≈Of Course I Love U-Chapter Seven-{KangTeuk}≈

Hidup terlalu tidak adil bagi sebagian orang. Ada orang yang keberadaannya tidak di inginkan oleh siapapun, ada orang menanggung karma atas kesalahan yang tidak pernah dia buat atau berkali kali terjun dalam kesialan yang sama

Sekarang jika anda di salah satu kondisi seperti itu

Apa yang akan anda lakukan?

Menangis?

Atau

Bunuh diri?

Dan apakah yang lebih buruk dari di tinggalkan oleh orang yang paling kita cintai di dunia ini—dimana keberadaannya sangat berarti, sekaligus menjadi alasan kita untuk tetap hidup

Mungkin ini sama seperti yang dilakukan Teuki

Tetap mencintai selamanya

~0~


Beberapa tahun ke belakang

Seorang namja berjalan sambil menggandeng mesra dengan seorang wanita. Mereka tertawa sambil bercengkrama ketika memasuki salah satu toko bunga di jalan Te Amo

“Selamat datang” sapa Heechul ramah

Sang Lelaki mengedipkan mata ke arah Heechul penuh arti, “aku mau mengambil pesanan bunga kemarin” pintanya

Heechul yang mengerti mengambil sebuah buket bunga tulip berwarna kuning gading di belakang buffet lalu menyerahkannya ke dalam tangan lelaki

Lelaki itu tersenyum puas, setelah selesai membayar ia mengajak kekasihnya keluar, “ayo kita ke taman ilalang kita” ucapnya sayang

Perempuan mengangguk meski tidak mengerti ada apa, ia melihat buket itu penasaran

Setibanya di sana, sang lelaki menuntun tangan perempuan ke arah sebuah pohon apel besar—tempat mereka pertama kali bertemu kemudian berkembang hingga sekarang. Menjadi sepasang kekasih

“Teuki” panggilnya

Teuki menoleh ke samping, ia tersenyum lembut untuk membalas ucapan lelaki itu, “ada apa Dong Wook?”

Dong Wook menatap sendu lalu tiba tiba berlutut di hadapan Teuki, kedua tangannya menjulurkan buket tulip, “Aku berjanji akan mencintai seumur hidupku” Ia menahan nafas sejenak, “maukah kau menikah denganku?” walaupun di ucapkan dengan percaya diri—nada cemas masih terdengar halus di suaranya

Teuki menarik senyumnya makin lebar, ia mengangguk lemah dan menutup mulut—masih tidak percaya. Dong Wook mendesah lega lalu bangkit berdiri seraya menyerahkan kumpulan bunga itu ke dalam tangan Teuki

“Di dalam ada sebuah cincin, memang tidak mahal…” Dong Wook mengelus pipi wanita yang nanti akan menjadi istrinya, ia hampir saja mau menangis bahagia, “ tetapi..itu sebagai pengikat cinta kita” bisiknya sambil membetulkan letak rambut Teuki di telinga

Teuki mengambil sebuah tulip di dalam buket dan melihat cincin mungil dengan satu berlian, lalu memasangnya di jari manis, “terima kasih” suaranya menahan haru. Dong Wook berjalan ringan kemudian memeluk tubuh Teuki—hangat

“Aku bahagia memilikimu…” Dong Wooki merunduk lalu mengecup kepala Teuki, “itu sudah cukup” desisnya lembut, penuh rasa cinta

Hanya berselang beberapa hari, sebuah pernikahan sederhana di gelar. Teuki dan Dong Wook awalnya hanya saling melengkapi. Mereka saling mengasihani satu sama lain, bagaimana tidak? Dong Wook sama seperti Teuki. Mereka berdua yatim piatu—di besarkan oleh saudara dari keluarga masing masing lalu mencoba hidup mandiri dengan usaha mereka sendiri

Teuki bekerja sebagai guru TK di sebuah sekolah sementara Dong Wook bekerja sebagai kuli kasar di perusahaan kontraktor. Walaupun mereka berdua hidup sulit—namun tidak ada satu keluhan yang pernah terlontar dari bibir mereka

Teuki dan Dong Wook mensyukuri segala sesuatu, apalagi sekarang mereka saling memiliki

