≈And The Story is Begin≈

“Jika cinta memanggilmu ikutilah dia, meskipun jalannya terjal dan menerpa..”

Kahlil Gibran


Namaku Eunhyuk Yamaguchi. Aku adalah orang Jepang yang tinggal di Korea. Tujuan keluargaku kemari adalah untuk mengembangkan Dojo milik keluargaku yang sudah turun temurun. Ayahku berpikir jika kami bisa memperluas hingga ke Korea maka usaha Dojo ini tidak akan tenggelam—memang dengan kemajuan jaman seperti ini tidak banyak anak muda yang ingin mempelajari Dojo. Mereka sekarang hanya mementingkan tampilan luar seperti Fashion atau gaya hidup. Mereka tidak tahu kalau mempertahankan warisan leluhur jauh lebih penting dari itu. Ayahku selalu menekankan padaku untuk tidak akan pernah meninggalkan usaha Ayah ini.

Masalahnya Ayahku tidak memiliki anak lelaki—aku adalah anak satu satunya. Mau tidak mau aku harus mencari lelaki yang mau masuk dan memakai margaku untuk mewarisi dan meneruskan Dojo ini. Ayahku memberikanku dua pilihan, aku boleh memilih jodohku sendiri dengan syarat dia harus mau masuk ke keluargaku atau Ayah terpaksa memilihkannya untukku. Aku menyetujui perjanjian itu. Tetapi yang Ayah dan aku lupakan adalah kami sekarang tinggal di Korea. Negara yang memiliki tradisi berbeda dari kami. Dan disinilah semua bermula. Kisah cintaku.

Aku kuliah tingkat 2 atau setara dengan semester 4 di Universitas ternama di Korea. Jurusan Ekonomi Manajemen. Saat ini aku sedang membaca di perpustakaan lantai 2—aku suka sekali membaca disini selain tenang, tidak banyak mahasiswa datang kemari karena disini adalah ruang skripsi yang membutuhkan ketenangan. Aku begitu berkonsentrasi membaca hingga tidak sadar ada seorang namja yang menghampiriku.

“Maaf?” tanyanya.

“Ya?” aku menoleh dari buku—astaga, tampan sekali namja ini.

“Maaf kalau aku mengganggu, tapi bisa minta tolong untuk mengisi kuisioner ini?” ucapnya sambil menyodorkan sekumpulan kertas beserta bolpoin kepadaku.

“Oh boleh kok, kau mahasiswa sini?”

“Iya, aku mahasiswa Psikologi, kenalakan namaku Choi Siwon.” Kata Choi-kun lalu mengulurkan tangannya.

Aku menyambutnya dan ikut memperkenalkan diri, “Aku Yamaguchi Eunhyuk, mahasiswa Ekonomi.”

“Eunhyuk-shi” ulangnya

“Choi-san” ucapku.

Aku melihat dia bingung namanya kupanggil dengan kebiasaanku di Jepang, buru buru aku memberinya penjelasan, “Maaf Choi-san ah bukan Choi-shi, aku orang Jepang jadi tadi aku memanggilmu seperti itu.”

Siwon mengangguk mengerti, “Pantas saja wajahmu terlihat berbeda, apalagi matamu.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya, “Panggil aku Eunhyuk saja dan aku memanggilmu Siwon bereskan.”

Ia tertawa sejenak, “Baiklah daripada kita berdua bingung seperti tadi. Hmm.. Bisa tolong isikan kuisionerku Eunhyuk?” ulangnya

“Bisa Siwon.” Jawabku.

Hari itu kami banyak berbincang bincang hingga tidak sadar langit sudah berubah menjadi gelap.

“Sudah malam, aku pulang dulu Siwon.” kataku sambil beranjak pergi.

“Bagaimana kalau aku antar?” tawarnya.

“Tidak merepotkan?”

Siwon tersenyum lagi, “Tidaklah.”

Bagaimana bisa ada orang tersenyum indah seperti itu.

“Baiklah, ayo.”

Siwon mengantarku dengan mobilnya hingga sampai di depan gerbang rumahku sekaligus gerbang Dojoku. Siwon yang melihat papan Dojo ku terkejut lalu bersiul pelan, “Wow aku tidak menyangka kau yang memiliki tempat ini.”

Aku menoleh ke Siwon, “Kau tahu dojoku?”

“Siapa yang tidak tahu, Dojomu terkenal sekali apalagi aku sering dengar kalau murid murid disini sering memenangkan pertandingan secara Nasional bukan?” jelas Siwon panjang lebar.

“Iya, ini berkat kerja keras Otosan eh Ayahku, dia menjaga sekali harta warisan ini.”

“Hmm,,kau tidak mau masuk dulu?” tawarku—tidak enak dia sudah mengantarku kemari.

“Tidak usah, aku langsung pulang saja. Lain kali aku akan mampir lagi.” Ujar Siwon.

“Ehm.” Suara Ayahku terdengar dari balik pagar.

“Otosan,”

“Eunhyuk, kenapa kau pulang malam sekali, kau tahu, tidak baik seorang wanita pulang malam malam.” Tegur Ayahku.

“Gomenasai Otosan.” Ucapku sambil menundukkan kepala. Siwon yang merasa tidak enak berusaha membelaku, “Maaf Adjushi, semua ini salahku—tadi dia membantuku mengerjakan tugas kuliah.”

Pandangan Ayahku beralih lalu menatap Siwon tajam, “Kau? Siapa?”

“Ah Ayah kenalkan ini Choi Siwon teman kuliahku.”

“Aku Choi Siwon, Adjushi.” Ucap Siwon sambil menundukkan kepala.

“Hmmm, Eunhyuk cepat masuk.” Kata Ayahku tidak menghiraukan Siwon sama sekali.

“Maafkan Ayahku yah, dia memang begitu jika melihatku bersama teman lelaki.” Aku sangat tidak enak dengan Siwon atas perlakuan Ayahku.

