngga, jelasin dulu” Aku tahu kalau Minnie jauh lebih mudah di ancem kalau kepepet laper kayak gini, dia pasti ngasih tahu apapun

Minnie menyerah, “aku tadinya pulang sekolah mau ke toko buku” kali ini matanya menatap lurus kepadaku, hmm akhirnya jujur juga

“Ngapain?” desakku ingin tahu, kalau cuma ke toko buku saja kenapa harus di sembunyikan?

“Mau beli buku” kali ini Minnie menunduk, ngg?, “buku tentang Ibu Hamil” katanya semakin merunduk

Aku membelalakan mata, “Minnie, aku sudah bilang ngga usah mikirin hal itu” tegasku.

“Tapi—

“Ngga ada tapi tapian” Aku berpikir keras supaya fokusnya teralihkan, “Lagian kamu mau anak kita punya Ibu yang bodoh” kataku menyindir Minnie

Berhasil, wajahnya terlihat marah, “Kau?! Aku tidak sebodoh itu!!!”

“Buktikan nanti pas ujian” aku menantang Minnie

Malam harinya setelah selesai makan malam, aku mengajak Minnie untuk belajar bersama, dan seperti biasa..

PLETAKKKK

“Kamu kok udah lupa sih!!! ini kan Integral berbanding terbalik sama turunan!!” Aku benar benar marah, kemana semua pelajaran yang sudah aku berikan sewaktu ujian akhir kemarin. Paling tidak tak jauh berbeda

Sungmin mengelus kepalanya, “Aku kan lupa” ia bersungut sungut. “Pokoknya aku ngga mau tahu!! Kamu harus tahu rumus Integral dan bagaimana caranya mencari turunan pertama barang X terhadap permintaan” aku terus menyerocos tidak sabaran, bibir Sungmin bergerak gerak, “kamu mau protes??”

Sungmin mendelik ke arahku, “bisa ngga ngajarnya pake hati”

“Ngga bisa!” Nih anak kalo ngga di tekan, pasti ngga masuk masuk bahan pelajarannya

Sungmin menyerah, ia kembali meraih kertas putih dan mengerjakan soal dari buku. Aku terus mengamatinya—siapa tahu dari awal Minnie salah hitung

“Tunggu” ucapanku membuat Minnie berhenti menulis, “salah?” tanyanya takut takut

“Bukan” Aku meraih tangan kanan Minnie, menelitinya lebih lanjut. “Ini kenapa?” aku melihat ada bekas luka merah yang masih baru, “Oh tadi kena minyak panas pas goreng ikan” nada suara Minnie ringan—seolah olah ini bukan masalah besar

Wajahku berubah ngeri

Aku langsung mengambil kotak obat obatan di atas lemari lalu mengoleskan salep di tangan Minnie, “kamu tuh cewek!! Jaga diri kek!! Sakit?” tanyaku khawatir, Sungmin meringis sebentar, “mana sempet Kyu, kan habis masak tadi aku harus nyuci piring dan belajar bareng kamu” Mendengar itu aku mendadak berhenti, “kenapa?” katanya

“Mulai besok, aku yang cuci piring kamu masak aja, gimana?” Aku baru sadar kalau selama ini Sungmin selalu melakukan pekerjaan rumah sendirian—apalagi sewaktu aku terluka, berarti tugasnya dua kali lebih berat karena harus merawatku juga

Sungmin tersenyum, “boleh”. Selesai memberinya salep, luka itu ku bungkus hati hati dengan kapas baru mengeratkannya pakai plester

“Lanjutkan belajarmu” perintahku, Sungmin kembali berkonsentrasi. Ia mengerjakan ulang soal matematika itu.

“Ini” Minnie menyerahkan hasil jawabannya untuk kuperiksa ulang, “Hmm” sekali lihat saja aku tahu jawaban ini salah

Ck ck, berapa kali harus ku jelaskan agar dia mengerti!!!!!

“Minnie” mataku menatap tajam ke arahnya, “ya?” dia menjauh, “Ini salah!!! Kau—??!!” Aku hendak memukul kepala Minnie tetapi ku urungkan ketika melihat luka di tangannya, “Aishh, kerjakan dari awal” ku tarik tangannya dan menyuruh Minnie mengerjakan ulang

Ia terkejut, “kau tidak jadi memukulku?”

“Kamu mau kupukul?” tanyaku balik

Minnie menggeleng, “kalau begitu cepat kerjakan!! Aku sudah mengantuk” segera saja Minnie sibuk menghitung ulang Integral sementara aku bersandar di kursi menunggu dia selesai menulis

***

“Hahahaha” tawa nyaring terdengar membahana dari tempat ini

Kami sekarang berada di salah satu restoran mewah tempat Pak Kyo meneraktir semua anggota tim basket termasuk manajer, Minnie serta Heenim

Memang selain memenangkan piala, kami juga mendapatkan hadiah uang dari hasil pertandingan nasional kemarin, tetapi hanya sebagian yang jatuh ke tangan masing masing anggota. Selebihnya, uang itu di berikan kepada pihak sekolah.