Dong Wooki mengamit tangan Teuki keluar dari gereja dengan amat bahagia, bibirnya bergetar ketika tahu wanita di sampingnya akan selalu bersama sama selamanya

“Hidupku sempurna” kata Dong Wook mengajak Teuki berdansa, “aku memilikimu” ujarnya senang

Teuki tersenyum lalu memindahkan tubuhnya ke samping agar lebih mudah bergerak di atas lantai dansa

_____

Tidak butuh lama, Teuki menunjukkan gejala mual dan pusing dalam satu waktu. Dong Wook yang khawatir langsung membawa istrinya ke dokter. Mereka menganga tidak percaya ketika mendengar berita bahagia itu—Teuki hamil

Dong Wook berteriak histeris lalu memeluk Teuki kencang, jika dokter tidak mengancam akan mengusir mereka, mungkin Dong Wook masih membuat keributan di klinik

Dan selama itu Dong Wook begitu menjaga Teuki, ia pulang lebih cepat dan merawat Teuki hati hati, “aku akan menjadi Appa” bisiknya sambil mengelus perut Teuki yang semakin membesar

Teuki menyentuh wajah Dong Wook lalu menatap ke arah perut, hidupnya sempurna sekarang—bahkan terlalu sempurna

Tetapi tidak ada yang sempurna jika kau hidup di dunia—terkadang keseimbangan seperti itulah yang menciptakan ketidak sempurnaan

Teuki yang kelelahan bekerja terus menerus untuk menabung biaya persalinan, keguguran ketika memasuki bulan ke 4.

Darah segar mengalir di sela sela kedua kaki, ia meringis menahan sakit. Dong Wook langsung meminta ijin pulang cepat lalu mendapati Teuki begitu terpukul saat menatap nanar ke arah gumpalan darah di atas meja

“anakku” suara Teuki bergetar—ia melayangkan tatapan penuh penyesalan kepada Dong Wook, “maaf aku tidak bisa menjaganya” tangis Teuki pecah, ia merengkuh tubuh Dong Wook dan menumpahkan semua kesedihan

Dong Wook mengigit bibir—menahan tangis supaya Teuki tidak terlalu merasa bersalah, ia mengusap kepala Teuki lalu menatap wajahnya, “jangan bersedih…kita masih muda” Dong Wook menutup kedua matanya yang mulai berair, “kau bisa mengandung lagi” ujarnya menyemangati

Butuh waktu lama agar Teuki bisa tersenyum seperti biasa, namun lagi lagi Dong Wook adalah alasan Teuki untuk bangkit dari keterpurukan. Bukankah dia masih punya seseorang untuk di cintai dan mencintainya…ya Teuki masih bisa bertahan

Harapan Dong Wook dan Teuki terkabul. Ia mengandung lagi.

Kali ini Teuki menjaganya sepenuh hati, Teuki juga sudah meminta cuti hamil lebih awal. Sedangkan Dong Wook bekerja dua kali lebih giat agar bisa menutupi biaya persalinan Teuki

“Huh” peluh memenuhi wajah Dong Wook ketika bekerja menghancurkan beberapa batu menjadi kerikil kecil sebagai keperluan pembangunan sebuah apartement. Tubuhnya memang sudah terlatih untuk bekerja kasar—Dong Wook bahkan mengambil sift siang malam agar penghasilannya bertambah

Teuki sesekali menghampiri Dong Wook ke tempat kerja sambil membawa bekal makanan, “sayang…jangan ke sini, bahaya…sana kembali ke rumah” usir Dong Wook halus, semenjak keguguran pertama, Dong Wook semakin over protektif menjaga kandungan Teuki

Teuki terkekeh seraya menaruh kotak itu di dekat mesin penggiling, “pulanglah cepat” bisik Teuki rindu

Dong Wook tersenyum bahagia dan melayangkan ciuman jauh, “sesegera yang aku bisa” balasnya sayang

Teuki mengangguk lalu keluar dari area pembangunan, wajahnya masih memancarkan kebahagiaan yang tidak terkira. Ia baru mau membelok ke arah jalan besar ketika suara dentuman besi besar jatuh

