≈ Behind the Scene of Love-{YeWook}≈

Hi…kalian datang lagi!!

Kangen yah denganku?? *wink* hehehehe

Fuih~ untung saja ada kalian disini, sebenarnya hari ini aku ingin curhat dengan kalian, ha?

Kenapa kalian heran? Memangnya cupid tidak punya masalah juga?

Masalah apa? Apalagi kalau bukan masalah cinta—bukan!! *cupid menggeleng dengan cepat* bukan permasalahan cintaku—lagipula mana bisa cupid jatuh cinta kekee

Yah seperti biasa ini masalah percintaan dua sejoli yang aku satukan sih…

Oh, ini beda dengan yang kemarin…

Ini jauh lebih susah *cupid menundukkan kepala, sedih*

Aku ingin sih bercerita—tapi *cupid menengadahkan kedua tangannya* upah ngomongnya mana? *ngarep mode on*

Yesss! *sekarang ditangan cupid sudah ada berpotong potong coklat dan 4 toples cookies* hehehe kalian memang baik hati^^

Baiklah..

Aku akan memulai cerita cinta yang amat sedih ini


©FLASHBACK©

Hari itu aku ingat sedang bertugas di Hokkaido-Jepang. Ya! Aku memang sedang ada di negeri sakura ini, soalnya menurut di dalam buku, aku harus menjodohkan seseorang yang berada tak jauh dari sini—namanya? Ah ini dia

Kim Joong Woon :

Lelaki berusia 21 tahun—ia adalah seorang penebang kayu sekaligus pemilik kedai takoyaki terkenal di sini

Sangat dewasa, dan merupakan tulang punggung keluarganya dikarenakan kedua orangtuanya sudah lama meninggal..

Kasian juga, batinku

Ia hanya hidup berdua dengan adiknya yang ternyata tuna wicara akibat trauma kematian orangtua mereka

Aku menatap nanar daftarku ini, kembali kulihat sebuah rumah sederhana yang berada didepanku, sepi—

Lelaki ini memang pantas mendapatkan seseorang untuk menemaninya—Ia sudah terlalu lama menanggung semuanya sendirian

Pintu rumahnya tiba tiba berderik, terbuka. “Oni-chan pergi dulu yah” kata seorang pria yang keluar dari situ—ia membelakangi diriku

“Ingat kalau ada apa apa, telepon Oni-chan? jangan pergi terlalu jauh, dan jangan main salju nanti kamu sakit” ucapnya panjang lebar

Ck, ck ck kok ngga ada yang tulisan didaftar riwayatnya kalau pria ini sister complex

Di balik badannya yang tinggi kekar, aku bisa melihat ada sembulan kepala anak kecil—kira kira berusia 8 tahun yang masih terus tersenyum melihat kakak lelakinya, ia pun mengangguk patuh atas perintah kakaknya

“Baiklah—kau memang anak penurut” Kim Joong Woon mengelus sayang kepala adik perempuannya.

“Oni-chan pergi dulu” kata kakaknya sambil keluar dari pekarangan rumah, ditangan kanannya ada sebuah palu besar. Rupanya di pagi sedingin ini ia mau menebang kayu di hutan, wow pria yang kuat yah.

Untung saja mahluk seperti ku tidak bisa merasakan cuaca—coba kalo iya?

Aku melihatnya merapatkan jaket tebalnya yang tidak berhasil menghalau kedinginan di pagi ini—bisa dilihat dari hembusan nafasnya yang berembun

“Yesung…Semangat!!!” teriaknya keras sampai aku terkaget kaget

Ow nama panggilannya Yesung toh—eh tunggu dulu namanya Kim Joong Woon ? Dia bukan orang jepang?

Aku kembali memeriksa lebih teliti daftar catatanku, “oh..Kim Joong woon—keturunan dari Kim Seoulong dan Yamaguchi Kumiko”

Pantas saja—matanya pasti turunan ibunya—bukankah mata orang jepang tajam meruncing seperti dia?

Aku masih asyik dengan pikiranku sendiri sampai tidak menyimak Yesung yang sedang menebak kayu.

“HYAAA!!!”teriaknya penuh tenaga, tangannya mengayunkan palu berkali kali hingga potongan kayu terus berjatuhan, Ia tenggelam dalam pekerjaannya hingga peluh memadati wajahnya yang tampan.

Cukup penelitianku tentangnya, sekarang aku harus memeriksa catatan calon pasangan untuknya

Aku membolak balikan catatanku, hmm…ah ini dia—

Kim Ryeowook :

Seorang gadis berumur 17 tahun, murid kelas 3 tingkat akhir SMA di Seoul
Ia sekarang sedang sibuk mempersiapkan ujian nasional karena ingin memasuki universitas negeri

Sifatnya : manja dan selalu berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan—ini sih menjurus ke ambisius, bisikku

Selesai membaca catatannya, hati ku miris—tugasku kian berat sekarang. Yang satu seorang pekerja keras, tidak memikirkan diri sendiri sedangkan yang satunya manja dan lebih mementingkan egois nya…

Ha…dengusku, ya sudah. Ini memang suratan takdir—aku kan cuma sebagai perantara saja

Lebih baik aku cepat menyelesaikan pasangan ini

Sebaiknya aku terbang menuju ke rumah gadis ini, eh tunggu dimana tadi alamatnya?

Aku kembali membalik balikan catatanku, Seoul….di apartment Damo tepatnya…Eh?

EH????

SEOUL?? KOREA SELATAN?? teriakku kencang

Aku baru menyadari masalah yang sesungguhnya terjadi, oke tenang….tarik napas…..fuh…buang lagi…

Tarik napas……fuh…….buang lagi….

Aku sudah mulai tenang, hmm……Kim Youngwoon atau Yesung bertempat tinggal di Hokkaido, Jepang sedangkan Kim Ryeowook tinggal di Seoul, Korea Selatan

Terus?? Bagaimana caranya aku bisa memanah—dengan jarak batas wilayah dan negara??

Bahkan aku berani jamin mereka belum pernah sama sekali bertatap muka

Hue…..Dewi? tega sekali sih, batinku ingin menangis

Suasana mencekam

Sudahlah tidak ada artinya juga kalau aku menangis—sebaiknya aku langsung terbang ke Seoul untuk melihat Kim Ryeowook lebih dekat, baru setelah itu aku pikirkan cara supaya mereka bisa bertemu

Wushhhh

Ku kepakkan kedua sayapku lebih kuat, dan secepat kilat aku terbang tinggi lalu melaju melawan kecepatan angin menuju negeri di seberang—Korea Selatan

Di Sebuah SMA terkenal

Dengan lesu, aku mengitari halaman sekolahan yang sepi—sepertinya masih jam pelajaran disini *biasa, cupid kena jetlag*, berkeliling sambil menegok ke kelas satu persatu untuk mengamati mahluk ups maksudku perempuan yang bernama Kim Ryeowook ini, dimana dia?

