≈Copy and Paste Case :Three Children!≈

Mereka bertiga berdiri di sana. Lelaki tertua bernama Leeteuk memiliki raut muka tenang dan berwibawa, sesuatu yang tidak di miliki oleh Kangin. Ia duduk di atas kursi roda saat memasuki ruang tamu dengan di bantu adik lelakinya yang lain. Kim Ryeowook. Kibum merasa penilaian Tuan Kim memang tidak salah. Ryeowook kelihatan lebih feminim dari kedua Hyungnya. Meski begitu tidak pernah terlintas dalam benak Kibum untuk menuduh seseorang seperti Ryeowook sebagai pembunuh.

Tapi entahlah, yang pasti salah satu dari mereka di curigai oleh Tuan Kim sendiri sebagai pelaku pengiriman surat kaleng ancaman itu. Dan seseorang dari anaknya sendiri yang telah membunuhnya

“Anda siapa?” tanya Leeteuk sopan tetapi menjaga jarak

Kibum membungkuk sekali lagi, “saya Kim Kibum. Orang suruhan Ayah Anda–Tuan Kim untuk menye–

“Sudah aku peringati dia Hyung!” tukas Kangin tidak sabaran, “tetapi masih saja keras kepala! masa dia berani menuduh kita secara tidak langsung sebagai orang yang tega membunuh Appa”

Mendadak suasana kembali berubah tegang. Kalau tidak salah, kedua mata Ryeowook melebar seketika sedangkan wajah tenang Leeteuk menjadi kalut. Mereka bertiga saling bertukar pandangan. Sibuk dengan pikiran masing masing

“Jadi…” Leeteuk membenahi raut wajahnya–tanpa ekspresi, “Anda mau apa dari kami?”

Kibum tersenyum diam diam, “yang saya inginkan adalah perincian kegiatan yang anda bertiga lakukan seharian tepat pada waktu Tuan Kim meninggal. Karena ia di temukan sudah terbujur kaku jam 6 pagi. Berarti perkiraan kasarnya Tuan Kim meninggal dini hari atau kurang. Nah bisakah saya meminta penjelasan semua itu dari Anda?”

“Kalau kami menolak?” tanya Leeteuk sama sama bersikeras seperti Kangin, “Anda bukan polisi. Tidak punya wewenang. Malahan kami punya hak untuk mengusir anda dari rumah kami karena telah mengganggu ketenangan di sini”

Kali ini Kibum tidak bisa berkutik. Leeteuk memang benar, dia tidak punya kuasa sama sekali. Di tambah lagi klien pertamanya sendiri sudah meninggal.

“Hmm, baiklah” Kibum mengangguk lemah, “saya kalah. Saya akan pergi dari sini” ia baru berbalik arah ketika hendak mengatakan sesuatu, “Ah, tetapi kepergian saya bukan berarti saya menyerah mengusut kasus ini hingga tuntas. Saya akan tetap mencari tahu”

Kangin menggeram marah, “cari saja sendiri!!! ingat sedikit saja kau berani mencemarkan nama baik kami. Aku tidak akan tinggal diam!!!” ancamnya

Tetapi Leeteuk menepis tangan Kangin yang teracung ke arah Kibum, “Kangin! biarkan saja mau lelaki ini. Jangan terpancing olehnya”

“Ternyata ada yang bisa menggunakan otak dingin disini” balas Kibum tenang. Pandangannya menyapu pada ketiga kakak beradik itu. Ia lalu berbalik tanpa mengucapkan salam perpisahan.

Bibi Eun Hye dengan terlatih mengantar kepergian Kibum ke pintu gerbang. Ia melayangkan pandangan minta maaf, “Tuan Kangin memang kasar orangnya–jangan di masukkan dalam hati”

“Tenang saja Bi” kata Kibum, “Saya tidak usah di antar lagi. Cukup sampai di sini saja” tolaknya halus

“Ah, tidak apa apa Tuan. Saya sekalian menunggu Kireun. Gadis itu sudah belanja hampir satu jam di pasar. dia selalu berbelanja setiap hari untuk persediaan makanan dan sampai sekarang belum kembali. Aishh, anak muda jaman sekarang memang tidak displin” gerutunya sambil melirik kejauhan. Mengharap Kireun akan datang secepatnya

“Apakah dia pembantu juga di rumah ini?” tanya Kibum tiba tiba tertarik

Perhatian Bibi Eun Hye teralih, “Iya Tuan–belum lama. Baru 2 tahun belakangan”

“Hmmm”

“Ah itu dia!!!” pekik sang Bibi lega, “Kireun!!! aishh, cepat!!! jalan saja lelet!! keburu jam makan siang!!!” teriaknya tegas

Kireun, gadis berumur 21 atau 20-an menurut perkiraan Kibum. Secara garis besar, gadis itu tidak terlihat istimewa. Rambut panjangnya di kepang dua layaknya gadis desa, mungkin ini suruhan sang Bibi agar majikannya tidak tertarik dengan Kireun.

