≈Copy and Paste Case : True…≈

“Lalu apakah Tuan Ryeowook-mu itu terlihat ketakutan kemarin” tanya Kibum lebih lanjut, “maksudku dengan kedatangan ‘detektif gadungan’ itu?”

Kireun menggeleng namun ia tiba tiba merenung sejenak, “sebenarnya tidak hanya Tuan Ryeowook yang bersikap tegang saat itu—Tuan Kangin seharian marah marah, melampiaskan kekesalannya karena ada pemuda yang datang pagi hari itu” Kibum mengulum senyum misterius mendengar pengakuan Kireun yang tidak mengenali dirinya sama sekali

“Sedangkan Tuan Leeteuk mengaku pusing dan memohon diri untuk mengurung diri seharian di kamar—aneh Kibum, Tuan Leeteuk baru keluar pada saat makan malam lalu menanyakan terus menerus kepada Bibi Eun Hye kapan dia akan belanja ke kota”

“Eh?” Kibum menyeringitkan dahi, “maksudmu? Bukankah kau yang sering belanja?”

“Tidak” Kireun menggeleng, “Kalau urusan besar seperti mengambil uang di bank untuk gaji pembantu atau membeli perabotan rumah tangga yang sudah rusak—itu tugas besar dan biasanya di tangani oleh Bibi Eun Hye” jelasnya, “Bibi Eun Hye meski sering galak kepadaku, ia seorang pelayan setia yang jarang di temui pada tahun tahun terakhir ini. Ketelatenannya mengurus ketiga pemuda egois itu, belum lagi mengambil alih soal upacara kematian Tuan dan Nyonya…” Kireun menggelengkan kepala—kagum

“Bibi Eun Hye begitu berjasa bukan?” kata Kibum kepada diri sendiri namun segera di tanggapi oleh Kireun, “Iya! Hanya saja aku suka kesal jika mengingat sikapnya yang berlebihan dalam menjaga kebersihan. Satu sampah saja! Tidak akan luput dalam pandangannya! Ia sangat teliti” Kireun berbicara lambat lambat sambil melayangkan pandangan terkejut ke arah dinding kedai kopi tersebut

“Ya ampun!!! Sudah sore!!!” Kireun segera beranjak dari bangku, “aku harus kembali!! Bibi Eun Hye sudah pasti akan memarahiku habis habisan!!!!” ia mengambil beberapa belanjaannya yang penuh dalam kantung plastik, memberikan penghormatan formal kepada Kibum sebelum pamit, “Kapan kapan kita bertemu lagi, Kibum-shi! Dan terima kasih atas traktirannya!!!”

Kireun hendak pergi dengan tergesa gesa meninggalkan Kibum di dalam sebelum kembali lagi—gadis itu seperti mengingat sesuatu, “Kibummie, aku percaya jika Tuan Ryeowook bukanlah orang yang bisa menaruh racun dalam makanan—apalagi itu Appanya sendiri” ia menghela nafas sejenak, “Tuan Ryeowook bahkan begitu perhatian mengganti sendok yang terjatuh ke dalam dapur ketika itu. Aku—

“TUNGGU!!” Kibum mendadak berteriak keras mendengar penjelasan terakhir dari Kireun, “mengganti sendok!!! Katamu??”

Kireun mengangguk bingung akan sikap Kibum yang berubah drastis—menjadi panik bercampur takut. Namun Kireun bisa menangkap secercah sinar di kedua mata pemuda ini, “ada apa Kibum. Apa aku salah bicara?”

“Tidak” Kibum berkelit, “tentu saja tidak—sungguh menyenangkan berbincang denganmu, tapi sepertinya aku juga harus pergi…ya….aku harus mencari kebenarannya” bahkan sebelum Kireun bisa bereaksi terhadap ucapan Kibum, sang pemuda intelektual itu sudah pergi meninggalkan Kireun yang terus menatapnya penasaran dari jauh

*****

Perpustakaan Umum, bagian : Arsip Nasional. Seoul. Korea Selatan.