“Selamat” Pak Kyo membuka pidatonya, “Kepada semua pihak, anggota serta manajer yang bekerja keras untuk kemenangan kita!! Selamat!!” Ia mengangkat gelas bir, kami pun mengikutinya lalu bersulang bersama sama

“Sekarang kita makannn” Siwon tanpa malu malu mengambil beberapa daging panggang yang sudah siap di meja, semua sibuk makan sambil sesekali membahas teknik teknik pertandingan yang masih harus lebih di tingkatkan lagi

“Dengar” suara Pak Kyo meminta perhatian, “Setelah UTS, Bapak berencana mengadakan latihan gabungan di SMA St Agatha selama3 hari, bagaimana kalian tidak ada acara kan?”

“Ha? Saya baru dengar Pak” kata Siwon mewakili pendapat kami semua

Pak Kyo mengangguk, “Ini permintaan dari sana, Bapak juga baru tahu dan sekolah sudah menyetujuinya”

“Kita menginap?” selidikku

“Iya”

Aku menyandarkan tubuh di sofa, padahal kukira bisa beristirahat sejenak setelah pertandingan usai, ternyata

“Sudah sudah” Pak Kyo mengibaskan tangannya, “tidak usah di pikirkan dahulu, sebaiknya kalian belajar untuk UTS minggu ini, ok?”

“Baik Pak” jawab kami serempak—kebiasaan seperti di lapangan

Aku melanjutkan makan dengan lemas, hanya mengaduk aduk daging di piring, “makanan tuh jangan di mainin kayak gitu” tegur Minnie di sampingku. “Kalau kamu mau, nih” Aku menyendokkan beberapa suap daging ke arah Minnie, ia membuka mulut lalu mengunyah dengan lahap, “enak Kyu” sahut Minnie, masih bisa berbicara saat mulutnya penuh

“Heeheehe, ya udah aku suapin lagi” Aku terus memberikan bagianku yang tersisa, kalau sedang begini Minnie terlihat seperti anak kecil

“Aduh mesra banget nih” sindir Heenim

Minnie menanggapinya dengan tersenyum, Memangnya kenapa, dia kan memang milikku

Tak terasa sudah 3 jam hingga larut malam kami berada di situ. Karena besok sudah mulai UTS maka tanpa basa basi kami membubarkan diri, Heenim di antar oleh Kibum pulang sedangkan aku berdua dengan Minnie berjalan kaki— tempat ini memang tidak jauh dari rumah kami

Sepanjang jalan aku lebih banyak diam. Perkataan Pelatih tadi masih membekas dalam ingatanku, latihan gabungan? Tapi kalau pergi selama seminggu bagaimana dengan Minnie? Dia boleh ikut ngga?

“Ya! Kyuhyun! Kamu tidak menyimak perkataanku barusan?!!” Gertakan Sungmin membuyarkan lamunanku, “memangnya kamu bicara apa?” tanyaku balik

Sungmin mengangkat alis sebelah, “aku bilang, gimana kalau sekali kali kita masak BBQ terus mengundang seluruh teman kita” katanya antusias

“Oh cuma itu, kirain ada yang penting” Aku mendengus kesal, Minnie mana tahu kalau aku gusar tentang latihan gabungan itu. Hmm, mungkin benar kata Pak Kyo—jangan di pikirkan dulu, besok masih ada UTS yang harus di kerjakan untuk mempertahankan prestasiku sebagai juara umum, hebatkan? Hehehee

*Author muntah darah dengan segala kepedean Kyuhyun*

*naskah di atas di minta sama Kyuhyun, nih orangnya ada di sebelah gw, ngancem pake golok*

#abaikan

Back to FF

Hari Ujian

“sudah siap Minnie?” tanyaku ketika soal ujian mulai di bagikan, “Er…lumayan” jawab Minnie sambil nyengir lebar, “ck” jawaban yang tidak meyakinkan. Padahal aku sudah mengajari semua bab dengan detail. Awas saja kalau nilainya kembali hancur

Selama UTS berlangsung aku memaksa Minnie untuk mengulang semua mata pelajaran yang sudah aku ringkas, bahkan kami pernah belajar hingga ketiduran di atas meja lalu hampir kesiangan mengikuti ujian terakhir

“Bagaimana? Kamu bisa ngerjain fungsi soal soal Integral kan?” tanyaku selesai ujian, “Udah mending ngga usah di tanya, liat aja nanti hasil akhirnya” keluh Minnie

“Iya iya” Aku menarik tangannya untuk pulang bersama.

