≈Behind The Scene of Love-{KangTeuk}≈

Hai hai *cupid nyengir lebar*

Haiiii

Kekekeke, kalian pasti heran melihatku begitu gembira yah, ^^

Bagaimana aku tidak bahagia kalau dapat suntikan sembako setiap kalian mampir kemari, aduh. *Tanpa malu malu—Cupid merampas oleh oleh coklat untuknya*

Nah *Cupid menelan bulat bulat coklat batangan sekaligus*

Akhirnya Dewi memberiku tugas yang jauuuuhhh lebih mudah *kembali nyengir geje*

Kali ini mudah kok—malah terkesan biasa aja, yah mudah mudahan kalian tidak tidur mendengarkan ceritaku ^^

Baiklah, aku memulai cerita ini

©FLASHBACK©

Aku terbang bersemangat, bahkan sesekali aku berputar dan mengelilingi taman bunga di dekat sekolah berasrama ini. Ya bisa ditebak kalau korban cintaku berikutnya anak sekolahan disini.

Namanya…hmmm kalau tidak salah, ah ini dia!

Park Jungsoo a.k.a Teuki a.k.a Angel without wings a.k.a Special *buseeet panjang banget nama aliasnya, bisa kalah nih sama authornya hehehe*

Siswi di sekolah asrama khusus wanita di St Christie ini adalah termasuk populer di kalangan siswi lainnya, wow jangan jangan karena Teuki termasuk wanita tercantik disana, atau mungkin dia murid yang pintar. Aku menebak nebak sendiri.

Melihat daftar riwayat hidupnya aku jadi membayangkan sosok wanita anggun yang suka menolong orang lain

Bayangkan saja, di bukuku ditulis, dia suka membantu adik adik kelasnya yang diganggu sama siswa lelaki dari sekolah lain dan Teuki suka membantu temannya yang sedang kesulitan uang

Wah—ini baru namanya perempuan sejati

Beruntung sekali nih pasangannya, namanya *cupid membalikkan catatannya*

Kim Youngwoon a.k.a Kangin

Siswa dari sekolah asrama khusus pria di St Petrus ini termasuk anak alim. Dia lebih suka berdiam lama di perpustakaan sekolah, hobinya membaca karya sastra lama.

Wow anak yang baik *cupid tersenyum lega* ini baru pasangan yang cocok, yang satu wanita anggun dan prianya anak baik baik. Pasangan sempurna, tidak seperti pasanganku sebelum sebelumnya

*Kyumin : Hatchim*
*Yewook : Hatchimm*
*Eunhae : HatCHIMM*

Nah sekarang saatnya aku melakukan pemantauan dilapangan!

Aku terbang melesat memasuki asrama wanita terlebih dahulu, St Christie. Wiusss, aku terkejut melihat isi asrama ini. Benar benar khas wanita, dikeliling sekolah banyak sekali taman kecil yang asri ditengah tengahnya ada kolam air kecil yang berhiaskan lambang sekolah.

Sekolah ini terhubung dengan asrama untuk para siswi dibagian wilayah belakang sekolah. Ck ck ck, aku menggelengkan kepala masih terpesona. Benar benar rapi, nyaman dan teratur— kelihatan sekali kalau sekolah ini berisi wanita wanita anggun yang berpendidikan.

Aku tersenyum lebar, merasa senang dan betah berlama lama disini, maklum cupid sepertiku itu pecinta kebersihan sih hihihi

Aku menyusuri jalan di lorong lorong sekolah mencari seorang perempuan anggun bernama Teuki, dimana dia?

“Teuki” bisik seseorang, aku langsung menoleh mencari sumber suara itu.

“Teuki, bangun” seorang siswi mengguncang guncang tubuh temannya yang tertidur nyenyak saat pelajaran berlangsung

Siswi itu bergantian memandang ke arah guru dan Teuki—temannya, “Teuki..bangun keburu bu guru menimpuk kamu pake kapur tulis lagi” bisiknya gusar

Ini? Ini yang namanya Teuki??

Aku kecewa. Dia benar benar jauh dari bayangan seorang wanita anggun, wajah Teuki memang cantik—tapi rambut yang pendek dan diwarnai pirang membuatnya mencolok diantara siswi lain. Ditambah lagi sekarang dia malah tidur dikelas

Aku menggeleng tak percaya, sepertinya harapanku hancur. Dia beda banget! Pekikku

“Teuki!!” teriak Guru didepan kelas, Wajahnya tambah kesal karena teriakannya tidak digubris oleh Teuki—dia masih tertidur pulas

“Kau?!” Guru itu menggenggam kapurnya erat erat dan melayangkannya ke arah Teuki

Slepppppppp! Kapur itu terhenti dalam gengaman Teuki

Mulutku ternganga lebar, bukan hanya aku saja hampir seluruh murid terkejut melihat kejadian itu. Berbeda dengan guru didepan—wajahnya makin menekuk marah

Unbelievable

Teuki berhasil menangkap kapur itu tepat sebelum mengenai wajahnya!! Wuihhh keren banget! teriakku kencang

Mata Teuki terbuka, kepalanya mendongak menatap guru didepan kelas. Teuki berjalan maju menghampiri guru itu dan menyerahkan kembali kapur tulis.

“Ini bu, ada yang ketinggalan” ucapnya masih menguap lebar. Teuki berbalik menuju bangkunya dan tertidur lagi

“Kau kuhukum!! Bersihkan toilet dilantai 2 sepulang sekolah nanti!” teriak sang guru dengan keras

“Hmm” hanya itu jawaban dari Teuki.

Akhirnya guru itu menyerah lalu melanjutkan pelajaran tanpa menghiraukan Teuki.

Ck ck ck…..ini yang namanya perempuan. Kok beda banget sama yang ditulis dibukuku yah, apa jangan jangan Dewi salah nulis lagi, pikirku

Ah sebaiknya kupantau lebih jauh—aku penasaran dengan Teuki, angel without wings ini… *maklum cupidnya cemburu ada yang nyaingin dia heehehe*

Teuki benar benar bukan seperti wanita yang kubayangkan, dia tidaklah anggun. Dia tomboy, dari gaya berpakaian, penampilan dan tingkah laku.

Dia sungguh berbeda

“Teuki” panggil salah seorang siswi lain ketika Teuki melintas di koridor sekolah—bersiap siap menuju asramanya maklum sekolah sudah bubar dari tadi

“Ya?” tanyanya ramah

Siswi itu kelihatan malu malu—ia sesekali mengedipkan matanya lalu tertunduk lagi, “Aku mau minta tolong” pintanya

Teuki menunggu, “minta tolong apa?”

Siswi itu menggigit bibirnya—ragu ragu, “orang tuaku belum mengirimiku uang untuk bulan ini sedangkan kau tahulah” Ia menggeleng segan, “bayaran paling lambat besok pagi”

Teuki mengangguk mengerti, “baiklah—nanti malam aku akan meminjamkannya kepadamu” ujarnya enteng

Wah dia baik sekali! Memang yah orang tidak bisa dilihat dari penampilannya, meskipun Teuki terlihat amburadul seperti ini hatinya tetap lembut. Pujiku melihat Teuki

“Oh ya” Teuki mengangkat ujung bibirnya sedikit, “panggil seluruh siswi kumpul di belakang asrama sekarang! Ok!” perintahnya

“Ok” Siswi itu berlari kencang bergegas memenuhi permintaan Teuki

Ada apa? Tanyaku tidak mengerti

Karena penasaran kuikuti terus langkah Teuki yang bukannya masuk kedalam kamarnya di asrama namun malah menuju belakang asrama mereka

Teuki menyeringai, “Let’s begin” serunya sambil mengepalkan kedua tangan

Kulihat disana ada berpuluh puluh Siswi sekolah ini—tidak semuanya, tapi cukup banyak sekitar 50-an. Mereka menyambut dengan senyum saat Teuki muncul diantara mereka. Di tengah tengah kerumunan itu ada sebuah meja besar berwarna hijau—dan mereka semua mengitari sisi meja itu

“Baiklah teman teman” Leeteuk membuka pertemuan? Entah memang seperti pertemuan tapiii ada yang aneh disini, selidikku

“Teman kita hari ini—membutuhkan sejumlah uang untuk membayar SPP yang menunggak dan harus dibayar paling lambat besok! Jadi dimohon kerja samanya” ucap Leeteuk sedikit membesarkan nada suaranya

Oh, mereka mau mengumpulkan uang untuk membantu temannya yang tadi. Aku mengangguk angguk mulai mengerti, hmm ternyata aku terlalu berburuk sangka, Leeteuk memang sebaik kelihatannya.