“Ya!!! Masa tidak ada satupun dari kalian yang bisa menjawab pertanyaan ini??” bentak salah seorang guru di kelas yang kulewati ini

Semua murid diam—menundukkan kepala takut ditunjuk maju kedepan, “Tidak ada yang bisa?” tanyanya lagi

“Saya bisa” suara wanita yang duduk didepan kelas, mengacungkan tangannya keatas.
Guru itu menggeleng pelan, “Saya harus memberikan kesempatan kepada yang lain, masa dari tadi yang menjawab cuma Ryeowook? Tidak ada yang mau mencoba?”

Semua murid di kelas masih terdiam, akhirnya guru itu menyerah. “Baiklah kau boleh maju” katanya ke arah wanita itu

Oh—itu dia Kim Ryeowook

Ryeowook beranjak dari tempat duduknya dengan anggun, mengambil spidol lalu menuliskan jawaban dari soal matematika itu, Ia tersenyum puas kemudian kembali duduk dengan manis

“Ya benar, cobalah sekali kali kalian seperti Ryeowook, kalian kan murid tingkat akhir—kalau tidak belajar bisa gagal saat ujian universitas” wejangan gurunya membuat semua murid merengut kesal—siapa yang tidak kesal dibanding-bandingkan dengan orang lain

Ryeowook menahan senyumnya mendengar dirinya dipuji lagi oleh guru matematika, hmm apakah kau masih bisa tersenyum kalau mengetahui jodohmu ada diseberang lautan…

Ting….Tong…

“Ya sudah, sekarang waktunya pulang” ujar guru itu, “Eits, jangan lupa kerjakan PR dari halaman 50 sampai 83 yah—yang 21 soal itu, mengerti?” tanyanya lagi

“Mengerti bu…” haahhaha aku tertawa melihat wajah wajah frustasi siswa siswa tingkat akhir, PR menumpuk—tugas memblundak *curhatan terdalam author* kasian banget

Cuma dia—Ryeowook yang masih bisa bersikap tenang.

Aku berada tepat di atas kepalanya—menunggu.

Ia membereskan alat tulis secara teratur baru memasukkan buku buku pelajarannya sesuai mata pelajaran

“o0o…o0o…0o0” Handphone berdering, Ryeowook mengangkatnya, “Halo? Ada apa mi? Ngga bisa jemput?” pekiknya.

“Lalu aku pulangnya gimana??” ia memprotes, “Naik angkot? Ngga!! Pengap, mamiiiii. Aku naik taksi aja deh, hmmm…iya iya..bye” Ia mematikan telepon masih kesal

“Naik angkot? Ngga deh, makasih. Kayaknya sekarang aku harus nyari taksi di depan gerbang” Ryeowook melangkah keluar menuju ke arah gerbang sekolahnya

Kulihat ia celingukan mencari taksi yang melintas, tetapi sia sia saja—ya iyalah kan jarang taksi mau mangkal di depan sekolahan, jarang kali menumpangnya

“Nyari apa neng?” tanya pak satpam melihat tingkah Ryeowook—gelisah

“Itu pak, nyari taksi”

“Wah jarang banget neng, taksi lewat sini. Emangnya ga dijemput?” tanyanya lagi

“Ngga..”

“Kalau gitu naik ojek atau angkot aja neng” tawar pak satpam

“Yah…”Wajah Ryeowook terlihat tidak setuju dengan saran pak satpam, tapi daripada dia ngga pulang pulang….akhirnya dengan muka cemberut plus bad mood, ia terpaksa menyetop angkot yang melewati rumahnya

Ampun deh, manja banget nih anak..*aku menggelengkan kepala heran*

Sekarang tinggal diriku…meratapi nasib, dosa apa aku sama Dewi, ampe dikasih tugas sesulit ini??

Fuih~ aku menghela nafas sejenak, harus susun strategi nih…baru juga tugas kedua.. masa udah nyerah?!

Aku berpikir keras! Pikir, apa cara terbaik untuk mempertemukan mereka?

***

-Hokkaido, Jepang-

“Arigatou…Sinohara-san!!” ucap Yesung sambil membukukkan badan kepada pelanggan terakhirnya. Segera setelah pelanggannya keluar, Ia langsung membereskan piring piring kotor dan panggangan tempat cetakan Takoyaki didalam kedai

Ia benar benar pekerja keras, Aku sudah mengamatinya sepanjang hari. Pagi ia pergi menebang kayu untuk dijual ke tukang bangunan, siangnya ia mengantarkan Adiknya sekolah khusus setelah itu ia baru membuka kedai takoyakinya.

Sehabis ini ia kembali pulang, memasak makan malam keluarga. Terus seperti itu, Yesung tidak punya waktu untuk dirinya sendiri—bahkan ia punya tabungan khusus dibank atas nama adiknya, agar kelak Yesung tidak kesulitan jika adiknya ingin bersekolah hingga jenjang kuliah.

Orangtuanya beruntung memiliki anak yang bertanggung jawab seperti dia. Hmmmm, desahku. Jujur aku sendiri tidak setuju menjodohkannya dengan nona manja di seberang sana—harusnya Yesung mendapatkan wanita keibuan—bisa menerima keadaan adiknya dan yang terpenting tidak mementingkan dirinya sendiri!

Yesung tidak punya waktu untuk memanjakan seorang wanita. Aku bisa lihat setengah dari pengunjung kedainya rata rata yeoja—yang naksir kepadanya. Dan tak satupun yang dilirik Yesung.

Sedangkan Ryeowook? Baru 1 malam aku bersamanya, sudah muak!! Ia benar benar manja!

Dia tidak biasa melayani—ia biasa dilayani, beda dengan Yesung.

Ryeowook tidak biasa hidup kesusahan, beda lagi dengan Yesung

Dan satu lagi, Ryeowook tinggal di Seoul, Yesung di Hokkaido!!

Arghhh… kayaknya Dewi ingin membunuhku pelan pelan lewat tugas ini.

“Kau tidak lapar?” Suara Yesung membuyarkan lamunanku, Ia heran melihat adiknya mematung di meja makan

Adik kecil itu menggelengkan kepala, “Kau kenapa Miiko? Kau sakit?” Yesung langsung berdiri menuju seberang meja, ia memeriksa kening adiknya

“Kau tidak panas, ada apa? Apa tadi ada yang menjahilimu lagi?” Yesung menatap memohon ke adiknya—yang masih berdiam diri

Miiko—adiknya, mengambil pensil dan buku catatan kecil yang selalu dia bawa kemana mana, ‘Aku kangen Nenek’ tulisnya lalu memberikannya kepada Yesung

“Hmm..tapi sayang, nenek ada di Korea sana….dan…kau kan tahu—Oni chan tidak punya uang untuk membeli tiket” bisik Yesung menyesal

Oh—aku baru tahu mereka masih kerabat, di Korea? Wah ini kesempatan bagus?? Ayo Yesung kesana!! Biar kupertemukan kau dengan jodohmu itu! *meskipun cupid tidak rela*

Miiko menulis lagi, ‘aku punya tabungan dari uang jajan yang oni chan berikan…dan sekarang tabunganku itu sudah penuh.’ Ia berhenti menulis lalu berlari lari kecil menuju kamarnya, segera ia kembali membawa celengan kodok besar.

