≈No Other Like U-Forty Five-{Working}≈

“Istri anda dan janin yang dia kandung dalam keadaan sehat” jelas sang dokter, “semua perkembangan janin normal” senyum dokter Ahra merekah, “apakah kalian mau tahu jenis kelamin sang bayi?” tanyanya kepada kedua pasangan muda mudi di depannya

“Tidak Dokt” jawab Kyuhyun dan Sungmin bersamaan.

Mereka tidak sengaja berkata sekompak itu—Sungmin bahkan melirik Kyuhyun dengan perasaan ingin tahu, “kamu kenapa ngga mau tahu?” tanyanya

Kyuhyun mengangkat bahu, “buat surprise aja, lagian aku udah pasti banget anak kita itu beneran laki laki, kamu aja yang ngeyel” sindirnya

“Yee….seorang Ibu itu perasa tahu!” balas Sungmin tidak mau kalah, “entah kenapa aku sama yakinnya kalau anak kita ini perempuan, Kyu”

Kyuhyun mendelik tidak setuju, “laki laki!”

“Perempuan!” kata Sungmin agak meninggikan suara

“Eh” Dokter Ahra yang tahu pertengkaran ini tidak akan ada habisnya, segera melerai Kyuhyun dan Sungmin, “Berhenti!! Saya minta kalian jangan ribut di klinik ini” katanya menatap tajam

Kyuhyun dan Sungmin secara bergantian “Ah…” keduanya yang baru sadar, langsung tertunduk malu, “maaf dokter” balas Kyuhyun di sertai anggukan Sungmin

“Hmmm” Dokter Ahra mencatat sesuatu pada buku pasien Sungmin kemudian meletakkannya di seberang meja, “yang terpenting, bayi anda berdua sehat. Anda sebagai seorang Ibu harus menjaga makanan dan juga berolahraga secara teratur—baik juga jika menyempatkan waktu untuk melakukan senam kehamilan, sangat membantu sewaktu melahirkan nanti” saran Dokter Ahra kepada Sungmin

“Tidak….” Sungmin tersenyum lemah sambil mengelus perutnya yang besar, “saya sibuk dokter, kami sedang mempersiapkan ujian kelulusan, jadi saya takut kecapekan” jelasnya sangsi, “tidak harus kan Dok, saya senam hamil?”

“Oh tenang saja!” kata Dokter Ahra ringan, “itu bukan suatu keharusan kok, asal Anda jangan terlalu memforsir tenaga juga” tatapannya beralih ke arah Kyuhyun, “mungkin suami anda bisa membantu supaya melakukan senam ringan di rumah sesekali”

Kening Kyuhyun berkerut—tidak mengerti, “Ah mungkin nanti Dokt” ucapnya—mungkin nanti Umma bisa mengajarkannya langsung kepada Sungmin. Kata Kyuhyun dalam hati

“Baiklah, kita sudah selesai” Dokter Ahra mendorong bangkunya untuk bangkit berdiri.

Sementara itu Kyuhyun dengan sigap mengalungkan sebelah tangannya di pinggang Sungmin saat ia beranjak dari kursi, “selamat malam” ucap sang dokter mengantar kepergian Kyuhyun dan Sungmin dari depan pintu klinik

“Malam Dokt” balas mereka serempak lalu berbalik arah menuju jalan besar di persimpangan. Kyuhyun sengaja tidak membawa motor karena takut kalau di suruh membonceng Sungmin yang sedang hamil besar sehingga mereka berdua memutuskan berjalan kaki saja—toh tempatnya memang tidak terlalu jauh dari rumah

“Kamu kedinginan?” tanya Kyuhyun sambil menuntun langkah Sungmin dari samping. Cuaca hari hari terakhir memang tidak menentu. Kadang panas kadang berubah dingin seperti malam ini.

Sungmin meringis sebentar lalu menggelengkan kepala perlahan, “ngga” meski begitu, Sungmin mempererat genggaman tangan Kyuhyun. Udara dingin mulai menjalar ke lehernya yang tidak menggunakan syal “Aishh bilang aja kalau kedinginan!” Kyuhyun memapah tubuh Sungmin dan berusaha berjalan lebih cepat—dia panik karena bibir atas Sungmin mulai terlihat pucat.

Sesampainya di rumah, Kyuhyun langsung menyuruh Sungmin berbaring di atas kasur selagi dia menghidupkan mesin pemanas ruangan.

“Gimana? Masih dingin?” tanya Kyuhyun ketika berbaring di sebelah Sungmin

Sungmin yang sudah bergelung hangat di dalam selimut menggeleng pelan, “sekarang jauh lebih baik Kyu” senyum lebar Sungmin merekah dari bibirnya namun seketika senyum itu hilang saat Kyuhyun bersingut ikut masuk ke dalam selimut. Tubuhnya hanya berjarak beberapa senti dari Sungmin sampai lengan Kyuhyun menarik pinggangnya agar mendekat. Jantung Sungmin berdetak lebih cepat—nafasnya semakin memburu ketika sadar wajah Kyuhyun sedari tadi menatapnya, “kamu kenapa Minnie?” tanya Kyuhyun melihat perubahan wajah Sungmin tegang

Dengan susah payah Sungmin mengeluarkan suaranya, “ngga—“ ia mengerjapkan mata berulang kali, “ngga ada apa apa kok” ulangnya sambil merunduk agar tidak menatap Kyuhyun terus menerus

Kyuhyun berdecak kesal, “kalau ngga ada apa apa, kenapa kamu malah buang muka gitu ngeliat aku!” kata Kyuhyun gusar, “kamu jangan aneh aneh lagi deh, Minnie” Kyuhyun melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Sungmin, untuk mengangkat wajah istrinya agar mendongak dan betapa terkejutnya Kyuhyun melihat muka Sungmin berubah merah padam hingga ke belakang telinga

“Aduh, Minnie kamu kenapa?? Demam?” Kyuhyun langsung menaruh punggung tangannya ke atas kening Sungmin, mengeceknya langsung, “suhunya normal kok—aishh, kamu kenapa! Jawab ngga!” bentak Kyuhyun mulai tidak sabar karena dari tadi Sungmin hanya terus merunduk cemberut dengan muka merah merona

“Aku….” Sungmin berusaha sekuat tenaga mengeluarkan suara dan bermaksud berbicara tentang perasaan aneh yang tiba tiba menguasai tubuhnya, namun dia takut kalau Kyuhyun akan marah marah. Wajahnya terus bertambah memerah setiap kali Kyuhyun menyentuh kedua pipi, tangan, ataupun tubuhnya

“ayo jawab Minnie…jangan bikin aku tambah khawatir…” bisik Kyuhyun cemas. Di elusnya kedua sisi wajah Sungmin lembut, berusaha me-reka reka apa yang tengah di rasakan oleh Sungmin hingga wajahnya menjadi merah padam seperti ini

“Kyu…” bisik Sungmin serba salah. Tangannya menggenggam kaus Kyuhyun erat erat sambil menggeser tubuhnya mendekat ke arah Kyuhyun—jauh lebih dekat

“ya? Ada ap—“ ucapan Kyuhyun terhenti, matanya terbelalak lebar—terkejut mendapati Sungmin tiba tiba menciumnya. Kyuhyun pun larut dan membalas ciuman Sungmin seraya perlahan lahan menutup kedua matanya

Cukup lama mereka berciuman hingga berbalik sekarang Kyuhyun yang mencium Sungmin semakin dalam. Jika saja, Kyuhyun tidak menahan dirinya mungkin saat ini dia akan melakukan hal lebih kepada Sungmin

“Hmm” Kyuhyun melepaskan ciumannya, “maaf Minnie—aku kelepasan” ujarnya ketika menaruh kepalanya di balik bahu Sungmin.

Nafas mereka sama sama terengah engah. Sungmin menarik nafas panjang sebelum mempererat pelukannya di tubuh Kyuhyun, “kelepasan juga tidak apa apa” gumamnya membalas perkataan Kyuhyun

“Eh?” Kyuhyun tercengang mendengarnya, di tarik tubuhnya agar bisa menatap wajah Sungmin secara langsung, “Kamu…..” di lihat baik baik perubahan sikap Sungmin yang sedari tadi gelisah di sertai muka semerah kepiting rebus lalu berakhir dengan mencium suaminya sendiri. Lambat laun pikiran Kyuhyun berujung pada satu hal

“Minnie…” bisiknya perlahan, “ kau…..menginginkanku?” Kyuhyun berusaha mengatakannya sehalus mungkin mengingat tabiat Sungmin yang masih terlalu polos

Akhirnya Sungmin berani menatap ke arah Kyuhyun yang berada terlalu dekat dengannya.

DEG

Perasaan itu timbul lagi dan semakin kuat menggebu dalam diri Sungmin

Tidak dapat di sangkal, Sungmin mengangguk lemah lalu tertunduk lebih dalam untuk menyembunyikan rona merah wajahnya, “maaf…”

“Kok malah minta maaf?” tanya Kyuhyun yang diam diam menahan senyumnya

“Aku takut kamu marah karena aku meminta yang tidak tidak” jelas Sungmin masih mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun

“Kata siapa” gumam Kyuhyun sekali lagi meraih pinggang Sungmin agar mendekat ke arahnya. Pelan pelan Kyuhyun mengangkat wajah Sungmin, lalu di kecup bibirnya—ringan, “aku tidak marah kok, hanya saja lain kali bilang….” Ujar Kyuhyun tidak melepaskan tatapannya dari Sungmin. Dia mencium bibir Sungmin lebih lembut sebelum memperdalam setiap kecupannya. Refleks, Sungmin benar benar menarik tubuh Kyuhyun semakin dekat dan membawanya dalam dunia mimpi milik mereka berdua

Sekolah St Christie

“Dongwook?”

“Hadir pak” jawab salah satu anak dua bangku dari depan Siwon

Pak Herman mengangguk paham kemudian melanjutkan membaca absen, “Seunghwan?” panggilnya

Seseorang lelaki berkacamata yang sedang tekun membaca buku teks sejarah setebal 123456 halaman, mendongakkan kepala, “Ah—saya hadir pak” katanya singkat dengan suara yang terdengar begitu merdu untuk seorang Sebas—

*gw harus stop kebiasaan gila gw ini*

Selanjutnya Pak Herman mengurutkan nama sampai kepada, “Sungmin?”

Tidak ada jawaban

Pandangan Pak Herman menyapu ke sekeliling kelas. Dua bangku sejajar yang tidak jauh dari tempat duduk Chulie dan Kibum masih kosong sejak tadi

“Aishh, pasti mereka berdua terlambat” decak kesal Pak Herman sambil memandang ke arah Chulie, “Heechul! Kau tahu kenapa mereka bisa terlambat begini?”

Chulie langsung menggeleng bingung, “tidak tahu Pak, biasanya juga mereka tepat waktu”

“Iya juga….tumben…” gumam Pak Herman hendak beralih memanggil nama murid selanjutnya ketika terdengar bunyi suara gaduh dari luar.

“Ayo cepat!” bisikan seorang namja dengan langkah kaki terburu buru dari arah tangga hingga sampai di depan kelas mereka. Tangannya terulur memegangi satu orang lagi yang tergopoh gopoh mengikutinya dari belakang

“Maaf Pak—kami…” Kyuhyun menarik nafas panjang terlebih dahulu, “kami terlambat….” Sesalnya sambil mendekati tempat duduk guru di depan

Namun Pak Herman bukannya menjawab malah melihat dengan ngeri ke arah belakang Kyuhyun, “Kyuhyun! Kamu berdua lari lari di tangga???”

“Ah?” Kyuhyun melirik Sungmin dan Pak Herman bergantian, “Ngga kok Pak, cuma saya aja yang jalan kecepatan, Sungmin ngga saya suruh lari” jawabnya mengerti maksud Pak Herman

“Bagus” Pak Herman menghela nafas lega, “saya lebih suka kalian terlambat satu jam daripada Sungmin kenapa kenapa…wanita hamil kan seharusnya di jaga ketat” terangnya sambil mengenang sesuatu. Ia menggeleng pelan lalu memberi isyarat agar Kyuhyun dan Sungmin kembali ke bangkunya masing masing

“Baiklah….kalau sudah siap kita akan mulai pelajarannya” ucap Pak Herman seraya berdiri ke depan kelas, mengambil spidol kemudian menuliskan beberapa keterangan singkat di papan tulis

___

“tumben banget kalian berdua bisa telat?” tanya Chulie yang berbicara lantang sambil mengunyah jatah makan siangnya setelah di beli Kibum bersama Kyuhyun tadi. Mereka memutuskan makan di dalam kelas pada saat jam istirahat tiba untuk menemani Sungmin yang tidak di ijinkan oleh Kyuhyun lagi pergi ke kantin (katanya karena kantin selalu penuh dan seluruh orang kelaparan satu sekolah pasti berebutan makanan pasti berbahaya jika mengajak Sungmin ke kantin, makanya Kyuhyun menghindari resiko itu)

“Ha?” Kyuhyun dan Sungmin saling bertukar pandangan. Sungmin sendiri langsung tertunduk lalu menyendokkan makanan lebih banyak ke dalam mulutnya sedangkan Kyuhyun menarik nafas tegang sambil mencuri pandang ke arah istrinya sendiri

Chulie yang merasa gemas, mengulangi pertanyaannya, “ada apa sih? Emangnya tadi malam kalian belajar sampai pagi gitu?” tebakannya meleset

Sungmin sempat tersedak namun berhasil menyamarkan bunyi suaranya sementara Kyuhyun memutar kedua bola mata tanpa membalas omongan Chulie sama sekali

“Ngga baik itu Kyu” kata Kibum menanggapi ucapan Chulie, “lo kan kalo ngajarin orang galak banget! Ngga kasian apa, Sungmin kan lagi hamil. Kasih pengecualian kek”

Chulie mengangguk setuju dengan perkataan Kibum, “Iya, paling ngga—

“Ngga kok!” bantah Kyuhyun tidak tahan lagi di salahkan oleh mereka berdua. Padahal tadi malam itu juga terjadi karena kemauan Sungmin—bukan dia, “gw tuh tadi malam sibuk memenuhi permintaan ngidamnya Minnie—makanya kurang tidur” jelas Kyuhyun abstrak. Seringai dari sudut bibirnya mengembang begitu rupa hingga membuat Sungmin mengalihkan pandangan dari Kyuhyun

“Oh” Kichul manggut manggut paham, “emang kamu ngidam apaan?” lanjut Chulie lugu.

Mendengar pertanyaan itu, wajah Sungmin spontan memerah. Mulutnya yang penuh makanan berhenti mengunyah sambil memasang wajah minta tolong kepada Kyuhyun.

