≈ Behind the Scene of Love-{EunHae}≈

Hai!!!!! *cupid teriak pake toa*

Apa kabar? Aku kangen nih sama kalian semuaaa, terutama…ehem…sama tuh *nunjuk ke bawah* oleh oleh kalian hehehhe *sok nyengir polos*

Untung aja kalian datang disaat yang tepat—hari ini aku memang sedang senggang jadinya bisa menemani kalian mengobrol disini.

Ha? Apa? Kalian tidak sabar mendengar ceritaku?

Ow, baiklah ^^, sebentar *memulai membuka bungkusan coklat*…hmm tapi cerita kali ini tidak sebagus biasanya, tidak apa apa yah?

Tapi aku sendiri suka cerita cinta mereka, karena aku baru tahu tidak selamanya uang bisa memberimu kebahagiaan, benar kan?

Kalian tidak sabaran yah, jadi bermula dari…..

©FLASHBACK©

Aku membolak balikan catatan dengan sembarangan, jujur aku masih kesal dengan Dewi kemarin—seenaknya saja memberi tugas seberat itu, tetapi ia malah tersenyum sambil memuji cara kerjaku. Aku senang sih di puji oleh dia—tapi capeknya itu loh…..

Ah sudahlah daripada aku hanya menggerutu tidak jelas, lebih baik aku melaksanakan tugasku yang ke tiga, pasanganku hari ini. Ini dia

Lee Donghae :

Seorang wanita anggun berumur 22 tahun dari keluarga terhormat, sudah dijodohkan denga—apa???? Dia—hmm, siapa lelaki itu? Lee Hyukjae?

Aku melihat catatanku kembali, siapa tahu pasangan takdirnya sama dengan lelaki yang dijodohkan dengannya juga—kan menghemat biaya dan tenagaku, hihi

Lee Eunhyuk : *yah berbeda T_T*

Lelaki berumur 24 tahun, anak kedua dari 2 orang bersaudara, kakaknya Lee Hyukjae? Apa Hyukjae?!

Dia adalah adik dari tunangan Lee Donghae??

Well, aku baru tahu nasib mereka begitu dipermainkan, hmmm…3 orang kebetulan semuanya bermarga Lee….

Ck, aku berdecah kesal. Aku harus melihat mereka dulu sebelum memutuskan segala sesuatunya.

Kukembangkan sayap menuju ke tempat Lee Donghae, sepertinya tidak jauh dari sini, ah itu dia.

Rumah mewah yang disekitarnya ada taman taman apik yang memperlihatkan image tuan rumah, begitu berkelas. Aku terbang rendah menembus pintu depan lalu mencari cari, sepi amat nih rumah. Ah ternyata mereka semua berkumpul diruang keluarga.

“Kau akan segera kami nikahkan dengan tunanganmu, kemungkinan lusa” ujar seorang lelaki gagah—walaupun sudah berumur. Suara beratnya sangat khas dan memiliki wibawa—aku bisa langsung menebak kalau dia adalah ayah dari Lee Donghae

“Kau sudah siapkan?” tanya seorang wanita cantik—secantik anaknya namun lebih tua, Ia kelihatan lebih peduli dengan anaknya ketimbang pria barusan

Lee Donghae—tidak ada yang bisa kukatakan, Ia wanita yang memiliki kecantikan dan keangkuhan dalam waktu bersamaan. Wajahnya menarik tetapi tidak memperlihatkan emosi apapun atas perkataan Ayahnya

“Iya” jawabnya singkat

Ayahnya tersenyum puas, “Ayah memang selalu bisa mengandalkan dirimu, ingat pernikahanmu ini sangat berpengaruh bagi perusahaan kita, mengerti?”

Donghae mengangguk setuju

“Yah, biarkan Donghae tidur, mungkin dia kecapekan—apalagi besok kan dia harus vitting baju pengantin” bujuk Ibunya

Ayahnya mengerti, “baiklah, sebaiknya kau tidur—bersiap siap untuk esok” Ayahnya berdiri, menghampiri Donghae lalu mengelus kepalanya, “Ayah tahu, Ayah selalu bisa mengandalkanmu” Ayahnya tersenyum sayang kemudian beranjak ke arah barat rumah—hmm mungkin ke kamar tidur karena aku melihat Ibu Donghae pun mengikutinya.

Lalu tinggalah Donghae sendirian.

Wajahnya masih tanpa ekspresi—aku tidak suka melihatnya, ia kelihatan seperti mayat hidup. Sudah lewat beberapa menit, tapi Donghae masih belum bergerak dari duduknya. Wajahnya mengerut—bibirnya bergerak-gerak, matanya memincing sedikit.

Tess…

Airmata jatuh satu persatu turun melalui kedua pipi lembutnya, Ia menangis??

Donghae menahan isakannya dengan menggigit bibirnya sendiri dan menghela nafas berkali kali. Sekali lagi ia memejamkan matanya menahan airmatanya semakin banyak turun—tetapi tetap saja itu malah membuatnya makin tersiksa.

Ada apa sebenarnya? Tanyaku dalam hati

Aku menoleh lagi, kulihat dia sudah mulai bisa tenang, diambilnya sapu tangan dari kantung baju, dilapnya bekas bekas airmata. Donghae mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya.

Donghae mendongakkan kepala—tidak kelihatan seperti habis menangis. Ia memasang kembali topeng wajahnya, tanpa ekspresi kemudian bangkit berdiri menuju ke lantai atas—tempat kamarnya berada

Aku melihat kepedihan dalam matanya, tapi apa? Kenapa dia harus menangis sesedih itu? Apa karena dia tidak bahagia ditunangkan? Atau dia sudah memiliki orang lain?

Aku bertanya tanya dalam hati seraya terbang menuju kamarnya, jujur aku makin penasaran dengan Donghae. Di dalam kamar—Donghae ternyata sudah tertidur pulas, namun bahkan dalam tidur kenapa ia masih kelihatan begitu bersedih.

Sebaiknya aku simpan pertanyaanku besok, nah sekarang aku harus menuju tempat Lee Eunhyuk.

Di sebuah Pub

“Ya! Pelayan! Tambah wiskinya!!” teriak seorang namja di sebuah pub terkenal di Seoul, Siapa lagi pria itu kalau bukan Eunhyuk. Dia—dan beberapa teman lelakinya mabuk mabukkan dengan ditemani beberapa perempuan malam.

Eunhyuk berdiri sempoyongan menghampiri sosok lelaki yang malah menyendiri di pojok ruangan VIP itu, “Ayolah, ini kan pesta bujangmu, masakkan kau malah bermuram durja disini” katanya

Pria itu menatap Eunhyuk putus asa, “Ya! Kau sih enak, bukan kau yang akan menikah dengannya lusa!! Tapi aku!!” lirihnya pelan

Tunggu aku tahu dia siapa!! Lee Hyukjae tunangannya Donghae!! Ck ck beruntung aku bisa mengamati keduanya disini

Eunhyuk menepuk pundaknya pelan, “makanya Kakakku tersayanggg…ayo bersenang senang—ambillah beberapa gadis itu” tunjuknya ke beberapa gadis disana, “sebab nanti selepas menikah dengannya kau tidak akan bisa bebas lagi, hahahhahaha” Eunhyuk memegang perutnya menahan sakit akibat tertawa terlalu banyak—dasar itu pasti pengaruh alkohol.

Hyukjae menatap tajam ke arah Eunhyuk, “Kau! Kau tidak tahu betapa dinginnya dia!! Memang dia cantik, tapi—ah…kau tidak akan tahan berhadapan atau hidup bersamanya” Hyukjae memeluk kedua lutut seakan akan dia divonis mati

Kedua orang ini, Hyukjae dan Donghae sama sama tidak suka dijodohkan. Bagus kan? mempermudah tugasku sekarang.

“Ah kau terlalu berlebihan, kalau kau sih mau mau saja, asal dia cantik” gumam Eunhyuk enteng seraya meneguk satu lagi vodka
Kakaknya mengangkat sebelah alisnya, “Yakin?”

“Kenapa tidak?”

Aku mundur dari tempat itu—sulit bernafas diruangan penuh dosa seperti itu *cupid sok suci nih* lalu terbang makin tinggi ke atas, Aku mengembangkan sayang—terbang tanpa tujuan.

Donghae—dia terlalu menyimpan rahasia, menanggung semuanya sendirian sedangkan Eunhyuk—easy going dan selalu bersenang senang dengan wanita lain.

Ditambah lagi Kakaknya dan Donghae akan menikah lusa—rabu besok, yang artinya aku harus membuat mereka bertemu dan jatuh cinta sebelum hari pernikahan. Dan itu tidak mudah.

***

Esoknya

Aku harus menyusun rencana pertemuan mereka, hmm bagaimana kalau aku membuat Eunhyuk mendatangi butik pengantin yang akan didatangi Donghae? Atau membuat mereka tabrakan di jalan?

