≈Behind The Scene of Love-SiBum≈

Haiiii^^

Sudah lama kita tidak bertemu yah, hehehehe

Pasti kalian heran melihatku begitu gembira seperti sekarang.

Kenapa? Jelas karena Cokelattt yang kaliannnn bawa hehehehehe *cupidnya ga tahu diri*

Sebagai hadiah dari kebaikan kalian selama ini aku menceritakan satu kisah—kisah yang membuktikan cinta memang bisa mengalahkan segalanya. Jujur hingga saat ini aku masih belum paham seberapa sih kekuatan cinta itu, tapi melihat mereka—aku akhirnya tahu, terkadang kau membutuhkan cinta untuk membuatmu semakin sempurna

Kalian mau tahu?

©FLASHBACK©

Aku berputar putar di sebuah rumah mewah. Wah kalian tidak akan menyangka betapa besar dan megahnya tempat ini—tetapi ketika aku masuk kedalam, ada kesunyian disana

“Aku berangkat” sapa seorang yeoja kepada kedua orangtuanya yang sedang menikmati sarapan di meja makan

Kedua orang tuanya mengacuhkan salamnya, Ia mendesah—lalu keluar dari rumah seperti tidak terjadi apa apa

Yeoja ini bernama Kim Kibum, siswi kelas XI di sebuah sekolah swasta terkenal. Dan seperti kalian lihat barusan, hubungan Kibum dengan kedua orangtuanya kurang harmonis—entah ada apa sebenarnya

Kibum berjalan masuk kedalam lingkungan sekolahnya, beberapa siswa lain yang bertatapan dengannya langsung menghindar, Kibum mengacuhkan mereka—dia masuk kedalam kelas dan mulai menelungkupkan wajahnya lalu tertidur

“Kim Kibum!!!” suara guru di depan kelas membangunkan dia dari tidurnya, Kibum mengangkat kepala—berat, “Ya?”

Wajah guru itu menjadi semakin marah melihat Kibum yang tidak merasa bersalah sama sekali, “Kau?! Kerjakan soal didepan?!” perintahnya. Dengan santai Kibum maju dan mengerjakan soal itu.

“Selesai” kata Kibum sambil berbalik ketempatnya lalu kembali tertidur

Guru itu ingin menghardiknya sekali lagi—namun ketika dia melihat jawaban dari Kibum, guru itu sedikit menyeringitkan dahi sejenak, “rumus apa ini Kibum?” tanya gurunya

Kibum mendongak, “itu cara gampangnya—agak lebih lambat kalo memakai rumus dibuku, bu” jawabnya pelan

Oh wow aku tidak tahu korbanku berikutnya ini calon Einstein.

Guru itu menggeleng heran, tetapi ia tetap melanjutkan pelajaran tanpa mengindahkan Kibum lagi—keberadaannya dikelas itu seakan akan dianggap tidak ada

Kasihan, pikirku

Dalam dua hari ini aku bisa menyimpulkan Kibum seorang penyendiri. Kalau tidak tidur dikelas, ia pasti pergi ke atap sekolah untuk menghilang dari banyak orang dan seperti biasa, tidak ada seorang pun mencoba untuk mempedulikan Kibum.

Tidak dirumah maupun disekolah, Ia selalu tersisihkan—seperti terasing

Pasti ada alasan dibalik semua sikap acuhnya ini, batinku

TING TONG

Bel sekolahnya berbunyi. Kibum menghela nafas panjang, mengambil tasnya lalu mulai melangkahkan kaki keluar dari ruang kelas. Lihat saja, setiap murid yang melihatnya langsung menjauh—seolah olah Kibum adalah penyakit mematikan yang menular. Namun lagi lagi dia terbiasa dengan semua ini.

Apa ada hal yang tidak ketahui sebelumnya?

Hmmm, sekarang waktunya aku memeriksa pasangannya. Aku terbang merendah di sekitar awan awan hangat, aku duduk dan meraih catatan kecilku. Kibum….Kibummm…..

Ah ini dia

Choi Siwon :

24 tahun. Pemilik saham terbesar di perusahaan Miracle. Seorang yang dermawan dan suka anak anak

Well, sepertinya lelaki ini sempurna—lebih baik aku terbang untuk melihatnya lebih dekat.

Kukepakan kedua sayap mungilku dan berputar, meninggalkan sementara Kibum yang tertidur hampa dikamarnya

PT Miracle Corp

“Aku minta besok diadakan rapat pemegang saham untuk kinerja perusahaan selanjutnya” perintah Siwon dengan berwibawa.

“Baik pak” jawab salah satu pegawainya sambil menutup pintu ruangan Siwon dan pergi dari situ.
Aku menatap sosok tegap dan gagah dihadapanku. Satu kata untuk Siwon : dia sempurna, terlalu sempurna, pikirku

Siwon adalah bos yang baik—orang kaya yang dermawan dan seorang yang ramah. Kurang apa lagi coba? Sekarang saja dia mau mengadakan pentas amal untuk anak anak tidak mampu—ah aku belum bilang yah kalau perusahaan Miracle miliknya bergerak di bidang mainan untuk anak kecil.

Siwon duduk santai di kursi Direktur. Sesekali dia menoleh ke kiri, diraba sebelah mejanya, mengambil sesuatu

Tongkat?

Siwon meraih tongkat itu dengan perasaan lega. Diayunkan tongkat itu ke kanan ke kiri baru dia berdiri dari kursinya. Ya Tuhan, jangan bilang dia….

Siwon melepas kacamata hitam di matanya, bisa kulihat dengan jelas kedua mata coklatnya hampa—tidak memiliki retina.

Dia buta

Aku menangkupkan kedua tangan dimulutku, tidak percaya. Siwon—dia?!

Siwon kembali mengayunkan tongkatnya lalu berjalan lurus keluar dari ruangan. Dia terus melangkah masuk kedalam lift sambil menyapa karyawan karyawannya.

Aku hanya bisa menatapnya sedih—lihatkan? Segala sesuatu yang kau kira sempurna ternyata tidak se indah itu pada akhirnya

Siwon terus berjalan keluar dari gedung kantor itu. Dia membelok ke kiri, disana kulihat ada sebuah hypermarket besar—mungkin ia mau membeli sesuatu disana.

Siwon tidak malu dengan keadaanya, dia tegak berjalan. Orang yang lalu lalang di jalan melihatnya dengan takjub bercampur heran, bagaimana pria setampan dan sekaya dia bisa memiliki cacat seperti ini? bukankah dengan uangnya yang melimpah Siwon bisa melakukan operasi retina kapanpun ia mau?

Aku merenung. Memikirkan kedua orang ini, keduanya memiliki sesuatu yang membuat mereka memiliki jarak dengan orang lain—entah itu secara fisik maupun mental

Tapi, sekali lagi aku menekannya kepada diriku sendiri. Inilah takdir itu, aku hanya membantu mereka menemukan apa yang selama ini mereka cari. Mungkin dengan bantuanku mereka akan jauh lebih baik—yah jauh lebih sempurna

***

Kali ini aku menghampiri Kibum terlebih dahulu. Dia sama seperti biasa. Di acuhkan banyak orang. Hidupnya bagaikan film usang yang terus diputar berulang kali. Menurutku Kibum tak ada bedanya hidup sendirian, paradoks. Merasa kesepian diantara sekian banyak orang di sekelilingnya.

Kibum menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Tetapi ada kepedihan yang tampak diwajahnya ketika untuk kesekian kali—kedua orangtuanya menganggap dia seperti tidak ada. Orang tua macam apa itu? Membenci anak kandungnya sendiri? Aku menggelengkan kepala tidak mengerti

Kibum, andai aku bisa mempercepat pertemuanmu dengan Siwon. Mungkin kau tidak merasa hidup terlalu kejam untukmu.

Masalahnya aku tidak begitu saja mempertemukan mereka. Siwon akhir akhir ini sibuk sekali mempersiapkan launching produk baru dan promosi diberbagai tempat. Melihat kesibukannya pantas saja dia tidak punya waktu untuk melakukan operasi, untuk bersenang senang saja jarang dilakukannya

“Aku pulang” sapa Kibum sia sia saat memasuki rumah. Aku melamun lama sehingga tidak sadar kalau Kibum sudah pulang dari sekolah.

