≈Behind The Scene of Love-HanChul≈

Hai

Ternyata kalian datang lagi….

Aku ingin menceritakan sesuatu kepada kalian

Sesuatu yang begitu menyakitkan untuk dikatakan

Apa? Coklat? Tidak, aku sedang tidak membutuhkannya

Kisah ini terlalu menyita perhatian dan semua hatiku

©FLASHBACK©

“Heechul!! Kemari cepat sediakan makan siang untuk kami sekarang juga!” bentak kepala bagian kepada salah satu karyawan wanitanya—Kim Heechul.

Kepala bagian itu begitu menghina Heechul. Ia melemparkan uang ribuan ke wajah Heechul lalu melambaikan tangan—menyuruhnya pergi. Dengan patuh Heechul menundukkan kepala, keluar dari ruangan itu dan segera membelikan makan siang bossnya

Aku hanya menatap nanar ke arahnya yang berlarian menerjang hujan ke kedai diseberang kantornya. Ya bisa kalian tebak Kim Heechul adalah targetku berikutnya.

Dia adalah seorang karyawati sebuah bank ternama di Seoul, pekerjaannya hanya mengurusi dokumen dokumen lama untuk disusun rapi—dengan kata lain Heechul adalah dokumentary kantor.

Aku tahu kenapa Heechul begitu diperlakukan tidak hormat di kantornya sendiri—bahkan office boy saja memandang jijik kepadanya.

Heechul menanggapi semua itu dengan senyuman, meskipun aku tahu dia terkadang menangis didalam gudang—menangis sendirian

Heechul sudah selesai membeli makan siang. Dia lalu kembali ke kantor dengan tergesa gesa, Heechul masuk kembali kedalam ruangan kepala bagian itu—ternyata disana Bossnya tidak sendirian, ada 2 orang tamu yang asyik berbincang dengannya.

“Heechul! Kenapa kau hanya membelikan satu saja ha!” bentaknya lagi, kepala bagian itu menunjuk ke arah 2 tamunya, “bagaimana dengan tamu kita?! Kau ini memang tukang cari masalah!”

Heechul menundukkan kepalanya dengan segera, “maaf pak” ah—hatiku miris melihatnya

Kepala bagian itu berdiri mendekati Heechul, “sudahlah..tak apa, bagaimana kalau kau membayarnya dengan tubuhmu?” ucapnya seraya mengangkat wajah Heechul menggunakan tangan kanannya

Kurang ajar. Pekikku

Namun Heechul lebih tanggap, di tarik lengan Bossnya lalu dipelintir kebelakang, “Jangan kurang ajar Pak” Mata Heechul menatap tajam bossnya, “Ini makanan yang anda pesan, selamat siang” Heechul membalikkan badan keluar dari ruangan

Bossnya yang murka dipermalukan seperti itu berteriak kencang, “Dasar perempuan murahan!!! Pura pura jual mahal!! Kau kupecat mulai saat ini!!!” teriakannya terdengar luas hingga orang orang kantor menoleh ke Heechul, ia dengan tenang membereskan barang barangnya lalu keluar dari kantor itu

“Hmm, berarti aku harus mencari pekerjaan baru lagi” desah Heechul ketika menyetop bus menuju rumahnya

Aku menahan tangis menatap wajah lelah Heechul, dia membetulkan jaketnya yang sudah lusuh, matanya yang indah terlihat sayu—ada kepedihan disana yang tidak kutahu itu apa, Heechul begitu mengenaskan. Setiap dia menghela nafas—seakan akan ada beban berat yang sedang menghimpitnya

Heechul turun di stasiun terakhir. Dia keluar dan turun ke taman kota tak jauh dari sana. Heechul berjalan pelan membelok ke arah rumah kecil di ujung taman.

“Aku pulang”

Heechul masuk ke dalam rumah, dengan gontai dilangkahkan kakinya ke arah kamar sebelah. Dia menyalakan lampu lalu menghampiri sebuah ranjang kecil bertrali besi. Wajahnya berubah, Matanya menatap rindu, diangkat kedua tangannya menyentuh kedalaman kasur mungil itu

“Mama pulang” Heechul membalut bayi kecil yang sedang terlelap dengan tangannya, diayunkan sebentar sambil bersenandung. “Apa kabarmu cantik?” bisiknya

“Kau sudah pulang?” Sesosok perempuan renta masuk kedalam sini, “Iya Umma” Heechul menoleh sambil tersenyum, “terimakasih mau menjaganya” Umma Heechul melambaikan tangannya sekilas, “tidak usah sungkan, sebaiknya kau fokus dengan pekerjaanmu” saat ibunya menyinggung soal pekerjaan, mata Heechul memutar ke kiri—dia mencoba untuk berbohong. Namun ditahannya. Heechul memilih berdiam diri dan kembali larut memeluk bayi kecilnya.

Anak yang sangat disayanginya sekaligus alasan kenapa semua orang membencinya

Heechul yang selama ini dikenal sebagai anak perempuan baik baik ternyata membawa seorang bayi ketika pulang dari dinas diluar kota selama 1 tahun.

Terang saja semua orang yang semula dekat dengannya—menjauh. Ya, Heechul dijauhi karena dia hamil diluar pernikahan. Anehnya hingga sekarang dia tidak mau memberitahu siapa ayah dari bayi itu, setiap kali ada orang yang bertanya kepadanya—Heechul hanya menjawab, ‘dia anakku, hanya anakku’ selalu itu yang keluar dari mulutnya

Aku benar benar tidak kuat melihatnya menderita setiap saat seperti ini. Dicemooh banyak orang, dihina dan terlebih lagi kejadian dikantornya barusan—semua pria menyangka dia wanita murahan yang mau ditiduri oleh siapa saja.

Untung saja aku sudah memantaunya seminggu yang lalu, Kalian tidak akan menduga—berapa banyak lelaki mencoba kurang ajar kepadanya. Heechul…Heechul…..

Aku hanya bisa menatap kasihan, terenyuh—baiklah….oke kalau dia pernah membuat kesalahan lantas?

Apakah pantas mereka semua menghukumnya seperti ini?

Dan sekarang, Heechul kehilangan pekerjaannya. Padahal dia adalah tulang punggung keluarga—ibunya terlalu tua untuk berjualan kue beras lagi—sedangkan Heechul punya tanggungan si mungil cantik ini. Anak semata wayangnya

“sebaiknya kau makan dulu” saran ibunya seraya mendorong Heechul ke meja makan. Heechul mengangguk kecil lalu meletakkan bayinya, mereka berdua keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan

***

“Hmm” Heechul mendesah kelelahan, dia sedang mencoret barisan lowongan pekerjaan di salah surat kabar. Hari ini seharusnya dia masuk seperti biasa—namun Heechul yakin seratus persen kalau bapak tua mesum itu pasti sudah memecatnya dengan tidak hormat, jadi Heechul harus mencari alternatif lain.

“Heechul, kau tidak pergi kerja?” tanya ibunya heran melihat anaknya malah duduk santai di pekarangan rumah

“Tidak Umma—aku sedang cuti” jawab Heechul dengan lancar berbohong

“Oh” hanya itu jawaban ibunya.

Heechul kembali fokus melihat secercah harapan dari semua kemungkinan pekerjaan untuknya.

Selesai melingkari, Heechul melamun—matanya kosong, diremas kedua tangan putihnya. Ia menunduk lalu memeluk kedua lutut—kemudian Heechul menangis.