Yesung tersenyum miris, aku tahu walau aku tidak bisa mendengar suara hatinya—aku tahu uang di celengan adiknya tetap tidak cukup membeli 2 tiket pesawat. *maklum cupid pernah jadi calo di bandara*

‘Ambilah dan kita berdua akan pergi menemui nenek!!’ tulisnya bersemangat, Miiko memberikan senyum terbaiknya, aku saja tidak tahan mengecewakan anak semanis itu apalagi Yesung yang notabene mengidap Sister complex.

“Baik, besok Oni chan belikan tiket pesawat dengan uangmu ini yah, nah sekarang kau kembali makan” ucap Yesung seraya menarik adiknya duduk lalu menatap sayang saat adiknya lahap memakan masakannya

Yesung membereskan meja makan baru menidurkan adiknya di kamar, “Selamat malam, Miiko…my little angel” Yesung mencium kening Miiko lembut

Miiko tersenyum bahagia, Ia mengangkat tangannya, membentuk sebuah simbol lalu menaruhnya di dada

Yesung ikut tersenyum melihat tingkahnya, “Aku juga mencintaimu…sudah..tidur yah” Miiko memejamkan matanya perlahan. Yesung pun bangkit dan menutup pintu kamar adiknya

“Bagaimana ini? aku tidak akan tega membongkar celengannya, tapi…uangku juga tidak akan cukup…” wajah Yesung letih—untuk sejenak ia terlihat lebih tua dari umurnya. Ia menggelengkan kepala bingung, “Sepertinya besok aku harus meminjam uang, tapi..ah sudahlah lebih baik aku tidur” Ia berlalu dari hadapanku dan menghilang dari kegelapan—masuk ke kamarnya

Aku tersenyum, aku akan membantumu..tunggu saja..

Esoknya—masih di Hokkaido, Jepang

Yesung menata bangku bangku di kedainya, sekarang waktunya ia memasang palang ‘Open’ di pintu. Karena ini usaha kecil kecilan—Yesung tidak memiliki pekerja, ia melakukan semuanya seorang diri. Wah kalau kalian bisa lihat betapa gesit dan lihainya ia melayani pelanggan—kalian pasti berdecak kagum sama sepertiku.

Ia kembali mengecek bahan pembuat takoyaki—semuanya sudah lengkap, Ia menghela napas sejenak lalu berteriak, “Yesung!! Semangat!!” teriakan khas orang Jepang

Yah, kau harus semangat—karena hari ini aku akan membantumu mendapatkan ‘tiket’ untukmu dan untuk Miiko kecil

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kedai Yesung, hmm banyak juga orang yang melewati jalan ini yah….tunggu saja…aku akan memaksa mereka semua untuk membeli takoyaki darimu

Aku menjentikan jariku ke semua orang yang lewat, Ting!

Berhasil!! Tiba tiba pandangan mereka tidak terfokus—dan malah menghambur ke arah kedai seperti orang kesetanan.

Hahahaha

“Aku beli takoyaki!! 10 bungkus!!” teriak seorang ibu seraya mengacungkan uang 10 ribu yen *kebanyakan buu~~*

“Aku! Aku lebih dulu aku beli 20 bungkus!!” satu lagi suara ibu ibu terdengar—kelihatan tidak mau kalah dengan ibu tadi

Ibu tadi tidak terima langsung kembali berteriak, “Aku beli 30 bungkus!”

Ibu 2 :ha?? Aku 40!!
Ibu 1 : aku 50!!
100!!
200!!

Mereka saling menyahut tanpa memperhatikan Yesung yang kebingungan karena tiba tiba semua orang ingin membeli takoyakinya, “Aduh..sabar yah…” hanya itu yang bisa ia ucapkan

Kekeke….aku tersenyum senang—kalau melihat kedainya penuh sesak seperti ini…cukuplah uang untuk membeli tiket pesawat.. *cupid menghitung dari kalkulator*

Satu masalah beres!! Sekarang aku harus melihat nona manja itu…paling tidak aku harus bisa memastikan dimana dia nanti saat Yesung berada di Korea

-Seoul, Korea Selatan-

Aku mengendap endap masuk ke dalam kamarnya, wow rapi dan terkesan sekali bahwa ia dari kalangan orang berada, aku menggelengkan kepala—apa benar yah mereka berjodoh..aku takut mereka tidak cocok. Terlalu berbeda.

Ryeowook sedang membaca salah satu buku rangkuman soal ujian dari tahun ke tahun untuk perguruan tinggi negeri—ternyata dia serius ingin masuk universitas ternama. Pantas saja ia juga tidak punya waktu memikirkan pacar

Yah paling tidak mereka berdua sekarang memiliki kesamaan hihihi

“Wookie?” panggil seseorang wanita

“Ya, Mi?” jawab Ryeowook seraya keluar dari kamar setelah meletakkan buku tebalnya itu.
“Mami punya kabar bagus untukmu” Wajah ibunya berseri seri, ia mengeluarkan sekumpulan berkas berkas—seperti…

“Kamu mau ngga? Liburan ke Tokyo?” tawar mamanya

Ryeowook berpikir sebentar, “Tapi aku sedang sibuk sibuknya belajar ujian masuk universitas Mi…takutnya keteteran..” Ia mengerutkan dahi—kesal. “Coba Mami ngajaknya pas libur sekolah kemarin, aku pasti mau…”

“tapi kamu terlalu keras belajar, kenapa ngga sekali kali berlibur, Cuma 3 hari kok, ini juga mama dapet dari menang undian” sekali lagi mamanya membujuk Ryeowook

Beruntung sekali dia bisa dengan mudah mendapatkan tiket, aku terenyuh jika harus membandingkankannya dengan Yesung yang harus susah payah berjualan takoyaki di Hokkaido.

“Hmm…boleh deh..”

“Gitu dong, mama ikutan seneng kalau kamu bisa rileks sejenak” kata Mamanya sennag

Eh tunggu dulu—kayaknya ada yang salah….

……

Ryeowook mau liburan ke Jepang lalu Yesung mau mengunjungi neneknya di Korea selatan…

Arghhhh…tidak!! Mereka nanti akan berselisih jalan!!

Aduh gimana dong???

Hiks….*cupid udah ngga kuat menahan tangis*

Nasib ku tragis amat sih ngejalanin tugas ini, hiks….

Oh ya?!—tiba tiba aku punya ide! Bagaimana kalau aku batalkan salah satu perjalanan mereka saja?

Tapi siapa? Kalau Yesung, aku ngga tega—ah Ryeowook aja deh, hihihi

Aku tertawa licik sambil memperhatikan dengan seksama Ryeowook yang kembali masuk kedalam kamarnya, ah ini saatnya

Maafkan aku yah, ini semua demi dirimu sendiri—ucapku walaupun ia tetap tidak akan bisa mendengarnya

Aku acungkan jemari kecilku kearah Ryeowook yang mulai tertidur, kujentikkan jariku ke arah perutnya, dan…..

Ting!

Tinggal tunggu bagaimana reaksinya besok.

-Bandara Hokkaido, Jepang-

Miiko berlarian dengan riang keliling ruang tunggu bandara—disampingnya Yesung menatap penuh sayang adik semata wayangnya.

