≈No Other Like U-Thirty Seven-{Hurt}≈

“Hiks”

Sungmin menunduk—hampir terjatuh di jalan persimpangan saat dia ingin keluar dari luar kompleks rumah. Sungmin berniat pulang ke rumah orang tuanya karena tidak punya tujuan lain. Wajah Sungmin terlihat menangis, lelah akibat perut yang di tekan dari dalam sejak ia bertengkar dengan Kyuhyun

Sungmin menyetop taksi di depan gerbang, memberikan alamat lalu menunggu—menunggu sambil memikirkan seseorang. Hanya satu nama yang memenuhi pikiran Sungmin, Kyuhyun

Siapa yang begitu tega meracuni otak Kyuhyun hingga tidak mau mendengar penjelasan dulu dari Sungmin

“Ya Tuhan” bisik Sungmin sambil menahan semua derita sendirian

Semua kejadian ini seperti berputar ulang kembali sewaktu dia masih SMP

Ya, di mana semua itu bermula

“Nona sudah sampai” supir taksi berhenti tepat di pintu rumah Sungmin

“terima kasih” Sungmin menyerahkan sejumlah uang lalu keluar dari mobil, ia menarik nafas mencoba menyusun kalimat yang akan di lontarkan jika kedua orangtuanya menanyakan kenapa Sungmin kembali ke rumah lagi?

Sebenarnya Sungmin tidak mau melibatkan orang tua mereka—tetapi mau bagaimana lagi. Dia tidak punya tempat lain untuk bermalam saat ini

Sungmin melangkah masuk, namun kedua kakinya malah mematung di depan pintu

Rumah orang tua Sungmin gelap tanpa cahaya dan terkunci rapat dari balik gerbang

“Umma” segera ia mengambil telepon genggam namun baru tersadar kalau Sungmin tidak membawanya ikut serta—pasti tertinggal di rumah

“Bagaimana ini” bisik Sungmin ketakutan. Hari semakin malam dan dia tidak membawa uang lebih untuk menginap di hotel. Apalagi sekarang rasa lapar menyerang Sungmin—dia belum makan malam dari tadi, semenjak hamil Sungmin tidak bisa telat makan, karena pasti perutnya semakin terlilit kesakitan. Masih ada satu nyawa yang harus ia pertanggung jawabkan

“Chulie”

Mungkin Sungmin bisa menginap di rumah Chulie—walaupun ada rasa enggan. Bukankah nanti semua orang akan tahu masalah mereka, apalagi kedua orang tua Chulie juga mertuanya. Tetapi lagi lagi Sungmin tidak memiliki pilihan lain. Dengan langkah tertatih tatih Sungmin berjalan menjauh dari rumah orang tuanya

Butuh waktu agak lama hingga ia sampai ke rumah Chulie atau bisa di bilang rumah Kyuhyun juga. Sungmin makin menekan air mata yang tidak berhenti mengalir deras, ia harus kuat sekarang

“Kita mau kemana?” suara gembira Chulie terdengar hingga ke luar—tempat Sungmin bersembunyi di balik tembok, beberapa blok dari rumah Chulie

Suara lembut Kibum pun langsung menjawab, “kita nonton lagi gimana?”

Chulie keluar menggunakan pakaian tebal karena cuaca memang amat dingin lalu meraih lengan Kibum dalam genggamannya, “terserah padamu”

Mendengar itu Kibum tersenyum, ia memainkan tangan mereka berdua dan berjalan santai ke arah berbeda dengan tempat Sungmin berdiri

Di balik tembok, Sungmin kembali menangis….sekarang dia benar benar tidak punya siapa siapa lagi untuk di mintai tolong. Bagaimana mungkin ia tega mengganggu Chulie dengan masalahnya. Sungmin tidak boleh egois

“aku harus bagaimana…” Sungmin terus meringis, ia mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Kepala Sungmin berputar melihat keadaan sekeliling, ketakutan.

Karena tidak punya tujuan lain Sungmin hanya bisa bergerak meninggalkan rumah itu lalu berjalan tak tentu arah. Pikiran dan tubuhnya mulai berdenyut merasakan rasa sakit luar biasa. Untuk sesaat Sungmin ingin sekali merebahkan diri di atas kasur, kelelahan

Ia terus berjalan hingga sampai di sebuah taman kecil yang biasa ada di daerah perumahan. Berbagai mainan anak kecil dan sebuah bangku panjang memenuhi isi taman. Sungmin tersenyum miris lalu berpikir untuk duduk sejenak sebelum memutuskan mau kemana lagi

“Tapi…aku tidak punya siapapun kecuali Umma, Appa dan Chulie…bagaimana ini”

Sungmin duduk di salah satu ayunan kayu, kakinya berayun ke depan dengan tatapan hampa. Andai saja, Sungmin mau jujur kepada Kyuhyun..tetapi itu semua sudah lewat—kenapa baru sekarang berdampak kuat pada pernikahan mereka berdua

“Kyu” meski sakit atau air matanya malah turun semakin deras mengucapkan nama itu, Sungmin masih berharap Kyuhyun tiba tiba muncul dan menarik ucapannya. Meminta Sungmin kembali terus melupakan semuanya

Ya, andai saja

Tetapi Sungmin tertawa miris, tidak mungkin

Dia sendirian dan akan selalu sendirian

Pegangan kedua tangan Sungmin pada tali ayunan mulai mengendur—tekanan batin dan rasa sakit yang melilit perutnya semakin menurunkan kesadaran Sungmin. Ia mengerjap sesaat sebelum tubuh terasa melayang, mau menyentuh tanah

“Awas!”

Sebuah tangan hangat menangkap tubuh Sungmin. Orang itu menegakkan tubuh Sungmin, menepuk nepuk wajahnya pelan. Tetapi Sungmin tidak bergerak, ia tidak sadarkan diri

“Sungmin….dia kenapa?” tanya suara itu gusar

“Kakak….” sesosok perempuan menghampiri kakaknya yang masih terus berusaha membangunkan Sungmin

“dia…..pingsan” jawab sang kakak mulai panik. Keringat dingin membanjiri dahi Sungmin, bibirnya sedikit memutih—kedinginan berada di luar tanpa memakai pakaian hangat

“tunggu apa lagi” tarik sang adik khawatir, “kasian dia kak, kita bawa dia ke rumah saja”

Sungmin masih bisa merasakan suara suara itu meski tubuhnya tidak terbangun. Suara dengungan itu bercampur dengan suara yang mulai bangkit kembali dari ingatan Sungmi yang rapuh

©FLASHBACK©

“Kumohon Appa, kita menetap di Seoul saja” rengek Sungmin bersikeras sambil bersandar pada tubuh kursi pesawat. Di sebelah Sungmin, Kangin dan Teuki duduk santai seperti menganggap ucapan Sungmin hanya angin lalu

“Appa, Umma!!” teriak Sungmin tidak sabar karena ternyata kedua orangtuanya malah acuh tak acuh

Kangin menoleh dengan enggan di sertai senyuman miris Teuki, “tapi Minnie sayang, Appa kan pekerjaannya suka berkeliling dunia, mencari tambang minyak olahan…” Kangin merangkul tubuh Sungmin dari samping, “permintaanmu hampir mustahil, kita hanya tinggal di Korea selama 3 bulan lalu pindah ke Chicago”

“Tapi” Sungmin masih terus berusaha, “aku…..” wajahnya merunduk segan. Tentu saja sikap Kangin dan Teuki makin keheranan kenapa baru sekarang, setelah belasan tahun mereka berpindah tempat dari kota ke negara asing Sungmin ingin menetap—padahal selama ini ia bukanlah anak yang suka menuntut macam macam.

“apa sayang” tanya Teuki lembut, resah melihat putrinya bersedih.

“aku ingin punya teman” Sungmin salah tingkah sambil memainkan ujung kaos yang berwarna hijau toska, “Appa dan Umma tahu—aku tidak pernah pergi atau berbicara dengan perempuan seumuranku….jadi…” Mata Sungmin kembali memohon, “kita menetap yah”

Kangin dan Teuki jelas jelas terperangah mendengar pengakuan Sungmin

Mereka berdua berpikir dunia Sungmin hanya berpusat pada komik atau serial kartun, Kangin dan Teuki tidak pernah berpikir kalau Sungmin akhirnya menyadari sikap anti sosialnya yang membuat Sungmin menyendiri selama ini

Mereka berdua saling bertukar pandangan kemudian melirik ke arah Sungmin

“baiklah” Kangin mengangguk setuju, “kita menetap di Seoul..kampung halaman kita”

“Yeeeee!!!!” sontak Sungmin langsung memeluk Kangin baru setelah itu Teuki secara bergantian, “makasih Umma, Appa”

“sama sama sayang” balas Teuki halus

Semenjak itu Kangin berusaha meminta keringanan dari kantor pusat agar tidak berpindah pindah untuk sementara waktu. Teuki pun ikut sibuk memilih rumah—rumah pertama mereka, setelah bertahun tahun tinggal berpindah pindah

Sungmin bahagia bukan main. Impiannya untuk hidup normal dan mempunyai banyak teman akhirnya bisa terwujud. Dia sudah merencanakan masuk sekolah lokal lalu mulai beradaptasi dari awal

Tidak ada kebahagiaan terbesar bagi Kangin serta Teuki di bandingkan kegembiraan Sungmin menjalin hubungan dengan orang lain secara intens. Sungmin bahkan memamerkan seragam sekolahnya untuk pertama kali—karena selama berpergian ke berbagai negara, kedua orang tua Sungmin memanggil guru les agar Sungmin mendapatkan tingkatan sama pada jenjang sekolah yang lain

“Minnie..”

“Ya, tunggu sebentar” Sungmin menyampirkan sebuah seragam biru manis lalu keluar kamar untuk menghampiri Appanya yang memanggil

“Sini…Appa mau membicarakan sesuatu” gumam Kangin—ada nada bersalah terselip di dalam suaranya

“Apa?” tanya Sungmin semakin bingung karena Umma Teuki juga menggelengkan kepala saat Appa Kangin ingin menyampaikan berita tersebut

“Appa…mendapat tugas untuk mengurus kilang minyak di perairan hokaido….kami..”