“Tidak apa apa, Ayah manapun pasti bersikap sama jika putrinya yang manis bersama lelaki lain.” Kata Siwon lalu menatap lekat lekat kepadaku.

“Sudah sudah jangan menggodaku lagi, sana pulang.” Usirku halus, aku masih tersipu dipuji seperti tadi.

“Sampai jumpa besok di kampus.” Siwon masuk kedalam mobilnya dan berlalu dari pandanganku.

Aku tersenyum bahagia hari ini, apalagi satu hari ini aku bersamanya terus. Tidak pernah aku merasakan kenyamanan seperti ini.

“Eunhyuk, sini Ayah mau bicara.” Panggil Ayahku dari ruang tamu.

“Ya?” tanyaku sambil duduk berhadapan dengannya.

“Apakah ia pacarmu?”

“Bukan Ayah, ya ampun– kami baru bertemu  tadi siang.”

“Apakah ia pilihanmu?” desak Ayahku lagi.

“Aku..aku tidak tahu, biarkan aku menjalaninya dulu.”

“Tapi kau tidak lupa dengan janjimu?”

“Tidak Ayah, aku sudah berjanji dan aku akan menepatinya.” Tegasku

“Baiklah Ayah tidak akan bertanya tanya lagi.” Ucap Ayahku sambil kembali kekamarnya.

“Okasan?”

“Ibumu sudah tidur dari tadi, ia mencemaskanmu.”

“Gomen..”

“Ya sudah, sebaiknya kau tidur juga.”

“Baik.” Aku beranjak lalu naik ke lantai 1 tempat kamarku berada, aku merebahkan diri di kasur sambil tersenyum senyum mengenang pertemuanku dengan Siwon.

Tidak terasa kami sudah 2 tahun menjalin hubungan—aku masih mengingat hari dimana ia menyatakan cintanya kepadaku. Ia menyuruhku menunggu di perpus lantai 2 lalu ia datang terengah engah, “Eunhyuk, bagaimana sih caranya seorang pria meminta yeoja menjadi pacarnya tanpa ditolak?”

Aku tertawa mendengar pertanyaannya, “aku tidak bisa jamin kalau ditolak atau tidak, tapi kalau bisa nyatakanlah dengan sungguh sungguh pasti tersampaikan, atau bisa juga memberikan apa yang menjadi kesukaan wanita itu. Kemungkinan diterimanya akan lebih besar, hehehe.”

Siwon tersenyum lalu mengelus ngelus kepalaku, “Kau benar juga, ini aku ada hadiah untukmu.” Ucapnya sambil menyerahkan satu bungkusan besar.

Aku pun membukanya penasaran saat melihat isinya aku menatap Siwon tidak percaya, “Siwon ini? Tidak mungkin, bagaimana kau bisa mendapatkannya? Buku Kahlil Gibran jilid pertama!!”

“Siwon!” ucapnya bangga, “Aku sengaja mencarinya untukmu.”

Aku masih menatap buku itu, lalu perlahan membuka buku itu dengan hati hati, “Jangan bohong Siwon, aku tidak bodoh. Berapa banyak uang yang kau keluarkan untuk menyuap kolektor sehingga ia rela melepaskan buku ini?”

“Tidak banyak kok.” Siwon menyandarkan kepalanya di pundakku. Dadaku berdegup dengan kencang.

“Berapa?” ulangku

“Harga itu sepadan–bukan harga buku itu tidak berarti apa apa dibandingkan dengan dirimu.” Kata Siwon. Ia lalu mengangkat wajahnya lalu menarik wajahku hingga sejajar dengannya.

“Yamaguchi Eunhyuk, maukah kau menjadi kekasihku?”

Deg. Apakah Siwon benar benar dengan ucapannya? Tuhan ini bukan mimpi kan?

“Apa jawabanmu?” desak Siwon.

Aku mengangguk.

“yess!!!” sahut Siwon, ia menarikku kedalam pelukannya erat. Untung perpus di lantai ini selalu sepi.

“Ternyata nasihatmu berhasil Eunhyuk.” godanya berbisik ke telingaku.

“Dasar..” dengus diriku.

Selama 2 tahun ini aku bahagia dengannya. Kami saling bisa memahami satu sama lain, memang kami pernah bertengkar, tetapi kami selalu bisa mengatasinya. Entah kenapa aku yakin Siwon adalah lelaki terakhir untukku. Ayahku pun mulai merestui hubungan kami—ia juga melihat jika Siwon adalah lelaki bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Bukan sekali dua kali Ayahku menyinggung masalah pernikahan. Aku dan Siwon hanya bisa tersenyum malu menanggapi ucapan Ayah.

Hubunganku dengan orang tua Siwon juga berjalan dengan lancar, mereka dengan mudah menerimaku sebagai kekasih anaknya. Bagi mereka siapapun pilihan Siwon itu adalah yang terbaik untukknya. Jujur aku iri dengan Siwon—memiliki orang tua yang tidak memaksakan kehendak kepada anaknya—tidak seperti Ayahku.

“Bagaimana kau sudah bicara dengan Siwon? Uhuk uhuk.” Kata Ayahku sambil terbatuk batuk, akhir akhir ini kesehatan Ayah menurun. Ia kelelahan mengurus pertandingan yang semakin dekat.

“Ayah! Ayah tahu kan, rencana kami untuk menikah itu masih lama. Mungkin 2 atau 3 tahun lagi.” Sanggahku.

“Uhuk..uhuk…tetapi Siwon kan sebentar lagi sudah lulus kuliah, lebih cepat lebih baik jika dia mulai mempelajari tentang Dojo ini. Uhuk..uhuk.” kata Ayahku.

“Tapi yah…apakah Siwon mau melakukan hal itu?” tanyaku ragu.

