≈No Other Like U-{Hanwook special day}≈

“Hmm, seperti yang tertulis di sini” wajah Hangeng terlihat serius, “masukkan beberapa kelabang hanya ekornya saja, satu batang serai dan tambahkan garam ke dalam—ingat jangan terlalu manis!” kata Hangeng memperingatkan Wookie

“Gege…” panggil Wookie agak tidak percaya sama resep yang dibawa Hangeng, “itu beneran untuk nyembuhin panas? Bukannya obat jerawat?” tanya Wookie polos

“Bener!!” kata Hangeng dengan pasti, “lihat aja judul bukunya” ia menyodorkan sampul berwarna hijau lumut yang entah di pungut darimana tapi Wookie toh percaya percaya saja, ia manggut manggut mengerti seraya mengambil pisau dapur dari laci lemari dapur Sungmin

“Sekarang kita berburu kelabangnya” lanjut Wookie sudah mau keluar—pergi ke belakang rumah Kyumin. Di sana banyak rumput liar yang menjadi sarang serangga terutama kelabang

“Eh tunggu dulu!!!” Hangeng menarik lengan Wookie, “kamu nanti kecapean nangkepnya, udah kita bikin dari bahan yang udah jadi aja” katanya sambil melirik ke meja makan

Wookie melirik ingin tahu, “emang ada bahan apa aja Gege?”

Hangeng tersenyum misterius, ia membuka tudung saji, “ta..ra!!!!” ada beberapa lauk pauk yang tersisa—mungkin ini hasil masakan aburadul Chulie yang dia buat khusus untuk Kyuhyun sewaktu sakit. Tetapi seperti kita tahu, Chulie sama sekali tidak bisa memasak—errr….Kyuhyun bahkan tidak mau memakannya dan bernasib naas di meja dapur tanpa ada seseorang yang mau menyentuhnya

*untung Chulie udah pulang jadi dia ga sakit hati ngeliat masakannya masih utuh*

“Itu Ik….ikan?” tanya Wookie sangsi. Ia meringis tidak percaya melihat bentuk ikan tawar yang sudah hancur, ‘pasti nih orang lebih bodoh memasak di banding gw’ batinnya

“Iya” Hangeng mengangguk semangat seraya mengambil beberapa daging ikan ke dalam blender, “ikan gantinya kelabang, berarti sekarang kamu cari serai di bumbu dapur” titah Hangeng

Wookie mengangguk. Ia membongkar seluruh lemari meja meski dalam hati Wookie ingin menjerit, mana dia tahu soal serai. Baru kali ini dengar namanya pula. Bentuknya kotak apa persegi, Wookie tidak tahu sama sekali

“Udah belum Wookie??” tanya Hangeng yang sedang asyik menambahkan beberapa sendok garam ke dalam blender

“Eh iya Gege” Wookie memilah beberapa benda di dalam kotak bertuliskan bumbu dapur. Ia memegang salah satu batang kecil berwarna kuning—pasti ini nih yang namanya serai. Ujar Wookie setengah lega dalam hati pastinya

“Mana?? Cepetan, kasihan Kyuhyun kalau kita kelamaan menciptakan obat buat dia” ujar Hangeng sambil mengulurkan tangannya mengambil ‘serai versi Wookie’. Kening Hangeng berkerut melihat bahan dapur tersebut—seingatnya serai tidak berwarna kuning seperti ini. Tetapi ia tidak peduli, Wookie kan pasti lebih tahu. Pikirnya

“Ikan udah, serai udah, garam udah nah sekarang kita tinggal blender!!” teriak Hangeng bersemangat, “eh tunggu dulu” ia membuka tutup wadah lalu menciumnya—ugh benar saja, baunya menjadi tidak karuan, “hmm, kalau begini Kyuhyun pasti tidak mau meminumnya, harus kita akalin nih Wookie”

“Caranya gege?” tanya Wookie penasaran

Hangeng melihat ke sekeliling dapur, bermaksud menemukan cokelat atau strowberry sebagai penambah rasa. Tetapi sayang, beribu sayang, ternyata tidak ada buah atau cemilan tersisa di sana (soalnya udah habis di makan sama Sungmin sebelum pergi mengungsi ke rumah orangtuanya)

“Aha~” tangan Hangeng segera menarik beberapa dedaunan dari tumpukan sayur segar tepat di belakang Wookie yang sedang berdiri, “untung ada daun pandan! Kalau pake ini pasti bisa menyamarkan bau menyengat itu” ia segera memasukkan sisa bahan terakhir ke dalam blender

“Sekarang……nyalakan!!”

Pisau tajam dari dalam wadah plastik bening itu memutar dengan kecepatan penuh. Menghancurkan seluruh makanan yang ada hanya dalam hitungan detik. Dan setelah selesai Hangeng menuangkannya ke gelas, “Kyuhyun!! Kami datang!!” ujar Hangeng sambil menarik tangan Wookie agar mengikutinya masuk ke dalam kamar

Karena paksaan dari sepasang sejoli ini dan karena iming imingan Hangeng bahwa ‘obat manjur buatannya’ dapat menyembuhkan orang secepat mungkin. Akhirnya Kyuhyun tergoda dan mau menghabiskan satu gelas penuh

Hanya Tuhan dan Kyuhyun saja yang tahu bagaimana rasa minuman penyembuh khas Hanwook

*author aja angkat tangan*

*****

“Lagi ngapain lo sembunyi sembunyi gini Kibum?”

“Sssstt, aduh~ udah tahu gw lagi sembunyi lo pake teriak lagi ngagetin gw!”

“Lagian…”

“Ssst, sini lo”

Dua orang yang sedang bercakap cakap di depan kaca kamar mandi lelaki lantai 2 sekolah St Christie, sontak membuat Hangeng yang sedang berada di balik bilik kamar mandi, tidak jadi keluar. Ia tertarik mendengar pembicaraan Kibum dengan satu cowok yang bisa di pastikan bernama Kyuhyun—teman sebangkunya dulu.

