≈No Other Like U-{Kyuhyun Letter’s}≈ PG-15

@Kyuhyun PoV

Aku tidak tahu harus berkata apa

Semua terjadi begitu saja

 

-Okinawa, Jepang-

Selama ini aku selalu berusaha menahan diri agar tidak menyakiti Minnie, dalam bentuk apapun. Tetapi sekarang, Minnie sangat menggodaku, entah apa yang merasuki pikiranku—mendadak ingin sekali menyentuh Minnie dan melakukan lebih dari semua perlakuan yang tidak biasa aku tunjukkan

Sebenarnya, aku bisa saja mengalihkan pikiran itu—apalagi Minnie sudah mulai tidak menunjukkan gelagat aneh lagi *Kyuhyun memutar bola mata*

Hingga malam itu

Malam di mana Minnie sendiri yang mengajukan penawaran kepadaku—penawaran yang mengambil alih akal sehat dan membuat tubuhku melakukan refleks spontan

“maaf” Ia  nyengir bersalah, “sekarang boleh deh giliran kamu untuk egois, aku pasti akan melakukannya, gantian gimana?” tawar Minnie yang sontak mengagetkan diriku

“Apapun?” ucapku mulai memikirkan hal yang tidak seharusnya aku pikirkan

Minnie malah tidak menyadari bahaya itu, dia mengangguk bersemangat, aku sungguh sungguh, kau terlalu baik, kemarin…..” Minnie merunduk sedih—seperti mengingat sesuatu, “aku benar benar takut kau tidak ada…padahal semua salahku, jadi untuk menembus semuanya…” lagi lagi senyum manis Minnie terukir di bibir mungilnya, “katakan apa maumu?”

Aku tidak kuat lagi

Dia benar benar tidak sengaja membangunkan monster dalam diriku

“Biarkan aku menyentuhmu” aku membisikkan kata kata itu sebelum meraih wajah Minnie mendekat dan langsung menciumnya

Dapat kurasakan dia sama sekali tidak menolak, aku mengartikan itu bahwa Minnie menginjinkanku melakukan lebih. Segera aku menyentuh kulitnya dari balik kaus

Saat itulah aku tersentak—mataku terbuka saat Minnie mendorong tubuhku menjauh

Ia menolakku

“Kyu” bisiknya sedih

Kenapa Minnie harus bersedih? Kan aku yang seharusnya merasa terluka—di tolak olehnya

“Katamu aku boleh egois” tuduhku masih tidak terima

“Aku..” Sungmin menahan nafas sebentar, “aku masih terbayang adegan sadis di komik waktu itu Kyu” penjelasan yang sebenarnya masuk akal—namun terlambat, aku terlanjur sakit hati

Ku raih wajahnya lagi agar langsung menatap kedua mataku, “aku berbeda, sudah pernah ku bilang bukan? Aku tidak akan menyakitimu” bujukku

Yah walaupun aku tahu itu sia sia, lihat saja—Minnie masih melirikku seolah olah aku adalah binatang buas yang haus kepuasan, aku masih terlihat jijik di matanya

Tidak! Minnie tidak membenciku! Aku mengulang kalimat itu berulang kali di dalam hati sambil memeluk tubuh Minnie seperti biasa—saat kami ingin tidur, “anggap saja aku tidak pernah bicara, kita tidur saja” bisikku menyerah. Memang belum saatnya kami melakukan hal itu

Tarikan nafas Minnie agak memburu, aku memeluk tubuh Minnie lebih erat—tidak dia tidak boleh ketakutan seperti dulu.

“Kyu?” panggilnya dalam dekapanku

“hmm, kamu belum tidur?” tanyaku dengan nada sesantai mungkin walau aku juga gugup menghadapi sikap Minnie yang sulit di tebak akhir akhir ini

“aku mau” bisiknya terlalu kecil

“mau apa?” mungkin Minnie ingin ke kamar mandi sebentar—soalnya aku bisa merasakan kedua tangan Minnie bergetar hebat di balik punggungku

“aku mau melakukannya” kali ini nada suara Minnie naik—EH? MAU?!