***

“Kyu, ini handuk bersihnya”

“Makasih”

Aku memasukkan satu persatu baju ganti, kaus basket dan beberapa celana training ke dalam tas. Sungmin membantuku menyiapkan semuanya, jujur aku masih ragu harus meninggalkan Minnie sendirian di rumah selama 3 hari—tapi…semua anggota inti wajib ikut, ck coba saja aku bisa membawanya ikut serta

“Sudah Kyu, kenapa sih akhir akhir ini kamu suka melamun?” tanya Minnie lagi lagi menghentikan lamunanku, “Ngga, aku cuma lagi mikir” Ku pandangi matanya lekat, “kamu nanti ngga apa apa aku tinggal?” tanyaku sangsi

Sungmin tersenyum sambil mengancingkan tas besar milikku. Dia menyeret tas ke pinggir lalu kembali duduk di atas kasur, “tenang saja aku juga punya acara, ada festival komik di Seoul center dua hari lagi” ucapnya ceria

“Pergi sama siapa? jangan bilang sama Hangeng?!” tuduhku kesal, Minnie menggeleng, “Ngga paling pergi sendiri”

“Oh” Aku sudah siap tidur supaya besok tidak terlambat pergi ke sekolah, “Kamu kayaknya biasa aja aku tinggal selama 3 hari” kataku sambil menarik tubuhnya mendekat, “Hmm..mau gimana lagi” Minnie tersenyum—senyum yang nantinya baru kulihat 3 hari kemudian.

DEG

Bunyi jantungku berdetak kencang

“Kau kenapa Kyu?” Sungmin menepuk pipiku pelan, “Ah tidak” mataku tidak berbohong—aku terperangah saat berpindah menatap wajah Sungmin, “Bukan apa apa” Aku kembali memeluknya

Apa apaan itu?? Kenapa detak jantungku tidak beraturan. Bukan, ini bukan karena Minnie…hanya saja, firasatku mengatakan akan ada sesuatu yang membuat Minnie menjauh dariku

Sesuatu yang tidak aku tahu itu apa

“Kyu sesak” rintih Minnie

Aku tidak peduli, ku peluk tubuh Minnie lebih erat—erat sekali, seakan akan tidak mau melepasnya

____

Pagi hari sekali Minnie mengantar hingga kami bersiap naik Bis yang sudah di siapkan Sekolah

“Kibum” suara Heenim terdengar dari belakang, Kibum yang berada di sebelahku langsung menoleh dan menghampiri Heenim, “Apa sayang?” tanyanya lembut

Wajah Heenim mengeras, “Ingat, di sana jangan tergoda dengan yeoja dan kalau ada yang mendekatimu, usir diaaa” Hmm, sejak kapan dia jadi pencemburu begini? Bukannya dulu Heenim tidak menyukai Kibum. Aishh memang tidak bisa di tebak. Dulu aku pun begitu dengan Sungmin sekarang? Jangan di tanya—sampai detik ini aku tidak rela meninggalkan Minnie sendirian di rumah

“Kamu bisa sendirian?” tanyaku untuk kesekian kali

“bisa” jawabnya malas—mungkin Minnie mengira aku memperlakukannya seperti anak kecil, tapi bukan…kenapa firasatku dari tadi tidak enak?

“Kyu” Minnie mengibaskan tangannya ke wajahku, “ada yang aneh?”

Aku menatapnya lama, dalam sekejap aku memeluk Minnie, “Kyu kau kenapa sih?” ujar Sungmin gusar karena sekarang kami menjadi tontonan anak anak lain—bahkan beberapa bersiul melihat aku dan Minnie, “tidak apa apa, tapi” aku melepaskan pelukanku, “kamu jaga diri baik baik ya”

“Iya”

Kedua mataku terus menatap ke arahnya hingga bis membawa kami keluar dari komplek sekolah, ah ada apa denganku akhir akhir ini? kenapa firasat burukku tidak hilang juga. Mungkin cuma perasaanku saja, ya—Sungmin pasti bisa menjaga diri lagipula ada Heenim yang akan menemaninya selama aku pergi

____

Kami tiba di sekolah St Agatha hanya dalam hitungan jam. Tuan rumah yaitu pengurus ekskul basket langsung menyambut kami dengan ramah lalu mempersilahkan kami menempati beberapa kamar di dalam asrama mereka. St Agatha adalah sekolah campuran seperti sekolah kami namun berbeda karena mereka menyediakan asrama bagi para muridnya. Sehabis menaruh barang, kami langsung melakukan pemanasan dan sparing bersama mereka.