Aku pun ikut bergembira melihatnya, aku terima sekalipun nanti Dewi tahu perbuatan curangku—yang penting aku hanya mau melihat lelaki ini menemukan belahan hatinya. Nanti—di Korea Selatan.

“Panggilan untuk penerbangan Hokkaido-Seoul, sekali lagi—panggilan untuk penerbangan Hokkaido-Seoul…”

“Miiko, kemari—kita harus segera naik pesawatnya” ajak Yesung meraih tangan mungil Miiko

Miiko menggeleng sambil memegang kedua kupingnya, “Tidak apa apa, nanti disana, teliga kita di beri alat—supaya tidak berdengung, ok?” kata Yesung lembut

Mulutnya melebar—membentuk sebuah senyuman, lalu dengan patuh ia mengamit tangan kakakknya ke arah pintu pesawat.

Akhirnya—sebentar lagi….tunggu saja…

Hmmm, aku agak merasa bersalah dengan Ryeowook. Ah—lebih baik sekarang aku ke rumahnya dulu

***

“Mami!! Perutku sakit…hiks” suara Ryeowook di antara isak tangisnya, huh begitu saja sudah menangis…gimana kalau jadi aku?? Gumamku pelan

“Tapi tadi kata dokter perutmu tidak apa apa, masih sakit?” kata Mamanya khawatir seraya mengelus perut Ryeowook

“Tapi kenapa sakit sekali..” Ryeowook mengusap keringat dingin disekitar wajahnya—sebenarnya tadi pagi dia sudah bersiap siap berangkat ke Tokyo untuk liburan, tapii berhubung ia sakit mendadak *gara gara sihirku* hmm..dengan terpaksa kau harus membatalkan rencanamu itu hahaha

“Sudahlah, lebih baik kamu istirahat dulu—biar mama kompress..” Mamanya menidurkan Ryeowook di kasur kemudian keluar untuk mengambil obat

“Tapi ma? Liburannya?” lirih Ryeowook terengah engah

“Dibatalkan—kamu kan lagi sakit sayang”

“apa?? Tidak!!” tiba tiba saja Ryeowook bangun dari tempat tidurnya lalu mengambil koper yang sudah ia siapkan dan berjalan ke depan rumah

Dia–?? Ucapku tidak percaya…dia tetap mau pergi ke Tokyo setelah aku buat ia kesakitan??

“Lho?? Mau kemana kamu??” Ibunya berusaha mengejar Ryeowook ke depan rumah.

“Sayang..jangan dipaksakan” bujuk Ibunya setengah memohon

“Tidak! Mami kan dapet itu dari undian—kan sayang kalo ngga digunain” katanya keras kepala

Ya Tuhan—aku lupa berhadapan dengan wanita super!! Super ambisiusss….aduh gimana nih….

“Taksi!!” teriaknya untuk menyetop taksi—Ryeowook tidak menghiraukan bujukan ibunya *hati hati ntar durhaka lagi*

“Bandara! Cepat!” perintahnya

Sekarang aku yang pusing??! Bagaimana lagi aku harus menahannya—mungkin dibandara nanti aku bisa membatalkan niatnya itu!

Taksi itu menuruti kemauan Ryeowook, mobil itu terus melaju kencang—dan bagaikan keajaiban, semua lampu lalu lintas pun ikut bersahabat, berturut turut hijau terus!!

Apa ini memang kehendak langit? Tapi…bagaimana caranya mereka bisa bertemu kalau terus menerus selisih jalan seperti ini?

“Makasih Pak, ini ambil aja kembaliannya” kata Ryeowook seraya menyerahkan uang 300 Won, “Hoi!! Neng..ini mah malah kurang?? Woi!!” teriak supir taksi yang nelangsa hahahha,

Sekarang Ryeowook sudah berada di bandara, ia berlarian sambil memegangi erat kopernya.

Ting..Tong…Penerbangan Seoul-Hokkaido telah mendarat…bunyi pengumuman di bandara

Apa!! Aku membelalakan mata-ngeri, bagaimana ini?

Dari arah Take Off—aku melihat satu persatu penumpang keluar…dari pesawat…bersebrangan dari situ-Ryeowook bersiap siap masuk ke pintu tempat Pesawatnya akan berangkat.

Aku melihat kejadian ini sekaligus—apakah aku harus menyerah sekarang?

Masalahnya aku tidak bisa lagi menggunakan kekuatanku, sihir yang kugunakan untuk menyihir orang orang di Hokkaido dan membuat perut Ryeowook, telah menguras tenaga

Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berharap kalau Yesung bisa cepta keluar sebelum Ryeowook masuk ke dalam pesawat—dan itu hanya sepersekian detik!!

Apakah aku bisa membidik dalam waktu sesingkat itu? Aku menggeleng pasrah. Padahal mungkin cuma ini momen yang paling tepat untuk membuat mereka jatuh cinta, tapi—

Ting…Tong…pengumuman untuk seluruh penumpang pesawat penerbangan Seoul-Tokyo—harap anda bersiap siap memasuki kabin—sekali lagi untuk….

Aku mendengar pengumuman itu sambil menunduk lesu, sudah habis harapanku—bisa kulihat Ryeowook sempat mengejar ketinggalannya—ia berlari mendekat ke pintu penghubung…hmmm eh itu bukannya YESUNG!! Ayo cepat kemari!! Sebelum ia masuk kedalam pesawat!!

Yesung keluar dari pintu dengan senyum bahagia, sesekali ia menoleh ke adiknya—Miiko yang senang bergelayutan di lengannya

Ia bahkan tidak menyadari kalau di seberangnya ada wanita yang menjadi jodohnya—Ironi…batinku. Aku membalikkan tubuh—mau menyusun rencana selanjutnya untuk mereka berdua–fiuh

BRUKKKKK.

Ha? Bunyi apa itu?

Kulihat Yesung bergegas berlari menghampiri orang yang jatuh pingsan itu, “Nona?? Kau tidak apa apa??” Ia menampar pelan wajah yeoja itu—aduh sempet sempetnya sih nolong orang—ngga lihat apa kalau Ryeowook udah lepas landa—eh??? Yang pingsan itu Ryeowook!! Aku bisa melihat lebih jelas saat berputar di atas Yesung

“Nona??!!” katanya, sekali lagi

Ah! Thanks yah God!! Akhirnya mereka bertemu juga!

Miiko menarik lengan Yesung, tangannya menunjuk ke arah bangku di ruangan itu. Yesung pun menurutinya, Ia mengangkat pelan tubuh Ryeowook lalu memindahkannya di atas kursi yang berjejer

“Kau tunggui dia yah, Oni-chan mau memanggil satpam dulu” Yesung menepuk pelan adiknya dan beranjak mencari bala bantuan

Orang orang melihat mereka dengan penasaran, mungkin mereka mengira kalau Wanita ini kerabatnya Yesung sehingga tidak ikut membantu—malah kembali ke aktivitas masing masing seperti tidak terjadi sesuatu.

“Ngg…” Ryeowook menggeliat sedikit—ia mulai sadar, “Ini dimana? Masih dibandara??” tanyanya setengah ngelindur, Ia terlonjak saat bertemu pandang dengan Miiko.