Aku melepaskan pelukan dari tubuh Minnie lalu menatap wajahnya yang mulai memanas hingga ke telinga

Ia serius

“Aku akan melakukannya perlahan” janjiku sebelum masuk ke dalam selimut dan menarik tubuh Minnie mendekat

Ku tatap wajahnya yang begitu cemas—Minnie pasti ketakutan

Ku elus kedua pipi dan mulai mencium bibirnya seperti biasa, hanya kecupan lembut untuk menenangkan tubuh Minnie yang masih bergetar, gugup

Berhasil, Minnie mulai rileks—dan membalas ciumanku. Setelah beberapa lama, aku melepaskan bibir kami sambil mengelus wajahnya yang makin merona merah

“Sekarang tutup matamu” pintaku

Minnie menurut, ia mengerjapkan mata erat erat. Aku memberanikan diri menarik kaus dari bagian atas tubuh Minnie tetapi terhalangi oleh kedua tangannya yang mendekap di dada

“percayalah kepadaku” aku membisikkan kalimat itu—berusaha memasukkan segala janji yang aku miliki seraya melepaskan dengan lembut satu persatu baju pada tubuh Minnie

Aku bergegas melepas pakaianku juga—berusaha tidak melihat tubuh Minnie yang sudah polos di depanku, aku menahan diri agar tidak menuruti hawa nafsuku sendiri

Setelah selesai, aku menggeser tubuhku ke arah Minnie, ku elus bagian punggungnya, halus sekali. Dalam hati aku senang sekaligus bahagia mengetahui bahwa akulah orang pertama dan terakhir yang pernah menyentuh Minnie

Dia milikku seutuhnya sekarang

“Buka matamu” pintaku

Perlahan kedua mata Minnie mengintip dari balik kelopak atas, lalu mulai terbuka utuh dan menangkap wajahku yang berada tepat di depan Minnie

Aku tersenyum

Minnie menatapku dengan pandangan menilai—tetapi perlahan nafasnya mulai teratur dan bibir Minnie membentuk senyum yang kusukai

“saranghae” bisikku sambil kembali mencium bibir Minnie

Kali ini aku memperkirakan semuanya. Kucium dia dengan lembut sambil terus memperdalam hingga Minnie bisa membalas ciumanku

Tubuhnya tidak mengejang, kedua pundak Minnie mengendur seiring dengan kedua mata Minnie yang sudah tertutup rapat

Aku menarik nafas lega karena dia mulai tidak takut lagi. Aku makin memperdalam ciumanku

Karena yakin Minnie sudah siap, kulepaskan tangannya yang menghalangi tubuh kami lalu memindahkan ke balik punggungku

Tubuhnya hangat dan menempel lembut pada kulit terluarku

“Kyu dingin” desisnya saat kami berciuman

Aku menggumam kecil sambil menarik selimut tebal—menutupi tubuh kami berdua lalu tangan kananku mencari cari remote untuk mematikan lampu kamar

Dalam gelap lebih mudah bagi Minnie melakukan ini bersamaku

Aku begitu bersemangat meskipun tetap menahan segalanya

Kedua tanganku menyentuh seluruh bagian tubuh Minnie, membuat tubuhnya menggigil bercampur takut—dapat kurasakan pada ciuman Minnie yang mengendur tertahan

Aku terus menyentuh Minnie dengan begitu hati hati. Seperti kaca yang mudah retak—barang porselen termahal di dunia atau seperti seorang saudagar emas menemukan harta karun

Tidak akan kubiarkan ada suara tangisan Minnie atau rintihan sakit akibat perbuatanku, aku akan melakukannya perlahan—selangkah demi selangkah

Dan kesabaranku membuahkan hasil

Nafas Minnie mulai tidak beraturan, ia berkali kali memanggil namaku sambil berpegangan pada leherku saat aku kembali menciumnya lagi