“Ngg….” Kyuhyun melirik Sungmin sekilas, “lebih baik tidak usah di bahas, eh bukannya kita mau bicarain masalah kerjaan waktu itu Kibum?” Kyuhyun sengaja mengalihkan pembicaraan karena menimbang nimbang sikap Sungmin yang bisa malu setengah mati kalau sampai saudara kembarnya—Chulie dan Kibum tahu ‘apa ngidamnya’ Sungmin tadi malam

Kibum menaruh tempat makannya yang telah bersih ke atas meja, “hmm, nanti pulang sekolah rencananya gw mau ngajak kalian ke sana buat ngelamar sama sama” dia menoleh ke arah pintu kelas, “gw sih udah nyuruh si Hangeng ke sini pas istirahat, tapi mana tuh anak!” keluh Kibum tanpa menyadari perubahan wajah Chulie yang kaget

“Kerja??” desis Chulie sedikit terperangah lalu menatap tajam Kibum. Ia berdiri tegap namun tidak meninggalkan wajah tegangnya sama sekali, “kamu kok mau kerja!! Kan kita udah tingkat akhir! Aishhhh, ini lagi—istrinya lagi hamil malah ditinggal kerja!!” bentaknya mengarah ke Kyuhyun sekarang

Kedua namja itu mengangkat bahu sambil bertukar pandangan satu sama lain, Kyuhyun yang pertama kali membela diri, “udahlah Heenim..kami punya keperluan masing masing yang mendesak, lagian kita udah mikirin masalah ujian, gampanglah” celetuknya ringan

“Ngga!” bantah Chulie semakin meninggi, “aku bisa kasih tahu Appa nanti” ancamnya kepada Kyuhyun

Terang saja emosi Kyuhyun terpancing mendengar ucapan Chulie, “jangan berlebihan Heenim…” desisnya tajam, “ini cuma masalah sepele, lagian kami bisa bagi waktu”

“Iya” Kibum perlahan lahan merangkul bahu Chulie untuk menenangkan pacarnya, “kamu jangan marah dulu sayang, anggap aja—aku sama Kyuhyun lagi terjun ke dalam kehidupan nyata” terangnya lembut.

Tetapi Chulie tidak melunak sedikitpun, ia menepis tangan Kibum lalu berbalik menatapnya sengit, “jangan bilang ini karena omongan orangtua kita minggu kemarin?” selidik Chulie dengan suara bergetar, “kamu tahu kan—aku ngga maksain kamu untuk…

Kibum buru buru menyela Chulie, “Ngga! Beneran ngga! Aku udah siap, bukan…kita tuh….” Sekarang Kibum serba salah, di liriknya Kyuhyun yang tenang—tidak di cecar pertanyaan oleh Sungmin. Sejenak ada perasaan iri melihat mereka berdua

“Udahlah Heenim” tukas Kyuhyun membantu Kibum yang kewalahan, “kerja ini, kami pasti bisa bagi waktu”

“Tapi…” suara Sungmin akhir terdengar. Setelah menyelesaikan beberapa porsi makanan, ia mendongak dan menatap Kyuhyun dengan pandangan menilai, “Chulie betul, kalian buat apa cari kerja? Emangnya mau beli game baru?” tanyanya polos

“Aishhh” Kibum dan Kyuhyun serempak mendengus gemas sedangkan Chulie malah melipat tangan di dada sambil terus melihat tajam kepada Kibum

“Kami cuma mau kalian ngedukung, ok?” Kyuhyun merangkul bahu Kibum dan menariknya menjauh, “kita ke kelas sebelah dulu, mau ketemu sama Hangeng” ujarnya keras lalu pergi keluar berdua dengan terburu buru. Jelas sekali jika mereka mau menghindari amukan Chulie yang berkepanjangan

“dasar!” Chulie duduk di bangku Kyuhyun. Wajahnya berubah pedih ketika bertatapan dengan Sungmin, “Minnie….” Panggilnya seraya menaruh kepala di atas meja, “aku ngga suka Kibum kerja” lirihnya pelan

Sungmin menarik nafas dalam dalam, “aku sebenarnya juga ngga mau…..bahkan aku baru tahu hari ini kalau Kyuhyun dan Kibum udah nyari kerja, tapi yah—gimana lagi…..” Sungmin menundukkan kepala, matanya menangkap perut di hadapannya yang semakin membesar

“soalnya” Chulie merubah posisi duduknya lebih tegap namun masih terlihat sedih dan kecewa, “aku tahu kenapa Kibum begitu, dia pasti kerja buat aku….” jelasnya.

Sungmin tidak bisa berkata apa apa lagi. Dia hanya mengelus pundak Chulie—menenangkannya hingga tak terasa bel masuk telah berbunyi kembali

*****

“Minnie, kamu kenapa?” tanya Kyuhyun yang tengah sibuk mengupasi jeruk untuk Sungmin di ruang depan. Rencananya hari ini Kibum dan Hangeng akan mampir ke rumah mereka supaya bisa pergi sama sama ke tempat kerja—sebuah café yang letaknya tidak jauh dari rumah Kyuhyun dan Sungmin

“Kamu ngga suka jeruknya?” tanya Kyuhyun sekali lagi sambil memasukkan satu bagian kecil jeruk ke dalam mulut Sungmin

Sungmin menggeleng pelan. Ia mengunyah lambat lambat semua jeruk yang di berikan Kyuhyun, “ngga….hanya……” ia mengigit bibir bawahnya—salah tingkah, “aku masih penasaran, buat apa sih kamu kerja? Bukan..bukannya aku melarang” Sungmin langsung menambahkan ketika melihat sikap Kyuhyun yang mendadak kaku, “hanya saja—apa ini gara gara kehamilanku?” bisik Sungmin dengan sedikit nada bersalah dalam suaranya

Kyuhyun berdeham kesal sambil terus membelah jeruk menjadi bagian kecil kecil sebelum dia menyuapi Sungmin kembali, “kamu tahunya beres aja, ok? Jangan pikirin macam macam, itu pantang buat Ibu hamil” perkataan Kyuhyun sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sungmin. Kyuhyun bahkan sengaja memasukkan beberapa potongan jeruk sehingga membuatnya sulit berbicara

“ta…mphhmmm” Sungmin menelan semua potongan buah itu dengan susah payah, “aku hanya ingin tahu, lagipula betul katanya Chulie—bisa bisa ini berdampak dengan ujian kelulusan kita Kyu! Aku sedang berbicara! Kenapa kau malah menyodorkan jeruk lagi!” Sungmin segera menutup mulutnya menggunakan tangan kanan ketika Kyuhyun malah meneruskan pekerjaannya menyuapi Sungmin sampai buah jeruk itu tidak bersisa

“Buka mulutnya!” hardik Kyuhyun sambil melotot ke arah Sungmin, “Ibu hamil harus banyak makan buah buahan! Sini!” ia dengan mudah menarik tangan Sungmin lalu menggenggamnya erat erat sementara satu tangan Kyuhyun hendak menyuapi Sungmin meski mulut Sungmin tetap tertutup rapat rapat

“Tuan Putriiiii, aku sebentar lagi mau berangkat….jadi kamu jangan malah nyusahin kayak gini…” sindir Kyuhyun gemas. Hampir saja tangannya melayang ke atas kepala Sungmin—namun ia tahan, mengingat Sungmin sedang mengandung

Mendengar itu Sungmin berhenti memberontak, bahunya terkulai lemas sambil menarik kedua tangannya yang di pegang oleh Kyuhyun, “aku memang nyusahin….” Bisiknya kecil, “kalau aku ngga hamil kamu pasti ngga perlu nyari repot repot nyari kerja begini” Sungmin memainkan ujung baju hamilnya dengan kepala tertunduk—tidak berani menatap Kyuhyun

Seketika itu juga Kyuhyun memeluk tubuh Sungmin erat erat. Dia tidak mengatakan apapun. Hanya terdengar bunyi hembusan nafas beratnya yang menyapu tekuk leher Sungmin dengan lembut. Setelah beberapa lama, Kyuhyun melirik jam di dinding lalu melepaskan kedua tangannya dari punggung Sungmin.

“Aku pergi dulu…kamu baik baik di rumah, jangan kemana mana” kata Kyuhyun memperingatkan Sungmin yang masih mematung di tempat. Perlahan, Sungmin mengangguk dan membiarkan Kyuhyun pergi keluar rumah tanpa menunggu Kibum dan Hangeng yang sudah bilang akan menghampiri Kyuhyun kemari

“apa Kyuhyun marah kepadaku?” gumam Sungmin makin merasa bersalah

Sementara itu

“Hyaaa!!!!!” pekik Kibum ketika mereka bertiga berjalan bersama sama menuju sebuah café yang terletak di persimpangan jalan. Teriakannya sontak membuat Kyuhyun dan Hangeng yang berada di samping kiri dan kanan Kibum menoleh

“Lo kenapa sih?” tanya mereka bersamaan

“Chulie…” suara Kibum nyaris frustasi, “dia beneran ngamuk tadi pas gw mau minta ijin buat pergi, arggh gimana nih!”

“Yah..itu udah resiko” balas Kyuhyun bernada datar—mau tidak mau, ia juga merasa tidak enak dengan Sungmin tadi. Benar tebakannya kalau Sungmin akan berprasangka buruk kalau Kyuhyun membicarakan ini secara terus terang. Kyuhyun tidak mau Sungmin terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu—tetapi lihat sendiri bagaimana reaksinya tadi

“Tenang aja” sahut Hangeng santai, “kita jalanin aja ini” karena melihat wajah dan sikap Hangeng yang biasa biasa saja, Kibum dan Kyuhyun spontan menatapnya ingin tahu, “elo….ga berantem sama Wookie?” tebak Kyuhyun mewakili pendapat Kibum, “enak banget”

“EH?” Hangeng segera menyanggahnya, “kata siapa—Wookie malah lebih parah, dia ngga mau ketemu sama gw, sampai gw jelasin pake alasan yang jelas dan berbobot kenapa gw mau repot repot cari kerja” ia mengerutkan bibirnya sambil mengenang pertemuannya tadi di  rumah Wookie. Tanpa ba-bi-bu, Wookie tersenyum manis lalu membanting pintu tepat di depan wajah Hangeng. Suara teriakannya terdengar hingga keluar pagar bahkan mungkin sampai ke tetangga tetangga sekitar rumahnya, “Pokoknya jangan berani ketemu sama aku kalau masih ngotot mau kerja!!!!” begitu ultimatum dari Wookie

Kibum dan Kyuhyun menghela nafas bersamaan. Ternyata mereka bertiga senasib sepenanggungan. Dalam diam, mereka melangkah pasti ke sebuah tempat yang sudah berada tidak jauh dari jalanan besar

Café berwarna pink cerah, bertuliskan ‘A La Bolee’ dengan tempat duduk di luar café di temani sebuah payung besar sebagai penghalang sinar matahari. Sebenarnya dari kejauhan, Kibum, Kyuhyun dan Hangeng mengagumi konsep café tersebut, apalagi menurut data yang di dapat Kibum, gaji pekerja sambilan di sini terbilang tinggi di bandingkan café café lainnya. Tapi…..pikiran mereka berubah saat melihat sesosok lelaki tegap, berwajah tampan yang sedang merapikan beberapa serbet di meja depan kasir

“Hai~” sapanya dengan suara melengking tinggi—mirip suara wanita, “kalian yang tadi menelepon ingin melamar kerja yah??” sambungnya masih menggunakan suara yang sama. Padahal jelas jelas, Kyuhyun bisa melihat jika mahluk di depannya ini benar benar….

“Maaf…” celetuk Hangeng menginterupsi sambutan lelaki tersebut, “anda pria kan??”

“EH?” Sontak Kyuhyun dan Kibum langsung membungkam mulut Hangeng sambil tersenyum memelas ke arah lelaki yang kemungkinan besar adalah pemilik café ini. Bisa bisa, belum di terima kerja, mereka udah di tendang keluar lagi

“Ngga maksud teman saya, apa anda Lee Seung Gi?” kata Kibum ramah masih memegangi mulut Hangeng di sertai tatapan mematikan dari Kyuhyun. Mereka memberi isyarat agar Hangeng bisa menjaga perkataannya

“Oh” wajah pria tampan itu berseri seri, “iya~ saya sendiri, perkenalkan saya Lee Seung Gi” ucapnya seraya mengamati ketiga anak muda di depannya dengan tatapan aneh. Sejenak, tubuh Hangeng langsung merinding ketika mereka berdua sedang kontak mata secara tidak sengaja

Kibum yang tadinya kesal dengan sikap Hangeng, malah jadi ragu. Ini orang beneran lelaki atau apa…..

“Salam kenal” sapa Kyuhyun formal—tidak mengindahkan perubahan gelagat tubuh dari Kibum dan Hangeng, “saya Cho Kyuhyun, Ini teman teman saya, Kim Kibum dan Lee Hangeng, kami mau mengajukan lamaran karena katanya di sini sedang membuka lowongan pekerja?” tanyanya profesional

“Hihihihi” Lee Seung Gi tertawa kecil sambil melirik mereka malu malu—persis seperti gadis yang sedang klepek klepek ngeliat cowok ganteng numpuk di depan wajahnya. Tidak heran jika Kyuhyun, Kibum apalagi Hangeng yang sudah takut dari awal langsung mundur tiga langkah ke belakang.

Lee Seung Gi menyudahi acara tertawanya yang sok imut itu, “iya benar~ saya memang menerima pegawai, tapi saya ngga nyangka” matanya berkedip sebelah, membuat bulu roman Hangeng makin berdiri tegap. Ia mundur beberapa langkah lagi dan bermaksud bersembunyi di belakang tubuh Kyuhyun

“saya ngga nyangka langsung dapet 3 namja ganteng kayak kalian~ iih beruntung banget, hahahahhahaa” lanjut Seung Gi masih dengan gaya melambai

“Ehmm” Kibum berusaha menenangkan diri sendiri, meski ia merasa lututnya lemas. Hanya karena sikap Kyuhyun yang tetap biasa biasa sajalah makanya kedua namja ini tidak lari dari tadi, “jadi bagaimana? Apakah kami di terima, atau masih memerlukan tes mas—

“Oh tidak perlu itu” sanggah Seung Gi memberi isyarat dengan tangan kananya agar mereka bertiga duduk di bangku bangku café yang masih berantakan, “masa saya nolak cowok ganteng, ih~ ngga banget deh…” Seung Gi sendiri duduk di hadapan mereka setelah mengambil beberapa formulir dari balik meja kasir, “ini kalian tanda tangani kontrak kerja selama 3 bulan ke depan, ok? Gaji kalian 3 kali lipat dari gaji gaji di café lain bahkan lebih tinggi ketimbang menjadi pegawai tetap” jelasnya sambil memberikan bolpoin kepada Kibum yang di gilir bergantian

“Tetapi ada syaratnya….” Ucap Seung Gi lembut. Tangannya memelintir rambutnya yang pendek dengan gaya genit dan mencoba mencuri perhatian dari salah satu calon pegawainya tersebut.

Hangeng yang sudah ketakutan dari tadi, tambah kalut, “kalau syaratnya jadi pacar anda—kami ngga mau deh!” elaknya kelewat polos. Terang saja, Kyuhyun dan Kibum menginjak kaki Hangeng dari balik meja café, “aw..”

Untunglah Seung Gi orang yang ramah. Ia menganggap omongan Hangeng hanyalah candaan belaka, “ah tidak kok! Kamu ada ada aja ih~” tangannya yang bebas mengelus pipi Hangeng sekilas sambil melanjutkan pembicaraan mereka, “syaratnya kalian harus mau bersikap ramah kepada para pelanggan karena seperti yang kalian lihat” Seung Gi menyuruh mereka bertiga mengamati ruangan café yang dominan di tutupi cat pink cerah, “café saya ini di dominasi oleh pernak pernik anak perempuan, menu menu lucu dan minuman manis yang bercita rasa, jadi sudah sangat jelas jika semua pengunjung café saya pasti kebanyakan anak gadis—terutama remaja remaja, dan saya sudah bisa bayangkan betapa sukses dan ramainya café ini kalau kalian bekerja sebagai pelayan” jelasnya panjang lebar, “kalian mau kan untuk be…ke…” Lee Seung Gi tertegun. Tatapannya serius ketika melirik tanpa sengaja ke arah tangan kiri Kyuhyun

“Kau sudah menikah??” suara ramah Seung Gi berubah tajam, sejenak Hangeng merasa aura kelaki-lakian Lee Seung Gi akhirnya keluar

“Eh?” Kyuhyun mengangkat lebih tinggi tangannya yang melingkar cincin sederhana di depan Seung Gi, “iya, ada masalah?”

