≈Of Course I Love U-Chapter Seven-{Sibum}≈

Keluarga adalah harta paling utama dalam hidup manusia

Tetapi bagaimana jika harta itu malah menyakitimu sedemikian rupa hingga kau tidak percaya  lagi akan sebuah ikatan  kekeluargaan?

Menghempaskanmu dari hidup nyaman dan menyadari betapa dunia terlalu kejam untuk di tinggali…..seorang diri….

***

 

15 tahun yang lalu

“Aku tidak selingkuh!!!!”

“Ya, kau  memang selingkuh! Aku melihatmu bersama gadis itu di pub!! Ayolah Jae,  mengaku saja” sindir seorang wanita di sebuah ruang tamu. Suara mereka berdua menggelegar saling menyahut dengan nada menjatuhkan

Lelaki yang di panggil Jae tertawa hambar, “Iya! memang kenapa kalau aku selingkuh! Toh kita berdua tidak saling mencintai??” ia melipat kedua tangannya, “lagipula kita menikah bukan karena cinta! Tetapi karena ‘kecelakaan’ “

Wanita itu menahan nafas, “terus maumu kita sekarang bagaimana??? Kita sudah 5 tahun menikah! Punya anak! Tidak bisakah kau rubah perilakumu itu!” teriaknya marah

“lalu? Itu berarti sesuatu?? Aku tetap tidak mencintaimu” katanya mendelik angkuh

“Kau??” wanita itu hendak memaki kembali ketika sebuah suara halus  memanggil namanya dari balik pintu kamar

“Umma…Appa..” panggil seorang anak kecil berumur 5 tahun

“Aishhh, Kibum!! Masuk kamarmu! Sana!” bentak Ibunya melampiaskan amarah pada orang yang salah

Jae tersenyum licik—tidak berminat mengurusi anak kandungnya sendiri, “urus anakmu itu, aku mau pergi ke pub lagi” tanpa peduli ataupun mengindahkan makian dari istrinya, Jae tetap melangkahkan kaki keluar rumah lalu  menghidupkan mesin mobil dan melaju dalam kegelapan malam

Kibum terpaku, ia menatap ketakutan ke arah Ibunya—benar saja, Ibunya berteriak histeris karena kepergian  ayahnya kemudian memaki Kibum dengan kasar

“Ini semua gara garamu!!! Andai kau tidak ada, aku pasti tidak akan menderita hidup bersama lelaki brengsek itu!!!!” Wanita itu mengacungkan jari telunjuk ke wajah Kibum yang masih teramat kecil

Airmata  Kibum mulai turun—ia terisak kecil sambil terus meminta maaf, “aku..Umma jangan marah, aku janji tidak akan nakal  lagi—

“Percuma!!!” dada Wanita itu naik turun, menahan semua amarah, “tidur sana!!!” Ia mendorong Kibum masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu dari luar

BLAMM

Kibum masih berdiri tak jauh dari tempat tidur—menatap pintu dengan nanar, “maaf…maafkan aku Umma”

Esok hari

“Kibum…Kibum bangun sayang” Ibunya mengelus kening Kibum sambil duduk di tepi ranjang

Kibum yang merasakan ada yang menyentuhnya—langsung menggeliat bangun, “Umma??” bisiknya tidak percaya. Sejak kapan Ibunya pernah memanggil Kibum sehalus itu? Bukankah Ibunya suka membangunkannya sambil berteriak marah?

“Iya”  sekarang wanita itu tersenyum amat manis—berbeda dengan tingkahnya yang membentak Kibum semalam, “Umma mau ajak kamu ke suatu tempat? Cepat, mandi dan ganti  baju” Ibunya menggandeng tangan Kibum ke dalam kamar mandi

“Jalan jalan??” pekik kegirangan Kibum terlontar dari mulutnya

Ibunya langsung mengangguk semangat

“Hore!!!!” tanpa banyak pertanyaan, Kibum membiarkan Ummanya menggantikan baju kesukaan Kibum dan mendadaninya dengan pita merah hati

Setelah selesai, Ummanya menggandeng tangan Kibum—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Wanita itu bahkan lebih sering menyeret Kibum ke dalam kamar lalu menguncinya seharian supaya tidak menyusahkan dia.  Selama itu pula wanita ini menghibur diri dengan berbelanja ke pusat perbelanjaan tanpa mempedulikan Kibum yang kelaparan di rumah

Tetapi sekarang,  Ummanya malah mengajak Kibum ke pusat taman bermain—membelikan semua  makanan kesukaan Kibum sambil menunggui Kibum yang sedang naik komedi putar

Hari ini  Kibum begitu bahagia, ya bahagia sampai Umma Kibum  mengajaknya ke suatu tempat

“Ini di mana Umma?” tanya Kibum heran ketika Ummanya berhenti di sebuah rumah besar yang sudah keliatan agak tua

Sang Umma menunduk dan mengelus kepala Kibum, “kamu tunggu di sini yah, Umma mau membelikanmu mainan dulu di toko? Gimana?”

Mata Kibum  terlihat ketakutan, “tetapi…di sini sepi, aku takut” memang benar—hari sudah mulai sore dan jalan di sekitar tempat itu jarang di lalui kendaraan

“Tidak, jangan takut…Umma pergi hanya sebentar, toko mainannya ada di ujung jalan ini saja” kata Ummanya

Melihat  telunjuk Ummanya mengarah ke beberapa blok rumah dari tempat ini, Kibum mulai merasa tenang, “Oh..tidak jauh” desahnya lega, “baiklah Umma aku akan menunggu di sini”

Senyum Ummanya mulai merekah, “nah begitu dong sayang…Umma pergi dulu yah” selesai  mencium kening Kibum, Ibunya berjalan menjauh—membelakangi Kibum

Tatapan Kibum mengikuti siluet ibunya yang mulai tidak kelihatan—dahinya sedikit mengkerut karena Ibunya malah  berbelok ke jalan besar, bukan ujung jalan seperti yang dia bilang

Tetapi Kibum hanya bisa mengangkat bahu, rasa bahagianya seharian bermain bersama Umma membuatnya tidak curiga sama sekali. Ia bersandar lelah di depan pagar sambil memainkan ujung bajunya.

Tepat di sebelah  kanan atas—dekat pagar ada sebuah papan nama dan alamat rumah itu

Papan yang bertuliskan, ‘Panti Asuhan St Stephanie’

*Now*

“Dosa apa gw, harus berurusan sama dia terus” gerutu Kibum selesai rapat. Dia langsung pergi ke sekretariat untuk bertemu dengan Zhoumi, biasa mau curhat masalah Siwon yang memarahinya tanpa sebab

Tetapi belum sempat Kibum membuka pintu, Siwon sudah keburu memanggilnya, “apa lagi?” tanya Kibum tanpa berusaha menyembunyikan rasa kesalnya

Siwon tersenyum agak di buat buat, “selesaikan perincian laporan tentang pertandingan bulan lalu,  aku sudah lihat semuanya—dan laporanmu masih banyak yang salah terutama pada rincian biaya UKM”

“Ha?” alis Kibum naik sebelah, “ng…bisa besok ngga? Gw harus pulang cepet” pinta Kibum sedikit memelas

“Lo kenapa sih? anak mami banget harus pulang cepet terus!!” sindir Siwon setengah bercanda

Mendengar itu mendadak tubuh Kibum membeku dan menatap sengit Siwon, “gw bukan..anak manja, tetapi gw beneran harus pulang cepet” kali ini suara Kibum berbeda—dia berani memakai nada mengancam kepada Siwon

Giliran Siwon terdiam, ia meneliti raut wajah Kibum tetapi sayang terlalu sulit untuk di baca, “aishh sebenarnya aku menyuruhmu secepatnya karena ini membutuhkan tanda tanganku sebagai pengesahan—yah…kalau kau benar benar harus pulang cepat…”Siwon menimbang nimbang sejenak, “besok! Adalah hari  terakhir!”

