≈Of Course I Love U-Chapter Seven-{KaHanchul}≈

Ada kekuatan yang lebih kekal di dunia ini—di banding kekuatan dua orang yang sedang jatuh cinta. Memang kekuatan ini juga di dasari oleh rasa cinta—tetapi berbeda. Rasa ini begitu alami dan tidak banyak menuntut, rasa yang mendasari semua orang bisa berhubungan satu sama lain tetapi memiliki orang lain untuk di cintai

Rasa yang membuatmu rela mengorbankan segala sesuatu untuk membantu orang lain atau membuatmu bahagia hanya karena ada orang lain yang memperhatikanmu. Bukan saudara tetapi begitu dekat denganmu

Rasa itu di sebut persahabatan

~0~

Kangin dan Heechul Childhold

“Kangin!! Sini, ada tetangga baru kita, dia membawa anak seumurmu—kalian bisa menjadi teman dekat” ajak Ibu Kangin ketika mereka mengantarkan beberapa panganan ringan sebagai perkenalan kepada tetangga baru di sebelah rumah

Kangin yang waktu itu berumur 8 tahun tersenyum mengangguk sambil mengambil lengan ibunya untuk bergantung manja, mereka datang lalu di sambut ramah oleh salah seorang bapak yang repot mengurus pindahan. Di belakang bapak itu, ada sosok perempuan mungil—matanya yang bulat semakin lebar saat menangkap ada anak sepantaran dengannya di depan muka

“Ini anakku, Heechul” sapa Bapak itu seraya menyuruh Heechul maju dan ikut memberi salam kepada Ibu Kangin

Heechul membungkuk kaku dan menyebutkan namanya, “Heechul imnida”

Kangin terlihat lebih berani, dia malah menarik lengan Heechul dan membawanya keluar rumah, “main denganku, aku akan menunjukkan sesuatu padamu” ajak Kangin pergi ke ladang yang luas di sekitar mereka

Kangin dan Heechul tumbuh bersama. Mereka hidup di kota kecil di pinggiran Seoul. Sifat Kangin yang serampangan mengimbangi Heechul yang keibuan meski umurnya masih kecil. Mereka perlahan menjadi sepasang sahabat

___

“Hiks” Heechul menangis sambil berjongkok di lapangan—tempat dia dan Kangin sering menangkap belalang. Tak lama kemudian Kangin berlari sambil mengangkat bekal makanan pemberian ibunya. Memang tadi pagi Kangin dan Heechul berjanji akan bermain bersama sama di sini, tetapi Kangin malah terkejut mendapati Heechul menangis dengan luka biru di pipi kanannya

“Kau kenapa??” tanya Kangin bingung—dia mengangkat wajah Heechul untuk melihat lebih jelas.

“Ayahku pulang…” hanya itu yang bisa di katakan Heechul

Kangin meringis tanpa sadar dan memeluk tubuh kecil Heechul, “jangan menangis lagi, ingat kau masih punya aku” bisik Kangin ikut sedih

Beberapa hari setelah kepindahan keluarga Heechul, sifat asli ayahnya baru terbongkar. Ayah Heechul pindah dari kota karena perceraian dengan Ibu Heechul yang membuatnya terpukul, apalagi Ibu Heechul tidak sudi untuk mengambil Heechul—anaknya sendiri karena dianggap menghalangi pernikahannya yang baru dengan seorang pengusaha muda.

Ayahnya terus memukul Heechul ketika dia sedang mabuk dan meracau tidak jelas tentang mantan istrinya. Wajah Heechul yang mirip sang ibu makin membuat amarah ayahnya menjadi jadi, Heechul selalu menjadi bulan bulanan ayahnya jika sedang ada masalah

Ibu dan Ayah Kangin tidak dapat berbuat banyak—mereka tidak mau terlalu ikut campur, takut Heechul nanti di pukuli lebih parah. Hanya Kangin—dia yang selalu ada di saat Heechul membutuhkan seseorang, seseorang yang bisa di sebut sahabat

“Aku akan selalu bersamamu” janji Kangin seraya mengusap pipi Heechul yang biru dengan tangannya yang kotor—berhasil, Heechul terkekeh ketika kotoran tanah malah mengenai wajahnya, dia mengambil beberapa cabutan rumput dan melemparkannya ke arah Kangin

Mereka berlari lari sambil melempar satu sama lain dan tertawa riang menyambut malam menjelang