Aku mencoret coret rencana rencana itu di buku kecil milikku, aku harus mengukur seberapa besar keberhasilan rencanaku itu sambil menimbang kekuatanku pula.

Ah, mungkin aku bisa menyeret Eunhyuk ke butik itu, lagipula ibunya Donghae tidak akan curiga dengan ‘calon’ adik iparnya Donghae kan?
Hehehe—aku tersenyum senang, sebaiknya sekarang aku kembali ke rumah megah itu. Tunggu aku Donghae!

“Kau sakit?” tanya Ibunya saat Donghae turun dari tangga—mereka telah selesai bersiap siap untuk ke butik pengantin.

“Tidak, memangnya kenapa Ma?” tanya Donghae heran

Ibunya mengelus wajahnya sekilas, “mukamu pucat”

Donghae memeriksa wajahnya sebentar lalu memasang wajah hampanya lagi, “Mungkin karena aku kurang tidur—tadi malam aku terlalu bersemangat untuk rencana hari ini” katanya

Bohong? Dia berbohong?! Jelas jelas Donghae menangis semalam

Raut muka Ibunya yang tadinya cemas berubah senang, “Ibu tahu—kau memang ingin menikah dengan Hyukjae kan? tadinya Ibu khawatir kalau kau terpaksa melakukannya…tapi sekarang semuanya sudah jelas” Ibunya tidak berhenti tersenyum

Ia menggandeng tangan putrinya keluar rumah lalu masuk kedalam mobil mewah untuk pergi ke butik itu

Aku menggelengkan kepala heran—kenapa manusia suka sekali berbohong tentang perasaannya sendiri?

Ah, lebih baik aku menemui Eunhyuk secepatnya.

Aku membalikkan tubuh lalu terbang menembus awan dari balik cahaya matahari *authornya makin waras nih*

Eunhyuk…Eunhyuk….itu dia!

Aku terbang menuju ke arahnya yang sedang tidur pulas di sebuah apartment mewah. Eunhyuk membuka matanya pelan—menguceknya lalu bangun dari kasur…ha!

Ia telanjang bulat!

Dengan santai Eunhyuk melangkahkan kakinya ke kamar mandi kemudian pergi ke dapur membuatkan kopi se—eh tidak dua cangkir?

Satu lagi untuk siapa? masa untukku? *cupidnya pede banget*

Ia menyelemuti tubuhnya dengan jas mandi lalu mengguncangkan kasur?

Di balik selimut putih tebal itu—menyembul sosok perempuan tanpa baju juga, oh well…… *cupid mulai mengerti keadaannya*

“Thanks yah untuk tadi malam” kata Eunhyuk ketika menyerahkan secangkir kopi untuk perempuan itu yang diterimanya dengan senang hati, “tidak apa apa, telepon aku. Kalau kau butuh ditemani lagi” perempuan itu mengedipkan matanya—genit!

Bulu kudukku merinding, iih—dasar perempuan tidak tahu malu!! Ini juga sih Eunhyuk! Apa dia ngga tahu perbuatannya itu salah?! Entah kenapa aku malah mengutuki kedua orang dibawahku ini!! habis kesal sih!

“Mau kemana kau hari ini?” tanya perempuan itu selagi menghabiskan isi cangkir milikknya

“Aku harus ke perusahaan, menggantikan kakakku yang sedang dibebastugaskan” Eunhyuk melirik penuh senyum ke wanita itu, “kau tahu tidak besok dia akan menikah” katanya sambil tertawa

Wanita itu ikut tersenyum penuh tawa, “kasihan sekali dia” Ia menggelengkan kepala—sok berbela sungkawa, hei?! Hello?! Sebegitu burukkah suatu pernikahan?!

Eunhyuk duduk di sofa kamarnya yang empuk, “Iya, memang kasihan—semua kesenangan hidup akan hilang seketika, ck ck ck tapi paling tidak dia beruntung” Eunhyuk memutar arah kepalanya menengok ke perempuan itu lagi, “calonnya cantik”

Wajah perempuan itu menekuk—kesal, “lebih cantik dariku?”

“Kau cemburu?” Ia tersenyum ringan, “ingat kita tidak ada hubungan apa apa, jadi jaga sikapmu” suaranya tiba tiba menjadi mengancam—terang saja perempuan itu takut, aku saja merinding. Aku tidak menyangka, lelaki playboy seperti dia punya wibawa juga.

Eunhyuk kembali tersenyum, perempuan itu mendesah lega. “Dia memang cantik, jauh lebih cantik darimu” ucapnya dan kali ini perkataannya tidak disanggah lagi.

Baguslah kau memujinya, apalagi tadi malam sepertinya Eunhyuk tidak keberatan jika harus berjodoh dengan Donghae, hmm kau membuat pekerjaanku jauh lebih mudah. Batinku

Di Butik Spring

“Gaun ini bagus” kata Ibunya Donghae dengan semangat, ia bahkan sudah mengurutkan beberapa gaun untuk dicoba kembali. Betapa bahagianya ia melihat putri sekaligus anak satu satunya menikah, sayangnya perasaan Donghae malah sebaliknya.

Ia memang sesekali tersenyum dan mengangguk menyetujui semua pilihan ibunya—tapi aku tahu, Donghae melakukan hal itu hanya untuk mempercepat pemilihan gaun. Ia tidak ikut menikmatinya

Aku berputar disekelilingnya berusaha melihat lewat kedua mata coklatnya—bagaimana perasaanmu sebenarnya Lee Donghae?

Mata adalah jendela hati, pribahasa itu tidak salah, dari matanya yang sesekali memelas, memutar bola matanya—bosan. Mata Donghae lebih banyak berbicara daripada ekspresi mukanya yang datar datar saja

Tenang saja Donghae,, tak lama lagi kau akan kubuat berbahagia—tentunya dengan jodohmu yang telah kusiapkan. Aku membisikkan kata kata itu ke telinganya, aku tahu itu percuma..namun, sekali saja aku ingin melihatnya tersenyum. Tulus.

Aku harus melakukan sesuatu, dan sudah kupersiapkan. Tadi sebelum aku kemari, aku sudah menyihir salah satu pegawai toko bunga untuk menuliskan pesanan untuk pak Lee Hyukjae, hmmm pasti sekarang bunga itu sudah sampai dikantornya, lebih baik aku ke sana untuk menjalankan rencanaku berikutnya

PT Lee Corporation

Eunhyuk terlihat sibuk memerintah beberapa karyawan—sambil berteriak tidak puas, semua pekerjaan kakaknya dihandle sendiri. Tak hanya itu, Eunhyuk juga merancang ulang desain gedung milik kliennya.

Ck ck ck sekarang aku tahu ternyata Eunhyuk pekerja keras, ia memang suka main perempuan tetapi dedikasinya terhadap pekerjaan? Hmm…kau tidak akan menyangka.

“Pak?” suara pegawai pria saat memasuki ruangan Eunhyuk, “Ya?” tanyanya dengan nada resmi—nada suara yang amat berbeda saat di pub tadi malam.

“Ada kiriman bunga datang—katanya Pak Hyukjae memesannya”

“Pesanan bunga?” tanya Eunhyuk

“Iya, katanya Pak Hyukjae memesannya untuk diberikan kepada calon istrinya—Donghae. Ini pak ada kartu ucapannya juga” Pegawai itu membawa masuk satu rangkaian bunga mawar merah yang mengelilingi satu tangkai bunga mawar putih ditengahnya. Aku tersenyum. Ini sesuai bayanganku

Eunhyuk menerima bunga itu dengan bingung namun kemudian dia menelepon seseorang disebrang sana, “Shin—masuk ke ruangan saya sekarang” perintahnya

Tak lama kulihat, seorang pria muda cukup tampan masuk menemui Eunhyuk, “bapak memanggil saya?”

“ya, tolong sampaikan bunga ini ke Nona Donghae, setahuku dia ada di Butik Spring tak jauh dari sini, kau boleh menggunakan mobil kantor seijinku” kata Eunhyuk sambil menunjuk karangan bunga megah itu

Apa? Aduh?? Kenapa dia ngga mengantarkan sendiri?! Padahal kukira Eunhyuk pasti mau mengantarkannya

“Dan bilang kepada beliau, aku dan kakakku tidak bisa menyampaikannya sendiri. Aku sedang sibuk” katanya seraya kembali tenggelam mengerjakan desain untuk klien

Yah..kenapa aku tidak kepikiran itu? Memang sih dari tadi aku lihat dia begitu sibuk—tidak mungkin Eunhyuk meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengantar bunga?

Wew..bodohnya diriku. Rencana pertamaku gagal total!

Tapi, aku kan punya rencana cadangan, ucapku sumringah. Ya! Ayo semangat!!

Aku terbang menghampiri Donghae sekali lagi untuk mematangkan rencanaku, pokoknya kali ini aku tidak boleh gagal!