“Nah gitu dong, tumben baik” ujar Kibum mau berbalik masuk  ke dalam ruang Sekretariat UKM, tetapi ia mengingat sesuatu, “Siwon, besok kan Minggu? Kampus mana di buka??”

“Makanya” Siwon berdeham sambil memalingkan wajah dari Kibum, “bagaimana kalau kita menyelesaikannya sambil….hmm…..minum….di cafe?” tawar Siwon gugup

“Tap—

“Aku yang traktir” potong Siwon

Kibum tersenyum malu, “hehehe, tahu aja lagi miskin, eh café di mana?”

“di jalan Te Amo? Aku dengar di sana kedai kopinya paling enak”

“Iya!! gw juga udah lama mau  kesana, tapi  Zhoumi ngga sempet terus” dengus Kibum sambil melamun

Siwon mendelik kesal, “besok gw cuma  traktir lo! Jadi jangan bawa bawa Zhoumi bareng kita”

“Iya…ngga…” walau enggan pergi bersama Siwon, tetapi mendengar kata gratisan! Kibum pun tidak menolak hehehehe

“ya sudah, sampai besok Kibum” Siwon berbalik menuju ruangannya dengan senyum tertahan. Tidak ada dapat di sangkal, ia senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Kibum. Meski hingga detik ini, Siwon belum berhasil memancing Kibum mengenai hubungannya dengan Zhoumi

“Akan kucari tahu besok” gumamnya sambil membereskan kertas kertas bekas di atas meja

*Di sebuah rumah*

“Fuih, nyuci baju, nyuci piring dan membereskan sprei anak anak  sudah selesai” Kibum  merentangkan tangan di atas kasur dengan tatapan lelah

CKLEK

Zhoumi membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar Kibum, “kamu makan dulu sana, udah aku buatin ramen”

Kibum mengangguk namun belum beranjak bangun, dimainkannya kedua kaki sambil menerawang jauh. Melihat keadaan Kibum, Zhoumi duduk di sampingnya lalu memeriksa kening Kibum, “kamu sakit?” tanyanya cemas

“Ngga..hanya lelah..capekan juga kamu, ngurus anak anak, kuliah terus kerja pula”

Zhoumi tersenyum lembut, “kan aku memang yang bertanggung jawab..sudah cerita saja, ada apa lagi? Siwon kah?” tebaknya benar

“Iya! dia mengganggu hari liburku!! Besok kami harus menyelesaikan laporan pertanggungjawaban, untung saja Siwon mau sekalian mentraktir hehehe” jelas Kibum menyeringai lebar

“traktir?” Zhoumi mengubah posisi duduknya, “Siwon? sejak kapan? Huh bilang saja dia mau mengajakmu kencan”

“Sudahlah Zhoumi, kenapa sih kamu masih berpendapat dia menyukaiku! Itu sudah pasti tidak mungkin” sanggah Kibum malas menanggapi omongan Zhoumi yang mulai ngawur

“Taruhan sama aku, kalau nanti kalian akan makan terus jalan jalan berdua saja sambil berpegangan tangan berarti itu kencan” kata Zhoumi tidak mau kalah

“Lihat saja nanti” balas Kibum enteng, “omonganmu pasti tidak terbukti”

Café Kangin

“selamat datang” sapa Sungmin sambil membukakan pintu kedai ketika Kibum masuk sambil membawa tas besar berisi laptop. Pandangannya menyapu sekeliling lalu terhenti melihat Siwon sudah duduk tenang di pojok kanan. Mata mereka saling bertemu, Siwon langsung mengubah posisi duduk menjadi lebih tegap

“udah lama?” tanya Kibum sedikit berbasa basi—mendadak ia kepikiran  omongan Zhoumi semalam apalagi Siwon sendiri memakai baju rapi yang semakin membuat Kibum curiga, apa benar  jika….

“Ngga juga, kau mau pesan apa? Aku kan janji mau traktir” ucap Siwon sambil menggeser bangkunya mendekati Kibum

Kibum mengerjap gugup sambil menghidupkan laptopnya, “apa aja, samain kayak kamu” mendadak jantungnya bergedup lebih kencang ketika tubuh Siwon condong ke arahnya—salah! ke layar laptopnya namun tetap saja jarak  mereka makin dekat

“Ini salah! Kamu benerin dari sekarang, ini pasti makan waktu lama” Siwon menarik tubuhnya kembali tanpa menggeser kursi ke posisi awal.

“Iya” Kibum mendesah lega, paling tidak pekerjaan ini bisa membuatnya jauh lebih tenang berhadapan dengan Siwon

Kibum sibuk mengetik laporan sambil di periksa ulang langsung oleh Siwon. Tidak jarang Siwon geleng geleng kepala karena Kibum masih salah padahal sudah di beritahu berulang kali.

“Kau ini kenapa sih? tidak berbakat jadi sekretaris” ejek Siwon seraya menyandarkan tubuh pada kursi

Kibum terdiam sejenak, “ini kemauan Zhoumi supaya aku bisa membantunya—kalau bukan demi dia aku juga tidak mau” ia tersenyum lembut setiap kali membicarakan Zhoumi, membuat Siwon tidak dapat menahan diri lagi

“sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Zhoumi” desak Siwon sambil mencondongkan tubuh, “apa kalian berpacaran?”

“tidak” jawab Kibum sambil menggelengkan kepala, “dia lebih dari itu” kali ini nada bicara Kibum lebih dalam—bermakna sesuatu

Siwon makin tidak mengerti,  “maksudmu??”

“Permisi”  suara Kyuhyun yang membawa pesanan membuyarkan percakapan mereka. Siwon tersentak lalu membiarkan Kyuhyun menaruh semua makanan setelah di atas meja

“silahkan menikmati” gumamnya sambil menunduk hormat kemudian kembali ke belakang meja kasir

Kibum melirik Siwon sejenak, “aku boleh makan?”

“makan saja” suara Siwon sedikit tajam—ia tidak berani menanyai Kibum lagi. Jelas sekali Kibum enggan membahas lebih lanjut.

Apakah seharusnya, Siwon mencari tahu sendiri?