“Ini gw lagi mau nyari kerja sambilan” jelas Kibum—nada suara yang di tangkap Hangeng, ia sedikit enggan menceritakan semua itu kepada Kyuhyun, entah ada apa

“Buat? Lo ga mikir kita udah angkatan terakhir apa? Pasti sibuk nyari nyari kampus sama sibuk belajar buat ujian” tegur Kyuhyun

Kibum terdiam sejenak

“Tapi gw rencananya kan ga kuliah” suaranya terputus putus, mungkin sedang menghela nafas. Pikir Hangeng seorang diri, “dan gw—

Kibum belum menyelesaikan kalimatnya karena tiba tiba Kyuhyun menceletuk dengan gembira, “AH! Gw tahu itu apa!!!” katanya senang, “oh pantes aja lo sibuk nyari kerja sambilan toh ck ck ck”

“Tuh!! Lo tau kan!! Aishh, berarti gw emang harus mikirin itu semua dari sekarang” keluh Kibum, “tapi demi Chulie, gapapa deh” suaranya berubah lembut

“Demi Chulie?” gumam Hangeng tidak mengerti ucapan Kibum, “emang mereka mau ngapain??”

“Udah!” terdengar bunyi suara pukulan pelan Kyuhyun ke bahu Kibum, “gw dukung sepenuhnya rencana lo! Asal jangan keteteran yang lain! Inget kita masih ada tanding basket lagi minggu depan”

“tenang aja” jawab Kibum sedikit lega, “gw pasti berusaha keras, ck ck ngga nyangka—gw bakalan ketemu lo terus selamanya, hahahaha” candanya seraya melangkahkan kaki keluar dari toilet

“hahahaha, lo keberatan??” sindir Kyuhyun

Kibum hanya tertawa lagi sebagai balasannya. Langkah mereka menjauh dan semakin menghilang membuat Hangeng berani keluar dari persembunyiannya

Ia berpikir sejenak sambil mencuci tangan di wastafel. Kenapa namja namja temannya ini mau melakukan sesuatu yang berat demi pasangan mereka?

Contohnya saja Kyuhyun, Hangeng masih ingat berapa kali Kyuhyun harus gonta ganti plester akibat luka biru di tangannya ketika membuatkan keranjang bayi sebagai hadiah ulang tahun Sungmin. Dia malah mau repot repot meminta bantuan semua orang untuk datang ke pesta tersebut dan lagi lagi itu hanya demi Sungmin

Nah sekarang Kibum, mengambil resiko kerja sambilan pada saat mereka harus konsentrasi Ujian Akhir. Memang sih, Kibum bisa mengejar ketinggalan karena dia termasuk 5 besar. Tetapi jika di tambah dengan kegiatan basketnya? Ck ck Hangeng sendiri pasti pikir ulang meski itu demi Wookie sekalipun

Eh? Wookie??

Pikiran Hangeng sampai pada satu nama yang menjadi kekasihnya. Apa yang telah Hangeng perbuat untuk Wookie?

Pertanyaan itu terus mengendap dalam ingatannya hingga tidak sadar jika Hangeng sudah sampai di depan kelasnya XII-3

“Gege!!!” teriakan Wookie akhirnya bisa mengembalikan konsentrasi Hangeng pada tempatnya, “kamu melamun lagi ya?” tuduhnya sengit

“Ha? Ngga kok!” elak Hangeng, “Ini aku cuma mikirin fungsi gravitasi yang mungkin di tingkatkan saat kita nanti mendarat di planet Mars” jawabnya asal

“Oh, kirain lagi mikirin aku” Hangeng tercengang, bagaimana bisa Wookie menebak dengan tepat jalan pikirannya..

Melihat wajah kaget Hangeng, Wookie langsung tertawa, “tidak….aku hanya bercanda! Kau ini”

“Oh” Hangeng mengusap dadanya, “kukira kau serius”

“Hmm, Gege?”

“Ya?”

Wookie memalingkan wajah memelasnya ke arah Hangeng, “nanti siang ada acara tidak? Aku mau mengajakmu ke suatu tempat”

“kemana?” pikiran Hangeng benar benar teralih sekarang

“Rumah hantu!!!” seru Wookie girang, “ada rumah hantu yang baru buka untuk pasar malam di distrik Yeongyul, mau nemenin kan? Mau ya?? Belajarnya nanti aja” pintanya sambil menarik narik lengan Hangeng. Wookie memang akan bersikap manja kalau bersikeras mau sesuatu

“boleh aja, nanti sepulang sekolah—aku ganti baju sebentar lalu ke jemput deh”

Wookie langsung mengangguk cepat, “baik bos!”

*****

Semenjak kedatangan Hangeng di depan rumah Wookie hingga mereka tiba di rumah hantu yang berlokasi pada sebuah bus berjalan, tidak henti henti pikiran Hangeng melayang ke tempat lain

Ia hanya tersenyum sesekali atau menggumam kecil saat Wookie menceritakan dengan antusias tentang rumah hantu ini tanpa menyimak secara seksama.

Wajah ceria Wookie membuat senyum Hangeng kembali merekah. Ia ingat betul waktu pertama kali mereka bertemu

“Kau teman sebangkunya Kyuhyun bukan? Boleh aku meminta bantuanmu?” tanya Wookie datar

Hangeng yang saat itu baru melihat Wookie dari dekat, mendelik curiga, “apa maumu?”

Wookie menarik nafas sejenak sebelum mengutarakan keinginannya, “aku mau memisahkan Kyuhyun dengan Sungmin. Secepatnya”

Fuih, kalau mengingat hal itu Hangeng hanya bisa tersenyum lemah. Bisa bisanya dia mengkhianati sahabatnya sendiri demi sebuah buku langka yang di berikan oleh Wookie sebagai imbalannya

Yah meski sekarang Hangeng tidak merasa bersalah, toh Kyuhyun sudah kembali kepada Sungmin dan menikahinya. Secara tidak langsung semua itu berkat campur tangan Wookie juga

Hmm, beruntung sekali Hangeng bisa mendapatkan wanita sebaik Wookie—orang yang memperdulikan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri

“GEGE!!!!” Teriakan Wookie tidak hanya mengagetkan Hangeng yang secepat mungkin menutup telinganya. Beberapa orang yang sedang mengantri di dekat mereka pun menoleh ke arah sumber suara

“Kau!!” Wookie menurunkan nada suaranya, “bisa tidak kau menghilangkan kebiasaan melamunmu itu!”