“Appa sudah berjanji!” tolak Sungmin keras—dia sudah berdiri dan bergantian menatap mata kedua orangtuanya

“Sayang, bukan itu maksud Umma atau Appa” lerai Teuki memberi isyarat Sungmin agar duduk kembali, “kami hanya meminta ijin untuk pergi beberapa minggu ke sana setelah itu kami pasti kembali” ujar Teuki bernada membujuk

“Oh” Sungmin mengendurkan kedua bahu—merasa lega, “tidak apa apa…aku bisa pergi sendirian hari pertama besok” kata Sungmin sambil tersenyum senang

Bagi Sungmin, kedua orangtuanya mau menetap saja sudah bagus. Jadi patut Sungmin bersyukur dan bersikap memudahkan semua ini—bukankah dia tipikal anak mandiri

“Maaf…Appa ingin sekali—

“Tidak Appa…aku tidak apa apa” Sungmin tersenyum lembut lalu melayangkan tatapan hangat kepada mereka berdua, “nanti kalau aku sudah punya teman, Appa dan Umma bisa bisa malah aku cuekin deh hehehehe”

“Dasar kamu ini” dengus Teuki pura pura marah, “sana tidur supaya besok tidak telat”

“Iya Umma” Sungmin bangkit berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar

..Smp St Steven, 5 setengah tahun yang lalu..

Setelah acara penyambutan murid baru dan beberapa sambutan basa basi dari berbagai ketua yayasan hingga kepala sekolah, Sungmin melangkah dengan semangat penuh ke dalam kelasnya—kelas XII

Senyum Sungmin makin lebar melihat beberapa murid baru, sama seperti dirinya sudah ada di sana, ada yang bercengkrama satu sama lain ada juga yang malah tertidur sambil di cemooh penuh canda oleh beberapa murid

“Aku pasti punya banyak teman nanti” gumam Sungmin mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam barisan sebaris perempuan yang bergerumul

Tetapi harapan Sungmin harus hancur di tengah jalan

Kebanyakan murid sudah turun temurun berteman, karena St Steven memang memiliki jenjang pendidikan dari mulai playgroup hingga tingkat SMA. Dan jelas itu membuat Sungmin semakin sulit masuk, di tambah lagi logat bicara Sungmin yang sedikit aneh bagi orang korea pada umumnya

Setiap kali Sungmin membuka pembicaraan, mereka semua menjauh—melihat dengan tatapan aneh dan sedikit melecehkan.

Apalagi pada hari ke dua, Sungmin telat masuk kelas karena tidak tahu peraturan sekolah umum. Sungmin tidak tahu kalau ada batasan batasan waktu yang harus di tepati

Seluruh kelas menertawai Sungmin di depan kelas yang sedang di hukum guru

Semangat dan Harapan Sungmin semakin menipis

Pada hari ketiga, Sungmin makin tertunduk lesu—bayangkan saja, dia malah menjadi sasaran satu kelas karena salah seorang murid kehilangan uang ketika jam istirahat. Dan seperti mereka ketahui, hanya Sungmin yang selalu berada di kelas, sendirian di kursinya

Untung saja, uang itu di temukan di pelataran kantin, tetapi tetap tidak menghilangkan cap buruk yang melekat pada diri Sungmin saat pertama kali bersekolah di sini

KRIIINNGGG

Sungmin mengayunkan tubuh, mengulurkan tangan agar dapat menggapai telepon di ruang tamu, “halo?”

“Halo!!!! Sayang!!! Bagaimana kabarmu??? Appa dan Umma sudah tidak sabar mendengar kabar tentang teman teman barumu??” tanya Teuki bertubi tubi dari seberang sana

Sungmin kembali sayu mendengar itu, haruskah ia berbohong jika tidak ada seorangpun yang mau menjadi temannya..tidak sama sekali

“Iya Umma, mereka baik sekali” ujar Sungmin dengan sedikit bergetar

“Sayang…suaramu sedikit aneh” selidik Teuki agak ragu—apalagi Sungmin memang bukan tipikal orang pintar berbohong

“Tidak” Sungmin sibuk menghapus air matanya yang mulai tumpah, “aku hanya sedikit lapar..hahaha..bagaimana kabar Umma?” kata Sungmin mengalihkan pembicaraan

“Ngg…Umma ingin menyampaikan sesuatu” sekarang giliran Teuki berbicara gugup

“Apa?”

“Sepertinya Appa dan Umma masih lama berada di Jepang sayang….”

“Oh” Sungmin menutupi rasa kecewanya, “tidak apa apa Umma, aku kan bisa sendiri”

“Iya Appa dan Umma juga berpikir begitu, apalagi kau sudah punya banyak teman kan?” perkataan itu membuat Sungmin mati matian menahan suara tangisannya

“Iya..” Sungmin berhasil menemukan suara normal, “aku punya teman”

__

Berhari hari, hingga berganti minggu. Sungmin mulai terbiasa sendirian—sama seperti sebelum dia masuk ke dalam lingkungan sekolah. Sungmin tidak lagi menghiraukan sindiran anak anak yang mengatainya Autis atau anti sosial—Sungmin tidak peduli. Hanya komik dan beberapa tontonan kartun yang menjadi temannya sekarang

Setiap Teuki atau Kangin menelepon, Sungmin lihai menutupi segalanya—dia bahkan berpura pura ingin pergi main ke rumah teman ketika Teuki agak curiga kenapa Sungmin semakin jarang menceritakan teman teman sekelas

Apa yang mau Sungmin ceritakan? Dia hanya mengarang itu semua, Sungmin tidak mau membuat orang tuanya khawatir lagi. Sungmin yang meminta menetap di Seoul maka dia harus menerima segala konskuensi

Hingga suatu hari

“HAPPY B’DAY!!!!!!!” pekikkan Kangteuk dari seberang lautan spontan memaksa Sungmin menjauhkan gagang telepon dari arah telinga

“Umma!!! Appa!!! Jangan teriak teriak, ini sudah malam!!” bentak Sungmin meski tidak serius, ia jelas jelas terharu karena orangtuanya masih mengingat hari ulang tahun Sungmin walau tetap tidak bisa pulang ke Seoul

“Hahaha…sayang…Umma dan Appa sudah mengirimkan berdus dus komik untukmu….ok”

“Ne, makasih Umma Appa…” bisik Sungmin tulus

“Tidak apa apa Minnie..oh ya..teman temanmu menghadiahi apa?” selidik Kangin menggoda Sungmin tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, “pasti kau dapat banyak sekali kado kan?” tebak Kangin salah besar

“Iya…” Sungmin menundukkan wajah—entah kenapa dia masih menangis setiap kali membohongi kedua orang tuanya, “ini aku sedang membuka salah satu kado dari Miiju” sahut Sungmin asal asalan menyebut teman perempuan yang malah sering menghina Sungmin di kelas

“Oh..kau pasti bahagia di sana….” Gumam Teuki ikut senang

“Iya” Sungmin menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara isakan, “aku bahagia”

Setelah menutup telepon, seperti biasa Sungmin mengambil bantal berwarna pink dari kamar lalu menjerit tertahan—menumpahkan perasaan yang terasa terlalu sesak di dadanya

Beberapa bulan Kangin dan Teuki kembali pulang, Sungmin berbahagia saat saat itu meski mati matian dia menutupi kenyataan kalau tidak ada satupun teman yang main ke rumah padahal sedang masa liburan sekolah

Sungmin terus mengeluarkan alasan alasan logis tetapi sekali lagi, Sungmin tidak pandai berbohong—Teuki menatap ada yang tidak beres tetapi ia menggeleng, berpikir mungkin Sungmin sedang bertengkar dengan temannya yang lain

Karena merasa Sungmin baik baik saja mereka tinggal sendirian, Kangin dan Teuki semakin jarang pulang. Bahkan saat kelas XIII kedua orang tua Sungmin hanya pulang saat pengambilan raport

Hal itu berlangsung lama, Sungmin tetap menjadi anak penyindiri dan seluruh murid satu angkatan perlahan menjaga jarak, meski sebagian dari mereka tidak tahu alasan yang sebenarnya kenapa Sungmin di kucilkan

Ada tembok besar yang tercipta sejak awal—tembok yang membuat Sungmin tidak percaya akan kata ‘pertemanan’

Mereka lebih percaya dengan rumor beredar seputar Sungmin sedangkan Sungmin sendiri tidak peduli. Dia hanya berpikir secepatnya menyelesaikan sekolah lalu mengikuti jejak Appa keluar dari Seoul

_____

PRANGGG

Bunyi pecahan kaca depan, Sungmin langsung duduk tegak dari depan meja belajar—dia was was berjalan keluar untuk mengecek keadaan meski rasa takut terus menghantui apalagi hari semakin malam

“UHUK”

Suara batuk seorang pria

Nafas Sungmin semakin menderu, ia mengambil sebuah penggaris besi sebagai perlindungan saat melangkah lebih dekat

“Siapa itu?? Keluarlah??” teriak Sungmin meski dalam keadaan tidak beruntung. Dia perempuan sedangkan mahluk itu sudah pasti lelaki—siapapun tahu lelaki lebih kuat daripada wanita

SREETTTT

Kain penutup jendela menguar lebar, sesosok namja tinggi dengan wajah kuyu keluar. Baju kusut dengan tas serampangan membuat penampilannya malah terlihat mengenaskan. Sungmin saja menurunkan penggaris karena langsung tahu bahwa lelaki ini tidak berbahaya sama sekali

“Maaf….” Bisik lelaki itu ketakutan, wajahnya yang agak dewasa terlihat memelas

“Mau apa?” hardik Sungmin tegas

Kedua tangan lelaki itu menengadah—bersikap menyerahkan diri. Ia memberanikan maju lalu mulai berkata, “aku…aku tersesat”

“Jadi kamu dari perkampungan, berniat mencari saudaramu tetapi malah kerampokan dan tersesat tanpa memiliki uang sama sekali” ulang Sungmin sambil menyerahkan segelas air putih dan semangkuk ramen hangat untuk pemuda itu

Sang pemuda mengangguk cepat, tanpa basa basi menerima makanan pemberian Sungmin kemudian melahapnya rakus—seperti tidak makan tiga hari

Sungmin spontan terkekeh kecil, ia bisa lihat bahwa lelaki ini memang tidak berniat jahat…malah dengan santai Sungmin membiarkan lelaki itu menginap di rumahnya malam ini

Ke esokkan hari

“Aku pergi sekolah dulu, baru setelah itu mengantarmu ke stasiun, supaya tidak tersesat lagi, bagaimana?” tawar Sungmin ketika mau berangkat ke sekolah

“Tapi” raut pemuda itu resah, “kau mempercayakan aku tinggal di rumahmu sendirian? Kau tidak takut aku…

“tidak” Sungmin tersenyum polos, “aku percaya padamu…er…kau belum menyebutkan nama?”