Kangin memang selalu ada untuk Heechul. Karena Kangin, Heechul bisa bertahan tinggal di rumah bersama ayahnya yang pemabuk. Sudah tidak terhitung berapa kali Heechul ingin kabur dari rumah, namun lagi lagi Kangin—Kangin yang membuatnya bisa menegakkan kepala dan kembali tersenyum

8 tahun kemudian

“Kangin!! Aku suka padamu!!” seorang yeoja di salah satu SMA di kota itu mengutarakan perasaannya kepada Kangin, dia sendiri hanya bisa tersenyum hambar dan sudah bisa di tebak—kata kata apa yang keluar dari mulut Kangin

“maaf, aku tidak bisa”

Yeoja itu mengangkat wajah—ada kesedihan yang tertera jelas di sana, “apa memang benar…jika kau dan Heechul?” tanyanya dengan nada menggantung

Kangin makin tersenyum lebar ketika mendengar nama Heechul—matanya melembut, wajah yang mungkin dikira orang lain seperti wajah orang yang sedang jatuh cinta

“Iya” jawabnya singkat kemudian tanpa berkata lagi, Kangin berbalik dan melangkah meninggalkan seorang yeoja lagi yang patah hati. Tidak terhitung sudah berapa kali kejadian ini terjadi, tetapi Kangin tetap menolak dan terus menolak

Heechul. Itulah alasan dari semua penolakan Kangin, tetapi apakah benar Kangin benar benar mencintai Heechul?

Kangin berjalan sambil menendang kerikil dan menghampiri kelas di pojok lapangan—kelas Heechul.

“Kau sedang apa?” tanya Kangin melihat Heechul memakai jaket hitam padahal cuaca amat panas siang ini, Kangin melayangkan pandangan tajam—dia langsung menarik jaket tersebut dan melihat luka lebam di lengan Heechul bertambah, “ini…” bisik Kangin merunduk sedih

Heechul membuang muka dari Kangin, dia malu jika sahabatnya ikut sedih melihat luka luka ini—Heechul menyembunyikannya hanya agar Kangin tidak khawatir lagi, “tidak—aku memang sedang sakit” elak Heechul lemah

Tiba tiba Kangin memeluk tubuh Heechul erat, dia tidak peduli jika beberapa orang di luar kelas berhenti dan menonton mereka, dia tidak peduli jika Heechul meringis kesakitan karena lukanya perih akibat pelukan Kangin

Kangin hanya ingin Heechul tahu, jika masih ada dia—orang yang bisa di sebut sahabat, “aku akan selalu bersamamu” bisik Kangin, mengingatkan Heechul akan janji Kangin waktu mereka kecil

Heechul membalas pelukan Kangin, “aku tahu” ujar Heechul mulai bisa tersenyum lebar—hanya Kangin yang dia miliki, dan Heechul tidak boleh menyia nyiakannya

Tak lama kemudian, Kangin keluar dari sekolah seraya menjaga tubuh Heechul agar tidak oleng—Kangin bisa menebak jika Heechul belum makan dari pagi. Begitu protectifnya Kangin hingga satu sekolah bisa salah paham dengan hubungan mereka berdua

Tetapi Kangin tidak peduli—ya, baginya sahabat itu diatas segalanya, bahkan di atas hubungan cinta

Selesai Upacara Kelulusan Sekolah

“Dasar anak tidak berguna!!!” dengan kasar Ayah Heechul menampar dan menjambak rambut Heechul lalu menghempaskan tubuhnya mengenai tembok kamar. Heechul hanya bisa menahan air mata yang sebentar lagi akan tumpah—Ayahnya akan memukul Heechul bertubi tubi jika ia menangis

Di tangan Ayahnya ada sebotol minuman keras, dia meminum banyak dan menyemprotkan ke arah Heechul, “aku berharap kau tidak pernah di lahirkan” kata Ayahnya sambil tertawa

Tess

Air mata Heechul tidak terbendung lagi. Sesering apapun, Heechul di pukuli tetap tidak pantas menerima ucapan sekasar itu, ia merunduk dan memeluk lututnya seraya menangis pilu

Mendadak Heechul ingat ibunya waktu dia merengek meminta supaya tetap tinggal dengan ibu kandungnya sendiri, tetapi yang ada malah perkataan menyakitkan terlontar dari bibir seseorang yang selama ini di panggil Ibu oleh Heechul

“Kau hanya akan menghalangiku, dasar tidak berguna!”