“Eh, siapa kau adik kecil?” tanyanya

Miiko hanya tersenyum sambil mengelus pipi Ryeowook, Ia menangkupkan kedua tangan ke wajahnya sendiri

“Apa maksudnya?” ucap Ryeowook heran

“Kau sudah tidak apa apa?” tanya Yesung yang kembali bersama dengan satpam bandara, “Kau tadi pingsan disini” jelas Yesung

Ryeowook menggeleng pelan, “aku sudah tidak apa apa…tadi aku hanya kram di bagian perut”

“Oh..hmm maaf pak sudah merepotkan memanggil anda kemari” ucap Yesung salah tingkah

“Tidak masalah..” kata para petugas itu sambil berbalik kembali ke posnya masing masing

“Terima kasih” ucap Ryeowook seraya bangkit berdiri lalu membungkukkan badan

“Sama sama” balas Yesung

“Oh tidak!!” Wajah Ryeowook panik saat melihat pesawatnya telah terbang ke angkasa tanpa dirinya hihihi~

“Kau kenapa?” tanya Yesung—ia mengikuti arah pandangan Ryeowook, “Kau ketinggalan pesawat?”

Ryeowook menunduk—lalu mengangguk, “padahal tiket itu gratis” ck ck nih anak masih ngga mau rugi

Miiko melangkah mendekati Ryeowook—lagi lagi menangkupkan wajahnya dengan tangan mungilnya, seraya tersenyum tulus. Aih alangkah lucunya anak ini

“Ada apa adik kecil?” tanya Ryeowook sekali lagi

“Itu tandanya ia ingin menghiburmu” jawab Yesung, “dia memang senang menghibur orang” mata Yesung melembut saat memuji adiknya itu

“Oh” Ryeowook merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Miiko, “Siapa namamu?”

Miiko tersenyum lalu mengambil bolpen dan buku tulis handalannya, ‘namaku Miiko’ ia menunjukkan hasil tulisannya

“Kamu….” Wajahnya terkejut, ia lalu memalingkan kepala melihat Yesung meminta penjelasan

Yesung berjalan mendekati keduanya, “Ia bisu—semenjak kedua orang tua kami meninggal” jelasnya. Bisa kulihat wajahnya sedih menceritakan hal itu

Ryeowook menunduk lagi, “Tapi kau sangat cantik—Miiko…” hiburnya seraya tersenyum manis ke Yesung

“Dia memang cantik—malaikat kecilku” kata Yesung setuju

Aku melihat pemandangan itu takjub. Mungkin sekaranglah saatnya..

Aku bersiap siap dengan panah yang menancap tegak lurus di busur, yak…1, 2, 3

Yes!! Berhasil!!

Mereka langsung bertatapan setelah itu—Mata Yesung membelalak heran dengan reaksi hatinya saat melihat wajah Ryeowook dari dekat

“Ah-aku belum tahu namamu?” tanya Yesung sambil mengulurkan tangannya, “Yesung”

“Aku Ryeowook” jawabnya—ia menghela nafas sejenak, gugup

Miiko dan aku tersenyum melihat mereka berdua—sangat dewasa, tidak seperti pasanganku yang kemarin.

*KyuMin : Hatchim!!*

“Kau darimana? Sepertinya aksen hangulmu sedikit aneh” Tanpa sadar Ryeowook mendekatkan bangkunya agar bisa lebih dekat dengan Yesung

“Ah-aku tinggal di Jepang, aku kemari hanya ingin mengunjungi nenekku” Yesung lagi lagi tersenyum

“Oh” hanya itu yang keluar dari mulut Ryeowook, Mereka kehilangan pembicaraan.

Miiko menarik tangan Yesung—meminta perhatiannya, “ada apa Miiko?”

Miiko menuliskan sesuatu, ‘ayo kita kerumah nenek’

“Ah iya, eh Ryeowook aku pergi dulu” walau mengucapkan begitu, aku bisa lihat ia kelihatan berat sekali meninggalkan wanita ini—yah jelas…kan dia jodohmu…

Ryeowook pun kelihatan kecewa, “oh, baiklah aku tidak akan menganggumu” ia beranjak berdiri—membenahi barang barangnya

“Tapi” panggil Yesung, “Kalau kau tidak keberatan…bolehkan aku meminta nomor teleponmu?” tanyanya hati hati—ck kau memang lelaki sejati, berani maju duluan gitu dong!

“Boleh.” Ryeowook menyerahkan handphonenya lalu bertukar dengan Yesung

“Sampai jumpa, nanti aku akan menghubungimu”

Ryeowook melihat kepergian Yesung dengan senyum manis yang belum pernah kulihat

***

Di SMA terkenal

“Ya siapa diantara kalian yang ingin maju?” tanya guru matematika di kelas Ryeowook, “Tidak ada? Hmmm baik! Ryeowook kau saja yang maju”

Ryeowook mendongak—berhenti melamun, “Maaf bu saya tidak menyimak, tadi ibu menyuruh saya apa?” tanyanya balik

Spontan anak anak sekelas heran dengan sikap Ryeowook—tidak biasanya ia tidak menyimak pelajaran, hahaha

“Ya!! Kau Kim Ryeowook, berdiri didepan kelas!! Kau dihukum karena tidak menyimak pelajaran saya” bentak gurunya

Ryeowook mengangkat bahu langsung menyetujui hukuman itu, ia berdiri di depan kelas sambil sesekali tersenyum

Bagaimana ia tidak tersenyum, tadi saat gurunya menerangkan Ryeowook mendapatkan sms dari Yesung, yang isinya ‘Aku ingin bertemu denganmu, tunggu aku nanti sehabis pulang sekolah di depan’

Aku berani bertaruh kalau Guru itu tidak menegurnya—pasti ia sekarang masih asyik melamunkan Yesung—belahan jiwanya

Ting Tong…bel pulang sekolah

Puncak di cinta ulam pun tiba, Ryeowook bernafas lega –masih tersenyum dan secepat kilat membenahi buku buku pelajaran yang berserakan

“Akhirnya” gumamnya pelan

Dengan tidak sabar, ia setengah berlari ke depan gerbang tempat Yesung sudah menunggunya, “sudah lama?” tanya Ryeowook salah tingkah

Yesung menggelengkan kepala, “tidak—ngg..mau kuantar pulang?” tawarnya

“Dengan sepeda?”

Yesung memang ke sini naik sepeda milik neneknya, “ah kau malu yah jalan bersamaku” Yesung mengucapkan itu sambil melihat ke arah anak anak lain yang rata rata bermobil

Aku jadi ragu nih? Apakah Ryeowook bisa menghilangkan sifat manjanya itu? Setahu ku ia paling anti naik kendaraan seperti ini….

“Kenapa harus malu? Adanya kamu tuh…kuat tidak memboncengku? Aku kan berat..” candanya

Wow—sebesar ini kah kekuatan cinta itu? Dimana Ryeowook yang manja?

Yesung menatap lembut Ryeowook kemudian mengelus tempat duduk di belakang jok sepedanya, “Silahkan nona”

“Sama sama” Ryeowook menaiki sepeda itu, “Siap?” tanya Yesung dari depan

“Siap!!”