__

Siwon dan Kibum berkutat dalam pembuatan laporan tanpa menyadari ada sesosok yeoja di balik meja kasir menatap mereka berdua—ingin tahu

“Woi!!!” sergah Kyuhyun membuyarkan lamunan Sungmin, “layanin pelanggan!! Bukannya malah ngintip orang lagi pacaran”  sindirnya

Sungmin melirik Kyuhyun lalu kembali fokus melihat Kibum dan Siwon, “jangan berisik! Aku hanya seked—

Belum selesai Sungmin berbicara, Kyuhyun sudah tersenyum sinis—penuh ejek, “lebih baik jangan mencampuri masalah percintaan orang lain” matanya berkilat tajam ke arah  Sungmin, “ingat kau masih berhutang penjelasan denganku”

“Bukannya kau sudah bisa menebak semuanya” balas Sungmin malas

“Tetap saja” Kyuhyun menatap Sungmin dengan raut wajah yang tidak terbaca, “aku ingin  mendengarnya darimu—sebagian….lagi”

Sungmin menoleh enggan, “nanti, jam pulang” jawabnya singkat

“Ok” Kyuhyun melepaskan tatapannya kemudian berlalu ke dapur, meninggalkan Sungmin yang merunduk sambil mengamati kedua muda mudi itu. Masih dengan pandangan penuh rasa ingin tahu

Dari belakang, Kyuhyun berbalik—melirik punggung Sungmin lalu menghela nafas panjang, “Ini gila…dan  tidak mungkin—tidak bisa di percaya” bisiknya seorang diri

***

“SELESAI!!!” Pekik Kibum takjub.  Andai bukan karena Siwon, dia tidak akan secepat ini membereskan laporan pertandingan terutama laporan keuangan yang berbelit belit. Memang di butuhkan orang teliti seperti Siwon untuk mengecek setiap detailnya—Kibum saja sudah berkali kali melakukan kesalahan sepele sehingga Siwon harus membantu dan menuliskan sendiri perhitungannya yang ternyata sangat akurat

“makasih” bisik Kibum tulus, ia tersenyum berseri seri sambil sibuk membereskan kertas yang berserakan di atas meja, “besok tinggal aku print dan kamu tanda tangan”

“Atau kita sekarang cari tempat print lalu aku bawa pulang ke rumah terus besok aku tinggal  kasih ke kamu copyannya gimana?” Siwon memberi solusi

Kibum tersenyum lagi, “boleh juga, memangnya di dekat sini ada?”

“ada, yuk” Siwon mengulurkan tangan untuk membantu Kibum berdiri lalu mengajaknya keluar café Kangin

“Terima kasih lain kali kembali” ucap Kyuhyun dan  Sungmin bersamaan tepat di depan pintu

Selepas di luar—di Jl Te Amo, Siwon masih  menuntun tangan Kibum sambil berbicara panjang lebar, “seingatku di sebelah sana, hmmm…tapi mungkin di sebelah sini” ucap Siwon berhenti di persimpangan jalan

Kibum tidak menjawab

Ia masih melirik wajah Siwon, tangan mereka yang masih berpegangan lalu kembali melihat Siwon

Tiba tiba ucapan Zhoumi terngiang lagi dalam benak Kibum

“Ku bilang juga apa, dia menyukaimu” seolah olah Zhoumi berada di sini lalu mengejek Kibum secara jelas

Tidak heran kalau Kibum mendadak berteriak, “Tidak!!!!!”

Siwon berhenti bergumam, “kau kenapa?” tanyanya terkejut

Kibum mendegus kesal sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Siwon, “aku bisa jalan sendiri” suara Kibum berubah dingin, membuat Siwon merasa bingung namun lambat laun rautnya berubah murung

“maaf” bisiknya pelan

Sekarang suasana menjadi canggung

“tidak apa apa, aku..” Kibum gantian merasa tidak enak melihat perubahan sikap Siwon—aishhh ini semua gara gara Zhoumi!!. Kibum membatin

“Kita jalan ke sana! Ya!  Aku ingat sekarang, di sana letaknya” seru Siwon berusaha mencairkan suasana, ia berjalan lebih cepat. Meninggalkan Kibum yang agak tertinggal di belakang

Setelah berputar beberapa blok. Akhirnya mereka menemukan tempat print yang biasa di kunjungi Siwon. Tidak butuh waktu lama, Kibum dengan cepat mendapatkan salinan berikut aslinya yang nanti akan di tandatangani oleh Siwon untuk di bawa pulang

“Kau mau kemana lagi?” tanya Siwon dengan nada se-biasa mungkin

Kibum menoleh ke kiri,  “aku mau pulang ke arah sana…aku kan tidak bisa  pulang malam malam, kasihan Zhoumi” padahal dalam hati, Kibum sudah tidak sabar ingin memukul kepala Zhoumi karena berani membuat teori absurd tentang perasaan Siwon. Salahnya jika hubungan Kibum dan Siwon menjadi semakin aneh

“Mau ku antar?” tawar Siwon bernada penuh harap

Kibum ingin menolak lagi, “Er..tapi rumahku…”

“tidak apa apa, kau kan perempuan. Bahaya pulang malam” kata Siwon bersikeras. Ia sudah mau menarik tangan Kibum ketika teringat reaksi Kibum barusan, “ah….aku..ayolah, sekali ini saja” bujuk Siwon sedikit memohon—dia masih betul betul penasaran dengan hubungan Kibum dan Zhoumi. Saudara? Jelas bukan! Marga mereka saja beda. Kekasih? Kibum sudah menyanggahnya—namun Siwon malah makin ingin tahu

“Hmmm” Kibum memicingkan mata—ia mendesah lalu memberi keputusan, “baiklah” Siwon tersenyum lebar, “tetapi! Kau jangan terkejut kalau melihat rumahku”

Dengan cepat Siwon menggeleng, “tidak akan, ayo kau jalan duluan”  ia membiarkan Kibum berjalan di depan sambil terus mengamatinya dari belakang. Senyum Siwon tidak pernah lepas dari wajahnya, ia hanya buru buru menyembunyikan semuanya ketika Kibum menoleh kebelakang

“Ng, Siwon” Kibum kelihatan salah tingkah, “maaf tadi aku berteriak kepadamu—sebenarnya maksudku bukan begitu” suaranya bernada minta maaf sambil  menyunggingkan senyum penyesalan

Siwon yang merasa sikap Kibum sudah kembali seperti sedia kala—memberanikan diri berjalan sejajar dengannya, “ada  apa? Maaf…aku—

Kibum memotong ucapan Siwon “Ini semua gara gara Zhoumi!!!”

“Eh?”  alis Siwon naik sebelah, “aku tidak mengerti?”

“Tahu tidak? Masa dia bilang kau punya perasaan khusus denganku!! Dan bilang kalau  sebenarnya hari ini kau mau mengajakku kencan terselubung dengan menggunakan laporan ini sebagai alasan” Kibum geleng geleng kepala, “benar benar tidak  masuk akal bukan?”

Kibum terus berjalan, masih sibuk bercerita tanpa tahu  Siwon tertinggal di belakang. Membeku di tempat

Tercengang mendengar ucapan polos Kibum

“benarkan Siwon? Zhoumi itu memang aneh” Kibum menutup pembicaraannya. Ia menoleh ke samping. Kosong.

“Siwon??”  Ia mencari cari sosok lelaki tegap itu dan menemukannya beberapa meter—jauh di belakang. Kibum bergegas menghampiri Siwon lalu berdiri tepat di hadapannya, “ada apa??” Kibum memiringkan wajahnya—berusaha membaca raut wajah  Siwon yang mendadak gugup  di tatap Kibum sedekat itu

Rahasianya sudah terbongkar

“itu benar…” desis Siwon. Matanya menari nari menghindari reaksi Kibum mendengar pengakuannya

“EH?” Kibum terkejut, “Maksudmu..Zhoumi benar benar aneh begitu?” ulang Kibum tidak yakin

Siwon memutar kedua bola matanya, “maksudku tentang” Siwon membuang muka lagi, ia mendesah perlahan, “tentang perasaanku”

Kibum terdiam, tidak bisa berkata apa apa

Ia menganga lebar. Raut wajahnya berubah ubah, takut, sedih, kaget, tidak percaya dan ada semburat merah menghiasi pipinya

“Aku..aku…” Kibum tidak siap. Bagaimana bisa seorang Siwon punya perasaan kepadanya!