Kedua orang yang Heechul sangka mencintainya ternyata bisa menyakitinya sedalam ini, terlalu dalam—hingga Heechul tidak punya kekuatan untuk berdiri dan membalas semua perkataan mereka—Heechul hanya bisa terdiam

TING TONG

Bunyi di depan rumah Heechul berbunyi membuat Ayahnya dan Heechul terkaget, “sana bukakan pintu!!” perintah Ayahnya sambil keluar dari kamar Heechul dan membuang botol ke dapur

“Kangin!” seru Heechul kaget. Sosok Kangin tiba tiba membuat Heechul tenang, “aku ingin berbicara dengan ayahmu” katanya saat Heechul mempersilahkan Kangin duduk di ruang tamu

“Ayah?” bisik Heechul tidak percaya, Kangin hanya mengangguk pasti namun ia tersentak melihat wajah Heechul yang sembab serta beberapa luka tambahan di sisi lengan kanan dan kiri, “kau…..”

“Ada apa ini??” Ayahnya kembali dari belakang—dia sudah selesai mencuci muka, “saya ingin berbicara penting dengan Adjushi” ucap Kangin hormat membuat Ayah Heechul menerima kedatangannya dengan baik

Mereka duduk berhadapan sementara Heechul membuatkan teh di dapur

“Ada apa?? Heechul cerita macam macam lagi kepadamu??” tuduh Ayahnya—memang beliau tidak pernah berpikiran sedikitpun hal yang baik mengenai Heechul

Kangin menggeleng sambil mengepalkan tangan di bawah meja, sudah lama dia ingin meninju orang yang berada di depannya, “Seperti Adjushi tahu, saya dan Heechul sudah lulus SMA, kami pun sudah lama bersama, karena itu ijinkan saya untuk melamar Heechul” pinta Kangin terus terang bernada serius

ZINGG

Keadaan tiba tiba hening

Heechul yang sudah berada di ruang tamu pun ikut membeku—dia tidak menyangka jika Kangin berani mengatakan hal ini

“Kau? Mau dengan wanita sampah???” Ayah Heechul mengangkat alis dan langsung tertawa keras, “jangan bercanda Kangin, itu tidak lucu” kelakarnya seraya menepuk lutut karena masih sibuk tertawa terbahak bahak

Heechul hanya bisa menunduk dan menutupi wajah dengan rambut—dia sudah mau menangis lagi jika ayahnya menghina secara batin bukan fisik, jauh lebih menyakitkan

“Saya serius Adjuhsi” ucap Kangin dengan suara keras mengimbangi tawa Ayah Heechul yang membahana ke seluruh ruangan

“Kau serius??” tanyanya ulang sekaligus tidak percaya

Kangin mengangguk tegas, “sebentar lagi saya akan merantau ke Seoul, membuka usaha kedai Appa di sana” Wajah Kangin beralih melihat Heechul dari jauh, “dan saya akan membawa Heechul turut serta, supaya tidak menjadi gunjingan orang lebih baik saya langsung melamar Heechul bukan?”

Tubuh Ayah Heechul mendadak kaku, dia memandang Heechul dan Kangin bersamaan, “kalian…..aishh terserah!” sergahnya kemudian masuk ke dalam kamar

Heechul memberanikan diri duduk di atas sofa dan menatap Kangin lama, “aku…” Jari Kangin membungkam suara dari bibir Heechul dan tangannya yang kekar membelai wajah Heechul, “aku sudah berjanji dan akan ku tepati” bisik Kangin tulus

Sekarang Kangin menyuruh Heechul berdiri kemudian Kangin sendiri berlutut di depan Heechul dan mengeluarkan kotak hitam dari balik saku celana, dia menengadah memandang Heechul yang mulai terisak penuh haru, “ijinkan aku menjagamu seumur hidupku” lamar Kangin singkat

Heechul tidak bisa menahan gemuruh di dada, ia langsung mengangguk dan mengijinkan Kangin memasang sebuah cincin emas sederhana di tangannya, “kau sudah aman, Heechul” bisik Kangin sambil mencium dahi Heechul

“Ini semua berkat kau” balas Heechul—menghirup udara bebas setelah 8 tahun tersiksa