“Gaun ini cocok, bagaimana menurutmu sayang?” untuk kesekian kalinya Ibunya menanyakan hal yang sama dan untuk kesekian kalinya juga Donghae mengangguk, menggumam, atau berkata, ‘ya yang ini juga boleh’ tanpa ekspresi.

“Sweety, kau tidak bahagia yah? Mukamu dari tadi pucat” kata Ibunya sambil memeriksa kening Donghae.

Ia menggeleng, lagi. “Tidak ma, aku cuma kecapekan—lagipula semua gaun gaun ini memang bagus, aku sendiri bingung memilihnya” sahutnya

“Baiklah, biar Mama yang memilihkan untukmu” Dengan penuh semangat Ibunya memilah 2 dari 3 baju kandidat dihadapannya. Nah sekarang saatnya aku menjalankan rencana kedua.

Aku mengarahkan jemari mungilku ke arah Ibu Donghae, ku jentikkan..Ting!

Mata Ibu Donghae membelalak terkejut, dan seperti terhipnotis *aku bukan dady cobuset lho* Ia mendekati Donghae yang sudah berganti baju, “kau pergilah ke perusahaan Hyukjae” perintahnya, hihihi reaksi dari sihirku ini

“Ha?” tanya Donghae, “Apa maksud mama?”

“Kau seharusnya lebih dekat dengan bakal calon suamimu sendiri ya kan? apalagi dia sudah membelikan bunga secantik itu” tunjukknya ke arah bunga mawar yang sudah sampai itu.

“Sudah sana pergi ketempatnya sekarang juga, urusan gaun—percayakan sama mama, ok?” Ibunya mendorong dorong Donghae keluar butik dan meskipun kebingungan Donghae menuruti kemauan Ibunya. Ia memanggil taksi yang melaju ke PT Lee Corporation

Yes!! Setengah rencanaku berjalan tanpa hambatan

Tak lama kemudian sampailah Donghae di perusahaan keluarga calon suaminya itu, ia turun lalu ke atas menggunakan lift yang menuju ruang kerjanya Hyukjae tanpa dia tahu bahwa Eunhyuk yang sedang berada disitu, nah sesudah mereka bertemu aku tinggal memanahkan panah cintaku dan Tadaa! Masalah selesai!

“Pak Hyukjaenya ada?” tanya Donghae sopan kepada sekretaris di depan ruang kerja Hyukjae.

Udah masuk aja, ngapain pake ijin, aku sudah ngga sabar ingin memanah nih—sebelum terlambat. Besok kan dia sudah menjadi istri orang lain, dan itu melanggar kode etik jika aku membidiknya saat Donghae masih berstatus menikah.

Aduh makanya Dewi, jangan ngasih tugas mepet kayak gini kek, dengusku sebal.

“Oh, pak Hyukjaenya sedang tidak ada ditempat bu, tadi digantikan dengan Pak Eunhyuk—tapi beliau juga sedang keluar, meeting dengan klien” jawab sekretarisnya

Ha? Eunhyuk ngga ada?!

Aku terbang menembus kaca pintu ruang kerjanya, dan benar—dia tidak ada!!

Aku menepuk dahi—kesal, dua duanya rencanaku gagal!

Gimana nih?? Pekikku keras

“Hmm baiklah saya pulang saja, sampaikan salamku kepada Eunhyuk dan Hyukjae” suara Donghae terdengar—langkah kakinya berbunyi menjauh, yah dia pulang deh

Berarti aku terpaksa membidik mereka tepat sebelum dilaksanakannya upacara pernikahan—tapi kalau begitu banyak pihak yang akan tersakiti dan sudah bisa dipastikan aku akan mengacaukan acara sakral itu.

Tapi—aku benar benar tidak ada pilihan lain! Batinku, lebih baik mencoba dibanding tidak sama sekali! Ya lebih baik begitu!
Aku kembali terbang tinggi menjauhi dunia manusia seraya menyusun rencana terakhirku dengan matang dan tidak boleh ada kegagalan lagi. Ini menyangkut kebahagiaan seseorang.

***

Hari Pernikahan
Lee Hyukjae & Lee Donghae
Di gereja St. Christie

Aku kemari dengan perasaan bersalah, bagaimana tidak—aku akan membuat rencana untuk menggagalkan sebuah pernikahan, padahal tugas cupid kan mempersatukan bukan memecah belah? Ah tapi ini kan suratan takdir—aku tidak bisa berbuat apa apa kecuali melakukan apa yang sudah tertulis, kok aku jadi ngomong sendiri sih? Lebih baik aku mencari Donghae di ruang rias pengantin.

“Kau cantik sekali sayang” Ibunya merengkuh Donghae dalam pelukannya, ia terharu melihat putri kecilnya akan menikah. Disampingnya Ayah Donghae mematung—memasang sikap kaku, hmmm…sekarang aku tahu darimana sikap Donghae yang tanpa ekspresi ini

Selesai Ibunya memeluk, sekarang giliran Ayahnya maju mendekati putri tunggalnya, “Kau” ia mengusap lembut puncak kepala Donghae, “Kau selalu menjadi kebanggaanku, Donghae” ucapnya kemudian memeluk Donghae dengan canggung.

Sekilas kulihat raut mukanya Donghae berubah—lebih bercahaya, “Aku tidak akan membuat kalian kecewa” katanya pelan—pelan sekali.

Sebaiknya aku membiarkan momen ini untuk mereka dan menuju ke gereja, tempat Eunhyuk dan keluarganya berkumpul.

Di sana semua bangku sudah penuh dengan para undangan, semua dari kalangan elit pengusaha hingga orang terhormat—pejabat tinggi negara. Itu tidak mengherankan jika kau adalah anak dari perusahaan desain terkemuka dan perusahaan properti terbesar di Korea.

Disisi paling depan kulihat Eunhyuk telah bersiap siap bersama dengan beberapa pria sebagai pengiring pengantinnya, tapi bagaimana caranya aku menyuruhnya keluar yah lalu bertemu dengan Donghae? Apa sekarang saja?

Aku sedang bersiap siap menjentikkan jariku saat melihat Eunhyuk keluar dari gereja dengan sendirinya sambil menelepon seseorang, namun wajahnya terlihat gelisah. Ada apa?

“Dasar idiot!! dimana kau sekarang?” ucap Eunhyuk memaki maki peneleponnya

“Kutanya dimana kau sekarang? Jangan jadi pengecut!!!” katanya dengan kasar, Ia memegang kepalanya lalu kembali mengumpat, “Kau?! Dasar banci!! Pengecut!! Kau bukan saudaraku lagi!!” Ia menutup teleponnya lalu berbalik ke dalam gereja

Jujur aku masih belum tahu kenapa dia seperti itu?

“Ma?” bisik Eunhyuk

Seorang wanita berumur didekatnya menoleh kepadanya, “Ada apa Eunhyuk?” balasnya

“Aku mau bicara dengan Appa dan Umma diluar” pinta Eunhyuk, meski bingung kedua orangtuanya pun menurut, mereka sekeluarga keluar dari gereja.

Eunhyuk menghela nafasnya—berat, “Appa, Umma…Hyukjae…dia pergi” ucapnya perlahan.

“Apa? Kau jangan bercanda Eunhyuk!” Appanya berteriak kesal

Ha? Hyukjae kabur?

“Aku tidak bercanda Appa!! Telepon saja dia!! Tapi mungkin tidak diangkat?! Ia terlalu pengecut!!” Eunhyuk sudah tidak bisa meredam emosinya sendiri

Appanya tertunduk, sedangkan Ibunya mulai terisak menangis, “kenapa dia melakukannya? Padahal tadinya Hyukjae setuju saja” ucapnya

Eunhyuk menggeleng lalu mengangkat bahu, “Terakhir kali kami bertemu—dia memang terlihat ragu, tapi kukira itu cuma kecemasan sesaat, aku tidak menyangka dia berbuat sejauh ini”

Appanya mendongak melihat ke arah istri dan anak laki lakinya, “kita harus beritahu keluarga Lee Donghae”

Masalah sekarang bertambah, seharusnya aku senang karena mereka berdua tidak menjadi menikah—tapi aku…entahlah….sebaiknya aku mengikuti mereka masuk ke ruangan dimana Donghae sudah bersiap siap.

“Apa?! Benarkah itu Ji Jooh-shi?!” Ayahnya Donghae terguncang saat mendengar berita kepergiaan Hyukjae, mereka masih merahasiakan ini dari para undangan. Eunhyuk telah menyuruh teman temannya untuk memberitahu pendeta untuk menunda upacara pemberkataannya.