“Kita mulai” Teuki mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya, kulihat beberapa siswi ikut maju dan menaruh lembaran uangnya diatas meja

“Berapa orang dulu?” tanya Leeteuk

“Kami berempat dulu” jawab mereka,

kok?

Murid yang lain mundur perlahan, mereka bergerak menjauhi meja dan duduk di semak semak sekitar situ. Teuki dan empat orang perempuan itu mulai menyatukan uang mereka ditengah tengah meja, ngg… aku mengerutkan dahi—heran

Teuki mengeluarkan sesuatu dari balik tasnya, setumpuk kartu? EH? KARTU REMI?? Pekikku kaget

Wajahku melebar ngeri, jangan bilang mereka….

Jari jari Teuki mulai mengocok kartunya kencang—seperti ahli dalam..ah tidak mungkin!

“Kita main kartu Poker ok? Sekarang pasang taruhan kalian” Teuki menaruh seluruh uangnya diikuti oleh keempat orang tadi

GUBRAKKKKKKKKKKKK

Sayapku tiba tiba hilang keseimbangan, membuatku terjatuh meskipun tidak menyentuh lantai.

Teuki!!!! Itu Ilegal!!!! Kok malah main judi sih!!!!! Teriakku tepat ditelinganya yang pasti percuma—soalnya suaraku tidak akan terdengar olehnya

Dengan setengah pasrah aku menyimak permainan judi mereka, kelihatan sekali Teuki jago bermain sebagai bandar—4 orang itu langsung mundur ketika uang mereka sudah ludes habis ditangan Teuki

Teuki tersenyum senang, “giliran yang lain” Ia menggerakkan tangannya memanggil yang lain untuk maju

Dan itu berlanjut hingga semua uang dari mereka semua berpindah tangan ke arah Teuki T_T *cupidnya mau nangis*

Teuki menghitung semua uang itu dengan teliti, “yak! Cukup!” Ia mengedarkan pandangan menatap semua teman temannya itu namun yang membuatku heran adalah mereka semua tidak kelihatan menyesal atau kesal karena kalah—mereka semua tersenyum

Wew,,,no comment

Teuki berbalik menghadap ke siswi yang tadi meminta bantuannya, oh dia ada dari tadi disini? Aku tidak memperhatikannya karena hanya dia yang tidak ikut dalam permainan ini

“Ini, untukmu—ingat jika uangmu sudah diberikan jangan lupa main disini untuk membantu yang lain” Teuki menyerahkan uang itu yang dibalas senyuman manis dari siswi itu

“Thank ya Teuki” Ia menghela nafas lega seraya menggenggam erat uang yang berharga itu

Teuki dan siswi lain ikut senang bisa membantu temannya

Ok, ok..aku mengerti mereka memang setia kawan, tapi apa perlu hingga bermain judi baru dulu? Kenapa ngga langsung dikumpulkan saja uangnya? Aku hanya bisa bertanya tanya tanpa tahu apa jawaban sebenarnya

“Berterima kasih juga kepada yang lain” Teuki mengedikkan kepala kearah siswi lain

“Thanks yah teman teman” ucapnya menahan haru sambil menundukkan kepala dalam dalam

“Udah—“

“Teuki!!!!!” teriak siswi lain yang berhamburan masuk kemari, nafasnya tersengal sengal dan wajahnya penuh peluh keringat

“Ada apa?” Teuki dan murid lain panik melihat kedatangan temannya ini

Siswi itu menunjuk ke arah luar—masih terengah engah, “Kim Houng….dia…” ucapnya terputus putus

Teuki menghampiri siswi itu berusaha menenangkannya, “ada apa dengan dia?” paksanya

“Dia…dia…di kerumuni oleh para siswa dari St Petrus” akhirnya dia bisa selesai menyampaikan maksudnya

Wajah Teuki berubah murka, tanpa pikir panjang dia berlari keluar dari situ menuju gerbang depan.

Aku terbang seiring dengan langkahnya—dibelakang Teuki beberapa Siswi mengikuti dia

“Woi!!!” teriaknya ketika melihat Kim Houng di kerubuti oleh beberapa lelaki iseng.

Kim Houng yang ketakutan langsung tersenyum senang melihat Teuki, “Teuki” rengeknya keras

Lelaki disana berhenti menggodanya mendengar nama itu, “ha? Teuki?” Wajah mereka kaget dan tiba tiba sudah lari tunggang langgang meninggalkan Kim Houng sendirian

Teuki sampai ke hadapan Kim Houng terengah engah, “mana bajingan itu? Mereka sudah kabur?” teriaknya kasar

Teuki menoleh ke arah temannya itu, “Kau tidak apa apa kan?” tanyanya menyelidik

Kim Houng tersenyum lega, “ngga..untung kau cepat datang” dipeluknya Teuki erat, “thank u my friend”

“Ne-“ ucap Leetuk ikut lega juga

Fuih~

Ok, memang catatannya tidak ada yang salah. Teuki senang melindungi temannya dari kejahatan tapiiii dia lawan pake kekerasan. Teuki juga suka membantu temannya yang kesusahan—dengan bermain judi

Baru sehari bersama dia—kepalaku sudah pusing *cupid memegang kepalanya* jangan jangan pasangan Teuki sama tidak beresnya dengan dia

Hmm sebaiknya aku kesana saja,,eh jangan dulu deh—mau istirahat aja sekarang *kepala Cupid dan Auhtor sama sama pusing*

__

Aisshh pening dikepalaku tidak berkurang sedikitpun. Kuhindarkan tangan mungil ini dari kepalaku—bisa bisa kugetok getok sendiri lagi *miaan Authornya beneran lagi pengen getok getok kepalanya sih*

Bagaimana aku tidak begitu? Kalau mendapatkan ‘korban’ seperti Leeteuk??? Teriakku frustasi

Aku menghirup nafas segar sebentar. Sudahlah, lebih baik aku menghampiri pasangannya sekarang. Kangin—salah satu siswa St Petrus, sekolah berasrama tak jauh dari sekolah St Christie

Aku berputar keliling menyapu pandangan ke seluruh siswa yang sedang hilir mudik. Hmm mereka sepertinya sangat santai—memangnya tidak ada pelajaran apa? Tanyaku sendiri

Diseberangku kerumunan orang paling banyak terlihat, mereka berkumpul mengelilingi seseorang, sepertinya orang itu bos disini—aku sebenarnya pengen menguping juga sih, tapi, ah lebih baik nyari Kangin dulu deh di Perpus baru nyari tahu hal lain. Aku berusaha memprioritaskan pekerjaan dibanding kesenangan dahulu *maklum cupid standar Internasional*

Aku melesat mencari sosok Kangin di gedung Perpustakaan ketika ada suara dengan nada tinggi dari kerumunan orang orang itu

“Kangin! Kami butuh bantuanmu!” pekik namja itu, Ia menjelaskan masalah yang dihadapi dengan menggebu gebu

Disebelah kanan dan kirinya teman temang sang lelaki ini ikut mengangguk menyetujui semua perkataannya

Eh tunggu, tadi dia bilang Kangin??

Aku berbalik dan menembus kerumunan itu, dari atas jauh terlihat lebih jelas, sosok lelaki tegap dan berdada bidang duduk tenang di tengah tengah mereka. Dia mempunyai wibawa lebih dari sekedar teman—aku pun bisa merasakannya

Mendominasi sekaligus Tampan

*lama lama Authornya curiga sama jenis kelamin cupid*

Tapi masa iya lelaki ini Kangin? Ucapku sangsi

“Hmm…kau yakin?” tanyanya dan ketika Ia mendongak aku amat yakin dialah Kangin. Dia mengusap rambut jabriknya pelan—mempertimbangkan usul-entah-apa-itu dari lelaki didepannya ini

“Betul Kangin! Kita harus menyerangnya! Dia sudah keterlaluan kepada kami!” lelaki itu makin memancing mancing amarah yang menggebu disekeliling mereka semua

“Betul katanya! Apalagi yang kita tunggu! Kita harus membuat perhitungan!” seru seseorang lain yang masih berada dalam lingkaran kerumunan itu

Yah seperti kalian tahu—lelaki itu mudah untuk diajak bertengkar fisik tanpa perlu mencari tahu alasan sebenarnya. Dan karena ucapan satu orang tadi—mereka semua semakin memanasi Kangin untuk melakukan sesuatu

*riset author dr temen” cowoknya jadi namja lain jgn tersinggung ya*

Tapi apa?