“sudah, lebih baik aku mengantarmu pulang” Siwon memaksakan diri tersenyum—ia berjalan ke depan sejenak lalu menoleh lagi ke arah Kibum, “tidak usah di pikirkan….bukan hal yang penting”

“tapi—

“Ayolah” Siwon kali ini menarik lengan Kibum agar kembali berjalan lalu bermaksud melepaskan tangannya yang masih memegangi siku tangan. Jari jari Siwon terangkat, turun dan bersentuhan dengan telapak tangan Kibum

Kali ini Siwon meminta ijin

“boleh aku menggenggam tanganmu?” pintanya takut takut

Kibum tidak menjawab, ia sibuk memainkan batu kerikil di jalanan dengan kaki kanannya.

Siwon sudah mau menyerah ketika Kibum menganggukkan kepalanya

Ia tersenyum lebar

“boleh?” sekarang Siwon malah menggoda Kibum yang tampak malu malu

“Aishhh…kalau mau pegangan,  ya sudah” Kibum meraih tangan Siwon lalu meremasnya kuat, “ini kita sudah pegangan…ayo cepat!! Aku tidak mau terlambat  makan malam” untuk mengalihkan rasa gugupnya, Kibum sengaja menarik Siwon agar berjalan lebih cepat—seiring dengannya.

Mereka  tertawa tawa sambil sesekali menatap satu sama lain

Lebih dekat, dan lebih dalam

Siwon menyunggingkan senyum tulus,  mengubah posisi tangannya seperti menuntun seseorang lalu berjalan lebih pelan. Menikmati sisa waktu selama seharian, bersama Kibum. Orang yang ia cintai

“Yang mana rumahmu?” Siwon menyipitkan mata, berusaha mencari papan nama rumah dalam keadaan gelap

“Itu” Kibum menunjuk sebuah rumah tua, agak besar yang berada paling ujung jalan. Siwon mengangguk mengerti lalu melangkah lebih dekat sambil memainkan jari Kibum dalam genggamannya yang hangat

Tetapi Siwon agak  terperangah melihat papan nama rumah itu—tepatnya rumah Kibum, “kau yakin ini…” ucap Siwon sambil menoleh ragu ke arah Kibum

“Hmm” Kibum mengangguk, ia tersenyum hambar melihat reaksi Siwon, “aku mengerti kalau  kau keberatan untuk masuk atau apa”  suara Kibum menghilang—ia menghindari tatapan Siwon yang penuh pertanyaan

“Kau yatim piatu?” tanya Siwon tanpa bermaksud menyinggung perasaan Kibum—hanya sekedar ingin memastikan

Anggukan kepala Kibum menjawab semuanya

Mereka terdiam sesaat

Kibum angkat bicara terlebih dahulu, “aku tidak mau di kasihani! Dan aku tidak terima  ucapan ‘maaf..aku  tidak bermaksud’, atau ‘oh kasihan kau’” Kibum mengucapkannya sedemikian rupa sehingga membuat Siwon malah tertawa kencang

“Ya..kau ini!!”  Siwon bahkan harus mengelap air mata yang keluar karena terlalu banyak tertawa. Tidak Siwon sangka, Kibum lebih tegar dari yang dia kira

“Kau masih mau masuk?” ajak Kibum kali ini bernada serius

Tanpa argumen Siwon mengangguk tegas.  Kibum membuka pagar lalu menggenggam tangan Siwon—meremasnya penuh arti. Sedikit menghela nafas tegang, Kibum mengetuk pintu beberapa kali

KREKK

“Kibum! Ini hampir larut malam! Bisa tid—“ semua teguran Zhoumi terhenti. Tatapannya beralih pada sosok di samping Kibum.

Siwon pun bereaksi sama

“Kau ada di sini?!!” ucap mereka bersamaan

Kibum hanya bisa menahan senyum sambil mengenalkan Zhoumi kepada Siwon, “Dia ini adalah pengurus Panti Asuhan St Stephanie”

Oh, oh” Siwon menunduk sejenak, “mianhe, kalau aku membuat Kibum tertahan sampai semalam ini” ujarnya dengan nada formal

Zhoumi menyeringai lebar, dia menatap Kibum penuh arti namun tersirat canda di sertai godaan yang jelas. “Tidak apa apa, terima kasih kau mau mengantarkannya langsung kemari” Zhoumi melirik ke dalam rumah,  “maaf bukannya aku mengusir, tetapi anak anak sudah tidur—mereka bisa terusik kalau—

“tidak” tukas Siwon mengerti, “aku memang berencana segera pulang sekarang” katanya enteng, sebelum berpamitan ia memutar tubuh—menghadap ke arah Kibum, “besok mau kujemput jam berapa?”

Kibum melongo, ia langsung membenahi raut wajahnya, “aku…

“Jam  11!” Zhoumi berbicara lantang, “kau bisa datang lagi  menjemput Kibum jam  11 tepat”

Siwon tersenyum penuh rasa terima kasih, “baiklah…” ia kembali  menatap Kibum, “aku pulang”

Untuk kali ini Kibum tidak perlu di bantu Zhoumi, “Ne..hati hati” balasnya gugup

Siwon mengangguk kemudian menghilang dari balik pagar. Sementara itu di depan pintu Zhoumi melipat kedua tangannya sambil menatap Kibum seksama,  “apa kubilang..”godanya, “tidak kusangka secepat ini kalian jadian”

Kibum berpaling dari Zhoumi, menutup pintu lalu pergi ke dalam kamar.  Tidak  ia pedulikan teriakan penuh canda di sertai  sindiran sindiran dari kakak angkatnya itu

“Ye..ye…semua anak  harus di beritahu….Kibummie punya pacar…” Zhoumi mendendangkan lagu serampangan itu sambil meliuk keluar dari beberapa kamar—mematikan semua lampu  sebelum menggembok gerbang depan

Kibum yang mengalami kejadian tadi, hanya bisa meringkuk dalam selimut. Dadanya bergemuruh senang dan bahagia

Tidak pernah dia sangka kalau hari ini datang juga

Hari di mana Kibum merasa di inginkan—di inginkan keberadaannya di dunia oleh seseorang

“Hmm” desah Kibum pelan masih belum tertidur sambil  mengamati bunga Acacia pemberian Siwon di dalam botol plastik. Hingga sekarang bunga yang sudah layu dan mengering itu tidak di buang Kibum. Dan baru saat ini, Kibum beruntung tidak melakukannya…

Bunga itu tetap indah di pandang dengan caranya sendiri

__

“Dari mana saja kau!” hardik seseorang dari ruang tamu

Siwon yang baru pulang sedikit terkejut mendapati Ayahnya duduk nyaman di atas sofa—tetapi tatapannya berubah marah mendengar tuduhan yang tidak pada tempatnya itu, “aku ada urusan…kuliah, sudahlah Appa.  Besok aku harus menandatan—

“Organisasi lagi” ucap Ayahnya bernada merendahkan, “lebih baik kau lepas tugasmu itu! Amat sangat tidak membantu, lihat saja nilaimu—menurun bukan”

Siwon berhenti tepat di anak tangga. Tangannya yang memegang berkas laporan Kibum sedikit bergetar, “aku sedang tidak mau bertengkar….jadi sebaiknya Appa tidur” bisik Siwon mulai terpancing

Ayahnya tetap bergeming di tempat. Hanya mengubah posisi duduknya—menghadap Siwon,  “IPK-mu menurun! Bagaimana Appa tidak marah! Kau sudah kuberi kepercayaan malah di salah gunakan!” bentak Ayahnya hilang kesabaran

Siwon berbalik lalu  melesat menuruni anak tangga dan menatap garang Ayahnya, “IPK-ku hanya turun 0,2!!! Demi Tuhan!! Itu bukan masalah besar  Appa!”