Banyak murid murid dari sekolah ini berkerumun di depan lapangan basket—aku lupa kalau sekolah tetap ramai meskipun ini hari minggu

“Ssst, itu tuh yang namanya Kibum, cakep ya”

“Ng, itu lebih keren, sebelahnya—Kyuhyun, Pemain terbaik tingkat Nasional” balas teman di sebelahnya

Ampun, teriakan mereka terdengar hingga di tengah lapangan—ternyata keadaan di sini tidak jauh berbeda dengan di sekolahku, sama sama ada stalker perempuan

“Ya! Cukup untuk pemanasan hari ini! kalian sebaiknya istirahat dulu di asrama baru, besok kita akan mulai latihannya!” titah Pak Kyo

“Baik” jawab kami serempak

Aku yang kelelahan segera mengambil handuk di tas lalu duduk sejenak. Aku minum sambil melihat pemandangan sekitar—bosan.

“Kyuhyun, ayo balik—besok kita bakal di bangunin pagi pagi buta lho” ajak Kibum yang sudah bersiap siap meninggalkan lapangan, “Oh” Aku bangkit berdiri—tidak kupedulikan teriakan histeris dari luar, “Kibum—kok gw ngerasa agak asing di sini, kayak ada yang kurang” keluhku sambil melihat lihat dalam asrama yang rapi

Kibum menoleh, “gw juga kok—apa mungkin ngga ada Chulie yah” gumamnya seraya menerawang

“Ha? Maksud lo gw kangen sama Minnie gitu?” Masa sih? ngga mungkin sehari ngga lihat dia udah resah kayak gini

“Ya, itu sih menurut gw—udah yuk kita di sini buat latihan” Kibum merangkul pundakku lalu menyeret langkah kami masuk ke dalam kamar

“Rebound Kibum!! Passing ke Siwon, Yak Terus!!!” suara Pak Kyo membahana keras di penjuru ruangan

Beliau tidak menyia-nyiakan sisa waktu dua hari di sini, latihan keras seperti ini memang sudah biasa kami lakukan di sekolah tetapi porsinya bertambah dua kali lipat karena latihan intensif bersama—padahal tidak ada kejuaraan yang akan kami ikuti. Pertandingan baru akan di buka satu tahun lagi, masih banyak kesempatan bukan?

Tetapi menurut Pak Kyo, latihan gabungan ini bagus untuk membiasakan tubuh kami selama sekolah nanti, apalagi St Agatha juga memiliki fasilitas lengkap di banding sekolah kami sendiri

“Cukup!! Sampai bertemu nanti siang” ujar Pak Kyo selesai ‘pemanasan’ pada pagi hari

“huh, gila—tubuh gw di porsir abis” Siwon terduduk di sebelahku—ia mengatur nafas yang mulai tidak teratur

“sama” kami semua sama lelahnya—nanti aku akan menggunakan jam istirahat untuk tidur dahulu—eh lebih baik aku menghubungi Minnie, mumpung ada waktu jeda

“Siwon?”

“Apa?” tanyanya balik

“Boleh ngga gw minta hape buat hubungi Minnie”

Siwon menggeleng, “ngga bisa—lo kan tahu bukan gw yang sita tapi Pelatih”

“Ck”

Pak Kyo sengaja menyita semua telepon genggam milik anggota tim, katanya bisa mengganggu latihan kami sewaktu pada hari pertama

Lalu? Bagaimana aku bisa tahu kabar Minnie?

“Arggghhh” Tenang Kyuhyun, tinggal sehari lagi lo bisa lihat dia.

“Segitu kangennya ya?” ucapan Siwon mengundang tawa anak basket yang lain, “lo ngga tahu aja—siapa tahu tiba tiba rumah gw kebakaran atau apa?? Gw cemas” tuturku jujur. Kibum menepuk pundakku, “ngga lah, rileks kek—kayak lo ngga pernah ninggalin Minnie aja”

Aku menunduk. Menatap tajam ke bawah—lantai basket yang bersih mengkilap, “tapi firasat gw ngga enak…beneran” gumamku pelan

Hari Terakhir

Aku menghabiskan sepanjang hari dengan semangat menggebu gebu, Pak Kyo saja heran melihatku begitu—bagaimana tidak? Hari ini aku akan kembali dan bisa melihat Sungmin lagi, tak bisa berhenti memikirkannya ketika dia tidak ada di sini

Apakah rasa itu bisa di sebut rindu?

Aku tidak tahu, aku juga tidak peduli, yang penting nanti sore aku akan pulang ke rumah—rumah kami berdua

*****

“Minnie aku pulang” teriakku keras sambil membuka pintu yang terkunci, “mungkin dia sedang memasak di dapur” tebakku namun ketika aku melangkah ke dalam, tidak kutemui sosok Minnie.