“Saya betul betul minta maaf” Appanya Eunhyuk membungkuk dalam dalam, Ayah Donghae menghampirinya lalu mengangkat tubuh pria itu, “sudahlah, lebih baik kita cari solusinya” nasihatnya seraya berpikir

Diujung kulihat Donghae ikut terguncang—tapi sekali lagi dia berhasil menahan emosinya, topeng hampanya terpasang kembali

“Appa” panggil Eunhyuk yang datang dari gereja, “aku sudah mengatur semuanya—dan para undangan kuminta untuk menunggu sebentar”

Aku salut padanya, meskipun dia playboy. Eunhyuk jauh lebih bertanggung jawab dibandingkan kakaknya itu

“Terima kasih Eunhyuk” kata Ayahnya

Ayah Donghae yang melihat Eunhyuk tiba tiba menyeletuk, “bagaimana kalau aku menikahkan Donghae dengan Eunhyuk saja?” katanya

Apa? Teriakku

“Apa?” Eunyuk pun sama terkejutnya denganku. Orang tua Eunhyuk melirik sekilas ke arah Donghae yang masih berdiam diri lalu melihat ke orang tua Donghae.

“Tapi…” Eunhyuk kehilangan kata katanya, Ayahnya berjalan mendekati Eunhyuk, “Eunhyuk,, Appa mohon..” Dia menangkap kedua bahu anaknya lalu menundukkan kepala, sekali lagi. “Appa mohon..” ia mengucapkan itu dengan dada yang terguncang

Eunhyuk yang tidak tega melihat orangtuanya memohon seperti itu—mengangkat tegak tubuh Ayahnya, “Appa..jangan seperti ini”

Ayah Donghae juga ikut menghampiri mereka, “tetapi inilah satu satunya cara agar kami berdua tidak mendapat malu, para undangan disana—ada para klien kami dan orang orang penting perusahaan..Adjushi mohon Eunhyuk, menikahlah dengan Donghae” pintanya dengan raut wajah sedih.

Kutatap Eunhyuk yang bingung melihat dua pria besar dan berwibawa memohon kepadanya, Ia menatap ke arah Donghae sejenak. Disampingnya Adjumma—ibu Donghae mengelus sayang anaknya itu.

“Eunhyuk, Umma mohon” bisik ibunya disamping dirinya

Eunhyuk memejamkan mata, berpikir keras seperti menimbang sesuatu yang berat. “Baiklah aku bersedia” ucapnya pelan. Ia melihat ke arah calon istrinya yang terkejut mendengar perkataanya.

“Terima kasih” ucap Ayahnya, Ayah Donghae tersenyum menahan haru—tak terucap kata kata yang sesuai. Eunhyuk telah menyelamatkan harga diri dua keluarga.

Apa ini yang namanya jodoh, tanpa aku turun tangan pun mereka tetap bisa bersatu. Aku menggeleng kepala heran, namun aku tetap senang. ^^

“Nah sekarang lebih baik kalian siap siap dulu, Eunhyuk temui kami di altar yah” ucap Ayah Donghae, dengan segera Eunhyuk dan kedua orangtuanya keluar menuju ke dalam gereja, Ibu dan Ayah Donghae berada didalam, disamping Donghae.

“Kau tidak apa apa? Maaf…ini semua—“

“Tidak apa apa Appa, mungkin ini yang terbaik” ucap Donghae, suaranya sedikit menahan emosi, entah gembira atau makin bersedih?

Ayahnya mengangguk mengerti, “Terima kasih….nah sebaiknya kau bersiap…Ayah dan Ibu akan menunggumu di depan gerbang gereja” Ayahnya menggandeng tangan Ibunya lalu melangkah keluar ruangan, meninggalkan Donghae sendiri

Aku berbalik melihat wajahnya yang masih tanpa ekspresi, Donghae berdiri menghadap ke cermin besar di pojok ruangan. Ia meraba gaun putihnya yang indah kemudian menatap dirinya sendiri dalam pantulan cermin.

Matanya terpejam sesaat dan saat ia membuka matanya, butir butir air mengalir ke wajahnya. Donghae menangis, ia menangis lagi.

Kali ini Donghae tidak menahannya, ia mengeluarkan semua beban dalam dirinya melalui airmata itu. Ia menunduk berlutut masih terisak cukup kencang.

“Aku pasti bisa….aku harus bisa….” Ucapnya diantara suara tangis. Donghae memeluk dirinya sendiri—menjaga dirinya dari kerapuhan yang selama ini dia tahan.

Ia kelihatan begitu tidak berdaya—ada apa denganmu? Bisikku percuma, Donghae tidak akan bisa mendengarnya

“Permisi, aku disuruh—“ suara Eunhyuk terdengar memasuki ruangan ini, melihat ada orang lain—Donghae menghapus airmatanya dengan cepat sambil bangkit berdiri

“Maaf? Tadi kau mencari apa?” jawab Donghae sambil menyembunyikan wajahnya dari tatapan aneh Eunhyuk

“Kau menangis?” tanya Eunhyuk seraya mendekati Donghae

“Tidak” Donghae kembali memasang topengnya, “tadi kau mencari apa? Mungkin aku bisa membantumu?” secara gelagapan Donghae mencari cari keliling ruangan, ia berusaha menghindari Eunhyuk yang berjalan mendekatinya

“Kenapa kau menangis? Apa gara gara kakakku?” tanya Eunhyuk sekali lagi, ia menarik tangan Donghae yang beranjak menjauhinya

“Tidak, ini bukan apa apa. Sudah tradisi pengantin perempuan menangis di hari pernikahannya” jawab Donghae masih memalingkan wajahnya dari Eunhyuk

“Maaf” ucap Eunhyuk, “Aku tahu kau pasti terluka” Ia menatap kasihan Donghae

“Tidak” ucapnya angkuh

Eunhyuk tidak menghiraukan ucapan pedas Donghae, ia menggenggam kedua tangan Donghae lembut, waktu Donghae ingin memprotesnya Eunhyuk memotong ucapannya, “Aku mungkin bukan calon suami yang baik untukmu, tapi ijinkan aku untuk menikahimu” kata Eunhyuk pelan—menatap kedua mata Donghae yang dingin

Ow, kenapa aku yang deg degan yah, Mungkin ini saat yang tepat, bersiap siaplah kalian.

Aku mempersiapkan busurku lalu mengambil salah satu panah, Ya…..

JLEBBB

Hmmm, lagi lagi tepat sasaran hahaha…..

Panahku mengenai wajah mereka lalu meresap lebih dalam ke jiwa Donghae dan Eunhyuk. Tapiii sekali lagi Donghae berhasil menutupi reaksinya, Ia memasang wajah tanpa ekspresi seperti biasanya lalu berkata, “Lebih baik kau kembali ke gereja, mereka semua sudah menunggu kita” jelas Donghae sambil melepaskan pegangan tangan Eunhyuk

Mata Eunhyuk membesar lalu menoleh ke Donghae, “baiklah” ucapnya—Ia kelihatan tidak siap dengan panah cintaku ini hehehe, Eunhyuk bergegas menuju pintu keluar namun sejenak ia berbalik seraya tersenyum ke Donghae, “Aku menunggumu di altar Putri Salju” godanya

Mata Donghae melotot kesal ke arahnya, namun ia akhirnya merapikan kembali gaunnya lalu mengambil rangkaian bunga untuknya dan berjalan mantap keluar dari ruangan ini.

Aku terbang mengelilingi putri ini, Donghae berjalan anggun menghampiri Ayahnya yang sudah menunggunya di depan gerbang gereja, “Kau siap?” tanya Ayahnya seraya membawa tangan kanan anaknya ke dalam pangkuan siku nya

“Aku siap” jawab Donghae dengan nada biasanya—hampa

Mereka berjalan beriringan saat mars pernikahan mengalun lembut membahana di seluruh ruangan gereja. Mata Eunhyuk menatap calon istrinya dengan pandangan lembut namun ia menggelengkan kepalanya pelan lalu memasang wajah se profesial mungkin—wajah yang kulihat saat Eunhyuk menghadapi klien. Hmmm ternyata baginya pernikahan ini tidak lebih dari sebuah bisnis yah. Kita lihat saja nanti.

Donghae sampai di depan altar dengan anggun, Ayahnya menyerahkan tangan Donghae secara simbolis kepada Eunhyuk yang menerimanya kemudian menuntunnya berlutut dihadapan pendeta

“Lee Eunhyuk, maukah kau menerima Lee Donghae dalam susah maupun dalam senang, dalam segala kondisi yang memungkinkan kalian untuk menyatakan berpisah, apakah kalian cukup kuat untuk mengatakan jika kalian bisa setia hingga hanya maut yang memisahkan kalian?”

“Ya saya bersedia” jawab Eunhyuk mantap, Ia mengambil tangan Donghae yang bebas disampingnya. Donghae bingung melihat sikap Eunhyuk namun lagi lagi ia bisa mengendalikan emosinya

“Lee Donghae, maukah kau menerima Lee Eunhyuk dalam susah maupun senang, dalam segala kondisi yang memungkinkan kalian untuk menyatakan berpisah, apakah kalian cukup kuat untuk mengatakan jika kalian bisa setia hingga hanya maut yang memisahkan kalian?”