Sekarang aku rasa semua sudah cukup

Ku dekatkan tubuh Minnie dan mendekapnya erat

“aku mencintaimu” bisikku lembut

Kurasakan kepala Minnie mengangguk lalu terbenam erat di bahu kiriku

“aku juga……ah” suara Minnie terputus, ia meringis, tangannya mencengkram punggungku lebih tajam

Aku menghentikan gerakan sejenak, takut jika Minnie lebih terasa sakit

Sedikit demi sedikit, aku bersabar menunggu Minnie mulai terbiasa dan menaruh kepalanya sayu di balik bahu

Sesudah itu aku balas memeluk tubuh mungil Minnie dan melakukan semuanya

Minnie terhempas lemas ketika aku sudah selesai. Ku baringkan Minnie di atas kasur, mengelap keringat yang membasahi wajahnya lalu aku peluk dia erat erat

“terima kasih” bisikku

Minnie tidak menjawab, ia sudah terpejam lelap dalam dekapanku


***

Ke esokkan pagi

Minnie membangunkanku dengan suaranya yang khas bernada tinggi sambil marah marah di depan pintu kamar.

Aku mengerjap sejenak, kupakai baju semalam dan keluar menyusul Minnie

“ada apa sih?” tanyaku keheranan

Minnie menatapku dengan pandangan malu bercampur resah, “ lihat ini tagihan kamar kita” tunjuk Minnie menyerahkan bill ke arahku

Wow mahal banget!

Tetapi tidak apa apa, toh berkat hotel ini aku bisa menyentuh Minnie semalam

“Ini aku akan membayarnya” ku serahkan kartu kredit unlimited milik Appa dengan enteng—memang ini bukan masalah besar, Minnie saja suka uring uringan

Resepsionis itu kembali menyerahkan kartu kreditku, belum sempat ia mengucapkan terima kasih, Minnie sudah menarikku keluar dari hotel

“kita kembali ke hotel Ikuta! Buang buang duit aja tidur di tempat kecil kayak gitu”

Aku hanya tersenyum misterius—tanganku yang di genggam erat Minnie ku ubah sehingga kami bergandengan sepanjang perjalanan

Minnie terus mengoceh tanpa henti mengenai berapa jumlah uang yang ku keluarkan tadi pagi—aku mendengarkan dengan seksama, entah kenapa semua perkataan Minnie hanya untuk mengalihkannya dalam pembicaraan tentang…

“ada apa?” tanya Minnie sedikit risih karena aku tidak berhenti menatap wajahnya

“aku kira kamu minta kesini lagi karena mau lanjutin bulan madu kita tadi malam” tuturku sengaja

Darah di di dalam urat nadi Minnie mengalir deras—membuat wajah Minnie merah terang, reaksi atas ucapanku barusan

“aku…bukan…a..aishhhh, aku kan sayang kalau kamar yang sudah di bayar mahal tidak di pergunakan sama sekali, kamu ngga tahu rasanya jadi ibu rumah tangga sih” jawab Minnie bersikap seolah olah tidak terjadi apapun


TING


Pintu lift terbuka, kami masuk dengan keheningan jangka lama—aku semakin menyeringai lebar melihat sikap Minnie yang gugup berduaan saja denganku di dalam lift

Apakah itu malu, atau….

“masih ada 3 hari lagi” aku menggumam kecil, memikirkan sesuatu—sesuatu yang menjadi rencanaku sekarang

Minnie menoleh cepat, “3 hari kita di Okinawa maksudmu?” ujar Minnie bertepatan dengan lift terbuka di lantai 5

“Bukan, bukan itu” sergahku. Hampir sama tetapi tidak betul sepenuhnya

“lalu apa?” desak Minnie masih penasaran sambil membuka pintu kamar kami

Aku menatapnya penuh arti dan kedua sudut bibirku membentuk senyum membujuk. Melihat itu wajah Minnie berubah sedikit panik, “Ya! Kyu kau kenapa lagi?!” bentaknya gusar

Aku tidak menjawab

Ku angkat tubuh Minnie ke atas bahu, yang sudah pasti dia berteriak memberontak lalu menjatuhkan Minnie hati hati di atas tempat tidur

Hupp

“Kamu ngapain sih?!”