Yesung mengendarai sepeda dengan pelan, aku tahu kalau ia sengaja melakukannya—hanya supaya memiliki waktu lebih lama bersama.

“Kau tinggal di Jepang?” tanya Ryeowook dari arah belakang

“Iya, aku kemari karena Miiko kangen dengan nenek—sebenarnya kami ingin mengajak nenek tinggal bersama tetapi kesehatannya tidak memungkinkan untuk berpergian jauh” jelas Yesung, ia masih bisa berbicara sambil mengayuh sepeda, padahal ini jalan memanjak lho—ck ck ia memang kuat yah

“Oh—eh berhenti disini, itu rumahku” tunjuk Ryeowook seraya turun dari sepeda, Yesung melihat bangunan apartment itu dengan takjub, “Wah—mewah sekali, kau tinggal disini?”

“Iya, mau mampir?” tawarnya

Yesung menggeleng menyesal, “Miiko sudah menungguku..” tiba tiba sikap Yesung berubah—ia menjadi agak canggung seperti tidak sabar ingin pergi dari tempat ini

Ada apa ya? Pikirku

“Sudah dulu ya” benarkan Yesung buru buru kembali mengayuh sepedanya tapi ditahan oleh Ryeowook, “Boleh besok aku berkunjung ke rumah nenekmu? Besok kan hari libur?” pintanya

Yesung menatapnya dengan ekspresi aneh, “tapi, rumah nenekku kecil—lagipula itu didaerah terpencil,”elaknya

Oh—aku mengerti!

Dan sepertinya Ryeowook sama mengertinya denganku, “apa maksudmu? Kau kira aku tidak mau kesana hanya karena rumah nenekmu kecil atau apalah??” ujar Ryeowook kesal, “memangnya aku orang seperti itu? Yang melihat orang dari kekayaannya!!” Ryeowook terlihat terluka dengan penilaian Yesung kepada dirinya, Ia berbalik lalu berjalan mau masuk ke dalam pintu apartement

“Tunggu” Yesung sempat menarik lengannya, “Maafkan aku” ucapnya sambil menarik tubuh Ryeowook agar berputar menghadap dirinya, “Jadi besok mau kujemput jam berapa?” tanyanya—kepala Yesung merunduk mencari cari wajah Ryeowook yang masih menunduk

Ryeowook mendongak sambil tersenyum, “pagi! Jam 9! Dan kamu ngga boleh telat” ucapnya senang

“Baik nona, aku akan menjemputmu tepat waktu” balas Yesung—masih memegangi tangannya

“Yesung?”

“Hmm?”

“Aku ingin masuk ke rumah”

“Oh ok, silahkan nona”

Ryeowook menaikkan alisnya sebelah, “tapi kau masih memegangi tanganku,”

“Oh” Yesung segera melepaskan tangannya, disampingnya Ryeowook tertawa kecil, “baiklah sampai besok”

“Bye”

Lalu mereka berdua saling memunggungi, Ryeowook masuk ke dalam pintu apartment sedangkan Yesung kembali mengayuh sepedanya

Aku akui mereka itu terlalu berbeda—tapi satu hal kesamaan mereka sekarang, wajah berseri seri tidak henti hentinya terukir, dan senyum bahagia sesudah pertemuan tadi, ah—pilihan Tuhan memang tidak salah, mereka layak untuk bersama

***

“Kau harus mengeluarkan tenaga lebih besar”

“Ugh…hmmm..”

“Ya! Pukul lebih kuat!!” seru Yesung menyemangati

“Hghh…sudah..huh…aku nyerah” ucap Ryeowook mengangkat tangannya, ia lalu menyerahkan pemukul itu kepada Yesung

Hihihi, aku senang melihat muka Ryeowook bersimbah keringat melakukan pekerjaan kasar ini, ah Yesung memang hebat hahaha

Ah—kalian tidak mengerti yah mereka melakukan apa? Seperti yang kalian tahu Ryeowook berkunjung ke rumah neneknya Yesung, disini Yesung ingin membuatkan mochi buatannya sendiri dan kalau dilihat lihat—huahahhaha susah sekali menumbuk mochi hingga lembut seperti ini hahaha—siapa suruh Wookie ingin mencobanya—huh sifat tidak mau kalahnya belum hilang juga

“Lebih baik kau duduk saja disini, gadis secantik dirimu tidak usah melakukan pekerjaan kasar itu” Nenek Yesung menggenggam tangan Ryeowook menuntunnya ke beranda rumah untuk duduk dan mengamati Yesung yang mengambil alih memukul mochi—disampingnya Miiko berputar putar seraya tersenyum memberikan semangat kepada kakakknya

Yesung terus memukul mukul Mochi sambil melirik ke arah Ryeowook, melihat senyumnya Yesung tambah semangat memukul mochi—hahahaha.. bisa aja nih mas Yesung

Setelah mochi sudah jadi, mereka semua makan bersama sama diberanda rumah. “Jadi kapan kau mau menikah?” tanya neneknya tiba tiba

“Uhuk…uhuk..” Yesung dan Ryeowook terbatuk bersamaan

Yesung mengelap mulut dengan punggung tangannya, “nenek, itu masih lama—aku belum memikirkan hal itu” ia berusaha keras tidak menatap Ryeowook

Wah!! Sip Nek,,,sepertinya kali ini bantuanku tidak dibutuhkan hahahaha

Neneknya menggeleng tidak setuju, “Tapi kau sudah cukup umur—lagipula kau butuh seseorang untuk membantumu di Jepang sana nantinya” Pandangan neneknya beralih ke arah Ryeowook, “memangnya kau tidak mau menikah dengannya?” tanyanya

Huahahahhahahah,,,aku suka nenek!! Teriakku, dia benar benar mengambil alih tugasku untuk menjodohkan mereka

“Hmmm” Ryeowook salah tingkah, ia menatap Yesung meminta bantuan, “bukannya tidak mau nek..” gumamnya pelan

“Apa? Aku tidak mendengarnya?” pancing nenek Yesung—aku tahu ia sengaja berbuat seperti itu

Wajah Ryeowook seperti kepiting rebus sekarang, “bukannya aku tidak mau” ucapnya lebih keras

Yesung berhenti mengunyah, ia amat terkejut mendengar jawaban dari Ryeowook. Senyum mengembang dari bibirnya, tapi itu hanya sedetik—mendadak wajahnya penuh kepedihan, seperti memikirkan sesuatu. Tapi apa?

Menjelang malam hari, Ryeowook pamit untuk pulang, dengan diantar Yesung memakai sepeda. Anehnya aku melihat Yesung mendiamkan Ryeowook sepanjang perjalanan—bahkan Ryeowook pun heran melihat sikapnya yang tiba tiba menjadi dingin

“Sudah sampai” ucap Yesung, ia langsung berbalik pulang, “Tunggu! Kenapa sikapmu berubah seperti ini! ada apa denganmu?!” tanya Ryeowook bertubi tubi

“Aku besok kembali ke Jepang” jawabnya masih tetap memunggi Ryeowook

Ah aku baru ingat—Yesung memang Cuma 2 hari berada di Korea, ia kan membeli tiket pulang pergi sekaligus dan tidak mungkin ia membatalkannya

“Kau? Kenapa tidak memberitahuku??” pekik Ryeowook sedih

“Karena…” Yesung menghela nafasnya, “Tadinya aku bahagia sekali bertemu denganmu, sungguh…aku bahagia melihat senyummu, melihat sikap kekanak kanakanmu..tapi…”

“Tapi apa?” Ryeowook sekuat tenaga menahan tangisnya, Aku pun tidak tahu kenapa sikap Yesung berubah seperti ini….