Donghae menahan nafasnya kemudian berkata, “saya bersedia”

Pendeta itu menumpangkan tangannya seraya memberkati mereka berdua, “aku memberkati kalian sebagai pasangan suami istri” Pendeta itu mengangkat tangannya, menyuruh mereka berdiri, “sekarang kau boleh mencium pasanganmu” ucapnya seraya tersenyum

Untuk pertama kalinya aku melihat Eunhyuk begitu berbahagia, ia meremas gengaman tangan mereka berdua yang sedari tadi tidak dilepasnya, lalu menunduk sedikit ke arah Donghae yang masih kaku—Eunhyuk mengambil alih semuanya, Ia menciumnya istrinya dengan lembut.

Donghae mengerjap sejenak saat merasakan bibir Eunhyuk bersatu dengan bibirnya, Donghae pun larut dalam momen indah ini. Mereka berciuman dengan penuh cinta.

Yah walaupun aku berani taruhan kalau mereka berdua masih belum menyadarinya

Eunhyuk melepaskan ciumannya, Donghae langsung menghirup udara kencang—ia masih terhanyut oleh ciuman Eunhyuk. Wajahnya berubah?! Di kedua sisi ada semburat merah merekah keluar, akhirnya dia kelihatan lebih hidup

Eunhyuk pun tersentak melihat muka Donghae memerah, Ia mengelus lembut pipi Donghae sambil berbisik, “Kau cantik sekali Putri salju” ia terkekeh lalu berdiri menjauh

Donghae menatap kesal namun tidak menghilangkan merah di wajahnya

“Ah, kok pengantinnya malah asyik sendiri sih” sindir para pengiring pria yang sebagian besar teman dari Eunhyuk ketika menyelamati mereka, orang tua dari kedua belah pihak pun menghampiri mereka penuh rasa haru. Ayah Donghae tak henti hentinya memeluk erat putri kebanggaannya dan membawa pasangan berbahagia itu ke sebuah taman di luar gereja yang sudah disulap menjadi tempat pesta.

“Silahkan, kalian menjadi pedansa pertama” ucapnya seraya mendorong mereka berdua ke atas panggung.

Eunhyuk menarik Donghae dalam pelukannya lalu berputar putar berdansa di iringi lagu This Love Angela Aki, sangat sempurna. Ya mereka memang pasangan yang sempurna.

“Kau berbahagia putri salju?” tanya Eunhyuk sambil tetap berdansa

Donghae menatap Eunhyuk lama, merasakan udaranya bercampur dengan nafas Eunhyuk—ia merasa sesak di dada, namun sekali lagi ia menekan emosinya sedemikian rupa. Ada apa sebenarnya dengan Donghae?

“Kenapa kau selalu memanggilku begitu?” tanya Donghae angkuh

Eunhyuk mendekatkan wajahnya—spontan Donghae membuang muka. Eunhyuk tersenyum melihat reaksinya, “karena kau terlalu dingin, angkuh sekaligus cantik. Kau putri salju untukku” bisik Eunhyuk tepat ditelinga Donghae.

Ia membawa Istrinya melaju satu putaran dansa lagi—menutup pesta dengan meriah dan bahagia, yah setidaknya bagi pihak dua keluarga itu.

Malamnya

Di Hotel Crystal, di kamar suit president yang mewah kulihat Eunhyuk menggendong Donghae selayaknya pengantin baru memasuki hidup baru mereka. Ia meletakkan dengan hati hati tubuh Donghae diatas kasur berukuran King Size lalu Eunhyuk berlutut dihadapannya.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya seraya melakukan kontak langsung ke dua mata Donghae, “Baik” jawabnya singkat. Eunhyuk mendesah kalah, “sebaiknya aku mandi dulu baru setelah itu kau ya, dilemari Adjumma sudah membelikan baju baru untuk kita” sarannya yang masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Donghae.

Ah aku benar benar tidak tahu perasaanmu Donghae, ia hanya mengusap kedua tangannya gugup, matanya berputar putar mengelilingi ruangan itu—apa dia takut? Kenapa dia hanya menunjukkan ekspresinya ketika sedang sendirian, tidak lelahkah Donghae begini terus menerus?

Krekk, pintu kamar mandi sudah terbuka. Eunhyuk keluar sudah menggunakan piyama tidurnya, hmm ternyata dia masih ingat tata krama.

“Sebaiknya kau mandi, disana masih ada handuk bersih kok” kata Eunhyuk seraya mengeringkan rambutnya yang basah, ia kemudian menuju bar untuk membuatkan teh hangat selagi Donghae mandi.

Dengan santai Eunhyuk meletakkan kedua gelas teh di samping tempat tidur lalu ia tidur tiduran sambil melihat handphonenya.

“Oh kau sudah selesai” kata Eunhyuk saat melihat Donghae selesai dari kamar mandi. Donghae mendekati kasurnya dengan gugup, ia mengepalkan tangannya walau wajahnya terlihat datar datar saja.

Eunhyuk yang melihat Donghae takut segera menghampirinya, “Kemarilah, kau duduk disini” Ia menuntun Donghae ke atas kasur—disebelahnya, “Kau pasti capek berpesta seharian” Eunhyuk kemudian mengambil salah satu cangkir teh yang dibuatnya, “minumlah putri saljuku, kau akan merasa lebih baik” katanya

Donghae menerima gelas itu dengan ragu ragu, “Apa kau memasukkan sesuatu?” tanya curiga

“Ha?” Eunhyuk mengulum senyumnya, “tentu tidak putriii..itu murni teh asli, kau pikir aku seperti apa sih?” kata Eunhyuk seraya meminum teh miliknya

“Kau orang yang menganggapku tidak lebih dari aset perusahaanmu, jadi kau mau saja saat Adjushi menyuruhmu mengantikan kakakmu yang pengecut sebagai suamiku” Wow, itu kata terpanjang yang pernah aku dengar dari Donghae hari ini. Ia akhirnya menunjukkan emosinya—sedikit

Eunhyuk menatap tajam ke arah Donghae—tatapan yang sama saat dia membentak wanita malam kemarin, tapi yang membuatku kagum, Donghae sama sekali tidak takut dengan tatapan itu, ia malah semakin mendongakkan kepalanya.

“Kau mungkin benar soal kakakku itu seorang pengecut, tapi aku tidak setuju dengan perkataanmu tentang diriku, aku tidak serendah itu” jelas Eunhyuk sambil menekankan nadanya pada kata kata terakhir.

Mereka saling bertatapan satu sama lain, nafas mereka semakin memburu. Eunhyuk yang pertama kali menarik wajahnya, “sebaiknya kita tidur” katanya kemudian merebahkan diri di kasur dan mematikan lampu. Disisinya Donghae mendelik sejenak dan tertidur memunggungi Eunhyuk

“Ada apa denganku?” gumam Eunhyuk, ia meraba dadanya seperti menahan hentakan jantungnya, “kenapa aku seperti ini?” Ia menengadah ke langit langit sebentar lalu melihat Donghae yang sudah tertidur. Eunhyuk memberanikan diri mendekati tubuh Donghae, ia menyentuh pundaknya sekilas—meyakinkan kalau Donghae benar benar tertidur. Dengan hati hati Eunhyuk memeluk tubuh istrinya dari belakang kemudian membawanya ke dalam dekapan.

“Selamat tidur, Putri salju-ku” bisiknya seraya memejamkan mata—lebih rileks lalu tertidur.

Hmm bagaimana yah keadaan mereka selanjutnya?

***

Setelah 2 minggu berbulan madu, yah apa mau dikata—Eunhyuk sekarang adalah Direktur Utama PT Lee Corporation menggantikan kakaknya. Ayah Eunhyuk sudah memutuskan untuk mencoret nama Hyukjae dari daftar waris, Well..memang kesalahan yang diperbuatnya tidak mudah untuk dimaafkan—tetapi justru tindakannya menyatukan dua orang yang memang seharusnya berjodohkan.

Sekarang mereka berdua tinggal di apartemen mewah milik Eunhyuk, namun sepertinya mereka lebih lamban menyadari perasaan masing masing deh, aku bisa melihat selama bulan madu Eunhyuk sama sekali tidak menyentuh Donghae, aduh aduh, apa panahku salah sasaran yah?

“Putri salju, dimana dasiku?” tanya Eunhyuk sambil mengaduk aduk isi lemari, Donghae yang sedang sibuk menyiapkan sarapan didapur langsung masuk kamar membantu suaminya, “Yang ini?”

Eunhyuk berhenti mencari, “ah ya itu, tolong pasangkan putri” pintanya, Donghae mendesah pasrah sambil memasangkan dasi Eunhyuk dengan terampil, “selesai” ucapnya datar.