Baru seminggu aku bersamanya—tapi lebih dari 3 kali dia menangis. Hanya itu yang bisa Heechul lakukan, ketika semua orang menatap sinis kearahnya, ketika bibi di supermarket menyindirnya saat membeli susu formula, ketika banyak lelaki melecehkannya baik dalam perkataan maupun tindakan

Ya, Heechul hanya bisa menangis. Tapi aku harus akui dia perempuan yang kuat. Tidak sekalipun ia berpikir untuk membuang bayinya, walaupun ibunya sendiri sering menyuruhnya untuk melakukan itu.

Eits, jangan salahkan Ibu Heechul—penderitaan seberat itu akan membuat Ibu manapun mengatakan hal yang sama. Tetapi sekali lagi—Heechul menggeleng sambil tersenyum kepada Ibunya, “Umma…..Umma tahu kan bagaimana rasanya ada anak terbuang?” Heechul menanyakan hal itu terbalik, Ibunya hanya mengigit bibirnya yang rapuh, “tetapi ini hal yang berbeda Heechul—dulu itu—“, Heechul menolak, “sudahlah Umma, aku akan menanggungnya—biarkan aku membalas berkah ini” Kepala Heechul bergerak ke sampingnya—ke arah bayinya, “Aku akan berjuang demi dia” dielus pipi mungil sang bayi yang masih merah, lalu dikecup lembut oleh Heechul. “Demi anakku”

Aku ikut menangis ketika dia menangis—tanpa tahu harus berbuat apa untuk meringankan bebannya, hanya sekali saja.

Jujur aku bahkan belum memeriksa tentang pasangan untuk Heechul—tetapi pria mana yang mau menerima Heechul begitu saja?

Memang aku sudah melihat banyak keajaiban yang ditimbulkan oleh panah cinta yang kutancapkan…tapi apa sekuat itu? Begitu kuat hingga kau mau menerima wanita yang hamil di luar pernikahan?

Entahlah—yang pasti sekarang aku harus membantunya, Ya demi si kecil ini—demi Ibunya yang renta—dan demi Heechul..wanita yang begitu kuat untukku…

“Heechul?” panggil Ibunya dari ruang tengah, Heechul segera mendongak dan menghapus jejak airmata di wajahnya yang cantik, “Iya Umma, ada apa?” tanya Heechul ketika menghampiri Ibunya yang sedang menerima telepon, “Ada telepon untukmu” Umma Heechul melirik curiga, “Katanya kamu dipanggil suruh menghadap ke kantor sekarang” jelas Umma seraya menutup telepon ditangannya

“Aku di panggil ke kantor?” tanya Heechul terkejut, Ibunya mengangguk, “sebaiknya kau segera kesana—siapa tahu urusan penting” Meski sedikit bingung Heechul akhirnya berganti baju lalu terburu buru berlari kecil ke stasiun, naik bus yang membawanya kembali ke kantor

Aku terbang mengikutinya dari jauh, apa jangan jangan? Ah sebaiknya aku tidak usah ikut berspekulasi lagi. Aku ikuti saja kemana Heechul melangkah

Heechul masuk kantor dengan wajah bingungnya—dia memberanikan diri masuk keruang bosnya, ditarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Heechul mengetuk pintu 3 kali.

“Masuk” suara seseorang. Siapa dia? Ini bukan suara lelaki brengsek—boss Heechul kemarin. Pikirku

Heechul membuka pintu dengan bunyi jantung tidak beraturan, “permisi” ditundukkan kepalanya sebentar lalu saat Heechul mengangkat kepalanya—ia terkejut.

Aku mengikuti arah pandangnya, Lho? Siapa pemuda ini?

“Anda?” tanya Heechul sopan, Pemuda itu tersenyum sekilas, “Aku Direktur Utama di sini” Lelaki tegap ini berdiri lalu mempersilahkan Heechul duduk, “Kudengar kau dipecat kemarin” Ia langsung membuka pokok pembicaraan

“Iya Pak?” tanya Heechul—belum mengenal Direktur Utamanya, maklum saja wewenang tertinggi disini ada ditangan bossnya sebelum pemuda ini tiba

“Hangeng, saya baru pulang dari China kemarin malam”

Hangeng? Kenapa nama itu tidak asing bagiku yah?” ah mungkin aku pernah bertemu dengannya di China

“Iya Pak Hangeng, kemarin saya di pecat” jelas Heechul masih bingung dengan arah pembicaraan ini

Hangeng bertupang dagu dan menatap Heechul lurus, “Kamu boleh kembali bekerja mulai sekarang” Hangeng menarik diri dan bersandar di kursinya tanpa melihat betapa kagetnya Heechul, “bagaimana bisa—kem?”

“Ya, saya tahu kamu kemarin dipecat—tapi setelah saya selidiki alasannya…dia tidak berhak memecat kamu—malah saya berbalik memecatnya” Hangeng melamun sambil memainkan tangannya seperti berpikir

Heechul mengerjap tidak percaya. Lelaki ini telah menyelamatkan hidupnya. Sekarang dia tidak perlu tunggang langgang mencari pekerjaan lagi. “Terima kasih” ucap Heechul menahan haru, Akhirnya muncul juga seseorang yang bisa berlaku adil padanya

Hangeng tersenyum menanggapi ucapan Heechul, “Tidak perlu—kulihat kinerjamu bagus, makanya kemarin aku mencari tahu kenapa kau bisa dipecat tanpa sebab—dan saat tahu kejadian sebenarnya..” Hangeng menggeleng pelan, “sudah pasti aku memecat lelaki kurang ajar seperti dirinya”

Tiiiit. Telepon kantor berbunyi. Hangeng mengangkatnya, “Ya?”

“Ada Lee Hee Jung-shi, pak” suara sekertarisnya dari balik earphone.

Wajah Hangeng berubah cerah, “suruh dia masuk” Ia merapikan dasi dan kemejanya—ah aku mengerti Hee Jung itu pasti kekasihnya

Tak lama kemudian sosok perempuan masuk kedalam ruangan. Wanita cantik seperti super model, tinggi langsing dan berwajah ramah menghampiri Hangeng.

“Hangeng, akhirnya kau tiba juga di Seoul” ucapnya seraya memeluk Hangeng yang menyambutnya

Mereka berpelukan erat. Hangeng melepaskannya perlahan dan memindahkan tangannya ke pinggang Hee Jung. Sesaat mereka lupa masih ada Heechul disini

“Ng maaf pak sebaiknya saya kembali keruangan saja” Heechul membuyarkan suasana keduanya, mendengar itu Hangeng tersadar, ia salah tingkah

“Ah yah Hee Jung kenalkan ini Heechul pegawai ku..Heechul ini calon istriku” ucap Hangeng bangga sambil mengelus punggung Hee Jung pelan

Heechul menyambut tangan Hee Jung ramah, keduanya bersalaman. “Calon anda benar benar cantik Pak” puji Heechul

“Ah Heechul-shi juga cantik kok” Hee Jung berbalik memuji Heechul.

Wanita yang baik—lelaki yang adil. Mereka berdua memang cocok. Pikirku setuju

“Yah sebaiknya kau kembali bekerja,” perintah Hangeng, Heechul tersenyum mengerti lalu keluar dari ruangan itu

Bisa kulihat Heechul begitu bahagia mendapat kesempatan kedua, seharian ini ia bekerja begitu keras namun tidak terlihat lelah. Benar penilaianku, dia memang wanita yang tangguh

“Ah—sekarang aku bisa membeli susu formula lagi untuk Sae Ra” Heechul bergumam kecil sambil berjalan keluar gedung kantor.