Aw *Cupid memegang kepalanya* kepalaku pusing lagi!

Kangin yang dibilang anak Alim—ternyata pemimpin suatu kelompok, sedangkan Teuki yang kukira bersahaja ternyata….lebih sangar dari wajah cantiknya

Kali ini aku harus kembali ke tempat Dewi deh—jangan jangan dia salah tulis orang lagi, kan bisa berabe kalau aku sudah terlanjur memanah mereka.

Setelah berpikir keras, aku memutuskan untuk kembali ke atas langit. Meminta pertanggungjawaban Dewi atas kelalaiannya saat ini *cupid udah pede setengah mati kalau dia yang benar*

Aku sudah siap mengambil ancang ancang tetapi berhenti ketika Kangin berbicara lagi

“Baiklah, aku akan memberi pelajaran untuk wanita itu—Teuki kan namanya?” suara Kangin yang berat membuat semua orang terdiam sedetik, kemudian riuh rendah terdengar karena keputusannya

“Bagus Kangin! Ayo kita buktikan siapa lelaki sebenarnya!” seru Lelaki tadi dengan gembira

Kangin hanya tersenyum simpul dan mengangkat bahu, seperti meremehkan Teuki, “Aku akan bereskan dia” ucapnya mantap

Apa?

What???

Kangin ingin membuat perhitungan dengan Teuki?? Aku baru tersadar, mereka ini bukannya lelaki lelaki yang mengganggu temannya Teuki?

Yang takut hanya mendengar nama Teuki? Dan dengan pengecut mereka malah menyuruh Kangin membereskannya?! *cupid mengangkat kedua alisnya*

Dasar pengecut!!!!! Teriakku. Kutahankan buku buku jariku agar tidak menyihir mereka menjadi kodok

Dan sekarang Kangin akan ‘membereskan Teuki’?? aku tidak mengerti maksud kata itu ~_~

Kangin mengangkat tangannya dan menyuruh salah satu lelaki itu untuk mendekat, “Sampaikan tantangan itu kepada Teuki” jelasnya

Wajah lelaki itu kelihatan bersemangat, dia mengangguk dan bergegas berlari keluar pintu gerbang menuju sekolah St Christie

Oke. Desahku. Sebaiknya aku mengikuti suruhannya Kangin ini.

Ku terbangkan sayap merendah sejajar dengan kepalanya agar tidak tertinggal dan bisa mendengar lebih jelas maksud Kangin menantang Teuki

Dia berbelok dan mulai memasuki gerbang sekolah St Christie. Beruntungnya Teuki sedang berada di taman sekolah sambil bercengkrama dengan teman teman perempuannya

“Teuki!!” teriaknya keras di tengah tengah taman sekolah. Pantas saja semua penghuni sekolah melihat kearahnya

Mendengar namanya dipanggil—Teuki menghampiri lelaki asing itu, “ada apa?” ucapnya dengan nada menantang

Lelaki itu ciut ditatap sengit oleh Teuki—dia mundur beberapa langkah, “Kangin bilang ia ingin menantangmu!” Lelaki ini berbicara dengan terbata bata. Siswi lain yang melihat itu terkikik geli

Ck ck ck, tadi pas teriak kelihatannya jantan—eh pas di deketin malah ketakutan.. *cupid geleng geleng kepala*

“Kangin?” Teuki bertanya heran—semua murid yang tadinya hening menjadi riuh kembali—memekik girang mendengar nama Kangin

“Kyaaa…Kangin!!!” teriak mereka semua

Ngg…ternyata Kangin populer juga di St Christie, hmm tapi itu memang wajah sih dia kan emang tampan hihihi

“Baiklah, aku tunggu dia jam 4 sore di sungai Han!” balas Teuki geram, sejenak dia terlihat kesal dan marah karena ditantang. “Awas saja Kangin itu” geram Teuki yang berbalik menuju asramanya dibelakang sekolah

Firasatku tidak enak nih, sepertinya akan terjadi sesuatu yang besar disana. Pikirku. Sebaiknya aku harus ikut menyaksikan mereka berdua nanti sore

***

Aku langsung menuju ke tempat pertandingan mereka, Sungai Han. Jujur baru kali ini aku malas mengintai calon pasanganku. Bukannya apa apa—tetapi mereka ck, bagaimana yah aku menjelaskannya. *cupid berpikir sebentar* mereka itu amat sangat bertolak belakang dengan data data yang kuperoleh dari Dewi. Tetapi satu hal persamaan mereka sekarang, sama sama suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan

Dihadapanku Kangin datang terlebih dahulu bersama sekitar hmm 13 belas temannya, mereka menyebar sambil membicarakan strategi. Pembicaraan mereka terhenti ketika Teuki datang sendirian

Ha?? Sendirian?? Jeritku dalam hati

Kangin mengerutkan dahi melihat itu, “Kau datang sendirian?” tanyanya kasar
Teuki menyeringai sambil mendekati Kangin, “kenapa kau takut ha?” Ia melotot tajam lalu membuka jaket kulitnya sambil memasang kuda kuda

Kangin mundur beberapa langkah, memberi jarak lalu menyiagakan dirinya. Teman temannya yang ikut serta menyingkir dan bertepuk tangan menyemangati Kangin

“Hajar dia Kangin!!” pekik mereka semua

Dasar!! Emangnya mereka ngga sadar kalau lawannya tuh perempuan??!!! Hello??? *cupid mengepalkan tangannya*

Pokoknya aku akan menghentikan Kangin kalau dia terlalu kejam terhadap Teuki, bukan berarti aku membantu Teuki untuk menang, tapi sekuat sekuatnya Teuki. Dia tetap perempuan

Kangin mengangguk singkat, di tekuk tangan kanannya yang mengacung ke Teuki—menyuruhnya untuk menyerangnya duluan

Teuki menurutinya, dia berlari dan melayangkan kakinya, tinggi ke arah dada Kangin.

“Hyaatt” teriaknya. Namun sayang Kangin berhasil menangkis tendangannya. Dia malah sekarang maju memukul tangan Teuki yang berusaha meninju muka Kangin

“Kau tidak boleh memukul wajahku” kata Kangin disela sela perkelahian

“Kenapa?” nada suara Teuki merendahkan, “Takut kehilangan ketampananmu?” seringainya

Kangin yang marah disindir seperti itu, melempar badan Teuki menjauh, “Bukan, karena aku akan ikut pertunjukan drama untuk sekolah nantinya” jelas Kangin. Sekarang giliran dia yang aktif melancarkan serangan demi serangan ke arah perut Teuki.

Teuki bisa menghindar dengan gesit, tetapi kecepatan Kangin menghalanginya untuk mundur kebelakang, dan satu serangan Kangin masuk. “Akh” teriak Teuki menahan sakit di perutnya

Aduh!! Bego!! Aku terbang mendekati Teuki yang sedang memeriksa perutnya. Ada memar biru disana.

Bodoh!! Seharusnya aku menahannya tadi!!! Kok malah asyik menonton sih!! *cupid merasa amat bersalah*

Sorak kegembiraan membahana melihat Teuki terluka, bahkan lelaki yang tadi siang diusir Teuki—berteriak paling keras, “rasakan itu” ia memaki keras.

Aku menoleh heran saat Kangin mendekati kami berdua eh maksudku mendekati Teuki yang merintih pelan, “coba kulihat” ada nada bersalah menyelip dari kata kata itu. Teuki langsung menepis tangan Kangin lalu mendongak, “Jangan sok peduli!” Teuki berdiri tegak dan berdiri sejajar dengan Kangin

“Ayo kita lanjutkan pertandingannya” katanya mengacuhkan rasa sakit itu

Aduh berhenti dong…ngga lihat apa perutmu terluka, ucapku sedih.

Kangin menatap kasihan Teuki, “aku berhenti” katanya langsung berbalik dan meninggalkan arena ini, mendengar itu teman temannya protes, “Kenapa? Ayo kalahkan dia!!” ujar temannya diikuit anggukan yang lain

Teuki pun ikut terkejut melihat pengunduran diri Kangin, “Jangan bilang kau kasihan kepadaku! Ayo bertanding lagi, pengecut!” teriak Teuki berusaha memanasi Kangin agar kembali bertanding

Ya ampun, *cupid sekarang ingin bunuh diri* nih anak apa ngga kasian sama perutnya sendiri yah, udah jelas jelas Teuki selalu meringis setiap kali berbicara. Lukanya lebih parah dari sekedar memar

“Tidak.” Kata Kangin tegas seraya memandang lurus Teuki, dia menoleh melihat teman temannya. “Aku pergi”

Sekarang Kangin benar benar pergi tanpa menghiraukan teriakan makian Teuki ataupun rasa kecewa teman temannya

Hmm, ada baiknya aku mengikutinya, Kataku

Aku berbalik dan terbang mengejar Kangin didepan sana. Dia berjalan kembali menuju asramanya.