Kibum hendak masuk kedalam kamarnya namun langkahnya terhenti—dia menatap heran kedua orangtuanya duduk di ruang tengah

“Kibum kemari” panggil Appanya

Walaupun ada tanda tanya besar dalam dirinya, Kibum menurut. Di datangi kedua orangtuanya itu, “ada apa?” tanyanya tajam

Appanya mendongak—matanya menatap Kibum lurus, “Kami ingin memindahkanmu” ujarnya langsung ke pokok pembicaraan

“Pindah? Pindah kemana?” tanya Kibum tidak mengerti

Ibunya memandang putri satu satunya dengan khawatir, “begini Kibum—kami sudah memutuskan untuk memindahkanmu ke asrama untuk sementara waktu, dengar dulu” Ibunya memotong ucapan protes Kibum, “ Ini untuk kebaikanmu” bisik Ibunya membujuk

Kibum menatap Appa dan Ummanya bergantian, “Kalian ingin mengusirku” ada nada kepedihan disuaranya

Ada apa ini sebenarnya?

“Tidak bukan begitu” sanggah Ibu Kibum

“Kalian ingin aku pergi” Kibum berdiri—dia sudah tidak tahan diperlakukan selama ini. Dikeluarkan semua beban yang menghimpitnya, “Kenapa? Apa karena kejadian 3 bulan yang lalu? Aku kan sudah bilang Appa itu bukan salahku!” teriak Kibum kencang

Appa mendelik, lalu tertawa hambar, “bukan salahmu? Gara gara kau, anak itu koma 2 minggu! Tulang rusuknya hancur!! Dan gara gara berita itu, saham perusahaan Appa menurun drastis! Ya! Ini memang gara gara kamu!” Appanya menunjuk Kibum—menyalahkan anaknya sendiri

“Appa sudah” bisik Ibunya berusaha melerai mereka berdua. Kibum hanya tertunduk—aku bisa melihat bulir bulir air mata mengalir di kedua sisi wajahnya

“Mau dengar yang lain? Appa dan Umma di jauhi oleh orang lain, karena dikira melahirkan anak monster!!! Brutal!! Kau dengar itu?!!” teriak Appanya emosi

Pundak Kibum bergerak naik turun. Ia terisak dalam diam. Kibum masih belum bisa mengangkat wajahnya, ia hanya terus tertunduk…

Aku berusaha mengerti keadaan ini—tapi tidak bisa! Aku sama sekali buta tentang masalah Kibum. Memangnya apa yang terjadi 3 bulan yang lalu?

Kibum mengangkat wajahnya sekilas, kemudian ia berlari ke atas—ke kamarnya. Kibum mengambil tas sekolahnya lalu kembali turun ke bawah

“Maaf selama ini merepotkan kalian, aku akan pergi” kata Kibum sambil menunduk dalam dalam

“Kibum…” bisik Ibunya pelan

Kibum mengangkat tasnya, “Aku pergi—akan pergi selamanya dari hadapan kalian” ia lalu keluar rumah. Menghiraukan panggilan Ibunya atau tidak melihat sedikit rasa penyesalan di wajah Ayahnya.

Kibum tetap pergi

Sekarang kau mau kemana Kibum? Ini sudah larut malam? Bisikku yang terbang disebelahnya

Kibum berjalan dengan lunglai, tanpa tujuan. Sesekali dia berbalik—menoleh ke rumahnya yang sudah tidak kelihatan. Kibum menarik nafas, menahan kepedihan yang selama ini dia tahan mati matian

“Sekarang enaknya kemana?” gumam Kibum sambil menendang batu kecil di jalanan.

Aku sangsi dia punya teman untuk menginap satu atau dua hari. Kibum yang selama ini kulihat—tidak punya siapapun, benar benar tidak seorangpun

“Serahkan uangmu orang kaya!” suara ancaman itu terdengar jelas. Kibum menoleh mencari tahu—dia melihat di gang kecil, tujuh preman bertubuh besar mengepung seorang namja yang terjatuh dibawah mereka

“Aku sudah bilang hanya itu uang yang kupunya—selebihnya ada di kantorku, kalau kalian mau bisa ku berikan. Tapi lepaskan aku dulu” pinta namja itu..eh tunggu dulu, suara ini tidak asing

Ini suara Siwon!! Ya tidak salah lagi!!

Dengan gesit aku terbang ke atas mereka—para preman itu dan benar saja Siwon tersungkur dibawah. Tongkatnya diambil oleh salah satu mereka. Dasar pengecut! Beraninya sama orang buta!

“Eh kalian sedang apa disana?” Kibum mendekat kesini, aduh nih anak?! Kalau dia kemari berarti bebanku menambah satu orang untuk diselamatkan

Preman preman itu menoleh, “Sebaiknya gadis muda sepertimu menjauh, sebelum terluka” ancam salah satu pemuda bertampang beringas itu

Kibum mengangkat sebelah senyumnya, “Kalian tuh yang preman kelas teri! Beraninya sama orang cacat kayak dia” gertak Kibum

Ampun deh kok dia malah nantang sih! bakal runyam nih urusannya

Preman itu saling bertukar pandang, “kita habisi aja nih cewek” Mereka satu persatu maju berusaha menghajar Kibum tanpa ampun—bahkan tidak memandang kalau dia seorang wanita

Aku hendak menolongnya dengan sihirku, tapi…eh?

Kibum dengan lihai berhasil berkelit dari tendangan salah satu pria besar itu, dia berbalik lalu melayangkan sebuah pukulan tepat di ulu hati.

Satu orang berhasil ia bereskan

Hmmm, sepertinya aku tidak usah menolongnya. Tinggal 6 orang preman—tapi wajah Kibum memancarkan kesenangan, senyumnya begitu menakutkan. Untuk sejenak aku lupa kalau dia adalah Kim Kibum yang ku lihat selama ini

Siapa dia sebenarnya?

Tidak memakan waktu lama untuknya—Kibum berhasil menumbangkan mereka satu persatu. Hanya satu pukulan berhasil mengenai ujung bibirnya tapi itu juga cuma luka kecil

“Aishh, ini akibatnya aku kurang berlatih” Kibum mengelap darah yang menetes dari mulut lalu di usapnya perlahan

Siwon bisa berdiri sekarang karena telah menemukan tongkatnya yang dijatuhkan preman itu ketika berkelahi dengan Kibum, “terima kasih” ucapnya tulus

Siwon mengulurkan tangan kepada Kibum, “tidak apa apa” gumam Kibum tidak menyambut tangan Siwon—dia malah berbalik lalu meninggalkannya sendiri

Mau kemana Kibum malam malam begini? Aduh aku harus menahannya sekarang, mumpung mereka berdua sudah bertemu disini. Pikirku

“Tunggu” teriak Siwon, ia agak tertatih tatih mengejar Kibum, “Wajahmu terluka” Siwon berusaha mengapai udara kosong di hadapannya, “Mari ku obati” ajak Siwon pelan

Kibum langsung menolak dengan tegas, “tidak—maaf aku bukan wanita seperti itu” ia lagi lagi pergi menjauh

Aku bingung mau mengikuti Kibum atau menjaga Siwon? Tapi ah lebih baik sekarang aku menguntit Kibum—kasihan dia, kabur dari rumah tanpa apapun. Aku yakin uang yang dia bawa hanya cukup makan untuk beberapa hari, selebihnya~ entahlah

Kibum pergi ke arah taman, disana ada penjual ramen. Ia berjalan cepat sambil mengeratkan jaket di tubuhnya. Memang hawa hari ini begitu dingin.