Langsung saja aku berlari kencang ke kamar, kosong. Tempat tidur kami bahkan lebih rapi dari biasanya—seperti tidak di tiduri beberapa hari

“Minnie” bisikku panik, Aku meraih telepon genggam di saku celana dan menghubungi nomornya

‘Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, silahkan mencoba beberapa saat lagi’

“Dia kemana??” Aku berusaha mengatur nafas yang memburu dan membuang jauh jauh pikiran negatif di kepalaku, “jangan bilang dia…ya tuhan Minnie kamu kemana” Aku duduk di sofa—panik, padahal tadinya aku sengaja tidak meminta Minnie untuk menjemput di sekolah karena ingin memberinya kejutan, namun sekarang…

“Ah Heenim pasti tahu dia dimana” Segera saja aku menghubungi nomornya, ‘Drriiit…..Drriiit’

“Halo” suara Heenim

“Heenim!!!” sahutku lega, “kau tahu di mana Minnie?? Aku tidak melihatnya di rumah” desakku setengah ketakutan

“…….”

“Heenim, kenapa kau diam saja??? Tolong” Aku menutup kedua tanganku dengan tangan, “beritahu aku di mana dia sekarang?? Jangan membuatku takut….” Kali ini suaraku terdengar memohon

“Minnie bersamaku” jawabnya singkat, aneh suara Heenim kaku—seolah olah ada kejadian yang di sembunyikan dariku

“Aku akan kesana” ucapku sambil bangkit berdiri

“Jangan” potongnya

“Kenapa?” sekarang aku benar benar tidak mengerti, ada apa sebetulnya ini???

“Hmm, biarkan dia bermalam di sini, please Kyu” Heenim memohon? Untuk Minnie? Pasti ada yang tidak beres

“Baik, aku akan menunggunya di rumah” kataku datar

“baik”

KLIK

Telepon terputus

“Sejak kapan aku diam saja, tidak mungkin” Aku meraih kunci motor di atas lemari es lalu berlari kecil ke arah garasi. Kukeluarkan motor dan menyalakannya—begitu sudah panas, aku langsung melaju dengan kecepatan tinggi

Tidak sampai setengah jam aku sampai ke rumahku yang dulu

KREKK

Bagus, pintunya belum terkunci. Hahaha, Heenim memang sedikit ceroboh. Begitu memasuki dalam rumah—aku mendengar suara berbisik pelan dari arah kamar Heenim—ah pasti ada Minnie di situ

Kulangkahkan kaki pelan pelan menaiki tangga—sesampai di atas aku berbelok ke pojok kiri, Kamar Heenim

“Kyu tadi meneleponku” sekarang suara Heenim mulai terdengar—sebaiknya aku bersembunyi di balik tembok saja, dengan begini aku bisa tahu apa yang mereka sembunyikan

“Aku tidak peduli” kali ini suara Minnie, apa tadi katanya? Tidak peduli?!

Aku mengkhawatirkan Minnie setengah mati malah itu jawabannya?

“Sudah maksud Kyu tidak seperti yang kau pikirkan” bujuk Heenim

Apa yang di dengar oleh Minnie sehingga begitu dingin kepadaku? Aku kembali mendekat—menguping lebih jauh

“Sama! Kenapa semua lelaki begitu menjijikkan” ucap Sungmin dengan nada sakratis

Aku menjijikkan?

“cukup” karena tidak tahan lagi dengan tuduhan Sungmin meski tidak kumengerti itu apa tetap saja—menyakitkan rasanya

“Kyu” Mereka berdua tersentak melihatku yang tiba tiba muncul di kamar ini, “Minnie kau harus menjelaskan ucapanmu tadi?” hardikku, “bisa bisanya kau mengatai suamimu sendiri??” aku mengerang marah

Sungmin berdiri dari atas kasur dan menatapku tajam—ada semburat aneh dari tatapannya, “Memangnya kenapa?? Kau pantas untuk mendapatkan julukan seperti itu!!” bantah Sungmin

“Kau?!” aku terperangah dengan sikap tidak percaya—ada apa dengan Minnie yang kukenal? Kenapa dia begitu berubah dalam jangka waktu sesingkat ini? apa salahku?

“Sudah!” Heenim berteriak menghentikan pertengkaran kami, “Kyu aku mau bicara denganmu di luar” ucapnya tegas

“Apa?!!” Aku berontak namun karena melihat tatapan marah Heenim akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya keluar, “sekarang jelaskan kepadaku ada apa dengannya?”