Hangeng melirik ke atas langit, “maaf…aku tadi—

Tiba tiba Wookie melepaskan genggaman tangan Hangeng, “aku tahu kau kan malas datang ke tempat seperti ini” ia melirik sengit, “maaf sudah memaksamu”

“Wookie..” lirih Hangeng dengan nada meminta maaf

“terserah” balasnya acuh sambil melangkah maju ke depan antrian, “aku tetap mau masuk” sebelum Wookie pergi terlalu jauh, Hangeng buru buru menyusulnya masuk ke dalam.

Nuansa di rumah hantu lumayan mencekam. Ruangan depan di kemas sebegitu rupa dengan lampu setengah redup yang menjadi penunjuk jalan pada setiap tempat. Ruang tamu yang pertama di datangi oleh Wookie, di pojok kanan ada sesosok wanita berambut panjang, bermuka pucat dan memakai masker sambil menggerakan tangannya yang membawa gunting besar—seperti gunting rumput

Tetapi bukannya ketakutan, Wookie malah menghentakkan kaki dengan perasaan kesal hingga tangan Hangeng menghentikan langkahnya

“Wookie aku minta maaf—tadi kan aku melamunnya tidak lama” jelas Hangeng

Kening Wookie berkerut, “kau terlalu sering melamun Gege, bisa tida—

“Woo…..hi…hi….hi……saya datang…..” racau hantu wanita datang ketengah tengah pertengkaran Hanwook dengan suara horor

“Aku benar benar minta maaf…tadi..itu aku…” Hangeng memegang pelipis mata—ia merasa lelah bertengkar hanya karena masalah sepele, “yang penting aku sudah menemanimu, ayo kita nikmati saja keburu malam” katanya menutup pertengkaran

Wajah Wookie berubah cemberut, “selalu saja begitu! Kau hanya bisa menghindar setiap kita bertengkar! Padahal ini salahmu! Aku mencoba segala cara agar bisa mengimbangimu, tapi apa?? Apa kau pernah berusaha menyenangkanku??” tanyanya getir

Merasa tidak ada yang menyadari keberadaannya. ‘Sang hantu wanita jejadian itu’ terus berusaha menakut nakuti kedua pasang sejoli ini.

*mbak, ga liat lagi berantem apa?? Malah di ganggu!*

“Hi…hi…hi….” Ia merentangkan tangannya yang sudah di beri sepuhan kapur putih supaya terlihat lebih pucat lalu melambai antara Hangeng dan Wookie, “Aku hantu yang datan—mpphhh”

Belum selesai dia mengucapkan ‘kata kata horornya’, tangan kiri Hangeng sudah membekap mulutnya agar terdiam tanpa memalingkan wajah sama sekali dari Wookie

“Wookie….ini hanya masalah sepele, sudahlah” kata Hangeng masih membungkam mulut ‘Kunti’ dari samping, “huh…apa kita pulang aja?” tanyanya masih bernada enggan

Lagi lagi Wookie menghentakkan kakinya, “Kau lelaki egois! Aku tidak pernah menuntut apa apa darimu” ia sedikit terengah engah menahan amarah, “apa kau sadar? Setiap kali kita pergi kencan selalu aku yang mengajak?? Kalaupun kau mengajakku pasti ujung ujungnya kita ekspedisi alam bebas mengenai Alien! Dan itu kemauanmu bukan aku!”

Sebaris kalimat terakhir dari Wookie memancing emosi Hangeng, “Kau tidak suka kuajak pergi! Bilang dari awal! Aku tidak menyangka ternyata kau selama ini tidak suka dengan kegiatanku” ia melirik Wookie tajam, “aku kira kau menyukai alien—sama denganku” tuduhnya. Refleks, ia melepas tangan dari sang Kunti jejadian yang sekarang malah asyik mendengar pertengkaran sepasang kekasih di hadapannya

Wookie hanya bisa menggeleng lemah, “bukan itu maksudku Gege! Aku suka—benar benar suka! Tetapi bisa tidak kau menyisikan waktu untukku! Untuk kita! Tanpa membawa alien di dalamnya…” suara Wookie mulai bergetar, “aku sempat berpikir…..apa kau benar benar tulus menyukaiku seandainya aku membenci kegemaranmu itu? Apa kita akan berpacaran?”

Ucapan itu bagai pukulan telak untuk Hangeng. Ia tidak bisa menjawab apapun

Apa dia bisa mencintai Wookie jika waktu di Swiss dulu Wookie tidak mulai menyukai Alien?

Entahlah

“Sudah kuduga” ucap Wookie sakratis, “kau lebih mencintai Alienmu itu!” selesai mengucapkan itu tanpa menunggu tanggapan dari Hangeng, Wookie langsung keluar melewati beberapa ruangan yang di desain super seram *khusus, amat khusus untuk ukuran author* sekaligus lalu menemukan jalan keluar dari rumah hantu

Beberapa ‘hantu hantuan’ seperti kuntilanak versi Jepang lengkap dengan mulut sobek sampai pipi, Suster lompat, Pocong guling guling sampai genderuwo macho, terheran heran dengan tingkah yeoja itu yang tidak takut pada mereka

Melihat kepergian Wookie, Hangeng hanya bisa menghela nafas panjang

“Udah, sana kejar!” nasihat sang kunti 1 yang masih adem jongkok di samping Hangeng, “wanita memang maunya di kejar, sana!” ulangnya

Tetapi Hangeng hanya melirik dengan tatapan sedih, “Wookie beda. Dia bakal menghilang selesai berantem. Ngga mau di ketemuin dengan cara apapun” jelasnya sambil menundukkan kepala—merasa menyesal karena sebagian perkataan Wookie ada benarnya juga. Hangeng masih berat sebelah kalau di suruh pilih antara Wookie atau Alien yang sudah menjadi cita cita nya dari kecil

Dan Wookie tahu itu….