Ayahku mendelik kearahku, “Ingat kau sudah berjanji kepada Ayah dan Ibu. Jika Siwon tidak mau, Ayah akan mengambil salah satu dari murid-murid di Dojo untukmu. Uhuk Uhuk”

“Tapi Ayah juga tahu kan Siwon anak tunggal. Apakah orang tuanya rela menyerahkan anaknya untuk menjadi penerus Dojo kita?” aku berusaha membujuk Ayah.

“Eunhyuk! Ayah tidak mau mendengar lagi alasanmu itu!!” suara Ayahku meninggi. “Uhuk…uhuk..uhuk..Ohok.” Ayah terbatuk mengeluarkan darah.

“Otosan!!!” Pekikku lalu memapah tubuh Ayah yang tiba tiba hilang keseimbangan.

“Okasan!!! Okasan!!” teriakku memanggil Ibuku yang berada di belakang.

“Kenapa Eunhyuk? Otosan!!!! Eunhyuk panggil ambulans cepat!!” teriak Ibuku panik melihat Ayahku yang pingsan sambil tetap mengeluarkan darah.

*****

Aku menunggu diluar ruangan ICU. Kupeluk Ibuku yang tidak henti hentinya menangis. Ayahku masih didalam setelah di obati oleh Dokter Yesung. Masih terngiang dikepalaku ucapan Dokter Yesung barusan, “Eunhyuk dan Adjumma sebaiknya kalian harus bersiap siap, penyakit Adjuhsi sudah sangat parah—Kankernya sudah menyebar lebih cepat dari yang saya duga. Sebenarnya saya sudah memperingatkan Adjushi berkali kali supaya menjalani kemoterapi tetapi Ia tidak mau. Saya hanya bisa memberikan obat untuk memperlambat penyebarannya, tetapi untuk kesembuhannya…saya tidak bisa menjamin.”

“Otosan….” Gumam Ibuku dalam pelukanku.

“Shh..tenanglah Okasan, Otosan orang yang kuat—dia tidak akan apa apa.” Aku berusaha menenangkan Ibuku, Aku harus tegar—hanya akulah harapan mereka saat ini.

“Eunhyuk!!!” seru Siwon, kulihat dia berlari lari dari ujung lorong. Ia bergegas menghampiriku dan Ibuku.

“Bagaimana keadaan Adjushi? Eunhyuk” tanya Siwon khawatir.

“Siwon…Ayah—“ ucapanku terputus karena Dokter Yesung memperbolehkan kami masuk kedalam.

Pandanganku miris melihat sosok Ayahku yang kuat—sekarang terbaring tidak berdaya. Selang dan tabung Oksigen itu sekarang menjadi penyambung hidupnya. Ibuku langsung menghampiri Ayah yang sudah tersadar sambil memegang tangannya.

“Aku tidak apa apa.” kata Ayah parau.

Kepalanya beralih melihatku dan Siwon, ia menyuruh kami untuk mendekat.

“Eunhyuk, Okasan, biarkan aku berbicara berdua dengan Siwon.” Pintanya dengan suara lemah.

“Tapi Ayah?”

“Eunhyuk, biarkan Otosan dan Siwon berbicara. Kamu ikut Ibu keluar.” Baru kali ini kulihat ibu setegas ini kepadaku—padahal biasanya ia selalu membelaku.

“Baiklah.”

Kutinggalkan Siwon yang masih merasa bingung dengan keinginan Ayahku ini.

Setelah 20 menit.

Siwon keluar dari kamar Ayahku, “Ada apa Siwon? Otosan bicara apa denganmu?” tanyaku.

Siwon menatapku lama, sejenak memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya, “Aku tidak bisa bicara denganmu sekarang.” Ucapnya lalu dia pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih kebingungan dengan semua ini.

“Apa yang Ayah katakan sampai Siwon bersikap begitu dingin kepadaku.” Gumamku masih menatap ke arah Siwon pergi.

Esoknya

Aku lelah. Sejak kemarin aku dan Ibuku memutuskan untuk tetap tinggal dirumah sakit menemani Ayahku. Seusai berbicara dengan Siwon kemarin, Ayahku kembali tidak sadarkan diri. Aku dan Ibu panik, kami bergegas memanggil dokter Yesung—kami begitu takut jika Ayah tiba tiba meninggalkan kami. Dokter Yesung berpesan agar Ayahku tidak boleh memikirkan hal hal berat yang membebani pikirannya dulu. Itu bisa mempengaruhi kesehatannya.

Hari ini aku harus menyiapkan pakaian bersih untuk kami bertiga dan mengurus Dojo untuk sementara waktu. Aku pun pulang ke rumah sambil mengambil beberapa potong pakaian sesudah itu aku membungkuskan makanan di dapur. Aku berjalan keluar rumah menuju Dojo—ruang latihan tepatnya. Kulihat disana sudah ada Kangin-shi, wakil ayahku disini bersama dengan kekasihnya Leeteuk yang juga menjadi pengurus keuangan Dojo keluargaku. Meskipun masih pagi ruangan latihan sudah ada beberapa murid yang melakukan pemanasan disana. Mereka saling berlatih berpasang pasangan sekarang—apalagi musim pertandingan akan dimulai.

“Eunhyuk!!!” teriak Leeteuk sambil memelukku. “Bagaimana kabar Otosan?”

“Ayah baik baik saja, tetapi keadaannya tetap belum membaik.”

Kangin ikut menghampiriku, “Maaf, sebenarnya kami ingin menjenguknya tetapi Otosan berpesan sebaiknya kami tetap di Dojo supaya urusan pertandingan tidak terlantarkan.”

“Ayah ayah,, sudah sakit begini, masih saja memikirkan urusan Dojo..” keluhku.

“Kau tahu kan, Dojo ini sangat berharga untuknya.” Jelas Leeteuk.

“Aku tahu itu..” kataku pelan.

Kami bertiga terdiam—memikirkan bagaimana kami bisa menghadapi pertandingan ini tanpa Ayah.