Heenim mengambil nafas panjang, “kemarin Sungmin pergi ke festival komik, memang salahku tidak bisa menemaninya kesana karena tiba tiba aku tidak enak badan”

“Tunggu, apa dia pergi dengan pria lain?” potongku mencoba menebak nebak arti sikap aneh Minnie

Heenim menggeleng, “bukan tapi…” suaranya tercekat, Matanya melirik ke arahku takut takut, “Minnie tidak sengaja membeli komik ‘dewasa’ “ Heenim memberi penekanan pada kata terakhir

“Maksudmu komik Yadong?” tebakku masih belum bisa membaca dimana letak masalahnya, “Ini berbeda—komik Jepang…dan itu lebih parah” Heenim melebarkan mata—berusaha membuatku mengerti

“Ah” Aku mengangguk, “terus hubungannya denganku??” tanyaku tidak sabaran

Heenim menatapku iba, “Minnie menganggapmu begitu karena kau pernah mengatakan ingin menjadi ayah bukan? Dan ketika dia membaca komik itu makanya..” Heenim menggantungkan kalimat terakhir

“Aku sama bejatnya seperti yang ada di komik itu” aku terkejut. Bagaimana bisa Minnie membandingkan suaminya sendiri dengan tokoh komik hentai seperti itu!!

Aku benar benar marah. Aku berjalan cepat meninggalkan Heenim di luar dan langsung menemui Minnie, “kita pulang” perintahku—tidak peduli dengan wajahnya yang ketakutan. Demi Tuhan, apa aku begitu hina di mata Minnie sekarang?

“Tidak, aku mau menginap saja” kata Minnie cemas namun aku tetap menarik tangannya untuk kembali ke rumah kami, “Chulie” rintihnya minta pertolongan

“Kyu, biarkan dia di menginap sehari” Chulie kasihan melihat wajah Minnie. Aku menghempaskan tangan Minnie, membuatnya agak hilang keseimbangan, “terserah!” teriakku kesal bercampur marah, “Terserah!!”

Aku mengatur detak jantungku yang memburu. Minnie dan Chulie hanya mematung melihatku begitu

Ternyata ini firasat buruk itu. Minnie membenciku

Dia membenciku

Kenapa rasanya lebih sakit ketimbang waktu tanganku terluka dulu?

“Kyu” bisik Chulie pelan, “Minnie, lebih baik kamu ikut Kyu pulang—dengar dulu, selesaikan masalah ini berdua” Chulie mendorong Minnie agar mau menaiki motorku

“Bicara baik baik, aku sudah pernah mengingatkanmu tentang ini” perintah Heenim, Aku mengangguk pelan.

Aku menaiki motor, menghidupkannya sambil menunggu Minnie naik di belakangku. Dalam perjalanan ia terdiam—aku hanya bisa menatap wajahnya yang berpaling ke samping dari kaca spion

Padahal aku ingin melihatnya tersenyum—bukannya ketakutan seperti ini…

“Sudah sampai” kataku datar. Minnie turun tanpa menungguku dan masuk ke kamar kami berdua

“Minnie” panggilku, “kita harus bicara” Ia memunggungiku dari belakang, “aku sudah tahu semuanya” Minnie berbicara duluan

“Apa maks—

“Sebenarnya ketika kamu bilang ingin menjadi ayah, aku penasaran dan ingin tahu segalanya” Minnie terdiam sejenak, “dan waktu aku pergi ke festival komik—penjual disana bilang ada manga yang bisa memberitahuku tentang ‘hal’ itu, makanya aku membeli komiknya, ternyata….”

Penjual brengsek!!! Kalau tahu begini kejadiannya, aku lebih rela jika Minnie pergi bersama Hangeng

“Ternyata?” tanyaku balik—berusaha menebak nebak apa yang ia pikirkan

Minnie menoleh, tatapannya yang dingin amat menusuk, “itu menjijikkan” sindirnya

Aku tahan rasa sakit di dadaku yang sedari tadi berdenyut kencang. Minnie melemparkan salah satu buku ke arahku, dan ketika aku memungut serta membacanya, Aku merasa mual—terlalu brutal untuk orang awam yang belum tahu apa apa seperti istriku

“Ya Tuhan” kataku, “Minnie ini semua tidak seperti yang kau pikirkan” suaraku mengiba, betapa bodohnya ia membandingkan aku dengan komik sampah itu

“Sama saja intinya!!!” kali ini Minnie menumpahkan segala kegundahannya, “Apa bedanya??!! Kau ingin aku melakukan ‘itu’ kan??”