“Ramen satu pak” pinta Kibum ketika duduk dikedai kecil itu

Tak lama pesanannya datang—apa karena dia kelaparan atau cuaca dingin yang menusuk kulit, membuat Kibum menghabiskan isi mangkuk dengan cepat

“Ah” Kibum mendesah kekenyangan, ia mengulurkan beberapa uang ratusan sebagai bayaran

“Terima kasih pak” Kibum kemudian keluar lalu berjalan tanpa arah

Aku memperkecil kepakan sayapku, berusaha mengimbangi dengan langkah kecilnya. Kibum berhenti di taman—tak jauh disana ada sebuah bangku panjang. Ia duduk di situ lalu mendesah panjang

Kibum tidak memiliki tujuan dan bukan tidak mungkin dia akan bermalam disini. Tapi kan dia perempuan! Sekuat apapun dia—tetap berbahaya menginap di taman seorang diri

Kibum menengadah ke atas langit, menatap bulan dan bintang—lama. Wajahnya terlihat letih dan sedih.

Tess.

Butiran butiran salju mulai berjatuhan di sekelilingnya. Kibum mengeratkan jaket kembali—dari mulutnya bisa kulihat hembusan nafas seperti kumpulan asap keluar.

Dia kedinginan, kesepian, sendirian ditempat seperti ini
Apa yang harus kulakukan? Menyulap sebuah pakaian itu tidak mungkin. Aku bisa saja sih mencu—maksudku mengambil sebuah jaket dari rumah orang lain tapi….

Kibum mengkerut dalam dekapannya. Kedua tangannya melipat di dada. Suara Kibum bergetar menahan dingin. Andai ada yang bisa kulakukan untukmu?

“Sudah kubilang tunggu kan”

Solongsong suara membuyarkan lamunanku dan Kibum.

Siwon?

Ia mengulurkan jaket coat yang terbuat dari kulit kepada Kibum. “terimalah, kau jauh lebih kedinginan daripadaku” Ia menyodorkannya lagi, kali ini Kibum menyerah—bibirnya sudah memutih karena badai salju tiba tiba ini

Kibum memakai jaket itu—nafasnya jauh lebih teratur sekarang, “makasih” jawab Kibum singkat. “Sama sama” balas Siwon, diraba raba kursi panjang sebelah Kibum lalu duduk disana.

“darimana kau tahu aku disini, kau kan—“

“Buta?” alis Siwon terangkat, wajahnya tetap tersenyum, sama sekali tidak merasa tersindir dengan ucapan Kibum, “Aku berdiri 3 meter darimu tadi—nafasmu yang memburu mengingatkanku dengan nada suaramu. Seimbang satu sama lain, makanya aku tahu kau disini dari tadi” jelas Siwon. Ia menatap lurus kedepan—tidak berusaha menoleh ke Kibum.

“Kenapa kau disini? Anak sekolah sepertimu seharusnya pulang kerumah?” tanya Siwon lebih lanjut, Kibum menghela nafas berat ketika Siwon menyinggung soal rumah, “Aku—eh tunggu dulu” Kibum sekarang menatap Siwon baik baik, “dari mana kau tahu kalau aku anak sekolahan?”

Iya yah darimana dia tahu? Setahuku Kibum dari tadi tidak menunjukkan kalau umurnya baru 17 tahun—dan masih duduk dibangku sekolah?

Siwon lagi lagi tersenyum, “preman tadi memanggilmu cewek, bukan wanita. Itu artinya kau masih muda—dan melihat sikapmu yang gampang tersulut emosi berarti kau masih anak sekolahan—anak remaja saat ini kan memang seperti itu” suara Siwon mengajak bercanda

Mata Kibum menyipit curiga, “beri tahu aku, darimana kau belajar mengamati orang seperti ini? memangnya kau detektif?” sindir Kibum terang terangan.

Siwon tertawa kencang mendengar ucapan Kibum, “Kalau kau buta sejak lahir sepertiku—hal itu bukan mustahil. Aku menajamkan indraku yang lain sebagai pengganti mataku” jelas Siwon berbisik. Ia sekarang kembali menatap lurus ke depan, dibiarkan Kibum mencerna kalimatnya barusan

Mereka sama sama melamun. Yang satu terdiam karena mengacuhkan yang lain. Sedangkan yang lain itu menunggu agar yang satu memulai pembicaraan ini. Begitu tenang. Mungkin ini saatnya, batinku

Aku mengambil salah satu panah di belakang tubuhku, Kupicingkan mata kanan, melihat dari busur—berusaha tidak gagal memanah. Bukannya aku sombong tapi aku belum pernal gagal menancapkan panahku. Itu akan sangat berakibat fatal untukku dan orang yang kupanah.

Satu….dua…..tiga……Ting!

Berhasil!

Panahku berhasil menancap ke arah mereka berdua!

Nafas Kibum semakin tidak beraturan, pikirannya tiba tiba terpusat kepada Siwon. Ia mendongak lalu menatap Siwon lekat

“Kau kenapa? Masih kedinginan?” tanya Siwon mendengar bunyi nafas Kibum menderu. Siwon berusaha menggapai Kibum—namun lagi lagi Kibum menjauhkan dirinya.

Takut sekali sih disentuh Siwon! Dia baik tuh!

Siwon tiba tiba menjadi gugup menghadapi penolakan Kibum, “Maaf—aku tidak bermaksud apa apa” kata Siwon seraya menarik tangannya kembali

“It’s ok, aku hanya tidak suka ada lelaki yang menyentuhku” elak Kibum—untung saja Siwon tidak bisa melihat, bisa bisa dia terkejut menatap wajah Kibum yang memerah

“Ng..aku ingin pulang dulu” ucap Siwon, di raih tongkatnya. Ia ingin bangkit berdiri—namun sekali lagi Siwon berusaha berbicara dengan Kibum, “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, kau tidak pulang?” ada nada khawatir di suara Siwon

Kibum menggeleng, “Aku—aku…akan pulang nanti” ucap Kibum mencoba berbohong.

Siwon mengangguk kecil, “baiklah, aku pulang dulu. Jaket itu untukmu saja sebagai ungkapan rasa terima kasihku” Siwon berbalik dan meninggalkan Kibum sendirian di taman

Yah, Bagaimana ini? Meskipun jaket tebal Siwon bisa mengurangi rasa dingin, tetap saja Kibum bisa membeku hingga esok kalau hanya berdiam diri di taman seperti ini

Kibum menggulung jaket itu erat. Ia menggertakan gigi—menahan rasa dingin yang melanda tubuhnya. Aku tahu, Kibum sudah pasrah dengan semuanya—ia tidak peduli jika benar benar mati kedinginan di taman

Please, berjuanglah—demi dirimu sendiri atau paling tidak demi orang lain, Siwon—pasangan sejatimu….

Tiba tiba aku mendengar langkah orang tertatih tatih menghampiri kami berdua, ngg..aku menyipitkan mata berusaha melihat lebih jelas sosok itu—maklum tebalnya salju yang turun membuatku susah melihat

“ah ah ah, sudah kuduga kau tidak akan pulang juga ” Siwon terengah engah menghampiri kami lagi

“Kau?! Kenapa kau malah kembali?” tanya Kibum heran, meskipun aku tahu dia sebenarnya senang ada seseorang yang masih peduli terhadapnya

“Aku mengkhawatirkanmu, aku tidak tahu kenapa kau tidak mau pulang—cuma satu hal yang pasti…kau pasti kedinginan disini” Siwon melindungi puncak kepala Kibum dengan payung yang ia bawa. “Kau boleh ikut denganku, kalau kau mau?” tawar Siwon lebih lanjut

Kibum terperangah, Ia berusaha melihat tipu muslihat dari wajah tampan Siwon—tapi tidak ada. Siwon tulus ingin membantunya.

“Baiklah” jawab Kibum seraya berdiri di depan Siwon, “ayo ikut aku” Siwon memayungi mereka berdua namun tubuhnya memberi jarak dengan Kibum, sepertinya ia mulai mengerti Kibum agak sensitif dengan orang lain

Kibum mengangguk dan mensejajarkan langkahnya. Mereka berbelok ke kiri—disana Siwon mengisyaratkan Kibum masuk ke sebuah gedung mewah—mungkin apartemen. Pikirku

“Malam Adjushi” sapa Siwon sopan kepada Satpam apartemen, Satpam itu membalas hangat salam Siwon, “Malam. Ini siapa? pacarmu?” godanya melihat Siwon datang dengan orang lain

Siwon tersenyum salah tingkah, “ bukan, dia temanku” di sebelahnya Kibum makin merunduk—berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat

“Ayo” ajak Siwon sambil memasuki lift dan memencet lantai 13.