“Tuan Kim…Tuan Kim……ah ini dia!” Kibum menarik sebuah buku tebal yang berisi potongan potongan riwayat hidup seseorang berdasarkan data akurat. Pada jaman perang seperti ini, berita kematian—pidana dan kasus lainnya dalam tubuh seseorang penduduk bisa di jadikan arsip sebagai bahan pembelajaran pemerintah. Tentunya juga memudahkan beberapa keluarga mencari anggota keluarga mereka yang menghilang dalam perang saudara yang sedang berkecambuk di Korea

Petikan menarik dari artikel barisan depan menjadi perhatian Kibum

Tuan Kim Jungsung menikah dengan Nyonya Kim Raesun atau yang dulu bernama Lee Raesun pada umur 23 tahun. Tuan Kim Jungsung ketika mudanya menjadi pemuda biasa yang tumbuh dalam peperangan namun masih sempat berusaha mendirikan perusahaan besar. Meski begitu, Tuan Kim tercatat pernah cidera lutut serius sebelum di perintahkan untuk masuk wajib militer.

Teman seangkatannya sekaligus teman baik dari Tuan Kim Jungsung dan Nyonya Lee Raesun— yaitu Tuan Kwan Jongri pernah menjadi tunangan Nyonya Lee Raesun sebelum ia masuk wajib militer. Tetapi sayang Tuan Kwan Jongri meninggal dalam ledakan racun bernama Sulfur Mustards pada saat di medan perang

(Kibum : “Oh tidak!”)

Karena itu, Tuan Kim Jungsung menaati titah terakhir Tuan Kwan Jongri untuk menjaga Nyonya Lee Raesun dengan menikahinya. Dari hasil pernikahan itu Tuan Kim beserta istri memiliki 3 orang putra bernama—

Kibum menutup artikel itu dengan perasaan campur aduk. Ia menenggelamkan kepalanya ke atas meja, “Tidak mungkin….ini…..” Kibum mencoba menutup mata sekali lagi. Me-reka reka semua kejadian dan mencoba mengumpulkannya menjadi satu kepingan

“Seperti kata Hercule, ambil yang asli buang yang tidak berguna…..” gumamnya seorang diri

Racun Sulfur Mustards. Kenapa nama ini terlibat pada kejadian berbeda di waktu berbeda pula namun melibatkan orang yang sama

“Apakah mungkin…” Kibum menggigit kukunya—keras keras, “ada yang meng-copy paste kan kejadian masa lampau untuk membalaskan dendam? Terlalu kebetulan jika Tuan Kim meninggal oleh racun yang sama dimana telah membunuh sahabat baiknya sendiri…..tidak…pasti ada sesuatu! Aku butuh lebih banyak fakta!!”

Setelah membereskan semua bahan bacaan kembali ke raknya masing masing, Kibum lalu melangkahkan kaki keluar dari tempat itu. Jujur, ia tidak punya rencana lain selain terpaksa mendatangi rumah Tuan Kim untuk kedua kalinya. Namun….ia ragu. Bagaimana jika anak lelaki kedua Tuan Kim yang terkenal tempramental yaitu Kangin berada di sana?

“Aishh aku tidak peduli, mungkin aku bisa mengatakan seribu satu alasan untuk memaksanya menerimaku ‘baik baik’ kali ini” Kibum mengedikkan bahu, “toh aku harus mencoba segala cara…..yah…..harus!”

Selang setengah jam, Kibum sudah berdiri di depan pintu rumah kediaman Tuan Kim. Bukan karena takut makanya dari tadi Kibum hanya sibuk berdiri—hanya saja, Kibum harus memikirkan alasan cerdas supaya tidak ada asalan mereka untuk langsung menendangnya keluar

Tapi apa????