Tiba tiba sebuah ide brilian timbul dari pikiran Kibum. Dengan terburu buru sebelum Kireun mendekat ia mohon diri, “Nah saya sebaiknya tidak menganggu pekerjaan Anda. Saya pamit dulu” ujar Kibum sopan

“Ne–hati hati Tuan” kata Bibi Eun Hye ramah

Kibum berjalan cepat sambil menutup wajahnya menggunakan topi. Ia sengaja merunduk untuk menghindari tatapan ingin tahu dari Kireun yang kebetulan berpapasan dengannya sebelum menghampiri Bibi Eun Hye. Namun gadis itu tidak bisa memperhatikan dengan seksama karena Bibi Eun Hye sudah meneriakan namanya lagi

Sang gadis terus berucap kalimat maaf dan beberapa alasan tentang kedatangannya yang tertunda sedangkan Kibum tersenyum dari balik topi dengan sebuah rencana sempurna untuk hari esok

*****

Kibum bangun agak siangan. Sekitar jam 10 pagi. Ia menggunakan kemeja kasual bercorak kotak kotak. Agak santai dari pakaian yang biasa ia pakai. Kibum juga sengaja menanggalkan kacamata bacanya. Rambutnya yang tersisir rapi, di buat sedikit berantakan. Di tata penampilannya sekali lagi dalam cermin dan Kibum langsung tersenyum puas.

“Sempurna” gumamnya. Di ambilnya sebuah kunci rumah lalu menutup pintu depan sambil bergegas pergi ke arah pasar yang kebetulan tidak berada jauh dari situ

Dengan teliti dan berhati hati, pandangan Kibum melihat ke sekeliling secara seksama. Ia tersentak ketika mendengar seorang gadis sedang belanja bahan makanan di sudut kanan pasar.

“Pak, Ikan salmon 2 kg. Sayur selada 3 ikat dan…” gadis itu mengangkat belanjaan di tangan kanannya yang sudah penuh sambil membacakan kembali bahan bahan makanan yang masih belum di beli. Tentunya ia begitu kerepotan apalagi saat penjual menyerahkan belanjaannya. Alhasil sang gadis terhuyung ke depan dengan kantung plastik penuh di tangannya

BRAKKKKK

“Ouch” rintihan seorang namja yang di tabrak oleh sang gadis

“Ah mianhe!! mianhe Tuan” kata gadis itu. Ia bahkan membantu namja itu berdiri terlebih dahulu di bandingkan membereskan belanjaannya yang berserakan di jalan, “maaf Tuan” ucapnya berulang ulang

Namja itu menengadahkan wajahnya, “tidak apa apa. Saya juga salah berjalan tidak hati hati” Gadis itu termangu melihat wajah namja itu dari dekat. Amat tampan. Tanpa sadar, sang gadis tertunduk dengan rona merah menghiasi wajahnya. Pendidikannya sebagai seorang pelayan melarangnya untuk menatap lama orang di hadapannya. Tidak peduli meskipun orang itu bukan majikannya. Ia memilih membereskan bahan belanjaan yang tercecer sementara sang namja beranjak berdiri. Lelaki itu dengan sopan juga ikut membantunya

“Terimakasih” katanya sambil tertunduk, “dan maaf karena Tuan..

“Saya sudah bilang tidak apa apa bukan” tukas lelaki itu ringan, “mari saya bantu membawakan belanjaannya”

“Tapi Tuan–

“Kau bisa menabrak orang lagi nanti” kelakarnya, “sudah! jangan menolak, tenaga lelaki jauh lebih besar ketimbang wanita. Tidak seharusnya kau berbelanja sebanyak ini hanya sendirian”

Sang gadis mengangguk cepat, “itu benar Tuan. Namun apa mau di kata ini tugas saya berbelanja sedangkan Bibi Eun Hye yang memasak di rumah”

“Bibi Eun Hye bibimu?” pancing sang namja. Mereka berjalan berdua berdampingan sambil berusaha keluar dari kerumunan pasar

“Bukan. Dia senior saya di tempat bekerja.” gadis itu kelihatan malu malu, “saya pelayan Tuan” katanya segan

“Itu tidak masalah” jawab sang namja, “siapa namamu? ah dari tadi kita belum berkenalan. kenalkan saya Kim Kibum” sambung Kibum sambil membungkuk hormat

“Saya Kireun” kata gadis itu berseri seri, nampak jelas jika Kireun tertarik dengan Kim Kibum. Buktinya ketika Kibum berbasa basi untuk meneraktirnya minum di sebuah kedai tak jauh dari pusat kota, tanpa berpikir panjang Kireun langsung mengiyakan permintaan Kibum. Ia sama sekali lupa jika Bibi Eun Hye bisa mengamuk lagi karena keterlambatannya

“Jadi…” Kibum berusaha berhati hati memulai pembicaraan, “Kau sudah lama bekerja di sana?”