“Ck, sepertinya aku salah kali ini” lirihnya pelan—Kangin memegang kepalanya, “Kenapa aku lupa kalau dia perempuan??” gumamnya frustasi

Ow, aku mengerti sekarang. Kangin merasa bersalah kepada Teuki, makanya dia memilih mengundurkan diri dibanding lebih melukai Teuki nantinya

“Arghh” Kangin menghempaskan kegusarannya, “padahal aku sudah menahan setengah tendanganku tadi—tapi tetap saja” lagi lagi Kangin tidak bisa menutup rasa bersalahnya

Kangin mengangguk kecil, “besok aku akan minta maaf kepadanya, ya besok” gumamnya. Well, sepertinya aku salah menilai orang lain akhir akhir ini. Kangin memang baik sama yang tertulis dibuku. Sekali lagi Dewi benar

“TIDAKKKKKKKKKKKK” teriakan itu berhasil membuatku dan Kangin berhenti melangkah. Kami berdua menoleh kebelakang—arah sumber suara itu.

Oh Tidak, aku mengenali suara itu. Teuki…

Aku cepat cepat terang melesat menuju ke Sungai Han, tanpa sadar dibelakangku Kangin pun berlari kencang ke arah yang sama

Ya Tuhan ada apa? Semoga kami berdua belum terlambat

Padahal aku menggunakan sayap namun kakinya yang panjang membuat Kangin bisa terlebih dahulu sampai kesana. Ia ternganga dengan pandangan dihadapannya.

Wajah Kangin terlihat menakutkan, Ia menghambur kesana, “APA YANG KALIAN LAKUKAN!” teriaknya

Ada apa? Aku terbang lebih rendah untuk melihat kejadian itu.

Oh tidak, ucapku ngeri

Kangin berhasil menyelamatkan Teuki dari kerumunan teman teman namjanya, dia menggendong tubuh Teuki yang bergetar hebat. Didudukkannya di rumput rumput lalu kembali menghadap ke arah mereka semua

Kangin murka, Ia meninju beberapa dari teman temannya, sisanya berhasil kabur menyelamatkan diri. Kangin mengatur nafasnya yang memburu, “INGAT KALIAN TIDAK AKAN SELAMAT BESOK!! INGAT ITU” teriaknya ulang

Bukan hanya itu, mereka juga tidak akan selamat dariku. Aku membatin. Ya Tuhan maafkan aku, seharusnya tadi aku tidak meninggalkan Teuki sendirian. Aku terbang pelan ke arah Teuki yang masih mendekap erat tubuhnya, Ia masih syok dengan kejadian tadi

“Kau tidak apa apa?” tanya Kangin pelan, dia melepas jaket dari tubuhnya lalu melingkarkan ke Teuki.

“Tenanglah” Kangin berusaha membujuknya.

Hiks, maafkan aku Teuki…..

Wajah Teuki terlihat ketakutan, dilihatnya Kangin lalu menyeret tubuhnya menjauh, “jangan mendekat” pintanya

“Tenang, aku akan menolongmu” Kangin mendekat pelan, selangkah demi selangkah dia mendekati Teuki.

Tubuh Teuki masih bergetar ketika Kangin memeluknya erat, “maafkan aku” ucapnya sedih

Padahal bukan salahnya jika teman teman brengseknya itu berniat memperkosa Teuki, bukan salahnya jika Teuki sampai syok seperti ini, bukan salahmu Kangin…

Teuki menutup kedua matanya, air mata merembes dari kedua sisi wajahnya. Ia menangis.

Teuki terisak dalam pelukan Kangin, “Aku takut” ucapnya disela sela tangisan

Kangin mengeratkan pelukannya, “Kau aman disini, tenanglah” Kangin berusaha membuat Teuki semakin tenang, meskipun bisa kulihat wajahnya berubah menakutkan ketika mengingat kejadian tadi

Untung kami belum jauh…jika tidak….aih aku tidak mau membayangkannya

“Kuantar kau ke asrama yah” Kangin mengangkat tubuh Teuki lalu menggendongnya. Aku menemani mereka dalam perjalanan.

“Maaf” kata Kangin untuk kesekian kali, Teuki yang sudah mulai bisa menguasai diri, memaksakan senyumnya, “kenapa harus kau? Kau tidak melakukan apa apa padaku” ucapnya makin pelan saat mengatakan kalimat terakhir

Kangin menghela nafas lalu menatap sedih ke Teuki, “Kalau bukan karena luka dalam di perutmu, aku yakin kau bisa menghajar mereka satu persatu tadi…jadi ini memang salahku” jelasnya

Teuki makin mengembangkan senyumnya—meski masih ada perih kesakitan diwajahnya, “Tidak apa apa, anggap saja aku sudah memaafkanmu karena sudah menolongku” Ia membuang wajah ke depan—menahan tangis

“Apakah aku terlambat?” tanya Kangin takut takut, dia menatap kaus Teuki yang sedikit terkoyak dibagian dada, ya tuhan…..

Teuki menggeleng samar, “untungnya tidak—mereka baru mau menelanjangiku ketika kau datang tadi” ujarnya hampa dan sekali lagi Teuki tidak berhasil meredam tangisnya. Ia terisak pelan
Kangin mengangkat tubuh Teuki lebih erat, “Aku akan menghukum mereka esok” janjinya kepada Teuki

Teuki masih terisak ketika mengucapkan ini, “aku percaya.” Ia menoleh langsung menatap wajah Kangin, “terima kasih, untung tadi kau kembali” ucap Teuki tulus

Kangin tersenyum membalas perkataan Teuki. Untuk sesaat mereka kelihatan sebagai sepasang kekasih malam ini, Kangin berjalan sambil menggendong Teuki dan berbincang bincang pelan. Kalau ada orang awam yang lihat—pasti tidak menyangka kalau mereka tadinya musuh bebuyutan

Tapi sekarang tidak lagi. Kataku senang

Kukeluarkan panah cintaku dan mengarah ke mereka berdua

Bersiap siaplah. Aku memincingkan mata—menatap target

Yak! Lagi lagi berhasil.

Dan reaksi Kangin lebih cepat. Nafasnya memburu—menyapu wajah Teuki, pandangannya melembut dan wajahnya terlihat lebih bahagia

Ahh, indahnya jatuh cinta itu

Teuki mengerjapkan mata—terperangah melihat perubahan Kangin. Jantung berdetak lebih cepat. Hmm dia baru bereaksi…

Sekarang kami sudah sampai didepan pintu sekolah St Christie, Kangin menurunkan Teuki dengan hati hati.

“Kau tidak apa apa kan?” tanya Kangin sekali lagi, pandangan sayunya masih terlihat saat menatap Teuki

“ngg” Teuki menggeleng, dia ikut tersenyum simpul karena perhatian Kangin

Nah—mereka malah salah tingkah, ck ck

“Aku masuk dulu ya” ucap Teuki, ia melangkah mundur lalu memanjat gerbang sekolah yang tinggi itu, oh Wow. Aku saja terpana melihatnya

“Hup” Teuki menginjakkan kaki ke dalam dengan selamat, namun Teuki tidak langsung masuk—ia berbalik menatap Kangin yang masih menunggu diluar

“Kau tidak pulang?” tanya Teuki basa basi—aku tahu sebenarnya dia hanya mau berlama lama bersama Kangin disini

Kangin menggeleng, ia meraih tangan Teuki dari balik jeruji pagar. Dibawa tangan Teuki kedalam genggamannya.

Kangin meremas tangan Teuki erat lalu melihat tangan mereka berdua. Kangin mendongak dan tersenyum melihat wajah Teuki yang sedikit memerah. Dimainkannya tangan Teuki dengan jari jarinya.Kangin mengelusnya perlahan, Teuki membiarkan hal itu terjadi. Aku tahu inilah moment mereka.

Mereka jatuh cinta dalam diam

Setelah beberapa lama Kangin melepaskan tangannya, Teuki agak kecewa melihat tangan mereka terpisah kembali.