~0~

Kini seperti yang kita lihat, Kangin membuka sebuah kedai kopi yang bersebelahan dengan kedai ramen Ryeowook sedangkan Heechul memberanikan diri membuka sebuah toko bunga berkat pinjaman dari Kangin. Heechul lambat laun bisa mulai melupakan masa lalu yang kelam dan itu semua berkat Kangin—sahabat yang selalu ada kapanpun dan dimanapun, dia selalu setia bahkan dalam keadaan terpuruk sekalipun

Itulah sahabat sejati

__

“Begitu ceritanya” Sungmin menghela nafas panjang dan menundukkan kepala—tidak berani menatap Heechul

Heechul tersenyum manis dan meraih dagu Sungmin agar dapat bertatapan langsung, “apakah Kyuhyun pantas kau perlakukan seperti itu?” selidik Heechul bersikap adil. Spontan Sungmin menggeleng cepat, “aku tahu Heechul…tetapi..kenapa dia?? Kenapa harus secepat ini???” bisik Sungmin putus asa

Heechul mengelus wajah Sungmin lembut, tatapannya agak sendu jika mengingat masa lalu Sungmin yang hampir mirip seperti dirinya, “aku kenal Kyuhyun..dia anak yang baik, kau tahu itu kan? jadi jangan menjauhinya terus” bujuk Heechul

“Tapi” Sungmin bergerak lemah, dia berusaha mencari argumen yang tepat untuk menggambarkan seluruh perasaannya tetapi itu sulit. Tiba tiba tatapan Sungmin terkunci ketika menatap Heechul dari dekat, sekelebat memori tadi menari nari di atas kepalanya

“Heechul?” panggil Sungmin ragu ragu

“ya?” wajah Heechul makin bingung ketika mendapati Sungmin duduk kaku serta mulutnya menganga lebar, “kau tahu siapa lelaki yang tadi bertengkar denganmu?” desak Sungmin terlihat ngeri

“Hangeng maksudmu?” jawab Heechul masih bingung—matanya mencari cari jawaban di wajah Sungmin, tetapi percuma. Entah kenapa Sungmin menjadi kalut sendiri

“Dia…..” bisik Sungmin lemah

“dia kenapa??” tanya Heechul mulai tidak sabar

Sungmin menoleh ke arah Heechul, ia mendekat dan membisikkan sebuah kata—kata kata kejujuran yang selama ini sebenarnya Heechul sudah tahu tentang kelebihan Sungmin

Beberapa hari kemudian

Heechul sedang menyirami tanaman ketika melihat sosok Kangin sedang bercanda dengan salah seorang yeoja yang menjadi langganan di toko bunga milik Heechul

Teuki

Mereka berdua tertawa senang dan saling berbincang layaknya teman lama, Heechul tersenyum karena mendapati wajah Kangin terlihat berbeda—sahabatnya sedang jatuh cinta. Wajah Teuki juga tertunduk dan mulai tertawa lagi jika mendengar lelucon dari mulut Kangin. Mereka berjalan mendekat dan langsung masuk ke dalam Kedai kopi

Heechul ikut bahagia jika Kangin bahagia tetapi…

“Kenapa harus dia” bisik Heechul mendadak sedih

“andai kamu tahu Kangin, tentang Teuki” kedua tangan Heechul menempel di kaca etalase, tatapannya yang sendu membuat seorang namja yang selalu di dalam kedai kopi namun berhadapan langsung dengan toko Heechul, diam

Lelaki itu menatap wajah Heechul dari jauh dan melihat apa gerangan yang dia lihat

Kangin dan Teuki

Sedang bercengkrama dengan lugas dan terbuka

Hati lelaki itu terbakar, berani beraninya Kangin menduakan wanita sekaligus. Lagipula kenapa tukang penjual bunga itu tidak mau mendengar ucapannya waktu itu, salahnya sendiri jika wajahnya sedih melihat tunangannya malah bersenang senang dengan perempuan lain. Pikir Hangeng dalam hati

Tangan Hangeng yang sedang memegang ujung meja bergetar hebat menahan amarah, dia tidak tahan melihat sikap Kangin terhadap Heechul tetapi, apa yang bisa di lakukan? Heechul sendiri malah berbalik membencinya

Tiba tiba ada perasaan terluka yang terselip di dalam hati Hangeng, kenapa harus dia?? Kenapa harus Kangin yang kau tangisi, bisik Hangeng seorang diri