TIINN

Suara Klakson mobil yang berhenti dihadapan Heechul. Kaca mobil diturunkan dan terlihat wajah seseorang yang dikenalnya, “Pak Hangeng” sapa Heechul seraya menundukkan kepala, “tidak usah se formal itu diluar kantor, kau mau pulang—mau bareng bersamaku?” tawar Hangeng

Heechul merasa tidak enak, “Ng.. merepotkan nantinya” tolaknya halus, namun ternyata Hangeng bersikeras, “Ayolah—anggap saja ini permintaan maafku gara gara memecatmu secara tidak langsung kemarin”, karena dipaksa Heechul akhirnya menyerah. Dia masuk duduk disebelah Hangeng, “itu bukan salah Bapak” bantah Heechul, matanya menatap lurus kedepan

Hangeng tersenyum melihat Heechul, Ia menjalankan mobil masuk kedalam badan jalan. “Kau mau kuturunkan dimana?” tanya Hangeng

“Di supermarket depan saja pak” tunjuk Heechul ke gedung putih tak jauh dari sana, “Kau mau membeli sesuatu?” Hangeng meminggirkan mobilnya

“Ya, susu untuk putri saya” Heechul selalu tersenyum ketika membicarakan putri kecilnya itu. Hangeng menoleh dan ikut tersenyum melihat wajah Heechul, “oh, kau tidak apa apa bekerja? Kenapa tidak suamimu saja? Kan repot mengurus kantor sekaligus anak balita” kata Hangeng tanpa bermaksud menyinggung Heechul

“Saya tidak punya suami” balas Heechul—ada kepedihan di nada suaranya, Hangeng melirik cepat, “maksudmu…” Hangeng tidak tahu mau mengatakan apa, “sebaiknya saya segera turun, terima kasih” ucap Heechul langsung memasuki supermarket itu, meninggalkan Hangeng yang masih bertanya tanya.

__

Pulang dari situ Heechul sibuk menyusui putri kecilnya. Setelah ia lelap tertidur, Heechul membersihkan piring kotor lalu mencuci baju yang sudah menumpuk 3 hari kemarin. Heechul tidak tega melihat Ibunya yang sudah tua kelelahan membereskan pekerjaan rumah. Ibunya sudah mau merawat Sae Ra saja dia sudah senang. Jadi begitu pulang dari kantor Heechul masih harus membersihkan semua pekerjaan rumah.

Tetapi berbeda hari ini, dia bisa tersenyum lega—Hangeng secara tidak langsung telah menyelamatkannya, meyelamatkannya dari keterpurukan

Aku tersenyum, ikut senang. Ah sebaiknya aku meneliti tentang calon pasangannya sekarang—siapa tahu lelaki ini sebaik Hangeng. Pikirku

Aku membalikkan catatanku..Heechul….pasangannya…gumamku pelan

Aku terpaku menatap tidak percaya ke nama yang tercantum

Bagaimana ini bisa terjadi?

Hangeng :

Umur 27 tahun, Direktur Utama Bank Nasional Seoul, memiliki calon istri bernama Lee Hee Jung.

Tidak. Aku menelungkupkan wajah tidak percaya.

Permainan takdir apa ini? kenapa begitu susah mempersatukan dua orang yang berjodoh? Kenapa sesusah ini???

Aku membolak balikkan catatanku tanpa gairah. Aku kembali menatap ke bawah—ke arah Heechul yang sedang mencuci tumpukan pakaian si kecil dan pakaiannya serta ibunya. Tangannya yang putih terlihat kasar karena keseringan bekerja dan mencuci. Peluhnya bercucuran satu sama lain.

Haruskah ini kulakukan?

Bahkan tanpa kusadari dia sudah menemukan jodohnya sendiri tadi pagi, sadarkah engkau Heechul?

Ya tuhan….

Ini bukan lagi permasalahan bagaimana caranya ku memanah mereka, tapi bagaimana aku bisa memisahkan Hangeng dengan tunangannya itu.

Aku menutup mata sejenak mencoba berpikir, hmm….

Mungkin aku bisa mencari keburukan gadis itu—ya! Mungkin saja gadis itu tidak sebaik yang Hangeng kira!!

Ah sepertinya sekarang aku harus ke tempat Hangeng—melihat dia dan tunangannya, Hee Jung.

***

Arghhhh. Ini terlalu menyebalkan. Salah ini terlalu menyakitkan. Hee Jung adalah wanita sempurna. Dia berpendidikan dan baik hati, yah aku tahu ini memang terdengar klise—tapi itulah kebenarannya. Dia dan Hangeng saling mencintai dan sudah bertunangan

Tidak ada keburukan berarti yang kutemui pada dirinya, memang dia agak pencemburu—tapi ck selebihnya dia adalah wanita yang baik

Apa yang sekarang aku lakukan? Apa kalian bisa memberitahuku? Aku akan membuat seorang wanita baik baik patah hati akibat perbuatanku nantinya….

Sekarang aku mau menangis….terlalu sulit untukku.

“Sae Ra, mari jalan jalan bersama Umma” Heechul menggendong hati hati bayi mungilnya, sekarang hari minggu—setelah membereskan pekerjaan rumah Heechul langsung bermain dengan Sae Ra—putri kecilnya

Di ajaknya Sae Ra ke taman tak jauh dari rumah mereka. Sesekali tetangga lewat dihadapan mereka menatap sinis ke arah Heechul, bahkan tidak segan segan menyindir Heechul dengan suara keras, “dasar perempuan tidak tahu malu!”

Sepertinya Heechul sudah kebal dengan sindiran mereka—dengan santai diturunkan Sae Ra dan duduk di pangkuannya, “Aigo—cantiknya putri Umma ini” Heechul mengayunkan tubuh mungil itu sambil mendendangkan sebuah lagu

“Hai” sapa seseorang yang membuat Heechul berhenti bersenandung, “Pak” sapanya seraya menunduk pelan, Hangeng membalasnya dengan anggukan kecil, “Ini putrimu itu?” kata Hangeng yang duduk disebelah Heechul

Kebetulan sekali ia jalan jalan di sekitar sini. Apa yang ini namanya benang merah itu? Pikirku. Kemanapun kau pergi—seseorang, pemilik benang merahmu akan selalu mengikutimu. Seperti magnet

“Iya” Heechul mengayunkan tubuh itu lembut. Hangeng takjub melihatnya, “Aku sudah dengar semua tentangmu” ujarnya lugas, Heechul menilik matanya namun mengangkat bahu kemudian, “tidak susah mendengar semua berita berita saya di kantor” gumam Heechul tanpa maksud menyindir

Hangeng tertawa hambar, “Kau tidak kasihan pada bayi ini?” tanya Hangeng menatap sayang ke Sae Ra

“Maksud bapak?” tanya Heechul balik, “Yah..bagaimana ketika ia besar nanti dia bertanya siapa ayahnya….dan…” Hangeng menggantung perkataannya

Heehul mengulum senyum, “Anda tidak akan bisa mengorek saya” tebaknya

“Yah—begitu yang kudengar,” Hangeng menoleh ke Heechul, “kenapa sebegitu rahasianya ayah anak itu?”