BUMMMM

“TOLONG DIA….PANGGIL AMBULANS” Teriak semua pekerja seraya berkumpul pada satu titik, mendengar itu Teuki tidak jadi pergi—ia menunggu di tepi jalan sambil menengok nengok ke arah dalam

Sejumlah namja mengangkat sebuah tubuh—tubuh lelaki yang meninggal seketika karena kejatuhan besi dari lantai 5 bangunan. Tubuh Teuki membeku ketika melihat wajah lelaki itu—wajah yang amat ia kenal

“TIDAKKKKKKK” Teuki berlari ke arah mereka tanpa peduli pada tubuhnya yang sedang mengandung. Teuki terus berlari hingga sebuah batu menghalangi jalan

Ia pun terjatuh

Teuki berteriak kesakitan sambil berusaha menggapai tubuh suaminya yang di angkut ambulans. Beberapa orang yang melihat darah keluar dari balik baju Teuki—ikut mengangkat tubuhnya untuk di bawa ke rumah sakit

~0~

Dua pemakaman, pada hari yang sama

Tatapan mata Teuki hampa, ia mengangguk lemah kepada setiap orang yang datang untuk melayat.

Sebuah pemakaman sederhana di bukit ilalang tempat kenangan mereka berdua—tempat dimana janin pertama Teuki juga di kubur

Tempat kenangan itu berubah menjadi kuburan massal…..kuburan semua orang yang Teuki cintai

Ia memasang wajah tabah kepada setiap orang namun ketika semua sudah pergi, Teuki melepaskan semuanya

Teuki menangis keras sambil memeluk papan batu milik suami dan calon anak anaknya, Ia membisikkan kata yang sama berulang kali

“hidup tidak adil terhadapku”

Tubuh Teuki bergetar hebat dan menghapus air mata yang tidak berhenti mengalir. Baru kali ini, setelah sekian lama bertahan dalam kesusahan, Teuki berharap ingin mati

Angin malam menyapu Teuki yang masih duduk di samping nisan—dia tidak beranjak sedikitpun. Teuki juga tidak ingin pulang atau melakukan sesuatu

Dia mematung—memandang kosong ke arah sekitar, tidak takut pada dinginnya malam, yang Teuki inginkan sekarang—berharap mati, mati dan berkumpul bersama keluarganya di sana

__

“Kau jangan begini, ayolah pulang”

Teuki masih diam—keadaannya terlalu mengenaskan karena sudah dua hari ia tidak mau beranjak dari padang ilalang itu

Heechul memeluk tubuh kurus itu sambil terus mengatakan kata kata membujuk, “aku tidak akan pergi, aku akan terus menemanimu di sini jika kau tidak mau pulang” janjinya

Berhasil—Teuki mendongak ke arah Heechul. Jujur saja dia tidak terlalu akrab dengan wanita penjual bunga ini, kenapa tiba tiba Heechul bisa bersikap begitu peduli

“aku tidak mau” sanggah Teuki terus memeluk lututnya sendiri

“baiklah” Heechul duduk di depan Teuki lalu berbicara—mengajaknya berbincang meski tidak ada satupun ucapan balasan dari Teuki. Heechul terus melakukannya hingga…

“Baiklah baiklah!!! Aku akan pulang!!” Teuki berdiri dan meninggalkan Heechul sendirian

Heechul tersenyum puas sambil membalikkan tubuh ke arah 3 nisan itu, “aku pasti membantu Teuki untuk bangkit kembali” kata Heechul ikut pergi kembali ke tokonya

Semenjak itu, walaupun bersikap ketus, Teuki mulai bisa membangun kesadarannya—ia bisa bekerja kembali, dan memulai hidup dari awal

Semua itu berkat Heechul

Heechul yang ada ketika Teuki berulang kali menangisi diri sendir, Heechul membuatkan bekal untuk Teuki makan ketika mengunjungi makam—maklum saja Teuki suka lupa makan ataupun pulang jika sudah berada di sana

Meski Teuki tidak banyak berbicara, namun ia selalu melayangkan rasa terima kasih kepada Heechul yang tidak pernah menyerah membantunya—secara tersirat, Teuki juga menjadi pelanggan tetap Heechul di toko