“Ucapan nenek tadi menyadarkan aku, kalau kita tidak mungkin bisa bersama” jelas Yesung, ia mengucapkannya perlahan—aku tahu kalau ia juga berat mengatakannya

Aishh, kenapa aku ikutan bersedih

“Hiks” Ryeowook menangis, ia sudah berusaha menahannya tapi—tetap saja, aduh..kenapa jadi begini?

Yesung membalikkan badannya, ia mendekati Ryeowook lalu menghapus airmata dari wajahnya, “Ku mohon jangan menangis, mengertilah…”

“Kau…hiks….menyuruhku tidak menangis, bagaimana bisa!!” tangan Ryeowook memukul tubuh kekar Yesung, namun Yesung menangkap tangannya lalu memeluk dirinya erat. Erat sekali—seakan akan tidak mau melepasnya

“Aku mencintaimu” jawab Yesung jujur, Ia membisikkannya, “Karena aku mencintaimu—aku tahu ini memang terlalu singkat untuk mencintai seseorang tapi…itulah kebenarannya”

Tangis Ryeowook makin meledak, ia menahan gemuruh di dadanya, “Kalau kau mencintaiku—kau tidak akan meninggalkanku seperti ini” balasnya

Hiks, Yesung!! Kau berhasil membuatku ikut menangis…hue…Dewi..

“Itulah sebabnya—aku tahu kau bercita cita masuk universitas ternama bukan? Kau harus berkonsentrasi menghadapinya—aku tidak mau menjadi penghalang bagimu” jelas Yesung, ia melepaskan pelukannya, mengangkat wajah Ryeowook—wajah orang yang ia cintai. Yesung menatapnya lama…lalu melepaskan tangannya

“Selamat tinggal…aku beruntung bertemu denganmu..ingat itu..” Yesung berbalik ke arah sepedanya lalu melaju menghilang dikegelapan malam, meninggalkan Ryeowook yang menatap nanar ke arahnya dan seorang cupid—aku yang tidak tahu harus berbuat apa sekarang

Di Bandara

‘Oni-chan, dimana kakak cantik itu?’ tanya Miiko lewat tulisannya, Yesung menunduk lesu lalu mengambil tulisan itu tanpa semangat, “Kakak cantik itu tidak akan datang kemari, sudah yah jangan ingat ingat dia lagi…ok?” pinta Yesung

Miiko merebut buku kecilnya sambil mendengus, ‘Oni-chan menyukainya’ tulisnya lagi

“Sangat” bisik Yesung..

Apa tidak ada yang bisa kulakukan? Aku harusnya senang—paling tidak Yesung sudah menyampaikan perasaannya..tapi…arghh aku benci berakhir sedih seperti ini, dan lagi dimana Ryeowook? Memangnya dia tidak mau melihat Yesung untuk terakhir kalinya apa?

Karena aku tidak melihat tanda tanda kehadirannya, aku pun terbang menuju tempat tinggal Ryeowook. Disana ia terbaring lesu di tempat tidur???

Apa?? Kenapa dia belum bersiap siap menuju bandara? Atau jangan jangan dia tidak tahu jadwal keberangkatan Yesung?

Ia menatap jam dinding, “jam 9.45, 15 menit lagi pesawatnya berangkat” gumamnya tanpa beranjak sedikitpun dari atas tempat tidur

Nah? Itu tahu?? Kok bukannya buru buru yah?? Biasanya kalau di film-film, peran wanita udah terburu buru menuju bandara untuk menemui kekasihnya? Lha ini malah ngga? Aduh….ayo dong….

Ryeowook berpikir keras, tiba tiba ia tersenyum..akhirnya sadar juga—tapi masih sempat tidak yah…

Ia bangkit berdiri, lalu menuju EH? Kok malah duduk di meja belajar???

Ryeowook membuka kembali catatan catatannya lalu mulai serius belajar…apa???

Kok?? Aku terkejut, apa jangan jangan dia…mengikuti pesan terakhir Yesung tadi malam? Aku melemaskan bahu—kemudian melihat jam dinding 9.52

Sudah..tidak akan sempat lagi….Semuanya selesai..disini….

***

6 Bulan kemudian

Aku sudah selesai mengerjakan tugasku—pasangan terakhir hari ini malah sudah bersiap siap menyiapkan pernikahan hahaa setengah jam setelah aku selesai membidik mereka dengan panah cintaku.

Hmmm…Aku sebaiknya melapor hasil kinerjaku hari ini kepada Dewi, dengan lega aku melebarkan sayap mungilku—bergegas menuju kebalik awan putih

“Terima kasih, lain kali kembali!!” teriakan seorang namja berhasil memberhentikan langkahku

Yesung??

Oh, ini kan memang di Jepang *cupid menepuk jidatnya sendiri*..sudah lama aku tidak melihatnya, kira kira hampir setengah tahun yang lalu..

Tidak ada salahnya kan aku mampir melihat keadaanya dulu, aku berbalik memutar ke arah kedainya yang semakin besar dan masih sesak dipenuhi pelanggan, ternyata kerja kerasnya membuahkan hasil—ia sekarang sudah memiliki beberapa pekerja, kulihat. Syukurlah

Tapi bagaimana keadaan Ryeowook yah? Ah aku malas harus terbang ke Seoul..soalnya aku masih kesal mengingat hingga akhir ia tetap tidak datang ke bandara.

Yesung kelihatan bersemangat, ia terus menerus turun tangan membantu para pekerja bahkan masih memasak sendiri takoyaki buatannya

Dari kejauhan ku lihat Miiko berjalan menuju ke kedai kakaknya, “Miiko!! Sayang…kenapa kau kemari? Bukankah Oni-chan sudah bilang kalau mau kesini telepon dulu, kan bahaya kau kesini sendirian” suara Yesung mendadak berubah tegas

Anehnya Miiko tidak kesal dimarahi kakaknya, bahkan ia masih saja terus tersenyum, ia mengambil notes dan menuliskan sesuatu ‘aku kesini tidak sendiri’

“Lalu dengan siapa?” tanya Yesung sesudah membaca notes itu

“Denganku” ucap seseorang—suara yang amat kukenal baik, Ryeowook!!

“Ryeowook!!” Yesung sama terkejutnya seperti diriku.

“Kau?? Bagaimana bisa kau kemari??” tanyanya

Bibir Ryeowook mengulas senyum, ia menunduk ke arah Miiko, “Kita berhasil membuat Oni-chanmu terkejut” Ryeowook bertos-ria dengan Miiko

“Wah, gadis kecilku sudah mulai nakal yah sekarang” Yesung mengangkat tubuh adiknya dan menggendongnya, “mau mengerjai oni-chan yah?”