“Aku harus pulang” ucap Kangin lembut

“Oh” Teuki mengerti, “baiklah” katanya

“Bye” Kangin langsung berbalik meninggalkan Teuki yang memeluk tubuhnya—memakai jaket Kangin, merasakan harumnya dari situ

Teuki tidak tahu jika wajah Kangin terlihat menakutkan setelah memutar tubuhnya. Matanya tajam—sambil menggertakkan gigi

Satu hal yang kuketahui tentang ini, mereka semua—lelaki brengsek itu, tidak akan selamat besok.

***

Esoknya

“Apa maksud kalian”

Hanya tiga kata. Namun anehnya mereka semua ketakutan dan berkumpul ditengah tengah Aula.

Sekarang aku berada di St Petrus. Di aula inilah Kangin menggiring mereka—lelaki yang tadi malam hampir menyakiti Teuki.

Dengan mudahnya Kangin mengatur agar tidak ada satupun dari mereka yang bisa melarikan diri darinya—ternyata kekuasaan Kangin lebih besar dari yang kukira

Kangin adalah ketua OSIS, orang yang paling dihormati disana bukan karena hanya jabatannya itu tetapi karena dia adalah anak dari Ketua Yayasan St Petrus.

“Jawab aku?” tanya Kangin dingin

Dia menutup akses pintu keluar dan menyuruh siswa eskul Taekowondo dan Wushu untuk berada di aula—kalau kalau mereka berani kabur seperti semalam

“KUBILANG JAWAB AKU!” teriaknya keras

“Ampun Kangin…” jawab salah satu lelaki itu, “habisnya kau menyerah sih berkelahi dengan dia…ma..makanya..kami..” ucapnya terputus putus—ketakutan

“Makanya kalian berniat memperkosanya begitu?” Wajah Kangin begitu murka, dia tidak menghindahkan pembelaan mereka

Seseorang dari mereka menggeleng, “tadinya tidak begitu…tapi…ketika kami ingin menghajarnya dia malah menghajar balik—karena kesal kami…” ia terunduk kembali, tidak berani karena Kangin sudah memejamkan matanya—dan saat Kangin membuka mata. Mengerikan

Aku saja mundur tanpa sadar saat melihat Kangin

“Peraturan no 1 kalian boleh berkelahi dengan SIAPAPUN termasuk wanita jika satu lawan satu, peraturan no 2 kalian TIDAK boleh menyerang orang yang tidak seimbang dengan kalian, ingat peraturan disini” ucap Kangin yang berdiri seraya menghampiri mereka semua ke tengah tengah Aula

Kangin menunduk karena dia lebih tinggi dibandingkan mereka semua, “Aku membantu kalian kemarin karena Teuki sama sama pemegang ban hitam di Taekowondo, dan aku sudah mengakhiri pertandingan bukan karena aku takut, tapi karena pertandingan menjadi tidak seimbang akibat luka itu” Kangin memicingkan matanya, Ia menghembuskan nafas lalu berbalik memunggungi mereka

“Lebih baik kalian keluar dari sekolah ini dalam 2 hari atau aku akan menghajar kalian satu persatu dan membuang mayat kalian di Sungai” kata Kangin memberikan pilihan

Mereka bergumam pelan, tetapi aku masih bisa menangkap nada tidak puas dari mereka. “Kenapa kami harus keluar dari seko—“ ucapan lelaki itu terhenti saat melihat tatapan tajam dari arah sampingnya.

Sosok lelaki menghampiri dia dan mencengkram kerahnya, “hentikan itu Ji Joon” perintah Kangin

“Kau?!” wajahnya sama marahnya dengan Kangin, ia masih mencengkram kerah lelaki itu, “masih berani protes! Masih untung Kangin membiarkan kalian keluar hidup hidup dari sini!” dia mengedikan kepala kesamping, “Woi Kangin—kukira kau memanggil kami kemari untuk membantumu menghajar mereka satu persatu”

Kangin tersenyum miris kulihat, karena dia masih membelakangi mereka semua, “tidak—bisa bisa mereka mati menghadapi kita berdua”

Kangin berbalik arah, menatap satu persatu satu mereka, “2 hari—kemasi barang barang kalian. Ingat itu”

Dia membuka pintu aula diikuti oleh Ji Joon dan beberapa siswa lainnya, meninggalkan para terdakwa ketakutan mendengar vonis itu

Menurutku itu masih ringan—daripada kalian mati dihajar sama dua penghuni eksul bela diri plus satu pemegang tertinggi Taekowondo?

***

Teuki berjalan riang, Dia berubah lho.

Teuki merapikan rambut pendeknya yang pirang, terlihat lebih rapi dari kemarin kemarin. Tidak ketinggalan seragamnya yang rapi.

Ck ck ck cinta memang mengubah segalanya

“Ada yang mau maju mengerjakan latihan ini?” tawar guru matematikanya dikelas Teuki.

Sebuah tangan kanan mengacung keatas, “Saya bu” ucap Teuki bersemangat

Mwo??

“Haaaa” pekik semua teman sekelasnya—gurunya saja teranganga tidak percaya, “Kau yakin Teuki? Ibu tidak memaksa kok” katanya sangsi

Teuki tersenyum lebar sambil bangkit berdiri dan melangkahkan kaki ke papan tulis, langsung menulis jawabannya dengan cermat, “selesai” Dia berbalik sambil sesekali bersenandung

Gurunya tersadar melihat kejadian aneh itu—dia melihat jawaban dari Teuki, “ya benar” Gurunya berpaling dan kali ini dia tersenyum senang karena Teuki sudah berubah menjadi lebih baik, “bagus Teuki” pujinya

“Hehehe” senyumnya manis

Gubrakkkkkkkkkkkkkk

Ternyata panah cintaku terlalu ampuh yah…..hmmmm,

“Sekarang saatnya aku ekskul” gumam Teuki sambil membereskan buku bukunya sesaat sesudah bel pulang berbunyi.

Aku baru tahu dia ikut eksul? Kirain cuma jago berantem doang

*Cupid besok besok ngga selamet dari bini bini Teuki*

Teuki lagi lagi bersenandung sambil berjalan pelan kearah gedung bertingkat di pojok kanan, dekat taman yang sering didudukinya.

Ia masuk kedalam ruangan sebelah kiri, Ekskul apa sih? Aku menengadahkan kepala dan melihat papan besar di depan pintu masuk

Eskul Drama dan Theater

Ha? Drama dan Theater? Ngga salah?? Kok bisa Teuki salah jurusan begini, aku kira dia masuk eksul bela diri atau taekowondo gitu…tapi…..ah daripada pusing lebih baik aku memantau Teuki terus deh

Semenjak kejadian mengerikan itu, aku lebih konsen pada Teuki…kan kalau ada aku paling tidak, ada yang membantunya jika terjadi yang hal itu lagi. Hingga dia dan Kangin bersatu—aku akan menjaganya…ini janjiku

“Hai semuanya” Teuki menyapa mereka semua dengan bersemangat, beberapa dari mereka membalas sapaan Teuki sedangkan yang lain hanya mengangguk dan tersenyum simpul

Khas anak Drama…*cupid sok tahu*

“Kenapa kau senang begini?” tanya salah satu temannya—ah aku ingat!! Dia kan yang diselamatkan oleh Teuki…sebentar namanya.. Kim Houng, oh dia anak drama juga

Teuki masih tersenyum kearahnya, “Aku senang sekali—tahu tidak ke—“ ucapannya terpotong saat guru drama masuk dan mengumpulkan mereka semua

“Anak anak ada pengumuman” Dia menepuk tangan—meminta perhatian penuh. Semua siswi berhenti berbisik bisik dan mendengarkan secara seksama

“Seperti kalian tahu di akhir musim dingin, kita selalu mengadakan pentas drama yang mengundang orang penting dan para petinggi yayasan” Guru itu berhenti sejenak lalu melanjutkan pengumuman itu, “Tetapi sekarang berbeda—kami sudah memutuskan untuk mengundang teman teman kita, anak St Petrus untuk ikut berpartisipasi”

“Siswa St Petrus?!!! Kyaaaa” lagi lagi mereka berteriak kegirangan, kulihat wajah wajah antusias mereka…dan saat kulihat Teuki..hmmm wajahnya seakan akan baru mendapat uang 1 milyar—bahagia sekali

“cukup!” teriak guru itu meminta perhatian lagi, dia tiba tiba tersenyum misterius, “kalian sepertinya tidak ada yang keberatan—baguslah” dia mengangkat bahu pasrah, “kebetulan mereka juga sudah sampai disini, kalian semua masuk!” perintahnya

Teuki dan siswi lain menahan napas, menunggu para namja itu memasuki ruang latihan mereka ini.