Teuki selalu membeli 3 bunga tulip untuk masing masing nisan. Ia mencintai Dong Wook dan kedua calon anaknya hingga saat ini

Ya, Teuki mencintai mereka selamanya

Hingga suatu hari Teuki bertemu dengan Kangin

____

“ada apa ini sebenarnya?” suara seorang namja yang tidak asing bagi Teuki terdengar dari arah belakang, ia berbalik cepat—tatapan Teuki terhenti melihat sosok lelaki tinggi menatapnya penuh tanya

“kau mau apa kemari?” balas Teuki dengan tidak bersahabat

Lelaki itu menggeleng salah tingkah, “maaf..aku hanya…” Kangin tidak bisa membela diri—akan jelas sekali jika ia memang membuntuti Teuki dari tadi, karena penasaran

Teuki menatap Kangin dingin, “silahkan anda pergi, kalau tidak ada kepentingan disini” sindirnya lalu berpaling untuk menutupi pandangan Kangin dari nisan yang ada di padang ilalang

“Baiklah” suara Kangin mengalah, ia berbalik kembali ke jalan setapak dan menjauh dari Teuki. Teuki mendesah lega dan menjalankan ritualnya setiap hari

Menaruh setangkai bunga pada setiap nisan, bunga tulip—bunga kesukaannya dan Dong Wook

Beberapa hari kemudian

“pelan pelan, ingat jangan pergi terlalu cepat, tunggu Ibu” perintah Teuki sambil mengatur barisan anak TK yang akan berkunjung ke sebuah museum

Teuki mengamati ke 23 anak anak kecil itu tegas, walaupun kerepotan tetapi itu sudah bagian tanggung jawabnya—tidak jarang Teuki menarik anak yang melenceng atau membujuk mereka agar jalan bergandengan supaya lebih teratur

“Stop! Berhenti jika lampu pejalan kaki masih merah, mengerti?” nasihat Teuki sambil menunjuk papan lalu lintas di bahu jalan

“Mengerti Bu guru” jawab mereka serempak

TING

Lampu pejalan kaki sudah berubah menjadi Hijau

Teuki mengatur langkah anak anak

Teuki mengatur langkah anak anak agar tetap lurus sambil menjaga mereka dari hiruk pikuk jalan raya. Ia lega karena gedung museum sudah di depan mata, Teuki berteriak tegas saat setiap anak mulai ribut dan berlari tidak sabar

“Bu Guru” seorang murid perempuan menarik ujung baju Teuki dari belakang, “ya?” tanya Teuki lembut

Murid perempuan itu menunjuk ke arah penyebrangan, “Shin Hee, masih ada di belakang—ia tertinggal tadi” ujarnya, Teuki terbelalak ngeri karena anak muridnya berdiri ketakutan di sana sambil menangis pelan

Sekarang Teuki bingung, jika dia ke sana—siapa yang akan mengawasi murid lain?

“jangan takut” bisik seseorang

Teuki terfokus lagi, melihat lelaki itu berjalan menyebrang kemudian mengangkat dan membawa muridnya ke hadapan Teuki

Kangin menurunkan anak itu, “beres…lain kali hati hati” nasihat Kangin sebelum ia pergi menjauh tanpa menunggu Teuki mengucapkan terima kasih

Teuki agak merasa bersalah sudah pernah bersikap kasar kepada Kangin, ia sengaja mengunjungi kedai Kangin suatu waktu dan sampai di sana, perlakuan baik kembali ia terima

“masuklah” ajak Kangin ke dalam, “aku bisa merekomendasikan menu menu andalan kami” suara Kangin di buat buat seperti koki perancis terhormat

Teuki tertawa

Baru kali ini Teuki bisa tertawa lepas semenjak masa masa kelam dalam hidupnya

Melihat reaksi Teuki, Kangin meneduhkan tatapan matanya lalu menarik kursi untuk Teuki. Kangin sendiri yang menghidangkan semua pesanan Teuki kemudian duduk untuk mengajaknya berbincang