TING!

Siwon melangkah lurus ke depan—tepat didepan lift berhenti, “selamat datang” ujar Siwon ketika membuka pintu—dibuka lebar lebar agar Kibum bisa ikut masuk

Siwon menghidupkan semua lampu serempak menggunakan remote multifungsi miliknya, wow canggih juga

“Kamarku disebelah sini, kau boleh tidur dikamar tamu disini” unjuk Siwon ke kamar tepat di sebelah kamarnya

Siwon berjalan lugas tanpa tongkat, mungkin karena dia sudah menghafal betul detail apartemennya. “Ada dapur—kamar mandi dan ruang tengah, gimana?” Siwon berbalik mencoba menerka nerka dimana Kibum berdiri, “memang aku harus bagaimana? Kau mau menampungku sehari saja, aku sudah sangat berterima kasih” ujar Kibum tulus

Siwon berjalan ke dapur untuk mengambil minuman, “Kau boleh tinggal disini selama yang kau inginkan” tawarnya sambil meletakkan gelas gelas itu di atas meja

Kibum menaikkan kedua alisnya, “kenapa kau bisa sebaik ini, aku kan orang yang baru kau kenal. Bisa saja aku pencuri ulung yang menjadikanmu korban” tantang Kibum

Aduh nih anak, udah diberi tumpangan masih aja jutek terus!

Siwon duduk di sofa dengan santai, “Kau sendiri kenapa tadi menolongku?” tanyanya balik

“Karena kau sedang kesusahanlah” jawab Kibum gusar karena Siwon mempertanyakan hal sepele baginya

“Nah itupun alasanku menolongmu” Siwon bangkit berdiri lalu membuka kamar tamu untuk Kibum, “tidurlah—kau pasti lelah dan kedinginan” Siwon menunggu Kibum masuk kedalam kamar—setelah itu Ia menutup pintu itu, “selamat malam..?”

“Kibum, namaku Kibum” jawabnya

Siwon tersenyum mengerti, “selamat malam” Ia bergegas menutup pintu itu lalu masuk ke kamarnya sendiri. Siwon berbaring tenang di atas kasur, “Kibum. Namanya cantik” gumamnya sebentar sebelum kedua matanya tertutup dan mulai tertidur

***

“Pak bagaimana kalau kita meluncurkan produk ini saja ke pasaran? Mainan ini pasti digemari oleh anak anak”

“tidak tidak, ini belum teruji secara kimiawi—aku sudah bilang kan, produk kita harus aman di konsumsi oleh anak kecil”

“Hmmm”

Hari ini memang hari Minggu. Namun dari jam 8 pagi salah satu orang kepercayaan Siwon datang ke rumahnya untuk menanyakan launching produk baru mereka, huh padahal hari libur. Tidak bisakah dia istirahat sebentar?

Mungkin karena mendengar bunyi bising dari ruang tamu, Kibum keluar dari kamar—wajahnya yang masih mengantuk bertatap langsung dengan kedua orang itu, “Eh maaf aku tidak tahu ada tamu” tadinya Kibum ingin kembali ke kamar tapi Siwon malah mengajaknya bergabung, “tidak apa apa, kemarilah—perkenalkan ini Shindong, wakilku—Shindong ini Kibum, dia…..” Siwon bingung menyebut siapa Kibum sebenarnya. Teman? Sudah pasti bukan, pacar? Sebentar lagi hehe, itu pun hanya aku yang mengetahuinya

“Kibum” Kibum menunduk sebagai ucapan perkenalan

Anehnya Shindong tidak menjawab salamnya, lelaki itu terpana melihat wajah Kibum. “Kau kan? perempuan pelaku pemukulan 3 bulan yang lalu kan? Kim Kibum?!” pekik Shindong. Jari telunjuknya menujuk langsung ke arah Kibum

Dia? Pelaku pemukulan? Tanyaku

Kibum menatap nanar ke Shindong, dia menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya. Siwon yang tidak tahu apa apa menjadi gusar, “Shindong, jangan asal menuduh?! Memangnya kasus apa? Pemukulan? Kibumlah yang menolongku tadi malam! Jadi jaga bicaramu” ucap Siwon dengan wibawa penuh

“Tapi pak?!” Shindong hendak membantah, tapi melihat wajah Siwon mengeras, ia hanya menghela nafas sambil menatap penuh marah kepada Kibum, “Sebaiknya kau pulang, aku ingin berbicara berdua dengannya” usir Siwon halus

“Pak–?”

“Selamat pagi” kata Siwon tegas. Shindong akhirnya menyerah—ia melangkah keluar dari apartement Siwon, meninggalkan mereka berdua di ruang tamu

Siwon menoleh walaupun tidak bisa menatap Kibum, “Kibum…”

“Apa yang dikatakan pegawaimu itu benar. Akulah perempuan remaja yang menjadi pelaku kasus pemukulan 3 bulan yang lalu.” Kibum menyeringai, ia duduk menjaga jarak dengan Siwon, “Karena pengaruh Ayah dan umurku yang belum mencapai dewasa—aku tidak jadi di penjara” bisik Kibum pelan

Apa? Kayaknya aku belum tahu apapun tentang Kibum, belum sama sekali….

Siwon menarik nafas panjang. Setelah beberapa saat dalam keheningan ia menyandarkan tubuhnya yang kekar ke badan sofa, “Bagaimana perasaanmu sekarang? Kau tidak sedih kan?” tanya Siwon sambil melihat Kibum—walaupun bukan secara langsung, wajahnya menghadap tepat kearah Kibum.

Wajah Kibum sedikit terperangah, “Kau menanyakan perasaanku?” tanyanya tidak percaya. “Kau tidak mau menghujat atau menghindar dariku karena masalah ini?” lanjutnya

Siwon mengangkat bahunya, “seumur hidup aku menjadi orang buta—belum sekalipun aku salah menilai orang.” Sudut sudut mulut Siwon mengembang lalu membentuk senyuman khasnya, “Kau orang baik, Kau tahu aku orang buta tapi kau tidak memanfaatkanku sama sekali tadi malam, kau juga tidak ingin merepotkan orang lain—makanya kau berbohong padaku kemarin. Lihat? Kau orang baik—sebaik yang kubayangkan” ucapan tulus Siwon membuat Kibum tanpa sadar meneteskan air mata

Kibum berusaha keras menahan suara tangisannya, mungkin selama yang kulihat—baru kali ini ada orang yang mengetahui latar belakang Kibum yang kelam tanpa membencinya. Ya, Siwon tulus menerima Kibum apa adanya

Siwon berdiri lalu jalan mendekati Kibum—diraih satu kotak Tissu di meja, “Jangan menangis lagi, ini untukmu” Kibum mengambilnya sambil tetap menjaga jarak dengan Siwon

“Kau mau jalan jalan?” tawar Siwon, Kibum mengangkat kepalanya, “jalan jalan?” Siwon mengangguk, “Iya, bosan dirumah. Yuk” ajaknya

__

Siwon mengajak Kibum ke taman yang semalam. Mereka berjalan sambil bercerita—ng…sebenarnya kebanyakan Siwon yang bercerita—Kibum hanya sesekali membalasnya. Kibum bukan orang yang gampang berbicara tentang dirinya sendiri

“Terus bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Siwon disebelahnya, “seperti biasa belajar pulang belajar lagi” Kibum mengedikan bahu sekilas, “tidak ada yang istimewa” katanya

Siwon mengedipkan matanya berulang kali, “Kau..kau tidak memiliki seseorang..ya..seperti kau tahulah gadis sepertimu kan?” Aku tersenyum bahagia—seorang Siwon yang begitu berwibawa sepertinya dangkal dalam urusan cinta, lihat saja cara berbicaranya terbata bata bertanya kepada Kibum

“Pacar?” Kibum menaikkan kedua alisnya, “tidak—tepatnya tidak ada” suara Kibum terdengar misterius, pasti ada hubungannya dengan peristiwa itu. Apa jangan jangan pria yang dipukuli itu bekas pacarnya?