“Itu masalah!” Seung Gi berdiri tegap tanpa melunakkan sikapnya sama sekali, “saya tidak mau tahu—lepaskan cincin itu selama bekerja, atau kau tidak akan di terima di sini” desisnya mengancam

“tapi apa hubungannya dengan pekerjaan saya sebagai pelayan?” tanya Kyuhyun masih tidak terima—selama menikah dengan Sungmin belum pernah ia melepaskan cincin itu dari tangannya

Wajah Seung Gi makin menegang, “ada hubungannya! Pelanggan saya nantinya hanya tahu kalau pelayan café ini, masih lajang! Tidak lebih~”

“EH?” Sekarang giliran Kibum dan Hangeng yang tercengang, “kami berdua juga sudah punya pacar, berarti…” gumam Kibum putus asa

“Huh” Seung Gi menghempaskan tubuhnya ke belakang kursi sambil menggerutu, “memang seharusnya saya tahu, namja namja ganteng kayak kalian pasti sudah punya pacar……tetapi saya juga sedang butuh orang untuk membantu~” Seung Gi berpikir keras dan menatap penuh perhitungan kepada ketiga orang di depannya itu

Kibum, Kyuhyun dan Hangeng menunggu dengan was was

Akhirnya Seung Gi menghela nafas panjang, “baiklah kalian saya terima” Kibum, Kyuhyun, Hangeng saling melempar pandangan lega, “tapi!!” suara ‘lelaki’ Seung Gi membuat sikap mereka kembali terdiam, “saya ngga mau tahu! Kamu!” tunjuknya ke arah Kyuhyun, “harus lepas cincin nikah selama bekerja, terus kamu! Dan kamu!” ia melanjutkan pembicaraan kepada Kibum dan Hangeng tanpa mendengarkan ucapan protes dari Kyuhyun, “jangan pernah menyebutkan sama sekali, atau mengajak pacar kalian mampir kemari! Mengerti!”

“Tapi—“ Kibum, Kyuhyun dan Hangeng hendak memprotes peraturan tidak masuk akal tersebut

“Ngga ada tapi tapian!” tukas Seung Gi mengayunkan jari telunjuknya di depan mereka, “kalau tidak mau, silahkan keluar dari sini…”

Mendengar itu, ketiga namja tersebut mati kutu. Mau tidak mau, mereka harus mengakui betapa mereka betul betul membutuhkan pekerjaan untuk saat ini. Seung Gi kembali menyunggingkan senyum manisn ‘ala perempuan’ sambil menyodorkan kertas perjanjian kerja yang belum selesai di tanda tangani, “tenang saja—kalian akan menikmati waktu waktu kalian di café ini”

____

Sepanjang jalan—setelah berpisah di persimpangan dengan Kibum dan Hangeng, Kyuhyun sibuk berpikir. Ia melamunkan banyak hal dalam waktu bersamaan. Hingga tidak sadar sudah sampai di depan pintu rumahnya sendiri.

CKELK

“Minnie..” kedua mata Kyuhyun menyapu kesekeliling. Semua lampu sudah di matikan oleh Sungmin padahal hari belum terlalu larut. Kyuhyun mengangkat bahunya, mungkin Sungmin sudah lelah jadi dia tidur duluan tanpa menunggu Kyuhyun pulang

Di sana, dalam kamar. Sungmin bergelung ke samping—dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya hingga ke batas leher. Kyuhyun bergerak perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara lalu berbaring tepat di sebelah Sungmin

Di liriknya wajah damai Sungmin yang tengah tertidur lelap, “Moga…moga….nanti uangnya cukup, Minnie…” bisik Kyuhyun masih terus mengelus kedua pipi Sungmin. Ia memindahkan tangannya ke tubuh Sungmin dari luar selimut sambil memejamkan mata perlahan—mencoba untuk tertidur pulas tanpa memikirkan masalah pekerjaan yang baru ia terima

*****

Esok ternyata tidak lebih baik dari sekarang. Itulah yang di rasakan oleh Kibum dan Hangeng. Meski Chulie masih marah marah terus di depan Kibum, tetapi paling tidak, Hangeng merasa dia lebih beruntung ketimbang dirinya yang di anggap angin lalu oleh Wookie.

Sedangkan Kyuhyun dan Sungmin?

“Nanti setelah nganterin kamu pulang, aku langsung ke tempat kerja” jelas Kyuhyun pelan pelan. Sebenarnya, dia agak bingung dengan perubahan sikap Sungmin yang tiba tiba mengijinkannya bekerja tanpa menanyakan macam macam lagi, tetapi yah—paling tidak Kyuhyun bersyukur ngga harus menghadapi masalah seperti kedua temannya yang lain

Sungmin mengangguk cepat

“Bagus” gumam Kyuhyun mengacak acak rambut Sungmin. Ia kembali duduk tegap lalu menyalin beberapa catatan di papan tulis yang sempat tertinggal.

Sungmin benar benar jadi anak penurut. Ia membiarkan Kyuhyun menuntunnya hingga sampai di rumah sedangkan Kyuhyun bergegas mengganti baju seragam, membawa beberapa pakaian ganti lalu menghampiri Sungmin yang masih duduk tenang di depan televisi.

“kamu bener bener ngga marah kan?” tanya Kyuhyun yang tidak tahan menghadapi sikap diam Sungmin. Memang dari tadi, apapun perkataan Kyuhyun, Sungmin hanya mengangguk sebagai jawabannya. Ia diam seribu bahasa

“Ngga….kok” jawabnya ragu, “udah sana kamu pergi, nanti telat lagi…” usir Sungmin sambil berusaha tersenyum manis

“ya udah—aku pergi dulu” baru beberapa langkah Kyuhyun ke depan pintu, ia terhenti lalu berbalik arah, “ah ya, kamu—“

“Aku janji ngga akan pergi ke supermarket Yesung, ke tempat Zhoumi untuk berkunjung, aku akan terus berada di rumah sepanjang hari, jadi kamu tenang aja” kata Sungmin memotong ucapan Kyuhyun yang sudah bisa di tebak

“Nah—aku baru bisa lega, paling ga tahu kamu baik baik aja di rumah” Kyuhyun mengelus kepala Sungmin kemudian benar benar keluar rumah lalu pergi meninggalkan Sungmin sendirian

..Cafe A La Bolee..

Berpuluh puluh—ah tidak, beratus ratus orang memadati sebuah tempat di dekat jalan besar. Raut wajah antusias serta seruan antusias mendominasi semua orang di sana. Mereka tidak lelah meski harus membentuk sebuah barisan panjang hingga hampir melewati garis jalan hanya untuk mendapatkan meja di sebuah café sederhana yang bernama Café A La Bolee

“Kyaa!!! Lo udah liat belum pegawai barunya Mbak Gi!!” teriak salah satu siswi yang sedari tadi mengantri di dekat pepohonan tak jauh dari café tempat Kyuhyun, Kibum dan Hangeng mulai bekerja

“Udah!!” sahut temannya yang ikut heboh, raut wajah berseri seri memang menghiasi hampir seluruh pengunjung café A La Bolee yang tiba tiba melunjak dari perkiraan semula.

“Gila! Mereka ganteng ganteng semua!! Mbak Gi hebat bisa nyari pegawai seganteng itu!!!”

“Iya!!” teman temannya yang mengangguk bersemangat, “untung aja—gw sengaja bolos buat ngantri di depan sini, lihat aja, antriannya udah ramai banget!!! Coba kalau kita ngga ngantri dari tadi pagi”

*contoh yang tidak baik*

Ya, itulah keadaan café milik Mbak Gi atau bisa di sebut Seung Gi. Gosip yang sengaja di sebar sendiri oleh sang pemilik café membuat para pengunjung membludak dan memenuhi badan jalan untuk mengantri. Tidak cukup Kyuhyun, Kibum dan Hangeng saja yang bekerja, Seung Gi juga turut terjun ke lapangan untuk melayani semua tamu

Namun ternyata mimpi buruk baru di mulai sekarang

“Kamu namanya siapa??” tanya salah satu yeoja yang bergerombol dalam satu meja lebar dimana mereka sedang di layani oleh Kibum, “eh eh? Denger denger kamu anak St Christie?? Hebat banget!! Kan susah masuk sana!! Nomor? Nomor teleponnya berapa??”

Dan..dan..dan…sederet pertanyaan lain yang hanya di jawab senyuman oleh Kibum. Untung sebelum mereka memulai pertanyaan baru, Kibum buru buru menyelamatkan diri dengan pergi ke belakang untuk mengambilkan pesanan mereka

“Fuih hampir aja” keluh Kibum sambil menaruh beberapa cookies dan bergelas gelas minuman dari dapur, di sana ada Hangeng yang sedang duduk dengan nafas terengah engah

“Cewek itu menyeramkan ya?” gumam Hangeng mengelap keringat di dahinya, “bayangin aja—pas gw mau nyatet pesanan mereka, gw di tarik terus di ajak foto foto bergilir sama mereka…iih~”

Kibum tersenyum miris menanggapi ucapan Hangeng, “sekarang gw tahu kenapa boss nyuruh kita ngaku ngaku single, ternyata ini maksudnya…ck ck ck…..bisa habis gw di omelin Chulie kalau dia sampai tahu kita kerja di tempat beginian”

“Aishh, udahlah nasib kita sama” Hangeng berdiri, membenarkan letak apronnya lalu menepuk pundak Kibum ringan, “lebih enak Kyuhyun, tuh lihat” Ia menunjuk ke depan café, di sana Kyuhyun sedang melayani para tamu dengan sikap dingin dan tidak menanggapi sama sekali permintaan aneh aneh dari mereka, “udah ngga berantem sama Sungmin—dia juga bisa membuat diam seluruh yeoja saat mereka mulai berulah..hmmm”

“iya iya”

Dengan lunglai, Kibum dan Hangeng menarik langkahnya agar keluar untuk mulai bekerja lagi. Dan…teriakan itu kembali terdengar. Kibum, Hangeng dan Kyuhyun membutuhkan waktu hampir setengah jam mencatat menu, beberapa menit membuatkan pesanan dan 2 jam mondar mandir karena di panggil oleh tamu dengan alasan yang tidak penting

“Kibummie…kamu hari apa aja kosong?”

Kalau tidak

“Hangeng! Ke sini! Ceritain lagi dong, soal mars yang jadi hobi kamu itu~” pekik seorang remaja dengan sangat manja

Atau….

“Kyuhyun!!! Kamu beneran belum punya pacar??”

Sudah bisa di bayangkan bagaimana penderitaan mereka bertiga. Untung saja, Café tutup tepat jam 7 malam sehingga  itu dapat menjadi alasan untuk ‘mengusir’ semua yeoja yang selalu datang kembali ke dalam antrian

Meski mereka berteriak protes, Seung Gi atau biasa di kenal di kalangan para remaja dengan Mbak Gi berusaha menenangkan mereka, “tenang aja Ladies~ kalian bisa ke sini lagi besok!” ia ketawa ketiwi sok imut lagi, “lalu kalau kalian mau, kalian bisa di layani oleh pelayan favorit kalian” jelasnya menambah histeris di depan café—padahal jelas jelas tidak ada boy band terkenal yang sedang tampil di situ, apalagi dengar dengar beberapa boy band terkenal seperti Super Junior sedang melakukan tour keluar negeri, tepatnya di Indonesia

*Sebas nangis ketawa bikin nih ff, wkkkkw….hiks….wkkwkw…..hiks lagi*

“Gila~ tuh si boss—pantes aja dia langsung nerima kita kemarin, ternyata pelanggannya heboh—ga bisa lihat cowok nganggur dikit aja” gumam Kyuhyun yang berada di dalam café bersama dengan Kibum dan Hangeng. Mereka memilih bersembunyi ketimbang menemani Mbak Gi menenangkan yeoja yeoja protes di luar sana—nyawa bisa jadi taruhannya. Gimana ngga?

Baju Kyuhyun robek di bagian bahu karena keseringan di tarik saat sedang membawakan pesanan, apron Kibum talinya sudah putus dua kali, alasannya sama seperti Kyuhyun sedangkan Hangeng tangannya keseleo akibat menjadi obyek tarik tambang oleh dua kubu yeoja yang memperebutkan dirinya

Intinya, semua tamu hari ini….bersikap sadis!

“Fuih” Mbak Gi mengelap keringat dari atas dahinya seraya masuk kembali ke dalam café. Meski begitu senyum sumringah makin lebar terpancar ketika menatap ketiga pegawainya yang menguntungkan itu, “kalian boleh pulang sekarang…sayang~”

Mendengar itu, Hangeng benar benar bersembunyi di balik tubuh Kyuhyun sekarang

“Tapi besok~ jangan sampai telat ya~” Mbak Gi mempermainkan jarinya dengan lemah gemulai, “kita akan tambah sibuk lagi!”

*****

“Kita akan mulai sibuk lagi” ulang Hangeng menirukan Bossnya sampai ke nada melengkingnya yang khas, “aishhhh—gw rasa baru dua hari kerja di situ, gw pasti udah bunuh diri kali” curhat Hangeng ketika mampir ke kelasnya Kibum dan Kyuhyun, maklum—Wookie benar benar nyuekin dia setengah mati jadi daripada ngga ada temen ngobrol mendingan kabur dari kelasnya sendiri, “lo gimana Bum?”

“gw lagi..” Kibum melirik rindu ke arah Sungmin yang sedang di suapi makan oleh Chulie sedangkan Kyuhyun duduk di samping mereka berdua sambil mengelap sesekali jika mulut Sungmin belepotan makanan

“Si kembar sayang banget sama Sungmin” celetuk Hangeng ngga nyambung

“Itu sih gw udah tahu dari dulu” jelas Kibum memutar kedua bola matanya. Sesaat, Kibum menangkap Chulie yang sedang melihat ke arahnya diam diam, namun ia segera membuang muka ketika Kibum membalasnya dengan tersenyum

“Chulie..”

Nasib buruk Kibum tidak berhenti di sini. Chulie sengaja tidak mau pulang bersama dengannya dan memilih menemani Sungmin seharian selama Kyuhyun pergi bekerja.

“Ha?” Kyuhyun tersenyum lebar, “beneran Heenim?”

Chulie mengangguk pasti—tidak peduli kalau Kibum memberikan sinyal sinyal minta maaf dari kedua matanya. Chulie malah menganggap Kibum lagi sakit mata lalu mengacuhkannya kembali

“Bagus! Jadi Minnie ada temannya hehehehe”

Akhirnya Chulie mengikuti Kyuhyun pulang untuk mengantar Sungmin sementara Kibum memutuskan mengekor dari belakang sambil mencari cara agar Chulie tidak memarahinya lagi

“Kamu di sini—itu udah ada Heenim” ujar Kyuhyun lembut ketika mereka bergegas pergi kerja sambilan. Di elusnya kepala Sungmin sebelum mengecup ringan dahinya—Kyuhyun akan bersikap manis karena belakangan ini Sungmin terus menuruti apapun perintah Kyuhyun. Itu membuat Kyuhyun sedikit lega meninggalkan istrinya seorang diri di rumah

Sedangkan Kibum?