“Makasih putriii” godanya kepada istrinya, “sebaiknya kau turun—aku sudah menyiapkan sarapan” kata Donghae seraya meninggalkan kamar.

“Baik!! Aku datang”

Selesai menyantap sarapan Eunhyuk pamit berangkat kerja, “Aku pergi dulu jaga rumah baik baik” kata Eunhyuk didepan pintu apartement

“Iya” jawab Donghae singkat

Eunhyuk menundukkan kepala lalu mencium bibir Donghae singkat, “Aku pergi, putri salju-ku” Dia meninggalkan Donghae yang bersemu merah, mematung didepan pintu.

Kekeke, Ini baru namanya pasangan romantis.

Mereka memang sudah bersatu, malah lebih dulu menikah dibandingkan pasangan-pasanganku sebelumnya

*Kyumin : Hatchim!!*
*YeWook : Hatchim!!*

Namun perilaku Donghae yang mati matian menutupi perasaan dan Eunhyuk yang datar datar saja memperlakukan Donghae membuatku gemas setengah mati, apakah tidak ada yang bisa kulakukan?

Seharian aku lihat Donghae menjalankan tugasnya sebagai istri dengan sangat baik, ia membersihkan rumah, membawa baju kotor ke laundry dan memasak makan malam untuk suaminya, tidak ada satupun yang tercela dimataku—tapi ck bagaimana yah aku menjelaskannya, Donghae hidup bagaikan mayat hidup—hampa, tidak ada ekspresi, dingin pantas jika Eunhyuk menyebutnya Putri Salju.

Aku begitu asyik berpikir hingga tidak memperhatikan ketika Eunhyuk sudah pulang ke rumah, “Putri salju, bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Eunhyuk berulang kali.

“Baik” jawab Donghae masih asyik memasak.

“Oh ya, aku membawa beberapa teman kantor—tidak apa apa kan? cuma 2 orang kok” kata Eunhyuk, Donghae menoleh ke belakang—arah ruang tamu, “tidak apa apa, kebetulan aku memasak lebih, kau temani mereka saja biar aku siapkan minuman” jelas Donghae meninggalkan masakannya lalu sibuk membuat 2 gelas kopi.

“Thanks putri salju” ujar Eunhyuk seraya kembali ke ruang tamu. Aku pun mengikutinya, rasanya membosankan hanya melihat Donghae—aku sudah memantaunya seharian tetapi wajahnya tetap datar datar saja, sejak pernikahannya dengan Eunhyuk belum sekalipun aku melihat Donghae menangis lagi—hmmm berarti dia memang bahagia meski tidak terucap secara langsung

“Maaf menunggu, put—eh maksudku istri ku sedang membuatkan kopi” jelasnya sambil duduk lalu bercengkrama akrab dengan kedua sahabatnya itu

“Eunhyuk, kau sudah lama tidak main ke Pub lagi, apakah karena kau sudah menikah sekarang?” tanya salah teman akrabnya—ah aku mengenalinya, dia salah satu pengiring pengantin di pernikahan Eunhyuk.

Eunhyuk menggeleng enteng, “tidak, buat apa? Mungkin kita harus mengubah tempat kumpul kita”

Salah satu temannya bergidik lalu tersenyum aneh, “sejak kapan Eunhyuk kita berubah seperti ini? bukankah kau suka sekali kesana?” godanya

Eunhyuk tertawa sebentar dan mengambil nafas panjang, “tidak semua kok, cuma aku nyaman saja dengan diriku yang sekarang”

Temannya mengubah posisi duduknya, ia mencondongkan badan ke depan, “Eunhyuk, Monic mencari dirimu tuh, katanya kangen” Ia menyeringai penuh arti ke arah Eunhyuk

“Hei kan sudah kubi—“

Omongan Eunhyuk terhenti saat melihat Donghae datang dengan nampan penuh cangkir cangkir kopi, jangankan Eunhyuk, kedua temannya merasa tidak enak. Hmmm mungkin mereka sadar kalau perkataan mereka terdengar oleh Donghae

“Makan malamnya sudah siap” ucap Donghae sambil kembali ke arah ruang makan kemudian menyiapkan makan malam, Eunhyuk pun menggerakan kepalanya, “sebaiknya kita makan dulu” dengan canggung kedua temannya mengikuti Eunhyuk duduk di meja makan

“Ayo dimakan” tawar Eunhyuk sambil ikut menikmati makanannya, Donghae hendak pergi ke dapur lagi kalau tidak ditahan Eunhyuk, “mau kemana kau?”

“Aku harus mencuci piring kotor bekas memasak” jawab Donghae namun Eunhyuk menarik tangannya dan mendudukkan dia disebelahnya, “kau ikut makan yah” Dengan patuh Donghae ikut makan dalam diam tanpa sedikit pun terlibat dalam pembicaraan suaminya.

Selesai makan, Donghae langsung membereskan piring kotor selagi Eunhyuk mengantarkan teman temannya pulang.

“Aku mandi dulu” ucap Eunhyuk saat memasuki kamar, Donghae tidak menghiraukannya—konsentrasi mencuci piring. Melihat itu Eunhyuk mendesah lalu masuk ke kamar tidur mereka

Ketika Eunhyuk sudah menutup pintu, Donghae berhenti mencuci piring, ia memegang pinggiran wastafel erat, buku buku jari tangannya menyembul, Donghae mendongakkan kepalanya, matanya memancarkan kesedihan…ada apa ini?

Selama seminggu ini dia terlihat lebih normal, tidak menangis diam diam lagi yah walaupun masih membatu seperti biasa dan hanya menjawab seperlunya jika ditanya Eunhyuk, tapi? Sekarang? Ada apa denganmu Donghae?

Selesai mencuci piring, ia masuk kedalam kamar disana Eunhyuk sudah selesai mandi dan sedang menatap laptopnya serius, sepertinya ada kerjaan kantor.

“Ah, kau mau mandi?” Eunhyuk melihat Donghae sejenak, Ia menyadari ada yang berubah dari istrinya, dengan cepat Eunhyuk menghampiri Donghae, “Kau kenapa?”

Donghae balas menatap Eunhyuk tajam, “boleh aku tanya satu hal?”

Eunhyuk mengangguk cepat, “Siapa itu Monic?” tanya Donghae seraya menundukkan kepala

“Monic?”

“Iya Wanita yang disebut sebut temanmu tadi?” ucapnya lagi, Donghae menggenggam kedua tangannya sendiri sedangkan wajah Eunhyuk tersenyum senang, “Kau cemburu?” tanyanya tidak percaya

Dia cemburu? Donghae bisa cemburu? Wah berita baru!

Donghae mengangkat kepalanya lalu kesal karena Eunhyuk malah tersenyum, “Aku tidak cemburu” jawabnya dingin

Eunhyuk tidak menanggapinya, Ia merengkuh Donghae ke dalam dekapannya, “Kau cemburu, ah ternyata kau bisa cemburu juga putri salju” bisiknya, Donghae terdiam diperlakukan seperti itu, Ia menghela nafas yang tidak teratur

“Aku tidak—“

“Monic—bukan siapa siapa…tenang saja, kalau kau menguping sejak awal kau pasti tahu kalau aku sudah berhenti pergi kesana,” Eunhyuk melepaskan pelukannya, “Kan kau lihat aku selalu pulang cepat” katanya, wajah Eunhyuk masih tersenyum lebar

“Putri salju sebaiknya kau mandi, badanmu bau asap masakan” Eunhyuk mendorong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Donghae pun menurutinya.

Eunhyuk kembali asyik berkutat komputer ketika Donghae selesai mandi, “sini” Ia menepuk bantal disebelahnya

Eits, aku bukannya mau mengintip mereka yah, cuma sepertinya aman menyimak tingkah laku Donghae dan Eunhyuk seharian—karena benar benar tidak terjadi apa apa..interaksi mereka jarang terjadi….aduh aduh *cupid geleng geleng kepala*

“Aku ingin tidur” kata Donghae sambil merenggangkan tubuhnya disebelah Eunhyuk dan menyelimutinya, “Baiklah, aku juga” Eunhyuk ikut berbaring disebelah Donghae.

“Putri salju”

“Apa?”

Wow dia sudah menyerah yah, padahal awal awal Donghae benci dengan panggilan itu, tapi sekarang? Hehehe, padahal menurutku itu panggilan sayang loh..