Heechul mengangkat alisnya, “ bukan rahasia—hanya saja…itu hanya rahasia aku dengannya” Heechul mengedikkan kepalanya ke Sae Ra. “Kenapa bapak ingin tahu?” Heechul heran melihat sikap boss barunya, “Aku penasaran denganmu” sahut Hangeng sambil meminum coffee instan di tangannya

“Kenapa kau begitu dibenci orang, kenapa kau dicemooh sebagai yah…kau tahulah” Hangeng kembali menatap lurus kedepan, “yah aku penasaran” lanjutnya

Hangeng menatap Sae Ra—tertarik, “bolehkah aku menggendongnya?” ucap Hangeng seraya meminta ijin ke Heechul, “Anda penasaran juga dengannya?” sindiran Heechul membuat Hangeng tertawa, “tidak juga” jawab Hangeng, dia meletakkan gelas coffeenya ketika Heechul menaruh bayi kecil itu ditangan kokohnya, “dia cantik” puji Hangeng sambil menatap Sae Ra yang sudah tertidur dari tadi

Heechul gembira mendengar pujian itu, “dia memang cantik” Heechul mengelus pipi Sae Ra pelan, “apalagi sedang tertidur seperti sekarang” desah Heechul sayang

Hangeng menatap Sae Ra dan Heechul bersamaan, “hmm iya juga ya” gumam Hangeng

“Apanya?” tanya Heechul, “ bayi ini memang cantik—secantik ibunya” puji Hangeng

Oh wow

Hangeng menatap Heechul seraya tersenyum lalu sibuk mengayun ayunkan tangannya, disebelahnya Heechul mematung—pipinya sempat memerah mendengarkan perkataan Hangeng yang tadi

Mungkin ini yang disebut jodoh itu. Bahkan sebelum ku panah saja, ada sesuatu antara mereka—hubungan yang tidak bisa dilihat manusia, sebuah benang merah.

Dan tugasku hanya membuat benang merah itu terlihat jelas diantara mereka.

Aku memejamkan mata sebentar, berusaha melupakan bayangan Hee Jung dikepalaku. Suka tidak suka—aku akan membuat dua orang ini bersatu dengan pengorbanankan perasaan orang lain

Maaf.

Aku sudah bersiap siap memanah ke arah mereka. Baru kali ini aku merasa berat sekali melepasnya.

Aku menguatkan hatiku—kau bisa! Ucapku menyemangati diri sendiri

Aku menatap mereka berdua, sekali lagi.

SLEBBBBB

Panahku lagi lagi berhasil menancap ke pasangan baru ini.

Mereka berdua terpaku dengan reaksi yang timbul belakangan. Jantung tidak beraturan dan helaan nafas yang tidak teratur

Aih—indahnya pemandangan ini kalau saja tidak ada hambatan yang harus kulalui—begitupun dengan mereka

“Anda baik baik saja Pak” ucap Heechul sambil melayangkan tangannya menyapu tatapan kosong Hankyung

“Eh tidak apa apa” Hankyung mengerjap sejenak, Heechul agak salah tingkah akibat reaksi itu.

“Mungkin sebaiknya saya pulang Pak” Heechul bangkit berdiri—memecah keheningan, “Oh ya” ujar Hangeng sambil menyerahkan Sae Ra kembali kedalam dekapan Heechul

“Pelan pelan” Heechul menyambut putrinya dengan sayang, tanpa sadar Hangeng pun ikut mengelus pipi Sae Ra yang masih merah. “Boleh kah aku menciumnya sebelum pergi?” kata Hangeng

Walaupun Heechul agak terkejut, ia mengangguk kecil, “boleh”. Hangeng menunduk lalu mencium kepala Sae Ra lembut.

Heechul mendekap bayinya lebih erat, “bye bye Pak Hangeng” ia mengacungkan tangan Sae Ra seolah olah mengucapkan selamat tinggal untuk Hangeng, melihat itu Hangeng tersenyum senang, “Bye bye sayang” ucapnya tanpa sadar

“Ah maksudku Sae Ra” jelas Hangeng salah tingkah, Ia berbalik menjauh lalu pergi dari situ sambil berlari kecil menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari taman.

Heechul mengembangkan senyum manis—senyum seorang wanita yang sedang jatuh cinta.

***

“Arghhhhhhhhh” teriak Hangeng frustasi.

Aku tahu persis bagaimana perasaan Hangeng sekarang.

“Kenapa aku bisa mendua seperti ini?!!” makinya kepada diri sendiri.

Semenjak tadi pagi, Hangeng tak henti hentinya melihat keluar ruangan lalu berbalik ketika melihat kemunculan Heechul, dan begitu seterusnya. Hangeng benar benar tidak bisa menghentikan perasaannya. Sudah 3 kali Hangeng sengaja memanggil Heechul untuk urusan yang tidak penting—hanya untuk melihat wajahnya dari dekat.

“Hangeng ingat!!! Kau sudah punya Hee Jung!!” Hangeng menepuk pipinya sendiri.

TITTT, telepon berdering.

“Ya?” tanya Hangeng menekan tombol interkomnya, “Ada Hee Jung-shi pak”

Hangeng menghela nafasnya, “suruh dia masuk” Hangeng mempersiapkan diri, bukan dia berusaha mempersiapkan hatinya

“Sayang” ucap Hee Jung seraya menghambur dalam pelukan Hangeng, “Aku kangen denganmu” ucapnya ketika melepaskan pelukan—tatapannya begitu tulus kepada Hangeng.

Ya Tuhan kenapa kau membiarkanku untuk menyakiti wanita sebaik ini…

Hangeng berusaha menutupi perasaan yang berkecambuk didalam hatinya, “Aku juga” lirihnya pelan.

Hangeng menyuruh OB untuk membuatkan 2 kopi seraya menyuruh Hee Jung duduk, “Apa kabar dengan sidangmu hari ini?” tanya Hangeng mengalihkan perhatiannya

“Hmmm sedikit susah sih meyakinkan para jaksa—tapi it’s ok, aku berhasil menang lagi hehehe” Hee Jung memberikan senyum manisnya—senyum yang dulu membuat Hangeng jatuh cinta. Tapi tidak sekarang.

Hangeng mencoba ikut gembira mendengar kabar itu, “Kau kan memang ratu pengacara terhebat di seluruh Korea Selatan” ujarnya

“Terima kasih” Hee Jung menatap wajah Hangeng lama, “Ada yang berubah denganmu?” selidik Hee Jung—terang saja membuat Hangeng gelagapan, “er..tidak”

Hangeng langsung memegang kepalanya, “Aku tadi sedikit pusing” elaknya, Hangeng memalingkan wajahnya—tidak berani membohongi Hee Jung lagi

“Oh” Hee Jung tersenyum menggoda, “Aku akan membuatmu lebih baik” bisiknya sambil mendekatkan wajahnya ke Hangeng, bibirnya menyentuh bibir Hangeng lembut.

“Permisi” suara Heechul mengagetkan keduanya dan aku juga, Heechul membawa nampan berisi kopi untuk Hangeng, “Maaf saya mengganggu, tadi OB sedang pergi ke depan—jadi saya berinisiatif membuatnya” jelas Heechul yang terus menundukkan kepala, ia langsung berbalik tanpa melihat Hangeng lalu keluar dari ruangan itu

Oh tidak, kataku

“Tunggu” tanpa sadar Hangeng mengejar Heechul dan meninggalkan Hee Jung yang kaget dengan sikap ‘aneh’ Hangeng

Aku bergegas mengikuti mereka berdua

“Kubilang tunggu!” bentak Hangeng saat masuk ke dalam gudang, tempat Heechul sedang membenahi dokumen dokumen lama, “Itu tadi Hee Jung yang—“

“Pak, anda tidak perlu menjelaskan apa pun” Heechul menahan gemuruh didadanya, “maaf saya harus kembali bekerja” Heechul langsung berbalik pura pura sibuk membereskan pekerjaannya, membiarkan Hangeng mematung dibelakangnya

BLAMM

Pintu tertutup keras, Hangeng keluar dengan perasaan kesal, “kenapa aku bisa begini?” gumamnya pelan

Heechul? Ia kembali menangis—menangisi cintanya

Hee Jung perlahan mulai mengerti apa yang terjadi. Tanpa sadar kedua matanya memicing—menahan kenyataan yang coba ia sembunyikan

See? Panahku menyakiti begitu banyak orang, Aku menggeleng—lelah. Aku butuh waktu. Sayap mungil dipunggung kulebarkan—mengembang dan membuatku terbang…mencoba menghilang diantara awan awan putih dilangit

***

Aku siap sekarang—siap tidak siap aku harus membuat mereka bersatu. Ya, itulah tugasku sebenarnya.