~0~

“Heechul” panggil Kangin ketika masuk ke dalam toko

“Kangin, aku mau membicarakan sesuatu” Heechul melepaskan apron dari tubuhnya dan mengajak Kangin duduk di beranda toko

Tanpa mereka sadari ada orang yang terus mengawasi mereka dari jauh—orang yang entah kenapa selalu mengikuti semua gerak gerik Heechul, tanpa tahu itu apa

“Anda mau memesan apa, Hangeng-shi?” tawar Sungmin membuyarkan konsentrasi Hangeng yang sedang mengamati kedua orang dari seberang

“Seperti biasa saja, kopi pahit” sergah Hangeng buru buru mengusir Sungmin kembali ke dapur, dia sedang membuatkan pesanan Hangeng ketika Kyuhyun muncul dari belakang, “tahu tidak aku rasa Hangeng-shi punya perasaan khusus pada dewi Venus” celetuknya tidak menyerah mengajak Sungmin berbicara meskipun berkali kali juga Sungmin mengacuhkan Kyuhyun

“itu bukan urusanmu, kembali bekerja” balas Sungmin langsung berbalik menjauhi Kyuhyun tetapi Kyuhyun malah menahan salah satu lengan Sungmin, “apa salahku?? Kenapa kamu susah sekali diajak berteman?” selidik Kyuhyun memohon kepada Sungmin

“Aku….” Sebelum sempat Sungmin menyelesaikan kalimatnya, bunyi derak kursi bergeser terdengar dari meja Hangeng, jelas saja jika Sungmin dan Kyuhyun keluar dari dapur dan melihat pelanggan mereka sedang berlari ke seberang lalu memeluk tubuh Heechul yang menangis kencang

“Jangan menangis” bisik Hangeng relfeks, Heechul membenamkan wajahnya di pundak Hangeng lalu mengeluarkan seluruh perasaannya yang menyesak di dada

“ada apa? Apa Kangin menyakitimu?” Hangeng terus saja merengkuh tubuh Heechul yang lemah, baru sekarang Hangeng sadar jika Heechul terlalu kurus untuk ukuran perempuan. Hangeng memeluknya secara hati hati—takut jika tindakannya terlalu berlebihan

Kangin sendiri sudah meninggalkan Heechul seorang diri dengan wajah hampa, mereka berdua bertengkar hebat tanpa seorang pun tahu sebabnya

“aku…aku….” Heechul berusaha mengangkat wajah dan menghapus jejak air mata yang mulai mengering, “kami batal bertunangan” ujar Heechul di sela sela tangisan

Kyuhyun dan Sungmin mengangkat kursi satu persatu karena kedai sudah tutup, mereka juga sudah membereskan dapur dan mencuci mesin pembuat kopi. Sungmin dan Kyuhyun tahu jika bos mereka—Kangin sedang di rundung masalah. Hampir semua pengunjung serta Ryeowook dan Yesung yang sudah tidak pernah bertengkar lagi bisa mengingat betul bagaimana Kangin membuat Heechul menangis tersedu sedu di dalam pelukan Hangeng yang datang membantunya

Kangin sedang duduk termenung dan berkali kali mengusap wajahnya dengan tatapan hampa. Ia memegang cincin pertunangan mereka—Heechul mengembalikannya tadi. Betapa Kangin tidak habis pikir, bagaimana mungkin Kangin melanggar janjinya sendiri

BRAKKKK

Pintu kedai terbuka lebar, Hangeng masuk dengan tatapan penuh emosi

“maaf, Hangeng-shi kami sudah tutup” pinta Sungmin sopan

“Aku ingin bicara dengamu Kangin” ucap Hangeng dengan tangan terkepal dan berjalan mendekat ke dalam ruangan.

Kangin menoleh, “ada apa Hangeng?” tanyanya heran

“Aku yang harusnya bertanya ada apa??!! Kenapa Heechul sampai menangis seperti itu!!!” teriak Hangeng terbakar emosi

Kangin menggeleng kepala dengan lelah—ia melambaikan tangan ke arah Kyuhyun dan Sungmin, “kalian sudah boleh pulang” usirnya halus

Setelah memastikan mereka tinggal berdua, Kangin mempersilahkan Hangeng untuk duduk di sampingnya

“Heechul yang membatalkan pertunangan kami” bisik Kangin menjelaskan semuanya

“HA?”