Aku menindih Minnie sebelum ia berdiri kembali, “bagaimana sisa hari kita gunakan untuk bulan madu, seperti katamu kan sayang kalau kamar mahal begini tidak di gunakan” godaku memakai kata kata Minnie dengan maksud yang sama sekali berbeda

Minnie terdiam. Ia memalingkan wajah tanpa menjawab pertanyaanku—permintaanku. Tidak menolak tetapi tidak juga mengiyakan

Sikap Minnie seperti ini membuatku kalut—jangan bilang semalam aku malah…..

“apa aku menyakitimu?” ujarku ngeri

Minnie masih belum mengatakan apapun

“Minnie??” desakku tidak sabar sambil mengguncangkan tubuhnya. Minnie menggeliat sedikit di bawah tubuhku—ia membuka mulut, mulai berbicara, “tidak..”

Tidak? Tidak apa? Pikirku masih ketakutan setengah mati

Minnie mengeluarkan suara kecil tanpa memandangku, “kau sangat lembut malah” ucapan Minnie menjelaskan semua tindak tanduk anehnya sejak kami bangun tadi pagi

Dia hanya malu, itu bisa kulihat dari wajah Minnie seperti kepiting rebus—terus menjalar hingga ke belakang telinga. Aku semakin tersenyum lebar mengetahui maksud Minnie sebenarnya

“jadi, Minnie, kamu keberatan kalau kita berbulan madu di kamar ini?” tanyaku bernada resmi seperti pembawa berita malam di TV

Minnie spontan tertawa pelan—raut wajahnya kembali rileks, “tidak”

Aku berteriak dalam hati—Minnie tidak menolakku lagi!

“bagus” Kudekatkan wajah Minnie masih terus menatap bibirnya, “ng…Kyu?” mulut Minnie terbuka, “ya?” tanyaku berhenti sejenak

Minnie sedikit mengangkat kepalanya dan melirik lewat samping kepalaku, “kau belum menutup pintu”

Oh, pintu sialan! Menggangguku saja!

“Oh” aku bangkit berdiri, meraih gagang kecil lalu menghempaskan pintu tidak sabar, tetapi baru beberapa langkah, aku kembali membuka pintu, lalu memasang salah satu palang yang tersedia di dekat meja depan

‘Don’t Distrub’

“Nah sekarang kita mulai” ujarku setengah bercanda sambil kembali memeluk Minnie di dalam kasur

Aku melakukannya sama seperti semalam, begitu hati hati—menunggu reaksi dari Minnie baru setelah itu menjamahnya lebih lanjut. Kali ini Minnie tidak menggigil seperti pertama kali kami melakukannya tadi malam.

“Minnie” panggilku

“hmm?” Minnie menatapku sayu sambil berusaha bernafas normal—tubuh kami begitu dekat hingga dapat kurasakan betapa cepat jantung Minnie berdetak.

Kedua tanganku menyeka bulir bulir keringat yang membasahi wajah Minnie kemudian membawa pinggangnya mendekat supaya aku lebih mudah melakukannya

“bilang kalau sakit, aku akan berhenti” ucapku ketika berusaha menyatu dengan tubuh Minnie

Minnie menahan rasa sakit itu, dia menggigit bibirnya sendiri. Aku berhenti sejenak

Ku ulangi itu hingga Minnie mulai terbiasa denganku

Dan ketika terjadi, kulakukan dengan selembut mungkin sambil terus memantau reaksi dari tubuh Minnie


***

“Kyu habis ini kita mau kemana? Aku belum mencicipi kue khas okinawa kemarin tuh” cerocos Minnie saat kami masih berada di atas tempat tidur

Aku menggeleng lelah, “kita di kamar saja Minnie, kalau perlu nanti aku suruh room boy untuk membelikannya untukmu” tolakku mentah mentah—dia sudah cukup makan kemarin itu