“Dia berbeda…..sangat berbeda…..” gumam Hangeng seorang diri, “maka dari itu aku mencintainya”

*****

Lewat seminggu, Wookie mendiamkan Hangeng setelah pertengkaran terakhir mereka. Dan ini yang membuat Hangeng kalang kabut, biasanya setiap kali mereka bertengkar, Wookie hanya mogok bicara paling lama 3 hari!!! Tetapi sekarang?

“Arghh!!!!!!” Hangeng mengacak acak rambutnya yang pendek, “aku tidak mau tahu! Suka tidak suka, Wookie harus mau membicarakan masalah ini denganku!” ia beranjak dari tempat duduknya seorang diri. Maklum dalam fase ‘diam diaman seperti kemarin’ Wookie sengaja pindah tempat duduk di kursi belakang meninggalkan Hangeng duduk sendirian

Sifat Hangeng yang selalu berpikir untuk menjaga jarak setiap kali ada beda pendapat membuatnya tidak memusingkan hal tersebut. Namun kali ini, tidak!. Bagi Hangeng, Wookie sudah kelewatan ngambek hanya karena masalah sepele dalam jangka waktu yang terlampau lama untuknya

“Wookie!!!” teriak Hangeng dari jauh, dia melihat Wookie sedang berjalan ke arah perpustakaan. Terang saja suara menggelenggar Hangeng berhasil membuat Wookie menoleh ke belakang, “tunggu!” lanjutnya sambil berusaha melebarkan jenjang kaki agar bisa menghampiri Wookie dengan segera

Wajah Wookie agak lelah dengan kedua kantung mata yang terlihat jelas, “Hangeng…”

“Woo..kie….” suaranya agak terputus putus akibat berlari, “a..aku”

Wookie memotong ucapan Hangeng, “gimana kalau kita putus aja?” katanya lelah

Sontak Hangeng melongo lebar—tidak percaya, “APA?!” Ia berteriak lagi, “Kau jangan bercanda Wookie!”

“Tidak” Wookie menggeleng cepat, “aku tidak bercanda Hangeng” Hangeng tersentak ketika Wookie kembali memanggil nama aslinya. Semenjak mereka jadian, Wookie selalu memanggilnya Gege. Bahkan ketika mereka bertengkar Wookie tidak pernah memanggilnya se-formal ini, namun sekarang…..

Pundak Hangeng terkulai lemas, “kenapa Wookie?” Hangeng merasa semakin sulit untuk bernafas ketika Wookie berbicara begitu kepadanya, “aku kan sudah minta maaf”

Dengan perlahan, Wookie menengadah untuk melihat wajah Hangeng lebih jelas lagi. “kalau kita putus” suaranya tercekat, “kau bisa konsentrasi mengejar impianmu menjadi astronot. Tidak perlu memikirkanku yang menunggumu di sini, bukan. Jujur saja Hangeng, aku sudah memikirkan ini semalaman. Kita…yah…..lebih baik begini, sama seperti dulu. Jadi teman biasa”

Ia baru mau berbalik lagi ketika lengan Hangeng menahannya, “kau tidak…..Wookie…” Hangeng bingung harus mengucapkan apa. Saat ini pikirannya langsung kacau dan tidak bisa berpikir jernih

Wookie melepaskan cengkraman tangan Hangeng dari bahunya, “ak..aku ke perpustakaan dulu” ia tersenyum kaku—bukan senyuman yang biasa di lihat Hangeng, “sampai ketemu di kelas”

Lalu semuanya berakhir….

Tidak tahu satupun yang tahu mengenai berita putusnya Hanwook—tidak juga Kyuhyun, Sungmin, Kibum atau siapapun

Tidak ada

Bukan karena mereka tidak terkenal seperti Kyumin atau Kichul. Tetapi karena sifat Wookie yang pendiam—tidak suka membicarakan masalah pribadi dengan orang lain dan juga autis Hangeng yang suka menjauh dari keramaian

Jika Kyuhyun tidak bersama Sungmin tentu murid murid lain akan bertanya tanya. Namun kalau itu yang terjadi dengan Hangeng dan Wookie—tentu mereka tidak heran. Pasangan ini sudah terlalu aneh buat semua orang sehingga tidak ada mau mencari tahu atau mau tahu kenapa sudah hampir dua minggu mereka sama sama tidak duduk sebangku dan jarang berteguran jika berpapasan di dalam kelas

Dan sekarang Hangeng menatap layar lebar yang membentang di depannya dengan perasaan hampa. Betapa Planet Mars tidak terlihat seindah biasanya. Hangeng hanya bisa menghela nafas berat sekali lagi. Posisi duduknya bergeser sambil terus menatap keindahan luar angkasa dari dalam planetarium. Biasanya setiap senin dan rabu, Hangeng bersama Wookie sering ke sini berdua sambil mengukur dan membicarakan tentang kepergiaan mereka ke Mars

Hangeng masih saja tertawa mengingat bagaimana Wookie menginginkan bulan madu di sana. Dengan sangat terpaksa Hangeng membunuh impian Wookie itu—bukannya mustahil di lakukan, namun butuh waktu berbelas belas tahun untuk mewujudkannya

Jawaban Wookie kala itu sempat membuat Hangeng terdiam

“Aku tidak masalah menunggu lama” ia menatap Hangeng sambil tersenyum kecil—senyum yang sangat Hangeng sukai, “asal kita selalu bersama, belasan tahun hanya akan terasa sebentar untukku”

Hangeng hanya bisa menutup matanya rapat rapat. Mencoba merasakan segalanya secara bersamaan. Ia ingin sekali meminta Wookie kembali, tetapi……memang benar jika mereka bersatu lagi Wookie harus tersiksa terus menunggu Hangeng yang entah berapa lama pergi untuk belajar. Memang gampang mengucapkannya—tetapi bagaimanapun Wookie perempuan…tidak mungkin Hangeng menggantung sekian lama hanya untuk keegoisannya saja