“namaku Jungmoo” balas Jungmoo ramah

“sampai nanti Jungmoo” Sungmin melambaikan tangan sebelum menghilang dari balik pagar rumah

Sepanjang jalan Sungmin tersenyum senang—meski tidak terkatakan, ia akhirnya memiliki teman. Walaupun Sungmin dan Jungmoo baru berkenalan tadi malam tetapi Sungmin yakin kalau Jungmoo anak baik

Apalagi melihat tingkah lucunya yang belum pernah menggunakan shawor di kamar mandi, Sungmin sampai tergelak menahan geli melihat wajah Jungmoo yang menggigil ketakutan

“Aku punya teman” gumam Sungmin berkali kali, senyumnya bahkan tidak hilang ketika masuk ke dalam kelas. Beberapa orang spontan termangu dengan sikap Sungmin yang tiba tiba berubah

Sungmin pemurung sekarang malah tersenyum lebar. Matanya bercahaya saat menyapu ke sekeliling ruangan, membuat beberapa anak geng Kim Miiju mendelik ingin tahu

“Kenapa si aneh itu?” dengus Miiju curiga

“tidak tahu…mungkin kedua orangtuanya pulang kali” jawab salah satu anggota kelompok itu

“tidak mungkin” tepis Miiju terang terangan, “orangtuanya kan hanya pulang ketika liburan sekolah di mulai..ini pasti ada yang tidak beres”

Miiju menopang dagu, meneliti keadaan Sungmin lebih cermat, “aku akan mencari tahu”

Sepulang sekolah Miiju memaksa semua anggota geng mengikuti Sungmin dari jauh. Sifat otoriter Miiju memaksa mereka untuk menuruti semua keinginannya. Miiju bahkan tidak pernah melepaskan pandangan dari Sungmin hingga mereka semua sampai di depan rumah Sungmin

Wajah Miiju menganga lebar saat pandangannya tertuju pada seorang namja—masih cukup muda yang keluar dari rumah Sungmin

“itu…mereka….” Pikiran picik Miiju langsung mengarah negatif

“mungkin itu sepupunya…” bisik salah satu perempuan enggan, “tidak mungkin!! lihat saja tampang miskin pemuda itu, sudah pasti bukan saudara jauh Sungmin” elak Miiju

“Lalu siapa?” tanya perempuan di sebelah Miiju ikut bersuara

“Kita ikuti saja” Miiju memberi isyarat untuk terus menguntit Sungmin dari belakang. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di sebuah stasiun kecil depan jalan besar

Miiju melangkah bersembunyi di balik tembok agar bisa mendengar percakapan mereka berdua

Jungmoo menoleh lalu menunduk dalam dalam berulang kali, “terima kasih telah memberikanku menginap semalam…sungguh aku..

“tidak apa apa, kita kan teman” ada selubung perasaan bahagia ketika Sungmin mengucapkan itu—ia ikut tersenyum membalas ucapan terima kasih Jungmoo

“Ne….” Jungmoo dan Sungmin terdiam saat sebuah bis berhenti tepat di depan mereka

“terima kasih sekali lagi” ujar Jungmoo untuk terakhir kali

Sungmin melambai kencang, “jangan lupa main ke rumahku nanti”

“hmm, pasti”

Bis menutup kedua pintu dan bergerak menjauhi letak stasiun

Sungmin masih terus meratapi kepergiaan Jungmoo kemudian baru kembali pulang

Sementara itu Miiju malah tersenyum sadis, merencanakan sesuatu—sesuatu yang semakin membuat Sungmin terluka dan di kucilkan

©FLASHBACK END©


“dasar perempuan murahan……tidak tahu malu…….pantas saja dia liar, orangtuanya tidak ada yang mengawasi…..anak nakal……….tidak…aku tidak mau dekat dengan Sungmin….”

“BERHENTIII” Teriak Sungmin melonjak bangun dari atas kasur—ia mimpi buruk semalam. Bukan, itu bukan mimpi….perkataan itu sempat terlontar dari mulut teman temannya dulu

Sungmin mengusap keringat dari wajahnya dan mulai terjaga penuh

“Ini…” kamar asing yang sederhana dengan jendela terbuka lebar—sapuan angin menyejukkan udara di sekitar kamar yang di tempati Sungmin

“aku di mana?” ujar Sungmin mencoba bangkit, keluar ruangan untuk mencari tahu

Pagi hari, di tempat yang berbeda

“Ugh”

Kyuhyun merenggakan tubuh yang tertidur di atas sofa—semalaman ia tidak pindah ke kamar. Kyuhyun juga sengaja tidak mengunci pintu rumah berharap seseorang yang tadi pergi akan kembali

Tetapi hingga pagi menjelang, orang yang di tunggu Kyuhyun tidak kunjung datang. Rasa cemas bercampur amarah memenuhi dada Kyuhyun, tetapi sejenak ia mendelik cepat

Buat apa Kyuhyun memikirkan Sungmin, toh dia yang salah bukan sebaliknya

Kyuhyun mencoba mandi dan berganti pakaian seragam seperti biasa..ia segera turun untuk mengambil minum ketika melihat hidangan buatan Sungmin masih terpampang utuh di atas meja

Dengan beralaskan dinding kulkas, Kyuhyun menatap hampa—seolah olah jejak Sungmin masih ada di situ. Mengingat semua hal tentang Sungmin berdampak buruk bagi Kyuhyun—ia cepat cepat mengambil tas dan kunci motor lalu keluar rumah

Kyuhyun berkutat menghidupkan motor namun tetap saja, pikirannya melayang

Tetapi buru buru ia menggeleng, Kyuhyun menggas motor lalu melaju keluar dengan kecepatan di luar batas. Kyuhyun terus menambah kecepatan, mengalihkan pikirannya kepada satu nama—semakin Kyuhyun mengingat Sungmin semakin parah Kyuhyun ngebut di jalan raya

Namun hati tidak bisa berbohong

Kyuhyun tidak membelok ke persimpangan jalan—daerah sekolahnya, ia malah terus memacu motornya melewati jalan besar lalu berhenti di salah satu kawasan perumahan yang ia kenal baik

Rumah orang tua Sungmin

Begitu sampai, Kyuhyun mematikan motor, membuka helm lalu tanpa basa basi membuka pagar depan dengan kasar. Kyuhyun tidak mengindahkan keadaan rumah yang gelap dan terkunci rapat, di dalam pikiran Kyuhyun ini pasti perbuatan Sungmin agar tidak mau menemui dirinya lagi

Kyuhyun tidak kehabisan akal, dia naik ke dahan kokoh pada sebuah pohon rindang di halaman rumah Sungmin yang pernah Kyuhyun panjat sebelumnya—saat mereka masih berpacaran

Satu lompatan kaki Kyuhyun ia telah sampai di beranda kamar Sungmin—tetapi betapa terkejutnya Kyuhyun melihat ke dalam ruangan.

Sungmin tidak ada di sana

Bahkan tempat tidur Sungmin masih rapi seperti tidak pernah di sentuh beberapa hari belakangan

“Ini tidak mungkin!” desis Kyuhyun marah sambil berusaha mendobrak jendela kamar—ia membukanya paksa, setelah berhasil Kyuhyun masuk ke dalam dan mulai mencari ke seluruh ruangan

“Minnie!!!!” teriak Kyuhyun dengan nafas menderu

Tetapi….dia tidak ada di manapun

Kyuhyun tidak berhenti mencari, ia malah terus mengacak acak kertas di atas meja makan—berusaha mencari jejak Sungmin atau apa saja barang yang pernah di sentuh Sungmin agar menandakan Sungmin pernah berada di sini sebelumnya

Hasilnya nihil

Sungmin tidak kemari tadi malam

“Tidak….” Kyuhyun menggelengkan kepala masih tidak mau percaya, “tidakk….” Ia terus melampiaskan kekesalan pada koleksi buku Sungmin yang masih ada di situ, atau menarik paksa selimut di atas tempat tidur

Karena kelelahan Kyuhyun terduduk kaku, ia menutupi wajah—mencoba berpikir logis namun tidak bisa. Kekuatan Kyuhyun habis hanya memikirkan di mana sekarang Sungmin berada

“Minnie….tidak…” Kyuhyun terus menggumamkan kata kata yang sama berulang kali. Beberapa lama terdiam, Kyuhyun menyeret tubuhnya ke atas, ia harus meminta bantuan semua orang…walaupun…..ada konskuensi yang harus Kyuhyun tanggung

“Halo…Appa…Umma….aku mau membicarakan sesuatu” bisik Kyuhyun menekan kepalanya ke belakang tembok, “ini tentang Minnie…”

____

“Kibum cepat!!!!” tandas Chulie gusar, ia menarik lengan Kibum setengah berlari menuju rumah Kyuhyun

“Iya” sahut Kibum ikut khawatir. Bagaimana tidak, seharian tadi Kyuhyun dan Sungmin sama sama tidak masuk sekolah. Di tambah lagi Kyuhyun menelepon Chulie dengan suara lemah lalu meminta mereka semua berkumpul di rumah

Chulie mempercepat langkahnya—tanpa mengetuk pintu, ia terus masuk dan menemukan kedua orang tuanya dan orang tua Sungmin sedang berdiri kaku menghadap Kyuhyun yang duduk di lengan sofa—sikap mereka seperti sedang menghakimi seseorang dan untuk kali ini tidak ada candaan seperti biasa

Semua membeku di tempat

Teuki yang pertama menghampiri Kyuhyum kemudian tanpa basa basi melayangkan tangannya

PLAKKKK

Sebuah tamparan keras mengenai wajah Kyuhyun, tidak ada sama sekali perlawanan

Ia malah tertunduk pasrah

“Ada apa ini?” Chulie melepaskan genggaman Kibum lalu berdiri tepat di antara orang tua mereka dan Kyuhyun. Chulie berusaha melindungi Kyuhyun meski dia tidak tahu apa yang terjadi

“Minnie menghilang” jawab Kyuhyun hampa

Chulie memalingkan wajah tidak percaya, “apa?? Bagaimana bisa Kyu!!!!” bentak Chulie kasar

“Aku….” Kyuhyun memainkan cincin pernikahan di jari manisnya—ia terus menunduk, entah menghindari tatapan menusuk dari kedua pasang orang tua atau membiarkan darah segar mulai menetes dari bibir Kyuhyun

Kyuhyun menceritakan semuanya—tentang pertengkaran mereka, tentang sikap aneh Sungmin, tentang bagaimana ia tega membiarkan Sungmin pergi seorang diri pada malam hari

“aku….aku tidak menyangka jika dia benar benar pergi” tutur Kyuhyun berat, ia menghela nafas panjang sebelum berkata, “aku menebak dia balik ke rumah yang dulu..tetapi saat aku ke sana, dia tidak ada…..” Kyuhyun menompang wajahnya dengan sikap menyesal, “Minnie tidak ada di manapun…”

Kangin yang pertama kali menanggapi ucapan Kyuhyun, “Kenapa kau tidak mempercayai Minnie….kalian sudah menikah, kepercayaan itu sangat penting Kyu!” kata Kangin memperingatkan

“Aku tahu Appa! Tapi…melihat sikap Sungmin yang menyembunyikan sesuatu…di tambah…dengan berita itu,…aku….” Kyuhyun mendongakkan kepala—semua orang termasuk Kibum tersentak melihat wajah Kyuhyun seperti orang yang kehilangan segalanya. Sorot matanya meredup dan ia terus menerus melayangkan tatapan memohon kepada mereka semua

“tetapi…bukankah Minnie selalu bilang dia punya banyak teman di SMP” sahut Teuki mengerutkan dahi—bingung

“Iya….” Kangin mengelus punggung Teuki lalu bergantian menatap Kyuhyun, “apa kau yakin tentang itu Kyuhyun???”