“Tetapi itu di karenakan  kesibukanmu berorganisasi!!” Balas Ayah Siwon tidak mau kalah, “Berhenti kataku! Dan fokus saja pada kuliahmu!!”

Siwon separo tersenyum—senyum ejekan, “bukankah Appa juga suka kesibukan hingga tidak sempat datang ketika Umma di kuburkan” Siwon tahu dia sudah keterlaluan. Memancing topik sensitif buat mereka berdua.

PLAKKK

Tamparan keras mengenai wajah Siwon.  Ayahnya terengah engah sambil memandang tajam pada anak  semata wayangnya itu, “Sudah berapa kali Appa bilang!!!! Appa terjebak tidak mendapatkan tiket pesawat!!! Kau masih mengungkitnya juga?!”

Siwon enggan mendongak, ia hanya meringis sebentar sesaat setelah  merasakan rasa asin di bibirnya. Darah mulai merembes keluar

“Tetapi itu tidak mengubah apapun”  Siwon bangkit berdiri sambil mengambil berkas yang terjatuh, “Appa tetap keras kepala bahkan ketika aku masih terlalu kecil untuk mengerti ‘kewajiban seorang anak’..Appa terlalu banyak menuntutku, membatasiku, membuatku muak dengan tetek bengek perusahaan, di saat semua anak masih mengenal mainan atau kuda kudaan, Ayah malah membentukku untuk selalu sempurna. Tampan, berwibawa mempimpin  perusahaan, berkharisma….” Siwon tersenyum miris, “Aku benar benar sudah tidak tahan…..”

Siwon mengambil jaketnya, mengeluarkan sebuah kunci mobil beserta isinya dan memberikan kepada Ayahnya, “aku berhenti…berhenti menjadi anakmu”

Ayah Siwon tercengang lalu  menatap wajah Siwon sekilas—berusaha memastikan bahwa anaknya sedang tidak bercanda, “Siwon…” tangannya yang tua menerima semua itu dengan sedikit bergetar

Siwon berbalik—hendak keluar pintu. Ia berbalik dan mendapati Ayahnya masih menatap ke arahnya dengan wajah yang sulit di baca

“Aku pergi  Appa…”

***

TOK  TOK

“ng”

TOK TOK

Kibum menggeliat ke samping  sambil menaruh bantal di telinganya secara refleks, “Zhoumi..ini masih terlalu pagi” bisik Kibum merajuk

TOK TOK

“Eh” Kibum melepaskan bantal dari wajahnya, “itu kan suara dari arah jendela?”

Dengan enggan Kibum  menyeret tubuhnya bangun untuk membukakan gerendel besi, “siapa sih” kata Kibum setengah mengantuk.

“Ini aku, Siwon”

Kibum benar benar terbangun sekarang

“Siwon??” ucapnya sambil mengusap kelopak mata berulang kali, “Kamu? ke sini?”  Kibum melirik jam di atas meja belajar, “kita kan janjian jam  11, ini baru setengah dua pagi Siwon”

Siwon mengangguk kaku, tidak menjawab pertanyaan Kibum

“ada  apa?”

“Mau ikut denganku, berbicara sebentar” wajah Siwon terlihat memohon, “please, aku benar benar membutuhkanmu” bisiknya nyaris putus asa

Kibum tersenyum tipis lalu melebarkan jendelanya ke samping, “angkat aku keluar” Siwon menuruti Kibum, ia bersiap menarik tubuh Kibum dari dalam kamar

Hup

Siwon menyeimbangkan tubuh Kibum, mendesah lega kemudian mengajak Kibum duduk di salah satu ayunan yang berada di halaman panti asuhan tersebut

“Aku bertengkar dengan Appa” kata Siwon mulai bercerita

Kibum sedikit tercengang namun memutuskan membiarkan Siwon mengeluarkan segala keluh kesahnya selama ini

Siwon mengatakan betapa menderitanya ia dari kecil. Hidup atas kemauan orangtua, tanpa pernah mendengarkan keinginannya.  Appanya—yah semua ini karena  Appa Siwon terlalu keras mendidiknya. Ia bahkan tidak mengenal semua temannya sewaktu TK karena sikap  Appanya yang terlalu berlebihan

“Aku bertahan, berusaha membahagiakan Appa dan Umma. Tetapi semuanya berubah” tatapan Siwon berubah kelam, “ketika Umma meninggal karena penyakit kista”

Kibum meraih tangan Siwon lalu menggenggamnya, tanpa mengatakan apapun

Siwon melanjutkan bercerita, “bahkan di saat terakhir,  Appa tidak ada di sampingku, menenangkanku…bilang semua akan baik baik saja, tidak….dia memang tidak pernah ada” Siwon menunduk lebih dalam—menahan keinginan kuat untuk menangis

“Tetapi” bisik Kibum, “dia tetap Ayahmu…dia pasti menyayangimu dengan caranya sendiri” kata Kibum memberikan pendapat, “dan masalah dia tidak datang…bukankah kau bilang sendiri—Appamu memang tidak mendapatkan tiket pesawat, seharusnya kau memaafkannya Siwon. Jangan biarkan dia menghukum diri terus menerus”

Siwon mendengus, wajahnya berubah kaku mendengar ucapan  Kibum, “kau tidak tahu kelakuan  Appaku! Dia itu seorang Tiran! Memaksakan kehendak dan tidak peduli orang lain selain dirinya!! Aku saja—anaknya, tidak mengenalinya sama sekali”

“Kau tidak boleh berbicara begitu Siwon” tegur Kibum, “dia pasti punya alasan, tetapi satu hal yang tidak pernah berubah…dia memang menyayangimu” kini Kibum mengelus pundak Siwon lembut

Siwon menepis tangan Kibum lalu melepaskan diri sambil berdiri tegap, “kenapa dari tadi kau membela Appaku!! Kau sama dengannya” Siwon mengangguk pelan, “kau tidak mengerti penderitaanku” tuduhnya kasar

“Bukan begitu” suara Kibum berubah membujuk—ia ikut berdiri di depan Siwon, “aku hanya berusaha melihat dari sisi yang berbeda”

“Sisi yang berbeda???” nada Siwon meninggi, “Kau kan tidak punya orang tua!! Mana mungkin kau mengerti!! memang salah aku meminta pendapatmu”

Kibum mematung

Siwon yang melihat itu, sadar. Ucapannya sudah keterlaluan

“Maaf Kibum…aku—“

Kibum mundur beberapa langkah, menolak Siwon yang berjalan mendekatinya sampai akhirnya Siwon menyerah sambil terus berbisik meminta maaf

“dasar  egois” desis Kibum di  sela sela giginya, “aku memang tidak  punya orang tua, seharusnya kau belajar dariku! Kau pantas bersyukur masih memiliki seorang Ayah!! Tetapi kau malah terus menyalahkannya”

“Aku?” Siwon menunjuk dirinya sendiri, “egois? Kau tidak salah tuduh??” ia membelalakan mata—marah, “Lelaki  tua itulah yang egois!  Memaksakan kehendaknya hanya untuk kepuasan pribadi!! SUDAH KUBILANG KAU TIDAK TAHU APA  APA!!!!” Suara Siwon makin keras—emosinya selalu memuncak setiap kali membicarakan Ayahnya