Ini pertama kalinya, Kangin tertarik pada seorang wanita

“kenapa kau suka sekali membeli bunga tulip? Tidak bosan?” tanya Kangin berbasa basi, Teuki menyeruput kopi pahit sambil menatap Kangin terkejut, “aku tidak pernah bosan, ini bunga kesukaanku” tangan Teuki menggenggam bunga bunga itu lebih erat, “kau tahu bahasa bunga untuk tulip?” ada nada mengejek dari suara Teuki—setahu ia selain Dong Wook jarang lelaki yang bisa menebak dengan benar arti bunga itu

Kangin menyeringai lebar, “aku tahu, cinta sejati bukan?” ujarnya restoris membuat Teuki berhenti bergerak dan menggerakan kepalanya untuk menatap wajah Kangin—lama

Raut wajah Teuki berubah, kesedihan tidak terkira tersirat di sana, Kangin hampir mengulurkan tangannya untuk meraih Teuki jika saja pikiran tidak menahannya

Teuki merunduk dan sekali lagi—ada sedikit kerinduan dan penyesalan setiap melihat bunga tulip di tangannya

“Heechul, aku minta bunga seperti biasa” Teuki langsung berkata begitu sambil menunggu Heechul ke ruang belakang lalu kembali dengan bunga bunga tulip. Teuki menyerahkan beberapa lembar won. Ia mendorong pintu toko setelah berbincang lama dengan Heechul—tiba tiba tatapannya terhenti ketika Kangin di saat bersamaan juga keluar dari kedai kopi

“tidak mampir?” tawar Kangin seperti biasa

Teuki menggeleng lalu menuntun sepedanya menjauh, ia bisa merasakan Kangin masih menatapnya dari belakang

Senyum manis terukir dari wajah Teuki membayangkan Kangin, ia berbalik dan benar saja Kangin sekarang salah tingkah tertangkap basah oleh Teuki

“aku akan datang nanti jam makan siang” janji Teuki sebelum naik ke atas sepeda dan pergi dari jalan Te Amo

Rasa hangat menjalar pada tubuh mereka berdua, ada perasaan nyaman ketika Teuki ataupun Kangin saling berinteraksi tanpa tahu rasa itu di sebut dengan cinta

Setiap pagi sepert biasa, Teuki memulai hari dengan pergi mengambil bunga di toko Heechul. Teuki mengayuh penuh semangat sambil melirik ke arah kedai kopi milik Kangin yang sudah di buka

“hmm, mungkin aku masih sempat sarapan di sana” gumam Teuki semangat, ia memarkir sepeda bersandar di pilar pilar samping toko Heechul

Langkah Teuki tiba tiba terhenti saat mendengar suara Heechul yang terdengar gusar, “aku ingin membatalkan pertunangan konyol kita” tegas Heechul dari arah dalam

Tangan Teuki yang hendak meraih gagang pintu mendadak kaku, ia membeku di depan toko, “tunangan? Heechul dan Kangin?” Teuki bisa merasakan jantungnya tidak berfungsi normal, ia menunggu kalimat yang akan Heechul ucapkan lagi

“Kenapa??” desak Kangin—suaranya parau dan bernada kecewa, Teuki makin menekan dadanya—menahan sakit

“Kangin, kau jatuh cinta—kau mencintai seseorang dan itu bukan aku” Heechul mencoba berkata dengan nada seringan mungkin walaupun mereka sedang berbicara serius

“Tapi aku tidak mencintai siapapun!” elak Kangin, nada suaranya meninggi

“Teuki?”

Tubuh Teuki menegang ketika namanya di sebut Heechul, ia meredupkan pandangan dari luar—tidak mungkin Kangin menyukai wanita seperti dia, batin Teuki

Lama

Tidak ada jawaban dari Kangin

“Kangin…” Teuki mulai berharap

Suara helaan nafas Kangin terdengar hingga keluar ruangan, “tidak… langgar saja janji itu, aku tidak mau mengikatmu selamanya” suara Heechul bersikeras

“Tapi…”

“Aku mohon, Kangin..aku sahabatmu, aku juga ingin membuatmu bahagia” pinta Heechul frustasi

“aku tidak akan pernah melanggar janjiku” Kangin menekankan setiap perkataan satu persatu, sudah jelas ia tidak mau berdebat lebih jauh

“bagaimana dengan Teuki?” kata Heechul sambil meredam tangis

Sorot mata Teuki meredup, apakah Kangin memang menyimpan perasaan terhadapnya?