Sebelum Kyuhyun menjawab, Chulie sudah mengangkat tangannya terlebih dahulu, “Minnie….”

Semua orang menoleh ke arahnya

“Minnie….tidak pernah mau menceritakan tentang sekolahnya yang dulu. Ia selalu menghindar jika aku bertanya, lalu aku mengambil kesimpulan Minnie sama sepertiku, ia pasti juga di kucilkan” bisik Chulie pelan

“Ya Tuhan…kenapa jadi serumit ini…” desis Eunhyuk iba, “Minnie sedang mengandung pula…aku takut” Eunhyuk tidak berani menyelesaikan kalimat itu—tetapi mungkin semua berpikiran sama

“Kumohon…” Kyuhyun terjatuh di atas lantai—dia berlutut sambil terus menundukkan kepala lebih dalam, “bantu aku menemukan Minnie….aku…….aku rela kalian hukum atau apa…tapi….”

Sekarang Teuki saja tidak tega melihat Kyuhyun memohon seperti itu. Dia sudah cukup menyalahkan diri dari tadi

“Kyu…kami akan membantumu tenang saja” Kibum membantu Kyuhyun agar kembali duduk di atas sofa.

Mereka mulai berembuk mencari jalan keluar sambil membiarkan Kyuhyun beristirahat sejenak.

..Supermarket Yesung..

“Yang mana sih mereknya??” Mochi berkutat serius pada salah satu rak susu khusus ibu hamil, tangannya menimbang dua kotak yang akan di beli, “kata Kakak sih yang ini…hmm” akhirnya Mochi memilih kotak susu sebelah kanan lalu mengambil beberapa makanan instan seperti biasa sebelum beranjak ke meja kasir

Yesung menyambut Mochi secara berlebihan—namun kali ini Mochi tidak terpancing gurauan Yesung, ia menghitung uang sambil menunggu Yesung selesai menghitung semua belanjaannya, “EH? Susu Ibu hamil?” Yesung terkejut seraya melihat ke arah tubuh Mochi—mulai curiga

Mochi memutar kedua bola mata, sudah memperkirakan reaksi Yesung. Tetapi mau bagaimana lagi, Mimi tidak bisa membeli karena sedang menjaganya di rumah sehingga Mochi yang jadi pesuruh sekarang

Dan reaksi Yesung hanya di balas gelengan kepala Mochi, “bukan buat aku, ini untuk…” Mochi menutup mulutnya, ia tergagap sebelum melanjutkan, “tidak…berapa semua?”

Untung saja Yesung yang memiliki kadar otak di bawah 5 % tidak curiga sama sekali, ia menyebutkan sederet angka kemudian menerima uang dari tangan Mochi

“kau membuatku hampir jantungan, aku kira kau hamil…” Yesung memberikan kembalian kepada Mochi, “nanti aku pasti di minta bertanggung jawab” kelakar Yesung tersenyum lebar

Emosi Mochi naik ke atas kepala, “Ya!!! Kau bukan siapa siapaku?! Dan jangan ngomong seperti itu lagi?!!”

“Hahahahha” Yesung tertawa kencang melihat kepergian Mochi masih marah marah sepanjang perjalanan. Paling tidak sekarang Mochi mau menjawab jika di tanya oleh Yesung. Tidak mendiamkannya seperti dulu

“Tapi….” Yesung bergeming memandangi punggung Mochi di luar toko, “kok merek susunya sama seperti yang sering Kyuhyun beli untuk Sungmin ya”

“Ah siapa peduli” Yesung mengangkat bahu lalu membereskan beberapa barang di belakang, ia tidak menyadari bahwa baru saja menebak dengan benar di mana keberadaan Sungmin sekarang

Sementara itu

Di sebuah rumah sederhana, Mimi menunggu kedatangan Mochi dengan khawatir. Mimi terus mondar mandir sebelum melihat siluet tubuh mungil Mochi masuk ke halaman rumah, “ah…untung saja, mana susunya?” todong Mimi kepada Mochi

“Ini kak, bagaimana keadaannya?” tanya Mochi ikut cemas

Mimi menggeleng pelan, “dokter sudah pulang tadi…dan dia pingsan lagi”

“Ya Tuhan” Mochi dan Mimi masuk ke dalam rumah. Mimi membuatkan susu di dapur sedangkan Mochi menengok keadaan seseorang di kamar tamu

“Bertahanlah demi bayimu” bisik Mochi sendu, ia mengelap keringat dingin pada kening wanita itu. Sekaan tangannya menyadarkan kesadaran sang wanita—ia mengerjap berulang kali

“Kyu” bisiknya lemah

“Aku bukan….siapa itu Kyu?” tanya Mochi membantu Sungmin duduk sambil menunggu Mimi selesai menyeduh susu hangat

Sungmin menggeleng, “maaf…aku merepotkan kalian” ia menoleh dengan pandangan sayu, mendengar itu Mochi langsung menyanggah, “tidak!! Kau sama sekali tidak merepotkan kok”

Tak lama Mimi muncul dan memberikan gelas itu kepada Sungmin, “Minum, habiskan!! Kau belum makan apa apa dari kemarin” perintah Mimi tegas

Sungmin bergeming, keadaannya belum membaik sama sekali

“Please ini demi si kecil” bujuk Mochi membantu kakaknya

Bujukan Mochi berhasil, Sungmin tergerak memikirkan bayinya—ia meminum susu itu pelan pelan. Hanya beberapa tegukan, gelas itu kembali kosong. Ternyata Sungmin lebih lapar dari dugaan Mimi

“Mochi buatkan susu lagi, dan jangan lupa telepon rumah makan di ujung jalan sana…Sungmin kan tidak boleh makan makanan instan” suruh Mimi

“iya” Mochi menurut dan pergi keluar melaksanakan perintah kakaknya

Mimi berpindah posisi duduk di tepi ranjang Sungmin, “jauh lebih baik?”

Sungmin berusaha mengangguk, “terima kasih karena kau sudah mau memanggilkan dokter untukku” ucap Sungmin benar benar terharu

Dia tidak tahu sudah cemburu pada wanita yang salah

Padahal hubungan Sungmin dan Mimi tidak begitu baik selama ini. Tetapi begitu mendapati Sungmin pingsan di taman, Mimi serta Mochi adiknya malah berbaik hati membawa Sungmin ke rumah, mengurusnya seharian dan memanggilkan dokter

“tidak apa apa….” Mimi menepuk pundak Sungmin, “ada masalah apa? Kau bertengkar dengan Kyuhyun?” cecar Mimi tanpa bermaksud mengorek apapun—ia hanya penasaran

“Aku…..” Sungmin berhenti, ia menarik nafas panjang

“Kalau kalian mau bercerai, bolehkah aku menjadi istri baru Kyuhyun?” tawar Mimi entah bercanda atau tidak, tetapi ucapannya itu berhasil merubah sikap murung Sungmin

Ia tertawa lebar, begitu lepas. Beban yang menghimpit Sungmin menguar keluar

“silahkan, aku tidak keberatan” jawab Sungmin sungguh sungguh

Mimi menaikkan kedua alis, “berarti masalahmu sangat besar” tebaknya benar

Sungmin berhenti tertawa, “sangat”

Mimi menunggu, Sungmin tahu kalau dia memang perlu membicarakan masalah ini kepada orang lain…tadinya dia membutuhkan Chulie, tetapi tidak, Sungmin tidak boleh mengganggu hubungan saudara itu

Chulie bisa marah besar kalau tahu Kyuhyun mencampakkannya semalam

Sungmin menatap wajah Mimi lama, ada ketulusan seorang teman di sana—hal itu yang memberanikan Sungmin menceritakan segalanya. Semua dari awal bagaimana kehidupan Sungmin waktu SMP dulu, bagaimana teman teman memperlakukannya, reaksi Kyuhyun yang tidak mempercayai Sungmin

Semua mengalir begitu saja dari mulut Sungmin, ia terus bercerita dan bercerita. Tanpa menyadari, air mata Sungmin ikut tumpah karena mengorek kembali kenangan pahit yang ia kubur sendirian

“Aku tidak tahu lagi….kenapa ini berujung sama, aku selalu sendirian” bisik Sungmin sambil terus menangis

Mimi meraih tubuh Sungmin lalu memeluknya erat, “kau tidak sendiri…aku dan Mochi pun begitu”

Mimi sejenak melepaskan Sungmin dan bergantian menceritakan sesuatu, “kau tahu kan kalau aku dan Mochi berdarah campuran. Kedengarannya memang enak dan merasa special karena kau berbeda” Mimi menatap nanar ke depan

“Tetapi…aku dan Mochi mendapat diskriminasi, entah di Inggris dulu waktu kami bersekolah kami mendapat penghinaan karena ada darah asia di tubuh kami sedangkan waktu kami berdiam di Seoul—semua orang menghindari kami karena warna rambut yang berbeda. Seolah olah kami berdua bukan warga negara Korea”