“Bolehkah aku memelukmu selagi tidur” pinta Eunhyuk

Donghae menghela nafas lagi, “boleh” jawabnya singkat, Eunhyuk lalu menyeret tubuhnya mendekati Donghae, memeluk pinggangnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Donghae, “selamat malam Putri salju”

Donghae menghirup nafas pelan, aku tahu ia berdegup kencang saat Eunhyuk begitu dekat dengannya, Donghae mengambil udara mengisi paru parunya dan berkata, “selamat malam”

***

“Eunhyuk” panggil Donghae sambil mengguncangkan tubuhnya, “Eunhyuk bangun” sekali lagi ia mencoba membangunkan suaminya itu

Eunhyuk menggeser tubuhnya, “Putriii ini hari minggu, jangan bangunkan aku sepagi ini” lirihnya sambil menutup wajahnya dengan selimut

“Tapi Eunhyuk, hari ini kita harus kerumah orang tuaku, ingat? Mereka kan sudah mengundang kita datang” jelas Donghae ketika menarik selimut tebal mereka dari wajah Eunhyuk

“Baiklah” Eunhyuk berusaha membuka matanya yang masih setengah terpejam, ia membelalak heran ketika melihat Donghae sudah berpakaian rapi, Ya iyalah Donghae sudah bangun dari jam 7 pagi—menyiapkan sarapan, membereskan rumah baru membangunkan Eunhyuk.

“Hmm…tunggu aku 15 menit dimeja makan” kata Eunhyuk, ia berlari kecil ke kamar mandi

Sepertinya dia ngga mau kalah dengan istrinya sendiri, aku sudah memperhatikan mereka hampir sebulan!! Dan ngga ada kemajuan yang berarti….huh, bagaimana aku harus melaporkannya kepada Dewi yah, hmm

Selesai bersiap siap Eunhyuk dan Donghae pun masuk ke dalam mobil lalu melaju kerumah orang tuanya—rumah Donghae dahulu.

Sebenarnya ini cuma kunjungan singkat sih, biasa pengantin baru makanya orang tua suka kangen gitu sama anaknya cuma yang jadi masalah ketika Ayah Donghae bertanya soal momongan! ck ck ck

“Bagaimana? Apakah kamu sudah ‘isi’?” tanya Ibunya terang terangan ketika mereka berada di ruang tamu berbincang bincang

Donghae terkejut sedikit—tetapi kembali menguasai reaksinya, “belum Ma” jawabnya pelan

Eunhyuk pun membantu istrinya, “belumlah Ma, kan baru sebulan hehehe, mungkin nanti” jelasnya sambil bercanda, “Kami masih ingin berdua dulu” lanjut Eunhyuk seraya menggenggam tangan Donghae.

Donghae menghirup udara—seperti susah bernafas, melihat tangan Eunhyuk mengelus lembut jari jarinya.

“Tapi jangan lama lama” nasihat Ibu Donghae kembali, Ayahnya ikut memberi petuah, “dan kalau bisa anak laki laki” katanya

Donghae menegakkan kepalanya, matanya bersedih mendengar itu, Eunhyuk yang melihat perubahan wajah Donghae mengelus pipinya perlahan, “Kau kenapa? Sakit?”

Donghae menggelengkan kepala dan tertunduk pelan. Anehnya kedua orang tua Donghae tidak melihat itu, sejelas Eunhyuk dan aku, pantas saja Donghae tumbuh menjadi seperti ini. Ternyata memang orangtuanya tidak peka kepada anak mereka satu satunya

“Donghae kau harus bisa melahirkan anak laki laki, ingat itu” kata Ayahnya lagi, kali ini Ibu Donghae menoleh ke arah suaminya sambil menghela nafas.

Malamnya di apartement Eunhyuk dan Donghae

“Kau kenapa?” tanya Eunhyuk yang berlari kecil mengejar Donghae didepannya. Semenjak pulang dari rumah orang tuanya Donghae terlihat aneh, ia memang pendiam—tapi bukan berdiam seperti tadi. Sepertinya hubungan Donghae dan Ayahnya tidak seharmonis yang kukira? Tapi yang kulihat selama ini, Donghae tidak pernah membantah Ayahnya—dan cenderung menyayanginya pula, namun….pasti ada yang disembunyikan oleh Donghae. Pikirku

Donghae membuka pintu dengan kasar langsung masuk kedalam kamar, dibelakangnya Eunhyuk mengikutinya.

“Ada apa?” tanyanya, Ia berjalan perlahan mendekati Donghae yang duduk di kasur—terdiam.

“Ada apa putri?” Ia menunduk lalu menangkap wajah Donghae dengan kedua tangannya, “Kau menangis?” ucapnya ngeri

Untuk pertama kalinya Donghae menangis didepan orang lain, air matanya turun satu persatu, bibirnya bergetar hebat sambil memejamkan matanya.

Eunhyuk merengkuh Donghae, memeluknya erat membuat Donghae menangis lebih keras—Ia bahkan terisak, menumpahkan semua beban yang menghimpitnya di dada Eunhyuk.

Eunhyuk tidak mengatakan apa apa, Ia hanya sesekali mengelus punggung istrinya, mencoba menenangkannya. Setelah puas menangis Donghae melepaskan pelukannya, Ia menghapus air mata dari wajah kemudian memasang topeng angkuhnya lagi

“Berhenti!” pekik Eunhyuk memegang bahu Donghae, “Berhentilah bersikap untuk menutupi perasaanmu!! Kenapa kau suka sekali sih memasang wajah baik baik saja saat tahu kalau kau tidak merasa bahagia, sudah hentikanlah” nada suara Eunhyuk melembut, ia mendekatkan wajahnya memaksa Donghae untuk menatap matanya, “ceritakan padaku apa yang selama ini kau tutupi—apa yang membuatmu begitu tertekan, ayolah…”

Eunhyuk menatap Donghae dengan lembut dan Donghae pun luluh, ia mulai bercerita. “Aku anak yang tidak diinginkan” ucapnya pelan, aku bisa lihat Donghae menahan rasa pedih itu sedemikian rupa.

‘Apa??’ Aku ikut terkejut

“Apa maksudmu?” tanya Eunhyuk, membujuknya untuk meneruskan ceritanya

“Waktu aku lahir, Ayahku kecewa karena aku lahir sebagai perempuan, bukan anak laki laki yang selama ini dia inginkan.” Kata Donghae, tatapannya kembali memutar memori dirinya dulu

“Di tambah lagi, Ibuku punya penyakit kista dan harus diangkat rahimnya sehingga ia tidak mungkin lagi untuk memiliki anak lagi—akulah satu satunya anak mereka. Ayahku begitu mencintai Ibuku sehingga dia tidak menikahi perempuan lain hanya karena menginginkan anak lelaki walaupun Ibuku sudah memberi ijin. Jadi Ayah harus puas dengan diriku, seorang perempuan” jelasnya panjang lebar, Donghae sesekali berhenti karena menahan airmatanya

“Selama ini aku berusaha menuruti semua keinginannya hanya untuk agar ia bangga memiliki anak perempuan, bahkan aku pasrah ketika harus dijodohkan dengan kakak lelakimu” Donghae kembali menangis—ia mengangkat tangan kanannya untuk menahan isakan yang keluar dari mulutnya

Oh, jadi begitu—pantas saja aku melihat Donghae bahagia ketika Ayahnya memuji dirinya saat dipesta pernikahan, ternyata ini toh…

Eunhyuk menangkap tangannya, “Menangislah, kau akan lebih tenang” Donghae kembali menangis kencang, sesekali Eunhyuk menghapus airmata Donghae dengan punggung tangannya, “Tetapi ketika aku sudah memantapkan hati, Kakakmu yang brengsek itu malah kabur” Eunhyuk terkekeh kecil mendengar umpatan Donghae, “dan aku malah dinikahkan denganmu” lirihnya

Si Hyukjae memang pantas untuk dihina, batinku

“Kau menyesal?” tanya Eunhyuk ragu ragu

Donghae menyeringai disela sela tangisannya, “seharusnya aku yang bertanya begitu, apa kau menyesal?” tanya balik

Eunhyuk memicingkan matanya, tidak mengerti, “Apa maksudmu?”

“Sebenarnya alasanku berdiam diri dirumah Ayah, karena aku tidak bisa menuruti keinginannya yang terakhir” jelas Donghae sambil menatap Eunhyuk sedih, “aku tidak bisa memberinya cucu lelaki”

Eunhyuk masih menggeleng tidak mengerti, “kenapa tidak bisa?”

Aduh Eunhyuk nih anak boleh jenius dalam bidang design, tapi kalau soal nalar kayaknya masih hebatan Donghae deh, jeritku dalam hati

“Kau sama seperti Ayah” kata Donghae—ia kembali mengenakan topengnya—tanpa ekspresi

“Kau tidak pernah menginginkan aku, kau tidak pernah menyentuhku bahkan dari malam pertama kita” jelasnya lagi.