Ah—lebih baik aku menunggu Kibum berbicara langsung kepada Siwon nanti

Siwon menghela nafas lega, “Oh. Kukira” Mereka terdiam lagi.

“Mau kemana sekarang?” Siwon meminta pendapat Kibum, “Ng, sebenarnya aku ingin pergi ke suatu tempat” bisiknya pelan, Siwon menunduk untuk mendengar Kibum lebih jelas, “kemana?”

Kibum menatap jalan lurus di dekat taman, “kerumah orang tuaku”

“Baik, kau yang tunjukkan jalannya” ucap Siwon

Mereka berjalan lurus ke depan, lalu berbelok tepat di sebelah gang kemarin Siwon di kepung. Di sanalah rumah Kibum

“Kau tidak mau masuk?” Siwon heran karena nafas Kibum—yang menjadi patokan bagi Siwon masih terdengar tepat disampingnya. Tidak bergerak sedikitpun.

Kibum bimbang, wajahnya terlihat rindu dengan kedua orangtuanya. Tapi semalam—dia sudah terlanjur bilang tidak akan mengganggu mereka lagi

“Aku—“

Ucapannya terpotong. Appa dan Ummanya keluar. Namun mereka tidak sendiri, seorang gadis mungil menggenggam tangan mereka berdua.

Gadis mungil? Setahuku Kibum anak tunggal, siapa gadis kecil ini?

Wajah Kibum sama terkejutnya denganku, “Appa….Umma…..” lirihnya—kali ini Kibum tidak bisa menyembunyikan kesedihannya

Orangtuanya mendongak—mereka terperangah melihat Kibum kembali didepan mereka, “Kau—“ bisik Ibunya

Orang tuanya terdiam sejenak. Mereka menatap Kibum nanar—tidak tahu harus berbicara apa.

“Appa, siapa kakak cantik ini?” tanya gadis mungil itu

Appa? Gadis mungil ini juga memanggil Appa? Pikirku kencang

“Appa?” Kibum terisak kecil, dia mulai mengerti semuanya, “Kalian mengangkat anak?” Kibum menangis—tangisan amat pedih yang pernah kudengar, “Kalian benar benar membenciku? Sampai sampai harus mengangkat anak sebagai penggantiku?” Kibum tertawa miris sambil tetap menangis

Ummanya yang tidak kuat, berjalan mendekati Kibum, “Kami terpaksa…kami kira—kau tidak akan kembali” bela Ummanya

Terpaksa? Kenapa mereka begitu tega terhadap Kibum?

Kibum menatap Ummanya lekat lekat, “Ya” Ia mengangguk cepat, “Aku memang tidak akan kembali lagi” usai mengucapkan itu Kibum berlari, berlari terus meninggalkan Siwon dan Kedua orang tuanya, sekali lagi.

Ia berlari tanpa menoleh kembali ke belakang

***

“hiks…hmmm….hiks…..hiks…ah…” Kibum meringkuk di dalam selimut—Ia langsung masuk ke kamar tamu di apartement Siwon

Kibum terus menangis sambil menyembunyikan dirinya—tanpa sadar Siwon sudah melangkah mendekat lalu duduk di pinggir kasur, “Kibum” panggilnya

“Pergi” jawab Kibum singkat

Siwon menggeleng, dia berusaha meraih selimut yang menyelimuti tubuh Kibum, “Kau tidak apa apa?” Selimut itu terbuka sedikit tapi lagi lagi Kibum menepisnya, “ku bilang pergi!” gertaknya

Siwon berdesah kecil—menyerah, “baiklah. Kita akan bicara lagi kalau kau sudah tenang” ujar Siwon sambil keluar dari kamar Kibum

Aku menunggunya selama 2 jam, tapi Kibum masih belum mau berbicara kepada Siwon ataupun keluar dari kamar ini. Ia masih terus saja menangis, sepertinya kejadian tadi menjadi pukulan telak bagi Kibum.

Kibum sudah mulai tenang, ia hanya terisak kecil sekarang. Kibum merebahkan tubuh di atas kasur—lupa kalau Siwon masih menunggunya di luar. Ia menutup kedua matanya—mencoba tertidur dan melupakan kejadian barusan.

___

Tadinya aku sudah mau terbang, kembali ke balik awan—tapi langkahku terhenti saat melihat Kibum keluar dari kamar. Ia mengucek matanya yang bengkak lalu berjalan ke dapur, mungkin dia kelaparan—seharian tadi Kibum belum makan sama sekali

Kibum mengambil ramen instan di atas lemari dapur—wajahnya belum pulih benar, Kibum hendak meraih termos ketika suara Siwon terdengar dekat sekali di belakang tubuhnya, “kau sedang apa?” tanya Siwon tiba tiba

Terang saja Kibum kaget, tangannya menumpahkan segelas air panas ke bawah—ah mengenai kakinya sendiri

Ya ampun

“AHHHHH” Kibum menjerit lalu tubuhnya rubuh ke bawah, “Panasssss…” Kibum berusaha mengipasi kakinya tapi Siwon lebih cepat tanggap. Dia langsung berlari ke kamar mandi dan kembali dengan handuk basah lalu meletakkannya di kaki Kibum, “tahan yah” Ia menekan handuk itu, “Ah!!!! Mmmm…” jeritan Kibum mereda

Tangan Siwon tanpa sadar meraba raba udara kosong di hadapannya dan terhenti ketika menemukan wajah Kibum, “sudah tidak apa apa” Ia mengusap keringat di wajah Kibum—mengelusnya perlahan

Kibum yang sudah mulai pulih, menepis tangan Siwon, “Ah maaf—aku..” Kibum menggeleng, Ia mencoba bangkit berdiri tapi tidak bisa, kakinya masih perih akibat air panas itu.

“Biar ku gendong” tawar Siwon, “Tidak usah, aku bisa sendiri” elak Kibum

Ini yang tidak aku mengerti tentang Kibum! Kenapa dia selalu bermasalah dengan kontak fisik? Padahal aku bisa mendengar detak jantungnya tidak beraturan ketika Siwon mengelus pipinya

Kenapa Kibum begitu ngotot menolak semua perhatian Siwon? Aku hanya bisa menggeleng kesal—masih belum bisa mencerna sikapnya yang aneh

“tapi kau tidak bisa berdiri” Siwon bersikeras kali ini. Hmm, bagus Siwon. Batinku

Kibum terdiam—dia lagi lagi menatap Siwon lama, ada sedikit rasa takut dalam matanya. “Baiklah” Ia menyerah juga akhirnya

Siwon mengira ngira punggung Kibum. Melihatnya kesusahan, Kibum meraih tangan Siwon lalu mendekatkan ke pundaknya, Siwon tersenyum karena Kibum sudah mulai percaya kepadanya.

Siwon memeluk pundak Kibum erat lalu mengalungkan tangannya satu lagi ke lutut Kibum. “Huph” Siwon mengangkat tubuh Kibum ke arah sofa kemudian mendudukkannya, “sebentar” Siwon kembali ke dapur—dia kembali dengan dua ramen instan di tangannya, “Ini untukmu” Ia menaruh di meja dan memakan ramen bagiannya sendiri, “makasih” bisik Kibum, kali ini ada senyuman tulus saat mengatakan itu

“Sama sama” balas Siwon lalu kembali sibuk memakan ramen. Sekarang mereka berdua makan dalam kesunyian

“Kau tahu? Ternyata tidak buruk juga bersentuhan denganmu” jelas Kibum seraya memakan ramennya dengan lahap

Siwon mengangkat kepalanya, “Aku sadar hal itu dari pertama bertemu denganmu—kau selalu jaga jarak—ku kira hanya denganku, tapi melihat sikapmu tadi siang kau memang menjaga jarak dengan semua orang” kata Siwon panjang lebar

“Salah, aku bukan jaga jarak dengan semua orang—tapi aku jaga jarak dengan semua lelaki” Kibum membetulkan kalimat Siwon tanpa melihat wajah Siwon yang sedikit terkejut

Ha? Kenapa harus dengan lelaki?