“IYA!! AKU MEMANG TIDAK TAHU APA APA TENTANG HUBUNGANMU DENGANNYA!!!” teriak Kibum sambil terisak kecil, “Tetapi Ayahmu tidak pernah meninggalkanmu seorang diri di dalam rumah bersama seorang Ibu yang lebih sering membiarkanmu kelaparan di kamar tanpa peduli bagaimana keadaanmu bukan? Ayahmu juga sibuk bekerja karena ingin memberikan segala yang terbaik hanya untukmu…..bukannya malah pergi ke pub—sibuk memacari semua perempuan murahan untuk di tiduri? Bukan begitu Siwon?” Kibum membuka luka hatinya yang sudah bertahun tahun ia tahan seorang diri

Siwon terhenyak lalu tertegun menyadari masa lalu Kibum yang baru ia ketahui

“Ayahmu..hiks..” tangan Kibum bergetar saat merengkuh dirinya sendiri seraya menghapus air mata yang terus mengalir, “Ayahmu menjaga dan menyayangimu dengan caranya yang kaku—tetapi tulus….” Sekarang Kibum berani menatap mata Siwon—tajam, “semua orang bisa melihat itu Siwon….kau saja yang terlalu banyak menuntut hingga tidak menyadarinya. Kalau Ayahmu begitu kejam kenapa dia tidak meninggalkanmu atau membuangmu ketika lahir atau berumur 5 tahun sama yang seperti Ayah dan ibuku lakukan waktu itu. Kau tahu….mereka membuangku….mereka tidak menginginkanku….apa yang lebih buruk dari itu?”

Kibum semakin keras menangis, ia tertunduk sambil terus memeluk tubuhnya sendiri

Sekejap Siwon membawa tubuh Kibum dalam pelukannya, “maaf” bisiknya

“Jangan meminta maaf kepadaku, ada seseorang di rumahmu yang berhak mendapatkan itu” Kibum melepaskan tangan Siwon. Ia mendongak dengan tatapan sembab akibat terlalu banyak menangis, “pulanglah”

Siwon mengangguk samar, ia menghapus air mata dari wajah Kibum lalu mengecup keningnya sekilas, “terima kasih dan maafkan aku tidak—”

“Aku tahu kau tidak sengaja” Kibum menyunggingkan senyum lemah, “sana cepat kembali, nanti Adjushi keburu memanggil polisi untuk mencarimu lagi” kata Kibum sudah mulai kembali ceria

“Ha ha ha, aku harap itu terjadi—karena dengan begitu berarti ia betul betul peduli denganku”

Tatapan Kibum melembut, “dia amat menyayangimu, percayalah”

Siwon menghela nafas, “aku memang  tidak pernah menang berdebat denganmu, nah sekarang..” Siwon memeluk pinggang Kibum lalu menggendongnya seperti seorang putri ke arah jendela kamar Kibum, “kau harus tidur, karena nanti pagi aku tetap menjemputmu jam  11”

“hmmm” jawab Kibum

Ia berpegangan pada kenop jendela lalu dengan satu lompatan kecil berhasil masuk kembali ke dalam kamar

Sesudah memastikan Kibum menutup jendela kamar, Siwon keluar dari pekarangan rumah dengan pikiran yang berbeda. Semua perkataan Kibum begitu membekas dalam ingatannya. Dan tiba tiba kenangan semasa kecilnya muncul kembali

Bagian bagian yang selama ini berusaha di enyahkan Siwon mencuat seolah olah ikut membuktikan kebenaran ucapan Kibum

Waktu di mana Ayahnya berdebat dengan Ibunya tentang sekolah yang akan di masuki oleh Siwon

Ibunya ingin Siwon bersekolah di dekat rumah tetapi Ayahnya langsung menolak

“Aku ingin Siwon di tempatkan di sekolah paling terbaik diantara yang terbaik”

Ayahnya memastikan Siwon mendapatkan pendidikan bermutu tinggi

Bukan hanya itu, Ayahnya juga sudah merencanakan segala sesuatunya tentang jenjang pendidikan yang harus di ambil Siwon hingga perguruan tinggi. Hal ini sempat membuat Siwon membenci Ayahnya karena bersikap diktator—tetapi sekarang Siwon malah mengerti….Ayahnya melakukan itu hanya untuk memastikan masa depan anaknya

Bukankah selama ini Ayahnya tidak pernah sekalipun mengeluh jika Siwon membutuhkan dana lebih untuk membeli buku pelajaran atau untuk kegiatan kampus lainnya yang jumlahnya tidak sedikit

“Ya Tuhan” gumam Siwon menyesal. Kibum benar…dia mestinya bersyukur mendapatkan sosok Ayah seperti Appanya

Siwon memang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, tetapi Appanya selalu memberikan apa yang ia butuhkan. Dan itu jauh lebih berarti

Menyadari itu, Siwon malah berlari—dalam udara dingin di pagi hari, tubuhnya sedikit menggigil dalam balutan kemeja sederhana. Melesat jauh, melewati beberapa jalan utama sebelum sampai di persimpangan jalan menuju rumahnya

TOK TOK

“sebentar” itu suara Adjumma yang sedang membuka pintu rumah

CKELK

“Tuan muda?” dia terkejut lalu menoleh ke belakang sambil berteriak, “Tuan!! Tuan muda Siwon sudah pulang!!!!!”

Suara derap langkah dari ruang kerja Ayahnya terdengar. Siwon menangkap sosok Ayahnya yang kelihatan jauh lebih tua sedang menatap ke arahnya

“Siwon” bisiknya lega, “Kau?! Kau hampir membuat Appa jantungan!! Kalau tidak muncul hingga pagi. Appa berniat melapor pada polisi!” suara amarah Ayahnya menggantikan rasa khawatirnya sekarang

Siwon terkejut, Kibum benar…sekali lagi

“Appa..” Siwon masuk ke dalam, menghampiri Ayahnya yang berdiri tepat di samping ruang tamu—tempat mereka bertengkar tadi. Sekarang Siwon malah mau menangis, ia benar benar keterlaluan berkata sekasar itu tadi, “Appa tidak mengusirku?” tanya Siwon dengan suara serak

Alis Ayahnya berkerut, “memang kenapa?”

“Aku tadi sudah berani menentang Appa”

Ayahnya malah tersenyum tipis—agak kaku, “Aishhh, pertengkaran anak dan orangtua sudah biasa. Kau kemana saja? Tidak terluka atau apa?” Ayahnya malah masih sempat menanyakan keadaan Siwon membuatnya semakin bersalah

Siwon terduduk, bersimpuh di depan Ayahnya sambil menunduk dalam dalam

“Aku minta maaf” kata Siwon

Ayahnya terkejut dengan sikap Siwon yang tidak seperti biasa, “Kau kenapa?? Bangun Siwon!” perintah Ayahnya sambil mencoba meraih kedua tangan Siwon untuk bangkit berdiri—tetapi malah di tepis pelan

“Aku benar benar minta maaf” kali ini suara Siwon bercampur tangisan

Ayahnya terdiam sejenak

Ia tiba tiba ikut berlutut—di depan Siwon sambil mengangkat wajah anak tunggalnya itu, “tidak ada yang perlu di maafkan, sudahlah…kau pasti sudah lelah, sana tidur” bujuk Appanya seolah olah Siwon masih putra kecilnya sama seperti dulu saat Siwon mengaku memecahkan vas bunga kesayangan Ayahnya

“tetapi  aku sudah menuduh Appa, memojokkan Appa, mengungkit ungkit soal Umma…aku anak yang tidak berbakti. Kalau bukan karena Kibum, mungkin hingga kini aku masih terus menyalahkan Appa seumur hidup” ungkap Siwon terus terang

Ayahnya mengelus rambut Siwon, “itulah orang tua. Mereka tidak akan pernah bisa membenci anak mereka sendiri meski apapun yang terjadi”