Hari sudah malam tapi aku bisa melihat Hangeng masih terdiam di kantor—wajahnya datar. Arghh, andai tadi aku tidak kabur—pasti aku bisa tahu apa yang terjadi tadi siang.

Dia masih berdiam diri ketika kuperhatikan, hanya saja sesekali ia memainkan dokumen dokumen di atas mejanya itu.

KREKKK

Ha? Bunyi apa itu?

Hangeng terkejut mendengar bunyi itu, ia menoleh lalu keluar dari ruang kerjanya.

“Heechul?” Hangeng terkejut mendapati Heechul baru mau pulang selarut ini, “Pak?” tanyanya sama sama terkejut

“Kau mau pulang?” Heechul mengangguk—ia memalingkan wajah dari Hangeng. “Mari” Kata Heechul pamit pulang

Namun tangan Hangeng menahannya, “tunggu” lirih Hangeng pelan. Ditariknya tubuh Heechul mendekat, “Angkat wajahmu” pintanya

Heechul mendongak lalu menatap wajah Hangeng lekat

Aku akan bahagia setengah mati—andai tidak ada orang lain diantara mereka. Salah—bagi orang awam, Heechul lah ‘orang lain’ itu

Hangeng spontan menyentuh pinggir wajah Heechul. “Aku…” ia kembali mengelusnya pelan

Heechul memejamkan mata berusaha menahan detak jantungnya yang tidak beraturan, “Maaf” di tangkap tangan Hangeng, “saya ingin pulang” ujar Heechul kembali berbalik tetapi tidak bisa karena Hangeng menggenggam tangannya, Hangeng agak terkejut—diangkat tangan Heechul, membuka telapaknya.

“Tanganmu kenapa?” Hangeng ternganga melihat tangan Heechul yang kasar—sangat kasar, akibat terlalu sering melakukan pekerjaan kasar dirumah, “saya kan ibu rumah tangga” Heechul mencoba melucu namun gagal karena Hangeng masih terpana sambil mengelus permukaan tangannya, “Kau seorang wanita, seharusnya bisa menjaga kulitmu”

Kok tiba tiba Hangeng menjadi memperhatikan hal sedetail ini,,,ck ck ck

“Tapi saya juga seorang Ibu” kata Heechul pelan, dibiarkannya Hangeng menapaki jarinya ditelapak tangannya

Suasana tiba tiba hening

“Aku akan memutuskan hubunganku dengan Hee Jung besok” secara tiba tiba Hangeng mengambil keputusan, dia menatap Heechul tegas.

Ha?

Heechul terperangah spontan melepaskan tangannya, “Kau tidak—kenapa kau lakukan itu??” cecarnya keras

Hangeng menatap Heechul sendu, “Kau tahu jawabanku” bisiknya

“Tapi—“ Heechul menggeleng kesal, “dia wanita yang baik, dia wanita yang bermartabat!!” Wajah Heechul mengeras, “dan yang terpenting dia tidak sepertiku”

Hangeng menghela napas marah, “Apa kau tahu perasaanku sekarang?” bentaknya tepat di wajah Heechul

Hangeng meraih wajah Heechul—memenjaranya di tangannya yang kekar. Mendadak ia memeluk Heechul erat, sangat erat hingga Heechul sulit bernafas, “Aku hanya melihatmu…hanya kau…tidakkah kau mengerti?” bisiknya ditelinga Heechul

Heechul mencoba bernafas, Aku tahu ia nyaman berada dalam pelukan Hangeng, aku tahu itu—tapi sekali lagi Heechul bukan orang yang egois. Ia melepaskan pelukan Hangeng, di raba sebentar wajah orang yang dicintainya itu.

“Jangan sia siakan hidupmu demi aku, berbahagialah” setelah mengucapkan itu Heechul meninggalkan Hangeng sendirian, dalam gelapnya malam

***

Esok hari

Hangeng mendatangi kantor hukum milik Hee Jung. Dia masuk tanpa memberitahu tunangannya terlebih dahulu.

“Hai” sapa Hee Jung ramah—sepertinya kejadian kemarin sudah terhapus dalam ingatannya, “ada apa?” tanyanya lembut sambil mengelus punggung Hangeng yang masih berdiam diri

“Kita menikah saja”

Apa? Kok?

Hee Jung sama kagetnya sepertiku, “Kau kenapa meracau aneh seperti ini?” selidiknya lebih teliti, Di tarik wajah Hangeng ke hadapannya, Hee Jung melihat sendiri betapa berubahnya Hangeng sekarang, “Apa kau mencintaiku?” tanya Hee Jung tiba tiba

Hangeng mengerutkan dahi, “sudah jelas kan” walau ia mengatakan itu namun wajahnya spontan berpaling dari Hee Jung

Ia berbohong

Hee Jung memegang wajah Hangeng, “Lihat aku” Hee Jung menatap nanar ke arahnya, “Lihat aku dan bilang kau mencintaiku” ulangnya sekali lagi

Hangeng menatap wajah Hee Jung lama—Aku tahu…ia tidak sanggup membohongi wanita sebaik tunangannya ini, Hangeng terdiam lama—berusaha mengatakan 3 kata itu..tapi tetap saja tidak bisa, kata kata itu bukan untuk Hee Jung.

“Hee Jung” bisik Hangeng

Air mata Hee Jung mencair, ia menggigit bibir—berusaha meredam isak tangis yang ditahannya dari kemarin

“Katakan—kalau kau masih mau kita bersama”

Hangeng hanya bisa meringis, ia mematung sambil menatap Hee Jung yang menangisinya, “Maaf—maafkan aku”

Hee Jung tertawa miris, “bagaimana bisa kau menikahi perempuan yang kepadanya kau sendiri tidak mencintainya?” Hee Jung melepaskan tangannya—Ia melepaskan Hangeng

“Sana kejar cintamu itu” bisik Hee Jung sambil berbalik memunggungi Hangeng.

Hangeng bangkit berdiri dan memeluk Hee Jung dari belakang, “terima kasih” selesai itu Hangeng keluar dan berlari ke mobil—ya seperti kata Hee Jung, ia mengejar cintanya itu. Heechul

Aku bisa lihat betapa leganya perasaan Hangeng sekarang, Hee Jung sudah menginjinkannya sekarang dia tinggal meyakinkan Heechul untuk menerimanya kembali.

Ah—aku berusaha menahan diri tidak kembali mengecek Hee Jung. Aku sudah menduga dia memang sebaik yang kukira, andai aku bisa melakukan sesuatu untuk membalas budinya itu….

Hangeng memarkirkan mobilnya di taman seperti biasa baru berlari kencang ke rumah Heechul.

Eh ada apa disana?

Hangeng dan aku heran melihat banyak orang ramai berkumpul didepan rumah Heechul—seperti menonton sesuatu

“Tidakkkkk kembalikan diaaa” pekik Heechul kencang

Aku mempercepat kepakan sayapku untuk melihat lebih jelas, Hangeng agak tertinggal dibelakangku

“Permisi” Hangeng berusaha menembus keramaian didepan rumah Heechul.

Heechul menangis kencang saat beberapa orang berbadan kekar menghalangi tubuhnya. Di depan Heechul ada seorang wanita cantik angkuh menggendong bayi mungil, jangan jangan….

Heechul menangis sambil berteriak, “kembalikan dia???? Kumohon” Heechul terjatuh saat berusaha mendekati wanita itu.