“Sayanggg…” rajuk Kibum berusaha merangkul Chulie dari samping meski cepat cepat di tepis kasar oleh pacarnya itu, “aku mau pergi—kok kamu masih cemberut…”

Chulie mendelik penuh aura neraka, “pergi pergi aja! Memangnya aku ngaruh ngomong apapun? Kamu tetap kerja sambilan kan???” di dorongnya tubuh Kibum agar menjauh, “sana! Aku mau berduaan sama Minnie aja!!!” tolaknya mentah mentah terhadap kehadiran Kibum

Wajah Kibum berubah murung. Ia melangkah lunglai ke arah pintu gerbang. Untuk sekali dalam hidupnya, Kibum merasa iri kepada Kyuhyun—enak banget punya istri yang ga banyak nuntut kayak Sungmin, andai Chulie bisa lebih lembut sedikit saja pasti dia akan—

“Eh? Kok malah bengong” ujar Kyuhyun membuyarkan lamunan Kibum, “ayo kita jalan, keburu bos kita marah marah nih” sejenak Kyuhyun tersenyum sekali lagi ke arah Sungmin sebelum ia menarik Kibum keluar dari rumah lewat pintu depan

BLAMMM

“fuih…” Chulie menyadarkan tubuh ke belakang sofa—tatapan garangnya berubah sedih bercampur frustasi

*sama Chulie—gw juga, frustasi karena ga bisa liat Seunghwan juni nanti #sebasCurcolMendadak*

Lupakan…..

“Udahan kenapa bersikap begitu sama Kibum” nasihat Sungmin, “kasihan dia kan”

Chulie menggeleng keras, “bukan apa apa Minnie! Tapi aku tahu kenapa dia kayak gitu!!!” ia mengambil salah satu bantal kecil dari sofa lalu memeluknya tepat di bagian wajah, “minggu kemarin—orangtuaku dan orangtua Kibum bertemu, mereka ingin membicarakan masalah pernikahan kami berdua….” Lirihnya masih menyembunyikan wajah dari Sungmin

“lalu?” bujuk Sungmin lembut agar Chulie terus bercerita

“Aku tahu….” Chulie mendesah panjang—menengadah dari balik bantal, “aku tahu dia belum siap—bukan! Bukan dia belum siap menikahiku…tetapi Kibum belum siap masalah biayanya…”

Wajah Sungmin berubah simpati, “bukannya orangtua—

“Iya” potong Chulie cepat, “aku juga mengatakan hal yang sama, Sungmin dan Kyuhyun saja menikah masih di tanggung orangtua. Aku berusaha membujuk Kibum…..dan akhirnya dengan enggan Kibum menyetujuinya sih…..” walaupun berkata begitu, tatapan Chulie malah terlihat makin sedih membuat Sungmin tambah ingin tahu, “terus kenapa? Apalagi yang jadi penghalang?” desak Sungmin penasaran

“kurasa Kibum berusaha mencicil biaya pernikahan—paling tidak sebagian, kalau melihat sikapnya yang tiba tiba mencari pekerjaan paruh waktu dengan gaji tinggi. Coba kamu bayangin deh Minnie, untuk apa semua itu kalau bukan untukku??” Bibir Chulie mulai bergetar dan semua rasa bersalah dalam dirinya keluar di depan sahabatnya, “aku merasa seperti menyusahkan Kibum saja—kalau saja waktu itu aku tidak memaksanya menikahiku cepat cepat…..pasti dia tidak akan serepot ini, mencari pekerjaan……padahal kita sudah sibuk dengan sekolah….hiks…” suara isak tangis yang mulai terdengar dari Chulie spontan membuat Sungmin merengkuh tubuh sahabatnya dari depan

“Ssst…” bisik Sungmin halus, “bukankah itu berarti Kibum sangat sayang kepadamu? Dia rela melakukan apapun demi kebahagiaanmu….”

“tapi aku tidak mau jadi parasit” balas Chulie memeluk tubuh Sungmin lebih erat sambil meluapkan tangisannya di bahu Sungmin

“Hei! Kata siapa” protes Sungmin, “tidak ada yang bilang begitu” sejenak Sungmin terdiam dan mengingat kalau masalah yang di alami Chulie tidak jauh berbeda dengan dirinya

“Aku juga Chulie….” Suara Sungmin melemah dan terdengar sedih, “terkadang aku berpikir, kalau saja aku tidak sedang hamil—pasti Kyuhyun tidak akan ikut bekerja bersama Kibum”

Chulie melepaskan pelukannya dari Sungmin, “Minnie…kau jangan pernah menyalahkan kandunganmu!” tegur Chulie sedikit meninggikan nada suaranya, “aku belum pernah melihat Kyuhyun sebahagia sekarang ketika tahu kau sedang mengandung anaknya” sebuah senyuman tulus terukir dari sudut bibir Chulie, “dia menginginkan ini kau tahu….aku bisa merasakannya….ingat kami kan kembar” ia menyudahi perkataannya dengan sedikit bercanda

Pundak Sungmin terkulai rileks, ia terkekeh kecil sambil tersenyum penuh terima kasih pada Chulie, “berarti Kibum juga sama dong—dia belum pernah segembira ini sampai sampai rela bekerja untukmu” ucap Sungmin membalikkan perkataan Chulie

“Minnie…jangan berkata seolah olah aku tidak bersalah” desah Chulie lemah

“Iya, kau memang tidak melakukan kesalahan apapun, jika kamu ngga mengijinkan aku menyalahkan bayi ini” Sungmin mengelus perutnya sayang, “berarti kamu juga ga boleh nyalahin diri sendiri, hehehe”

“Hmm” geram Chulie pura pura marah, ia mendelik ke arah perut Sungmin, “liat baby, Ummamu sudah pintar menjebak sahabatnya sendiri, ck ck ck” ia menggelengkan kepala sementara Sungmin hanya tertawa gembira melihat tingkah Chulie

“berarti aku harus minta maaf kepada Kibummie…” gumam Chulie dengan pandangan menerawang jauh, “aku sudah amat bersalah karena mengacuhkannya selama 2 hari ia bekerja sambilan”

“harus, kasihan kan dia—Kibum pasti tambah ngga semangat kerja karena kepikiran sama kamu” kata Sungmin sependapat

“Iya…” tiba tiba wajah Chuli terlihat berbinar binar, “ah aku tahu Minnie! Bagaimana kalau sekarang kita susul ke tempat kerjanya saja!” ujarnya bersemangat, “kasih mereka berdua surprise sekaligus aku datang untuk meminta maaf—nanti pasti Kibum senang melihat kedatanganku ke sana” nampaknya Chulie sudah matang dengan rencananya itu

“beneran ga papa?” sela Sungmin merasa sangsi, “soalnya aku udah janji sama Kyu buat diam di rumah selama dia bekerja”

“Tenang” balas Chulie santai, “kan ada aku—mana berani dia marahin kamu selama bersamaku iya kan hehehehe” Chulie berdiri tegap sambil mengulurkan tangannya ke arah Sungmin untuk membantu dia berdiri, “kamu tahu tempatnya kan? atau nama cafenya paling tidak?”

“tahu—namanya café A La Bolee, di jalan—“

“APA?” Teriak Chulie ketika Sungmin menyebutkan nama café itu, “café A La Bolee?? Itu kan……” Chulie menggeram tertahan, ia menatap tajam kejauhan sebelum menggandeng tangan Sungmin keluar rumah, “kita harus ke sana secepatnya Minnie…” ajaknya singkat

“kamu kenapa?” tanya Sungmin khawatir karena sikap Chulie yang tiba tiba berubah, “ada apa dengan café itu?”

Chulie tidak menjawab sama sekali. Ia terus berjalan berusaha melangkah lebih pelan untuk menyesuaikan dengan Sungmin yang sedang hamil. Melihat itu, Sungmin hanya terdiam—dia hanya bisa menyimpulkan satu hal. Pasti sesuatu yang buruk akan terjadi jika Chulie dalam keadaan emosi seperti ini

Baru setengah jalan, Chulie dan Sungmin yang berpapasan dengan segerombolan remaja masih berpakaian seragam SMA langsung tercengang mendengar nama orang yang mereka kenal di sebut

“Gw tadi minta di layani sama Kibum, dia ganteng banget!!! apalagi senyuman mautnya ituuuuuuu!!” pekik salah satu gadis berambut pendek dengan jepitan berwarna pink kepada teman temannya, “kalau lo sama siapa??”

“gw sama Kyuhyun donggg” balas temannya genit, “biar sikapnya dingin kayak gitu—gw tetep suka hehehhe, apalagi gw denger dari Mbak Gi, mereka semua masih single!!!! Berarti kita masih punya kesempatan dongg”

“Iyaaaa…..” jawab beberapa teman lainnya lalu ketawa ketiwi tidak jelas—tanpa menyadari ada dua pasang mata yang terhenti beberapa meter karena menguping pembicaraan mereka dari tadi

Kemarahan Chulie berbalik arah, ia menoleh ke belakang kemudian berjalan cepat ke arah yeoja yeoja SMA tersebut sedangkan Sungmin masih mematung di tempat—wajahnya menampakkan raut muka tidak percaya

Kyuhyun dan Kibum mengaku begitu kepada yeoja lain???

“HE!!!!” hardik Chulie sambil menghantamkan tangan kanannya ke dinding tepat di belakang kumpulan gadis tadi, “tadi gw dengar lo bicarin Kibum sama Kyuhyun???” alis Chulie naik sebelah dan tatapannya mengintimidasi mereka semua, “apa maksud lo dengan ‘mereka masih single’ ??? enak aja???? Mereka itu—

“Woi sabar mbak” sindir salah satu murid itu dengan berani—ia tidak merasa takut karena Chulie hanya sendiri sedangkan mereka berempat, “emang mereka sendiri yang ngaku! Kenapa??? Asal lo tahu—mereka milik umum!! Jadi jangan kegeeran deh” lanjutnya bernada provokasi

“MILIK UMUM???” Chulie sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, ia meninju tiang besi papan petunjuk lalu lintas lalu meremasnya kuat—membuat besi itu bengkok ke samping. Terang saja, yeoja yeoja tadi kaget dan mundur beberapa langkah—berniat kabur

Chulie menatap mereka lagi terutama gadis yang berani berbicara kepadanya, “gw minta mulai sekarang….jangan pernah deketin mereka lagi, atau—

“a..atau apa…” cicit mereka mulai ketakutan

“atau nasib lo sama kayak besi ini” dia melirik sinis ke arah besi itu dan segerombolan yeoja tersebut secara bergantian

“Hyaaaa…….” Mereka berpelukan satu sama lain sambil mengangguk cepat, “iya iya kita janji deh kak!! Huaaa…” ucap mereka nyaris menangis

“udah sana—bubar” desis Chulie, “apa mau di sini terus—

“Ngga!!!”

Segera, satu persatu mereka berlari tunggang langgang, menyebar ke segala penjuru untuk menyelamatkan diri dari amukan Chulie

“Chulie…” panggilan dari Sungmin menyadarkan Chulie kepada niat awalnya, “Minnie….kayaknya mereka udah keterlaluan sama kita, awas aja…” balas Chulie makin geram, di tuntun tangan sahabatnya itu lembut sebelum kembali berjalan menuju café A La Bolee

Di sana keadaan sedang ramai ramainya. Tidak berbeda dengan kemarin—berpuluh puluh yeoja sibuk mengantri di badan jalan. Teriakan antusias itu terdengar  berlebihan. Chulie saja terpaksa menjulurkan kepalanya agar bisa melihat bagian dalam café di mana ketiga lelaki itu mondar mandir melayani tamu

“Minggir!” sela Chulie menyerobot antrian untuk masuk ke café. Ia sudah meminta Sungmin menunggu di luar. Tidak diperdulikan teriakan protes dari beberapa orang dalam barisan antrian. Chulie terus saja masuk dan betapa tercengangnya ia melihat pacar, saudara dan temannya sedang menjadi mangsaan para wanita di dalam café

“Kibum!!!!”

“Hangeng!!!”

“Kyuhyun!!!”

Mereka semua saling menarik dan berusaha membuat Kibum, Hangeng dan Kyuhyun berdiri lebih lama di depan meja mereka—entah dengan menambah pesanan ataupun menanyakan hal yang tidak penting

Darah panas Chulie naik ke pucuk kepalanya ketika melihat Kibum di himpit dalam satu sofa dengan beberapa yeoja…

“Kibummie!!!!!” teriak Chulie tidak tahan lagi—dia tidak peduli jika seluruh pengunjung café terdiam dan malah melirik ke arahnya

Kibum langsung menoleh, dan wajahnya berubah kosong mendapati Chulie berada tepat di depannya sekarang, “Chulie…”

“Kau!” belum sempat Chulie melanjutkan kata katanya, Kibum dengan sigap segera menarik Chulie keluar café, melewati sekumpulan orang yang masih mengantri dan berbelok ke sudut jalan, di sana Chulie mendorong bahu Kibum keras

“Oh jadi begini kelakuanmu di sana!” sindir Chulie tanpa memelankan suaranya, “enak enakan sama yeoja lain!!! Apa itu yang namanya jadi pelayan!!”

Kibum menggeleng lemah, “sudah jelas itu bukan kemauanku Chulie…aku…aishhh, sudahlah ini namanya resiko pekerjaan—

“Apanya yang resiko!!” teriak Chulie makin marah, “aku malah mendengar kau mengaku kepada mereka bahwa kau single…oh” Chulie pura pura memasang wajah terkejut, “aku tidak tahu kalau kita sudah putus?”

“Chulie!” bentak Kibum tidak tahan di sudutkan terus menerus, “aku tidak mungkin begitu! Boss yang mengatakannya kepada setiap pelanggan…supaya….” Kepala Kibum tertunduk dan suaranya berubah gugup

Chulie melipat kedua tangannya sambil menatap sinis Kibum, “supaya café-nya laris manis! Kibum, café itu terkenal karena memanjakan para yeoja dengan pelayan pelayan tampan yang bekerja di sana! Sudah sering pelayannya silih berganti!!! Mereka semua tidak tahan!!!” jelas Chuli dengan nafas memburu, “jadi aku minta kau keluar….atau kita….” Ia menggantungkan kalimatnya menunggu keputusan Kibum

“tapi di sana gajinya tinggi…” bisik Kibum lemah, “itu bisa membantuku….”

Chulie mengatupkan bibirnya rapat rapat, “aku lebih rela kalau kita menunda acara pernikahan ketimbang kau terus bekerja di sana….”

Kibum mendongak dengan susah payah, “Chulie sayang…tidak begitu….” Bisiknya namun dengan cepat di sanggah Chulie, “Siapapun tidak rela kalau kekasihnya bekerja seperti hosttest club malam di sebuah café hanya karena uang!!!” sindir Chulie marah

Pandangan Kibum berubah. Ia menatap Chulie lama dan datar. Sejenak Chulie sadar kalau ucapannya sudah kelewat batas

Kibum melangkahkan kaki semakin dekat di depan Chulie, merundukkan kepala seraya berbisik sesuatu di telinganya, “aku bekerja untukmu…..bukan untuk uang…..maaf kalau kamu malah mengira sebaliknya…” sesudah itu Kibum menarik tubuhnya dari Chulie kemudian berbalik kembali bekerja

Mendengar itu tubuh Chulie menjadi kaku. Kedua matanya mengerjap kuat sebelum mengeluarkan setetes air mata yang mulai turun membasahi wajahnya. Ia masih mematung di tempat sambil memandang Kibum dari kejauhan. Ada sekelebat rasa bersalah dalam hatinya—rasa bersalah karena ia telah melukai perasaan Kibum…..