“Tetapi Kibum tidak, kedua orangtuanya malah membuangnya sejak kecil” kata Siwon

Ayahnya memicingkan mata, “siapa itu Kibum? Kau sudah  menyebutnya dua kali”

“Dia itu gadis yang kusukai” Siwon malah terlihat salah tingkah, “aku mencintainya”

Ayahnya tersenyum kecil sambil terus mengacak acak rambut Siwon, “Putra Appa sudah besar, asal jangan lupa—

“Kuliah” potong Siwon

Bibir Ayahnya berkedut menahan senyum, “kau harus bisa bertanggung jawab Siwon. Sekolah adalah salah satu jalan yang bisa Appa berikan untuk masa depanmu”

“Aku mengerti” Siwon berpikir sejenak, kemudian dengan lugas ia memeluk tubuh Ayahnya—canggung, “aku ingin membuat Appa bangga”

Ayahnya yang masih terkejut di peluk oleh Siwon—tersentuh mendengar janji Siwon, “Appa akan selalu bangga memilikimu nak, hanya kau harta Appa sekarang”

“Aku tahu”

Setelah itu Siwon melepaskan pelukannya dan membantu Ayahnya berdiri. Ia membungkuk dalam dalam sekali lagi kemudian melesak melewati beberapa anak tangga—menuju kamarnya yang berada di lantai atas

Senyum Ayahnya masih tersungging lebar, tetapi ia terlihat memikirkan sesuatu—tentang seseorang. Pria itu meraih telepon yang berada tak jauh dari ruang tamu dan memencet sederet nomor

“Sekertaris Lee? Maaf mengganggumu sepagi ini. Aku mau minta tolong kau mencarikan info tentang seorang yeoja, teman Siwon di kampus—kalau tidak salah namanya Kibum” Ayah Siwon mengangguk, “ya, kabari secepatnya”

Ia memutuskan sambungan telepon dan ikut meninggalkan ruangan ini untuk beristirahat di dalam kamar

***

Semenjak hari itu hubungan Siwon dan Ayahnya berangsur angsur membaik. Ayahnya tidak mengekang Siwon seperti dulu—meski tetap menegur Siwon setiap kali pulang terlalu malam.

Sebenarnya setiap kali pulang dari kampus, Siwon selalu mampir ke tempat Kibum.  Bermain bersama anak anak yatim piatu lain—yang di anggap adik oleh Kibum dan Zhoumi sekaligus membantu Kibum memberi makan dan memandikan mereka satu persatu. Siwon pernah bertanya kenapa mereka tidak menggaji beberapa karyawan untuk membantu mengurus anak anak, tetapi Kibum hanya mengangkat bahu dan mengalihkan pertanyaan Siwon—dari situlah Siwon tahu satu hal, Panti Asuhan itu memang sedang kesulitan

“Tidak kataku!!! Aku tidak mau!!!” tolak Kibum tegas

“Tapi—biarkan aku membantumu”

“Tidak!” Kibum menggeleng kuat dan berhambur meninggalkan Siwon, “aku tidak mau di bilang wanita yang memanfaatkan kekayaan kekasihnya hanya untuk kepentingan pribadi”

“Kibum” bisik Siwon pelan

Kibum berusaha tersenyum seperti biasa,  “aku tahu maksudmu baik, tetapi tetap saja aku menolak. Aku bahkan yakin Zhoumi tidak akan mengijinkanmu main lagi kemari kalau berniat menyumbangkan uang pribadimu? Ingat itu”

Dan lagi lagi Siwon menyerah. Ia hanya bisa menyumbangkan beberapa pakaian bekas atau buku buku pelajaran miliknya untuk panti asuhan. Kibum dan Zhoumi akan menghalanginya jika berniat membantu secara finansial

__

“Mau kau apakan semua mainan itu Siwon?”

Siwon terkejut lalu menoleh ke belakang, ia melihat Ayahnya berdiri di depan sambil menatap curiga.

Bagaimana tidak? Seharian tadi Siwon membongkar gudang rumah dan mengumpulkan semua mainannya waktu kecil.

“Ah tidak ini..” Siwon berdiri. Sikapnya yang gugup makin membuat Ayahnya bertanya tanya

“Sudah dua minggu, kau pulang malam sambil setiap hari mengumpulkan semua barang bekas dari rumah” wajah Ayahnya mendelik tajam, “ada apa sebenarnya Siwon?”

Siwon hanya bisa meringis, “itu…aku….ah iya! aku ada urusan sebentar Appa” ia mengelak dan langsung meninggalkan Ayahnya yang terlihat bingung

Ayah Siwon menarik nafas panjang, “berarti aku harus mencari tahu sendiri” gumamnya

Tidak butuh waktu lama bagi Ayah Siwon untuk mendapatkan informasi segala sesuatu tentang Kibum. Bahkan Ayahnya dapat mengetahui secara detail mengenai masa lalu gadis itu.

“Jadi gara gara dia Siwon berubah” Ayahnya memanggil sopir dan menyuruhnya mengantar ke suatu tempat—tempat di mana Kibum tinggal

Sesampainya di depan gerbang Panti Asuhan St Stephanie, Ayahnya terkejut dari dalam mobil

Sosok Siwon begitu lepas—bersemangat di antara anak anak yang sedang bermain dengan riang di halaman rumah. Di sampingnya ada sosok perempuan yang ikut bergembira sambil menjaga anak anak yang lebih kecil.

Mereka sampai tidak sadar ada sebuah sedan mewah terparkir di depan yang akan membuat sebuah kejutan untuk semua penghuni panti

Ayah Siwon terdiam lama sebelum memutuskan keluar dan memerintahkan sopirnya agar membukakan pagar

Ia masuk ke dalam lalu menghampiri kumpulan anak anak itu

“Permisi” salamnya kaku

Semua terdiam sambil menoleh ke arah sumber suara, Siwon yang pertama kali berbicara—tidak lebih tepatnya berteriak

“Appa!” Siwon melepaskan salah satu balita dalam gendongannya kemudian berjalan mendekat, “mau apa kemari??” tanyanya gusar

Melihat itu, Kibum berbisik pelan menyuruh semua anak masuk ke dalam. Setelah itu ia berjalan ke arah mereka berdua, “Anda…ada keperluan apa ke panti asuhan kami?” suara Kibum terdengar sopan meski terselip nada gugup pada suaranya

Ayahnya tidak mempedulikan Siwon, ia langsung menoleh pada Kibum, “bisa aku menemui pengurus panti asuhan ini?”

Kibum mengangguk mengerti dan masih bersikap canggung, ia mempersilahkan Ayah Siwon masuk ke dalam lalu memanggil Zhoumi yang sedang membuatkan makan malam di dapur

Mereka berdua tergopoh gopoh sedikit berlari dari belakang menuju ruang tamu. Beberapa anak yang mengintip di balik pintu merasa ketakutan. Keliatan sekali bahwa sosok lelaki tua itu membawa masalah serius mengenai panti asuhan ini

“Appa! Aku tanya sekali lagi, mau apa kemari?” tanya Siwon untuk kesekian kali tetapi Ayahnya tetap bergeming. Dia terdiam sambil menikmati kopi yang di suguhkan oleh Kibum

“Maaf” Zhoumi tiba di saat yang tepat. Dia duduk berhadapan dengan Ayah Siwon dengan Kibum berdiri di sampingnya—wajahnya terus menunduk dan menghindari tatapan Siwon.