Siwon menaikkan alisnya, “Kau tidak—“

Kibum menatap Siwon lalu terbahak bahak, tawanya sangat lepas. “Ya! Aku bukan pecinta sesama jenis!” ucapnya disela sela tertawa

Siwon mengusap dadanya, “untung saja, berarti aku tidak kehilangan harapan” bisiknya tanpa sadar

Sekarang giliran Kibum yang terkejut, “apa maksudmu?”

Siwon menjawabnya dengan gugup, “maksudku—aku….”

“Aku bukanlah perempuan yang tepat untukmu” bisik Kibum, ia menatap Siwon dengan lembut.

Siwon menunduk lalu memainkan sumpit dimangkuknya, “Aku tahu—“ dia tertawa miris, “siapa wanita yang mau dengan lelaki buta sepertiku.”

Kibum langsung terlonjak mendengar ucapan Siwon, “Aku….bukan itu…Aku…” Kibum menghela nafasnya—ia mengatur detak jantungnya yang semakin memburu, “Aku mengidap Contreltophobia” kata Kibum tegas

Contreltophobia? Penyakit apa itu?

Siwon menggeleng tidak mengerti, “kau phobia terhadap apa?”

Kibum menatap nanar ke orang yang terlanjur dipercayainya, “aku belum pernah cerita ini kepada siapapun—tapi…” Lagi lagi ia mengatur nafas berusaha mengeluarkan beban yang selama ini ia simpan sendirian, “Aku phobia terhadap pelecahan seksual”

Ha? Kibum–?

Kedua mata Siwon yang hampa melebar, dia menahan nafas sejenak, memberi jeda untuk dirinya sendiri. “Kau?!” ia tidak sanggup mengatakan apa apa—sama sepertiku

Kibum tersenyum melihat reaksi Siwon, “Waktu aku baru masuk SMA—aku adalah perempuan terhormat, berasal dari keluarga terpandang, pendidikan dan memiliki moral tinggi dan bla bla bla” Kibum mengejek image dirinya yang dulu

Mata Kibum meredup, mungkin ia mengingat bagian yang amat menyakitkan bagi dirinya, “sampai suatu saat ada seorang namja yang berusaha memperkosaku sepulang sekolah” jelasnya

“Aku sudah berusaha menghentikannya—tapi ternyata tenaga jauh lebih besar. Tadinya aku sudah pasrah dengan tindakan bejatnya hingga datang seorang guru yang belum pulang saat itu.” Kibum meringkuk memeluk lututnya sendiri, “Aku takut—sangat takut….orangtuaku memang sudah meminta sekolah untuk mengeluarkan murid bajingan itu, tapi luka yang dibuatnya tidak pernah meninggalkanku—luka itu selalu membekas hingga sekarang” Kibum memeluk dirinya sendiri—mencoba menguatkan dirinya untuk melanjutkan kisah yang selama ini dia tutup rapat rapat

Wajah Siwon simpati—ada sedikit semburat amarah disitu, tapi ditahannya, “lalu?” Siwon ingin Kibum menceritakan seluruhnya, “Mulai hari itu aku tidak bisa berdekatan dengan pria manapun kecuali Appa. Ketakutanku begitu berlebihan dan ketika aku konsultasi ke dokter aku di diagnosa positif mengidap phobia itu”

“orang tuamu tahu?” Siwon melembutkan nada suaranya, dia dan aku bisa menebak kalau hingga hari ini tidak ada yang tahu apapun tentang penyakit Kibum, “tidak, mereka tidak tahu apa apa”

Kibum mulai bercerita lagi, “Mulai saat itu aku belajar bela diri mati matian—berusaha melindungi diriku dari segala kemungkinan yang ada, tapi sialnya hari itu ada seorang namja—teman sekelasku yang malah membuatku hilang kendali” lanjutnya

“Kehilangan kendali?”

Kibum melamun sejenak lalu wajahnya beralih melihat Siwon dihadapannya, “Aku memukulnya hingga hampir mati—organ dalamnya terluka parah karena dia mencoba menciumku di gudang sekolah.” Kibum memejamkan matanya, berat, “dan itulah yang diberitakan semua orang—aku seorang monster lah, aku wanita kejam atau apapun julukan mereka—berita itu membuat saham Appa turun drastis karena aku masuk koran sebagai berita utama”

Jadi ini cerita sebenarnya?!

Siwon mencondongkan tubuhnya ke depan, “kenapa kau tidak memberitahu orang tuamu tentang phobiamu ini” bujuknya, Kibum menggeleng cepat, “tidak—tadinya aku juga bermaksud begitu tetapi melihat mereka sudah begitu benci kepadaku, tidak…lebih tidak usah” Kibum kembali melihat Siwon tajam, “itulah alasanku, jadi tidak mungkin kau menyukai wanita sepertiku kan?” ada kepedihan saat Kibum mengatakan itu

Siwon perlahan bergeser mendekati Kibum—cukup dekat untuk ukuran Kibum. “Jangan menjauh” Siwon meminta dengan menjulurkan tangannya ke depan, “kumohon” bisiknya

Kibum menurut, dibiarkan Siwon duduk lebih dekat dengannya. Bahkan lengan Siwon sampai bersinggungan dengan lutut Kibum, “see? Kau mulai bisa mengurangi phobiamu?”

Mendengar itu Kibum tertawa lagi, “Siwon—ini sih bukan apa apa” selorohnya pelan, Siwon ikut tersenyum senang, “tapi tadi aku sudah menyentuh tubuhmu juga dan kau masih belum meninjuku”

Kibum menghela nafas karena melihat Siwon begitu gigih membujuknya, “Tadi kan terpaksa, kalau tidak aku tidak bisa berdiri” elaknya

Siwon menjulurkan lehernya—menerka nerka dimana letak wajah Kibum, “Aku memang buta—tapi ….” Siwon mengenggam tangan Kibum dengan sekali terka—Kibum ingin memberontak tapi Siwon menahannya, “lepas! Atau kau akan menyesal!” bisik Kibum—dia benar benar serius.

Siwon sebaiknya kau jauhkan tanganmu itu!!!

Siwon tetap bergeming—ia malah mengeratkan pegangannya, “tidak. Kalau mau kau boleh memukulku” tantang Siwon balik

Spontan Kibum melayangkan tangan kirinya yang bebas tapi dengan sigap kutahan dengan sihirku, Ting!

Untung tepat waktu, keluhku. Ternyata Kibum benar benar phobia—masa dia tetap berani memukul orang buta seperti Siwon?

“Kenapa tidak jadi?” Siwon bertanya karena merasa Kibum berdiam diri disampingnya, “entahlah tanganku tidak bisa digerakkan” Aku terus menahannya—tak lama, akhirnya Kibum menyerah

Ia kelelahan dan heran—tangan kanannya masih dalam genggaman Siwon. Aku merasa nafas Kibum yang tadi memburu mulai teratur perlahan, keringat dingin di wajahnya berhenti keluar. Berhasil! Kibum mulai terbiasa dengan kontak itu.

Wajah tegang Kibum mengendur—ia menghempaskan tubuh kebelakang sofa, membiarkan tangannya dipenjara oleh Siwon.