Kangin menerawang—menatap bintang yang bersinar di langit terang dan mulai menceritakan kejadian tadi siang

=FLASHBACK=

“Aku ingin kita membatalkan pertunangan konyol ini” Tanpa ragu Heechul melepaskan cincin di jari manisnya lalu memberikan kepada Kangin yang menganga tidak percaya, “kenapa?” hanya itu pertanyaan Kangin—ada apa dengan Heechul

“Kangin, kau jatuh cinta—kau mencintai seseorang dan itu bukan aku” Heechul terkekeh kecil dan menepuk pundak Kangin halus, “kejarlah dia dan jangan mengkhawatirkanku lagi, aku sudah lama bebas” senyuman tulus Heechul terukir di wajah cantiknya

“Tapi…aku tidak mencintai siapapun” kata Kangin bersikeras

“Teuki?” Heechul mengangkat sebelah alis dengan pandangan menilai

Sontak tubuh Kangin terdiam, bayangan Teuki dan senyumannya mendominasi pikiran Kangin—membuatnya tidak bisa bertindak logis. Tetapi dengan cepat Kangin menghapus semua itu, dia sudah berjanji akan menikahi dan menjaga Heechul seumur hidup—janji yang harus terus Kangin pegang

“tidak, aku…aku sudah berjanji padamu” tolak Kangin sambil mengembalikan cincin namun langsung di tepis oleh Heechul, “tidak…langgar saja janji itu, aku tidak mau mengikatmu selamanya” kali ini Heechul yang keras kepala

“Tapi—

“Aku mohon, Kangin..aku sahabatmu, aku juga ingin membuatmu bahagia” Heechul dengan sabar membujuk Kangin—toh sudah 6 tahun ini hidup Heechul tentram tanpa gangguan ayahnya lagi

Wajah Kangin terlihat tegang, rahangnya terkatup rapat dan matanya menyipit tajam, “aku tidak pernah melanggar janjiku” bisik Kangin bernada final

Airmata kepedihan jatuh perlahan di wajah Heechul, sedih karena dia tahu betul sifat Kangin ketika memegang teguh janjinya—janji yang sebenarnya akan menghalangi perasaan kangin sendiri

“bagaimana dengan Teuki?” kata Heechul sambil meredam tangis

“Aku…aku…” Kangin memejamkan kedua mata dan berusaha menghapus perasaannya sendiri, “aku bisa melupakan dia”

KLONTANG

Suara pot terjatuh, Teuki berdiri di depan pintu sambil menatap Kangin dan Heechul bergantian, “maaf..aku tidak sengaja mendengar…aku…” tanpa bicara jelas Teuki segera pergi dengan wajah tertunduk, melihat itu Heechul mendorong tubuh Kangin keluar, “kejar dia!!!” pekiknya tidak sabar

“tidak Heechul, maaf, seharusnya aku tidak mendekati wanita lain” walaupun bicara begitu, tatapan Kangin mengikuti arah Teuki berlari, “kau?!” balas Heechul meninggi

“Aku akan selalu bersamamu bukan? Itu janjiku..sudah sebaiknya kita tidak bahas ini lagi” Kangin menutup pintu toko Heechul seraya berjalan seolah tidak terjadi apa apa. Heechul menangis melihat kejadian tadi, andai saja bukan karena dia—bukan dia yang berada di antara Kangin dan Teuki, mungkin sahabatnya sudah berbahagia sekarang

=FLASHBACK END=

“Dasar bodoh!” itu komentar pertama yang keluar dari mulut Hangeng, “Apa maksudmu?” tanya Kangin kaget

Hangeng masih menatap lurus ke depan tanpa mengindahkan Kangin di sampingnya, “Apa kau mencintai Heechul, sebagai seorang perempuan bukan sebagai sahabat?”

“Aku….” Kangin tertunduk—Hangeng tahu betul apa jawaban Kangin, “bagaimana bisa kau menikah dengan alasan sepele, hanya untuk melindunginya heh” suara Hangeng yang meremehkan Heechul membuat emosi Kangin sedikit terpancing, “Kau?! Apakah kau tahu?! Jika saja waktu itu aku tidak melamarnya, mungkin sekarang hidup Heechul masih berada dalam kesengsaraan tanpa harapan” nafas Kangin agak memburu—dia tidak terima jika orang asing malah menjelekkan tanpa tahu apapun

“tetap saja” potong Hangeng tidak peduli, “kau tidak mencintainya, sekarang kau malah mencintai orang lain dan kemungkinan besar dia juga mencintaimu, jadi apalagi yang kau tunggu, Kangin-shi?”