Kireun berhenti mengaduk teh miliknya, “belum Tuan. April besok genap 2 tahun saya menjadi pelayan di sana”

“Jangan panggil aku Tuan–panggil namaku saja Kibum. Beres kan?” senyum khas Kibum merekah, membuat Kireun tiba tiba bersikap agak linglung. Ia sendiri bingung kenapa lelaki di hadapannya sekarang bisa begitu memikat

“Iya…Tuan…tidak tidak! Kibum..” Kireun merunduk malu

“Nah kan jauh lebih enak. hmm…apakah kau betah kerja di sana? maksudku, lihat saja sekarang–kau kerepotan”

“Yahh…” Kireun mengangkat bahu–lemah, “kalau kerepotan sih sudah biasa. Tetapi jika menyangkut masalah kematian…saya agak….” ia bergidik

“takut?” tebak Kibum

Kireun mengangguk lagi, “bayangkan saja keadaan rumah tempat saya bekerja selalu berubah ubah. Dulu waktu saya masuk pertama kali, mereka terlihat sebagai keluarga harmonis. Tuan besar yang kasar namun sangat mencintai istrinya. Memiliki 3 anak lelaki yang tampan tampan. Aishh, kurang apa lagi! tetapi dalam beberapa bulan semua berubah! saya amat ingat hari di mana Tuan bertengkar hebat dengan Nyonya, dan yang mengherankannya lagi Nyonya berani melawan Tuan!! padahal selama ini Nyonya pasti mengalah lalu mereka berbaikan lagi tak lama kemudian.”

Tanpa di minta, Kireun menceritakan semua hal yang merupakan gosip para pelayan kepada Kibum. Tanpa tahu jika Kibum memasang kuping lebih tajam untuk mencerna ucapan Kireun

“Kau masih ingat bulan apa mereka bertengkar?” tanya Kibum dengan nada sambil lalu agar Kireun tidak curiga sama sekali

“Bulan Oktober!!!” kata Kireun, “saya amat ingat!! karena bulan november tiba tiba penyakit lama Nyonya kambuh lagi. Ia tidak bertahan lama. Awal bulan Desember…” Kireun menutup mulutnya–larut dalam ceritanya sendiri, “maafkan saya…Nyonya sangat baik kepada kami, orang orang kecil…”

Kibum bersikap kesatria. Ia mengambil tissu lalu memberikannya kepada Kireun, “memangnya kau bekerja di mana?” tanyanya pura pura tidak tahu. Untuk satu ini Kibum pandai bersandiwara. Kalau perlu dia akan merayu gadis ini supaya mau memberinya informasi secara tidak langsung

“Mungkin kau pernah mendengarnya di surat kabar. Kematian Nyonya memang tidak mengenakkan tetapi kematian Tuan….tidak ada yang menduganya…ia meninggal akibat radiasi sulfur entah apa namanya saya tidak tahu”

“Ah–Tuan Kim Jungsu yang terkenal itu bukan!!!” tebak Kibum

“Iya!!! sudah saya duga, kau pasti tahu. Dia kan orang kaya yang terkenal” sekarang Kireun sudah berhenti menangis. Ia menyeruput teh dalam dalam agar lebih tenang

“Tapi aku dengar ada desas desus jika…” Kibum sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Kireun sambil melirik kanan dan kiri. Memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka, “Tuan Kim terbunuh” kata Kibum bernada dramatis

“Ah tidak mungkin” tolak Kireun, “Tuan besar meninggal secara wajar..” meski begitu, Kibum menangkap keragu-raguan dari ucapan Kireun.

“Ayolah….mungkin ada anak yang bertengkar atau harta menjadi sebabnya…”

Kireun menatap Kibum dengan pandangan putus asa, “Kibummie….apa aku boleh menceritakan sesuatu denganmu.Entahlah aku agak–

Dengan gesit Kibum mengambil kesempatan ini, ia merengkuh kedua tangan Kireun ke dalam genggamannya, “ceritakan saja kepadaku..mungkin kau akan merasa lebih lega” pinta Kibum lembut

Tentu saja Kireun luluh, ia menghenyakkan diri ke badan kursi, “Aku harus bingung atau bagaimana…tetapi aku merasa ada yang tidak beres….mangkuk itu!! mangkuk sop itu berbeda!! dan hanya aku yang tahu akan hal itu!” ia mengucapkan kata kata dengan agak histeris

“Mangkuk? mangkuk apa?”