Siwon bisa merasakan kalau Kibum berhenti berontak, mulai tersenyum, “Apa kubilang kau hanya perlu terapi” Kibum mendelik ke Siwon, “Ya! Kalau tadi tanganku tidak berhenti sendiri sampai sekarang tidak ada yang bisa menyentuhku” balasnya

Siwon menoleh walau tak sepenuhnya menghadap Kibum, “Aku tidak keberatan—selamanya aku akan menunggumu sembuh, sampai saat itu ijinkan aku untuk selalu bersamamu” pinta Siwon secara tidak langsung
Kibum mengangkat tubuhnya mendekat, “Kau?! Kau mau dengan wanita sepertiku?” Kibum mencoba mencari keraguan di wajah Siwon—tapi tidak ada, Siwon tulus mengatakan itu, “mungkin saja seumur hidup aku tidak akan bisa kau sentuh” bisik Kibum pelan, “dan aku seumur hidup akan selalu buta seperti ini” Siwon membalikkan kalimatnya

“Aku tidak peduli” Siwon meremas kedua tangan mereka yang bertautan, “andai aku bisa melihatmu langsung—tapi ketahuilah aku mencintaimu,” Siwon mencari cari tarikan nafas Kibum—agar bisa mensejajarkan wajah mereka berdua, “Aku memang buta—tapi cintaku tidaklah buta—buktinya aku bisa melihat dirimu sesungguhnya” perkataan Siwon mencairkan sikap Kibum, ia menutup mulutnya dengan tangannya satu lagi, “apa jawabanmu?” bisiknya lagi

Kibum diam untuk beberapa saat. Jantungnya kembali tidak beraturan, Ia menggenggam balik tangan Siwon sebagai jawabannya, “ya”

***

Ah aku lega melihat mereka berdua. Kibum semakin ceria semenjak saat itu. Beban dipundaknya berkurang, ini semua berkat Siwon. Walaupun kenyataanya Kibum masih mengidap phobia itu

“Boleh aku menggenggam tanganmu?” Siwon meminta ijin ketika mengantar Kibum berangkat sekolah.

“Boleh” kata Kibum seraya meraih tangan Siwon ke dalam tangannya.

Mereka berdua jalan kaki hingga didepan gerbang sekolah, “Nanti aku jemput ya” Kibum hanya mengangguk—meski ia lebih banyak diam, ada cinta tak terucap di antara mereka dan Siwon mengerti hal itu.

Ya, Kibum hanya bisa mentolerir sampai tahap itu. Siwon pernah secara tidak sengaja memegang pundaknya seketika itu juga Kibum menepis lengan Siwon kemudian bersingut menjauh darinya

Bahkan ketika Siwon akhirnya bisa membujuk Kibum untuk ikut teraphy ke dokter specialis. Dia tetap tidak ada kemajuan berarti. Kibum hanya bisa bersentuhan dengan Siwon—hanya dia..

Memang sih, itu bukan hal yang buruk—malah Siwon mengulum senyum saat Kibum menepis tangan dokter yang menanganinya dan kembali memegang tangan Siwon. Tapi kalau begini terus bisa menjadi penghalang untuknya sendiri—tidak mungkinkan selamanya dia bergantung pada Siwon? Siwon yang buta saja tidak pernah bergantung pada siapapun

“Mau makan apa hari ini nona manis?” canda Siwon saat menjemput Kibum pulang sekolah, “Hmm aku mau ramen di taman seperti biasa” gumam Kibum seraya mengayunkan tangan mereka yang saling berpegangan. Semenjak ada Kibum di sisinya, Siwon mulai melepas tongkatnya—ia berjalan mempercayakan arah kepada kekasihnya ini. Kibum menjadi mata untuk Siwon

“Baiklah” Siwon dan Kibum berhenti di lampu merah. Mereka belum menyebrang sampai lampu hijau menyala bagi pejalan kaki

“Udah hijau, yuk” ajak Kibum menggandeng Siwon ke seberang

Hmm, mereka pasangan yang cocok—saling melengkapi

Ah—mungkin sudah saatnya aku melapor kepada De-

“TIDAKKKKKKKKK”

Suara Kibum? Aku menoleh berbalik arah kembali kepada mereka berdua.

Oh tidak!!!! Jeritku

Tubuh Siwon terkapar tidak berdaya. Dari kepalanya keluar banyak sekali darah, wajah Siwon menegang sambil mencari cari, “Kibumm…” tangannya terangkat diudara, dengan cepat Kibum—yang berada disebelahnya meraih tangan itu, “aku disini” Kibum terisak isak,

“Kumohon, seseorang panggil ambulanssss….” Pinta Kibum kepada sekelilingnya. Beberapa orang yang mengerumuni mereka bergegas menelepon nomor darurat

“Aku disini” bisik Kibum lagi, “Siwon sebentar lagi—ambulans datang..kumohon” Kibum menangis disisinya. Diangkat kepala Siwon dalam pangkuannya, “Siwon—bertahanlah” ulang Kibum.

Siwon hanya tersenyum sambil meraba raba untuk mengelus pipi Kibum pelan, “akhirnya aku bisa menyentuh juga” Kibum meraih tangan Siwon yang penuh darah—lalu menaruh tepat di wajahnya, “Kau akan selalu bisa menyentuhku…please….demi aku—bertahan …kumohon….” Kibum mendekatkan wajah Siwon ke dalam dekapannya.
Tak lama, kulihat mobil putih dengan sirene diatasnya tiba, dengan sigap para tenaga medis menurunkan tandu untuk mengangkat tubuh Siwon menuju rumah sakit

Aku terbang mengikuti mereka. Oh Tuhan andai saat itu aku tidak berbalik, andai aku tidak selengah itu…andai…saja,,,mungkin aku bisa menyelamatkan Siwon sedini mungkin..

Sesampainya di rumah sakit—para dokter dan Suster tanggap menangani Siwon langsung membawanya ke ruang operasi. Aku bisa mendengar detak jantung yang lemah—terlampau lemah….

“Siapkan alat pemompa jantung!” perintah sang dokter, salah satu suster mengambil alat itu. Kemeja Siwon di sobek kasar hingga tubuhnya terlihat jelas, Dokter itu bersiap, “1..2….3!”

Ia memompa jantung Siwon satu kali

—————-^^^^—————————- ——————————

Gagal, jantungnya belum mau berdetak….

“ayo sekali lagi” perintahnya

————–^^^^^————————————————–

Ya tuhan kumohon Siwon….berdetaklah demi Kibum.

Dokter itu menatap pasiennya lama, melihat harapan semakin menipis pada pria ini. Please jangan menyerah!!!! Tuntutku

Dokter itu menghela nafas, “kita coba untuk yang terakhir kali, kalau gagal….kita harus beritahu keluarganya” Dokter itu kembali bersiap siap

“1…….2……….3”

Please…..berdetaklah……..kumohon……Siwon! ada seseorang yang sangat membutuhkanmu di luar sana, bisikku tepat ditelinganya

——————–^^^^^—^-^—^^^-

Berdetak!!! Yesss akhirnyaaaa

“Dia selamat!” pekik sang Dokter, “cepat siapkan ruangan operasi untuk pasien, ingat kita masih harus menjahit lukanya” tim dokter itu sangat profesional..mereka tidak larut dalam kegembiraan begitu saja karena luka Siwon memang parah dan harus segera di operasi

Tapi paling tidak dia sudah selamat. Aku tidak sabar melihat wajah Kibum di luar sana.

Aku terbang lalu menembus ruang ICU menemui Kibum yang menunggu dibangku depan ruangan ini.

Kibum duduk dengan gelisah—kedua tangannya saling bertautan, seperti orang sedang berdoa

“Tuhan, aku selama ini tidak pernah meminta apa apa—tapi kali ini aku mohon jangan ambil Siwon,, hanya dia yang aku punyai saat ini. Aku tidak mengeluh ketika semua orang menjauhiku, ketika aku mengidap phobia ini atau bahkan ketika kedua orangtuaku membenciku…aku tidak pernah mengeluh atau membalas semua ini kepada mereka….jadi kumohon….kali ini saja—biarkan aku mendapatkan apa yang kuinginkan.” Kibum berbicara serius sekali sampai tidak sadar ada dua orang yang mendengar doanya—dua orang selain aku

Ya, mereka adalah orang tua Kibum. Mereka kemari karena menerima kabar Kibum yang kecelakaan, bukan Siwon. Mereka kalang kabut ketika sampai dirumah sakit—bertanya tanya dengan nada khawatir, ternyata di balik semua ini—sesungguhnya mereka amat menyayangi Kibum.