Di saat bersamaan

Kyuhyun hendak menghentikan sikap Chulie yang datang tiba tiba dan membuat heboh seisi café. Namun Kibum bertindak lebih cepat—ia menarik saudara kembar Kyuhyun agar menjauh sementara Boss mereka mencoba mencairkan suasana supaya kembali seperti sedia kala. Kyuhyun menarik nafas lega…..tetapi itu tidak berlangsung lama….

Matanya menangkap sosok tubuh yang begitu familiar dari balik kaca transparan di etalase café.

“Minnie…” bisik Kyuhyun merutuki kebodohannya sendiri—bagaimana dia bisa di lupa kalau Chulie pasti ikut membawa Sungmin kesini

Kyuhyun meninggalkan buku catatannya di sebuah meja yang sedang ia layani lalu berlari kencang keluar café. Di sana, Sungmin menyingkir dari keramaian sambil memandang Kyuhyun takut takut

“Kau kenapa kemari” bisik Kyuhyun menahan amarahnya, ia melirik ke kanan kiri—sekarang dia dan Sungmin malah menjadi tontonan umum menggantikan KiChul

“aku—“ Sungmin menciut di depan Kyuhyun, merasa bersalah, “maaf tadi itu….”

“Kyunnieeeee…” seseorang tiba tiba muncul di antara mereka berdua sambil menggelayutkan lengannya di tubuh Kyuhyun, “kenapa kau lama sekali~” gumamnya manja

Sontak, Kyuhyun memandang yeoja itu dingin lalu melepaskan tangannya kasar, “maaf saya ada urusan” tatapan tajamnya tidak berhasil membuat yeoja itu tersingkir padahal dari tadi saja, tidak ada seorangpun berani mendekati Kyumin karena sikap Kyuhyun yang sedang marah

“sama siapa??” di liriknya Sungmin dari atas ke bawah dan kedua matanya terhenti tepat pada perut Sungmin yang membesar, “siapa dia Kyu!!!” desak yeoja itu merasa ada yang tidak beres dengan sikap mereka berdua

Wajah Kyuhyun mengeras, ia menggertakkan gigi kuat kuat, “dia—dia saudara perempuanku..” ucapnya sambil memalingkan muka dari Sungmin

“Saudara?” bisik Sungmin terkejut, ia terus menatap Kyuhyun meminta penjelasan namun Sungmin terpaksa menelan kata katanya lagi ketika melihat tangan kiri Kyuhyun yang tidak memakai cincin pernikahan

Semua terasa jelas bagi Sungmin sekarang

Rasanya lutut Sungmin melemah dan ada sentakan lembut dari dalam perutnya

“ah…iya…” Sungmin menahan perasaannya, “kami hanya….” Ia dan Kyuhyun saling menghindari kontak mata, “sudah aku mau pulang dulu….” Lanjutnya berniat pergi secepat mungkin, Sungmin takut ia bisa menangis histeris kalau terlalu lama berada di sana

“Tunggu…” Kyuhyun menahan tangannya erat, “aku akan mengantarmu pulang” tanpa menunggu reaksi Sungmin ataupun erangan protes dari pelanggan café itu, Kyuhyun memberhentikan sebuah taksi di jalan kemudian mengisyaratkan Sungmin masuk terlebih dahulu

___

BRAKKKK

Kyuhyun menutup pintu rumahnya kasar sebelum berbalik ke arah Sungmin, “kamu bisa ngga sih di bilangin! Di rumah aja!! Jangan pergi kemana mana lagi, bahaya!!!” bentaknya marah

Sungmin diam, dia hanya terus mengelus bagian perut karena bayinya tidak berhenti menendang dari tadi. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal

“di mana cincin nikah kamu?” tanya Sungmin singkat

Kali ini giliran Kyuhyun yang terdiam, ia merogoh saku celananya, “ini! aku taruh karena takut terhanyut ketika mencuci piring” meski berkata begitu, lagi lagi Kyuhyun menghindari tatapan Sungmin

Ia jelas jelas berbohong

“kenapa tadi kamu—

“aku terpaksa Minnie!” tukas Kyuhyun memotong ucapan Sungmin, “kamu tahu kan—mereka jauh lebih parah di bandingkan penggemarku di sekolah yang tahu kalau kita sudah menikah…..aku takut kamu kenapa kenapa” bisik Kyuhyun jujur. Namun suara Kyuhyun berubah tajam ketika memperingatkan Sungmin, “pokoknya kau tidak boleh lagi datang ke tempat kerjaku! Apapun alasannya!!! Mengerti!!!”

Pandangan Sungmin menerawang jauh—tidak mengindahkan peringatan Kyuhyun, “kenapa gadis di café tadi memanggilmu semesra itu? Kenapa kamu mengaku masih lajang kepada mereka? Kenapa—“

“Minnie!” gertak Kyuhyun sambil memegang kedua tangan Sungmin, ia memejamkan mata rapat rapat sebelum berkata, “percayalah aku benar benar terpaksa….”

Sungmin ingin percaya, ingin sekali. Tetapi bayangan kejadian tadi terus membayanginya seolah olah mengejek Sungmin dari dalam pikirannya

“Kyu…” Sungmin berbicara sambil berusaha kuat agar tidak menangis, “benar kata Chulie…..sebaiknya kau dan Kibum berhenti saja dari tempat itu…..” pintanya lembut

“Minnie…” Kyuhyun menggelengkan kepala—menolak mentah mentah, “kalau ini hanya gara gara masalah tadi, aku minta maaf. Tetapi tidak berarti kau harus bersikap kekanak kanakan seperti ini! kau harus tahu aku benar benar tidak bermaksud begitu” ulang Kyuhyun sekali lagi

Sungmin tetap bergeming, “aku tidak suka kau bekerja di sana……”

Kyuhyun terperangah, “Minnie…jangan bersikap cemburu hanya karena masalah tadi!” tegur Kyuhyun mulai tidak sabar, “aku tidak mungkin selingkuh!”

“aku tidak menuduhmu selingkuh Kyu!” balas Sungmin dengan suara tinggi, “aku hanya tidak suka kau berdekatan dengan yeoja itu!!! Apa aku salah kalau bersikap cemburu?”

“salah!” jawab Kyuhyun singkat, matanya tajam mengarah kepada Sungmin, “kau tidak perlu membuang buang tenaga untuk hal percuma Minnie”

Mulut Sungmin menganga lebar, tatapannya mulai kabur karena terhalang oleh bulir air mata yang menggenang di pelupuk matanya, “percuma?” ulangnya bernada menusuk, “kau melarangku bertemu dengan Yesung, Itu karena apa?? Kau cemburu bukan?? Padahal aku dan Yesung tidak ada hubungan apa apa! Aku tidak merangkul lengannya di depan matamu dan mengatakan kalau hubungan kita hanya sebatas saudara!!”

Kyuhyun tidak bisa berkata apapun lagi. Ia tertunduk menyesal

Kyuhyun melangkah lambat lambat—mendekati Sungmin yang terduduk di sofa kemudian menunduk dalam dalam di depannya

“maaf…” ucap Kyuhyun menyesal, “maaf aku—“

“aku mau tidur…” elak Sungmin bersingut bangkit berdiri dengan susah payah lalu masuk ke dalam kamar, meninggalkan Kyuhyun sendirian di ruang tamu.

Tanpa sadar, Kyuhyun tiba tiba menitikkan air mata. Di hapus jejak air mata itu sebelum berbalik untuk menuju pintu depan.

*****

“Kyu~ kamu darimana! Eh eh kok malah akyu di cuekin sih~” ujar Seung Gi ketika melihat Kyuhyun datang kembali ke dalam café yang mulai sepi karena hari menjelang malam. Kibum dan Hangeng sedang merapikan meja dan piring piring kotor saat Kyuhyun menghampiri mereka berdua. Tanpa basa basi, Kyuhyun menarik kerah baju Kibum mendekat, “lo apain Heenim?? Dia nangis kan?” tuduh Kyuhyun yakin

Kibum menghela nafas berat, “mungkin…soalnya gw langsung ninggalin dia gitu aja..” jawabnya terus terang, “lo tahu darimana?” tanya Kibum balik

“gw nangis tadi” Kyuhyun masih belum melonggarkan tangannya dari baju Kibum, Hangeng sendiri bingung mau membela Kibum atau membantu Kyuhyun. Ia hanya melirik mereka berdua secara bergantian

“berarti Heenim masih nangis sampai sekarang…” geram Kyuhyun, “lo belum jawab pertanyaan gw! Lo apain dia?!”

Pandangan Kibum meredup—ia pasrah sekalipun Kyuhyun benar benar menghajarnya sekarang, “sama kayak lo, gw berantem hebat gara gara masalah pekerjaan ini…”

Mendengar itu Kyuhyun melepaskan cengkramannya, ia menghempaskan tubuhnya ke salah satu bangku dekat Hangeng, “arghh!!! Sial banget gw! Minnie tadi juga gw bikin nangis” curhatnya kepada Kibum

“gw juga….” Kibum memainkan jari jarinya sambil menunduk, “Heenim benar benar marah hebat….dia….AAA…tahu ah!! Pusing!”

Hangeng melepaskan sapu dari tangannya lalu duduk di depan mereka berdua, “gimana kalau kita berhenti aja? Gw kasihan ngeliat lo berdua” usulnya pelan pelan karena Mbak Gi dari tadi melirik ingin tahu ke arah mereka bertiga. Tetapi boss itu tidak berani bertanya langsung melihat raut wajah Kyuhyun yang tadi begitu menakutkan

“Tapi—“ erang Kibum dan Kyuhyun bersamaan

“Pikir deh!” desak Hangeng sekali lagi, “Lo! Kyu! Udah tahu istri lagi hamil malah di ajak berantem! Lo tahu kan Sungmin ga boleh stress dikit! Itu bisa ngaruh sama kandungannya, apalagi tadi…” Hangeng memutar kedua bola matanya, “pake bilang dia cuma saudara lo lah“

“Eh gw kan terpaksa” bantah Kyuhyun masih tidak terima

Alis Hangeng naik sebelah, “gimana kalau keadaannya di balik, lo mau Sungmin ngaku kalau lo itu kakaknya dia meski dalam keadaan terpaksa? Sakit hati ngga di gituin??”

Suara geraman tertahan terdengar dari dalam mulut Kyuhyun, namun mau tidak mau ia harus mengakui kebenaran perkataan Hangeng saat ini

“Kalau lo Kibum” posisi duduk Hangeng berubah mengarah pada Kibum, “besok minta maaf sama Chulie….gw rasa ucapan dia ada benarnya juga…” mendadak tatapan Hangeng menuju ke arah Seung Gi yang sibuk menghitung bertumpuk tumpuk uang di balik meja kasir, “kita di manfaatin habis habisan—lihat aja keuntungan di dapet sama Boss, ck ck ck”

Kibum manggut manggut mengerti, “tapi sejak kapan omongan lo jadi bener begini Hangeng?” tanyanya agak geli. Tumben seorang fans berat Alien bisa nasehatin orang kayak sekarang

“Sejak gw di cuekin habis habisan sama Wookie” jawab Hangeng lugas, ia berdiri dari bangku lalu mengambil kembali mengambil kain pel, “besok gw udah fix mau berhenti dan itu berarti bisa bicara lagi sama Wookie…hehehehehe, kangen juga gw sama tuh makhluk cerewet satu itu”

*Wookie : Huathcimmmm*

“soal kerjaan, kita kan bisa cari lagi” sambung Hangeng melirik penuh arti kepada mereka berdua, “jadi tertarik ikut mengundurkan diri bareng sama gw?”

Kibum dan Kyuhyun bertukar pandangan. Semenit kemudian senyum mereka mulai merekah lalu mengangguk yakin ke arah Hangeng

“kita ikut lo!” ujar mereka serempak

___

Suasana di pagi hari di dalam rumah Kyumin agak canggung.

Sungmin memang tetap menyiapkan sarapan pagi untuk Kyuhyun, namun ia hanya berbicara seperlunya jika di tanya.

“aku”, “aku” mereka ingin mengatakan sesuatu tepat di saat bersamaan

Kyuhyun berdeham kecil, “kamu duluan aja” katanya mempersilahkan Sungmin untuk berbicara

Sungmin menggaruk pipinya yang tidak gatal, “ah..aku udah nyiapin bekal buat kita nanti di sekolah—aku mutusin masak tiap hari biar bisa di bawa sekaligus…..” kedua mata Sungmin menghindari tatapan terkejut dari Kyuhyun

“Minnie..kamu ngga boleh capek” tukas Kyuhyun khawatir

“ngga kok—aku benar benar masih bisa menyiapkan masakan” Sungmin memasukkan dua kotak makanan ke dalam sebuah tas mungil dan sebuah kotak lagi di dalam tas lainnya, “ini satu tambahan untukmu….” Ia menyerahkan bekal tersendiri kepada Kyuhyun yang di terima masih dengan pandangan ragu ragu, “buat apalagi? Banyak banget bekalnya” gumam Kyuhyun bingung

“itu buat kamu bekerja nanti” suara Sungmin mencicit kecil, “kamu kan biasanya langsung pergi begitu selesai ganti baju dan belum makan apa apa, jadi aku buatkan sekalian…”

Kyuhyun berhenti memegang tas mungil itu. Ia menaruhnya di atas meja sebelum berdiri dan menghampiri kursi Sungmin, “kamu ngga marah lagi?” bisiknya lembut

“aku….” Sungmin mengigit bibirnya bawahnya, “setelah kamu pergi, aku berpikir Kyu…memang benar, aku kelewatan—seharusnya aku tahu, kamu bekerja juga untukku, untuk kita…untuk dia…” desah Sungmin lambat lambat ketika mengelus perutnya, “kamu pasti terpaksa juga melakukannya….aku sadar itu Kyu…aku janji deh ngga akan jadi istri yang nyusahin lagi…” senyum tulus Sungmin mengembang dari sudut sudut bibirnya membuat Kyuhyun semakin merasa bersalah karena sudah bersikap kasar kepada Sungmin kemarin

Kyuhyun spontan memeluk tubuh Sungmin erat erat sambil berlutut di depannya, “kamu ngga pernah nyusahin Minnie….…” bisik Kyuhyun mempererat kedua tangannya di balik punggung Sungmin

Kening Sungmin mengkerut tidak setuju, “tapi bukannya waktu itu kamu pernah bilang aku nyusahin ya? Tanyanya merusak mood romantis Kyuhyun

“Kamu nyusahin dalam arti kiasan” ucap Kyuhyun merasa gemas

“maksudnya?” tanya Sungmin sambil memiringkan kepalanya—bingung

Kyuhyun mengelus kepala Sungmin sebelum melepaskan pelukannya, “maksudnyaa, kita udah hampir terlambat masuk sekolah, ayo cepat kita berangkat—sebentar, aku panggilkan taksi” baru beberapa langkah Kyuhyun hendak mengambil telepon rumah namun Sungmin langsung menarik lengan Kyuhyun

“kita jalan kaki saja” bujuk Sungmin seraya menarik Kyuhyun keluar rumah, “kan masih ada 20 menit lagi, cukup kok”

“tapi nanti kamu kelelahan” tolak Kyuhyun masih bersikeras

“Ngga! Ayo kita jalan aja!” akhirnya Kyuhyun mengalah dan membiarkan Sungmin menuntun tangannya hingga ke depan gerbang sekolahan.