Miiko tersenyum lalu berbalik menatap Ryeowook sambil mengelus pipinya

“Sebaiknya kita bicara diluar” ajak Yesung saat menarik tangan Ryeowook keluar kedai. Disana mereka berdua duduk di bangku ditaman dekat situ sedangkan Miiko asyik bermain ayunan taman

Ah aku tidak menyangka seberuntung ini melihat mereka berdua lagi, tapi pertanyaanku sama seperti Yesung, kenapa butuh waktu selama ini untuk Ryeowook menemuinya?

“Bagaimana kabarmu?” tanya Yesung berbasa basi—matanya tidak menatap Ryeowook, tetapi menatap ke arah Miiko, mungkin sambil menjaga adiknya itu

Ryeowook yang sadar Yesung menjaga jarak, menjadi kecewa—hmmm sepertinya ia berharap kalau Yesung senang melihatnya datang, “Baik, sepertinya kedaimu makin maju pesat yah” sekarang giliran Ryeowook yang berbasa basi

Yesung mengangkat bahu, “ya seperti itulah..”

Mereka terdiam kembali

“Kau tidak bertanya kepadaku, kenapa aku datang kemari?” suara Ryeowook membuka pembicaraan

Yesung menggeleng pelan, “Untuk apa..maaf aku sedang sibuk” ujarnya sambil bangkit berdiri ingin kembali ke kedainya

Lho? Kenapa dia seperti ini???

“Kau berubah” bisik Ryeowook ikut berdiri

Ini bagaikan deja-vu pada saat malam terakhir mereka bertemu, Yesung pun sekarang memunggungi Ryeowook. Lagi.

“Apakah sudah ada orang lain untukmu? Apakah aku terlambat?” Ryeowook melangkah mendekati punggung Yesung

Yesung menghela napas, “Kau kemari untuk menanyakan hal itu? Buang buang waktu saja” Ia berjalan meninggalkan Ryeowook masuk kedalam kedainya

Ini tidak mungkin!! Tidak mungkin ada orang lain untuk Yesung!! Sudah suratan takdir mereka berjodoh sejak aku memanah mereka….tapi….sikap Yesung selalu tidak aku mengerti

Wajah Ryeowook memanas, ia pun ikut masuk ke kedai Yesung lalu duduk disalah satu bangku pelanggan.

“Anda mau memesan?” tawar salah satu pegawai disana

“Yah, satu porsi takoyaki dan segelas teh ocha”

Yesung yang melihat Ryeowook duduk mendengus kesal, ia menghampiri mejanya dan duduk dihadapannya, “Kau sudah ku bil—“

“Aku kemari untuk memakan takoyaki milikmu” jawab Ryeowook tersenyum—tidak ia hiraukan Yesung melihatnya tajam

“Sebaiknya kau kembali ke Seoul—tidak artinya kau kemari, kau hanya—“

“Aku akan kembali ke Seoul, tapi nanti kalau liburan semester, itupun masih lama setengah tahu lagi, soalnya aku baru saja masuk kuliah kan” ucap Ryeowook dengan nada santai

“Ha? Apa?” Yesung terkejut, ia tidak mengerti maksud ucapan Ryeowook…yah sama dong aku juga ngga ngerti?

Kayaknya aku melewatkan sesuatu selama 6 bulan terakhir

“Aku diterima masuk universitas Hokkaido…setelah perjuangan yang panjang, fuih~ untung saja bisa—soalnya standar disana terlalu tinggi sih, aku saja yang pintar butuh waktu ditambah pula harus belajar bahasa Jepang…” jelas Ryeowook panjang lebar, tidak dilihatnya wajah Yesung yang berubah bahagia

“Kau tidak lupa pesanku?”

“tidak..tapi aku juga tidak mau kehilanganmu, aku berusaha keras menembus Jepang” Ryeowook mendekatkan wajahnya, “Itu hanya untukmu” bisiknya

“Ryeowook”

Ryeowook kembali menarik tubuhnya, “kecuali kau sudah punya seseorang, yah” ia membuang muka ke jendela disebelahnya, “berarti aku memang terlambat”

Oh—aku baru mengerti sekarang!! Ryeowook yang aku lihat malah belajar waktu itu karena ia berpikir ingin bersama sama Yesung disini—meskipun ia harus rela tidak melihat Yesung dibandara.

Yesung meraih kedua tangan Ryeowook, mengenggamnya rindu lalu membawa ke dalam dekapannya, “Tidak pernah ada orang lain, tadi aku hanya takut kau menyia-nyiakan masa depanmu untuk menemui diriku”

Ryeowook menatap lembut tautan tangan mereka, Ia mendongak melihat wajah Yesung, “Dasar bodoh—karena itu kau tadi bersikap dingin kepadaku?” Ryeowook mengeratkan gengamannya, “Kaulah masa depanku” lirihnya

“Tapi—“

“Aku tidak keberatan menjadi seorang istri pengusaha” Ryeowook mendelikan matanya-manja.

Yesung tertawa melihatnya, “kau tidak berubah—tetap menjadi gadisku—orang yang membuatku jatuh cinta” Yesung memindahkan salah satu tangannya untuk menyentuh wajah Ryeowook

Mereka bertatapan dalam diam—kata kata bukan satu satunya ungkapan cinta….aku tahu, mereka melihat cinta dari diri mereka sendiri yang tercermin lewat pandangan pasangannya.

Dan meskipun memakan waktu…misi keduaku akhirnya berakhir bahagia hehehe

©FLASHBACK END©

Hiks…*cupid mengelap ingusnya memakai tissu* sedih kan…jujur aku tadinya sudah menyerah dengan mereka berdua, tapi bahkan nasib pun tetap membuat mereka bersatu…

Hoammm jam berapa ini kenapa aku jadi mengantuk? *cupid mengecek jam*
Apa??? Sudah 3 jam kita berbincang yah..aduh aduh aku harus mengambil buku ‘jadwal cinta’ miliku yang ada di Dewi nih—hihi biasa, dia suka mengecek bagaimana kelancaran tugasku lalu menuliskan pasangan pasangan baru untuk ku jodohkan.

Hmm, sebaiknya aku terbang ke tempatnya untuk mengambil jadwalku kembali, eh terima kasih yah kalian tidak bosan bosannya mendengarkan ceritaku…kapan kapan lagi kita berjumpa, ok?

Bye

Salam penuh cinta, cupid ^^


THE END

7 responses to “≈ Behind the Scene of Love-{YeWook}≈

  1. miiko nya lucu banget~
    aku masih aneh sma Ryeowook kok bisa sih berubah n yesung juga~trs kok eonnie bsa bikin ff kyk gni sih…???jdi pengen bisa….

  2. Dalam sekejap, wookie berubah saat bertemu dengn yesung….

    Syukurlah mereka bersama…

  3. ini bener2 perjalanan panjang dan berat buat cupid…. Seoul-Hokkaido…haha

    pasangan yang berbeda dan bertolak belakang…tapi malah jodoh… ^_^

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s