Masuklah Kangin, Ji Joon dan beberapa lelaki lainnya, mereka semuanya ada 7 orang.

“Inilah murid murid drama untuk kali ini, kalian harus memperlakukan tamu se sopan mungkin” kata guru itu dengan tegas

Kangin dan teman temannya menunduk sambil menyapa dengan nada informal sedangkan Teuki tidak melepaskan pandangannya dari Kangin dari awal

“Nah sekarang pembagian peran” Guru drama melihat catatannya lalu memanggil nama nama sesuai perannya.

“Kangin disini kau berperan sebagai Romeo dan pasanganmu adalah Kim Houng” Kangin yang terkaget kaget melihat ke arah pasangannya, Houng tersenyum malu malu karena menjadi pasangan Kangin

Wajah Teuki terlihat sedih, dia agak memundurkan diri—berusaha menghilang dari tatapan Kangin.

“Yah, mereka berdua memang serasi, yang satu tampan dan yang satu amat cantik” gumam Teuki kecewa, “Apalagi Houng kan paling jago akting di sekolah ini” Lagi lagi ia kelihatan menyesal..aku yakin kalau Teuki tahu akan jatuh cinta dengan Kangin—pasti dari dulu dia akan serius mendalami ekskul drama

“Tunggu sebentar” suara Kangin membahana—menyedot perhatian anak anak lain disana

“Ya?” tanya guru drama itu

“Bolehkan aku memilih pasanganku sendiri?” pinta Kangin dengan nada hormat—takut permintaannya menyinggung guru itu.

Teuki langsung mendongak mendengar permintaan Kangin

Guru drama itu hanya tersenyum tipis, dia melihat ke arah siswinya yang kembali antusias—mengharapkan Kangin memilih salah satu dari mereka

Cuma satu orang yang tidak tersenyum disitu—Kim Houng. Wajah cantiknya merengut kesal

“Hmm, sepertinya sang Romeo sudah memiliki Julietnya sendiri” ujar guru itu, “siapa pilihanmu?” tanyanya kembali

Kangin tersenyum senang karena diijinkan untuk memilih, dia maju selangkah demi selangkah, “Dia” Kangin menunjuk lurus ke arah Teuki

“Ha?” teriak satu ruangan itu terheran heran, wait—emangnya se aneh itu yah jika Kangin meminta Teuki?

“Bukannya kalian bermusuhan??” tanya seorang siswi menggeleng tidak percaya

“Iya! Dia kan yang menantangmu berkelahi itu kan??” tanya Houng kencang.

Hmm sepertinya Kim Houng ini juga mencintai Kangin deh—bisa kulihat jantungnya berdetak kencang ketika Kangin berdiri tak jauh darinya

Sayang nasibmu kurang beruntung….soalnya dia hanya akan mencintai satu orang dan itu Teuki

“Hmmm itu” Teuki mengelus belakang lehernya—tanda gelisah

Kangin tidak memperdulikan teriakan mereka itu, Dia berlutut dan menengadahkan tangannya, “Maukah kau menjadi julietku?” tanyanya lembut

Oh My God, Kangin romantis bangetttt…*cupid teriak kesenangan*

Teuki maju dan menyambut tangan Kangin, “iya” dia mengangguk dengan gugup

“Tunggu!” Houng berjalan mendekat, dia menatap tajam Teuki dan Kangin bergantian, “Aku tidak terima! Kenapa Teuki dipilih hanya karena Kangin yang meminta? Semua orang juga tahu kalau Teuki tidak bisa akting sebagus diriku” ucapnya merendahkan. Kim Houng mengedik kepalanya dan melihat Teuki dari atas ke bawah, seakan akan mengatakan kalau dirinya jauh—jauh melebihi Teuki

Heloo!!!! Kalau bukan karena Teuki!! Kamu tuh ngga selamet yah di gerbang waktu itu!! Bahkan gara gara dia Teuki hampir diperkosa kemarin malam…ngga tahu terima kasih banget nih cewek.

“Siapa bilang saya langsung menyetujuinya?” kata guru itu dengan santai, “saya hanya bilang—Kangin untuk menunjuk siapa pilihannya” Ia berdiri dari bangku dan menatap mereka bertiga—suasana hening. Keputusan guru itu akan bernada final saat ini.

“Kangin, kau harus beradu akting dengan keduanya, baru aku akan memutuskan siapa Julietmu untuk pentas nanti, bagaimana adil kan?” tawar guru itu

“Baik aku setuju” ucap Kangin, disamping Houng juga mengangguk setuju sedangkan Teuki..ngg kok wajahnya tegang begitu

“Baik, mulai” ucap Gurunya, semua murid baik namja dan yeoja bergerak mundur memberikan ruang untuk latihan akting dadakan ini

Giliran pertama adalah Houng. Jujur walaupun aku tidak menyukainya—aku harus mengakui kualitas aktingnya yang bagus…hmmm sepertinya lawan Teuki tidaklah mudah

Prok..prokkk…..tepuk tangan meriah bergema di ruang drama, memberi selamat untuk keduanya. Houng dan Kangin menunduk lalu mengangkat kepalanya. Bisa kulihat Houng tersenyum lega—yakin kemenangan ada padanya

“Bagus, sekarang giliranmu Teuki” Guru drama itu menginjinkan Teuki maju kedalam lingkaran besar ini. Ia maju dengan ketakutan—jangan bilang kalau…

“Aku tidak bisa akting” bisik Teuki ke Kangin saat bertemu ditengah tengah

Aduh, sudah kutebak—dia memang salah masuk Ekskul,, gimana dong?? Tanyaku pusing

Kangin hanya menanggapi dengan senyuman, “ikuti saja aku, kau hapal kan dialognya?”

Teuki mengangguk, “Oke” kata Kangin

Kangin mengangkat wajahnya, pandangannya lebih lembut ketika melihat Teuki dibanding Houng, “Juliet, kau tahu berapa malam yang harus kuhabiskan untuk mencarimu?” Kangin memegang tangan Teuki yang membuat wajahnya memerah

“Aku mencarimu dari satu pesta ke pesta lain—serajin itu aku, hanya untuk melihat sosokmu dari jauh..sosokmu yang angkuh tapi memabukkan, membuatku sulit melupakanmu” Kangin menarik tangan Teuki kedalam dekapan dadanya. Teuki menatap sendu tangan mereka yang bertautan—merasakan hangatnya.

“Ketahuilah—cinta ini bukan untukmu, aku sudah mempunyai pilihanku sendiri” Teuki memejamkan matanya, ia mengerjap sejenak. “Kau sudah punya Rosaline sedangkan aku…” Teuki tak kuasa menahan isakkannya, Ia tertunduk lalu, menangis

Kangin mengangkat tubuh Julietnya dan membawa seluruhnya kedalam dada bidangnya, “Aku tidak peduli—yang aku tahu sekarang Aku mencintaimu, hanya mencintaimu” bisiknya pelan tepat di telinga Teuki

Teuki terlihat lebih tenang lalu mengangguk, “aku juga—amat mencintaimu” balasnya

“Bravo!” teriak guru drama itu, semua murid juga ikut berdiri sambil bertepuk tangan kencang—lebih kencang dari Houng barusan, bahkan kulihat beberapa siswi ikut menangis ketika Teuki berakting

“Hebat Teuki!!!” teriak teman temannya itu

Kangin melepaskan pelukannya, Ia tersenyum seraya menghapus air mata Teuki.