Kangin langsung terdiam, dia memainkan sepasang cincin di tangannya sesaat ada perasaan bersalah kepada Heechul meraup di dalam dada sedangkan wajah Teuki terus membayangi Kangin

Dua orang penting, yang satu sahabatnya, yang satu orang yang tidak sengaja malah di cintainya sepenuh hati

Mana yang harus Kangin pilih?

“Tetapi aku sudah berjanji pada Heechul” lagi lagi idealisme Kangin mengalahkan segalanya—bahkan dia menekan perasaan jatuh cinta yang memenuhi hari harinya belakangan ini

“kau berjanji akan bersamanya tetapi tidak menikahinya bukan?” Hangeng mengubah posisi duduk dan langsung menatap Kangin tajam

“Iya, tapi…” Kangin masih belum bisa menerima logika Hangeng

“biarkan aku yang menjaganya sekarang” ujar Hangeng setengah memohon

“APA?” Kangin murni kaget—dia tidak menyangka jika Hangeng memiliki perasaan lebih kepada Heechul

Hangeng menatap Kangin lama dan semua pikiran yang menghantui Hangeng terucap keluar, “aku juga tidak tahu, tetapi ketika melihat kau begitu dekat dengan Heechul, aku begitu marah dan aku semakin tidak tahan saat Heechul menangis tadi siang, aku…” Hangeng memejamkan mata, “aku jatuh cinta tanpa sadar kapan itu terjadi…” bisik Hangeng melemah

Kangin masih mengatupkan bibirnya rapat sambil mencerna ucapan Hangeng. Kangin tahu betul jika Hangeng bukanlah tipe lelaki yang bisa membahagiakan Heechul—dia suka mempermainkan wanita

Tetapi, sejak kapan seorang Hangeng bisa begitu peduli terhadap Heechul hingga mendatangi Kangin malam malam begini, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta itu. Bisik Kangin dalam hati

“Maaf, aku tidak bisa” itu keputusan Kangin, “aku tidak bisa menyerahkan wanita yang paling aku jaga kepadamu, sekarang lebih baik kau pulang saja” Kangin berdiri dan menunjuk pintu depan—dia menunggu hingga Hangeng menghela nafas berat dan melangkah keluar ruangan, meninggalkan Kangin seorang diri dengan pikiran bertambah kalut

___

“Selamat da..tang” Heechul berdiri dan langsung menyambut Hangeng yang masuk dengan wajah kusut dan berpakaian persis sama seperti kemarin, “kau tidak pulang?” tanya Heechul sambil menuang segelas air putih untuk Hangeng, “tidak…aku ada masalah kemarin” jelas Hangeng sambil menatap Heechul sedih

“Lalu kau tidur di mana?” tanya Heechul simpati, Hangeng menyerahkan sebungkus plastik kepada Heechul, “aku beli ramen dari kedai Ryeowook itu untukmu, kau sudah sarapan?” Hangeng minum sampai habis lalu duduk di bangku putih khusus pelanggan

“belum, eh kau tahu darimana aku belum sarapan?” Heechul mendadak heran, “dulu kau pernah bilang jika sudah membersihkan tanaman pasti lupa makan, jadi…” Hangeng mengedikkan bahu dan melemaskan tubuh di atas kursi

Heechul mulai membuka bungkusan dan menaruhnya di piring, “padahal selama ini hanya Kangin yang hapal kebiasaanku, ini sebagian untukmu” katanya seraya menyerahkan setengah porsi di piring berbeda untuk Hangeng, “anggap saja rasa terima kasihku untuk kemarin” tiba tiba Heechul memalingkan wajah—malu sekaligus gugup karena Hangeng begitu perhatian kepada Heechul waktu ia menangis

Hangeng menjadi sedikit bersemangat, ia menyendokkan beberapa suap ke dalam mulut dan memandang wajah Heechul sesekali, “andai aku bisa memilikimu” bisik Hangeng pelan

“Ha? Apa yang tadi kau bicarakan?” tanya Heechul tidak mendengar jelas

“Ah, bukan apa apa”

Mereka berdua lalu berkonsentrasi untuk makan, tanpa tahu jika Kangin sudah mengamati Heechul dan Hangeng dari tadi—ia tersenyum penuh arti dan mendadak mengerti semua perkataan Hangeng semalam