Untuk yang satu itu aku tidak bisa membantah, “Iya, tapi aku berbeda—aku tidak akan menyakitimu” pintaku dengan lebih lembut

Seluruh pertahananku runtuh. Aku benar benar menyakiti Minnie dengan cara yang berbeda, andai saja ia tidak mengetahuinya dari orang lain, pasti reaksinya tidak se-ekstrim ini

“Sebaiknya kita tidur, besok kita harus sekolah” suaraku pecah—tidak ada perlawanan. Minnie mematung melihatku begitu rapuh

Aku mengambilkan beberapa bantal yang selama ini kami simpan di dalam lemari karena tidak di butuhkan, kuletakkan bantal di atas ranjang—memberinya jarak antara aku dan Minnie

“Aku tidak akan menyentuhmu selama kau tidak menginginkannya—aku janji” aku tersenyum pahit—begitu susah menepati janji itu. Aku begitu ingin memeluknya tadi—tapi…melihat penolakan Minnie, tatapan matanya yang dingin

Sudahlah….ini semua memang salahku

Aku tidur memunggungi tubuh Minnie, tidak lama berselang derak kasur bergeser, ia pun berbaring di arah sebaliknya

Aku berusaha memejamkan mata—tetapi tidak berhasil, susah sekali tertidur tanpa Minnie dalam dekapanku

Aish, sudahlah Kyu, kau harus bisa menghadapinya, batinku pelan

“Kyu”

Suara Minnie memanggilku

“Ya?” jawabku ragu ragu—jangan bilang dia masih mau berdebat masalah tadi

“Aku ini anak tunggal, kedua orangtuaku begitu melindungiku secara berlebihan—aku ingat sekali mereka bahkan menyeleksi bacaan untukku” Minnie berhenti sebentar, menarik nafas untuk kembali berbicara, “aku sama sekali buta tentang hubungan lawan jenis, yang kutahu selama ini hanya berciuman—cuma itu.” Minnie tertawa miris

Ternyata dia lebih polos dari yang kukira—pantas saja Minnie tidak menolak kalau aku menciumnya

Aku masih terdiam menunggunya selesai berbicara

“Tetapi ketika mendengarmu selalu mendadak bisu, aku penasaran..aku mencari tahu tanpa sepengetahuanmu, dan ketika mataku terbuka tentang itu…”

“Dengarkan aku Minnie” kupotong ucapannya

“Bercinta tidak seperti yang ada di pikiranmu sekarang. Segala sesuatu ada dasar untuk melakukannya—dan aku menginginkan itu karena aku mencintaimu bukan karena nafsu semata” jelasku tanpa membalikkan tubuh

“Menurutmu kenapa aku bisa menahannya selama ini? apa aku pernah memaksa ‘itu’ kepadamu? Karena aku menunggumu hingga siap—siap untuk kumiliki seutuhnya” bisikku, akhirnya suara hatiku bisa tersampaikan dengan jelas

“Minnie?” panggilku karena dia tidak menyahut sama sekali ucapanku

“Hmm” desahnya kecil

“Lebih baik kita tidur—besok pagi saja kita bahas lagi” elakku—siapa tahu Minnie mengacuhkan perkataanku. Dia kan sudah terpengaruh oleh buku sialan itu

“Kau bisa tidur tanpa bantalmu?” tanyanya balik

Aku tersenyum di atas bantal, “tidak—tapi aku akan berusaha, sudah lebih baik kamu tidur” Aku kembali memaksa memejamkan mata—mencoba terlelap

DREKKK

Bunyi derak kasur lagi lagi terdengar

“Kyu” Sungmin menarik kerahku dari belakang, segera saja kubalikkan badan—wajah Minnie berada dekat sekali, aku menatapnya lama dan dalam

Minnie tersenyum! Akhirnya dia tersenyum juga—tanpa sadar sudut sudut bibirku mengembang, membentuk seulas senyum untuknya

“Maafkan aku” wajah Minnie menyiratkan rasa bersalah, aku menarik tubuhnya kemudian memeluk Minnie erat—ah lega sekali

Aku menemukan tempatku sekarang

“Tidak apa apa” bisikku—ia tidak memberontak ketika ku bawa tubuhnya semakin dekat dalam pelukanku, “aku hanya takut—melihat itu—

“Ssst” bisikku sekali lagi, “aku akan melakukan berbeda dengan buku brengsek yang kau beli, tenang saja” Aku mengelus kepalanya lembut, nafas Minnie menyapu tubuhku perlahan

“Aku hanya ingin mengabulkan keinginanmu untuk menjadi ayah” Minnie mendongak ke atas—ku lihat wajahnya yang polos—yah paling tidak masih sama seperti dulu, “Hmm, itu nanti saja” jawabku sambil tersenyum bahagia

“boleh aku menciummu?” pintaku hati hati—memikirkan kemungkinan Minnie menolak

“Boleh” balas Minnie, walaupun ada nada cemas di suaranya

Aku meraih tekuk lehernya—membawa lebih dekat dengan wajahku. Ku miringkan kepala lalu mencium bibirnya pelan. Minnie membalas perlakuanku. Aku mencoba memasukkan segala hasrat dan keinginanku yang tulus—aku ingin Minnie sadar kalau….