“Sudah ku bilang, dia anakku—ayo kita semua kembali” perintah wanita itu seraya masuk ke dalam mobil mewahnya.

Hangeng yang baru sampai langsung meraih Heechul kedalam pelukannya, “Ada apa ini?” tanyanya

Heechul hanya meringis menangis sambil terus membisikkan nama Sae Ra berulang kali, “Anakku…anakku” Ia kelihatan begitu terluka

“Apa yang sebenarnya terjadi? Adjumma?” tanya Hangeng pada Umma Heechul yang berdiri tak jauh dari kami

Ada apa ini sebenarnya?

___

Hangeng mendudukkan Heechul yang terus menangis di depan kantor pengacara—kantor Hee Jung. Hangeng tidak tahu harus meminta tolong siapa lagi selain kepadanya. Heechul sendiri masih belum mau bercerita apapun kepada Hangeng—ia hanya mau berbicara kepada pengacara, orang yang akan membantunya untuk merebut kembali Sae Ra—putri kecilnya

“Hangeng, Heechul” Hee Jung memaksakan senyumnya namun sedetik ia terkejut melihat wajah Heechul yang begitu sedih, “ada apa ini? kau kenapa?” Hee Jung spontan memeluk Heechul, “cerita kepadaku..” Ia melepaskan pelukannya lalu kembali menatap Heechul, “Ayolah” bujuknya lagi

Heechul menelan ludah dan melirik Hangeng sekilas, “Ah—aku mengerti. Hangeng, bisa kau tinggalkan kami berdua sekarang” pinta Hee Jung, tiba tiba ia berbicara layaknya pengacara—mendengar itu Hangeng mendesah lalu beranjak meninggalkan mereka berdua

Aku mengikuti Hangeng keluar dari ruangan itu—memberi privasi untuk Heechul walaupun sebenarnya aku penasaran dengan rahasianya itu, apa hubungan putrinya dengan wanita angkuh itu?

Tak lama kemudian

Heechul dan Hee Jung keluar bersamaan. Anehnya sekarang dua duanya sama sama menangis. Ada apa sih? Pekikku heran

Hee Jung memeluk Heechul lama, “Aku akan membantumu” Pandangan Hee Jung beralih ke Hangeng, “jaga dia…Heechul wanita kuat yang pantas kau dapatkan” pesannya

“Pasti” Hangeng menuntun Heechul yang masih bersedih keluar dari kantor Hee Jung

***

Seminggu Kemudian

Hee Jung benar benar wanita yang hebat dan berhati besar. Ia mati matian mengadakan sidang hak perwalian anak untuk Heechul. Semua dokumen, fakta dan kesaksian sudah dikumpulkannya untuk melawan Nyonya Yon Bin yang mengambil Sae Ra secara paksa

Dan hari ini dengan bersemangat Hee Jung memberi kabar gembira kepada Heechul dan Hangeng, “Aku sudah dapat!! Kita akan menyidangkannya besok!!!” berita baik itu kontan membuat wajah Heechul lebih bercahaya, dia tersenyum tak henti henti seharian itu. Hangeng yang melihat keadaan Heechul membaik ikut berbahagia

“Heechul?” panggil Hangeng ketika mereka duduk diberanda rumah Heechul

“Hmm?” tanyanya ceria

Hangeng tersenyum, “Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Nyonya sok kaya itu tapi—“ Hangeng menundukkan kepalanya dan saat ia mendongak—matanya melembut, “ Jika dipersidangan kau menang dan mendapatkan kembali Sae Ra, aku ingin menjadi ayah untuknya” kata Hangeng gugup

Heechul terperangah sebentar namun kembali bisa menguasai diri, “Kau tidak peduli tentang siapa bapak anak itu? Atau masa laluku?”

Hangeng menggeleng pasti, “untuk apa? Aku hanya ingin bersamamu, itu saja” Hangeng menggenggam tangan Heechul disebelahnya, “Mau kan?”

Heechul terenyuh karena Hangeng benar benar tulus mencintainya, ia hanya mengangguk kecil menjawab pertanyaan Hangeng

Hangeng tersenyum lalu menatap matahari yang turun dengan begitu megahnya

Aku bisa bernafas tenang akhirnya—mereka bisa bersatu…walau tidak sepenuhnya bahagia, masih ada esok. Hari penentuan.

__

“Nyonya Yon Bin dipersilahkan masuk keruang pengadilan” ucap berita acara, tak lama kemudian wanita angkuh itu masuk kedalam ruang pengadilan yang penuh sesak. Kebanyakan penonton sidang hari ini adalah para tetangga Heechul yang sering mengguncingkannya—tentu saja mereka kemari karena penasaran, bukan karena peduli dengan nasib Sae Ra kecil yang malang

Bahkan berita ini mengundang ketertarikan media massa. Bagaimana tidak, Nyonya Yon Bin adalah wanita yang baru baru ini menikahi politikus terkenal ditambah lagi Hee Jung—pengacara kondang mau menangani kasus ini melawannya. Terang saja publik tertarik, apa sih masalah sebenarnya? Kenapa mereka berdua berebut hak perwalian anak

“Bisa anda ceritakan kronologis kejadian kemarin?” tanya jaksa pembela—pengacaranya

Nyonya Yon Bin mengangguk tenang, “Saya mengakui sebenarnya saya mempunyai anak dari pernikahan terdahulu”

What? Aku terheran heran mendengar pengakuannya—bahkan seluruh audience yang kebanyakan Ibu Ibu berdengung saling bergosip ria

“Apa itu benar?” tanya Hakim kaget

“Ya, tetapi karena ditinggal mati oleh suami saya—serta hutang menumpuk dimana mana, saya tidak kuat” Nyonya Yon Bin mengambil nafas berat, “Akhirnya saya memutuskan meninggalkan anak saya disebuah penginapan yang ada tidak jauh dari rumah saya dulu”

“Dan perempuan ini yang memungutnya” Ny Yon Bin menunjuk kasar ke Heechul yang terdiam sejak tadi, disampingnya Hangeng, Ibunya dan Hee Jung duduk mendukung Heechul

“Bukankah itu bagus?” tanya Hakim tidak mengerti

“Iya tapi—saya ibu kandungnya…saya berhak atas anak saya” ucapnya berapi api, “saya tidak menyangka kalau menikah dengan pria mapan yang mau menerima saya apa adanya—suami saya mau menerima keberadaan putri saya itu, dan ketika saya mengambilnya—perempuan itu tidak mengijinkannya” Ia mendelik sinis ke Heechul

Andai membunuh tidak dosa—pasti dari tadi ku jatuhkan lampu berat itu ke atas kepalanya

“Interupsi Pak Hakim” pinta Hee Jung profesional

“Ya, silahkan”

“Jika anda Ibu kandungnya—kenapa anda tega meninggalkan bayi yang baru berumur beberapa hari? Dan saya dengar anda bahkan belum memberi nama pada anak itu?” tanya Hee Jung beruntun

Yon Bin yang angkuh langsung menghardiknya, “saya tidak punya uang!! Bahkan untuk makan saja tidak! Anda tidak pernah ada di posisi saya!”