Ketiga anak itu berpendidikan tinggi untuk bisa di bohongi oleh penyamaran Kibum.

“Ah aku harus berani!” sambil menghela nafas panjang, Kibum memencet bel di depan rumah

TING TONG

Tidak ada jawaban

TING TONG

Hening

“aish mereka kemana semua sih!!!”

TING TONG TING TONG

Akhirnya Kibum malah memainkan bel untuk mengusir rasa jenuh

CKLEKK

Pintu depan terbuka, sebelum Kibum bisa memulai bersikap baik—lelaki di hadapannya menatapnya tercengang

“Kau?!” katanya agak tajam, “Buat apa kau kembali kemari?!!” sambungnya dengan nada melengking—namun lemah. Kibum bahkan tidak bergeming meski di ancam olehnya

Kireun benar, tidak mungkin pria di hadapannya sekarang—yaitu Tuan Ryeowook bisa menjadi pembunuh berdarah dingin…..

“Bolehkah saya masuk?” tanya Kibum hati hati

Ryeowook terdiam namun sikapnya sudah tentu menolak permintaan Kibum, “Saya—

“Aduh Tuan Leeteuk!!!” terdengar pekikan terkejut dari dalam rumah, seperti suara Bibi Eun Hye, “Jangan pernah ke kamar mandi sendirian berbahaya!!” tegurnya lembut

Meski Kibum tidak bisa melihat sosok Leeteuk namun suara datar itu masih bisa di dengar dari pintu depan, “tenang saja Bi..aku bisa sendiri kok, maaf telah membuat kotor kamar mandi”

“Ah tidak apa apa, nanti biar aku suruh si Kireun membersihkan jejak jejak kaki Tuan” balas Bibi Eun Hye lembut

Seketika itu juga Kibum lupa caranya bernafas. Ryeowook yang hendak mengusir tamu ini malah terkejut melihat perubahan raut wajah Kibum, “Kau…..kau kenapa???” ia menggoyang-goyangkan tangan kanannya ke depan Kibum

“Ryeowook-shi….” Bisik Kibum dengan pandangan hampa, “tidak…..Kau harus ikut aku sebentar!!!!” tanpa menunggu persetujuan dari orang bersangkutan, Kibum langsung menarik lengan Ryeowook—menyeretnya agak jauh dari depan ilalang dekat taman keluarga Tuan Kim. Tepat di samping pepohonan rimbun itulah Kibum mulai mengintrogasi Ryeowook

“Aku akan menanyakan beberapa pertanyaan dan kau harus menjawabnya, mengerti” paksa Kibum tergesa gesa—entah apa yang merasuki pikirannya hingga berbuat nekat seperti ini

“A..Apa….ma…maumu?” tanya Ryeowook mulai ketakutan. Sepertinya seumur hidup baru kali Ryeowook mendapatkan ancaman serius dari seseorang

“Satu, apakah benar kau yang memasak sup bawang pada hari kejadian di mana Tuan Kim di temukan terbunuh esok paginya??” tanya Kibum tegas

Ryeowook melenguh tanpa mengeluarkan suara—shock, “darimana kau tahu itu!!!” bentaknya marah, “dengar kalau kau menuduh aku tega meracuni Ayahku sendiri, kau salah besar!!!”

Kibum menggeleng cepat, “bukan itu maksudku, sudahlah secara tidak langsung kau sudah menjawab pertanyaanku. Sekarang, dua, apakah Kangin-shi atau Leeteuk-shi yang berada di dekatmu ketika hendak mengambil sendok di dapur untuk sup bawang Ayahmu yang belum di antarkan ke dalam kamar?”

Ryeowook menatap wajah Kibum seolah olah di depannya ini sudah gila, “Kau mau menuduh Hyung Hyungku!!! Tidak akan ku—

“JAWAB SAJA!!!” Teriak Kibum hilang kesabaran, “INI MENYANGKUT NYAWA SESEORANG!!!! DAN KAU AKAN IKUT BERTANGGUNG JAWAB KALAU SAMPAI AKU BISA MENYIKAP PELAKU SEBENARNYA!”