Sungmin terperangah menyimak semua itu

Mimi tertunduk sambil memainkan jari jarinya—gugup. Belum pernah sebelum ini Mimi menceritakan masalah keluarganya. Ia menutup diri untuk melindungi Mochi, sekarang perhatian Mimi hanya berpusat pada adiknya. Mochi adalah prioritas utama

“waktu kedua orangtua kami bercerai, aku menangis…Mochi sempat tidak mau makan beberapa hari. Dengan mudah mereka bercerai karena merasa tidak ada kecocokan, mereka tidak tahu bahwa aku dan Mochi terluka dengan perpisahan itu” topeng angkuh yang selama ini Mimi kenakan runtuh seketika, “terus mereka sibuk memikirkan karier tanpa mempedulikan keberadaan kami, bahkan kedua orangtua kami berdebat soal hak asuh—bukan mereka bukan memperebutkan kami, tetapi melemparkan kami satu sama lain”

Mimi tertawa hambar masih menghindari tatapan iba Sungmin, “karena aku sudah berumur 18 tahun, dewasa menurut hukum. Aku memberanikan diri berpisah dari mereka dan tinggal di Seoul, hidup berdua saja dengan Mochi. Memang benar kami masih di tanggung mereka secara finansial…tapi tetap saja aku merasa tidak punya orang tua” bisik Mimi menahan air matanya

“Aku…”

“Kau harus bersyukur….jangan merasa sendirian lagi” kata Mimi memotong ucapan Sungmin

“Iya” janji Sungmin terharu

Mimi menyuruh Sungmin berbaring kembali sambil menunggu kedatangan Mochi, “kalau mau kau boleh tinggal bersama kami, di bandingkan tinggal dengan lelaki egois seperti Kyuhyun” hina Mimi tanpa ampun

“Hahahahaha” Sungmin semakin tertawa mendengar itu

“Aku serius” angguk Mimi menyelimuti tubuh Sungmin, “saat kau menceritakan semua itu…rasa kagumku kepada Kyuhyun hilang seketika”

“tetapi…aku tidak” gumam Sungmin berusaha memejamkan mata—ia ingin melupakan semuanya, “aku masih amat mencintainya”

*****

Sehari setelah Sungmin menghilang, Kyuhyun dan keluarganya berbondong bondong melapor ke polisi. Tetapi tanggapan mereka malah jauh berbeda

“Kalau kami mau mengurusi masalah rumah tangga seperti ini, bisa bisa laporan kehilangan akan penuh setiap hari” sindir salah satu petugas begitu mendengar keluhan Kyuhyun

Kyuhyun terdiam lagi. Dia memang salah dan terlalu bersalah hingga tidak bisa membalas perkataan tajam dari polisi tersebut

Kangin dan Teuki berusaha mencari di tempat Sungmin sering bermain dulu—tetapi sama saja.

Dia tidak ada di sana

“Kita cari di mana lagi?” tanya Chulie mulai putus asa, ia tahu betul jika Sungmin tidak memiliki teman lain—lebih akrab di bandingkan dirinya yang bisa di mintai tolong

Kangin menggeleng, “kami tidak punya sanak saudara dekat—tempat Sungmin bisa menginap..”

“terus…jangan jangan..” kata Kyuhyun begitu frustasi

“sudah lebih baik kita istirahat dulu, nanti kita cari lagi” usul Donghae tidak sanggup melihat Kyuhyun menggumam kecil sambil terus menyalahkan diri sendiri

Kibum memapah tubuh Kyuhyun selagi mereka kembali ke tempat masing masing. Setelah bisa meyakinkan Kyuhyun berada di dalam rumah, Kibum dan Chulie pulang—meninggalkannya sendiri

“Minnie kamu dimana” bisik Kyuhyun menyeret tubuhnya ke atas sofa. Dengan lunglai, Kyuhyun menyalahkan TV. Ia menonton tanpa minat

Beberapa petikan ucapan Sungmin kemarin terngiang dalam pikiran Kyuhyun

“kalau kita pisah kayak mereka” Sungmin mendelik ke layar TV, “kamu bakal nangis ngga?”

Kyuhyun semakin mengeratkan genggaman tangan pada remote

“Kamu emang beneran bakalan nangis?” ulang Sungmin waktu itu

Kyuhyun tidak kuat lagi. Air matanya jatuh perlahan, melewati kelopak bawah, pipi hingga singgah di sudut bibir

Dia membiarkan air mata terus mengalir tanpa menyekanya sama sekali. Kyuhyun masih terus menatap layar TV dengan hampa

Bibir Kyuhyun bergetar—pertahanannya runtuh. Ia membungkuk masih terus terisak menangisi kepergian Sungmin

Pada saat yang sama

“Chulie kamu kenapa???” Kibum spontan menghampiri tubuh Chulie sambil menghapus air mata yang turun tanpa Chulie sadari

Mereka sedang menelepon beberapa teman yang mungkin tahu keberadaan Sungmin ketika Kibum terkejut melihat Chulie menangis tiba tiba

Chulie terbelalak namun membiarkan Kibum menyeka air matanya, “aku tidak me…nangis” mata Chulie terlihat panik, “Kyu!!! Kyuhyun!!” Ia buru buru mengambil jaket tebal lalu berlari kencang keluar—meninggalkan Kibum sendirian di dalam rumah

Jarak antara rumah Chulie dan tempat tinggal Kyuhyun memang dekat, jadi tidak ada kesulitan karena Chulie berlari menuju ke sana. Tidak sampai 5 menit Chulie sampai kemudian langsung masuk ke rumah

Ia tidak begitu terkejut melihat Kyuhyun menangis di ruang TV—tetapi tetap saja Chulie tidak tega dengan keadaan Kyuhyun yang sedang terpuruk. Chulie menanggalkan jaket lalu memeluk Kyuhyun dari depan

“Jangan menangis, kita pasti menemukannya” bisik Chulie ikut terisak kecil

Bahu Kyuhyun bergetar, ia berbicara di antara sela tangisan, “aku….aku membiarkannya pergi…bagaimana kalau Minnie tidak pernah kembali” desis Kyuhyun benar benar ketakutan

“Tidak” Chulie makin mempererat pelukannya, “kita pasti bisa…sudah jangan menangis lagi” dengan perlahan, ia mengangkat wajah Kyuhyun yang sayu, memandangnya penuh iba—belum pernah Chulie melihat Kyuhyun kehilangan pegangan seperti ini

Chulie berlutut dan terus menghapus jejak air mata di wajah Kyuhyun, “aku juga merasa kehilangan….dia penting buat kita…” sekarang giliran Chulie yang menangis kencang—merasa bersalah karena tidak ada ketika Sungmin membutuhkannya dan sahabatnya malah menghilang begitu saja

“Aku tidak ada untuk Minnie….sahabat macam apa aku ini” ucap Chulie tertahan

Kyuhyun gantian menghapus air mata saudara kembarnya kemudian membawa Chulie dalam pelukan, “sstt….sudah” kata Kyuhyun menenangkan Chulie

“Iya….kita pasti bisa menemukan Minnie” sahut Chulie membalas pelukan Kyuhyun

TING TONG

Kyuhyun dan Chulie mematung

Mereka saling berpandangan, memikirkan hal yang sama

“jangan jangan itu..”

Dengan terburu buru, Kyuhyun dan Chulie bangkit dari tempat duduk kemudian berlomba memegang gagang pintu

CKLEK

Pintu terbuka, ada sosok perempuan yang tersenyum lebar di depan mereka

Tetapi itu bukan Sungmin

“Hai, apa kabar?” sapa Miiju gembira—namun perlahan raut wajahnya mengendur saat melihat sosok Chulie di samping Kyuhyun, “kau siapanya??” tanya Miiju kurang sopan

Tatapan Kyuhyun dingin, ia mendelik ke arah Chulie seraya berkata, “Ini Heenim saudara kembarku….Heenim ini Miiju, sahabat Sungmin waktu SMP” Kyuhyun memberi penekanan pada kata kata terakhir

Chulie melebarkan mata, tiba tiba mengerti maksud kerlingan Kyuhyun, “oh..kamu Miiju” kata Chulie mengulurkan tangan—terlalu ramah, “silahkan masuk, kebetulan kami berdua ingin berbicara denganmu”

Meski kebingungan, Miiju sebenarnya senang dengan ajakan Chulie. Ia pura pura merasa segan lalu mengikuti langkah Kyuhyun masuk ke dalam rumah

Setelah Miiju masuk, Chulie mengunci pintu sambil menyeringai licik

Dari luar rumah terdengar bunyi dentuman benda keras dan pekikkan tertahan—suara wanita ketakutan

Tetapi karena daerah perumahan itu masih sepi, tidak ada satupun apa yang di lakukan oleh Kyuhyun dan Chulie di dalam bersama dengan Miiju

..Rumah Mimi & Mochi..

“Kenapa melamun?” pertanyaan tiba tiba terlontar dari Mimi. Terang saja Sungmin sedikit terlonjak dan menoleh ke belakang

“tidak..aku hanya sedang memikirkan—

“Kyuhyun” tebak Mimi dengan benar

Sungmin tersenyum pahit, ia memandang kembali langit malam dari jendela kamar. Hujan turun deras dan meninggalkan jejak jejak air yang menempel pada kaca transparan itu

Mimi duduk di samping Sungmin, ikut menikmati hujan dan malam pada saat bersamaan

“Kau sudah baikan?” suara Mimi terdengar amat khawatir. Bagaimana tidak, Sungmin bisa pingsan tiba tiba. Seperti kemarin, mendadak Sungmin terhuyung saat berjalan menuju kamar mandi tepat di saat Mochi pulang dari sekolah. Untung tidak terjadi sesuatu yang fatal dengan kandungan Sungmin

“tidak, aku baik baik saja” gumam Sungmin masih terdengar lemah. Semenjak tinggal 4 hari di rumah Mimi, ia memaksakan diri supaya cepat sembuh demi dua orang yang masih memperdulikannya. Sungmin tidak mogok makan lagi dan terus berusaha untuk membantu pekerjaan rumah yang langsung di tolak mentah mentah oleh kedua kakak beradik ini

Tetapi beban pikiran Sungmin tidak juga berkurang. Kesehatannya masih menurun meski Mimi sudah memanggil dokter berulang kali. Padahal dokter sudah memperingkatkan agar menjaga kandungan Sungmin dan tidak boleh terlalu stress

Kalau keadaan Sungmin begini terus, Ia bisa keguguran kapan saja

“Aku sendiri bingung, kenapa hingga sekarang dia tidak menjemputnya juga??? Setega itukah Cho Kyuhyun!!!” kata Mimi menggertakkan gigi