“Aku mencintaimu” desahku ketika melepaskan ciuman kami

Minnie menghirup kuat udara di sekeliling, ia menatapku lekat, “aku juga mencintaimu” balasnya

Segera saja kupeluk lagi tubuh Minnie, mengelus punggungnya sayang, “Sek—

TOK TOK

“Kyu, itu bunyi apa?” Sungmin beranjak duduk di tempat tidur, “tidak mungkin ada tamu malam malam begini” Aku bangkit berdiri menuju pintu depan—di belakang Minnie menyusulku juga

TOK TOK

“Sebentar”

Aku membukakan pintu yang terkunci, Minnie bersembunyi ketakutan di balik punggung, “Bukan hantu kan?” tanyanya panik

“Ya buk—

“Hai!!!!! Kalian kangen dengan kami!!!!!!” Teriakan mereka bisa membangunkan satu komplek kalau saja tidak aku hentikan

“Umma, Appa, Adjumma dan Adjushi ngapain malam malam ke sini??” tanyaku tanpa menyembunyikan rasa kesal

Mereka hanya tersenyum manis sebelum menerobos masuk ke dalam ruang tamu kami, “Umma dan Appa kangen dengan kalian” ujar Umma

“Tapi ngga malam juga datangnya” sindirku, “kenapa tidak pulang ke rumah masing masing?”

“Ah, Kyuhyun, kamu tidak senang melihat kami datang? Apa kami menganggu kalian?” goda Appa Minnie saat aku ikut duduk di sofa—di samping Minnie

“Tidak” jawabku keras, kenapa mereka nyengir nyengir seperti itu. Aku mengikuti arah pandang mereka, Ah wajah Minnie terpoles memerah. Ia memang tidak bisa menyembunyikan apapun, keluhku

“Nah kapan nih kalian mau memberi kami cucu?” tanya Umma Teuki menyeringai ke arah kami dengan jelas

“Sehabis kelulusan” jawabku dan Minnie bersamaan

Kami bertukar pandangan, tersenyum kecil sebelum kupegang erat tangannya kedalam genggamanku

“Ya, aku akan menunggumu hingga saat itu” bisikku lembut—tidak kupedulikan tatapan ingin tahu dari ‘penonton’ kami

Aku menatap Minnie, orang yang akan memberiku bayi—yang menjadi ibu untuk anak anakku

Aku benar benar mencintainya

TBC

18 responses to “≈No Other Like U-Twenty Four-{Truth}≈

  1. hueeeeeeeeeeeeee~ nyesek bahagia bacanya…

    sumpah kyupil dewasa bangetttttt…>,< aku suka, suka bangettt….

  2. ff ny keren kakak…
    >0<
    ini bener2 bikin senyum2 gaje.
    top bgt!
    blogny jg huohhh…*Q*.
    al masih baru pke wp,jd msh buta bgt.
    (_ _)v
    bisa ajarin al??
    #kedip genit
    ^,~

  3. Ahh~ so sweet banget ya EvilKYU….kkk~
    Minnie…minnie..ckck *cuman bisa geleng” kepala…wkwk
    God job thor.
    *brb next read

  4. ah kyu emg baek :’) dia bnr” baek ke minni hahaha luv u kyu km yg trbakk wad minni

  5. kyuppa memang harus bnr2 extra sabar ya,krna minnie yg polos’a tiada tara deh,,

    untung deh kyumin klu lgi mrhan ga pnh lama,

  6. gara” keingin tahuan Minnie…ckckck
    kya’y Kyu mesti turun tangan sendiri dech kasih les privat k Minnie~~jngn smp salah info lg,bsa bahaya!

  7. ternyata itu firasat ga enaknya kyu?
    ya ampunnnn… minnieee… ternyata minnie, dia bener bener polos tapi untung kyu orangnya dewasa.
    kasian juga liat minnie terlalu polos gitu.
    itu orang tua pada ga tau waktu apa? malem malem main ke rumah anaknya. kenapa ga pulang ke rumah masing masing aja coba?

  8. mereka makin so sweet banget sihh
    ortunya min menyeleksi semua bacaan min
    tapi minta cepet2 punya cucu
    lah wong anaknya dibikin polos begini
    haduuuuuhhh hehehe
    tenang minie itu engga akan seperti yg kamu bayangkan ko hhehe
    lanjut baca dulu ahhh

  9. Hadeuh Ming, kau polos sekali…

    Aku suka bgt sama Kyuhyun di sini >_<
    Wah2 rombongan tetua (?) Pada dateng…

  10. Ya ampuuun minieeeeeee.., polos bgt, msk kyu di sama’in ama pemeran komik yadong.. Hahahaha😀

    Senyum2 sendiri baca part ini🙂

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s