“Ada keperluan apa Anda datang ke tempat kami?” kata Zhoumi bernada resmi, wibawanya muncul dan menimbulkan ketenangan tersendiri untuk Kibum yang sedang kalut. Kibum benar benar takut kalau kedatangan Ayah Siwon kemari karena menyangkut hubungannya dengan putra semata wayangnya. Jangan bilang jika Ayah Siwon mungkin tidak merestui hubungan mereka dan meminta mereka putus saat ini juga atau….

“Berapa jumlah anak yang kau asuh?” Ayah Siwon malah balik bertanya

“24” jawab Zhoumi spontan

Ayah Siwon melirik ke arah Kibum, “termasuk dia?”

Zhoumi menyeringit lalu mengangguk paham, “termasuk Kibum juga”

“Appa!” protes Siwon

“Diam Siwon!” hardik Ayahnya, “dan berapa jumlah anak yang di sekolahkan—apalagi perempuan ini, pasti butuh biaya banyak bukan? Padahal aku dengar tidak ada satupun donatur besar yang menyumbang untuk panti asuhan kalian ini” perkataan Ayah Siwon mengandung maksud tersembunyi. Mustahil Zhoumi, Kibum terutama Siwon jika tidak dapat menangkapnya sama sekali

“Appa!” Siwon langsung berdiri tegap, “jadi itu maksud Appa? Mau menghancurkan hubunganku dan Kibum dengan cara mengancam panti asuhan ini? kenapa Appa tega sekali!”

Ayahnya tidak menjawab teriakan Siwon. Ia malah kembali menyesap kopi seakan tidak terjadi apa apa lalu melanjutkan pertanyaan kepada Zhoumi, “Aku tahu kau butuh biaya besar bukan? Apalagi pakaian anak anak itu sudah tidak pantas di gunakan. Belilah semua pakaian baru, sekolahkan mereka di tempat yang bermutu bagus”

Zhoumi dan Kibum masih tidak mengerti maksud Ayah Siwon. Mereka hanya terus menatap dengan pandangan ingin tahu ketika Ayah Siwon membisikkan sesuatu kepada orang suruhannya

“Besok kau” dia menunjuk Zhoumi, “datanglah ke kantorku untuk mengurus semua dana yang di butuhkan. Sekretaris Lee akan menandatangani seluruh dokumen atas namaku, dan ingat pergunakan uang itu untuk kebutuhan anak anak, mengerti?” Ayah Siwon hendak bangkit berdiri ketika tangan Kibum menghentikannya, “anda tidak mengajukan apapun untuk semua itu?” bisiknya tidak percaya

Ayah Siwon melihat Kibum lebih lama lalu tersenyum—senyum seorang Ayah kepada anaknya sendiri, “apa kau kira aku akan memintamu menjauhi Siwon seperti yang sering terjadi di film film begitu?” tanyanya geli. Kibum mengangguk malu membuat Ayah Siwon malah tertawa kencang sekarang, “Aishhh anak muda…..” tatapannya melembut, “aku menyayangi Siwon—amat sangat menyayanginya” pandangannya beralih dari Kibum ke arah Siwon yang ikut tertunduk—merasa tidak enak karena sudah salah paham dengan maksud kedatangan Ayahnya

“Apapun yang membuat anak lelakiku bahagia akan membuatku turut bahagia juga, itulah keinginan semua orang tua” Ayahnya menepuk pundak Siwon sebelum berbalik keluar rumah. Tangan Siwon meraih lengan Ayahnya. Ia berdiri lebih dekat untuk membisikkan sesuatu, “terima kasih”

Ayah Siwon tersenyum sambil mengangguk pelan, “oh ya, Appa pulang dulu. Jangan lupa pulang sebelum makan malam. Kau harus bercerita sesuatu kepada Appa” katanya seraya melirik ke arah Kibum. Sepasang Ayah dan anak itu tertawa ringan. Mereka tidak sadar jika Zhoumi serta Kibum ikut menikmati kebersamaan keluarga itu.

“Aku juga mau punya Appa” bisik Kibum pada Zhoumi

Zhoumi hanya bisa menyeringai lebar, “aku rasa tidak lama lagi ada seseorang yang bisa kau panggil Appa jika kau menikahi putranya” goda Zhoumi

“Ya! Kau?!”

“hahahahaha”

Selepas mengantar Ayah Siwon sampai ke depan gerbang sambil tidak henti hentinya berterimakasih. Zhoumi memohon diri ke dalam—meninggalkan Siwon dan Kibum di luar rumah

“tahu tidak, Appa menyukaimu” gumam Siwon meraih kedua tangan Kibum lalu memainkannya berayun ke segala arah

“Masa?”

“Kalau begitu kenapa dia mau repot repot menjadi penyumbang tunggal di panti asuhan?” sekarang Siwon memindahkan tangan Kibum berpegangan ke lehernya, “itu berarti Appa merestui kita berdua”

“Hehehe” Kibum berhenti tertawa ketika menyadari lengan Siwon memeluk pinggangnya dan membawa wajah mereka terus lebih dekat

Hanya berjarak beberapa senti

“Onnie mau di cium Oppa!!!” teriak Kim Riiu—sang bungsu yang masih berumur 6 tahun

Kibum dan Siwon mematung di tempat, mereka langsung menoleh ke teras rumah di mana semua anak anak—termasuk juga Zhoumi sedang asyik mengintip mereka berdua

“Ya!! Kalian buat apa di sini!!” Kibum berteriak marah, “pasti ini suruhan Zhoumi bukan!!”

Zhoumi dan anak anak lain malah menertawakan tingkahnya

“Sudah, tidak usah di pikirkan” lengan Siwon tetap merengkuh tubuh Kibum, ia malah meraih dagu Kibum agar kembali mendekat ke arahnya, “aku belum menciummu”

Kibum menahan kepalanya, “tetapi masih ada mereka Siwon!! aku malu” suaranya berubah bisikan karena sekarang Kibum merasakan nafas Siwon yang hangat menyapu wajahnya

Kibum tidak peduli lagi, Ia memejamkan mata lalu membiarkan Siwon menciumnya dengan lembut. Kedua tangan Kibum membelenggu leher Siwon—membuatnya agar berjinjit ketika Siwon menegakkan kepala

“Aku mencintaimu” bisik Siwon sesaat melepaskan bibirnya. Kibum menarik nafas panjang, masih memejamkan mata sambil bersandar pada dada Siwon, “aku juga—aku mencintaimu”

“Suit suit!!!!” teriak Zhoumi dari jauh.

Anak anak lain juga mengikuti jejaknya, mereka malah berteriak girang seolah olah mendapatkan kado natal lebih cepat

“Kita punya Oppa baru!!!!!! Ye ye ye” beberapa anak malah berkeliling dan menari senang penuh canda tawa. Kibum dan Siwon tertawa melihat tingkah mereka kemudian memutuskan bergabung bersama semua anak anak di depan rumah

Seharian penuh kebahagiaan

THE END

11 responses to “≈Of Course I Love U-Chapter Seven-{Sibum}≈

  1. Aku suka yang ini, keren, bagus…
    Ayah Siwon baik banget….meski kelewat perfeksionis….

  2. siwon tuh emang gak bisa di pisahin dri yg namanya uang (?)
    masa lalu kibum sedih bgt T.T
    tapi ini so sweet bgt…
    dan akhirnya chap dpan kyumin!!!
    aku mau bergegas. gomawo~

  3. aishh….mata ku jadi basah…huhu tanggung jawab…

    tapi dibanding dengan kisat tentang keluarga mereka….
    kisah cinta sibum bisa dibilang mulus….
    tidak ada ancaman berarti….haha😀

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s