“Hyung!!! Maaf aku baru datang.” Teriak salah satu murid sambil berlari lari menghampiri kami

“Aishh kau ini!! Cepat sana latihan, pertandingan sudah semakin dekat, kau masih saja santai seperti ini!!” tegur Kangin

Lelaki itu hanya nyengir sambil berlari masuk ke ruang latihan, “Ya!! Ada yang mau latihan berpasangan denganku!!”

“Dia suka sekali berteriak sih” pendapatku melihat murid yang satu itu.

Leeteuk tersenyum kepadaku, “meskipun begitu, dia andalan Dojo disini—Otosan-mu sangat menyayangi dia lho.”

“Terserahlah, aku mau kembali kerumah sakit dulu yah, kasihan Okasan sendirian disana.”

“Salam buat Otosan dan Okasan Eunhyuk, kami akan menjenguknya nanti malam.” Kata Leeteuk.

“Baik.” Ucapku sambil meninggalkan rumah. Aku menoleh kearah Dojo yang berdiri begitu megah—hasil kerja keras Ayahku. Aku tidak mungkin meninggalkan Dojo ini, tapi..apakah Siwon mau menuruti keegoisanku ini?

Aku tidak tahu.

Sesampainya dirumah sakit, aku melihat Siwon menunggu dibangku depan kamar rawat Ayahku. Aku menghampirinya dengan perasaan senang, “Hai..”

“Hai” balasnya. Aneh kenapa sepertinya dia menjaga jarak denganku.

“Kau lihat Ibuku?” tanyaku.

“Ia berada didalam dengan Adjushi. Eunhyuk aku kemari karena ingin berbicara sesuatu denganmu.” Kata Siwon sambil menarikku keluar rumah sakit. Ia terus menuntunku hingga sampai ke taman belakang dekat jalan raya.

“Aku ingin berbicara denganmu.” Katanya serius.

“Apa?” tanyaku dengan perasaan hampa—jauh dilubuk hatiku, aku sudah bisa menebak apa yang akan dikatakannya.

“Bagaimana caranya meminta putus tanpa harus menyakiti hati kekasihnya…” tanya Siwon sambil menatap mataku—sedih.

“Itu tidak mungkin, kekasihnya akan tetap sakit hati selembut apapun kau memintanya untuk putus.” Jawabku. Aku sekarang tidak bisa menahan airmata lagi. Aku membenamkan wajahku kedalam kedua tanganku sambil menangis.

Siwon menghampiriku—membuka tangan yang menutupi wajahku lalu mengangkatnya, “Jangan menangis.” Pintanya.

Siwon merengkuh diriku kedalam pelukannya, “Jangan menangis, kumohon.”

Aku hanya bisa menjawab dengan isak tangis. Siwon merenggangkan pelukannya lalu menundukkan kepalanya hingga sejajar denganku, “Kau tahu ini juga bukan keinginanku, aku tidak ingin pisah denganmu. Tapi…aku juga tidak bisa meninggalkan orangtuaku.”

Aku berusaha menghentikan tangisanku, “apa maksudmu?”

Siwon menghela napasnya, “Ayahmu kemarin memintaku untuk menikahimu secepatnya, aku memang kaget mendengarnya tapi aku menyetujui keinginan Ayahmu—“ ia berhenti sejenak.

“Tapi keinginan Ayahmu agar aku masuk, memakai margamu dan mewarisi Dojo-mu itu yang tidak bisa aku lakukan, kau juga tahu kalau aku anak tunggal-pewaris perusahaan Appa dan penerus marga Choi

“Kemarin aku berkelut antara keinginanku untuk mencintaimu selamanya dibandingkan dengan kebahagiaan Appa dan Umma-ku. Semalam aku berpikir panjang tentang keputusanku ini.”

Siwon bangkit lalu menarikku lagi kedalam pelukannya, “Selama hidupku orang tuaku selalu membebaskan apapun yang aku inginkan, mereka tidak pernah egois kepadaku…Sekarang giliranku untuk tidak egois kepada mereka. Akulah harapan mereka satu satunya.”

Aku memberanikan diri menatap wajah Siwon—lelaki yang sangat kucintai, “Aku juga sangat mencintai kedua orang tuaku.”

“Aku tahu itu.” bisik Siwon. Kami berpelukan cukup lama. Kami tidak peduli kalau orang orang melihat kami dengan pandangan mencemooh, kami tidak peduli itu. Kami tahu ini akhir dari kisah cinta kami.

*****

Aku kembali ke rumah sakit setelah berpisah dengan Siwon. Siwon memintaku berjanji untuk tetap menjaga hubungan baik kami selamanya. Aku hanya bisa tersenyum mengiyakan—padahal belum tentu aku bisa tegar jika nanti ada wanita yang menggantikan tempatku dihatinya. Aku memikirkan itu sambil berjalan perlahan lalu membuka pintu kamar Ayahku.

Kamar Ayahku kosong. Sisa sisa selang masih ada namun tidak ada tanda tanda keberadaan Ayahku disitu. Spontan aku berlari ke koridor tempat pusat informasi.

“Suster, pasien bernama Yamaguchi Naoki di kamar 204 kenapa tidak ada dikamarnya?” tanyaku tergesa gesa.

“Oh Yamaguchi-shi sudah dipindahkan ke kamar biasa karena keadaannya membaik, dia pindah ke kamar 103 sebelah kanan sini.” Jelasnya.

Aku menghela napas lega, “terima kasih Suster.”

Aku berlari menghampiri kamar baru Ayahku—berusaha memastikan keadaannya benar benar membaik.

Cklek. Ku buka pintu dengan keras.

“Eunhyuk! Dari mana saja kamu? Otosan dari tadi menanyakanmu.” Tegur Ibuku.

“Maafkan aku, tadi aku bertemu sebentar dengan Siwon.” Jawabku. Aku pun menghampiri Ayahku yang masih terbaring lemah.

Ayahku menatap wajahku lekat, “Apakah kau?-“

“Aku putus dengannya.” Aku mengucapkannya dengan pelan—masih terasa sesak dadaku mengingat kejadian tadi.