Eunhyuk terdiam. Donghae memalingkan wajahnya, “Sudahlah tidak usah dibahas, sebaiknya aku tidur” Donghae bangkit berdiri namun Eunyuk menahannya, “sebentar”

Ia ikut berdiri lalu memutar tubuh Donghae kearahnya, “Kau salah” bisiknya, ada nada pedih yang kutangkap dari suara Eunhyuk

“Aku menginginkanmu, bahkan ketika aku pertama kali melihatmu menangis. Aku yakin kalau menikahimu adalah keputusan yang tepat” Eunhyuk menatap lekat lekat mata Donghae, “Tau kah kau kenapa aku sering pulang cepat? Atau kenapa akhir akhir ini aku jarang berkumpul dengan teman temanku lagi? Itu semua karenamu,” Eunhyuk membawa Donghae lebih dekat dengannya, dilihatnya wajah Donghae. Tanpa ekspresi

Memang sih, aku bisa lihat betapa berubahnya Eunhyuk akhir akhir ini, perginya cuma kantor—rumah—kantor lagi, wah dia menjadi lelaki setia. Cinta memang ajaib ya,

“aku berusaha bersikap baik, tapi kau hanya menanggapiku dengan dingin, kau tahu bagaimana rasanya itu? Setiap hari kau bersikap layaknya istri yang sempurna, tapi—ku mohon hentikan itu. Aku ingin memiliki istri, bukan pesuruh” jelas Eunhyuk dengan nada lebih tajam

Donghae yang tidak terima langsung membalasnya, “lantas kau mau bagaimana?”

“Aku ingin kau menikmati hidupmu sendiri, bersama denganku. Hanya itu, kau mau kan?”

Donghae menatap Eunhyuk yang mendekatkan wajahnya, Eunhyuk menciumnya pelan. Ia terkejut, matanya terperangah namun Eunhyuk malah semakin dalam menciumnya, akhirnya Donghae menyerah dan membalas ciuman itu.

Eunhyuk melepaskan tautan bibir mereka lalu membiarkan Donghae mengambil nafas sejenak, “Aku begitu menginginkan dirimu, tapi takut kalau tindakanku ini hanya akan menyakitimu” bisiknya

Donghae menelan ludah, gugup.”Tidak, ini tidak menyakitiku” jawabnya sambil membuang muka, lagi?? Aduh kok malu malu banget

“Tatap aku!” perintah Eunhyuk, ia memegang wajah Donghae, “Tatap aku dan bilang apa yang sesungguhnya kau rasakan?”

Donghae menatap Eunhyuk, sudut matanya mulai berair sekejap raut mukanya terlihat lebih hidup, “aku mencintaimu” lirihnya

Eunhyuk tersenyum kemudian mengelus sayang wajah Donghae, “Aku kira hanya aku yang merasakan itu, ternyata kau juga” kekehnya pelan

Eunhyuk kembali mendekatkan bibirnya ke arah Donghae, “aku juga mencintaimu” Ia melumat bibir Donghae penuh nafsu, ow wow…sepertinya aku harus cepat cepat pergi dari sini.

Ia menggendong tubuh Donghae ke kasur tanpa melepaskan ciuman mereka yang semakin lama semakin intim.

Ok, aku harus pergi sekarang, namun untuk terakhir kali aku menoleh kebelakangku, disana Donghae menatap penuh cinta Eunhyuk dan tersenyum manis?

Ia tersenyum? Aaaa…pekikku bahagia, akhirnya aku bisa melihatnya tersenyum setulus itu, ah jadi terharu. Ini semua berkat Eunhyuk.

“Ternyata tubuhmu hangat ya putri salju” bisik Eunhyuk ketika ia mulai mencium leher istrinya, “Ini semua berkatmu, pangeranku” desah Donghae tertahan

Mereka bercumbu ditengah indahnya malam

Hyaa!!! Aku cepat cepat mengepakkan kedua sayapku lalu terbang tinggi meninggalkan mereka berdua.

Aduh, untung keburu, aku kan mahluk suci—adegan kayak gitu, iih~ untung ngga ketahuan Dewi, aku tadi ngintip dikit, hahahahaha. Ucapku sendirian

Paling tidak, aku tahu kalau keinginan Ayah Donghae sebentar lagi akan terwujud. Mereka akan memiliki cucu, hehehe

Aku ikut berbahagia sambil terbang ke balik awan, kembali ketempatku.

©FLASHBACK END©

Nah bagaimana ceritaku ini? Membosankanmu yah? Apa? Tidak tidak! Aku benar benar tidak mengintip mereka kok..*masang wajah innocent*

Apa kalian mau tahu lebih detailnya? Aduh kalo gitu nanya aja sama Eunhyuk atau Donghae hehehe

Thanks yah udah mau mampr kemari dan eh thanks buat coklatnya, enak banget! Apalagi aku memang suka coklat kacang kayak gini *authornya ngiler banget*

*Cupid mengelap mulutnya yang belepotan coklat*

Sebaiknya sekarang kalian pulang, soalnya sebentar lagi aku harus kembali kerja. *Cupid memeriksa catatannya*

Semoga pasangan berikutnya lebih mudah dari yang dulu dulu, masa aku ngga pernah dapet pasangan yang gampang..hmm

Ya sudah, kita berpisah dulu yah. Jangan bosan bosan yah mendengarkan ceritaku. *cupid melambaikan tangannya*

Byeeeee, salam penuh cinta. Cupid^^


THE END

19 responses to “≈ Behind the Scene of Love-{EunHae}≈

  1. onnie! Boleh request? Hehe aku udh baca ff ini berkali-kali dan GAK PERNAH BOSEN😀
    well, aku ingin tau kelanjutan pasangan eunhae ini~ *kalo sempat–KALO looh* buatkan sequelnya ya? Hehe aku pasti langsung baca+koment!
    Tapi, itu terserah dirimu siih onn, hehehe😀
    aku mau baca yg lain dulu yaaa😀

    *keenji–tettanara bow*

  2. FF borongan selang w gawe nih

    w sampe bergrter loh baca keromatisan merka pas adegen terakir #upss jangan yadong

    mimit w bwnwr2 fans lo tau >/////////////////////////////<

  3. >/////< untung bisa nahan mimisan~

    aihhh~ piiiiddddd~ gue rasanya pengen nabok elu deh gara-gara ngintip~ tapi.. kalau elu gak ngintep, kagak tau ceritenye ye.. ya wes lah..
    *sodorin coklat*
    cerita lagi ya piiiiddd~ *bling-bling eyes*

    Sebas~ I LIKE IT~ jadi suka ma EunHae couple *gummy smile*

  4. to Cupid : Bay pid… karna critanya keren nih aq ksih coklat 1 truk *plaak*
    to Author : no other like u Oennie~😀
    berbakat bgt jdi penulis ^^

  5. onnii..
    sumpah..
    terharu baca ffnya…
    putri salju… hhyyaaa.. suka sama panggilannya..
    aku baru baca karya mu beberapa onn..
    aku lanjut baca ya..

  6. aku sudah pernah koment disini tapi kok ga ada ??

    aku paling suka bTs yang ini,,selain karan hae biased,,,juga ceritanya bener2 penuh pesan moril,,,trus aku juga bisa dengan mudah bayangin cantiknya HAE

    tapi aku mau sequel,,ayo dunk eon bikin sequel,,,apa jadinya misal hae ga bisa hamil anak laki2 malah perempuan/??apa dia bakal dicoret dari daftar keluarga???

    aghtt a love EUNHAE

  7. huaaaaa……. heeboh sendiri….. ya allah ini pasangan ngegemesin bgt…….
    mitoen lu sukses ngegambarin kalo hyuk tipe cowo yg sayang bgt sama keluarga….. panteslah kalo dia juga dpt cewe yg baik….
    ya ampun kalo w yg dansa sama hyuk kena serangan jantung mendadak x……
    hyuk sok polos…. gimana mau bisa punya anak kalo lu gak bobol hae… #plak ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ
    sekuel…. sekuel……. ☆*:.。. o(≧▽≦)o .。.:*☆

  8. bikin gregettt bgt nih donghae. brrrr, dingiinn abiss. thanks to eunhyuk, yang udah nenangin donghae. thanks too eonni, udah bikin bts of love eunhae begitu gregett. haha

  9. walau ga suka ff selain kyumin.. tapi setelah baca nolu jadi mau baca ff sebas yang selain kyumin kaya yang satu ini.
    ya ampunn ga nyangka kalo eunhae ketemunya di acara kaya gitu dan langsung nikah.
    untung si hyukjae kabur.
    tapi penasaran juga siapa si hyukjae itu *itu member suju woy*

  10. Donghae selama ini tertekan bgt. aku mah malah berterima kasih byk ke hyukjae ga akan ngamuk atau ngehina hahahaha

    Berkat dirimu hyukjae hehehe

  11. wow…disini keliatan banget kekuatan cintanya….eunhyuk berubah total….tp kya.x eunhyuk udah suka dri awal…soal.x dia selalu bilang klo donghae itu cantik…dan dia rela nikah sma donghae meskipun donghae dingin banget orangnya….
    ahh…aku suka ceritanya… ^_^

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s