“hahaha….” Hanya Mimi yang bisa membuat Sungmin tertawa akhir akhir ini, “dia tidak mungkin menyangka aku ada di rumah kalian”

“Eh? Benar juga” gumam Mimi mulai mengerti

“Kakak!!!!!” teriakan Mochi terdengar hingga ke dalam kamar Sungmin, “Lihat ini, aku menemukan apa?” Mochi menghampiri mereka berdua di dekat jendela lalu menyerahkan sebuah selebaran—selebaran foto seseorang yang berada di situ

Di bawah foto itu ada sejumlah alamat dan keterangan jika melihat sosok itu

Mochi dan Mimi memandang Sungmin bersamaan

“Dari mana kau mendapatkan ini?” tanya Mimi mewakili rasa penasaran Sungmin

“Tadi pulang dari supermarket Yesung ada seorang namja—kasian deh kak, mukanya letih dan terlihat menderita sekali. Ia membagikan brosur di depan supermarket sambil terus memohon jika salah satu dari orang lalu lalang menemukan istrinya—harus menghubungi secepatnya” Mochi mencuri curi pandang ke arah Sungmin, “dia mencarimu” bisik Mochi tertuju untuk Sungmin

Sungmin merebut kertas putih itu. Ia terisak kecil dan air mata mulai turun membahasi kertas yang dia pegang, wajah Sungmin dalam foto pernikahan mereka terpampang jelas di sana

Mimi dan Mochi terdiam melihat penderitaan Sungmin. Mereka membiarkan Sungmin menumpahkan segalanya dengan menangis, walaupun bingung harus bersikap bagaimana…memberitahu Kyuhyun atau mendukung Sungmin terus bersembunyi

____

“Kyu ayo sekolah!!!!!” gertak Chulie ketika esok pagi mendatangi rumah Kyuhyun bersama dengan Kibum

“Tidak mau!! aku mau mencari Minnie lagi” jawab Kyuhyun masih menggunakan pakaian yang sama dengan wajah terlihat mengenaskan

“Kyu, tidak begitu caranya” bisik Chulie melembutkan nada suara, “kau sudah berkeliling seharian kemarin dan belum makan sama sekali, ok kau boleh tidak sekolah. Tapi paling tidak beristirahatlah” pinta Chulie sedikit memaksa

Sekarang hanya Chulie yang bisa di andalkan oleh kedua orang tua mereka. Kyuhyun sudah pasti tidak mendengarkan orang lain kecuali saudara kembarnya sendiri

Kyuhyun menatap Chulie lama, ia menimbang nimbang sejenak, “baiklah— lebih baik aku pergi sekolah”

“aku dan Kibum menunggu di depan” sebenarnya ini ancaman, takut Kyuhyun melakukan sesuatu hal yang bodoh. Sebenarnya bukan masalah jika Kyuhyun sekolah atau tidak. Kedua orang tua mereka sudah meminta ijin kepada pihak sekolah dengan alasan Sungmin sakit—supaya berita ini tidak menyebar luas

Tetapi Chulie hanya ingin Kyuhyun bangkit kembali. Ia benar benar menahan tangis setiap kali melihat raut wajah Kyuhyun. Lebih dari menderita, seperti kehilangan separuh kekayaannya dalam sekejap, atau seperti mendengar vonis mati dari dokter

Seperti itulah wajah Kyuhyun sekarang

Tidak membutuhkan waktu lama untuk Kyuhyun berganti baju, Chulie menggandeng tangan Kyuhyun lalu menghampiri Kibum di depan gerbang rumah

Mereka bertiga berjalan ke depan, naik angkutan umum menuju ke sekolah

Ketika mereka sampai di depan gerbang ada sosok wanita menunggu kedatangan Kyuhyun.

“Buat apa ada Zhoumi di sini?” tanya Kibum penasaran

Chulie menengok dan mendengus kesal, “aisshh mudah mudahan dia tidak sedang mencari…

“Kyuhyun” sapa Zhoumi dingin langsung mendekati Kyuhyun yang berada di belakang Chulie dan Kibum

Kyuhyun masih dalam keadaan melamun namun tersentak mendengar namanya di sebut, “oh kau” balas Kyuhyun acuh

Zhoumi terus saja jalan mendekat, hingga jaraknya dan Kyuhyun hanya beberapa senti. Zhoumi menggeram marah lalu melayangkan tangan kanan kebas ke arah wajah Kyuhyun

PLAKKKKK

Kedua mata Kyuhyun membulat lebar—ia sadar sepenuhnya mendapati wajahnya di tampar keras oleh Zhoumi, “Kau?? Ap—

“Itu buat Sungmin” desis Zhoumi kejam

Kyuhyun hanya menangkap satu kata, “Minnie?” katanya terperangah

Tetapi Zhoumi tidak memberi kesempatan Kyuhyun untuk bertanya, ia mengayunkan kembali tangannya ke arah wajah Kyuhyun sebelah kiri

PLAKKKKKK

Zhoumi sedikit terengah engah, karena ia memukul sekuat tenaga, seringaian tajam terkuar dari bibir Zhoumi—puas melihat wajah Kyuhyun sedikit membiru

“Itu untuk bayinya…”

Kemudian Zhoumi melenggang anggun meninggalkan Kyuhyun yang masih termangu memegangi wajahnya, Chulie, Kibum dan sejumlah murid yang melihat pertengkaran mereka

Setidaknya Zhoumi sudah puas memberi pelajaran kepada Kyuhyun. Ia terus pergi—tidak menghindahkan panggilan Kyuhyun yang sedikit memaki Zhoumi

“Kyuhyun memang pantas mendapatkannya” desis Zhoumi lega

“Kau tidak apa apa?” tanya Chulie meringis saat melihat wajah Kyuhyun sedikit bengkak—tetapi Kyuhyun malah menampik tangan Chulie, “Minnie….dia tahu Minnie di mana” tanpa menunggu lama Kyuhyun langsung melesat mengejar sosok Zhoumi diam diam dari belakang

Kyuhyun terus mengikuti Zhoumi tetapi ia terpaksa kecewa karena Zhoumi malah masuk ke dalam sekolahnya—mengikuti pelajaran seperti biasa

Sepanjang jam sekolah, Kyuhyun luntang lantung menunggu di depan gerbang. Ia tidak peduli—orang menatapnya aneh. Seorang siswa berbaju seragam dan berwajah lebam berdiri di depan sekolah. Saat ini Kyuhyun pasti terlihat seperti murid nakal

Butuh waktu sekitar 7 jam hingga akhirnya bel pulang berdentang nyaring dari dalam sekolah Zhoumi

Kyuhyun langsung bersiap siap, ia bersembunyi di balik pohon rindang

Kedua mata Kyuhyun dengan seksama memperhatikan setiap siswa yang keluar dari dalam sekolah. Ia sedikit kewalahan karena bisa saja sosok Zhoumi tertutupi oleh gerombolan orang lain—tetapi untungnya tidak, tubuh jenjang Zhoumi memudahkan Kyuhyun menemukannya dengan cepat dan tanpa berlama lama terus menguntit Zhoumi sambil terus menjaga jarak

Zhoumi berjalan pulang tanpa curiga sedikit pun, Ia membelok ke arah persimpangan jalan lalu berhenti tepat di ujung dekat taman.

Kyuhyun melihat Zhoumi masuk ke dalam rumah itu—ia tadinya ingin mencari keberadaan Sungmin, tetapi ternyata Kyuhyun tidak usah berbuat apapun

Sungmin sendiri yang membuka pintu untuk Zhoumi

“Kau pulang” tanya Sungmin senang karena tidak sendirian lagi

Zhoumi mengangguk, “Ne, tunggu sebentar aku akan memesankan makan siang untukmu” ujar Zhoumi masih berdiri di pintu depan

Sungmin menggeleng, “tidak usah..aku sudah membuatkan sesuatu untukmu dan Mochi, aku memasak” ujar Sungmin gembira

Melihat wajah Sungmin, saat itu juga Kyuhyun beranjak keluar dan bergegas menghampiri mereka berdua

“Minnie!!!” teriak Kyuhyun putus asa

Sontak kedua wanita itu kaget mendengar itu, mereka menengok ke arah Kyuhyun yang berjalan masuk ke pekarangan rumah

Namun langkah Zhoumi lebih gesit, ia segera menutup pintu, menguncinya dari dalam tepat di depan wajah Kyuhyun

BRAKKKK

“Tunggu!!! Biarkan aku bertemu dengannya!!!” Kyuhyun menggedor pintu depan secara beringas

“Tidak!!!! Kau hanya akan menyakitinya!!!!” balas Zhoumi terus menahan pintu dengan tubuhnya sedangkan Sungmin berusaha mengintip dari sela sela jendela—melihat sosok Kyuhyun yang hanya berjarak beberapa senti tetapi terhalang oleh pintu

“MINNIEEE..AKU MOHON….” Kyuhyun kehilangan tenaga. Sudah berhari hari ia tidak makan semenjak Sungmin pergi dari rumah. Tubuh Kyuhyun jatuh terduduk di depan pintu, ia terus memelas dan meminta dengan suara parau—tetapi Zhoumi benar benar tidak mempercayai Kyuhyun sama sekali

“Ku mohon..aku…mohon…buka pintunya….” Kyuhyun memegang erat daun pintu dalam keadaan tidak berdaya. Sungmin masih mematung di dekat jendela depan—menangis melihat Kyuhyun memohon seperti itu

“Sungmin, ayo kita makan saja” Zhoumi sedikit menarik tubuh Sungmin yang tidak mau beranjak dari situ, “Sungmin…dia bisa menelantarkanmu lagi” bujuk Zhoumi agar Sungmin tidak terlalu memikirkan Kyuhyun

“Tapi..” Wajah Sungmin terus menangis, andai saja tidak ada Zhoumi sudah pasti Sungmin akan membukakan pintu untuk Kyuhyun

“kita makan” sergah Zhoumi tidak mau berkompromi, ia menyeret tubuh Sungmin ke arah dapur

Kyuhyun yang tahu mereka berpindah, memutar ke bagian kiri belakang rumah untuk dapat melihat tubuh Sungmin lebih dekat. Kyuhyun terus menatap Sungmin dari sela sela ventilasi kecil. Dari dalam dapur, Zhoumi sedang menyendokkan makanan sementara wajah Sungmin mencuri curi ke arah pintu depan

Dapat Kyuhyun rasakan, Sungmin merasakan hal yang sama

Mereka saling membutuhkan satu sama lain

“Aku pulang!!!” teriakan Mochi membahana

“ayo ikut makan Mochi” ajak Zhoumi bersikap seolah tidak ada apa apa, sedangkan Sungmin malah berdiri dan memegang pundak Mochi, “kau lihat seorang namja tidak, di depan pintu? Yang membagikan brosur di depan supermarket itu?” cecar Sungmin lemas

Mochi menggeleng, “aku tidak melihat siapa siapa di depan…” ia bertatapan dengan Zhoumi, “memang dia tadi kemari?”