“Yah…mungkin ini yang terbaik…mungkin saja” gumam Hangeng seraya berdiri dan keluar dari Planetarium sebelum lampu di hidupkan kembali

*****

“Kau kenapa melamun di tempat seperti ini?” suara celetukan ringan mengagetkan Hangeng yang sedang bersandar di pepohonan rindang. Ia lalu menegakkan tubuh sambil tersenyum tipis, “tidak—aku sedang…” Hangeng termangu, menatap lawan bicaranya dengan sedikit terkejut, “Kau ngapain di sini!!! Sana cepat kembali!! Tidak baik, Ibu hamil berada di belakang sekolah seperti aku! Aish, kalau kau kenapa kenapa aku bisa di cincang Kyuhyun, Sungmin” cecar Hangeng panik

“Hahaha, tenang saja aku hanya mau bersantai saja” jawab Sungmin seraya duduk di sebelah Hangeng dengan susah payah. Kandungan semakin membesar seiring waktu—tidak terasa bagi Hangeng jika Sungmin sudah memasuki usia 5 bulan

“Kyuhyun kemana?”

Sungmin memutar kedua bola mata, “lagi rapat basket—sudah ah, kenapa setiap aku berjalan kemanapun orang selalu menanyakan hal yang sama” keluhnya. Meski berkata seperti itu, Sungmin spontan mengelus perutnya setiap membicarakan tentang Kyuhyun.

“Eh? kau sendiri kenapa di sini?” raut wajah Sungmin terlihat khawatir, “Ng….Hangeng, apa kau bertengkar dengan Wookie?”

Hangeng menoleh dengan enggan, “kami tidak bertengkar, yah setidaknya kami pisah baik baik” jawabnya terang terangan

“Apa??” Sungmin terlonjak saat itu juga. Hampir saja Hangeng memegang tubuh Sungmin karena takut akan kondisinya. Nyawa Hangeng jadi taruhannya jika Sungmin balik ke kelas dengan kondisi terluka sedikit saja

“tenang Sungmin..tenang” kata Hangeng sambil menggerakkan tangannya, menyuruh Sungmin duduk—dia sendiri heran kenapa malah Sungmin nampak lebih terluka ketimbang dirinya sendiri. Kan yang berpacaran dengan Wookie, Hangeng bukan Sungmin

“Jadi…” lagi lagi Sungmin mengelus perutnya—mungkin bayinya ikut menyentak seiring dengan detak jantung ibunya yang meninggi, “gara gara itu Wookie menangis terus di dalam perpus?”

“Ha?” giliran Hangeng yang berdiri tegap di samping Sungmin, “dia menangis?? Tapi—

“Yah…dia memang tidak menangis terang terangan, tetapi aku bisa melihat beberapa kertas di bukunya basah dan matanya kembali sembab setiap kusapa” ungkap Sungmin sedih, “ia menolak kalau aku tanya kenapa, kata Wookie dia hanya merasa sakit perut”

“Wookie…” lirih Hangeng pelan

Sungmin memainkan kakinya yang terhampar di rumput liar sambil menengadah ke atas—ke arah Hangeng, “aku tidak mau ikut campur, tetapi—apa kalian tidak bisa kembali…yah…..seperti dulu…”

“Aku…” Hangeng mengangkat bahu, “aku sendiri tidak tahu”

“Pikirkanlah” Sungmin meletakkan tangannya di lutut Hangeng lalu menepuknya lembut, “aku tahu kalian berdua pasti tahu yang terbaik”

Hangeng menoleh ke bawah. Ia tersenyum tulus, “terimakas—

“Ya!! Sungmin! Aku cari kau kemana mana, malah di sini!!!” suara berat Kyuhyun membuyarkan pembicaraan Hangeng dan Sungmin. Lelaki itu berkacak pinggang saat menghampiri mereka berdua, ia baru tersadar ada Hangeng karena salah satu tangan Sungmin masih memegang lutut Hangeng, “kalian berdua saja?” ucapnya penuh amarah

“Bukan begitu Kyu, aku hanya ngobrol sebentar” bela Sungmin sedikit kesal

“tetap saja, kau itu salah!! Sudah kubilang tunggu—

“Er, Sungmin Kyuhyun” potong Hangeng langsung, “aku pergi dulu! Ada yang harus kulakukan” tanpa menunggu aba aba dan sahutan dari sepasang suami istri itu. Hangeng pergi setengah berlari meninggalkan mereka berdua di taman belakang

Bahkan sepeninggal Hangeng, Kyuhyun bersikeras tetap melanjutkan acara marahnya, “Minnie! Jangan kemana mana! Kalau tadi kamu jatuh atau apa, siapa yang nolongin! Ngerti ngga??” cecarnya masih bernada tinggi

Sungmin mengangguk lelah. Tanpa membalas sama sekali. Takut makin panjang urusannya

Melihat tidak ada perlawanan dari istrinya, Kyuhyun menarik nafas panjang, “sudah—kita balik ke kelas, keburu masuk” ajaknya sambil mengulurkan tangan ke depan Sungmin, “ayo”

Tetapi Sungmin tidak menyambut tangan Kyuhyun, ia malah tersenyum memelas

“ada apa?” tanya Kyuhyun bingung

“Aku butuh bantuan” jawab Sungmin merasa tidak enak. Kandungan yang semakin besar membuatnya sulit bangun ketika sedang duduk di bawah—berselonjor kaki

“hmm, sini” Kyuhyun mengangkat tubuh Sungmin pelan pelan sambil berusaha menyeimbangkannya tegap berdiri. Sedangkan Sungmin terus berpegangan pada bahu Kyuhyun untuk menjaga keseimbangan

“Minnie” sapuan nafas Kyuhyun begitu terasa di depan wajah Sungmin. Jarak mereka memang terlalu dekat apalagi Kyuhyun tidak melepaskan tangannya dari pinggang Sungmin meski dia sudah beranjak bangun

Seketika itu juga Sungmin merunduk, “apa?”