Minnie menoleh ke belakang—menatap langsung wajahku, “boleh..aku sudah lapar lagi” ucapnya merasa bersalah

“Kau ini!!!” aku menggertaknya, namun tetap saja aku bangkit berdiri setelah memakai piyama lalu mengambil telepon di ruang depan

“room service? Ah iya, aku mau memesan…

Tak berapa lama makanan kami tiba. Minnie langsung bangun untuk melihat ke depan kalau saja aku tidak menghentikan langkahnya

“pakai bajumu dulu!!” bisikku penuh amarah

Minnie mendelik namun beberapa saat kemudian kedua mata Minnie melebar—ia melirik ke arah bawah dan kembali ke atas kasur, bersembunyi dari balik selimut

Aku hanya bisa terkekeh kecil sambil melangkah ke depan dan memberikan room boy tip yang cukup besar. Setelah itu ku angkat semua makanan ke atas kasur, Minnie menyambutnya dengan senyum sumringah

“aku makan!!” sahut Minnie mengambil sumpit dan mulai menyerbu satu persatu hidangan di atas meja

Aku tidak tahu Minnie begitu kelaparan hingga bisa menghabiskan 10 porsi menu sarapan yang baru saja ku pesan terkecuali satu porsi milikku yang sedang ku nikmati di sampingnya

“ah, kenyang” Minnie mendorong nampan itu menjauh dan berbaring malas sambil merenggangkan tubuh di dalam selimut

Aku sontak berhenti dan malah menatap setiap gerak gerik Minnie. Kenapa aku malah mau melakukannya lagi…

Minnie yang menangkap kebisuan dariku malah duduk dan melihatku lebih dekat, “kau sakit?” tanyanya khawatir tidak pada tempatnya

Aku mengulum senyum simpul, “tidak..tapi” kuletakkan piring beserta nampan lalu kusingkirkan dari atas tempat tidur, “aku menemukan hal lain yang bisa di kerjakan” perlahan tubuhku mendekat sambil terus bertukar pandang dengan Minnie

“Kyu, kita kan baru saja melakukannya” elak Minnie menundukkan kepala

Aku tahu! Tetapi tubuhku yang tidak mau tahu!

“Kau masih lelah?” aku mengangkat dagu Minnie agar mendongak sehingga dapat kuketahui reaksinya sekarang

“tidak” jawab Minnie terlalu jujur

Sebagian dari diriku berteriak kegirangan mendengar itu

“Berarti…” aku memancing ucapan Minnie agar mengerti kemauanku

Minnie menarik nafas panjang dan mulai melirik ke arah bibirku, “kita….”

Aku tidak membiarkan Minnie menyelesaikan kalimat itu. Ku raih belakang tekuk Minnie lalu mencium bibirnya.

Kali ini Minnie menyerah, dia membiarkanku membantunya tertidur lalu tubuh kami berpindah—saling mengisi sama seperti sebelumnya


***

“Huh”  Pundak Minnie naik turun tidak beraturan, sejak kemarin ia kelelahan

Aku memeluk Minnie—masih di balik selimut tanpa membiarkannya bergerak sedikitpun.

Minnie masih terjaga dalam tidurnya hingga aku mencium pucuk kepalanya, “pagi Minnie” sapaku lembut

Minnie mendongak ke atas—mencari wajahku, ia tersenyum kecil lalu kembali bersandar santai dengan dadaku sebagai alas bantal

“sekarang aku boleh keluar?” tanyanya meminta ijin

Aku tertawa terbahak bahak—Minnie berbicara seolah olah aku yang membiarkannya tidak keluar kamar, padahal kami kan memang sedang bulan madu

“memang aku melarangmu keluar?” aku membalikkan fakta sambil menyeringai lebar, wajah Minnie merengut kesal, “tidak! Tetapi kau membuatku tidak bisa keluar sama sekali” mendadak Minnie termenung, seperti ingin menanyakan sesuatu