“Tapi Heechul pernah—anda tahu demi anak yang anda buang, Ia rela dicemooh banyak orang—Ia rela dicap wanita gampangan karena membawa pulang bayi tanpa alasan yang jelas!” kata Hee Jung keras

“Demi anak anda, Ia rela kehilangan pekerjaannya dulu. Apa anda tahu itu?” tanya Hee Jung tajam

Semua audience terdiam mendengar perkataan Hee Jung yang bagai silatan pisau kepada mereka semua. Mereka merasa bersalah telah memperlakukan Heechul selama ini

Ny Yon Bin kehabisan kata kata—tidak mampu membalasnya

“Saya sudah selesai Pak Hakim” Hee Jung mundur dengan tegap

“Nyonya Yon Bin, anda boleh ke tempat duduk anda, sekarang Kim Heechul silahkan memasuki ruang persidangan” perintah sang berita acara

Wajah Heechul masih bersedih, sesekali ia mencuri pandang ke arah Sae Ra yang berada di tangan pengadilan, di sampingnya

“Apakah benar anda yang menemukan bayi itu tergeletak di depan penginapan anda?” tanya Jaksa Pembela

“Iya betul” jawabnya singkat

“Sebenarnya cuma satu pertanyaan saya disini, kenapa anda begitu menyayangi anak ini? hingga rela diperlakukan seperti yang diucapkan pengacara Lee barusan?” Jaksa pembela itu tersenyum sinis, “atau jangan jangan anda ingin ditebus uang dalam jumlah banyak karena mengetahui bahwa seorang istri politikus terkenal lah ibu dari sang bayi?” tanyanya lagi

Kurang ajar! Teriakku

“Interupsi Pak Hakim!” pinta Hee Jung

“Inter—“

“Boleh saya jawab” Heechul mengangkat tangan—meminta ijin, Pak Hakim mengangguk

Heechul menghela napas panjang dan mulai bercerita, “Saya bernasib sama dengan Sae Ra” katanya pelan

Heechul tersenyum kemudian, “waktu bayi, saya juga dibuang oleh orang tua saya ditaman tak jauh dari rumah saya sekarang, Ibu saya yang anda lihat disini” Heechul menoleh ke arah Ibunya—matanya berkaca kaca, “Dia adalah malaikat bagi saya—dia dan Almarhum Appa mengangkat saya sebagai anak mereka”

Heechul menunduk sambil berusaha menghilangkan isak tangisnya, “Saya sudah tahu itu sejak lama—maka dari itu sekuat tenaga saya membahagiakan mereka—orangtua saya sendiri”

Heechul mengangkat wajahnya, “bayangkan jika anda menjadi saya—apakah anda tega meninggalkan anak itu sendirian, setiap saya melihat Sae Ra, saya selalu ingat dengan saya yang dulu—yang tidak diinginkan kehadirannya didunia”

Ya tuhan—aku baru mengetahui hal ini sekarang

Ruang sidang mendadak hening—mereka semua kecuali Umma Heechul yang tahu segalanya terdiam mendengarkan kisah Heechul

“Saya menyayangi dia—sangat. Saya tidak peduli apa kata orang—karena saya tahu inilah takdir saya.” Heechul menoleh lalu melihat kembali Sae Ra yang masih tertidur lelap

“Beberapa hari yang lalu saya memang tidak rela—tapi” Heechul mengerjapkan matanya, “sekarang saya memutuskan untuk menyerahkan anak itu kembali kepada ibu kandungnya” tegasnya

Apa?

Hee Jung sepertinya tidak tahu menahu tentang ini langsung menghampiri Heechul, “Kau–?”

“Maaf, tapi jauh lebih baik jika dia kembali kepada ibu kandungnya” Heechul bangkit berdiri—dihiraukan semua orang yang terkejut dengan keputusannya. Dihampirinya Sae Ra yang berada ditangan pegawai pengadilan—tidak satupun yang berusaha menghentikannya.

Heechul mengambil bayi mungil itu—bayi yang bersamanya beberapa bulan ini, didekapnya erat tanpa sadar air mata membanjiri wajahnya, “Sae Ra-ku…ketahuilah aku akan selalu mencintaimu” bisik Heechul sambil menangis

Oh tidak—aku terharu melihatnya…Ibu Ibu lain yang tadinya bergosip ikut terenyuh menatap pemandangan itu

Jujur bagiku Heechul lah ibu kandungnya dibanding Yon Bin

Heechul membawa Sae Ra ke Yon Bin, diletakannya dengan sayang kedalam pelukan Ibu kandungnya ini, “jaga dia baik baik, jika kau menyia nyiakannya lagi—aku akan mencarimu” Heechul mencoba tertawa, dielus pelan pipi si mungil ini

“Maaf kan aku” ternyata sikap Heechul mampu meluluhkan keangkuhan Yon Bin tadi, Ia ikut terharu karena Heechul begitu mencintai anak kandungnya sendiri, “sudahlah…aku tidak apa apa” balas Heechul

Heechul buru buru memalingkan wajahnya lalu pergi dari tempat itu. Mungkin dia tidak tahan kalau menatap wajah Sae Ra terus terusan

“Tunggu”

Suara Yon Bin menahan langkah Heechul, ia menghampiri Heechul masih menggendong Sae Ra, “kau boleh menjadi Ibunya juga” Yon Bin tersenyum lembut ke arah Heechul

“Aku boleh?” tanya Heechul tidak percaya, Yon Bin menangguk senang, “Kau boleh menjenguknya setiap saat, dan aku akan memberi hari dimana kau bebas membawa Sae Ra bagaimana?” tawar Yon Bin

Heechul menghambur ke Yon Bin, dipeluknya wanita itu beserta anaknya—erat, “terima kasih” bisik Heechul pelan

Plok

Plokk, Plokk..tiba tiba ruang sidang penuh suara tepuk tangan—bahkan bisa kulihat Pak Hakim diam diam menghapus airmata terharunya.

“Sidang Ditutup, tidak ada yang menang maupun kalah” Pak Hakim tersenyum ke arah Heechul dan Yon Bin, “Aishhh kalian membuat siangku begitu sedih hari ini” para penonton tertawa mendengar gurauannya

Pak Hakim berdiri, semua menunduk memberi hormat, sebelum keluar Pak Hakim sekali lagi melirik Sae Ra, “dia begitu beruntung—mempunyai dua Ibu yang begitu mencintainya” itulah pertuah Pak Hakim ketika keluar

Ya, kau beruntung, sangat beruntung

***

5 Tahun Kemudian

“Sae Ra jangan berlari lari seperti itu, bahaya” pekik Heechul berusaha menangkap putrikecilnya, “aduh” Heechul berhenti sebentar, ia menarik nafas panjang

“Sae Ra bahaya!!!” teriak Heechul ketika melihat mobil melaju kencang kearahnya, Ya Tuhan!! Dengan sigap kujentikan jari ke arah mobil itu, Ting!

Mobil itu mengerem tepat pada waktunya—fuih, untung saja aku kebetulan lewat tadi.

Aku terhenti menemui Heechul dan putri angkatnya bermain di taman seperti biasa, Heechul menghampiri putri kecilnya, “Kau sudah Umma bilang jangan berlari” kata Heechul tegas

Sae Ra menunduk, “maaf Umma, tadi aku kesenangan ketemu Umma disini” mendengar itu Heechul tersenyum tulus, “Umma juga kangen denganmu” dipeluknya Sae Ra erat erat, “Eh kau sudah pamit dengan Umma Yon Bin?” tanya Heechul

“Ng” ia mengangguk

Aigo—lucu sekali dia sekarang

“Tapi bagaimana kau bisa kemari” tanya Heechul sambil melihat kesekeliling, “ya denganku lah” bisik Hangeng dari belakang, ia memeluk Heechul mesra sambil meraba perut Heechul yang sedang membucit

“Ahhh Appa—aku kok tidak dicium sih” Bibir depan Sae Ra mengkerut, Hangeng tersenyum gemas melihat tingkah anak pertamanya, “Aduh anak Appa cemburuan” dicium dalam dalam pipi Sae Ra.