“Eunhyuk..” Suara Ayahku terdengar lemah, ia berusaha menggapaiku dalam pelukannya. Aku menyambut tangannya dan memeluknya dari samping.

“Maafkan Ayah.” Bisiknya

Aku tersentak mendengar ucapannya, Ayahku bukan orang yang gampang mengucapkan kata maaf. “Tidak Ayah, ini bukan salah Ayah. Siwon dan aku memang sudah memiliki jalannya masing masing.”

Aku melepaskan pelukan Ayah lalu menatap wajahnya yang sudah menua, ia begitu lemah dan lelah aku tidak bisa membiarkan terus terusan mengurus Dojo. Mungkin inilah saatnya aku berbakti kepadanya.

“Otosan?” tanyaku

“Ya?” jawabnya lembut.

Aku menghela napas—berusaha meyakinkan inilah yang terbaik—yang bisa kulakukan untuk kedua orang tuaku, “Aku akan menepati janjiku.”

“Apa?” Dahinya berkerut. Tidak mengerti.

“Aku akan menikah dengan lelaki pilihan Otosan, yang bisa mewarisi Dojo dan mau memakai marga kita.”

“Kau serius?” Ayahku terlihat terkejut, bahkan ibuku yang sibuk mengupas jeruk menghentikan kegiatannya.

“Eunhyuk, kau serius?” tanya Ibuku sambil menarik kursinya mendekati kami.

Aku mengangguk pasti.

“Aku ingin berbakti, aku ingin menjadi anak yang bisa kalian banggakan. Akulah harapan kalian satu satunya.” Aku mengutip kata kata Siwon tadi.

“Eunhyuk!! Ayah dan Ibu selalu bangga padamu!! Terima kasih!!” ucap Ibuku sambil memelukku terharu.

“Lihatlah sekarang putri kecil Ayah sudah dewasa, Ayah akan senang sekali bisa melihatmu menikah sebelum Ayah meninggal.”

Aku dan Ibu tersentak mendengar perkataan Ayah, “Otosan!! Jangan bicara seperti itu lagi!”

“Baik baik,ha ha ha” Ayahku tertawa, sudah lama aku tidak melihatnya sebahagia seperti saat ini.

“Permisiiii” ucap Kangin yang datang mengunjungi Ayah. Kangin datang bersama kekasihnya dan bersama seseorang lelaki yang asing bagiku.

“Kangin, bagaimana keadaan Dojo?”

“Ya!! Otosan, lebih baik otosan banyak banyak istirahat, biar untuk sementara Dojo aku, Leeteuk dan Donghae yang mengurusnya.” jawab Kangin sambil meletakkan buah buahan untuk Ayahku, sedangkan Leeteuk kelihatannya sedang asyik berbicara dengan Okasan.

Lelaki asing itu melangkah mendekati Ayahku, “Otosan!!!! “ teriaknya.

“Aish DongHae jangan teriak dirumah sakit!!” tegur Kangin

Lelaki yang dipanggil Donghae hanya tersenyum kecut, “Itu barusan Hyung juga teriak.”

“Ya!! Kau ini!”

“Sudah sudah Kangin, Donghae-ah bagaimana tadi latihanmu? Usahakan badanmu tetap fit hingga 2 minggu kedepan.” Nasihat Ayahku sambil tersenyum. Benar kata Leeteuk—Donghae memang anak emas Ayah di Dojo.

“Donghae, kau sudah mengenal anakku bukan? Eunhyuk ini Donghae.” Ayahku mengenalkannya kepadaku.

“Hai aku Lee Donghae.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan.

“Aku Eunhyuk” Balasnya sambil menyambut uluran tangannya.

*****

Sudah dua minggu Ayah berada dirumah sakit, keadaannya terus membaik. Meskipun Dokter Yesung mengingatkan kami untuk terus berjaga-jaga, aku dan Ibu optimis kalau Ayah tetap bisa sembuh meskipun setiap hari Ayah harus makan dari selang selang ditubuhnya. Ayah bertambah ceria semenjak aku memutuskan menerima lelaki pilihan Ayah.

Tetapi hingga sekarang Ayah tidak memberitahuku siapakah lelaki itu.

Hari ini aku baru selesai kuliah langsung menuju rumah sakit—sekarang aku dan ibuku bergantian menjaga Ayahku, dan hari ini adalah giliranku.

“Okasan? Mana Otosan?” tanyaku begitu sampai dikamar Ayah.

Ibuku yang masih beres beres pakaian Ayah menatapku selidik, “Sedang berjalan jalan bersama Donghae, kasian Ayahmu kalau berada dikamar terus menerus.”

“Oh.” Ucapku sambil mengambil gelas untuk minum.

Tidak lama Ayahku kembali bersama Donghae, “Eunhyuk?”

Aku yang sedang asyik membaca buku langsung menghampiri kursi roda Ayahku yang didorong oleh Donghae, “ya Ayah?”

“Ayah ingin bicara denganmu kemarilah.” Ucapnya sambil menuntun tanganku mendekat.

“Ayah sudah menemukan lelaki yang tepat untukmu.” Ucapnya sambil tersenyum.

Ibuku yang semula sibuk beres beres menghampiriku dan mengelus ngelus pundakku.

“Siapa?” tanyaku

Ayahku menengadahkan kepalanya ke atas. Tatapannya terhenti ke arah Donghae.

Kulihat Donghae yang hanya tersenyum kecil kepadaku, “Tidak!!”

Ayahku terkejut mendengar penolakanku, “apa maksudmu Eunhyuk? Bukankah kau sudah setuju?”

Aku gugup harus menjelaskan kepada Ayahku, “Tapi Otosan, aku tidak mengenalnya.”

“Aku juga tidak mengenalmu.” Ucapnya pelan masih tersenyum kepadaku.

“Bukan begitu, Donghae-shi, aku-“ aku bingung harus menjelaskannya.