Kyuhyun memasang tampang pura pura berpikir, “kau sadar tidak—aku memintamu menjadi tunanganku di sini, di taman belakang sekolah. Lucu ya” katanya

Senyum mungil Sungmin merekah lebar, “hehehe aku tahu—makanya aku berniat ke sini meski aku tidak menyangka ada Hangeng barusan”

Lengan Kyuhyun memeluk Sungmin lebih erat meski tetap memberi jarak dengan perutnya yang semakin membesar, “hmm….bagaimana jika saat itu aku tidak memintamu, pasti sekarang kau milik orang lain dan sedang mengandung anak dari lelaki lain. Memikirkan itu saja sudah membuatku kesal” nada suara Kyuhyun sedikit menggeram, namun tiba tiba suara kembali melembut, “tetapi untung saja….itu tidak terjadi”

Sungmin semakin merunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, “aku tidak berpikir begitu, kalau bukan kau yang menikahiku, aku ragu lelaki mana yang mau denganku. Aku kan wanita merepotkan hehehe”

“Ya! Kalau itu aku akui, kau memang merepotkan!!” Kyuhyun mengelus kepala Sungmin, “tetapi tentang lelaki mana? Aishh….aku yakin kalau orangtua bersikeras menjodohkanku dengan Ryeowook pasti kau berakhir dengan status menjadi istri seorang Hangeng” kelakar Kyuhyun setengah bercanda setengah serius

“Hahaha, kau lucu” untung Sungmin menanggapinya sebagai candaan karena sifatnya yang polos. Dengan satu tangan berpegangan pada lengan Kyuhyun, mereka berdua berjalan keluar dari sana untuk kembali ke dalam kelas

*Jujur aja nih reader, sebenarnya Hanmin sempat gw pikirin wkwkkwkw, soalnya dulu gw lebih suka ngeliat Kyuwook* *gw di bunuh Kyumin shipper*

Sementara itu

“Hiks”

Wookie mengusap ujung matanya sambil membereskan buku dari atas meja. Ia tidak sadar jika ada seseorang di belakangnya yang sedang menatapnya. Begitu tubuhnya berbalik, Wookie tersentak melihat Hangeng sedang berdiri, bersandar pada tiang dekat rak buku dengan tatapan aneh. Tidak terbaca

“Hangeng” sapa Wookie sesantai mungkin–berusaha bersikap biasa, “kau mau membaca buku juga kemari?” ia mencoba berbasa basi

Hangeng tidak menjawab apapun. Langkah lebarnya bergerak ke arah Wookie, “aku….aku sampai sekarang tidak tahu alasan yang kuat kenapa kita harus putus. Kalau hanya masalah waktu, aku yakin kita bisa mengatasinya” ungkap Hangeng perlahan

Wookie tersenyum lemah, “Ge…maksudku, Hangeng….sudahlah—kau jangan terlalu keras mencoba”

Hangeng tidak peduli, ia menggeleng keras, “kau tidak mau menungguku?” desaknya

“Bukan begitu! tapi, aishhhh”

Dengan lembut, Hangeng meraih kedua tangan Wookie di depannya, “aku….aku akan menunjukkan sesuatu untukmu, sesuatu tentang diriku—kau bisa datang ke rumahku nanti siang” pintanya

“Tapi aku…”

Hangeng mengeratkan pegangannya, “please Wookie….aku tidak bisa berpisah denganmu seperti ini”

Wookie merasa serba salah dan ketika sepasang mata tajam itu memohon kepadanya dengan pandangan sendu, Wookie tahu—dia kalah, “baiklah, tapi jangan lama lama” pernyataan itu spontan membuat Hangeng merasa gembira meski Wookie malah terlihat sebaliknya, “jangan berharap lebih Hangeng, aku hanya menghormatimu sebagai temanku” katanya menjatuhkan harapan Hangeng lagi

Ia menepis tangan Hangeng lalu menghilang dari balik pintu depan perpustakaan. Hangeng hanya bisa meratapi kepergiaan Wookie dengan perasaan kosong. Bahkan dalam mimpi sekalipun tidak pernah dia membayangkan akan seperti ini hubungan mereka. Wookie adalah wanita satu satunya dan terakhir untuk Hangeng

Tidak dapat di gambarkan bagaimana rasanya sosok penting itu tidak berada di sampingnya saat ini

Tetapi tekad Hangeng sudah bulat. Perkataan Sungmin terus membekas dalam ingatannya—mereka pasti bisa kembali seperti sedia kala

___

“Mau apa kemari? aku kan sudah sering masuk ke dalam kamarmu” gerutu Wookie saat Hangeng menarik lengannya paksa agar langsung naik ke lantai atas–kamarnya Hangeng

Tadi di bawah, Wookie sempat bertegur sapa dengan kedua orang tua Hangeng yang sedang menonton TV. Rupanya mereka sama sama tidak tahu kalau Hangeng dan Wookie sudah putus, buktinya Umma Hangeng mengeluh karena jarang melihat Wookie main lagi ke sini. Padahal dulu hampir tiap hari Wookie mendatangi Hangeng untuk melakukan penelitian tentang planet Mars di dalam kamar Hangeng

“Udah ikut aja” balas Hangeng acuh. Ia membuka pintu kamarnya lebar. Pemandangan di dalamnya sama seperti kamar namja biasa. Berantakan, penuh dengan pakaian kotor dan tidak beraturan. Wookie bahkan ingat kalau Hangeng tidak akan membenahi kamarnya sendiri—kecuali di bantu oleh Wookie saat mereka mau belajar bareng di sini

“Aduh Gege!” gertak Wookie sambil berkacak pinggang, “ini kan sprei minggu lalu! kenapa belum di ganti. Terus ini juga!” ia mengangkat sebuah cup besar dengan sepasang sumpit di dalamnya, “habis makan ramen bungkusnya langsung di buang!!!! kan aku udah bilang berulang kali!” Wookie masih berteriak marah dan secara spontan ia membersihkan kamar itu dari kumpulan sampah

Hangeng hanya tersenyum dengan kedua tangan melipat di dada, “Kau sudah mulai memanggilku Gege lagi Wookie sayang” sindirnya

Wookie menoleh cepat, tangannya sedang memegang baju kotor Hangeng ketika menyadari perbuatannya sama seperti saat mereka berpacaran dulu, “Ah mianhe…aku hanya…” ia mengalihkan pembicaraan, “oh ya, bukankah ada yang mau kau tunjukkan kepadaku? mana! biar aku bisa langsung pulang”

Sambil menghela nafas sejenak, Hangeng mengulurkan tangan ke arah stop kontak yang menempel pada dinding kamar.