“Tuan Besar suka sekali memakan semangkuk sop bawang sebelum tidur. Dan pada malam sebelum di temukan meninggal esok paginya, aku yang bertugas menuangkan sop untuk Tuan besar”

“Apakah kau juga yang memasaknya?” tanya Kibum tajam

“Tidak…” Kireun berhenti sejenak, “Tuan Ryeowook yang memasak malam itu. Memang tidak seperti biasanya”

Jari jari Kibum terlepas dari tangan Kireun. Ia mengepalkannya tertahan, “Lalu maksudmu dengan mangkuknya berbeda? Tuanmu yang menukarnya?”

“Kau salah lagi, Aku yang sedang terburu buru membantu Bibi Eun Hye di dapur secara tidak sengaja menjatuhkan mangkuk itu sebelum di isi. Bibir pinggirannya pecah–hanya sedikit kok.Tetapi karena Bibi Eun Hye terus menyerocos tidak jelas dan Tuan Besar sudah berteriak kencang dari lantai atas. Tuan Ryeowook berbaik hati. Ia mengambil mangkuk dari tangan saya lalu menuangkan sup panas dan membawanya keluar dari dapur. Mungkin Tuan Ryeowook hendak memberikannya langsung ke kamar Tuan Besar” jelas Kireun panjang lebar

Kibum menarik nafas yang sedari tadi ia tahan, “Dan apa maksudmu mangkuknya berbeda?”

“Pada waktu para polisi menyusuri kamar, setelah itu kami para pelayan di suruh membereskannya dan kau tahu apa Kibum?” Kireun mencengkram lengan Kibum dengan ketakutan yang terlihat jelas, ” mangkuk di kamar itu berbeda. Pinggirannya halus dan tidak bercela sama sekali. Ketika aku menanyakan kepada Tuan Ryeowook dan Bibi Eun Hye mereka tidak merasa telah mengganti mangkuk yang aku rusakkan itu!! jadi….” mata Kireun membulat ketakutan, “apa mungkin Tuan Besar yang menggantinya? tidak mungkin bukan”

“Tetapi kalau hanya masalah mangkuk kenapa kau jadi ketakutan begini?” sela Kibum

“Karena…” Kireun menelan ludah, “kemarin aku mendengar Tuan Kangin berteriak tentang detektif yang datang kerumah. Ia berkata jika detektif gadungan itu berpendapat seseorang dari rumah bisa meracuni Tuan besar dengan memasukkan beberapa sulfur ke dalam sup mustard. Aishh Kibum!!! kau tidak tahu betapa takutnya aku!! bagaimana jika polisi mengadakan pemeriksaan lebih lanjut dan menyadari jika Tuan Besar memang suka memakan sup bawang sebelum tidur. Bau mustard dan bawang kan hampir sama!!! lalu mereka tahu mangkuk yang di dalam kamar itu dengan yang aku berikan berbeda!!! bisa bisa aku di tuduh oleh mereka, Kibum!!”

Mata Kibum menyelusuri jalan di luar kedai dengan menerawang jauh. Ia tidak mengindahkan ucapan Kireun untuk beberapa saat.

Hanya satu hal yang pasti sekarang. Sudah di temukan, apa wadah yang di gunakan pembunuh untuk meracuni Tuan Kim…..

Ada dari ketiga anak tersebut yang telah menukarkan mangkuk berisi racun untuk dimakan Tuan Kim dalam kamar. Tetapi siapa??

Tuan Ryeowook!! Tuan Ryeowook yang memasak sup bawang malam itu…

TBC

7 responses to “≈Copy and Paste Case :Three Children!≈

  1. Nah nah nah nah. Jadi tambah bingung :s tapi saya tetep pada tebakan awal ah, pelakunya si Tuan Feminin.
    Btw, saya penasaran apa maksud judulnya ‘Copy and Paste’? I can’t found any relation with the case. Oh, atau saya yg terlalu lamban berpikir ya -__-

  2. Semakin menarik.
    *bingung mau komen apa lg, sy gak bkat jd detektive sih==”

  3. Waoooooooooow,,, bagus bagus *kehabisan kata-kata kayaknya nih*
    #berharapbukanWookie. kekekek.

  4. part sebelumnya…mengindikasi kangin yg jadi pembunuhnya…soal.x wataknya keras & mudah marah…selain itu kangin juga tau banyak soal bahan kimia….
    part sekarang…malah menunjuk k ryeowook…wah wah…

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s