“aku bisa melupakan dia”

Teuki melepas tangan kanan dari pegangan pintu, dengan lunglai ia berbalik menjauh—tangannya yang kebas menyenggol salah satu pot bunga di depan toko

KLONTANG

Heechul dan Kangin tersentak menatap ke arah sumber suara—dari luar. Teuki terlanjur tertangkap basah menguping pembicaraan mereka

Teuki melihat gelisah sambil memainkan buku buku jarinya, “maaf..aku tidak sengaja mendengar…aku…” Teuki tidak tahan lagi, ia bisa menangis jika tetap berada di sana. Ia melangkahkan kaki ke arah sepeda dan mengayuh secepat yang dia bisa

Teuki mengeraskan kelenjar otot otot di sekitar mata—menahan air mata mengalir, sekarang yang ingin dia lakukan hanya satu

Pergi ke padang ilalang

~0~

“Maaf…..maafkan aku” Teuki menjatuhkan diri di samping nisan Dong Wook lalu menumpahkan segalanya, “maaf…karena aku mulai mencintai orang lain, dan itu salah” Ia memejamkan mata—berusaha melupakan sosok Kangin selama ini

Kangin yang hangat, periang dan selalu menghiburnya setiap saat

Kangin yang berhasil membuat Teuki jatuh cinta untuk kedua kali

“Hiks…hiks…” Suara tangisan itu amat terdengar memilukan, belum pernah Teuki menangisi orang lain hingga begitu terluka

Setelah beberapa lama, Teuki terdiam

Ia sudah lelah menangis

Teuki berdiri, mulai membersihkan beberapa rumput liar yang tumbuh di sekitar nisan lalu menatap ketiga kuburan dengan hampa—kosong tanpa harapan

“ajak aku bersama kalian” Air mata kembali merebak, “aku tidak kuat lagi…hidup terlalu tidak adil”

Teuki memeluk lutut sambil bersandar di samping pohon apel, “hidup tidak pernah adil terhadapku” bisik Teuki berkali kali

Ia menutup mata—mencoba untuk tertidur, tapi kali ini—Teuki ikhlas jika dia tidak terbangun lagi.

Terkadang kematian adalah jalan akhir ketika kau sadar kehadiranmu selama ini tidak di butuhkan

Tidak seorangpun mencintaimu

Kau ada hanya untuk menyusahkan semua pihak—bukankah kematian kado terindah jika itu sampai terjadi pada hidupmu?

Teuki pun berpikir begitu

Ia memilih tidak pulang, tidak makan. Hanya berdiam diri di samping nisan—menunggu kematian menjemputnya

Ya, Teuki ingin mati dalam kesunyian

“Sedang apa kau di sini?!!!!” sergah seseorang menarik lengan Teuki agar beranjak bangun

Pandangan Teuki melayang ke atas—ia terkejut mendapati orang itu tahu keberadaannya di sini, “Kangin?” suara Teuki lemah

Kangin menatap tajam sambil membantu Teuki agar dapat berdiri tegak, “Ini sudah malam, tidak baik wanita berada di sini? Pulanglah” ada nada memohon dalam suara Kangin—meski gaya bicara Kangin agak kasar

“tidak” tolak Teuki tegas, “bukankah kau mau melupakanku” tubuh Teuki menjauh seolah olah mau memberi tahu kepada Kangin—ada jarak di antara mereka berdua, “sana pergi! Jangan pedulikan aku” kata Teuki sambil membuang muka—matanya mulai menghangat, ia takut jika Kangin tahu Teuki menangisi dirinya tadi

“Aissshh, aku….” Kangin mau mengulurkan tangan, tetapi yang ada Teuki malah melangkah ke belakang, “silahkan pergi” pinta Teuki bersikap formal

Wajah Kangin memancarkan penyesalan, “Teuki”

“Pergi” ulang Teuki menutup matanya—ia ingin sendiri di sini

Kangin menurut, ia berbalik lalu pergi dari hadapan Teuki, melihat itu Teuki menangis lagi. Ia terisak perlahan seraya memeluk tubuhnya sendiri