“Kau memang tahu kamar ini pada saat terang—tapi kau tidak tahu keindahannya pada saat…” Hangeng mematikan lampu kamar, “lihatlah”

Karena kamar Hangeng hanya memiliki satu jendela besar yang sudah di tutup. Wookie tidak bisa melihat apapun. Rupanya ruangan ini memang sengaja di buat tertutup serapat mungkin agar ketika gelap tidak ada satu cahaya yang masuk ke dalam

“Hangeng!!” pekik Wookie mulai khawatir, “kenapa kau malah mematikan lampu!”

BYARR

Wookie tersentak. Sebuah garis cahaya pada dinding kamar begitu jelas. Penuh dengan bintik bintik berbentuk bintang yang terang dalam kegelapan membentuk salah satu koordinat yang merujuk pada sebuah Planet mungil. Replika sempurna dari Planet Mars. Berwarna merah dan menjadi pusat dari pertunjukan sederhana di dalam kamar Hangeng

“Kau….” Wookie melirik ke samping, dapat di rasakan ada tarikan nafas di sebelahnya dan itu pasti Hangeng, “kau punya planetarium sendiri??” tanyanya tidak percaya

“Tidak” jawab Hangeng singkat, lalu ia melanjutkan, “ini hanya tempelan murahan dari toko mainan yang aku beli saat berumur 14 tahun. Aku hanya menambahkan kain hitam sebagai latar belakangnya, kau ingat? bukankah kau pernah bertanya buat apa aku memaku sebuah kain lebar di samping tempat tidur.” Hangeng  menggeser duduknya agar lebih dekat ke arah Wookie, “Indah kan?”

“Ini…” Wookie tidak dapat berkata kata lagi

Terdengar helaan nafas Hangeng, “waktu aku masih kecil, semua orang mencemoohku. Aku yang tergolong murid pintar malah tergila gila dengan hal absurd mengenai Alien. Andai kau tahu bagaimana perkataan mereka terlalu keji untuk di ucapkan kepada bocah yang baru berumur 14 tahun” kenang Hangeng pahit

Wookie berkata pelan pelan, “lalu?” dapat dia lihat Hangeng mengangkat bahunya meski samar samar, “Aku tidak peduli. Aku memutuskan tetap meneruskan cita citaku meski beberapa orang menentangku atau menghinaku gila. Toh kedua orangtuaku mendukung. Apalagi yang aku butuhkan? tidak ada”

Mereka berdua sama sama terdiam

“Tetapi…” Hangeng meneruskan ceritanya, “waktu ada seseorang menghinaku pada awalnya tetapi malah begitu tertarik dengan Alien, Aku terheran heran.” ia tertawa kecil, “ternyata masih ada yang orang mendukung cita cita anehku ini. Ia orang baik, cantik, pintar meski sedikit ketus” sindir Hangeng mengarah kepada satu orang…

“Hahahaa” balas Wookie tertawa dengan sengaja—rupanya ia menangkap maksudnya Hangeng

“Ia berbeda, ya sangat berbeda. Untuk pertama kali ada yang aku inginkan selain bertemu dengan Alien” suara Hangeng berubah tegas dan bermakna dalam, “aku menginginkannya, amat menginginkannya. Tetapi aku tidak tahu bagaimana memberitahukan kepadanya secara benar. Aku kan orang aneh”

“Hangeng..” bisik Wookie lemah. Ia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara isakan.

“Wookie” Hangeng merubah posisinya agar berhadapan langsung dengan Wookie, “biarkan aku membawamu ke sana, Planet kita. Impianku dan keinginanmu” unjuknya kepada cahaya keperak-perakan yang berpendar indah di dinding kamar Hangeng—miniatur Planet Mars, “aku mencintaimu” bisiknya

Tangis Wookie pecah tanpa bisa di bendung lagi. Hangeng langsung memeluk tubuh Wookie untuk menenangkannya, “apakah kau….

“Gege…” bisik Wookie dari balik tubuh Hangeng, “aku benar benar mengira jika selama ini aku merepotkanmu. Aku membayangkan kau pergi jauh tanpa berbalik atau memperdulikanku lagi. Aku takut ada yang berubah jika kita berdua terpisah. 12 tahun waktu yang cukup lama” ungkap Wookie jujur

Hangeng mengeratkan pelukannya, “Aku tahu…..tetapi nanti aku akan sering kirim kabar, kita akan sering bertukar surat sampai sampai kau bosan karena membaca tulisan cakar ayam milikku” candaan Hangeng berhasil membuat suasana sedikit mencair. Wookie malah sempat tertawa di antara tangisannya

“Sudah sudah” kata Hangeng sambil mengelus rambut halus Wookie, “kita kan terpisah masih 6 bulan lagi, masih lama….lagipula aku pintar ingat? paling hanya butuh waktu 10 tahun atau 7 tahun. Aku janji akan menyelesaikan semuanya lebih cepat”

Diam diam, Wookie tersenyum. Ia mencium wangi sabun mandi dari balik pakaian Hangeng lalu menengadahkan wajahnya ke atas, “aku pasti menunggumu, percayalah”

Hangeng membalasnya dengan senyuman—senyuman tulus, “aku tahu” ia merapikan rambut Wookie yang menghalangi dahinya lalu mendaratkan bibirnya di sana. Sebuah ciuman ringan dan hangat