Di dalam kelas, Kyuhyun mendapati Chulie sudah datang terlebih dahulu—tidak bersama Kibum. Tatapannya semurung kemarin namun cepat cepat ia rubah ketika melihat Sungmin dan Kyuhyun berjalan ke arahnya

“Hai..kalian udah dateng..” sapanya dengan suara yang terlalu riang—agak di buat buat

Bahkan orang polos seperti Sungmin saja tidak tertipu mendengar ucapan Chulie. Sungmin bertukar pandangan cemas dengan Kyuhyun

“Chulie…kamu ngga—“

“Hai semuanyaaaaa” ujar Kibum menyapa Kyuhyun dan Sungmin—bersemangat. Mereka menatap balik seolah olah Kibum telah mengatakan hal yang salah karena tidak menyadari perubahan sikap Chulie. Dia langsung menaruh tas di atas bangkunya, tepat di sebelah Chulie lalu hendak keluar dari kelas jika saja Kyuhyun tidak menahan tangannya

“Elo harus baikan sama Chulie!” gumam Kyuhyun melalui sudut mulutnya agar tidak terdengar oleh saudaranya itu. Sungmin yang mengerti, menghampiri meja Chulie untuk mengajaknya berbincang bincang

Kibum sedikit meringis saat melirik Chulie dari jauh, “gw takut…” bisiknya gugup

“takut?” tanya Kyuhyun balik, “takut kenapa?”

Wajah Kibum sulit di tebak, “takut di putusin” jawabnya lugas masih dalam keadaan bisik berbisik di depan Kyuhyun

“Nih anak” tatapan Kyuhyun berubah sangar, “sana! Ngomong baik baik!” dengan kasar, Kyuhyun mendorong tubuh Kibum ke arah mejanya kemudian menarik Sungmin supaya membiarkan mereka bicara berdua

Chulie hanya memandang lesu Kibum yang mengambil posisi Sungmin—duduk di sebelahnya tetapi belum mengatakan apapun

Kibum sibuk menggaruk kepala, memainkan tangan dan menggigit pensil, bingung harus memulai dari mana

Chulie menarik nafas panjang sebelum berkata, “maaf…..maaf masalah kemarin..” bisiknya parau

Mendengar itu Kibum tersentak. Akhirnya ia berani ke dalam mata Chulie. Kedua mata Kibum membulat saat melihat wajah sembab Chulie.

Kyuhyun benar, Chulie pasti menangis seharian kemarin

“Aku yang—

Belum selesai Chulie mengatakannya, Kibum sudah memeluk tubuh Chulie dari depan, “kamu ngga salah! Aishh, kita kok jadi salah paham begini…” desah Kibum menyesal, di lepaskan kedua tangan dari tubuh Chulie dan berbalik menggenggam tangan kekasihnya itu, “aku beneran mau aja menikah sama kamu, ngga kepaksa sama sekali! Dan masalah biaya…hmmm” Kibum terdiam sejenak, “aku memang agak keberatan jika itu semua di tanggung oleh orangtua kita. Tetapi, lama kelamaan aku berpikir hal lain….” Di elusnya wajah Chulie halus, “bukan itu masalah terpenting—ada urusan di belakang pernikahan kita yang harus kutanggung sendiri” jelas Kibum sepelan mungkin sambil tersenyum kepada Chulie

Chulie memandangnya tidak mengerti, “apa itu?”

Kibum menggeleng cepat dengan seringaian lebar di lengkungan bibirnya, “tidak~ tidak kau belum boleh tahu…yang pasti….sekarang……” ia merogoh tas dari arah belakang, melepaskan salah satu tangannya dari genggaman Chulie lalu merubah posisi berlutut di depan kekasihnya itu

Sontak Chulie mengatupkan bibirnya tidak percaya. Setetes air matanya kembali turun dari wajah cantiknya

“Aku mau menikahimu…..” Kibum mengeluarkan sebuah cincin sederhana, tanpa tahtahan berlian atau sedikit hiasan di atasnya, “dan mengambil alih seluruh tanggung jawab atas dirimu….makanya kemarin aku berusaha mencoba bekerja……jadi jangan menyangka aku terbebani dengan masalah pernikahan”

Ia mengulurkan cincin itu di dalam pangkuan Chulie seraya berkata dengan amat lembut, “Chulie, aku mencintaimu….a—aku……” Bibir, tangan Kibum bergetar hebat. Dari sela sela rambutnya timbul keringat dingin yang membanjiri dahi lalu turun ke wajahnya. Ia mengerjap berulang kali—berusaha mengucapkan kata kata yang sudah dia pelajari dari semalam

Melihat itu, Chulie terkekeh di antara isak tangis bahagianya, “kau tidak berubah, tetap canggung. Padahal sok mesra di depanku, hehehe” guraunya menertawai Kibum

Mereka tidak sadar jika beberapa siswa yang baru saja tiba, melihat mereka ingin tahu

“Ya!” hardik Kibum tidak terima, “Kenapa kamu malah mengejekku sih—ak

“Nikahi aku” potong Chulie pelan, ia menyodorkan jari manisnya ke arah Kibum, “nikahi aku dan kita akan bersama selamanya….”

Sekarang giliran Kibum ternganga lebar. Ia tersenyum lebar—penuh terima kasih karena Chulie membuat segalanya menjadi mudah. Kibum meraih tangan Chulie dalam genggamannya kemudian secara perlahan memasukkan cincin itu ke jarinya

Pandangan Kibum kembali menemukan wajah Chulie yang berubah senang—tidak, lebih dari itu. Chulie bahagia…

“aku pasti menikahimu…” gumam Kibum meyakinkan, “sekarang tundukkan kepalamu” pintanya

“Untuk?”

“aku ingin menciummu…” jawabnya masih bernada gugup. Meski begitu, Chulie menuruti kemauan Kibum. Ia sedikit merunduk sambil memejamkan mata perlahan lahan. Merasakan nafas Kibum yang mulai menyapu wajahnya

Detak jantung Chulie semakin bertalu—baginya ini adalah ciuman pertama mereka. Chulie tidak mengakui kejadian sewaktu Kibum menciumnya di depan teras rumah. Bagaimana bisa di bilang berciuman jika Kibum berlari kencang bahkan sebelum Chulie bisa menutup matanya?

Sekarang jarak mereka semakin dekat…

“HEI!” Gertak sebuah suara berat membuyarkan moment romantis Kibum dan Chulie, “ngapain kalian berdua?? Ini sudah mulai jam pertama sekolah” sambung Pak Herman membahana tidak hanya kepada KiChul tetapi kepada seluruh siswa yang menonton mereka berdua sedari tadi

“Yah…Bapak!! Padahal lagi seru” celetuk Siwon nongkrong di depan pintu sambil cengar cengir geje melihat kawannya—Kibum sedang melamar Chulie

“Iya!!” sahut salah seorang siswi kelas berkacamata tebal membenarkan ucapan Siwon, “dikit lagi tuh—“

Kyumin yang juga berada di sana hanya mengulas senyum tertahan dan mengerling menggoda ke arah Kibum dan Chulie

Kibum dan Chulie serentak menoleh. Wajah mereka merah padam saat menyadari bahwa untuk kedua kalinya Kibum dan Chulie kembali menjadi tontonan kelas

“Hya!!!!” pekik Chulie tegak berdiri, “kenapa kita jadi tontonan lagi!!!! hei, pada bubar sana!!!”

“Yah…..” bunyi gerutuan panjang menguar jelas. Dengan enggan seluruh siswa kelas berbalik menuju bangku masing masing meski mencoba mencuri pandang ke arah KiChul

Pak Herman hanya bisa geleng geleng kepala mengamati mereka berdua. Ia mengambil buku absen, membacakan satu persatu daftar muridnya baru setelah itu mulai menulis di atas papan tulis. Walaupun Pak Herman terkesan serius—sebenarnya dalam hati dirinya ingin menjerit kuat kepada Sang Pencipta

“Ya Tuhan!! Anak baru kemarin kayak Sungmin dan Kyuhyun aja udah nikah lalu Chulie bersama Kibum juga!!! Giliran saya kapan!!!”

*****

“Sekarang kalian mau bawa kita kemana?” tanya Chulie terheran heran. Begitu bel pulang berbunyi, Kyuhyun dan Kibum langsung mengajak Chulie dan Sungmin ikut dengan mereka berdua tanpa memberitahukan tempat apa yang akan mereka datangi

Kibum dan Kyuhyun tersenyum misterius

“Kita mau berhenti kerja” jawab Kyuhyun singkat—ia tambah puas ketika melihat reaksi Sungmin yang langsung menoleh tercengang, tidak percaya

“Serius Kyu?” ulang Chulie sama terkejutnya dengan Sungmin

Kibum mengangguk semangat, “makanya sekalian kita ajak aja—ngga mau lama lama di sana, lagian kita butuh bantuan kamu..” ujarnya sambil menggenggam tangan Chulie lebih erat

“Untuk?” tanya Chulie masih bingung

“nanti kamu pasti tahu” kata Kyuhyun datar

Meski butuh waktu berjalan kaki hampir setengah jam ke café Mbak Gi atau yang kita kenal dengan nama Seung Gi. Kyuhyun dan Kibum tidak merasa lelah, bersama sama mereka hendak masuk ke dalam ruangan café yang masih bertuliskan ‘Clouseee~’

(sebenarnya tulisan benerannya Close, tapi berhubung Mbak Gi suka mengubah kata kata seenak jidat dia, jadinya yah~ gitu deh)

*Sebas ikut ikutan Alay*

“Pokoknya akyu ngga setuju!!” teriak Mbak Gi sambil melambaikan tangannya di depan seseorang, “kamu beneran minta di cium ya~ pake mau berhenti segala! no no no, akyu tidak setuju!” balasnya sedikit emosi

“Tapi saya tetap mau berhenti!!”

“Eits, di bilangin ngeyel nih anak~ sekilo tidak tetap tidak yeey”

*’sekali’ yang bener mbak*

“Boss—

Kyumin dan Kichul termangu melihat pertengkaran mereka berdua di dalam

“Hangeng?” ujar mereka semua kompak

“Eh kalian udah datang?” Hangeng berhenti berargumen dengan Mbak Gi dan menghampiri teman temannya itu, “eh gimana nih! Si Boss tetap bersikeras ga mau gw berhenti” curhatnya gelisah

“Masa?” tanya Kyuhyun dengan kening berkerut. Ia melepaskan tangannya yang di melingkar pinggang Sungmin, bermaksud untuk berbicara baik baik kepada Bossnya itu, “maaf—tetapi apa yang di bilang Hangeng benar. Saya, Kibum dan juga dia mau berhenti sekarang juga” ia menggeleng samar, “kami punya pertimbangan sendiri sehingga memutuskan mendadak begini, maaf” ucapnya sambil menundukkan kepala

Mbak Gi mengipasi dirinya menggunakan kipas yang di import dari India—terbuat dari bulu Unta langka, “Situ enak banget ngomong minta berhenti! Ngga denger akyu tadi bilang apa sama Hangeng? Tidak bisa..no no no” ulangnya ketus

“tapi—“ suara Kibum mulai protes

“Eits, kalian ngga inget udah tanda tangan kontrak kerja selama 3 bulan?” kata Mbak Gi santai, “kontrak itu sah! Kalian bisa di tuntut secara pidana kalau berani berhenti mendadak seperti ini” ia menyunggingkan senyum menyebalkan kepada semua orang di sana—tetapi tatapannya berubah terkejut ketika terhenti pada dua wajah yeoja yang asing baginya

“Mereka siapa! berani masuk kemari!!! Hus hus! Kami lagi rapat mendadak! Nanti aja—café bakal buka kok” usirnya dari jauh

Chulie sontak melotot ke arah Seung Gi, “kami bukan tamu tau!!! Udah berhentiin aja mereka, susah amat” balasnya emosi

“Eits, jaga mulutnya Nona!!!” suara Mbak Gi kelepasan—berubah menjadi suara lelaki, “ini urusan kerja!! Mereka udah menandatangani surat yang berisi akan bekerja selama 3 bulan tanpa adanya pengunduran diri sepihak, huh….” Mbak Gi kembali bersandar nyaman di sebuah kursi—merasa berada di atas angin karena telah memegang kartu As mereka

Kyuhyun menggertakan gigi tertahan. Ia, Kibum dan Hangeng melirik satu sama lain—putus asa. Bisa bisanya mereka tanda tangan tanpa membaca dengan teliti terlebih dulu kontrak di dalamnya

“Memangnya beneran tertulis?” celetuk Sungmin seraya berjalan mendekati meja Seung Gi, “siapa tahu kamu cuma gertak mereka doang” tantangnya di depan Mbak Gi

“Eh? Siapa lagi ini?” sindir Mbak Gi kesal, “Ibu hamil sok ikut campur, udah sana—urus bayi sendiri aja” tadinya Mbak Gi hendak mendorong tubuh Sungmin tetapi melihat tatapan Kyuhyun yang mematikan, Ia menarik kembali tangannya

“Dia benar Minnie…” Kyuhyun segera menarik Sungmin, takut terjadi sesuatu, “kamu di sana aja sama Chulie, biar aman” bisiknya pelan

“Tapi Kyu” protes Sungmin tidak setuju, “bisa saja si banci ini bohong kan” Mbak Gi membalikkan tubuh dengan aura emosi mendengar perkataan polos Sungmin, “belum tentu kalian ngga bisa berhenti”

“HE!” Bentak Mbak Gi keras, “kalau bukan karena suami lo yang nyeremin, sekarang lo abis gw kulitin di sini!” ia memandang rendah Sungmin sejenak sebelum menyambar salah satu laci di meja kerjanya untuk mengambil beberapa kertas yang tersembunyi di sana, “Ini liat sendiri!!” Mbak Gi membagikan surat surat perjanjian kontrak itu kepada masing masing pemiliknya, “lihat peraturan 32 pasal 23 ayat 76, di situ tertulis jelas kok!!”

Memang benar, Kibum, Hangeng dan Kyuhyun terpaksa mengiyakan pernyataan surat tersebut. Mereka tertunduk lemas—bisa berhadapan dengan hukum kalau tetap bersikeras mengundurkan diri dari café ini

Wajah ketiga namja itu mendadak lesu—hilang harapan

Namun tidak bagi Chulie. Dia mendekati Kibum lalu mengambil surat kontrak dari tangan Kibum, “ini asli atau copy-annya?” tanya Chulie bernada mengajak berbincang bincang

Mbak Gi tersenyum menang sambil berkata, “asli dong Bo~!! Akyu mana sempet foto kopy lagi!! sibuk tahu!!” katanya mulai kembali ke dalam aura kenistaan seorang pria jejadian

*sebas di bunuh sama Lee Seung Gi fans*

“O-Oh” Chulie mengangguk mengerti, dengan gelengan kepala sebagai isyarat ia menyuruh Hangeng dan Kyuhyun menyerahkan semua surat itu kepadanya

“jadi…” dengan tenaganya yang diluar batas, Chulie dapat menyobek ketiga kertas tebal itu menjadi dua bagian terlebih dahulu setelah berjalan agak jauh menuju jendela café bersama dengan Sungmin

SREKK

“Kalau misalnya surat itu lenyap…”

SREKKKK.