“Kau benar benar mencintainya” Kangin kembali ke belakang dapur—mengambil sesuatu kemudian berjalan menghampiri toko bunga Heechul

“Kangin” seru Heechul kaget, Hangeng juga menengok ke arah pintu depan. Kangin berjalan cepat dan memeluk tubuh Heechul. Membuat Hangeng membuang muka menyaksikan kejadian itu, Heechul sendiri juga terperangah, “ada apa ini?” ucapnya menjauh, Heechul takut jika Hangeng bisa salah paham dengan Kangin

“Hahahaha, tidak apa apa” Kangin melepaskan pelukannya dan merogoh sesuatu dari kantong celana, “aku harus menyerahkan sesuatu untukmu dan Hangeng” Kangin berbalik dan menaruh sebuah kotak mungil ke pangkuan Hangeng, “aku tagih janjimu semalam, jaga dia untukku” seusai mengucapkan itu, Kangin keluar dan berdiri di depan etalase toko Heechul. Kangin membentuk sebuah simbol hati sebelum pergi masuk ke dalam kedainya kembali

Heechul menggapai udara kosong—matanya berair namun dalam arti yang berbeda. Ia menoleh ke arah Hangeng yang ikut berdiri tepat di depan kaca

Hangeng berlutut dan tanpa meminta persetujuan Heechul langsung memasukkan cincin ke jari manis, “aku akan berjanji menikahimu, membahagiakanmu dan menggantikan Kangin untuk menjagamu seumur hidupku” ucap Hangeng tulus

Heechul hanya bisa menutup mulut dengan tangan kanannya—tidak percaya lalu mengerjap beberapa kali, ia terharu karena ucapan Sungmin benar benar terbukti
“Jangan menangis, aku lebih suka kau tersenyum” Hangeng membantu Heechul menghapus air mata dan menarik pipi Heechul hingga terbentuk sebuah senyuman di wajahnya, “nah begini kau kan lebih cantik”

“hahahaha” Heechul menangkap tangan Hangeng dan memasukkan cincin yang tadinya milik Kangin kepada Hangeng, “semoga aku pantas untukmu” bisiknya pelan

Hangeng meraih tubuh Heechul mendekat, “kau terlalu pantas untukku, dewi”

Heechul tertawa bahagia—dia akhirnya bisa memiliki sahabat sekaligus orang yang di cintai dalam waktu bersamaan

“Dia…..” bisik Sungmin lemah

“dia kenapa??” tanya Heechul mulai tidak sabar

Sungmin mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Heechul, “dia jodohmu”

THE END

7 responses to “≈Of Course I Love U-Chapter Seven-{KaHanchul}≈

  1. Happy ending ..
    Tapi kok ini lebih bnyak KangChul ya dri pda HanChul ..
    Keren deh cerita’a ..

  2. hyaaaaa~ walopun di bayanganku heechul itu mukanya cantik tapi ganas jadi gk co2k buat di siksa, yg pantes dia nyiksa malahan,hehehe~

    tapi klo baca kisahnya disini, sumpah miris rasanya..

  3. masa lalu heechul menyakitkan tapi berkat sahabat baik dia mulai bahagia.
    hanchul~ ga nyangka hangeng langsung ngelamar gitu aja hehhehe

  4. hwaaaaa…. ini nih… yg sebenarnya *plak
    yg ku baca tuh. kyumin dah nikah. hee sama kibum. won ama zhoumi. tiba2 dikepala. kok gini. dan bodohnya aku mikir. ah.. ini pasti krna kelebihan sungmin. ternyata…
    waaaahhh… aku penasaran sama yg ming cerita di hee… hanchul akhirnya.. kupikir ama kangin beneran…kkkk

  5. waaaww….kangin keren….
    persahabatan kangin & heechul Luar Biasa….tp sifat protektif kangin terlalu berlebihan…ani…buak protektifnya…tp prinsipnya….prinsip yg dipegang kangin memang baik…tp itu malah menghambat dirinya sendiri….
    tp aku suka….persahabatan diatas percintaan… ^_^

    haha…disini hangeng jd terlihat bodoh….karena tidak tahu apa2….
    tapi cinta bikin dia benar2 berubah dri sebelumnya….
    yg ini cocok.nya “si playboy jatuh cinta” haha😀

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s