“Kibum……”

Kibum mendongak—doanya terputus karena panggilan Ibunya, “Umma….Appa…” bisiknya tidak percaya

Umma Kibum langsung menyambut putrinya ke dalam pelukannya, “anak nakal! Kau membuat kami khawatir karena mengira kau kecelakaan dan tadi di bawa ambulans!!” Ummanya memeluk putrinya erat—Appanya hanya menatap kedua wanita yang di sayanginya dari jauh

“Umma….kalau bukan karena Siwon—mungkin aku yang terkapar di sana, dia menyelamatkan aku tepat ketika mobil ugal ugalan itu menerobos lampu merah” jelas Kibum sambil membalas pelukan Ibunya
Ibunya mengelus kepala Kibum lembut, “sudah sudah..dia pasti selamat.” Umma Kibum mengendurkan pelukan mereka berdua, “Apa yang kau bicarakan tadi? Phobia? Kau punya phobia apa?” tanya Ummanya ingin tahu

Kibum melihat kedua orangtuanya bergantian—mungkin sudah saatnya dia jujur dengan semua masalah yang menimpanya selama ini.

Kibum menunduk sejenak dan ketika dia mengangkat kepalanya, dia bercerita banyak kepada orang tuanya. Semuanya, bagaimana tertekannya Kibum saat dia hampir diperkosa, bagaimana Kibum akhirnya tidak bisa menyentuh lawan jenis sedikitpun, dan diagnosa dokter tentang phobia akutnya yang berakhir dengan pemukulan 3 bulan lalu.

Umma dan Appanya terkejut mendengar begitu banyak rahasia yang disembunyikan putri mereka. Betapa selama ini mereka salah sangka terhadap Kibum. Ini semua bukan kemauannya—menjadi monster seperti yang di cap orang banyak

“Hanya Siwon…hanya dia orang pertama kali yang tidak menjauhiku ketika mengetahui kasus itu” lanjutnya, “Siwon bahkan memberiku tumpangan selama ini, dia tidak mengambil kesempatan, dia tulus menolongku—dia begitu baik—dan aku mencintainya” Kibum memelas menatap orangtuanya, “meskipun dia tidak bisa melihat—tapi….hatinya selalu bisa melihatku lebih dalam” lirihnya pelan

Appanya yang berdiri agak jauh mendekat ke mereka berdua. Ia menatap putrinya lama—ada rasa bersalah dan rindu amat besar dalam tatapannya, “kami akan selalu mendukungmu, kami minta maaf—tidak pernah ada saat kau membutuhkan kami” Appanya menunduk ke arah Kibum, melihat sikap Appanya, Kibum meraih tubuh pria tua itu dan memeluknya, “Appa…Appa jangan begini, aku tidak marah kok” bisiknya pelan.

Tubuh mereka bergetar menahan isak tangis yang selama ini terpendam karena jarak yang mereka buat sendiri. Mungkin ini takdir Tuhan. Kecelakaan yang Siwon alami membuat Kibum kembali bersatu dengan keluarganya—keluarga yang begitu ia cintai

“Saudari Kibum” Dokter keluar dari ruang operasi dengan senyum tersungging di wajah, “Siwon hanya mengalami pendarahan ringan—dia sudah dapat ditemui” ucapnya kemudian berlalu, ke ruangan di sebelah—sepertinya ada operasi lain yang sudah menunggu.

“Terima kasih” ucap Kibum, ia langsung membuka ruang rawat Siwon, bergegas mendekati Siwon lalu meraih tangan itu ke dalam pelukannya, “Siwon..”

Siwon membuka matanya perlahan, “kau disini?” suaranya masih terdengar sangat lemah

Kibum mengangguk, “Yah, aku disini” tanpa ragu Kibum mengelus sayang wajah Siwon, “rasanya lukaku lebih baik ketika kau menyentuhku” guraunya pelan. Kibum tertawa senang, “Aku akan selalu menyentuhmu—hanya menyentuhmu” bisik Kibum

Siwon memejamkan mata, menikmati jari jari halus Kibum di wajahnya. Mereka berdua mendekat dan saling menguatkan satu sama lain. Mereka terlihat sempurna di mataku

Kedua orang Kibum menunggu diluar—tidak mau menganggu momen ini, namun saat mengintip ke dalam, mereka ikut bahagia melihat putrinya telah menemukan seseorang yang begitu baik dan sangat berharga baginya.

***

“Bagaimana tanggapan Adjushi?” suara Siwon agak bergetar menunggu jawaban dari calon Ayah mertuanya

Di sebelahnya Kibum mengelus punggung tangan Siwon—berusaha menenangkannya.

“Hmmmm” Appa Kibum menggantungkan kalimat itu

2 minggu setelah Siwon pulih betul dari lukanya, ia langsung pergi melamar Kibum—bukannya apa apa. Siwon takut kalau Appa Kibum berpikir aneh karena mereka sudah tinggal serumah sejak lama, lagipula Siwon tidak rela jika Kibum harus kembali ke rumah orangtuanya—maka dari itu ia meminta ijin untuk membopong Kibum untuk selamanya tinggal bersama Siwon

Appa Kibum tersenyum lebar, “memangnya aku bisa menolak pilihan putriku ini?” godanya kepada Kibum

Kibum tertawa renyah, “tidak bisa” ujarnya manja

Siwon dan Appa Kibum tersenyum melihat tingkah Kibum yang seperti sedia kala.

Semenjak kejadian itu, Kibum mulai bisa berinteraksi dengan namja namja lain. Dokter di rumah sakit—perawat Siwon yang rata rata lelaki, demi Siwon, ia rela berkontak fisik dengan mereka—yah tentu saja bagaimana tidak? Kibumlah yang mengurus segala keperluan Siwon dirumah sakit

Dan sekarang mereka malah sudah mempersiapkan pernikahan hehehe

Ah kali ini kisahku juga berakhir bahagia, senangnya!

©FLASHBACK END©

Aku menyukai karakter Kibum yang mencintai Siwon apa adanya. Kalian tahu tidak ? tadinya Siwon mulai mau mencari pendonor mata untuknya tapi Kibum malah marah marah—katanya itu tidaklah penting. Bagi Kibum Siwon tetaplah Siwon, dengan atau tanpa mata itu.

Romantis kan^^

Nah dari semua kisahku kalian bisa belajar kalau untuk mendapatkan cinta ataupun mempertahankan cinta yang sudah memang butuh perjuangan.

Ingat, aku hanya menegaskan garis takdir kalian saja—aku tidak bisa terus terusan ada di samping kalian untuk membantu,

*Cupid tersenyum tulus*

Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu—tapi selalu tanamkan sesuatu di hati kalian

Cinta ada hanya jika kalian mempunyai cinta itu sendiri.

Mulai lah dengan mencintai diri sendiri kemudian baru orang lain, percayalah akan ada seseorang yang menunggumu di sana. Mencintaimu apa adanya dan selalu ada di sampingmu kapanpun, dimanapun, dalam keadaan apapun

Bye…..salam cinta untukmu selalu ^^ . Cupid.


THE END

14 responses to “≈Behind The Scene of Love-SiBum≈

  1. Siwon kereeeeeeen.. Ngebayangin Kibummie jd cewe.. pasti cantik tuh.. haha.

    Kak sebas, c cupid itu manis ya ^^

  2. eonnie~keren banget…aku ampe nangis pas baca yg ceritanya Kibum n saat Kibum berdoa di depan ruangan di rmh sakit itu~~sumpah nyelekit banget tuh eonnie~~daebak…

  3. Aku sangat menyukai Kibum di sini. Mereka berdua benar2 menarik….

    Cerita yg sangat romantis…

  4. selalu berakhir bahagia…
    i love happy ending story… ^_^
    kekurangan mereka malah saling melengkapi jadi sesuatu yang sempurna…🙂

    ortunya kibum kelewatan banget ya masa anaknya ampe dijauhin g2… T_T

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s