“Aku tidak peduli, sudah kita makan saja” nada suara Zhoumi bersifat final, Mochi dan Sungmin tidak berani melawan Zhoumi, mereka duduk lalu makan dalam diam

Kyuhyun merasa dadanya jauh lebih hangat—melihat Sungmin masih mencari dan mengkhawatirkannya

“Akhirnya aku menemukanmu” bisik Kyuhyun lemah

Ia menunggu dan terus menunggu. Menunggu Zhoumi selesai memberikan susu kepada Sungmin, menunggu Mochi menguap lebar ketika mengerjakan PR di ruang tamu kemudian masuk ke kamar untuk tidur. Dan menunggu Zhoumi mematikan semua lampu ruangan, ia memastikan jika mereka sudah mulai beristirahat

Kyuhyun yang sudah tahu letak kamar Sungmin di sayap kanan, menengok ke dalam kegelapan. Ia mencongkel gerendel jendela dengan sebuah batu runcing yang tajam pada ujungnya. Sempat tangan Kyuhyun malah tersayat gesekan batu, tetapi ia tidak peduli. Kyuhyun hanya punya satu tujuan—menemui Sungmin dan meminta maaf kepadanya

KREKK

Berhasil. Jendela dapat terbuka sempurna. Perlahan, Kyuhyun masuk melewati jendela yang berukuran besar sebelah kiri. Ia dapat masuk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun

Kyuhyun membalikkan tubuh, menghadap ke atas ranjang—tempat Sungmin tertidur pulas. Bibir Kyuhyun bergetar hebat, langkah kaki yang berat ia seret hingga tepi ranjang

Tangan Kyuhyun yang berdarah, mengelus wajah Sungmin yang sudah tidak ia lihat berhari hari—hampir seminggu. Tanpa tersadar air mata Kyuhyun mulai menetes dan ada suara lenguhan dari bibirnya yang memutih

“Ng”

Sungmin menggeliat dalam tidurnya akibat sentuhan Kyuhyun—perlahan tubuh Sungmin terjaga, ia segera menoleh tidak sengaja ke arah Kyuhyun

“kau?” sontak Sungmin terbangun sempurna dan bersingut menjauh

Tangan Kyuhyun berusaha menggapai Sungmin agar tidak menghindar, “Minnie aku mohon…..ku mohon….” Suaranya bergetar dan air mata semakin mengalir deras melihat penolakan Sungmin

Siapapun, bahkan orang yang membenci Kyuhyun sekalipun akan tergerak mendapati sosok Kyuhyun saat ini. Matanya bengkak akibat kurang tidur mencari keberadaan Sungmin di sertai tubuhnya yang kuyu tidak terawat beberapa hari terakhir

Ia terlalu mengenaskan

“Bukankah kau tidak peduli lagi denganku” bisik Sungmin mati matian menahan kedua tangan yang malah ingin memeluk tubuh Kyuhyun dari tadi

“tidak..” Kyuhyun berjuang mengeluarkan kalimatnya yang tercekat—ia mulai kehabisan tenaga, “aku peduli, ya aku peduli….tolong jangan tinggalkan aku lagi” pinta Kyuhyun mengemis maaf dari Sungmin

“tapi…” Sungmin menghapus air matanya sendiri, “kau….kenapa kau tidak percaya padaku…padahal…aku paling mempercayaimu….asal kau percaya, aku tidak butuh siapapun lagi” ujar Sungmin menutup wajahnya

Kyuhyun menggeser tubuhnya naik ke atas tempat tidur lalu merengkuh tubuh Sungmin dalam pelukannya, “maaf….maafkan aku” bisik Kyuhyun dari atas kepala Sungmin, ia semakin mempererat pelukannya saat tahu Sungmin tidak lagi menolak Kyuhyun

“Aku tidak peduli lagi….orang mau bicara apa tentangmu” ujar Kyuhyun sambil melepaskan pelukan mereka, ia menatap lurus ke arah Sungmin, “aku tidak peduli kau siapa dan apa yang pernah kau lakukan…bahkan aku tidak peduli kalau kau pernah membunuh orang sekalipun….” Kyuhyun menelusuri wajah Sungmin dengan jari jarinya yang masih mengeluarkan darah, “aku akan tetap mencintaimu…jadi please..kembalilah” pinta Kyuhyun menumpahkan segalanya, “aku bisa gila jika tidak ada kau…Minnie”

Sungmin menatap Kyuhyun dalam, ia melepaskan tangan Kyuhyun, sedikit terkejut melihat jejak darah di sana, “kau berdarah”

“Oh ini, tidak apa apa” kata Kyuhyun enteng

Sungmin meraih wajah Kyuhyun dan melihat sepasang kantung mata, kulit Kyuhyun memucat dan bibirnya yang kering

“Kau kurusan” bisik Sungmin pelan

“hahaha…” tawa Kyuhyun hambar membiarkan Sungmin terus menyentuh dirinya

Sungmin meraba kaus Kyuhyun yang kotor karena di pakai berhari hari. Ia tahu kalau Kyuhyun pasti benar benar menderita tanpa dirinya. Hingga tidak peduli sama sekali dengan kesehatan

“Sepertinya” kata Sungmin sambil mendongak ke arah Kyuhyun, “aku harus mengurusmu lagi”

Sudut bibir Kyuhyun berkedut mendengar ucapan Sungmin—membentuk sebuah senyuman penuh rasa bersyukur karena Sungmin masih mau menerima Kyuhyun kembali

“Itu harus!” meski Kyuhyun menggertak Sungmin, ia malah membawa tubuh Sungmin dalam dekapannya, “jangan pergi lagi….” Kyuhyun memohon

“Tidak akan kecuali kau yang membiarkan aku untuk pergi” desah Sungmin sambil membalas pelukan Kyuhyun

“tidak…..aku berjanji tidak bertindak bodoh lagi…”

Mereka berpelukan lama. Kyuhyun dan Sungmin sama sama tidak mau melepaskan pelukannya. Kyuhyun terus membelai kepala Sungmin dengan perasaan lega—akhirnya Sungmin mau memaafkannya

“Huh dasar….” Desis Zhoumi sedikit kesal melihat dari sela sela pintu kamar Sungmin karena ada tamu tidak di undang di dalam sana

“Kakak ini! tidak senang apa mereka berdua rujuk kembali??” tandas Mochi ikut mengintip juga

Bahu Zhoumi terangkat, “bukan begitu Mochi, tetapi Kyuhyun merusakkan jendela!!!! Lihat saja besok pagi, aku akan meminta ganti rugi!!” jelas saja ucapan Zhoumi membuat Mochi terkikik pelan

“Kakak, kakak ck ck ck….sudah kita tidur lagi…” ajak Mochi memberi privasi untuk Sungmin dan Kyuhyun

*****

“Kita harus membantu Kyuhyun hari ini” ucap Teuki di jawab dengan anggukan paham Donghae, Eunhyuk, Kangin serta Kibum dan Chulie

Siang ini mereka sengaja datang untuk memulai pencarian Sungmin dari awal tanpa tahu apa apa tentang kejadian kemarin. Donghae membuka pintu rumah Kyuhyun yang tidak di kunci.

Satu persatu mereka masuk ke ruang tamu lalu bergegas mencari sosok Kyuhyun di dalam rumah. Betapa terkejut mereka semua mendengar suara tawa Kyuhyun bersama seorang wanita—wanita yang mereka cari selama ini

“Minnie” bisik Kangin rindu, ia di ikuti dengan yang lain menyelusuri lantai rumah Kyuhyun kemudian berhenti di ruang TV

Dari arah belakang semua bisa melihat kepala Sungmin dan Kyuhyun sedang duduk di atas sofa sambil menonton telenovela kegemaran Sungmin

“Kok belum mulai juga?? Aku kan sudah puasa satu minggu ini” keluh Sungmin saat lengan Kyuhyun melingkar di tangan kiri Sungmin

Kyuhyun tersenyum lebar, “memangnya kamu ngga di bolehin nonton di sana?” goda Kyuhyun

Sungmin memutar kedua bola mata, “Ngga! Kata Zhoumi telenovela itu pembodohan massal, dia malah menyuruhku menonton kartun bersama Mochi”

Kyuhyun tertawa mendengarnya

“Tapi” Sungmin mendongak—ia tersenyum manis, “aku memang lebih baik berada di sini, bersamamu….tidak enak nonton sendirian”

Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin lebih erat, “dan aku tidak enak hidup sendirian”

Sungmin tersenyum makin lebar sambil menyandarkan kepala ke bahu Kyuhyun, “ah sudah mulai” kata Sungmin bersemangat

Kali ini Kyuhyun tidak protes, ia malah menikmati saat saat seperti ini—bersama Sungmin

KangTeuk, Eunhae dan Kichul terharu melihat pemandangan di depan mereka. Mereka saling mengucapkan syukur karena Kyuhyun tidak hanya berhasil menemukan Sungmin, tetapi juga sudah rujuk kembali

Eunhyuk dan Teuki ingin berjalan menghampiri Sungmin ketika tangan Donghae dan Kangin masing masing menahan mereka

“Kita biarkan saja…Kyuhyun lebih membutuhkan waktu bersama Minnie” bisik Chulie mewakili pendapat Kangin dan Donghae

Perlahan, tanpa suara mereka semua keluar, meninggalkan rumah Kyuhyun serta membiarkan Kyuhyun menikmati momen itu berdua saja dengan Sungmin

kembali ke ruang TV

Kyuhyun menggapai kotak tissu dari samping sofa—tepatnya di atas sebuah meja kecil tanpa melepaskan genggaman tangannya

“Ini buat siap siap” sindir Kyuhyun menikmati kejengkelan Sungmin akibat perkataannya, “aku belum butuh Kyuhyun!!”