“ada apa?” tanyaku menebak dengan betul

“Aku…aisshhh aku bingung harus berbicara seperti apa” Minnie melepaskan pelukanku lalu duduk masih di atas kasur—aku pun mengikuti jejaknya

“katakan saja, aku jadi penasaran Minnie!” gertakku tambah tidak sabar

Minnie membalas ucapanku dengan tatapan takut bercampur gelisah, ck ck, ada apa lagi sih sebenarnya

“kenapa kau bernafsu seperti itu? apakah semua lelaki begini, kalau begitu…kau bisa melakukannya dengan siapa saja, asal dia wanita!” kata terakhir Minnie ucapkan sedikit histeris, aduh kenapa sih cewek selalu membayangkan semua pasangannya akan selingkuh, seburuk itukah penilaian yeoja terhadap lelaki?

“Minnie” aku mengusap kepalanya sambil memberikan penjelasan, “tidak semua lelaki sepertiku, aku melakukan ini karena…ya…” tanpa sadar aku menggaruk kepala—salah tingkah, “aku….”

“apa?” desak Minnie menunggu

Kedua mataku menatapnya lemah, “karena aku…. ini sebagian salahmu!! Karena menggoda suami sendiri!!” hardikku mengalihkan kesalahan kepada Minnie

“ha? Aku tidak pernah menggoda siapapun” belanya, “aku tidak memakai baju minim atau sengaja bermesraan denganmu” Minnie terus saja mengoceh—aku hanya menunggu hingga dia selesai berbicara

“sudah?” Aku mengelus wajahnya yang masih memerah dengan jejak jejak keringat tadi malam, “aku mencintaimu,, karena itulah alasanku di balik semua ini…” sekarang aku bersungguh sungguh mengatakannya

Minnie membeku setiap kali aku menunjukkan perasaan secara secara terang terangan

“tidak ada wanita yang bisa membuatku kehilangan kendali kecuali kamu….mengerti” ucapku masih terus menelusuri wajah Minnie

Ia mengangguk—tiba tiba membisu, tidak membalas perkataanku

“Nah sekarang, kamu mandi sana sekalian aku pesanan makanan” perintahku sambil menggeser tubuh agar dapat menggapai telepon genggam di seberang kasur

“ok” Minnie beranjak bangun selagi aku meminta beberapa menu ekstra untuk di antar. Tiba tiba aku membelalakan mata saat melihat tubuh Minnie benar benar terekspos sempurna di hadapanku sekarang

Aku lupa, itu kan kaca dua sisi

Minnie sendiri tidak sadar—dia terus mandi sambil bersiul kecil sedangkan aku menontonnya dari tempat tidur

Setelah selesai, Minnie langsung memakai piyama lalu keluar dari kamar mandi, “tuh kamu gantian mandi” ujar Minnie menyerahkan handuk

“Tetapi, kamu tunggu room boy di ruang depan sana, dia akan datang sebentar lagi” usirku bermaksud mencegah Minnie menyadari bahwa tadi aku bisa mengintipnya dari luar

Untung saja sifat polos Minnie belum hilang, dia mengangguk dan berjalan ke arah luar kamar

Segera aku mandi terburu buru dan tepat setelah aku selesai Minnie masuk ke dalam membawa satu nampan besar berisi semua makan kesukaannya

“Kyu makasih!!” teriaknya kegirangan, aku mengangguk kemudian bergabung dengan Minnie di atas tempat tidur

Kami makan dengan lahap—baru tersadar berapa banyak kalori yang terbuang gara gara melakukan itu seharian

“masih mau nambah?” tawarku karena piring Minnie sudah bersih semua, “ngga usah, kenyang..ah” Minnie memainkan kedua kaki sambil menunggu hingga aku selesai makan juga

Dengan sigap, Minnie membereskan piring piring kotor dan menaruhnya di bawah tempat tidur. Ia berbaring rileks seraya memejamkan mata, sikap yang membuatku tersenyum lebar