Ryeowook tertunduk. Sambil menggeleng tidak percaya ia mengucapkan satu nama. Satu nama yang mustahil untuk melakukan semua ini. Setidaknya hal itu menurut Kibum dan Ryeowook

“Kibum-shi…kau pasti salah orang, Hyungku tidak ber..bersalah” meski berkata begitu ada secercah keraguan dalam suara Ryeowook sekarang

Bagaimana jika itu benar benar…..

“Oh tidak…….” Mendadak Ryeowook seperti mengingat sesuatu, “tidak tidakk………apakah gara gara itu, aku—tidak…..”

Kibum yang sedang berpikir keras terpancing oleh sikap Ryeowook yang kembali menyimpan rahasia, “ada apa?? Apa kau tahu sesuatu?”

“Bukan hal yang penting” wajah Ryeowook terlihat keruh, “tetapi waktu kami masih duduk di SMA dulu, salah satu Hyungku berubah—dari sikapnya yang menjauhi kami berdua dan sorot matanya agak….entahlah agak tajam jika melirik ke arah Appa…..aishhh tidak mungkin…..tidak!!!” Ryeowook merutuki serta menyalahkan diri sendiri karena secara tidak langsung dia terlanjur mencurigai Hyungnya sendiri

Dengan lelah bercampur sedikit rasa lega, Kibum ikut merunduk setara di depan Ryeowook, “apakah kejadian itu terjadi ketika adanya pemeriksaan golongan darah?”

Spontan Ryeowook menoleh cepat. Matanya membelalak tidak percaya, “Bagaimana kau tahu??” suaranya menghilang pada bagian terakhir, “apakah kau mengira?”

Kibum tidak menjawab apa apa. Pandangannya berubah kelam seiring dengan perubahan cuaca pada sore hari ini

“Sepertinya aku sudah tahu siapa pelaku dari pembunuhan Tuan Kim…..” ia menggulung lengan bajunya yang terangkat hingga menutup telapak tangan, “dan aku berjanji akan menangkapnya. Segera”

Setelah mengucapkan itu, Kibum pergi—berjalan tegap, meninggalkan Ryeowook dengan seribu pertanyaan dalam benaknya

‘Apakah benar salah satu dari Hyungnya adalah pembunuh Ayah mereka sendiri?’

TBC

Comment like Oxygen for me😉

14 responses to “≈Copy and Paste Case : True…≈

  1. eonni, yang ini belum ada lanjutannya yah? aku suka juga crita yang ini lhooo. soalnya aku suka detective hehe😀
    di lanjutin ya eonni, bagus ^^

    • sabar nanti abis *sebas ngitung hutang ffnya* sabar ya *ngelap keringat dingin* huaaaa *lama lama gila* *abaikan komen ga penting ini*

  2. hoho.. selesai sampe part 4🙂
    Kalau masalah golongan darah, tebakkanku pasti c Leeteuk yg ternyata anak dari mantan tunangannya nyonya Kim yg sebelumnya.. Pasti tunangannya nyonya Kim dibunuh sama tuan Kim deh.. trus teukie dendam.. jadi mau bunuh2an.. hoho #Plaak sok tau amat..

    next partnya ditunggu🙂

  3. ahh,,,apa leeteuk pembunuhnya..???
    kemungkinan pertama dan satu2.x karena dia anak pertama…dan bukan tidak mungkin klo leeteuk bukan anak kandung dari Tn. Kim…
    bisa saja ibunya sudah mengandungnya sebelum menikah dengan Tn. Kim…
    dan kemudian setelah tahu hal itu…dia balas dendam dengan kejadia kematian orang tuanya..hmm..

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s