“Siapa tahu” Kyuhyun memutar kepalanya—ia melihat wajah Sungmin lebih lama

“Apa?” tanya Sungmin gugup

Tiba tiba Kyuhyun mencium pipi Sungmin spontan

“Aku benar benar merindukanmu” gumam Kyuhyun lembut

Sungmin tersenyum—memperlihatkan sederet gigi putihnya, “aku juga” sekarang giliran Sungmin membalas mencium Kyuhyun di pipi

Mereka berdua saling berpandangan sambil terus tersenyum satu sama lain

Kyuhyun menundukkan kepala, menutup matanya sebelum bibirnya berpindah mencium Sungmin lebih dekat

“Acaranya lagi sedih tuh Minnie” bisik Kyuhyun di sela sela ciuman mereka

Mendengar itu Sungmin makin memejamkan matanya, “aku tidak peduli” ia membalas ciuman Kyuhyun dengan rasa hangat menjalar di seluruh tubuhnya

Mereka berdua sama sama menemukan bagian yang hilang dan saling menutupi kekurangan masing masing

“Ngomong ngomong” erang Sungmin saat Kyuhyun dengan enggan melepaskan tautan bibir mereka, “apa kau sudah mendengar penjelasanku tentang Jungmoo?” tanya Sungmin sedikit takut

Kyuhyun menarik pinggang Sungmin mendekat, “itu tidak penting” elak Kyuhyun mencoba mencium Sungmin lagi

“tetapi” tangan Sungmin menghentikan wajah Kyuhyun, “aku tetap tidak enak…”

Mendadak senyum licik Kyuhyun merekah indah di sudut sudut bibir, “sudah…dari Miiju langsung, dia dengan senang hati menjelaskan semuanya kepadaku” jelas Kyuhyun masih berusaha mencium Sungmin

Lagi lagi Sungmin menolak, “kau?? Kau masih bertemu dengan Miiju!!!” bentak Sungmin cemburu

Kyuhyun langsung menggeleng, “tidak, dia datang kemari dan jangan salah paham, bukan aku yang meminta penjelasan tetapi Heenim”

“Ha?” Sungmin benar benar masih bingung

Kyuhyun menopang kepala pada tangan kanan yang bersandar di bahu sofa, “Heenim sedikit er…memberi pelajaran kepada Miiju beberapa hari yang lalu, dan dia mengakui segalanya. Untung saja Heenim tidak membunuhnya saat itu juga” Kyuhyun ingat betul sempat menahan lengan Chulie yang tidak sabar menonjok wajah Miiju

“Kalian apakan Miiju?” tanya Sungmin ngeri

Dia tahu betapa Chulie dan Kyuhyun bersikap terlalu protektif

Kyuhyun tersenyum lebar—senyum yang malah membuat Sungmin makin curiga

“Kami hanya mengikatnya di depan sekolah SMP-mu dengan sebuah kertas bertuliskan ‘Saya seorang penyiksa yang keji’ hanya itu kok” terang Kyuhyun enteng—menganggap tindakannya dan Chulie masih dalam batas normal

Sungmin sedikit terlonjak di atas sofa, “Kalian” wajahnya memancarkan sikap tidak percaya

“Hati hati Minnie, kandunganmu bisa bahaya” jelas Kyuhyun lebih mengkhawatirkan keadaan Sungmin ketimbang keadaan Miiju yang mengenaskan

“Tapi Kyu”

“Sudah, tidak usah di bahas” Kyuhyun mendudukkan Sungmin kembali di sampingnya, “sampai di mana kita tadi” goda Kyuhyun masih berniat mencium Sungmin

Kontan wajah Sungmin memerah

Ia berniat merunduk ketika ujung jari Kyuhyun menangkap dagunya. Sungmin pasrah, ia memejamkan mata sekali lagi dan mencium Kyuhyun lembut

Mereka bahkan tidak memperdulikan adegan sedih dalam telenovela atau bunyi deringan telepon di ruang tamu

Kyuhyun terus mencium Sungmin—berusaha memasukkan semuanya sekaligus. Rasa penyesalan, bahagia dan haru yang berbaur menjadi satu

“Kyu” bisik Sungmin

“hm?”

Sungmin melepaskan ciuman mereka, “aku lapar” ujar memelas

Kyuhyun menggeram tertahan—pura pura kesal lalu mengajak Sungmin ke dapur, “kita makan”

“Ayo” Sungmin membiarkan Kyuhyun menuntun langkahnya sambil terus tersenyum senang tanpa sepengetahuan Kyuhyun

Mereka makan dalam diam sambil mencuri curi pandang satu sama lain, “makan sana! Jangan malah melihatku!” gertak Kyuhyun menutupi salah tingkahnya di tatap Sungmin terus menerus

Sungmin merengut, “kau masih galak, apa aku pergi aja?” kata Sungmin mengancam Kyuhyun

Kyuhyun menggeser kursinya mendekat lalu memborgol tangan Sungmin dalam genggamannya, “kau sekarang tidak bisa kabur lagi” ejek Kyuhyun sambil menjulurkan lidah seperti anak kecil

“Hahahahaha….iya aku hanya bercanda”

“Aku tidak” kata Kyuhyun dengan sebelah tangan yang bebas menyuapkan makanan, “aku akan berada terus di sampingmu, mengekangmu lebih erat supaya aku tidak akan kehilanganmu lagi” janji Kyuhyun kepada diri sendiri

“Aku membutuhkanmu lebih dari yang pernah kau duga” bisik Kyuhyun bermakna dalam. Mata Sungmin berkaca kaca lalu mengangguk setuju, “kau boleh mengekangku kok”

“Itu haruss!!!!” Kyuhyun membentak Sungmin lagi, “sekarang habiskan makananmu”

Sungmin menyendokkan beberapa suap ke mulutnya kemudian memberikannya kepada Kyuhyun. Mereka berdua kembali rukun seperti sedia kala

TBC

27 responses to “≈No Other Like U-Thirty Seven-{Hurt}≈

  1. waa~eonnie.. bagus banget,,
    kasian kyu, tapi pantes kok dia digituin..
    huh
    #evil
    aku suka banget eonn ff nya..😀

  2. Aku paling suka chap ini!
    Perjuangan Kyu itu keren banget!
    Apa lagi waktu ngebayangin wajahnya Sungmin, aku nggak tega ngeliatnya.
    Jadi inget wktu ortuku dulu~~~

  3. aku bner terharu baca part ini.. perjuangan cinta mereka bener2 berat…
    part ini bner2 keren…
    aku kasih standing applause buat author…^^

  4. hikz…😥

    terharu… T^T perjuangan cinta appa sama umma aku begitu indahnya…. #mata berbinar2~

  5. astagaaaa~ nangis bacanya, kebawa suasana….
    Kyu mengenaskan, ga ada yang ngurus :p
    Gara” si Miiju nih,, untung ada Chully…huff rujuk kembali dh KyuMin….tambah romantis…ecieeeee gw ngiri…wkwk

  6. Huweeeee nangis baca ini.. Umma baik banget ya allah.. Terakhirnya romantissss kyakyakya

  7. ak jg ttp nangis disni😦 huhuhu perjuangan kyu ampe
    sgtuny, y ampun thor bnr deh sakittt~ kasian liad mrk gni😥
    tp min baek y ^^ lgsg maafin kyu pdhl kan kyu it udh sadis bgt

  8. dari semua part,, ini yg PALING gw sukaaaa!!!!!!!!!!!!!
    dan ga nyangka,,
    gw bisa nangis juga baca nih ff…. ( __ ___|| ) padahal awalnya gw kategoriin nih ff msuk kategori humor karena keseringan ga brhenti ngakak baca nyaa..
    tapi ternyaata… ck ck ck

    mulai sedihnya pas scene ini :
    “Aku tidak tahu lagi….kenapa ini berujung sama, aku selalu sendirian” bisik Sungmin sambil terus menangis

    kerasa bgt feel nya,,, seolah2 gw sdang berada diposisi umin…… ><

  9. kalo Q jadi Minni, Q ga’ bakal mau maafin Kyu, habis menurut Q Dy bener2 keterlaluan !
    masa Dy lebih percaya sama orang lain dari pada istri’a sendiri ???? suami macam apa Dy ????
    #ngomel2 GaJe

    tapi . . .
    Q tetep seneng kok ma ending ceritanya, KEREN !
    Daebak buat Sebast

  10. akhir’a mslh terselesaikan jga ya,huh w ga tahan deh gmn tersiksa’a kyuppa,tpi itu pnts utk kyuppa sihh,abis dy lbh percaya org lain drpd istri sndri,

    huweeeeee part ni bkn w mewek bgt deh,
    duh kyumin dah rujuk nih.
    MAMPUS tuh si miiju,mk’a jgn brani2’a berurusan ma kyuchul.

  11. Sumpah demi apa aq berhasil nangis baca chp ini~
    emang ya~ kepercayaan itu penting banget
    masalalu Sungmin~ miris banget ga punya temen 1 pun,
    trus Kyu juga ga percaya ma penjelasannya.
    untung aja akhirnya balikan^^

  12. hueee hiks hiks sumpah jadi ikutan sedih pas tau cerita smp minnie. hati aku ikutan sakit, ngilu banget.
    kalo kangteuk tau kehidupan smp sungmin gimana mereka pasti sedih, menyesal dan merasa bersalah yang besar sama minnie.
    hiks si miiju memang bener bener jahat ga punya perasaan. dia ga tau apa perbuatannya berakibat sangat fatal.
    tapi si jungmo itu beneran baik. dan dia teman satu satunya minnie waktu smp.
    sumpah ini chapter ini bener bener bikin mewek dan jadi ikut sakit hati.
    zhoumi dan mochi makasih udah jagain minnie.
    hiks hiks hiks lanjut baca lagi😥

  13. Suka bgt ama chap ini..
    Apalagi liat kyu tersiksa krna ditinggal minnie.., lagian kyu ngapain coba percaya gitu aja ama omongan miiju.. #huuuuft

    Tp, akhirnya mrk rukun lagi, #fiuuuuh🙂 pasti setelah kjadian ini kyu bakalan lbih protektif jagain minnie..

  14. mmmm… tunggu dulu. nama ortu ming kangteuk. trus.. kyu sodara ama heechul… ehmmm lagii zhoumi disini cwe..
    mwoya?? apa itu cuma nama(?)
    tpi karakternya berbeda??
    makin bingung aku..
    *terbang ke part lanjutan* gomawo~

  15. Huu biar tahu rasa tu miju -3-
    Kyu pantas digituin, masih untung minnie mau maafin kyuhyun..
    Aaah ini part yang paling aku suka😉 kereen

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s