Kesunyian melanda padang ilalang, karena lelah tubuh Teuki lunglai ketika ingin tidur di sandaran pohon

Aneh

Teuki tidak terjatuh menyentuh tanah, ia tercengang karena ada sepasang tangan kokoh yang menyangga tepat saat tubuhnya terjatuh

“Kau?? Bukankah aku sudah bilang pergi?!” Teuki dengan cepat melepaskan tangan Kangin lalu mencoba bersikap sedingin mungkin

Kangin menghela nafas panjang lalu tiba tiba saja dia memeluk tubuh Teuki dari belakang—meski Teuki memukul, atau memberontak keras, Kangin tidak melepaskan tangannya. Ia terus bersikeras memeluk hingga Teuki berhenti

Mereka berpelukan tanpa mengucapkan apapun

“Aku mencintaimu” bisik Kangin pelan—nafasnya membelai pipi Teuki dari belakang, “aku mencintaimu” ulang Kangin lagi

Air mata lagi lagi turun dari wajah Teuki—menetes ke tangan Kangin yang berada di bahu Teuki.

Kangin melepaskan kedua tangan lalu memutar tubuh Teuki agar mereka saling bisa berhadapan, “jangan menangis kumohon, aku memang salah sudah membohongi perasaanku sendiri tadi…tapi aku tidak punya pilihan lain, aku sudah berjanji pada Heechul akan menikah dengannya” jelas Kangin sambil menghapus air mata Teuki

Bibir Teuki bergetar hebat, “menikah?” ucapnya tidak percaya

Hatinya kembali hancur

Kangin tersenyum miris, ia menunjukkan cincin pertunangan kepada Teuki, “aku memang berjanji tapi…” Kangin melepaskan cincin dari tangannya lalu menaruh di saku celana

“Aku terpaksa melanggarnya sekarang” Kangin menatap penuh arti kepada Teuki, ia membelai hangat wajah Teuki, “benar kata Heechul…..aku tidak akan bisa meninggalkanmu sendiri”

Kedua mata Teuki membulat—ia menutup mulut sambil kembali terisak tertahan, “aku…aku..” sebelum bisa menyelesaikan perkataannya, Kangin sudah memeluk tubuh Teuki lagi—kali ini Teuki merasakan kelegaan luar biasa. Lelaki ini memilihnya

Bibir mungil Teuki terbuka, dalam dekapan Kangin, Teuki bersandar penuh kenyamanan, “tentu…aku juga mencintaimu” sambung Teuki lalu mengeratkan kedua tangannya di punggung Kangin

Jauh—amat jauh di atas sana, ada 3 sosok yang mengamati Teuki, mereka mengangguk puas karena dia telah menemukan kebahagiaannya sendiri tanpa bersedih terus meratapi kepergiaan mereka

“ayo kita kembali ke surga, Umma sudah berada pada orang yang tepat” ajak Dong Wook kepada kedua anak anaknya yang tersenyum riang sambil melambai ke arah Bumi

THE END

9 responses to “≈Of Course I Love U-Chapter Seven-{KangTeuk}≈

  1. Kasian banget nasib teuki ..
    Yey Kangteuk moment ..
    Bagus cerita’a ..
    Mian ya klo coment’a gk mutu ..

  2. kanginnya brtanggung jwb bgt. kereeeeen… teuki, malang nian nasibmu. untungnya ada kangin.hehe

  3. gak kebayang bagaimana penderitaan teuki selama ini… kehilangan keluarga adalah hal yang amat menyedihkan memang :’)
    sebas, bisa aja bikin yang kayak gini…

  4. aduh~ ternyata cerita teuki lebih nguras. sumpah.. awalnya akubisa tahan tapi pas part yg 3 org itu yg mau kesurga sumpah… sedih bgt~~ gak ngebayangin betapa sedihnya eteuk wktu itu.. T.T

  5. kisah cinta teuki disini benar2 tragis….
    tp happy ending…akhirnya dia menemukan kebahagiannya lagi….meskipun dengan orang yang berbeda…. ^_^

  6. Nyesek bacanya :’) Tapi aku bahagia karena happy ending ♥ Ahh kangin so sweet banget ;;; Teukie pasti bahagia dapetin kangin (*-*/\)

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s