Mbak Gi sibuk mengipasi dirinya tanpa menyadari sesuatu telah terjadi, “iya ngga berlaku dong! Kamu itu gimana sih ngakunya pel…aj….KYAAAAAAA” Ia berteriak keras ketika melihat Chulie sudah menyobeki kertasnya menjadi seperempat bagian

“TIDAKKKKKKKKK”

Kyuhyun di bantu oleh Kibum menghalangi tubuh kurus Mbak Gi yang berusaha menerjang Chulie.

“Boss tenang…duduk dulu aja” sindir Hangeng membiarkan Kyuhyun dan Kibum sibuk menahan Mbak Gi tanpa membantu sama sekali—maklum sejak masuk pertama, Hangeng rada ilfeel sama bossnya sendiri

“Tidak!!!!” Mbak Gi menggelengkan kepalanya—tidak terima, “KALIAN!! AWAS!! SAYA AKAN LAPOR POLISI!! Dengan tuduhan pemerkosaan!!!”

“EH??”

“Ng, salah ding” Mbak Gi nyengir sejenak, “maksudnya dengan tuduhan penganiyaan, tidak!!!!!!” ia kembali pada posisi semula—bersikap panik karena suratnya terus di sobek Chulie hingga menjadi serbuk serbuk kecil

“ ih~Lucu kayak conffeti…” Sungmin yang berdiri di dekat Chulie kemudian memainkan butiran butiran halus itu dengan cara meniupkannya ke udara sehingga semua kepingan bertebrangan di mana mana

Melihat itu Seung Gi benar benar murka

“Kau?? dasar perempuan hamil sialan!! Malah bermain main denganku!!” amarah Mbak Gi sudah tidak terbendung lagi. Rupanya Kyuhyun dan Kibum lupa kalau Mbak Gi juga lelaki. Dan dengan tenaga penuhnya, ia mudah mengelak dari pegangan tangan Kyuhyun dan Kibum yang tersungkur beberapa meter lalu berhambur menuju ke tempat Chulie dan Sungmin yang berada tak jauh di depannya

Hangeng sendiri gagal menghentikannya

“Tangkap dia Chulie!!!” teriak Kibum dan Kyuhyun kencang

Chulie mencondongkan tubuh ke depan Sungmin—berusaha menghalau Mbak Gi, tetapi gagal. Ia malah tersandung kaki meja dan lunglai kebelakang, “aw! Minnie!! Hati hati!!”

“Ng” Sungmin menoleh pada saat yang tidak tepat. Tangan Mbak Gi yang terulur ke depan hendak mendorong tubuh Sungmin.

Dan kali ini berhasil

Tubuh Sungmin jatuh terduduk saat tangan kekar itu mendorongnya tepat di bagian perut

BRUKK

“Tidak!!!!”

Meski dengan kaki nyeri akibat di dorong, Kyuhyun beranjak bangkit lalu menghampiri Sungmin yang sedang meringis kesakitan

“Minnie…minnie….” Kyuhyun mengangkat wajah Sungmin dalam pangkuannya, “Heenim!! Panggil ambulanss!!! Cepat!!!” ia kembali khawatir karena Sungmin mulai mengeluarkan keringat dingin, “Minnie…kau tidak apa apa?” bisiknya dengan suara bergetar

“Kyu…sakit…..” desis Sungmin membelai perutnya, “sakit..”

Kyuhyun segera memeluk Sungmin lebih erat untuk menenangkannya, “tidak akan apa apa, sebentar lagi dokter datang….Heenim!!!”

“Sebentar Kyu!! Aku sedang menelepon mereka” jawab Chulie ikut panik. Kibum membantu Hangeng berdiri sementara Kyuhyun menoleh ke belakang—tubuhnya mendadak kaku mendapati senyuman puas di wajah Seung Gi

“urusanmu denganku belum selesai” gertak Kyuhyun benar benar marah, “selesai aku memastikan Minnie baik baik saja, kau pasti tidak akan selamat” ancamnya tidak main main

Seung Gi berdiri dengan sempurna seraya melirik semua orang yang panik. Kibum membantu Chulie yang menelepon sambil terisak menangis sedangkan Hangeng malah pergi ke dapur, entah mengambil apa

“kita lihat saja nanti” balas Seung Gi tajam, “aku dengan semua bukti kekacauan ini yang akan di penjara, atau kau dengan istrimu yang lemah itu?” ia berbalik meninggalkan Kyuhyun yang menggeram marah lalu menuju ke belakang meja—menelepon seseorang

___

BRAKKK

Pintu ruangan gawat darurat terbuka lebar. Beberapa perawat dengan profesional langsung membantu tim ambulans memasukkan sang pasien ke dalam kamar periksa sebelum di teliti lebih lanjut. Beberapa orang yang datang bersama sang pasien langsung di tahan oleh salah satu suster agar tidak ikut masuk ke dalam.

BLAMM

Pintu tertutup

“Minnie…” Kyuhyun terus berdiri di depan pintu. Ia tidak mengindahkan panggilan Chulie yang menyuruhnya duduk terlebih dahulu, “kau sudah menelepon Appa dan Umma?” tanyanya datar

“Sudah” jawab Chulie masih terisak kecil, “aku juga sudah memberitahu Appa dan Umma Minnie supaya datang…” di samping Chulie, Kibum duduk sambil memeluk tubuh dingin Chulie yang ketakutan—ikut khawatir dengan keadaan Sungmin sementara Hangeng menghela nafas berat berkali kali

“aku akan meminta Appa untuk mencarikan Pengacara terbaik” kata Kyuhyun dengan tatapan berbeda. Matanya memicing tajam serta ada sebentuk kemarahan dalam setiap suaranya, “Lelaki itu harus di penjara bagaimanapun caranya!!”

“Penjara?” celetuk Hangeng akhirnya setelah dari tadi tidak bersuara, “tenang saja, Kyuhyun—aku sudah membalaskan dendammu kepadanya” pandangan Hangeng melirik keluar jendela dan senyum khasnya terkuar kembali membuat Kibum, Chulie dan Kyuhyun sejenak pikirannya teralih kepada Hangeng

“maksudmu?” tanya Kyuhyun bingung

Hangeng berbalik arah kepada Kyuhyun lalu menepuk pundaknya, “tenang saja, besok juga kau akan tahu, yang penting—urus saja Sungmin. Selebihnya urusanku”

Tidak berapa lama, terdengar derap langkah mendekat dari lorong rumah sakit. Kangin, Teuki, Donghae juga Eunhyuk datang dengan tergopoh gopoh menghampiri Kyuhyun. Suara Donghae-lah yang pertama kali terdengar, “Sungmin kenapa?” tanyanya khawatir

Kyuhyun menoleh lunglai, “ini salahku….coba aku tidak mengajaknya kesana….” Ia menggeleng lemah sambil terus mengacak rambutnya yang berantakan—frustasi

“ada apa ini?? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Minnie??” kata Kangin berentet. Di peluknya tubuh Teuki yang lemah sejak mendengar kabar dari Chulie di telepon, “dia baik baik saja kan?”

Chulie dan Kyuhyun bertukar pandangan menyesal, “Minnie tadi jatuh….di…di dorong…” jawab Kyuhyun pelan

“APA??!!!” Teriak kedua orang tua mereka bersamaan

Tetapi belum bertanya lebih jelas, tiba tiba pintu ruang pemeriksaan terbuka lebar dan seorang dokter keluar mendatangi Kyuhyun, “Anda suaminya?”

Kyuhyun mengangguk cepat, “Iya! bagaimana keadaan istri saya Dok? Dia ngga apa apa kan??” desak Kyuhyun beruntun sambil memegang lengan sang Dokter

“Oh tidak apa apa” kata sang Dokter menenangkan

Mendengar itu seluruh orang mendesah lega

“Untung kandungannya kuat—Istri anda hanya kaget sesaat ketika terjatuh sehingga janin bayinya langsung bereaksi terhadap tubuh sang Ibu makanya istri anda sempat merasa kesakitan, yah..walaupun memang agak beresiko kalau terjatuh dalam posisi duduk, saya sarankan anda lebih menjaganya baik baik” jelas sang Dokter tersenyum simpul. Ia menepuk pundak Kyuhyun lembut sebelum berpaling ke semua orang

“Dia sudah sadar, meski agak lelah. Anda boleh melihat keadaannya—ah kalau bisa suaminya saja dulu” tukas sang Dokter saat kedua orangtua mereka juga ingin masuk ke dalam, “sehabis itu pasien harus beristirahat kembali”

“Baiklah” Donghae menuntun Eunhyuk duduk di bangku depan ruangan di sertai anggukan dari Kangin. Semua orang menunggu di luar sementara Kyuhyun membuka pintu untuk menemui Sungmin

KREKKK

“Hai..” sapa Sungmin dari atas tempat tidur. Ia mulai bisa tersenyum seperti biasa.

Kyuhyun langsung duduk di pinggir dan meneliti perubahan wajah Sungmin yang sudah kembali normal, “masih sakit?” tanyanya memastikan

“Ngga”

“Hmm…” Kyuhyun mendesah lega. Ia menaruh kepalanya bersentuhan dengan kepala Sungmin lalu berbisik, “aku benar benar ketakutan Minnie….”

“tidak apa apa” Sungmin meletakkan tangannya di wajah Kyuhyun, “aku baik baik saja—dokter sudah me-USG kandunganku untuk memastikan tidak ada gangguan. Jadi sekarang…” ia menjauhkan kepala Kyuhyun agar bisa bertatapan, “kita pulang aja”

“Pulang?” Kyuhyun mendelik heran, “kata dokter kamu harus istirahat dulu semalam—besok kita baru pulang”

“Ha? Semalam?” Sungmin terperangah dengan raut wajah cemas, “tidak tidak! Aku sudah baikan buat apa kita di sini! Pulang aja Kyu” pintanya memelas sambil menarik lengan Kyuhyun

“kamu belum sembuh” tegur Kyuhyun sambil melotot, “udah tidur aja—biar aku nunggu di luar sama—

“Ngga Kyu!!” Sungmin hendak beranjak dari tempat tidur jika saja Kyuhyun tidak segera berbalik dan menahan tubuhnya

“Kok kamu malah keras kepala sih! Di bilangin istrahat dulu!” kata Kyuhyun dengan suara meninggi

“Tapi nanti…” kedua mata Sungmin memutar gelisah, “biaya rumah sakit kan mahal Kyu” bisiknya pelan sambil menekuk wajah—kesal

Kyuhyun menaikkan alisnya, “itu kan urusanku. Lagian buat apa kamu pikirin hal hal yang ga penting Minnie! Mending kamu pikirin bayi kita aja”

“Itu penting Kyuhyun” sanggah Sungmin terburu buru, “aku kan lagi berhemat—percuma dong, kalau uangnya habis cuma buat rumah sakit. Udah, aku bisa tidur tiduran di rumah kok, sama saja kan” jelas Sungmin enteng. Ia baru menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang ketika Kyuhyun menggeram kesal sambil memaksa Sungmin agar kembali berbaring, “ini anak malah ngajak berantem di rumah sakit! Di suruh tidur! Tidur ngga!” ancam Kyuhyun meredam suaranya—takut di marahi oleh suster

“Tapi Kyu” bisik Sungmin memelas

“Ngga ada tapi tapian!!! Lagian buat apa berhemat? Uang bulan ini bukannya masih sisa banyak”

Sungmin mengigit bibirnya bawahnya sebelum memasang wajah cemberut ke arah Kyuhyun, “memang masih banyak—tapi…..aku mau membantumu….” Sikap Sungmin makin salah tingkah karena pandangan menusuk dari arah Kyuhyun, “membantuku masalah apa?” tanya Kyuhyun tajam

“masalah uang” jawab Sungmin lugu, “dulu kau pernah bilang kalau kita tidak bisa menggantungkan hidup pada orangtua terus menerus…apalagi kamu udah mulai nyari kerja….jadi….” Sungmin melihat Kyuhyun takut takut—takut di bentak lagi, “aku berpikir untuk menghemat sebisa mungkin supaya cukup sampai anak kita lahir nanti” ucap Sungmin mengelus perutnya sayang, “pasti biayanya tidak sedikit, Kyu”

Raut wajah Kyuhyun spontan berubah. Tangannya yang terlipat di dada mengendur di sertai helaan nafas yang panjang

“Minnie…” desah Kyuhyun kembali duduk di depan Sungmin lalu memeluk tubuh istrinya lembut, “itu alasannya kenapa kamu ngajak kita selalu jalan kaki ke sekolah? Terus buat bekal untuk jam istirahat?”

Sungmin mengangguk dalam pelukan Kyuhyun, “aku tadinya juga berpikir mau belajar menjahit untuk baju bayi kita—bukannya masih banyak bajuku yang sudah tidak terpakai”

“Ngga boleh!!” kata Kyuhyun melarang Sungmin, pelukannya semakin erat di tubuh Sungmin. Di elusnya kepala Sungmin lalu turun ke pinggangnya, “kamu jangan melakukan apa apa, please….itu urusanku Minnie” lirih Kyuhyun ketika membenamkan wajah di balik bahu Sungmin

“aku salah lagi Kyu?” tanya Sungmin putus asa

Kyuhyun hanya terdiam. Ia memeluk Sungmin sekali lagi sebelum melepaskannya. Kyuhyun menatap wajah Sungmin dalam. Kemudian beralih mencium dahi, hidung dan berakhir di bibir Sungmin, “mulai besok—kita tetap akan naik taksi, sesekali memesan makan di luar. Jangan membantah!” kata Kyuhyun tegas saat melihat Sungmin mau membuka mulut untuk protes, “pokoknya aku akan bekerja lebih keras, dan kamu hanya tinggal menjaga bayi kita”

“Kyuhyun, aku tahu. Kita pasti akan butuh banyak perlengkapan ketika bayi ini lahir kelak—kalau tidak di mulai dari sekarang—

“Tidak!!” tolak Kyuhyun mentah mentah, “kamu susah banget di bilanginnya!”

“aku kan mau bantuin kamu!!” balas Sungmin terpancing emosi, “masa kamu terus terusan yang susah cari uang, aku hanya diam saja” Sungmin tertunduk kesal sambil memainkan ujung bajunya, “kita kan harus saling membantu Kyu”

Kyuhyun menarik nafas panjang, “kenapa sih kamu bersikeras Minnie? Istri istri lain pasti tinggal duduk tenang dan menunggu keputusan dari suaminya….kamu—aishhhh” ia membenarkan bantal di atas kasur sebelum menyuruh Sungmin agar membaringkan tubuh untuk istirahat, “kau yakin mau membantuku Minnie?”

Sungmin mengangguk bersemangat dalam balutan selimut

“Nah sekarang…” Kyuhyun tersenyum sangat manis, “kamu harus tidur di rumah sakit—sampai di ijinkan dokter pulang lalu menuruti semua perintahku, dengar itu?” ujarnya masih tersenyum lebar

“Kau—

Ucapan Sungmin teredam. Kyuhyun tiba tiba menciumnya hingga Sungmin terpaksa berhenti berbicara. Semua perkataannya tertelan kembali dan hilang begitu saja. Sungmin bahkan malah tersipu malu dengan perlakuan Kyuhyun barusan

“Kamu akhirnya tenang juga” gumam Kyuhyun puas—ia tersenyum licik karena menemukan kelemahan terbaru Sungmin, “pokoknya kalau kamu masih mau debat pendapat, aku cium lagi! tidur ngga sekarang!” ancam Kyuhyun setengah bercanda tapi toh Sungmin menurut juga. Ia membenamkan seluruh wajah ke dalam selimut sambil memejamkan mata rapat rapat

“anak baik~” kelakar Kyuhyun mengelus tubuh Sungmin sekilas sebelum meninggalkan ruang rawat itu.