“Sudah diputuskan Juliet berikutnya adalah Teuki!” teriak guru itu dengan puas

“Selamat yah, Juliet” goda Kangin

Teuki masih terisak pelan, “dasar kau” katanya sambil terkekeh senang

“Tunggu!” pekik Houng tidak terima, “bagaimana denganku?” ucapnya sewot

Lho, memangnya dia tidak mendengar tadi—Teuki yang jadi Juliet…hmmm segitu ngga terimanya yah

“Hmm bagaimana kau menjadi Rosaline?” tawar guru drama itu dengan ramah

“Ha? Jadi Rosaline? Ngga deh” ucapnya kali ini benar benar kelewatan—kau boleh merendahkan Teuki deh, tapi ini gurumu sendiri? Ck ck

“Kalau kau tidak mau ya sudah” jawab guru itu dengan santai,,lama lama aku suka dengan karakter guru ini—tegas dan tidak memihak, “ayo anak anak, kita latihan drama! Pentasnya 2 bulan lagi!” teriaknya dengan lugas tanpa menghiraukan Houng yang semakin marah karena diacuhkan seperti itu

Hihihi emang enak kekekeke

Wajah Houng merengut kesal tetapi tidak berkata apa apa. Ia menghentakan kaki lalu pergi keluar

Teuki menunduk—mungkin merasa bersalah sedangkan guru itu hanya menghela nafas, “kita latihan! Teuki, sudah tidak usah dipikirkan” Guru itu menepuk pundak Teuki perlahan

***

Setiap hari aku melihat mereka latihan drama. Berkat latihan dari Kangin dan chemistry yang mereka bangun sendiri membuat akting Teuki dari hari ke hari makin bagus dan memukau. Hmm kalau seperti ini dia memang terlihat sebagai wanita anggun

“sudah cukup! Kalian boleh istirahat!” Guru itu menghentikan latihan drama di scene 12. Teuki dan Kangin duduk di pinggir panggung untuk bersantai sejenak

“Kau capek?” tanya Kangin sambil memberikan satu botol air mineral kepada Teuki, “lumayan” ia tersenyum lebar lalu tertunduk gugup

“Ak-“ sebenarnya Kangin ingin mengatakan sesuatu—tapi dipotong oleh salah satu staf drama, “Teuki?” panggilnya

“Ya?”

“Kemari, kau harus mengepas baju Juliet” Teuki langsung bangkit dan meninggalkan Kangin ke balik panggung

“Ck” Kangin berdecak kesal, “padahal aku ingin mengatakan itu kepadanya” gumamnya lagi

—–

“Kok bajunya masih ngga muat yah?” staf kostum menggeleng pusing melihat Teuki yang menjulang tinggi dengan pakaian Juliet yang kekecilan. Kancing belakangnya tidak menutup sempurna

“Padahal aku sudah mengukurmu, jangan jangan beratmu nambah akhir akhir ini?” tanya staf itu curiga

Teuki menggeleng dengan cepat, “tidak, mungkin karena pundakku yang terlalu lebar..” sahutnya

“Tapi ini hari pengecekan terakhir, Lusa sudah final pertunjukan. Tidak akan sempat” Staf itu mengambil telepon gengam lalu menghubungi seseorang, “Halo? Gum, kau punya kostum Juliet ukuran besar tidak? Mm iya…aku butuh” ujarnya—mengusahakan kostum untuk Teuki

“Sepertinya aku memang tidak cocok jadi juliet…” lirihnya kepada diri sendiri

Kata siapa? tenang. Aku menyeringai senang, kini giliranku turun tangan.

Aku mengacungkan telapak tangan kananku ke arah kostum Teuki itu, dan Ting!

Kulebarkan serat serat pakaian yang berwarna biru pastel itu. Memang butuh waktu sih, tapi paling lama hanya sepuluh menit sudah beres.

Kulihat serat serat pakaian itu makin merenggang, mulai dari bawah hingga ke leher. Ayo lebih merenggang, perintahku kemudian..Ku kancingkan resleting di punggung Teuki perlahan. Beres deh!

“Hn” Teuki akhirnya merasa ada yang aneh dengan kostumnya—diraba raba kancing belakang, wajahnya terkejut, Teuki tidak merasa sesak lagi sekaligus bajunya tertutup dengan bagus.

“Kyaaaa…muaaat” pekikan Teuki membuat Staf itu menoleh dan menatap heran ke arahnya, “sebentar ya” Dia menutup telepon lalu mendekati Teuki, “Ada ap—“

Staf itu berputar melihat kebelakang Teuki, diraba semua kancing bulat yang terpasang rapi tanpa merobek baju sutra ini, “mustahil—tadinya kan ngga muat?!” staf itu terperangah lebar

Teuki tersenyum senang, “aku juga tidak tahu—tapi paling tidak kau tidak usah merombaknya dari ulang..hehehe” Dia memutar tubuhnya ke arah cermin—cantik, pikirku

Gaun itu dan peran Juliet memang untukmu, Teuki

***

Hari Pertunjukan
Didepan Aula besar dan megah di St Christie
Drama Romeo & Juliet

Aku bersemangat menyaksikan drama ini secara langsung, memang sih aku sudah melihat mereka latihan tiap hari..tapi kan tetap beda jika melihatnya secara langsung. *cupid membela diri*

Sebaiknya aku intip ah dibelakang panggung.

“Kostum kostum! Ingat jaga kostum kalian hingga pertunjukan selesai! Jangan sampai lecek atau kotor!” perintah sutradaranya

“Dimana belt ku??” salah satu pemeran Nyonya tuan rumah berkeliling mencari perlengkapan gaun abad pertengahan miliknya

“Ada yang lihat naskahku?” pekik seorang namja di sela sela keributan ini

Yup! Kepalaku kembali pusing melihat mereka semua berputar—berlarian kesana kemari sambil berteriak satu sama lain. Hanya sedikit yang tenang tenang saja, itu pun mereka kembali menghapal dialog—untuk mengantisipasi terjadinya blank saat pertunjukan

Menurutku jauh lebih susah memainkan drama seperti ini dibandingkan membuat film misalnya, karena mereka akan berhadapan langsung dengan penonton—sedikit saja kesalahan yang mereka buat, penonton akan langsung tahu

Mungkin gara gara ini mereka terlihat sangat gugup. Pikirku

“Pemeran Romeo mana?” Sutradara mengabsen satu persatu pemeran utamanya

“Disini” Kangin masuk menggunakan kemeja putih dibalut vest coklat dan celana dengan warna senada—cuma lebih tua. Rambutnya yang jabrik di buat lebih acak acakan—khas Romeo yang badung. Kangin terlihat sangat tampan

*oke author sendiri ngga tahu jenis kelaminnya cupid tuh apa??*

“Bagus” Sutradara terlihat puas dengan kostum dan riasan Kangin, “Oke? Sekarang mana Julietnya?”

“Sebentar” Teuki berjalan terburu buru ke arah mereka

Oh My~~

Teuki menggunakan wig berwarna coklat Hussel yang indah—gaun biru itu membalut tubuh Teuki dengan sempurna, dia benar benar cantik

Cocok sebagai Juliet yang pemalu dan agak sombong

Tidak heran jika semua pria menatapnya ketika berjalan mendekati Kangin.

“Aku sudah siap” kata Teuki semangat

“Bagus, nah sekarang kalian bersiap siap masuk ke scene pertama, ok” Selesai memberi pengarahan, sutradara pergi meninggalkan mereka berdua untuk mengecek property

“Kau cantik” puji Kangin—masih terperangah kagum

Teuki makin melebarkan senyumnya, “makasih, kau juga tampan” balas Teuki sambil mengulum bibirnya—gugup

“Kau takut?” tanya Kangin meraih tangan Teuki lalu menggenggamnya

Teuki menggeleng pelan, dia menunduk hanya untuk melihat tangan mereka yang bertautan

“Oh” Kangin melepaskan tangan Teuki saat itu juga, membuat empunya tangan menengadah heran, “Kenapa kau melepaskannya?” nada suara Teuki mengandung kekecewaan

“Kukira kau gugup—jadinya aku berusaha menenangkanmu tadi” jawab Kangin tidak menatap Teuki—dia melihat ke arah lain

Kenapa sikap Kangin tiba tiba menjadi aneh?

Teuki merengut, dia menarik tangan Kangin lalu menggenggamnya. Kangin yang terkejut langsung menatap wajah Teuki, “Aku memang tidak gugup, tapi aku membutuhkan ini” ucap Teuki mengangkat tautan tangan mereka tinggi tinggi

Kangin tertawa melihat tingkah Teuki, “Bolehkah aku menanyaimu sesuatu—nanti diakhir pertunjukkan? Dan ingat kau harus menjawabku jujur” Kangin mengatakan itu dengan nada serius

“Baiklah” Teuki tersenyum manis, di mainkannya penggangan tangan Kangin.
“Nah sekarang kalian masuk!” teriak Sutradara dari belakang, Teuki mengangguk kecil lalu bersama sama mereka masuk kedalam panggung menjadi romeo and juliet

___

“Selamat!!!” teriak mereka semua dibelakang Panggung sambil mengangkat gelas mereka bersama sama.