“tahu tidak Minnie, percuma kau memakai piyama ini” jelasku deduktif

Dahi Minnie mengkerut, bingung

“apa?” mendadak Minnie mengerti karena jari jariku mulai membuka kancing bajunya, “Kyu! Ini sudah berapa kali!!” Minnie meneliti wajahku, “apa kau tidak lelah?” tanyanya frustasi

Aku menggeleng cepat, “kan tadi kita baru makan” Minnie terdiam dan membiarkanku menanggalkan pakaiannya lalu melemparkan itu ke sembarang tempat

Tetapi tangan Minnie menghalangi ketika aku baru mau membuka celana panjang miliknya, “apa?” tanyaku bernada selembut mungkin

“Aku…” Minnie melirikku takut takut, “aku bisa hamil Kyu” bisiknya panik

Kedua alisku bertaut satu sama lain, “terus?” kataku masih tidak mengerti

Sekarang giliran Minnie yang bingung, “kau..tidak apa apa, punya anak di usia dini?”

“tidak, lagipula” aku sedikit mengangkat tubuh Minnie agar aku lebih mudah melakukannya, “aku kan memang mau jadi Appa” aku berusaha meyakinkan Minnie

“Oh” Minnie mendesah lega lalu mulai menikmati ketika aku mulai mencium pundak, leher, dan dagunya.

Aku beralih pada kedua mata Minnie yang terpejam, “aku mencintaimu Minnie” bisikku tulus

Minnie tersenyum sambil mengalungkan kedua tangan lebih erat di leherku, nafasnya menggelitik di sekitar telinga, “aku juga…aku mencintaimu Kyu”


~0~

19 responses to “≈No Other Like U-{Kyuhyun Letter’s}≈ PG-15

  1. AHHHH~
    ONNIE SEBASTIAN~
    kwkwkw.. akhirnya ketemu juga nih Nolu special part ini..
    padahal udah baca tapi mau baca lagi *plak
    seru sih~ KyuMinnya disini :p
    aku masih menunggu eps 50😀 Fighting onnie sebastian

  2. suka ama part ini onn
    padahal part ini udah nimbul dari dlu tp aq bru ngebacanya onn keren bgtttttttttttt………..

  3. aaaaaa~ Kyu aku mau dong *slap *yadong akut
    Kyu ketagihan.. Ckckck…
    Minnie minnie polosnya kelewatan…kkkkk~

  4. so sweet🙂 ak ska deh klu co gtu~ ngelakuinny lembut bgt g napsu penuh sayang🙂 it artiny dia bnr” lindungin bkn karna gn tubuh kta ^^

  5. Haloo kak….
    Hehee….:P
    Gda ff bru yg mu dbca jdiny bc ff ini dh…
    Abis MI3 ny g dibuka2 sih kunciny….:(
    Sumpah dh kak aq pling ska nolu yg part ini, cz dsni nunjukin sikp lmbut dan ksh syngny kyu k minnie, g ky part2 yg laen yg kyu ny marah2 ato uring2an mulu ga jelas…
    Like this yo…..^^

  6. aaaaaahhhhhhhhhhhhh di part honeymoon toh,,,

    kyuppa bnr2 ketagihan ya,,,ampe ga keluar2 kmr,,,
    I LIKE IT🙂

  7. aigoo cho kyuhyun yang mesum..
    3hari mengurung minnie ckckck
    terus apalagi itu?? ngintip minnie mandi tapi sendirinya ga mau di intip ck dasar cho hahahaha
    minnie sih terlalu polos mau aja di rayu kyu ^^v
    tapi minnie juga ga nolak mau mau aja tuh.
    ini aku ngomong apaan? -__-‘
    lanjut baca aja deh..

  8. Kyaaaaaaaa, kyu ketagihan honeymoon tuch.., ternyata kek gini isi fikiran kyu waktu berada di Jepang… Aigoooo…
    Ampe2 minnie gk bisa keluar kamar gara2 kyu.. Kekeke😀

    Suka bgt ama part yang ini.., so sweet bgt🙂

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s