“Ihh geli” Sae Ra melepaskan diri lalu berlari ke pelukan Heechul, “Umma”

“Apa sayang?”

“Kapan adik bayi lahir?” tanyanya

Heechul tersenyum—diraihnya tangan Hangeng lalu duduk ditaman bersama sama, “masih 6 bulan lagi sayangku” tuturnya

“Umma tidak akan melupakan aku kan kalau adik bayi lahir” tanya Sae Ra malu malu, mendengar itu Heechul dan Hangeng bertukar pandangan. Dengan spontan Hangeng menggendong Sae Ra kedalam pelukannya lagi, “tidak akan anak manis—kau selamanya akan menjadi orang yang Umma dan Appa sayang” jelas Hangeng sambil menggelitik Sae Ra, “Hehehehee” celoteh riangnya membuatku tersenyum senang

Begitu bahagianya aku melihat mereka lagi hingga melupakan tugasku, Oh iya aku kan mau menjodohkan seseorang ditaman ini!

Ck ck ck sebaiknya cepat

“Heechul!! Hangeng!! Sae Ra!!” teriak seseorang dari jalan seberang taman, ia melambai dengan semangat

“Ah tante Hee Jung!!! Hai!!” balas Sae Ra senang, “tunggu tante disana” ucap Hee Jung sambil menyebrang jalan

Aku siap siap mengambil panah cintaku lalu mengarahkan kepadanya, sebentar lagi, bisikku

BRUKKK

“Hei kalau jalan lihat lihat dong!!” maki seseorang namja yang berjalan menggunakan earphone ditelinganya, Lee Jinki

“Ya! Kau yang seharusnya begitu!!” Hee Jung melotot tidak terima

Aku mengembangkan senyumku dalam dalam, dalam hitungan 1……2……3….YAK!

Wajah mereka berdua berubah…perlahan lahan…ehehehhehe

“Kenapa tuh Hee Jung?” suara Heechul masih terdengar jelas dari sini—ada nada heran disuaranya, “entahlah, tadi berantem sama lelaki itu—eh sekarang malah tatap tatapan” balas Hankyung masih menggendong Sae Ra

Yah kalian sebentar lagi akan tahu—kalau ternyata Hee Jung akhirnya menemukan pasangan hidupnya.

Tidak sia sia aku sengaja meminta pada dewi agar menjodohkan mereka berdua sendiri—anggap saja ini ucapan maaf gara gara membuatnya terpisah dari Hangeng dulu hehehe

“Sudah aku harus kesana” Hee Jung gugup bergegas menghampiri Heechul di taman, “Eh tunggu dulu” Jinki menarik lengannya tanpa sadar, “Apa maumu?” tanya Hee Jung tegang—jantungnya berdebar lebih kencang dibanding ketika dia bersama Hangeng dulu, hehehee

Aku senang melihat wajahnya memerah kembali.

Jinki menarik Hee Jung—membuat jarak mereka semakin dekat, “Kau mau jadi pacarku?” tanyanya polos

HUAHAHAHHAHAHHAHAHAHHA, PUKULAN LANGSUNG!! HEBAT HEBAT!!

Hee Jung memberontak namun gejolak hatinya tidak dapat menolak, “Ayolah” bujuk Jinki. Hee Jung memalingkan wajahnya lalu mengangguk pelan

“Yess!!” teriak Jinki keras

Hee Jung tersenyum bahagia, “Ikut aku” ia menarik tangan Jinki mendekati Hangeng sekeluarga

“Tanteee” panggil Sae Ra nyaring

“Sae Ra, Heechul, Hangeng!!! Akhirnya aku punya pacar!!!” teriak Hee Jung keras—disebelahnya Jinki ikut nyengir lebar

GUBRAAKKKKKKK

©FLASHBACK END©

Jujur aku tidak bisa tenang sebelum memberikan pengganti Hangeng untuk Hee Jung. Mungkin cuma aku, dia dan Tuhan saja yang tahu bagaimana Hee Jung menahan sakit hatinya saat Hangeng melamar Heechul, saat Hangeng mencium istrinya di depan altar—atau bahkan ketika Heechul memekik gembira memberitahu bahwa dia akhirnya hamil juga!

Hingga saat itu Hee Jung masih belum bisa melupakan perasaannya kepada Hangeng—tidak tidak..dia tulus berteman dengan mereka berdua, cuma yah…kalian tahu lah

Tapi aku sudah lega—dia menemukan pasangannya…malah langsung pacaran pula hehehehe

Terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku hari ini *cupid membungkuk dalam dalam*

Lain kali kita bertemu lagi yah

Salam cinta Cupid ^^

THE END

15 responses to “≈Behind The Scene of Love-HanChul≈

  1. onnie! Part ini LUCU deeeeh😀
    mesra bangeeeet hanchulnya ya ampuuuun *shy* sedih juga deeeh😦 tp, bener2 kyak hiduplah ff nya! –as usually😀 wkwkwk

  2. akhirnya bikin ngakak!
    Langsung tembak! XDD
    .
    Tapi cerita ini sedih banget!
    Sesedih EunHae!
    Tapi tetep aja cerita ini lebih keren! *ngeduluin bias*

  3. whoa…
    ini menyentuh sekali..
    apalagi pas scene sidang itu…mataku basah ini…

    o iya..perkenalkan..nami imnida..
    salam kenal yah..
    ^^

  4. Kak Sebas~ T__T sedih ceritanya.. tp untung aja Happy ending😀

    Heechulnya baik.. beda sama Chulie d NOLU
    *Chulie: apa lU?! (bawa golok)
    *aku: aniyoooooooo…

  5. Kisah Heechuk bikin terharu deh ckck. Akhirnya mereka nikah ya haha bagus bagus
    Gilee salut banget deh sama Hee Jung yg bisa tegar banget.
    Itu kocak aja onew langsung nembak Hee Jung pas pertama ketemu wkwkwkwk kocak
    habis nangis langsung ketawa deh haha

  6. Eonni emang keren………
    Yang ini,,,ketawa dah aku nya,, seneng, tanpa sadar ngomong yess sendiri. haha #aneh

  7. sedih bangeeeet !!! aku sampe ikutan nangis pas baca yang di persidangan😥
    eonnie kenapa sih bisa bikin cerita daebak ? dapet inspirasi darimana sih ? hehehe
    pokoknya aku bakal jadi fans semua ff eonnie deh hehe semangat terus ya eon ^^

  8. apa komen saya masuk??

    annyeong.. saya reader baru :p
    saya suka.. cerita ini..
    hehehe.. mian baru komen soalnya kpn hari nyoba komen ntah knapa tdk bisa..

    heechul benar2 pejuang ya.. untung ktemu han..
    ah~ han memang bijaksana.
    g kebayang gmana prasaan han waktu dy sadar suka ma heenim..

    cupidnya lucuuu~
    boleh minta tolong g??
    bantuin kisah cintaku hahaha..

    #ditabok..

    baiklah.. salam kenal~
    saya mau baca yg lain boleh kan?? :DD

  9. Huaa..keren…heechul kereeen~hangengnya pas mw mutusin hee jung kereeen~~daebak daebak~

  10. ah nangis lagi baca ini….. kangen hanchul moments….. ㅠㅠ
    dulu wktu pertama baca w kira heechul beneran MBA ternyata….
    mau liat kehidupan hanchul pas hamil,,,, ngidamnya,,,, kaya kyumin di nolu… ㅎㅎㅎㅎㅎ

  11. Awal kesel gara2 mereka yg mencemooh heechul… Berlanjut ke sedih…. Dan berakhir lucu hahahaha

    Mau mewek g jadi gara adegan akhir itu hahaha

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s