Donghae melangkah mendekatiku lalu kembali menatap Ayah dan Ibuku, “Maaf Otosan dan Okasan. Ijinkan aku berbicara berdua dengan Eunhyuk”

“Baiklah, mungkin kalian harus saling mengenal terlebih dahulu.” Ucap Ibuku untuk menenangkan Ayahku—aku lupa kalau Ayah tidak boleh banyak pikiran. Itu bisa mempengaruhi kesehatannya.

Aku pasrah mengikuti Donghae yang berjalan didepanku. Ia terus berjalan hingga sampai di koridor rumah sakit yang lumayan jauh dari kamar Ayahku.

“Eunhyuk..aku ingin kau mendengarkanku sekarang.” Pintanya

Aku menatap sepasang mata itu—matanya Indah dan membuatku dapat percaya dengannya, “Baiklah.”

“Ayahmu—Otosan adalah orang yang sangat kuhormati didunia ini. Mungkin kau tidak tahu kalau aku yatim piatu. Ayah Ibuku meninggal dalam sebuah kecelakaan, hanya aku yang selamat. Semenjak itu aku dibesarkan dari rumah ke rumah keluarga Ayahku. Tidak ada yang mau menampungku lama lama, karena aku hanya beban bagi mereka. Hingga akhirnya aku kabur dan tinggal di jalanan. Aku bahkan masih ingat bagaimana rasanya kelaparan hingga mengoyak ngoyak tempat sampah hanya untuk makan.” Ucapnya sambil memandang jauh mengenang masa lalunya yang menyakitkan.

“Hingga suatu hari saat aku sedang dipukuli oleh para preman di gang, Ayahmu menolongku. Ia menghajar satu persatu dari mereka hingga tersungkur. Sesudah itu ia juga membelikan aku beberapa makanan karena melihatku begitu kurus. Ayahmu sangat baik terhadapku.” Kali ini ia menatapku dengan sayu. Ia tersenyum sekali lagi sambil meneruskan ceritanya.

“Dari situ aku memohon kepadanya untuk mengajarkan beberapa jurus hebat itu supaya aku tidak dianiaya lagi oleh kelompok geng lain. Ayahmu lalu mengajakku ke Dojonya lalu mengajarku. Ayahmu pula yang memberikan aku modal untuk bisa hidup mandiri dan tetap meneruskan kuliahku. Aku bisa seperti sekarang itu berkat Ayahmu.”

Aku menatap wajahnya yang begitu penuh rasa bersyukur, Aku pun terharu mendengar masa lalunya—ternyata ia tidak sebahagia yang kupikirkan.

“Tadi saat berjalan jalan dengan Ayahmu, ia memintaku untuk menikahimu dan mewarisi Dojo ini. Kau tidak tahu betapa terharunya aku mendengar permintaannya itu. Ia mempercayakan kepadaku dua hal yang sangat berarti baginya. Jujur—aku bahagia. Aku bahkan langsung mengiyakan keinginannya, sebab inilah saatnya aku membalas budinya.”

Donghae berbalik mendekatiku dan meraih kedua tanganku erat lalu berlutut, “Yamaguchi Eunhyuk ijinkan aku menikahimu dengan segenap hatiku aku berjanji akan membahagiakanmu selamanya.”

Aku terpaku dengan lamarannya yang terlalu cepat, “Donghae-shi, bagaimana kau bisa membahagiakanku. Kita bahkan tidak saling mencintai.”

Donghae mengangkat kepalanya, menatapku lama.

“Aku akan berusaha mencintaimu.” Kata Donghae

“Ini konyol! Kau tahu Donghae, dari dulu aku menanggap penikahan itu suci dan sangat sacral. Aku tidak mau nantinya ada perpecahan didalam rumah tangga nantinya.”

Donghae tertawa pelan mendengar ucapanku barusan, “maksudmu aku selingkuh begitu?”

Aku hanya bisa memalingkan wajah darinya, berusaha mencari kata kata yang tepat, “Aku hanya ingin pernikahan sekali untuk seumur hidup.”

“Aku akan setia kepadamu.”ulangnya

“Kau hanya melakukan ini untuk balas budi! Kau tidak mencintaiku, aku tidak mau menikah dengan seseorang yang tidak mencintaiku.” Sanggahku sambil melepaskan tangannya.

“Eunhyuk-aku..”

“Eunhyuk!! Donghae!!!” teriak Ibuku yang berlari menghampiri kami.

“Eunhyuk, Otosan..Otosan sekarat..” kata Ibuku sambil menangis.

“Apa!!” Aku kontan berlari kencang kembali ke kamar Ayahku, dibelakangku Donghae ikut berlari pelan sambil memapah ibu.

“Otosan!!!” teriakku pilu. Aku bisa melihat Ayahku begitu menderita. Disampingnya Dokter Yesung berusaha menolong Ayahku dibantu beberapa suster.

“Bagaimana keadaan ayahku dokter?” desakku.

Dokter Yesung hanya bisa menggeleng, “Ini sudah saatnya Eunhyuk”

“Tidak!!! Otosan!! Otosan jawab aku..” tangisku sambil menggapai tangannya yang rapuh. Dokter Yesung menyuruh suster suster keluar meninggalkan kami.

“Naoki…hiks…hikss, jawab aku Naoki..” isak Ibuku yang sudah berada disisi Ayahku. Donghae meletakkan tanggannya di pundak Ayahku, “Otosan..” ucapnya. Meski tidak melihatnya aku tahu kalau ia juga menangis.

Ayahku bergerak kemudian perlahan membuka matanya, “Sayuri…” panggilnya kepada Ibuku.

“Naoki…jangan tinggalkan kami…” ucap Ibuku di sela sela tangisannya.

“Sayuri,,jangan menangis…ingat kau masih punya putri kita satu satunya…hiduplah untuk dia.” Suara Ayahku terdengar sangat lemah. Aku tahu kalau aku harus bisa melepaskan kepergiannya.