CKELK

“Hueeee…..Kyu!!!” begitu keluar dari depan pintu, Eunhyuk—ibunya sendiri langsung menghambur memeluk Kyuhyun

“Umma kenapa?” tanya Kyuhyun bingung. Tetapi bukan itu saja, sewaktu Kyuhyun mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia kembali tercengang, “Ini kalian pada kenapa sih!” tanyanya bersuara keras

Bagaimana tidak?

Sikap Teuki—Umma Sungmin sama seperti Eunhyuk. Ia juga menangis dalam pelukan Kangin. Sedangkan Donghae mengelap mukanya dengan saputangan walau Kyuhyun yakin, Appanya juga ikut ikutan mengeluarkan air mata. Di tambah lagi, Chulie pun begitu. Sementara Kibum dan Hangeng memandangnya penuh simpati

“Woi!! Ada apa ini!!” ulang Kyuhyun makin tidak mengerti. Ia melepaskan tangan Ummanya dari balik punggung untuk bertanya, “ada apa Umma? Kok pada sedih?”

“Kami—“ ucapan Eunhyuk terhalang dengan perkataan Donghae yang berbicara bersamaan, “pokoknya Appa tidak mau tahu! Kamu harus kuliah! Baru setelah itu mewarisi perusahaan Appa! Untuk urusan kelahiran Minnie, itu biar kami yang masih menanggungnya!” tegas Donghae kepada Kyuhyun

“Betul itu Kyu” sambung Kangin tak jauh dari tempat Donghae berdiri, “kami tidak masalah masih menanggung kalian, jadi jangan merasa sungkan” nasihatnya pelan

Kedua mata Kyuhyun membulat. Ia melirik mereka semua dalam satu waktu, “kalian mendengar pembicaraanku dengan Sungmin di dalam?”

“Iya” jawab mereka

“Aishhh” Kyuhyun mulai merasa tidak enak, “tapi Appa—kami suatu saat harus mandiri”

“Iya—nanti sehabis kamu kuliah” tukas Donghae tidak mau kompromi, “pokoknya jangan membantah! Aku tidak mau menantuku sampai harus membuat baju bayi sendiri. Bukankah kamu sendiri yang tidak mau dia kelelahan?” bujuknya menepuk tubuh Kyuhyun

“Tapi—“

“Tidak ada tapi tapian” bentak Teuki dan Eunhyuk serempak, “pokoknya semua hal berbau keperluan bayi itu menjadi urusan kami juga…hiks….” Eunhyuk mengelap kedua matanya yang sembab, “kan aku sudah tidak sabar mau belanja untuk cucu kami”

“Betul itu Eunhyuk-shi” Teuki ikut manggut manggut, “cucu kami akan mendapatkan hadiah dari kakek neneknya. Sudahlah Kyu—apa salahnya menyenangkan orangtua seperti kami ini”

“Hmm” Kyuhyun berpikir sejenak, “baiklah…..kalian boleh membantu kami” katanya menyerah jika harus beradu pendapat dengan kedua pasang orang tua itu

“Ye!!!” Kangteuk dan Eunhae saling bertos ria, “tenang saja Kyu! Kami akan berbuat sebisa kami!!”

Esok Hari

TING TONG

“Sebentar~”

TING TONG TING TONG

“Ih~ di bilangin ga sabaran banget” sambil menggerutu, Mbak Gi membuka pintu rumahnya, “ya siapa?? Hya!!!” ia berteriak kaget mendapati beberapa petugas polisi sudah nangkring sepagi ini di depan rumahnya, “Bapak bapak ini ngapain kemari?” tanyanya agak ketakutan

Salah satu Polisi merunduk memberi salam sebelum menjelaskan maksud kedatangannya, “apakah anda yang bernama Lee Seung Gi-shi?”

Seung Gi mengangguk pelan, “ada apa dengan saya Pak?” tanyanya kalut—feeling Mbak Gi semakin tidak enak melihat polisi lain mengeluarkan borgol dari kantung celananya

“Saudara Lee Seung Gi—

“Bapak bisa panggil saya Mbak Gi juga kok~” celetuknya masih sempat bercanda dengan petugas

Sayangnya petugas itu bersikap acuh lalu melanjutkan berbicara, “saudara Lee Seung Gi, anda di tangkap dengan tuduhan peracunan bahan makanan di café A La Bolee milik Anda—beberapa tim medis kami sudah memeriksanya di sana—dan anda tahu, berapa banyak bahan kimia berbahaya yang termasuk dalam 10 bahan pembuat nuklir dalam laci dapur anda?? Saya juga mendapat laporan kalau anda membuat semua minuman serta makanan dari sebuah buku resep menggunakan bahan bahan tersebut”

“EH?” Sontak Mbak Gi berteriak keras, ia jelas jelas tidak pernah melakukan itu, “Ya ampun Bo~ saya mah bisnis jujur! Ngga mungkin saya bisa buat minuman kayak gitu pak! Kalau beneran kenapa semua pelanggan saya masih hidup bukannya mati” katanya membela diri

Namun tampaknya Polisi tetap bergeming. Ia menginsyaratkan kepada polisi yang membawa borgol agar segera menahan Mbak Gi

“Eh! Saya mau di apain nih!! Kan saya sudah bilang itu bukan punya saya pak!! Beneran deh, sumpeh!!” teriaknya makin geje dan terdengar alay oleh polisi polisi tersebut

“Kami punya buktinya” Pak Polisi menunjukkan sebuah buku berwarna hijau lumut dengan sampul luar kuno. Di dalam ada sebuah tulisan cakar ayam yang berbunyi, ‘saya selaku Boss paling ganteng seantreo Korea, Mbak Gi~ gitu loh! Adalah pemilik sah buku ini, ok ok? Hihihi~’

“Mwo!!” Mbak Gi menatap tidak percaya, “itu bukan tulisan saya Pak! Aduh deh, beda amat!!”

“Beda apanya!” gertak Polisi semakin tidak sabar, “isi buku ini sama persis seperti sikap kamu!!! udah, bawa dia ke markas untuk di teliti lebih lanjut!!!”

Beberapa polisi yang memegangi Mbak Gi, menyeretnya keluar rumah. Tidak peduli jika sang pria jejadian ini mengerang atau berteriak makin kencang hingga seluruh komplek rumah bisa mendengarnya

“Saya tidak bersalah bo~”

Di tempat berbeda dalam waktu hampir bersamaan

“Tante!!” teriak Hangeng dari balik pagar rumah Wookie, “Tante!! Saya mau jemput Wookie dong!!!”

CKELK

Seorang wanita paruh baya tersenyum menyambut Hangeng, “Eh ada Hangeng, Wookienya—

“Bilang sama dia Umma!!! Jangan berani mengajakku pergi bareng kalau dia belum berhenti kerja!” teriakan Wookie dari dalam, terdengar hingga ke telinga Hangeng

Hangeng menahan senyum geje, “saya udah berhenti kok” jawabnya lugas

Umma Wookie terkejut sesaat sebelum tersenyum simpul ke dalam rumah, “kamu masih ngga mau nemuin Hangeng, Wookie?” goda Ummanya

Tidak ada sahutan.

Namun bunyi langkah terburu buru keluar dan langsung melesat mendekati pagar tempat Hangeng berdiri. Wookie terengah engah sambil keluar rumah

“Umma kami pergi!!!”

“Iya—jangan bertengkar lagi ya” sahut Ummanya berbalik kembali ke dalam rumah. Meninggalkan Hangeng yang semakin sumringah melihat Wookie dari dekat, “akhirnya kamu mau juga ketemu sama aku”

“Kan kamu udah berhenti” kata Wookie membalikkan ucapan Hangeng, “lagi aneh aneh aja sih pake kerja sambilan—bukannya belajar untuk ujian masuk, malah nyari uang huh”

“Iya iya” Hangeng meraih tangan Wookie dalam genggamannya, “tapi nanti mungkin aku akan kerja sambilan lagi” celetuknya bernada gurauan. Tetapi sayang, Wookie keburu menggeram marah lalu hendak melepaskan tangan Hangeng

“Eits—kan aku bilang akan, belum tentu Wookie” tukas Hangeng menenangkan Wookie, “eh kamu tahu ngga kalau sehabis lulus Kibum dan Chulie menikah?”

“tahu kok, kan Chulie sendiri yang kasih tahu” Wookie menghadap Hangeng—ingin tahu, “memangnya ada apa? Mereka menundanya?”

“Bukan! Tapi…” Hangeng berdeham gugup sebelum mencuri pandang ke arah Wookie, “hanya saja…aku penasaran, kalau kamu…..keberatan ngga sih kalau menikah dalam usia muda?” tanyanya bernada ringan

Wookie berhenti berjalan. Ia memutar tubuhnya menghadap Hangeng untuk meneliti sikap pacarnya yang makin lama makin tidak bisa di tebak, “kau?…..” suara Wookie tercekat—ia tidak berani bertanya lebih lanjut

“Jadi kamu keberatan?” ulang Hangeng menunggu jawaban pasti dari Wookie

Senyum manis Wookie terulas dari bibirnya, ia semakin lebar tersenyum saat melihat sikap was was Hangeng, “tidak”  jawabnya pasti

“Oh…bagus deh—yuk, keburu kita terlambat masuk sekolah” Hangeng menarik tangan Wookie lalu mereka berdua berjalan ke arah persimpangan jalan.

“Oh ya Gege, buku resep resep obat kamu itu mana?” tanya Wookie tiba tiba, “aku mau minta ramuan menghilang sakit kepala”

Sepintas Wookie menangkap senyum misterius nampak dari wajah Hangeng, “Hmmm….buku itu di minta sama boss aku—berkat buku itu, kami di ijinkan keluar dari tempat kerja, jadi…aku harus merelakan buku itu berada di tangannya” jelas Hangeng tenang

Wookie mengangguk mengerti, “ya udah—aku pake obat dari apotek aja”

Hangeng kembali tersenyum lebar. Ia menerawang ke atas langit luas sambil menggumam dalam hatinya

“selamat tinggal Boss Mbak Gi~”

TBC

33 responses to “≈No Other Like U-Forty Five-{Working}≈

  1. Ahahahahahaha… XDD
    Gila kocak banget..
    Aku suka pas part ‘closeee~’ sama ‘buku ini milik mbak gi…’ *lol*

    Tapi ngomong-ngomong.. Minnie istri yang terlalu baik. Sangat baik malah. Uwaah..
    Sughoi deh author😀

    • kwkwkwkwkwkwkkwkwkw

      tapi agak nyusahin *keinget curhatan si Kyuhyun ke gw kemarin* wkwkkwwk tapi karena tuh suaminya sayang setengah mati kagak jadi minta cerai whhhhahhahhahahha

  2. wadoh lama2 pengen ke korea terus nikahin kyuhyun deeh.
    ngga kebayang seunggi jadi banci gitu xD *kebayang deng xxDD
    kak sebas the best lah. semenjak saya lahir jadi elf baru nemu author kayak kakak😀
    God bless you u.u

    • huhuhuh, makasih *terbang ke langit ketujuh* aishhh gw suka beneran susah bernafas kalo denger pujian…hahahahhahah..thanks ya ^^

  3. cerita paling BERMUTU yang pernah gue baca. thank’s telah merubah hidup ku menjadi lebih bersemangat berkat NOLU

  4. sukaaaa banget part Hanwook .. hihi mereka romantis .

    aduhh minnie jadi istri nurut amat yak , tp gpp deh ..
    eonn kali kali buat sungmin marah bngt ma kyu dong #plakk hehehe kan biar pariasi ceritanya ..

  5. wuuaaa,, tega deh unn nii buat seung gi jd kyk gitu.
    tp gk apa,, msh ad yesung ma sungmin..
    hehehe :v

    aduh,, sumpah deh..
    sii minnie kelewat baik..
    padahal klo kyuhyun d’gituin ma minnie pasti udah mencak2…

    DEABAK!!! unn…🙂

  6. Annyeong,, aq baru dsni🙂
    Lucu ikh wp’a pink ^^.d

    LANJUTT.. seru story’a..
    wookie & gege oppa kaia jang geum de hahaha @_@v
    banyakin scene kyuhyun y =]

  7. Bagus… God job author…ceritanya bikin ketagihan buat baca.. Dan NOLU juga bisa ngilangin bete ku..kekekeke~

  8. Sumpah gak bisa ngebayangin Seung Gi bgtu. Haha. Jahat bgt sumpah! Untung Ming kaga apa apa. Kyu juga kejem bgt pake lepas cincin. Eaa gua gedeg mampus ama setan😄

  9. hahahaha ngakak bener wkt tw yg dilakuin gege..
    tu anak emang aneh2 truz ya..
    ide nya brilian

    authornya bnr2 daebak..
    gag bosen baca nolu mulu

  10. dihh serem bgt mbak gi? jahat ihh k sungmin~ g uh ampe gtu! kalau ampe min keguguran jg pasti dia yg slh!! dituntut!! huh~ pnjara aj seumut idup!! hahahah~
    y ampunn kyu baek bgt hiks” :’)

  11. hueeeeeee T______T smpt sedih jga knp sih kyuppa tega ngakuin minnie sbgi saudara,huh pdhl lgi hamil,bagus deh pda berenti krja,yahh wlupun da sdkt bahaya,untung ja minnie ga pa2 deh,
    bagus tuh si banci msk perjara,biar tau rasa dy,han ge2 hebat bgt deh,,aahhh aq suka klu han ge2 lgi bnr gt,,,

    byk konfilk di part ni,,

    aaahhhh mkn jatuh cinta ma NOLU,
    lanjutkan

  12. ngebayangin Seung Gi dngn gaya melambai…*gubraakk
    disini Minnie pengertian banget jadi istri ya..jd terharu bareng KangTeuk HaeHyuk T.T
    Hampir aja, ikut waswas pas Minnie d dorong ama mb Gi~ fiuuhhh untung ga papa~

  13. hahhahahaha lee seung gi???? mba gi???? hahahahha😀
    ya ampun mba gi bener bener manfaatin kegantengan kyubumhan nih ckckck
    untung mereka bertiga sadar dan langsung berhenti kerja.
    ya!! mba gi jangan dorong aja dong??
    untung kandungan minnie kuat.
    noh balasan karna udah macem macem ama minnie.

  14. untung aja minnie n baby nya gk apa2.. #fiuuuh… Klo sempat trjdi sesuatu ama minnie n baby nya, gk yakin dech mbak gi bakalan selamat dr tangan kyu…

    rasain tu mbak gi akhirnya ditangkep polisi.. Hahaha😀

    Syukur dech hubungan mrk semua udah pada baek2 aja..🙂

  15. Huaaaa T.T
    Aku terharu baca part iini kak sebas T.T, ming itu istri yang perhatian, dijamin nyesel deh kyu kalo minta cerai sama ming ‘-‘
    Tapi part ini keren bangeet kak sebas >.<

  16. Aku komen dri chapter yg ini ya mita😀
    Kerennnnnn .. aku masih ngakak + sedih baca chapter yg ini, aku masih tetap ngerasa pas, dengan semua pasangan yg ada di ff mita, walau pun beda dri yg byak org pake hehe😀

    Lanjut terus ya mitaaaa😀
    Jgn berhenti nulis ya, byk bgt yg nunggu ff ini lanjut terus🙂

    GANBATTE \^o^/

From my Wonderlander ♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s