“Eh! aku lupa memberikanmu sesuatu” Hangeng melepaskan salah satu tangannya dari tubuh Wookie kemudian merogoh dalam kantung celananya. Ia mengeluarkan sepasang tiket berwarna hitam legam ke tangan Wookie, “ini tiket masuk Rumah Hantu terkenal yang sedang Tour keliling Seoul, kudengar mereka khusus di datangkan dari Jepang” jelasnya

Sontak Wookie menjerit histeris, “AH! Aku tahu rombongan mereka Gege!!!! aishhh, padahal tiket ini pasti mahal” kedua mata Wookie melayangkan tatapan penuh terima kasih, “Gege, aku sayangggggggg sekali padamu”

“Ya..ya, kalau begitu aja baru bilang sayang” keluh Hangeng meski tidak terdengar oleh Wookie yang sedang asyik mengamati tiket di tangannya seolah olah benda itu berharga. Tetapi Hangeng tidak ambil pusing. Ia tersenyum melihat tingkah Wookie yang begitu gembira. Ini semua sudah cukup untuknya.

*****

“Kibum!!!!!”

“Aishh, lo lagi, ada apa Kyu??”

Kyuhyun yang sedang berlari kencang, mendarat sempurna di depan Kibum, “gw mau tanya soal kemarin, lo mencari kerja sambilan itu” ia nyengir kuda, “boleh tidak gw ikut nyari? butuh duit nih” curhat Kyuhyun sambil mengambil tempat duduk di samping Kibum.

Mereka berdua sedang berada di dalam toilet lagi. Sebenarnya Kibum memang berniat mau buang air kecil di sini, tetapi Kyuhyun malah mengikutinya terus dari belakang

“kalo lo buat apa?” tanya Kibum terang terangan. Seingat dia, Kyuhyun tidak ada keperluan mendesak, tidak seperti dirinya.

“Ngg….itu” Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal—efek salah tingkah

Tiba tiba

BRAKKKKKK

Seorang lelaki dari dalam toliet membuka pintu keras keras. Rupanya dia sengaja menguping pembicaraan Kibum dan Kyuhyun meski awalnya tidak sengaja

“Eh? Hangeng? Elo toh, kirain siapa, kaget gw” ujar Kyuhyun mengelus dadanya

“Hehehehe” dengan gaya sok akrab dia pun duduk di atas wastafel, tepat di sebelah kanan Kibum. Sekarang Kibum terapit oleh dua orang yang ngga jelas mau ngapain di sini. Bisa bisa mereka di kira macam macam lagi sama siswa lain

“Ng….gw denger tadi kalian lagi nyari kerja sambilan ya?” tanya Hangeng to the point, “gw ikutan dong!”

“Jiah” Kibum jadi pusing, “kalian berdua kok jadi ngikutin gw sih! emang lo lo pada, mau beli apa?? kalo gw beneran urusan masa depan nih! gawat! emergency kalau kata medis, nah lo berdua? belum tentu kan” ucap Kibum meremehkan

“KITA BERDUA JUGA PENTING!!! MENYANGKUT MASA DEPAN!!” teriak Hangeng dan Kyuhyun bersamaan tepat di kedua telinga Kibum, membuat sang empunya telinga langsung menutup kuping lalu berdiri berhadapan ke arah mereka dengan tatapan marah

“Sepenting gw?” tantang Kibum

“Gw penting banget” tukas Kyuhyun serius, “ini menyangkut keluarga gw dengan Sungmin”

“Kalau gw, menyangkut masa depan seorang wanita yang ga jelas kalau terus sama sama gw” kata Hangeng tidak mau kalah

“Ha?” giliran Kibum yang benar benar bingung, “berarti masalah kita sama dong..ng…ya udah deh, kita cari kerja sambilan bertiga aja, gw denger di ujung jalan dekat sekolahan Zhoumi ada cafe baru buka. Nah siapa tahu dia butuh pelayan resto, gimana?”

“Pelayan?” decak Kyuhyun sedikit kecewa, “kurang banget gajinya kalau buat kebutuhan gw nih”

“Ya!! emang lo ngarapin gaji berapa Mas?? udah untung ada mau memperkerjakan anak SMA kayak kita” Kibum terdiam sejenak, “gw tahu emang gajinya kecil, tetapi nanti kita bisa nyoba nyoba nyari yang lain, gimana? pada mau ga?”

Hangeng dan Kyuhyun saling bertatapan dengan enggan

“Ok deh, kita berdua mau” jawab Hangeng mewakili Kyuhyun

“Nah gitu dong” ucap Kibum puas

Yah mereka bertiga harus memulai dari nol untuk mendapatkan uang meski berbeda tujuan. Tetapi jalan pikiran Kyuhyun, Kibum serta Hangeng sama sama terpusat pada satu orang

Entah untuk kepentingan apa, namun yang pasti akan ada kehebohan dalam pekerjaan mereka bertiga

Apakah itu?

THE END

6 responses to “≈No Other Like U-{Hanwook special day}≈

  1. percintaan hanwook emg aneh.tp klo dbuat series ky kyumin kyanya seru ni cingu.palagi wookie bias ku.hehe

  2. hanwook so sweet deh, beda pmkiran tp ttep bs breng2..
    gw trtarik bkin planetarium dikmar kyaknya keren deh..

  3. kasian wookie mau juga di perhatiin ama hangeng, mau di ajak kencan yang normal.
    untung minnie ngasih tau ke hangeng kalo wookie nangis di perpus.
    dan gara gara itu hangeng bisa balikan lagi ama wookie.
    tapi hanwook walaupun aneh mereka lumayan romantis juga, ga kalah ama pasangan kyumin dan kichul..
    ternyata minnie kangen tempat waktu dulu ama kyu hihihhi
    itu kibum, kyu ama hangeng mau kerja apaan sih?

  4. Jadi penasaran pengen liat kamarnya hangeng..🙂

    Hanwook emang pasangan yg aneh, tp itu yg mmbuat mrk bisa saling mengerti..

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s