“Eunhyuk…”panggilnya

“Iya Otosan..” jawabku sambil mengenggam erat tangannya.

“Apakah kau sudah memikirkan tawaran Ayah tadi?”

“Sudahlah ayah sekarang bukan saatnya untuk itu,”

“bukankah Ayah sudah bilang, ayah ingin menikahkanmu sebelum ayah meninggal…Ijinkan Ayah menikahkan kalian berdua.” Pintanya.

“Tapi Ayah..” aku bingung bagaimana bisa  kami menikah disini.

“Sayuri hubungi Shindong-shi..”perintah Ayahku.

“Tapi-aku..”

Lee Donghae sudah terlebih dahulu berlutut menatap Ayahku. Airmata menghiasi wajahnya, “Aku berjanji akan menjaganya apapun yang terjadi.” Bisiknya di telinga ayahku.

Ayahku tersenyum bahagia menatap Donghae, “Jaga dia dan Sayuri juga. Aku tahu kau bisa diandalkan.”

Tidak lama Shindong-shi teman lama Ayahku datang, Ia langsung meminta Donghae memegang tangannku dan mengucapkan janji yang seharusnya kami ucapkan di altar.

“Lee Donghae, apakah kamu berjanji akan mencintai Yamaguchi Eunhyuk selamanya dan menerima dia baik dalam keadaan senang maupun susah?” tanya pendeta Shindong.

“Aku berjanji.” Ucapnya dengan tegas.

“Yamaguchi Eunhyuk, apakah kamu berjanji akan mencintai Lee Donghae selamanya dan menerima dia baik dalam keadaan senang maupun susah?” tanyanya kepadaku.

Aku hanya bisa terisak sambil menatap wajah Ayahku yang menderita karena kesakitan, “Aku berjanji.”

“Sekarang silahkan kalian berdua saling bertukar cincin.”

Kami semua bingung karena pernikahan ini memang mendadak—dan tidak ada yang menyiapkannya.

“Ini, pakai saja punyaku dan Ibumu.” Ayah menyodorkan cincin pernikahannya dan Ibu. Cincin yang tidak pernah ia lepaskan.

Donghae mengambil sepasang cincin itu dan memberikan kepadaku satu. Ia memakaikan cincin Ibu sedangkan aku bergantian memasang cincin Ayah dijarinya.

“Sekarang aku meresmikan kalian menjadi suami istri.”

Plok..plok…–tepuk tangan Ayah menggema kesekeliling ruangan, “Akhirnya aku bisa melihatmu menikah, Eunhyuk, Sekarang aku bisa pergi dengan tenang.” Ucapnya.

Aku langsung menghampirinya, “tidak Otosan—jangan pergi, jangan tinggalkan aku dan Okasan.” Isakku.

Donghae spontan memelukku erat. “Donghae akan menggantikanku untuk menjagamu..” sesudah berkata itu Ayahku menghembuskan napas terakhirnya.

“Otosan..otosan..” kata kata ku sambil mengguncangkan tubuhnya. Disampingnya Ibuku sudah merelakan kepergian Ayahku—ia hanya terus menangis pelan.

“Otosan!!” teriakku. “Tidak!!” Aku menangis sejadi jadinya, Hanya saja Donghae menahan tubuhku dan membuatku tetap sadar sambil terus menangis didalam pelukannya.

Sudah dua hari semenjak pemakaman Ayah dilakukan. Aku masih saja termenung menatap Jendela kamarku yang terbuka lebar. Hingga Donghae datang ke kamar lalu menghampiriku, “Eunhyuk, sudah dua hari ini kau tidak makan. Ayo kita turun untuk makan. Okasan sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.”

Donghae berusaha menarik tubuhku dari jendela, aku menepis tangannya—menolak.

“Tidak, aku tidak lapar.”

“Kau bisa sakit kalau begini terus, Ayo.” Sekarang dia berusaha memaksaku.

“Sudah kubilang aku tidak lapar!!!” Amarahku meledak.

Donghae terlihat menyerah, ia hanya menghembuskan napasnya lalu beranjak pergi meninggalkanku dikamar.

Tidak lama kemudian.

“Ini makanan untukmu. Sushi Salmon kesukaanmu.” Donghae tidak menyerah. Ia malah datang membawa makanan kesukaanku.

“SUDAH KU BILANG AKU hmppphh” ucapanku terpotong karena dia mencecoki mulutku dengan potongan sushi. Ia menahan kedua tanganku yang memberontak lalu tangannya yang lain memegang rahang bawahku sambil membuat gerakan mengunyah.

Dengan paksaannya aku menelan potongan sushi itu. Ia tetap memegang tanganku yang memberontak sambil menyuapiku hingga piringnya kosong.

“Wah ternyata kau rakus juga, lihat saja 10 potong sushi habis semuanya.” Kata Donghae sambil tersenyum.

Aku memelototinya, “Ini karena kau paksa tahu!!”

“Sudahlah. Sekarang gilirannya kau mandi. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu.” Donghae pun menyerahkan handuk kepadaku.

“Aku tidak mau mandi..” kataku sambil tetap menatap keluar jendela.

Donghae melirikku sejenak lalu berkacak pinggang, “Kalau kau tidak mau terpaksa aku yang akan memandikanmu.”

“Ha!! Iyaaa!!* aku bisa mandi sendiri!!” aku pun langsung berjalan menuju kamar mandi, dari arah belakang aku bisa mendengarnya tertawa melihat tingkahku.

Semenjak itu Donghae selalu melakukan apa saja agar aku tidak selalu teringat Otosan. Ia juga sudah mengubah marganya menjadi Yamaguchi sama sepertiku.

Ditangan Donghae Dojo berkembang dengan pesat, kami juga memenangkan pertandingan nasional di Korea. Dia benar benar menjaga amanat Otosan. Tapi untuk mengisi hatiku? Tidak hingga saat ini aku belum bisa menerimanya sebagai suamiku. Meskipun kami sudah hampir satu tahun menikah.