Sumpah! Padahal aku sudah menonton drama itu berulang kali saat mereka semua latihan—tapi tetap saja, akting mereka, daya letak panggungnya… dan yang terpenting Kangin dan Teuki—mereka berdua benar benar memiliki chemistry yang dalam

Tidak sedikit penonton yang terharu menyaksikan akting Teuki yang menangisi Romeo saat meninggal sementara, kemudian ketika Juliet ikut meminum racun agar bisa menyusul kekasihnya itu—Romeo malah bangun.

Aish, kisah cinta itu terlalu tragis. Hiks *cupidnya ketahuan ikut menangis pas adegan itu*

“Kangin” panggilan Teuki membuatku berhenti melamun. Aku melihat mereka ada di pojok ruangan—menghindari dari hiru pikuk kegembiraan anggota drama yang lain

“Bukannya kau mau berbicara denganku? Tentang apa?” tanyanya ulang, Kangin menatap Teuki lama—ia menghela nafas panjang lalu bangkit berdiri, “Ikut aku” ucapnya seraya menarik Teuki keluar ruangan menuju ke taman sekolah

Kangin menggenggam lembut wajah Teuki lalu melepaskannya. Ia kembali menggenggam tangan Teuki—masih menunduk, “Aku akan meneruskan pekerjaan Appa di Belgia” katanya kemudian mengangkat wajahnya, berani menatap langsung Teuki

Belgia? Apa? Pekikku

“Kau akan pergi” Teuki menggeleng tidak percaya, dia menutup mulutnya. Terkejut

Kangin memutar matanya ke kanan, “Kau tahu—kita sudah tingkat akhir..jadi begitu lulus aku sudah berjanji untuk memenuhi permintaan Appa untuk mengurus kantor cabangnya di Belgia, ja—“

“Kau ingin meninggalkanku?” potong Teuki seraya menahan tangis. Ia menunduk—berusaha menutupi air mata yang mulai merembes keluar

“Kumohon dengar dulu penjelasanku” Kangin mengangkat wajah Teuki, dihapus lembut air mata dikedua pipinya, “Sebenarnya aku takut menanyakan ini…tapi,” Kangin terlihat ragu ragu—dia mencuri curi pandang ke arah Teuki

“Apa?” desak Teuki tidak sabar. Kangin mendesah sekali lagi, “apakah kau mencintaiku?” tanyanya pelan

Teuki terisak lebih kencang, “dasar bodoh! Sudah jelas aku mencintaimu! Kau tahu kenapa aku bisa berakting sebagus itu? Itu karena Romeonya adalah dirimu Kangin!” pekik Teuki kesal

“Sungguh sungguh mencintaiku?” tanya Kangin sekali lagi

Sekarang Teuki kelihatan sedikit marah, “ya! Aku benar benar mencintaimu! Kenapa kau harus menanyakannya dua kali sih!”

Iya…segitu ragunya kah Kangin terhadap perasaan Teuki—sudah jelas tidak ada lelaki lain dimatanya kecuali Kangin

Ampun deh

Kangin memeluk tubuh Teuki kencang lalu kembali berbisik ditelinganya, “Kau serius dengan ucapanmu barusan?”

3 kali Kangin bertanya, sekali lagi aku kasih piring berhadiah deh

Teuki melepaskan tubuhnya—ia menatap tajam Kangin, “Iya. Dan jangan bertanya lagi” ancamnya

Mendengar itu Kangin tersenyum lebar, diraba raba isi celana jeansnya—lalu mengeluarkan sesuatu.

Cincin?

Kangin membuka kotak kecil itu—di tengah tengahnya ada cincin sederhana hanya ada satu mata berlian, tapi bisa ku lihat keindahannya.

Wajah Teuki terperangah sekali lagi, Ia makin mengerti semuanya ketika Kangin berlutut dihadapannya, “Kau…” lirihnya pelan

Kangin menengadahkan kepalanya keatas—menatap Teuki lembut, “ Teuki, kau tahu aku akan pergi ke negeri yang jauh dan mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat…”Kangin mengatur kata katanya kemudian kembali melanjutkannya, “Aku begitu mencintaimu….aku….aishhh aku tidak bisa bicara romantis”

Teuki tertawa mendengar itu, Kangin merengut sebal namun berkata lagi, “Intinya aku tidak akan tahan pergi jauh jauh darimu—dan dari pemantauan yang kulihat malam ini, aku takut kau menemukan orang lain ketika aku berada jauh disana…jadi…”

Kangin bangkit berdiri, ia menarik tangan kanan Teuki lalu memasukkan cincin itu ke jari manisnya, “Karena kau tadi bilang amat sangat mencintaiku jadi mau tidak mau aku akan menikahimu sesudah kelulusan dan menculikmu untuk ikut denganku ke Belgia” ucap Kangin panjang lebar

Ini romantis kok—Kangin menunjukkan sisi romantis dengan caranya sendiri

Kali ini Teuki menangis terenyuh melihat cincin yang diterpasang cantik di jarinya, ia mendongak menatap Kangin, Bibir Teuki bergetar ingin mengucapkan sesuatu—tetapi dipotong Kangin, “tidak boleh protes! Apalagi menolak! Siapa suruh kau jatuh cinta kepadaku” selorohnya, mendengar itu Teuki tertawa lalu menghambur kepelukannya, “Mana mungkin aku menolak—aku kira tadinya kau mau bilang untuk menunggumu kembali selama bertahun tahun” bisik Teuki ditelinga Kangin

“ Aku tidak akan melakukan hal sebodoh itu” balasnya berbisik

Kangin mengayun-ayunkan tubuh Teuki, diikuti tawa riang mereka berdua.

Mereka lah Romeo & Juliet versi Happy Ending. Ujarku dalam hati

Nah sekarang aku bisa tenang meninggalkan Teuki—sudah ada orang yang amat bisa dipercaya untuk menjaganya.

Aku tersenyum melihat mereka untuk terakhir kali dan terbang melesat, menghilang dari kegelapan malam

©FLASHBACK END©

Bagaimana ceritaku? Biasa saja kan *cupid masih asyik mengemut coklatnya* *author ngiler*

Padahal tadinya kupikir Kangin hanya ingin melamar Teuki saja—ternyata..ck ck ck anak muda jaman sekarang…

Tapi paling tidak kisah kali ini berakhir dengan manis, dan kudengar lelaki lelaki brengsek yang hampir menyakiti Teuki dikeluarkan dan tidak terima disekolah manapun. Hmm aku bisa menduga ini ulah Kangin untuk menghukum mereka,

bagus deh—biar mereka tahu betapa jahatnya perbuatan mereka itu.

Eh?! Kalian mau pulang? *cupid kecewa*

Tidak mau mendengar ceritaku lagi? *berusaha membujuk reader*

Yah baiklah,,kalian kan memang harus sekolah besok pagi..ya tidak apa apa

Lain kali jangan lupa mampir ketempatku, yah

Aku akan menceritakan kisah cinta lain untukmu

Byeeeee…salam cinta cupid^^

THE END

8 responses to “≈Behind The Scene of Love-{KangTeuk}≈

  1. pid pid boleh tanya ga ?? w kahn reder dableg(?) kira2 bisa ga liat jodoh aku ntar masih lama ap ngakk ea??

    pid mau dong di lamar ma kangin >////////////<

  2. KangTeuk pasangan romantis bgt~~
    meskipun berawal dri perkelahian n teuki yg hampir di perkosa~~ oh my god kereen bgt tuh pas drama nya~~huaaaa~daebak

  3. huaaaaaa umma appa……. ㅠㅠ
    undang2 yah kalo nikah…. ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ
    cinta merubah segalanya…. kangteuk….. masih kangen moments mereka….. hikz….hikz….

  4. Kisah romeo juliet yg happy ending… Setuju bgt!!!

    Baru pacaran langsung lamaran berlanjut pernikahan…..

  5. aahhhhh…..aku suka ceritanya….

    “aku tidak akan melakukan hal sebodoh itu” ahaha…aku setuju….

    kangin gentle banget….keren….pria sejati… ^_^

  6. Ahh kangteuk ♥ Ya ampun so sweet banget fanficnya ;;; Aku suka banget sama endingnya, kanginnya gentle banget terus teukienya imut banget astaga ;;; Baru pacaran langsung diajak nikah ;A; Aku ga bisa berhenti gregetan abis baca fanfic ini :’3 Terus aku ga bisa berhenti ketawa sama kelakuan si cupid x’D

    Keep writing, kak sebas!

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s