TBC

42 responses to “≈And The Story is Begin≈

  1. oenni….cerita’y menarik bgt jd penasaran ma klanjutan’y. hehe

    gomawo^_^

  2. baby, ff yg ne lanjutaaaan na mana chagi?
    udah lama banget kaya na dh hmpr 1tahun deh baby.
    umma nagiiiiiiiiiiiiiiiiiiig ne?
    ^^ puppy eyes

  3. Onn..daebak..q pikir sihyuk ternyata eunhae..*syukur*hae memang anak yg berbakti ama bisa di andalkan..tp hyuk koq blm bisa nerima hae sich..hae padahal baik bgt..kalau si hyuk g mau kasih ke q aja dech hae nya..hehehe*di injek ama hyuk*penasaran ama kelanjutanya..di tunggu y onn kelanjutanya..^^ hwaiting..

  4. *peganggu lagi lewat*
    onnie aku ska, cepetan ya lanjutannya.. ga sabar aku sma smua cerita daebak mu..,
    sumpahnya aku pnya blog ga sebagus pnya onnie,
    onnie cari header dimana sih,, aku nyari ga ketemu2 , smpe kepala pusing tujuh keliling,, kekekke
    onnie, kalau FB onnie yang lama kemana ko skarang ganti yang baru sih, aku tadi nyariin tapi ga ada..
    GOOD LUCK FOR MY BEST AUTHOR IN MY LIFE *hug

  5. Yeeeee, eunhae story *nari-nari*😀
    Ah, Ama kira nyuk bakal sama siwon haha ternyata sama hae, yeah!
    Baru baca nih epep, lanjutannya dong eon *wink-wink*😉

  6. KERRRRRRRRRREEEEEEEEEEEEEEEENNNNNNNNNNN
    eonnieee,,,
    lanjutkan dong…yah yah yah???
    aku penasaran lanjutannya huhu……
    sedih critanya huhu
    pasti haepa butuh perjuangan buat dapetin hati hyukkie hhuhihu

  7. kirain belom baca..eh ternyata pernah baca dulu hehehe #geje
    onnie mana nie kok gak ada lanjutanny T^T
    bdw aku suka headernya blog onnie..keren ih *____*

  8. hyaaaaaaaaaaaaaa , lagi asik mendalami cerita tautau TBC , hehehe , ff unn emang keren , apalagi kalo dibikin buku kaya harpot , hehe

  9. onnieeeeeeeeeeeeeeeeeeee…………….. mau lanjutannya…. huaaa… nangis aku gara2 enhyuk pisah ama siwon… huhuhu, berbakti amat…
    lanjut onn..lanjut…

  10. Kak, perasaan Roro udh ngomen, kok gak ada? –a

    Pengen SiHyuk! Please Kak! Nyimpanglah dikit xp #plakk

    Yang pati, buat Eunhyuk suka sama Donghae, trus ada si Siwon! Biar si Siwon nyesel😀 hahahahaha

  11. emmm bingung mw coment ap…tp yang pasti ditunggu TBC nya…heee *plakk dasar reader g tw diri kkkk

  12. WHAT????????????
    pas pertama baca pairingnya EUNWON!!!!

    ni kak Sebas bikin aku PATAH HATI deh…

    tapitapitapi,,,,….
    asikasikasik ada DONGHAE yang akhirnya keluar dari peradabannya…
    *apasihgw*
    hahahha
    *jingkrak jingkrak*
    nanti biar WONNIE sama gw aja…

    SUKA SUKA SUKA sama ceritanya …

    finnaly…
    EUNHAE cuple emg tak terpisahkan…
    hahaha

    unnie…
    tau ga???
    *sebas:ga.
    ini tuh…
    FF favorit aku setelah NOLU yang emang selalu dihati dan tetap dinanti ,…
    *makin lebay aja ni reader,,

    bakaln sepanjang NOLU ga ini cerita seriesnya???
    klo iyah bakaln punya pe-er RCL nih…
    hahahaha

    udah deh segitu ajah aku ngocehnya…
    tar makin gaje…

    keep writing unnie…^_^

  13. walking2 on your blog, hehe..
    sebas, aq penasaran lanjutannya..
    udh satu tahun menikah masa msih belum ada rasa juga. pdhl hae kan udh baik bgt bhkan bersedia ngerubah marganya demi otosan. huhu..
    aq tgu lanjutannya ya ^^

  14. Keren min😐
    Admin ngajari banyak hal lwt ff in
    Contoh’e cinta butuh pengorbanan🙂
    Hehehehe

    Oh y min lanjutan’e kok g keluar” penasaraan (╥﹏╥)

  15. Hallo kak, salam kenal namaku Minnie
    Aku reader baru disini, mohon bantuan dan pentunjuknya ya
    KyuMin shipper hehehe
    Bolehkan aku baca-baca ff unni disini?

    Untuk pertamanya aku komen ff pertama yang aku baca disini ya
    Aku sedikit susah bayangin Hyukie yang bermarga Jepang hehehe
    Oiya, kritikku cuma sedikit aja. Aku senmpet bingung sama pemindahan waktu yang sekarang jadi beberapa waktu kemudian
    Dimohon kasih tandanya ya, soalnya aku ngerasa tiba-tiba banget bacanya

    Itu aja komentar dariku, salam kenal ya kak

  16. Eonni………..!!!!! Lanjutan crita ini kemana?? Eon lupa yah sama crita yg satu ini??? Aku penasaran jadi ny eunhyuk suka sama hae ato gk…. Pleaseee TT.TT

  17. menunggu lanjutannya ^^ hehehe reader ga sabaran pengen tau lanjutannya
    ayo dunk sebas ^^

  18. kak, aku kira ini oneshoot, eh malah tbc :3
    Kasian hae, apa hyuk bener” gk punya perasaan sama hae? kak lanjut dong, udah lama banget ini o.O

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s